![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
You're the boss (clause): you have the right/authority to decide something
.
.
.
.
[baru minor editing]
.
.
.
.
Kembali ke beberapa minggu sebelumnya, Aylin tengah menatap pengumuman yang dirilis oleh panitia satu jam yang lalu di akun instagram resmi Isimaja FT. Sebenarnya, tak hanya di instagram, tetapi banyak dibagikan di media sosial lain seperti whatsapp, facebook, twitter, bahkan website milik BEM dan fakultas. Isinya adalah daftar nama-nama yang dinyatakan lolos seleksi dan berhasil menjadi panitia Isimaja FT tahun ini. Di sana juga tertera nama lengkap Aylin di paling atas pada bagian tim Penegak Kedisiplinan.
Sebagai ketua tim alias koordinator.
Aylin sudah tahu. Semua ketua tim terpilih juga sudah tahu lebih dulu sebelum pengumuman resmi dirilis. Namun, melihat namanya di sana tetap saja masih membuatnya gugup dan tak percaya. Apalagi kini semua orang di UHW tahu kalau dirinya adalah ketua TPK tahun ini.
Ketua TPK perempuan pertama setelah hampir dua dekade berlalu sejak yang pertama kala itu dalam sejarah FT UHW. Singkatnya, dia adalah ketua TPK perempuan kedua di FT UHW dengan rentang jarak tahun yang hampir sama dengan umurnya sekarang.
Aylin juga harus segera membuat grup whatsapp dan memasukkan semua anggotanya. Lihat saja daftar nama-nama TPK terpilih itu, mayoritasnya diisi oleh para cowok yang sebagian besar dari mereka tidak dia kenal.
Eh, tunggu! Ada nama Johan Abimanyu alias Frans di daftar anggotanya. Untunglah, setidaknya, Aylin sangat mengenal cowok bertubuh tinggi di atas rata-rata itu. Mungkin, Aylin bisa mengandalkan pacar sepupunya itu.
"Lin, udah lihat pengumuman?" tanya Rima yang baru saja datang. Cewek itu baru saja menyelesaikan kelasnya dan segera menyusul anggota geng yang lain di kantin.
"Udah, baru aja," jawab Aylin.
"Aku nggak sabar buat tahun ini, apalagi kau yang jadi ketuanya," kata Rima dengan senyum lebar dan raut wajah yang terlihat bersemangat.
"Er... ya," gumam Aylin berusaha menyembunyikan kegugupannya.
"Baru ada Alin sama Topan? Nopal sama Budi mana?" tanya Rima kemudian. Terlihat bingung menyadari hanya ada dua orang di meja langganan mereka.
"Masih ada kelas kali. Sejak tadi aku di sini, lalu Alin datang nggak lama setelahnya," jawab Taufan yang sejak tadi diam. Cowok itu tengah membaca buku novel yang baru dipinjamnya di perpustakaan fakultas. Hari ini dia tidak ada jadwal kelas. Sedangkan Aylin ada jadwal kelas pagi sampai pukul sembilan tadi.
Sekarang jam sudah menunjukkan pukul sepuluh. Kelas Rima harusnya selesai nanti jam sebelas, tetapi karena dosennya ada acara mendesak jadi kelasnya dibubarkan lebih awal dengan tambahan tugas.
.
.
.
Seperti dugaannya, tidak semua bisa menerimanya sebagai ketua TPK. Tak sedikit yang menganggap kalau Aylin tak akan mampu. Bahkan ada yang dengan kejamnya menganggap kalau Aylin itu menyuap ketua sebelumnya, ada juga yang bilang kalau ketua sebelumnya sedang mabuk kalau memilih cewek sebagai ketua TPK.
Yah... Aylin tidak bisa memaksa semua orang menyukai keputusan yang diambil Mas Teguh. Namun, mendengarkan beberapa orang berbicara buruk tentangnya melalui komentar-komentar di media sosial membuatnya sangat risih. Walau ada banyak yang membelanya atau sekedar berkomentar bijak, tetap saja segelintir komentar negatif itu membuatnya tak nyaman.
Salah satu konsekuensi yang harus dia hadapi saat dirinya setuju dengan amanah yang diberikan. Dan Aylin siap tidak siap, memang harus siap mental sejak pengumuman dirilis.
Mungkin akan lebih mendingan kalau ketua TPK perempuan terjadi di FBS—meski tidak pernah terjadi sejauh ini—FK atau FKH, Hukum, apalagi FMIPA, FIP, dan Psikologi serta fakultas diluar FO dan FT.
Pasti akan lebih diterima. Meski Aylin sedikit sangsi dengan FBS dan Hukum, tetapi tetap lebih baik daripada FO dan FT yang mayoritas dihuni kaum adam. Para cowok dari kedua fakultas itu sebenarnya tidak akan mempermasalahkannya—satu atau dua mungkin ada—tetapi justru beberapa mahasiswi dan bahkan mahasiswi luar fakultas yang tidak ada sangkut pautnya suka sekali berkomentar miring.
Dan mereka hanya berani melalui media sosial saja saat mengutarakan ketidaksetujuan mereka. Hanya berani dibalik dinding tanpa berhadapan langsung.
Walau begitu, banyak yang berkomentar kagum pada Aylin karena menjadi ketua tim yang disegani di FT. Ada juga yang penasaran dengan sosoknya.
Iya, Aylin termasuk cewek yang cukup jarang mengunggah foto di sosial medianya, terlebih swafoto karena bukan tipe orang yang suka selfie. Dia juga bukanlah termasuk golongan orang-orang social butterfly yang bakal dikenal banyak orang. Aylin itu tipe pendiam yang tidak suka jadi pusat perhatian. Tipe introvert yang memilih menghabiskan waktu di kamar atau dengan orang-orang terdekatnya daripada bersosialisasi dengan orang asing.
Meskipun begitu, cewek itu juga aktif di BEM fakultas dan Menwa. Karena pertama, di BEM ada Naufal dan Rima, sahabatnya, dan dirinya ingin mencoba merasakan ikut organisasi karena selama di SMP atau SMA dia belum pernah ikut karena sibuk di akademisnya. Ngomong-ngomong Aylin termasuk orang yang cukup ambisius dalam belajar. Kedua, meskipun tidak ada keempat sahabatnya yang lain di Resimen Mahasiswa, Aylin memutuskan ikut karena dulu pernah ikut tonti dan paskibra. Jadi, biar sedikit mengenang dan karena memang salah satu kesukaannya.
"Lin, assalamu'alaikum!"
Lamunan Aylin buyar ketika seseorang berseru menyapanya. Aylin menoleh dan melihat perempuan bercadar tengah berjalan ke arahnya dan melambaikan tangan.
"Wa'alaikumsalam, Syifa," Aylin berujar membalas sambil tersenyum kepada cewek yang sangat dikenalnya ini.
Setelah melakukan cipika-cipiki, Syifa lalu mendudukan dirinya di sebelah Aylin di sebuah bangku duduk dekat gedung kelas industri.
"Gimana kabarnya? Lama nggak ketemu padahal sefakultas," tanya Syifa.
"Alhamdulillah, Syif. Kau gimana? Masih di rohis fakultas?"
"Alhamdulillah, Lin," sahut Syifa, "Iya, jadi staf ahli sekarang. Sama ada amanah juga di BEM univ,"
"Wih... keren!"
Bagaimana bisa Syifa dan Aylin saling kenal? Mereka pernah satu gugus pada saat maba dulu. Di tambah Aylin pernah mengikuti agenda maba yang diadakan rohis fakultas dan satu kelompok dengan Syifa jadinya mereka dekat. Mungkin banyak yang tidak percaya dengan kedekatan mereka yang terlihat berbeda, di mana Syifa yang terlihat begitu alim bahkan bercadar berkawan dekat dengan Aylin yang masih belum berhijab⸺kecuali ketika ada acara tertentu saja. Namun, mereka nyaman dengan satu sama lain. Di mana Syifa tak pernah menggurui dan memaksa Aylin dan Aylin yang tak risih berteman dengan cewek bercadar⸺yang kalau kata kebanyakan orang harus eksklusif karena beda level.
Tak jarang juga Aylin diajak Syifa mengikuti agenda-agenda rohis di kampus dan Aylin tak pernah merasa keberatan. Justru dirinya bersyukur mempunyai teman semacam Syifa. Terkadang mereka juga mengajak Rima ketika jadwal mereka tidak bentrok dan punya waktu luang bersamaan.
Syifa ini berasal dari jurusan Pendidikan Tata Boga. Itulah sebabnya mereka berdua jarang berpapasan di kampus waktu jam-jam kuliah karena letak gedung tempat mereka belajar berjauhan.
"Oh iya, Lin, selamat ya dapat amanah jadi ketua TPK tahun ini. Cewek pertama yang bakalan mimpin pasukan kedisiplinan di FT," kata Syifa kemudian.
"Keren banget emang temenku satu ini, masya Allah..."
Syifa menyenggol pelan bahu Aylin.
"Hehe... makasih, Syif," balas Aylin sedikit salah tingkah, "Eh, kau nggak ikut panitia lagi tahun ini?"
Tahun lalu Syifa bergabung menjadi salah satu anggota KSK.
"Nggak eh, Lin. Pengen bisa punya waktu lebih lama di rumah, hehe. Lagipula, aku juga ikut jadi tutor yang ngisi pas religious input nanti, jadi kita masih bisa ketemu."
Salah satu konsekuensi mengikuti panitia Isimaja adalah kau tidak bisa pulang kampung—terutama yang luar pulau dan luar provinsi yang jarak tempuhnya berjam-jam atau berhari-hari—ataupun kalau rumahnya dekat maka waktu yang harusnya buat liburan panjang terpotong dengan berbagai persiapan sebagai panitia.
"Oh iya, Lin. Nanti ada sharing sama Mbak Sandra loh di mushola," ujar Syifa.
"Eh, Mbak Sandra yang itu?"
"Iya, mantan mas'ullah rohis FT dua tahun lalu. Yang pernah kita ngobrol pas maba dulu," kata Syifa, "Ikut yuk!"
Syifa mengangguk mengerti, "Iya nggak apa-apa. Kau yang semangat ya jadi ketua. Kalau capek, istirahat dulu bentar nggak usah memaksakan diri."
"Dan kalau ada apa-apa, hubungi aku juga nggak masalah. Nanti tak bantu sebisaku."
Setelah bertukar beberapa kalimat, Syifa undur diri untuk mencari temannya yang anggota rohis lain karena tidak ada balasan di pesan yang terkirim. Terakhir temannya itu membalas adalah posisinya yang masih mengerjakan tugas di lobi gedung industri.
.
.
.
"Ma, aku kok merasa gugup ya," bisik Aylin pada Rima.
"Gugup kenapa?" tanya Rima balas berbisik.
"Itu... takut nggak bisa jadi ketua yang baik, takut gagal, takut diremehkan... banyak!"
Rima terlihat menghela nafas lelah. Dirinya sudah pernah mendengar ini.
"Kita udah pernah membahas ini, Alin. Kau nggak bisa mundur. Lagipula, bentar lagi kita rapat sekalian temu perdana."
"Tapi⸺"
"Tapi apalagi, Lin?"
Aylin terdiam. Jelas dia sangat gugup hari ini. Tahun lalu dia hanya menjadi anggota saja. Tinggal bersikap seperti dirinya biasanya, pendiam dan bicara seperlunya ditambah menahan tawa, maka dia bisa berhasil melalui perannya sebagai anggota TPK dengan baik.
Salah satu syarat menjadi TPK adalah orang itu harus bisa berakting dan menahan tawa. Biasanya para calon yang mendaftar akan dites oleh TPK sebelumnya—biasanya senior tahun ketiga/keempat yang sudah tak bisa mengikuti panitia lagi. Dan untung saja Aylin bisa menahan tawa, kalau tidak bisa tambah berat lagi tes untuknya.
Namun, kali ini berbeda. Dirinya adalah ketua yang punya banyak wewenang, bukan lagi seorang anggota biasa. Yang harus bisa mengatur anggotanya sebelum mengatur semua maba nantinya. Aylin juga harus bisa bersikap tegas dan keras. Meskipun dirinya terbiasa dilatih dengan keras dan disiplin saat tonti dan paskibra, tetap saja beda dengan tugas ketua TPK FT.
Dan sepuluh menit lagi rapat akan segera dimulai. Aylin sengaja mengajak Rima menunggu agak dikejauhan dari tempat janjian karena ingin mengamati para anggota TPK tahun ini agar nantinya dirinya bisa mengira-ngira langkah pendekatan yang benar.
Terlihat sudah hampir semua anggota berkumpul di sana. Mereka mengobrol satu sama lain atau hanya bermain ponsel.
"Jujur ya, aku agak kurang sreg kalau ketua tahun ini cewek," terdengar seseorang di antara mereka berujar. Aylin dan Rima cukup bisa mendengarnya di tempat mereka yang agak tersembunyi dari anggota yang lain.
"Kenapa?" seseorang di sebelahnya menimpali.
"Takutnya malah TPK tahun ini terlalu lunak ke maba. Cewek 'kan biasanya ngandelin perasaannya."
"Maksudmu takut nggak becus gitu?"
"Ya semacam itulah... Mana orangnya belum datang lagi! Mau nelat apa ya?"
"Lalu kau mau apa? Mencalonkan jadi ketua gitu?" kali ini terdengar suara yang dikenali Aylin, Frans. Nada suara cowok itu terdengar menyindir.
"Bilang sana ke Mas Teguh. Karena dia yang milih Kak Aylin sebagai ketua tahun ini. Kalau mau protes, protes aja ke orang yang memilih."
"Ya... bukan gitu juga sih..." orang itu terdengar kelabakan kehabisan kata-kata.
"Kau dengar itu, Ma?" bisik Aylin ke Rima, "Belum apa-apa aku udah merasa agak kurang nyaman. Udah kena dis lebih dulu."
Rima menatap sahabatnya yang terlihat gugup dan gelisah. Sahabatnya ini memang terkadang suka tidak percaya diri. Padahal kalau berdasarkan cerita Naufal yang merupakan teman sejak TK Aylin, Aylin itu adalah orang berkarisma yang punya jiwa pemimpin yang terpendam dibalik sifat pemalunya.
Apalagi Aylin pernah jadi komandan peleton inti putri pas SMP dua kali! Bahkan jadi wakil Menwa UHW periode ini. Apa kurang meyakinkan itu?
"Lin, dengar," ujar Rima, "Hiraukan kata-kata yang meremehkanmu. Anggap itu hanya sekumpulan anjing menggonggong yang kalau digertak balik bakal lari ketakutan. Mereka hanya iri karena bukan mereka yang dipilih. Bahkan mereka juga belum tentu bisa diposisimu saat ini."
"Kau itu mantan tonti, mantan danton, mantan paskib, wakil menwa, bahkan anak dari seorang perwira. Masa kau kalah sama mereka yang nggak tahu apa-apa tentangmu?"
"Er..."
"Lin, bapakmu 'kan TNI. Seorang komandan pula. Pasti tahu 'kan satu atau dua trik menghadapi bawahan?" tanya Rima.
Kenapa pekerjaan ayahnya dibawa-bawa?
"Ayo Lin, tunjukkan sikap otoritermu sebagai ketua! Perlihatkan ke mereka kalau kau memang pantas dan nggak bisa disepelekan! Girl power!"
Aylin hanya menghela nafas mendengar celotehan Rima yang bersemangat. Namun, dia juga berterima kasih karena dirinya merasa sedikit lebih tenang sekarang.
Bahkan Aylin baru beberapa kali melihat ayahnya melaksanakan tugasnya sebagai komandan. Itupun dirinya ikut ibunya menghadiri acara-acara yang diselenggarakan yang melibatkan TNI seperti HUT TNI, upacara proklamasi kemerdekaan dan lainnya. Selebihnya dirinya jarang ikut karena kesibukan sekolah atau acara lainnya.
Aylin menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Berusaha menenangkan diri. Tujuh menit sudah berlalu dan terlihat semua anggota sudah berkumpul kecuali Rima yang memang lagi bersamanya.
Kemudian, Aylin meyakinkan dirinya sekali lagi sebelum melangkah keluar dari tempat persembunyian untuk menyambut anggota barunya yang tidak sadar bahwa selama ini ketua mereka berada tak jauh dari mereka.
Baiklah, mari kita tunjukkan ke mereka siapa Aylin sebenarnya.
"Bagus! Aku senang kalian semua tepat waktu," Aylin berujar dengan datar. Beberapa dari mereka bahkan berjengit kaget karena mendengar suaranya tiba-tiba. Semua menatap Aylin dengan pandangan terkejut.
Rima sudah bergabung dengan anggota lainnya tanpa mereka sadari.
"Dan aku dengar, tadi ada yang bilang aku tak becus ya?" pertanyaan Aylin membuat beberapa orang memucat. Itu artinya Aylin mendengar semua yang mereka bicarakan.
"Ada yang bilang kalau ketua TPK telat, padahal sejak tadi aku menunggu kalian lho di sana," Aylin menunjuk tempatnya tadi dengan dagunya.
Perkataan Aylin barusan menambah ketar-ketir beberapa orang yang tadi membicarakan yang tidak-tidak mengenai Aylin. Sebenarnya Aylin tak begitu mendengar anggotanya bergosip tentang dirinya tadi, karena Aylin yang tiba tiga puluh menit lebih awal sibuk menyelesaikan tugas kuliahnya sebentar sebelum Rima datang kemudian.
Namun, mereka tak perlu tahu 'kan?
"Baiklah. Mari kita mulai temu perdana kita kali ini, teman-teman!" katanya sambil tersenyum miring.
.
.
.
.
.
a.n.
buat yang belum tahu apa itu mas'ullah, itu semacam wakil ketua di rohis (yg mesti perempuan)