Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Side Story: Graduation



graduation (n): the receiving or conferring of an academic degree or diploma.


the action of dividing into degrees or other proportionate divisions on a graduated scale.


.


.


[minor editing | based on true event! maaf kalau narasi cerita ada yang miss, ada beberapa hal kuubah untuk menyesuaikan cerita | maaf juga kalau ada istilah yang kurang tepat]


.


.


[beberapa minggu sebelum main plot's timeline.]


Hari kelulusan telah tiba. Tepat di hari Sabtu di penghujung tahun ajaran, wisuda purnasiswa angkatan 74 di gelar di halaman di depan aula utama sekolah. Halaman yang biasanya digunakan untuk upacara bendera, kini disulap dengan tenda dan kursi-kursi untuk wisuda. Karangan bunga dengan ucapan selamat dari berbagai pihak terlihat sudah diletakkan di beberapa sudut.


Halaman yang memang rindang dengan pohon-pohon besar, taman, dan air mancur, kini ditambah dengan dekorasi tenda dan sebagainya terlihat seperti tempat pesta pernikahan. Bedanya hari ini adalah wisuda kelulusan.


Sebuah panggung dengan latar belakang yang ditulis wisuda purna siswa angkatan 74 dan logo sekolahnya mengindikasikan kalau acara hari ini memang benar acara kelulusan.


Sebenarnya, pengumuman kelulusan sudah diumumkan kurang lebih sebulan yang lalu, tepatnya di awal bulan. Hanya saja pestanya saja yang lebih belakangan dari sekolah lain. Sekolahnya memang mengadakan acara wisuda saat tahun ajaran berakhir. Setelah semua kelas sepuluh dan sebelas selesai mengadakan ulangan kenaikan kelas. Kenapa begitu? Sudah tradisi dari lama memang seperti itu.


Nana datang bersama keluarganya menggunakan mobil. Beda dari tahun sebelumnya, tahun ini kedua orang tua siswa dapat turut hadir dalam acara wisuda purna siswa angkatan 74. Makanya hari ini dia senang sekali, apalagi papanya yang punya jadwal penerbangan padat bisa mendapatkan libur saat hari kelulusannya.


Kedua adiknya yang biasanya aktif tidak bisa diam kini nampak lebih anteng setelah dinasehati oleh sang mama. Entah untuk satu jam kemudian nanti. Si kembar terlihat ganteng dengan setelan yang sama—kemeja lengan pendek, celana panjang, dan sepatu. Bedanya hanya di warna kemejanya saja.


"Pandu mana Kak?" tanya mama. Mama Nana terlihat cantik dan elegen dengan kebaya kutu baru bewarna abu-abu yang pas ditubuh rampingnya. Hijab berwarna senada dengan kebaya dan tidak dineko-neko menambah kesan berkelas. Sementara sang papa terlihat gagah dengan batik yang bewarna senada dengan kebaya mama.


Pria itu kini terlihat mengobrol dengan seseorang yang tadi sempat menyapa dengan, "Apa kabar, Kapten?".


"Nggak tahu Ma, aku chat nggak bales," jawab Nana. Pandu dan Nana memang janjian untuk bertemu di sekolah.


"Nah itu dia orangnya," ujar Nana begitu matanya menangkap sosok Pandu yang berjalan bersama kedua orang tuanya. Kakaknya tidak bisa ikut karena ada acara kampus yang tidak bisa ditinggalkan.


Sosok Pandu memang kerap kali terlihat mencolok karena wajahnya yang tampan dan postur tubuhnya yang tinggi gagah. Kini terlihat empat kali lipat lebih tampan dari biasanya dengan setelan jas hitam. Rambutnya, seperti biasa, terlihat rapi.


Sementara Nana sendiri mengenakan kebaya modern berwarna hijau mint. Dipadukan dengan rok jarik putih yang cukup longgar untuk kakinya melangkah lebih lebar. Rambut pendek yang kini panjangnya menggantung di atas bahunya dibiarkan terurai dan dibuat lebih bergelombang. Sebuah tiara model sulur menghiasi kepalanya. Dia dirias natural oleh mamanya sendiri karena dia sendiri belum pandai merias.


Satu persamaan pada kostum mereka hari ini adalah keduanya sama-sama mengenakan sneaker model dan warna yang sama. Bedanya hanya pada ukuran sepatunya. Mereka memang membelinya bersama beberapa waktu lalu. Sengaja janjian menggunakannya hari ini.


Kedua orang tua Nana menyambut hangat ayah dan ibunya Pandu. Mereka kini terlihat pembicaraan santai. Seperti dua calon besan bertemu dan saling cocok. Ibu Pandu bahkan menyapa si kembar dengan antusias—wanita paruh baya itu memang suka anak kecil. Wanita itu terlihat anggun dengan kabaya krem dengan hijab senada.


Langkah kaki Pandu sempat terhenti sejenak. Tatapan matanya tertuju pada sosok Nana yang berdiri tak jauh darinya. Nana yang merasa dirinya ditatap Pandu jadi agak khawatir kalau penampilannya terlihat aneh.


"Cantik..." tanpa sadar, kata itu keluar dari mulut Pandu saat melihat Nana. Nana yang mendengarnya sedikit memerah. Tidak biasa dia menerima pujian seperti ini dari Pandu.


Pandu lalu tersenyum hangat yang khas ke arah Nana. "Tapi emang Nana tiap harinya cantik sih."


Nana lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, malu. Seperti Aylin, telinga Nana akan memerah kalau tersipu malu.


"Udah, Ndu. Udah."


Pandu hanya tertawa. Dia lalu meraih tangan Nana dan menggandengnya.


"Yuk ke temen-temen yang lain," ajak Pandu.


"Loh orang tua kita mana?" tanya Nana kebingungan. Perasaan tadi orang tuanya ada tak jauh dari mereka.


"Udah ke dalam tadi mereka," jawab Pandu.


Pandu tak melepas genggaman tangannya pada Nana sampai mereka menemukan teman-teman mereka berkumpul di mana. Mereka berhasil menemukan kelas dua belas lainnya di selasar kelas sepuluh. Terlihat hampir semuanya telah hadir.


.


.


.


Pukul delapan tepat acara dimulai. Semua wali murid yang datang sudah duduk di kursi-kursi yang disediakan sesuai dengan kelasnya. Di tengah lapangan, tepat di depan tak jauh dari panggung, adalah deretan kursi-kursi kosong yang nantinya ditempati oleh para siswa.


Jadi kursi-kursi orang tua dan guru karyawan duduk melingkar membentuk pola U dengan panggung di atas huruf U nya.


Orang tua Nana duduk di deretan wali murid kelas XII IPS. Si kembar duduk dipangku. Sementara orang tua Pandu duduk di deretan wali murid kelas XII IPA 2. Jarak keduanya terbilang cukup jauh.


Acara dibuka dengan penampilan tari tradisional.


Begitu MC memanggil wisudawan kelas dua belas untuk masuk, musik karawitan yang dimainkan anak-anak ekskul karawitan di aula mulai dimainkan. Dipimpin oleh dua orang OSIS dengan seragam tonti masing-masing membawa bendera merah putih dan lambang sekolah. Lalu seorang penari di belakang keduanya. Baru diikuti para wisudawan yang berbaris dua banjar memanjang dari kelas XII IPA 1 sampai XII IPS.


Ketika semua wisudawan telah berada di kursi masing-masing, semua hadirin diminta berdiri untuk menyanyikan Indonesia Raya lalu himne dan mars sekolah.


Acara berlangsung hikmat sampai pada akhirnya diumumkan tiga lulusan terbaik dari masing-masing jurusan.


"Lulusan terbaik ketiga, ananda Pandu Grahana putra Bapak Danang Budiharjo, S.E. dari kelas XII IPA 2 dengan total nilai 1043."


Sorakan dan tepuk tangan menyambut salah satu idola sekolah yang kini berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah panggung sesuai instruksi sebelumnya.


Lulusan terbaik kedua dan pertama masing-masing berasal dari kelas XII IPA 5 dan XII IPA 1 serta keduanya adalah cewek.


Kemudian masing-masing perwakilan orang tua para lulusan terbaik IPA diminta untuk naik ke panggung mendampingi. Nana bisa melihat dari bangkunya sosok ayah Pandu yang mengenakan batik hitam emas berdiri bersama dua orang tua lainnya dengan senyum bangga.


Nana ikut bertepuk tangan bersama yang lainnya ketika ketiga lulusan terbaik IPA diberikan penghargaan. Cewek itu bangga atas pencapaian Pandu. Cowok itu memang pantas mendapatkannya.


Begitu giliran diumumkannya lulusan terbaik IPS, Nana sudah yakin dirinya tidak termasuk. Dan benar saja, tiga orang siswi naik ke atas panggung didampingi orang tua masing-masing untuk menerima penghargaan. Salah satunya adalah sobat karib Nana sendiri, Endri. Cewek itu berhasil menjadi lulusan terbaik pertama jurusan IPS.


Nana dan anak-anak IPS lainnya lebih heboh menyambut ketiganya sebagai lulusan terbaik.


Nana tidak mempermasalahkan kalau dirinya tidak menjadi lulusan terbaik. Papa dan mamanya pun juga begitu. Karena Nana tidak pernah dituntut untuk jadi terbaik, tetapi hanya diminta melakukan yang terbaik yang bisa Nana lakukan selama dia menikmati segala prosesnya.


Cewek itu juga tidak pernah merasa iri dengan Pandu yang selalu menduduki ranking lima besar satu angkatan. Cowok juga tidak pernah membuat Nana merasa iri atau tidak nyaman dengan segala pencapaian di bidang akademiknya.


Berhasil menduduki lima besar di kelasnya dari hasil ujian kemarin saja Nana sudah merasa senang.


Kemudian acara dilanjutkan dengan dibacakannya pernyataan secara resmi kelulusan oleh wakil kepala sekolah bidang kurikulum. Lalu dilanjut dengan penyerahan samir wisuda dan ijazah kepada siswa oleh masing-masing wali kelas.


Mereka dipanggil satu-satu ke atas panggung dan dimulai dari kelas XII IPA 1. Satu persatu siswa mendapat giliran. Ada yang terlihat tenang dan fokus, ada juga yang terlihat grogi. Bahkan ada yang bertingkah kocak memecah suasana.


Sampai kini tiba giliran Nana.


"Nasywa Kartika Ramadhanti, putri bapak Kapten Luqman Suripto, S.Tr.Tra."


Teman-teman sekelasnya menjerit dan bertepuk tangan heboh. Nana meladeninya dengan melambaikan tangan bak miss universe saat menaiki panggung dari sisi kiri panggung.


"Ini gimana ini, pakai kebaya kok pakai kets," ujar wali kelasnya dengan nada bergurau saat Nana berdiri di depannya untuk menerima samir.


Nana hanya cengengesan. Wali kelas sekaligus guru mapel bahasa Inggris wajibnya memang terkenal tegas tetapi juga suka bercanda dengan anak didiknya.


"Selamat ya," kata Pak Hari sambil mengalungkan samir wisuda lalu menyerahkan ijazah Nana.


"Makasih ya Pak!"


Mereka sedikit berfoto sebelum Nana berjalan ke depan panggung untuk turun.


"Tepuk pramuka!" tiba-tiba seseorang berseru keras dan diikuti suara khas tepuk pramuka oleh sebagian besar siswa. Nana hanya tertawa melihatnya. Dia lalu melakukan hormat dengan wajah dibuat serius sebelum Nana turun dari panggung dan melakukan sesi foto di tempat yang memang disediakan.


Kejadian nyeleneh itu menjadi salah satu hiburan tersendiri di sela-sela wisuda.


Nana sendiri sebenarnya bukan ketua dewan ambalan sekolah. Dia hanya salah satu sie atau seksi yang bertanggungjawab terhadap materi pramuka. Dengan kata lain dia adalah salah satu kakak pramuka yang berhubungan langsung dengan siswa kelas sepuluh. Dia juga yang mengajarkan soal segala jenis tepuk yang ada di pramuka.


Lalu ada sambutan dari perwakilan angkatan.


Nana jadi perwakilan angkatan 74 bersama salah satu siswa kelas XII IPA 4 untuk penyerahan selempang alumni.


Begitu selesai penyerahan, Nana kemudian berseru lantang di hadapan teman-temannya.


"Bakti vidya ksatria tama...!" disambut dengan teriakan dari para siswa yang kini berdiri dan mengepalkan tangannya ke atas.


"TAN LALANA LABET TUNGGAL BANGSA!"


"Jaya, Jaya Padmanaba!"


"JAYA PADMANABA!"


"Hidup Padmanaba!"


"HIDUP PADMANABA!"


Tepuk tangan meriah dari semua orang menyambutnya.


Sambutan dari ketua ikatan alumni berisi beberapa poin penting. Tentang tradisi turun termurun memanggil 'mas' dan 'mbak' kepada alumni yang lebih tua atau lebih senior meski punya gelar mentereng sekalipun. Tiap alumni itu saling tolong menolong. Benar-benar solid pokoknya.


Sebelas dua belas dengan para alumni FT UHW. Kalau tidak salah Aylin atau siapa yang pernah cerita, Nana lupa-lupa ingat.


Poin lainnya adalah pesan untuk menjadi orang kaya yang dermawan. Cita-cita harus besar biar motivasinya juga besar, katanya. Kemungkinan berhasil juga besar karena kesuksesan tidak memandangmu dari keluarga mana.


Dan saat kuliah nanti, banyak-banyaklah belajar softskill. Tidak lupa untuk selalu meminta doa dan restu orang tua.


Sisa rangkaian acara diisi penampilan vokal solo oleh salah satu teman nana di ekskul musik, sambutan-sambutan lain, dan penutup serta sesi foto-foto.


Begitu acara resmi ditutup, ada penampilan khusus dari anak-anak band, Nana dan kawan-kawan, Bagas, Syakila, Kenzo, dan Damai. Nana sebagai vokalis juga akan memainkan gitar akustiknya.


Lagu pertama berjudul Graduation. Lagu yang sangat familiar dan sering diputar ditiap acara kelulusan.


Lalu lagu kedua adalah Kejar Mimpi. Lagu yang juga menjadi penutup acara pada siang ini


.


.


.


Mama Nana menyerahkan buket bunga begitu Nana selesai tampil dengan band-nya. Nana tersenyum dan memeluk mamanya erat. Lalu dia beralih ke papanya dengan pelukan yang sama eratnya.


"Sekarang tinggal nunggu pengumuman SBM ya Kak?" tanya papa.


Nana mengangguk.


"Semoga keterima di jurusan yang dimau ya Kak. Papa sama Mama bakal selalu dukung," kata papanya.


Sekali lagi Nana mengangguk. Dia tersenyum dan mengamini ucapan papanya.


Nana memang telah mengikuti ujian SBM lebih dari dua minggu lalu. Pengumuman hasil ujian SBM akan dilaksanakan awal bulan depan. Lebih tepatnya tanggal 7 Juli pukul lima sore.


Nana harap-harap cemas dia berdoa bisa lolos lewat jalur SBM.


Pada akhirnya, Nana memilih mendaftar di jurusan Seni Musik di UHW. Papanya setuju dan mendukung sepenuhnya keputusan Nana.


Benar kata Pandu, kalau dia mengomunikasikan dengan baik, papanya tidak akan marah.


Berbeda dengan Pandu. Cowok itu sudah diterima di UHW jalur SNM di Fakultas Olahraga. Lebih tepatnya jurusan Ilmu Keolahragaan. Awalnya dia mendaftar dengan dua pilihan di universitas yang sama. Teknik Otomotif dan IKORA atau Ilmu Keolahragaan.


Dan dia diterima di jurusan kedua. Apalagi Pandu menyertakan sertifikat kejuaraannya di futsal.


Sementara Nana di SBM memilih jurusan Seni Musik dan Bahasa Inggris. Ya semuanya di satu fakultas, FBS. Dia sempat kepikiran untuk mengambil jurusan di FO juga. Itung-itung memanfaatkan sertifikat kejuaraan basketnya. Namun dia berpikir kalau nanti bakal lebih ribet kalau harus ujian praktik di hari yang sama.


Jurusan seni dan olahraga memang ada ujian praktik dan wawancara. Dan itu biasanya dilakukan di hari yang sama, sehari setelah ujian tertulis dilaksanakan. Jadi setelah berbagai pertimbangan, Nana memilih untuk melepas pilihan untuk menjajal di Fakultas Olahraga.


Nana nanti bisa ikut bergabung di UKM basket. Dia ingat cerita kedua kakak sepupunya kalau ada UKM basket di UHW. UKM itu jadi salah satu yang populer di UHW.


Kalau mengingat sebulan lalu ketika dirinya mengikuti tes membuatnya tersenyum. Hatinya selalu menghangat dan ribuan kupu-kupu bertebangan di perutnya.


Tentu hal itu tidak lepas dari sosok Pandu Grahana.


Kenapa bisa?


Karena selama itulah Pandu yang membantunya. Cowok itu memang berinisiatif untuk menemani Nana tes di UHW. Kebetulan Nana mendapatkan plot lokasi tes di FBS UHW sendiri. Jadi dia tidak perlu ke tempat-tempat lain seperti sekolah atau universitas lain yang menjadi tempat pelaksanaan tes skala nasional itu.


Pandu yang mengantar Nana mulai dari mengecek tempat lokasi, saat hari H, dan saat tes keterampilan serta wawancara.


Hari yang tidak akan pernah Nana lupakan. Dia dibuat jatuh hati berkali-kali pada sosok Pandu Grahana, sahabat yang juga merangkap orang yang disukainya.


"Biar Pandu antar Nana saja Om, Tante. Kasihan bakal kecapekan nanti soalnya katanya bakal seharian. Sekalian biar gampang bantu Nana kalau ada apa-apa," kata Pandu kala itu pada kedua orang tuanya langsung. Kebetulan papanya ada di rumah juga.


Nana tidak mungkin tidak semakin jatuh hati pada sosok sahabatnya itu. Apalagi Pandu selalu mengomunikasikan pada orang tua Nana kalau cowok itu tengah bersamanya. Ditambah kedua orang tua Nana juga percaya pada Pandu.


Jadilah hari di mana Nana tes masuk perguruan tinggi, Pandu datang menjemputnya pagi-pagi. Nana mendapat jadwal tes sesi pertama alias pagi pukul tujuh.


Sehari sebelumnya, keduanya sudah datang ke FBS untuk mengecek ruangan mana Nana akan tes. Mereka juga menyempatkan berkeliling fakultas berbasis kebudayaan itu. Jadinya, di hari berikutnya, mereka dengan mudah menemukan lokasi ruangannya meskipun hari itu sangat ramai dengan banyaknya orang tua atau saudara yang juga mengantar calon mahasiswa baru untuk tes.


Jalanan menuju UHW sempat macet. Meski jarak rumah ke kampus tidak terlalu jauh, tetapi waktu di jalan jadi semakin terasa lama karena banyaknya kendaraan berlalu lalang. Terlebih di wilayah sunmor, kalau tidak hati-hati, akan jadi sasaran empuk pencopet karena saking macetnya.


Sesi pertama tes selesai. Nana keluar ruangan bersama peserta lain. Pandu lalu mengajaknya untuk makan karena pasti Nana lapar setelah berpikir keras menjawab soal-soal.


Mereka menjajal kantin andalannya anak-anak FBS. Kantin Ungu namanya. Untungnya Pandu sudah memesankan makanan jadi tidak harus menunggu antrean lama. Cowok itu memang mengecek jadwal ujian Nana. Jadi dia bisa mengira-ngira kapan Nana selesai.


"Gimana tesnya?" tanya Pandu di sela-sela makan mereka.


"Pusing aku Ndu. Soalnya susah banget," keluh Nana. "Jadi nggak yakin bakal lolos. Banyak banget tadi yang aku kosongin."


Sistem penilaian SBM memang jawaban salah akan mendapat skor minus satu, jawaban benar dapat skor plus dua, dan jawaban kosong dapat skor kosong. Jadi cara paling aman kalau benar-benar tidak bisa atau tidak yakin dengan jawaban, lebih baik dikosongkan.


"Jangan pesimis gitu dong," kata Pandu. "Bisa, Nana pasti bisa. Kan udah belajar sungguh-sungguh, udah usaha maksimal. Sekarang berdoa juga biar bisa lolos."


.


.


.


.


.


a.n.


aku potong di sini karena sangat panjang.


dan ya! acara purnasiswa yang ada di cerita ini memang benar ada ( otomatis tempatnya juga :D ), cuman ku sesuaikan beberapa hal untuk kebutuhan cerita versi Nana dan Pandu. Thank you to my supervisor yang ngajak kami hadir di acara kelulusan SMA 3. Aku nggak mendeskripsikan di sini secara detail karena bakalan sangat panjang, tapi kurang lebih seperti itu ya.


maaf buat para siswa dan alumni yang menemukan cerita ini, kujadikan sebagai inspirasi cerita gitu aja. terima kasih telah menginspirasiku. dan maaf kalau ada istilah atau kata yang salah :')🙏


I'll double up, sebelum kita kembali ke main plot, baru nanti ada side story lagi. maaf malah kurang konsisten, karena aku pengen segera nulis apa yang ada dipikiranku biar lega :')


see you tomorrow!