Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
An Irksome Junior



irksome (adj): irritating, annoying


.


.


[baru minor editing, part pendek]


.


.


.


Sudah berminggu-minggu berlalu sejak Isimaja hari terakhir digelar. Sejak Gear Ceremony dilakukan. Semua mahasiswa Fakultas Teknik, baik para maba maupun kakak tingkat sudah disibukkan dengan dunia perkuliahan masing-masing.


Sesekali saling sapa kalau tidak sengaja berjumpa—dengan membuang ego pura-pura tidak kenal. Walau begitu, tetap ada segelintir yang memutuskan berpura-pura tak kenal atau tidak pernah bertemu selama Isimaja kemarin—baik maba maupun kating.


Toh pada akhirnya yang pura-pura tidak kenal itu pasti akan saling bertemu juga ketika ikut organisasi atau ada kegiatan kampus—setidaknya events kampus sedikit lebih berpeluang banyak karena tidak semua orang akan ikut organisasi.


Siang ini, Aylin kini tengah berada di perpustakaan FT. Sudah sejak satu jam lalu lebih tepatnya. Dia tengah menyicil tugas laporan yang harus dikumpulkan enam hari lagi. Bukannya biar kelihatan sok rajin, tetapi tidak hanya satu laporan yang dibuat.


Tiga laporan yang harus dikumpulkan dari tiga mata kuliah yang berbeda. Belum lagi ada tugas membuat proposal dan untungnya baru akan dibahas dua minggu lagi.


Aylin tidak sendirian di perpustakaan—selain pengunjung lain. Dia bersama Ana, teman sekelasnya. Namun, cewek itu harus berpamitan duluan karena ada rapat buat persiapan sikrab Teknik Industri. Nanti sore ada pertemuan perdananya buat semua maba Teknik Industri.


"Duluan ya Lin," kata Ana yang sudah selesai membereskan barang-barangnya. "Nanti kita bahas lagi lewat WA aja."


Aylin mengangguk. Dia dan Ana satu kelompok di dua tugas laporan. "Oke."


Setelah itu, Ana pergi keluar perpustakaan. Meninggalkan Aylin yang kembali berkutat dengan tugasnya. Dia menyicil tugas bagiannya di laporan pertama. Laporan kedua bersama Ana belum disentuh sama sekali karena baru diberikan tadi pagi saat kelas.


Aylin begitu fokus mengetikkan tugasnya sampai tidak menyadari ada seseorang berjalan mendekat.


"Kak Aylin?" suaranya terdengar familiar.


Aylin mendongak dan mendapati sosok Kayvan Candra berdiri di dekat mejanya. Cowok itu tersenyum menyapa.


"Boleh aku duduk di sini? Aku sedang nunggu temen sekelompokku ke sini," tanya Kayvan.


Aylin mengangguk menanggapi. Tidak tahu harus merespon seperti apa lagi. Toh ini tempat umum. Semua bisa duduk di manapun yang dia suka. Aylin tidak ada hak melarang seseorang untuk duduk di salah satu bangku perpustakaan.


Juniornya itu lalu duduk di kursi di seberang Aylin. Menaruh tasnya di kursi kosong sebelahnya. Lalu mulai mengeluarkan sebuah buku.


Ngomong-ngomong soal Kayvan, Aylin pikir dia tidak akan berurusan lagi dengannya setelah Isimaja selesai. Dia pikir dia bisa bebas dari junior sok jagoan selama inauguras itu.


Nyatanya nol besar. Nada.


Dia sesekali masih bertemu Kai, entah di kantin, koridor, lobi, atau perpustakaan seperti ini. Tidak masalah kalau hanya bersisihan jalan atau mungkin sedikit basa-basi menyapa atau senyum sopan karena, pertama mereka satu jurusan dan kedua tidak mungkin tidak akan bertemu karena mereka menggunakan gedung kuliah yang sama.


Sayangnya tidak. Setiap kali ada kesempatan bertemu, cowok menyebalkan itu seperti tebar pesona, sok akrab, dan ugh! Aylin tidak mau mengatakannya secara langsung. Intinya selalu membuatnya naik darah serta telinga dan pipnyanya memerah kesal.


Senyum miring dan senyum sopannya menambah kesan menyebalkan pada diri Kayvan. Ingin sekali Aylin menonjok mukanya saat itu juga.


Orang itu kenapa sih? Suka sekali menganggunya. Dan kata-kata yang kadang terselip di ucapannya membuatnya tambah kesal.


Kayvan menjadi orang yang paling menyebalkan yang pernah dia kenal. Walau begitu, Aylin sudah bisa mentoleril keberadaan Kai meski cowok itu begitu annoying dan tengil sekali.


Berbekal cukup seringnya bertukar pesan mungkin jadi salah satu faktornya. Obrolan mereka juga ternyata, secara cukup mengejutkan, nyambung juga.


Iya, Kai cukup sering mengiriminya pesan. Entah basa-basi busuk, bertanya soal kuliah dan organisasi kampus, dan lainnya. Meski awalnya risih dan sebal, Aylin mulai terbiasa. Toh isi pesannya juga tidak aneh-aneh.


Aylin juga pernah sesekali mengirimi Kai pesan.


Kegiatan saling tukar pesan mereka tentu tidak berlangsung lama. Kalau sudah selesai urusan ya sudah. Atau kalau Aylin sudah tidak membalas lagi—Aylin sering membalas dengan jutek untuk membuat Kai berhenti mengiriminya pesan, sayangnya tidak berhasil sama sekali. Dan Aylin tetap membalas seperlunya.


"Kak Aylin sudah makan siang?" tanya Kai basa-basi tanpa mengalihkan pandangannya dari kegiatannya mencari halaman di buku modulnya. Dia lupa menandainya dengan sticky note kecil—Kayvan tipe orang yang tidak tega melipat sebuah kertas buku dengan alasan cepat takut rusak dan biar tetap terkesan rapi.


"Nanti saja," jawab Aylin singkat. Dia masih sibuk mengetik di laptop yang dia bawa.


Mendengarnya membuat Kayvan menghentikan kegiatannya dan menatap senior di depannya.


"Jangan lupa makan siang, Kak," ujar Kai, "Aku nggak mau kakak sakit."


"Hm."


"Nanti kalau kakak sakit, aku jadi sedih," mendengar kalimat Kai barusan berhasil membuat Aylin menghentikan kegiatannya. Dia menoleh cepat dan menatap juniornya sengit.


"Kayvan!" desisnya tajam. Aylin lalu melirik sekitar memastikan tidak ada yang terganggu.


"Kau...!" Aylin geram sekali pada juniornya satu ini. Tangannnya mengepal kuat. Dia amat sangat jengkel saat Kayvan mengatakan sesuatu seperti barusan.


"Kau itu menyebalkan sekali, tahu nggak?" kata Aylin sinis.


"Lebih baik kau tutup mulut atau kau kusuruh cari meja lain!"


Cowok itu hanya tersenyum lebar mendengar ancaman Aylin. Tidak merasa takut tetapi menurutinya juga. Dia berhenti menggoda senior galaknya itu.


Untuk saat ini.


Semua kembali seperti tadi. Aylin kembali mengetik dan Kai kembali meneruskan kegiatannya tadi.


Sebenarnya Kayvan ingin bertanya satu dua hal pada Aylin soal mata kuliah dan dosen. Namun, sepertinya cewek itu terlihat benar-benar fokus dan Kai tidak ingin mengganggunya.


Biar Kai tanyakan nanti saja.


Tak lama kemudian, Maya datang. Dia jadi teman sekelompok Kai untuk tugas ini. Pembagian kelompok diacak oleh dosen mereka. Satu kelompok ada tiga orang. Teman Kai dan Maya yang satunya tidak hadir hari ini karena sakit.


Ketidakhadiran mahasiswa entah karena sakit, izin, atau tanpa keterangan dianggap sama saja. Mahasiswa punya kesempatan tidak hadir di kelas empat kali setiap mata kuliah. Beberapa dosen mungkin akan menanyakan alasan salah satu mahasiswanya absen dari kelasnya. Dan biasanya alasan sakit lebih sering mendapat toleransi. Izin yang berembel-embel mewakili kampus atau tugas kampus biasanya akan tetap dihitung hadir.


"Sudah lama?" tanya Maya kepada Kai. "Maaf ya, tadi ada urusan bentar."


Kai tersenyum ramah, lalu menjawab, "Nggak papa. Santai saja. Kita mau mengerjakan di mana?"


Maya terlihat berpikir, dia melihat-lihat sekitar sebentar.


"Dekat colokan yang di sana gimana? Mumpung kosong nggak ada yang pakai. Aku mau sekalian nge-charge laptop," Maya menunjuk sebuah tempat dekat jendela tak jauh dari tempat mereka.


Kai yang melihatnya mengangguk setuju.


"Boleh."


Cowok itu lalu berpaling ke Aylin.


"Kak Aylin, aku duluan ya," ujarnya sambil tersenyum. "Kalau kakak butuh apa-apa, aku ada di sebelah sana atau kakak bisa menghubungiku lewat ponsel."


"Ya, ya, ya," jawab Aylin acuh.


Sementara Maya sepertinya baru sadar dengan keberadaan Aylin. Dia lalu tersenyum canggung yang tidak digubris oleh Aylin.


Kai lalu membereskan tas dan modulnya. Maya berjalan lebih dulu. Selesai beres-beres, Kai lalu mencondongkan tubuhnya ke arah Aylin. Membuat cewek itu menatapnya curiga dan berusaha menjaga jarak.


"Jangan kangen ya Kak," lalu tersenyum. Matanya mengerling jenaka.


"Kayvan!" bisik Aylin dengan mata membulat terkejut. Belum sempat dia memukul wajah tengil juniornya dengan buku tebal di sebelah laptopnya, cowok itu sudah pergi duluan.


Sayangnya dia ada di perpustakaan. Aylin ingin sekali misuh-misuh dengan kelakukan Kayvan barusan. Ingin rasanya di heh...!


Junior sialan itu selalu bisa menghindar dengan cepat. Benar-benar menyebalkan!


Lupakan junior bodoh itu Aylin, sekarang fokus ke tugasmu.


Ngomong-ngomong soal junior, Aylin melihat gelagat aneh dari junior satunya. Entah siapa namanya. Aylin memandang sebentar ke arah mereka untuk memastikan sesuatu.


Oh benar. Cewek berwajah oriental dan bambut sebahu itu naksir Kayvan. Gerak-geriknya dan tatapan matanya cukup kelihatan. Dan sepertinya Kayvan tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu. Entahlah. Aylin tidak bisa menebaknya.


Tahu fakta kalau si Kayvan ada yang naksir saja masih sangsi. Cowok menyebalkan seperti dia ada yang suka? Serius?


Semua orang tahu kalau Kayvan banyak yang naksir karena ganteng dan ramah. Apalagi dia duta kampus terpilih dan juga terkenal setelah menghadapi ketua TPK FT.


Oh Aylin tahu fakta itu, hanya saja dia sudah kepalang jengkel dengan junior tengil itu.


.


.


.


Sebelumnya mereka sudah dibagi ke dalam gugus atau kelompok baru untuk acara sikrab mendatang. Masing-masing kelas kecil setidaknya ada dua orang yang satu kelompok. Mereka sudah bergabung dalam grup whatsapp gugus. Sebagian besar gugus juga sudah pernah berkumpul langsung, bertemu dengan teman dan pemandu satu gugus yang berbeda dari ketika Isimaja jurusan beberapa waktu lalu.


Kai dan Neo tidak satu gugus lagi. Malahan Neo satu gugus dengan Maya. Sedangkan Kai satu kelompok dengan Zulfa—iya mereka satu kelas di kelas besar.


Kai kali ini tidak mengharapkan kehadiran—lebih tepatnya mencari-cari—keberadaan Aylin seperti saat Isimaja jurusan tempo lalu. Dia sudah tahu—pertama dari pemandu gugusnya waktu itu dan kedua dari Aylin sendiri saat dirinya mencoba bertanya karena penasaran—kalau seniornya itu tidak ikut hima maupun kepanitiaan di jurusan.


Walau agak sedih juga karena dia tidak bisa bertemu senior favoritnya itu.


Berbicara soal senior favorit, Kai memang akhir-akhir ini sering berpapasan dengan Aylin secara tidak sengaja. Kesampingkan alasan mereka satu jurusan dan menggunakan gedung kuliah yang sama. Sebenarnya Kai tidak terlalu berharap akan sesering itu bertemu. Namun, dia juga tidak menolak kalau hal itu terjadi.


Walau mereka sudah cukup akrab—hanya Kai yang menganggapnya demikian dan tahu Aylin sudah terbiasa atau mentoleril keberadaannya sudah cukup untuk saat ini, senior berwajah manis itu masih bersikap galak dan judes.


Kai belum tahu apakah itu memang benar sikap aslinya atau hanya berlaku padanya.


Apapun itu, wajah Aylin terlihat menggemaskan saat dia marah. Makanya Kai sudah sekali menggodanya di setiap kesempatan yang ada.


Oke, Kai memang sudah mengakui pada dirinya sendiri kalau dia menyukai seniornya itu. Tidak ada penyangkalan atau membohongi perasaannya saat tahu kalau dia ternyata suka pada Aylin.


Dia benar-benar sadar secara penuh kalau ada perasaan hangat dan ribuan kupu-kupu beterbangan di perutnya ketika menyangkut senior manis berambut panjang lurus itu.


Memang Kai sempat merasa jengkel dan tak percaya pada Aylin—terutama saat cewek itu mengenalkan diri dan berperan sebagai ketua TPK FT. Sikap menentang dan memberontaknya selama Isimaja memang benar-benar apa adanya. 


Tidak dibuat-buat.


Bukan untuk caper.


Bahkan sampai membuat Neo yang sudah kenal Kai lebih lama dari yang lain saja terkejut. Karena biasanya Ridwan-lah yang jelas-jelas akan memberontak kalau ada seperti itu. Seolah-olah antara Kai dan Ridwan bertukar kepribadian. Meski pada akhirnya juga, Ridwan pun melawan dan sempat keluar dari Isimaja juga.


Karena Kai memang begitu orangnya, tidak bisa tinggal diam kalau melihat aturan yang dirasa keterlaluan dan tidak masuk akal. Biasanya dia tetap bisa kalem Namun, waktu itu entah kenapa dia harus mengeluarkan suara. Walau jujur sedikit, cowok itu memang sedikit menggoda Aylin di depan umum untuk melihat reaksinya selain untuk memberikan balasan telak. 


Licik sekali ya ternyata.


Bukan salahnya juga, hari itu dia benar-benar kesal dan tidak terima dengan peraturan dan hukuman yang diberikan. 


Lalu setelah mengenal sedikit lebih jauh sosok Aylin dibalik topengnya sebagai senior tergalak dan ditakuti, Kai semakin jatuh hati. Cowok itu jadi semakin yakin bertekat untuk mengejar senior yang sering memenuhi pikirannya itu.


Makanya Kai sangat menikmati dan menerima dengan senang hati kesempatan yang ada agar bisa lebih mengenal jauh sosok Aylin Maharani.


Mari kita lupakan sejenak Kai dan bibit-bibit bucinnya.


Para maba Teknik Industri setelah diberikan pembekalan oleh Tim Acara dari panitia sikrab, mereka di arahkan untuk kumpul di masing-masing gugus. Membahas untuk kegiatan besok.


Pembagian barang penugasan dan perbekalan, penentuan ketua dan sekretaris, dan lainnya. Hampir mirip waktu Isimaja. Hanya lebih sederhana dan di sesuaikan dengan kegiatan besok yang jelas-jelas bakalan outdoor.


Kai nyaris saja dijadikan ketua gugus sebelum dia menolak dengan halus dan mengusulkan buat yang lainnya saja. Biar tidak dirinya terus menerus.


Alhasil terpilihlah Daru sebagai ketua Gugus Sembilan Elang. Sikrab tahun ini memang menggunakan nama-nama hewan untuk nama gugus.


"Besok kita berangkat pagi-pagi pakai bus," Tina, salah satu pemandu Gugus 9 menjelaskan.


"Satu bus nanti ada dua sampai tiga gugus sama beberapa panitia."


"Jangan lupa bawa jas hujan ya, yang murah aja sepuluh ribuan kalau terpaksa beli. Jaga-jaga kalau hujan," Putra, pemandu cowok satu-satunya di Gugus 9, menambahkan.


"Kak, kumpulnya jam berapa ya besok?" tanya Daru.


"Jam enam pagi kalau bisa udah di sini ya. Biar cukup buat pengondisian bentar. Di rundown kita berangkat jam setengah tujuh, paling ngaret jam tujuh," jawab Hani, pemandu Gugus 9 yang lain.


"Iya, biar sampai lokasi juga nggak kesiangan. Terus pulangnya kita juga biar nggak terlalu sore. Maghrib paling nggak udah sampai kampus," sambung Tina.


"Ada lagi yang mau ditanyakan?" tanya Putra.


Lalu ada beberapa maba yang mengajukan pertanyaan. Dan ketiga pemandu itu berusaha menjawab sebisa dan sejelas mungkin.


Oh iya, sikrab di Teknik Industri juga terdapat TPK. Hampir semua jurusan lain juga ada. Jurusan seperti Tata Busana dan Tata Boga bahkan TPK mereka terkesan lebih santai daripada jurusan lain.


Tekdus memang menjadi salah satu jurusan di FT yang strict saat agenda inaugurasi.


"Oke, berarti kita kumpul lagi hari rabu ya? Di gazebo dekat gedung dekanat jam tiga," kata Hani menyimpulkan hasil diskusi mereka barusan.


"Pastikan besok hari-H datang ya! Nanti nyesel loh nggak ikutan," Tina mengingatkan.


"Temen-temennya diingatkan sama diajak. Biar gayeng rame-rame satu jurusan."


"Oke, Kak."


"Siap, Kak."


Tepat pukul lima, temu perdana sekaligus pembekalan hari ini selesai. Para maba mulai membubarkan diri satu-satu. Ada yang langsung pulang, ada juga yang mampir dulu ke suatu tempat.


Terlihat Neo berjalan menghampiri Kai diikuti Maya.


"Kai, mau beli makan nggak?" tanya Neo.


Kai terlihat berpikir sebentar, menimbang-nimbang. Lalu menjawab, "Boleh."


"Sama Maya juga ya. Dia katanya mau ikut sekalian," Neo menunjuk ke arah Maya.


Cewek itu tersenyum canggung, merasa tak enak malah ikut nimbrung.


"Iya Kai. Nanti ada Rifa nyusul juga. Sekalian nanti ada janji sama dia," kata Maya.


Kai tersenyum ramah, "Boleh kok."


"Yo, udah bilang ke grup kalau jadi nyari makan bareng?" tanya Kai ke Neo.


Neo menunjukkan ponselnya, "Udah nih. Ridwan sama Teo otw dari asrama katanya. Si Ojan juga ikutan, dia baru selesai kelas."


Kai mengangguk mendengarnya.


Kelimanya memang cukup sering menghabiskan waktu bersama, mengerjakan tugas masing-masing, cari makan atau sekedar nongkrong saat mereka punya waktu luang bersamaan.


Kadang lengkap dengan semua personil—ditambah Dafa kadang-kadang.


Kadang hanya bertiga, berempat. Tergantung siap yang ada waktu luang saat itu juga.


"Kita berangkat sekarang?" tanya Neo.


Kai mengangguk, dia sudah mencangklongkan tasnya, "Yok."


"Yuk May," tak lupa Neo mengajak Maya agar tidak tertinggal.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


a.n.


yap pendek dulu, kalau diteruskan bakalan panjang banget. agak kurang puas dnegan bagian ini sebenarnya, but it's ok for now. i'll revise it later


di sini kai udah "blak-blakan" kalau dia suka aylin wkwk


dan ternyata maya suka sama kai, wah gimana nih


see you on next chap!