![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
hesitation (n): the action of pausing or hesitating before saying or doing something.
.
.
.
[baru minor editing, part panjang karena aneh kalo dibagi dua. literally, judulnya terinspirasi dari lagu goodbye felicia - bimbang]
.
.
.
Apa yang akan kau lakukan saat kau terbangun dari tidurmu, bus sudah berhenti dan suasananya sudah mulai sepi, lalu ternyata kau bersandar di pundak seseorang selama kau tidur?
Dan orang itu adalah Kayvan.
Terkejut. Bingung. Malu mungkin?
Namun yang jelas panik.
Itu yang dirasakan Aylin sekarang. She is really freaking out right now!
Bagaimana tidak? Aylin terbangun ketika seseorang memanggilnya dengan nada lembut dan berkata kalau mereka sudah tiba di kampus. Dia bahkan kok bisa-bisanya bersender pada seorang Kayvan?!
Perasaan yang campur aduk begitu sadar berhasil Aylin sembunyikan dengan baik.
"Oh," adalah respon bodohnya begitu menyadari kalau bus sudah hampir kosong.
Aylin lalu mengambil tasnya lalu memastikan kalau tidak ada barang yang sekiranya milik panitia tertinggal di bus sebelum berjalan keluar. Di susul Kayvan di belakangnya.
"Kak Aylin," panggil Kayvan menghentikan langkah Aylin. Cewek itu berbalik dengan raut wajah cukup datar. Namun, raut kelelahan cukup terlihat di wajah manisnya.
"Apa?"
"Jangan lupa istirahat ya Kak," kata Kayvan sambil tersenyum. "Hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa bisa langsung hubungi aku."
"Oh iya, jangan lupa makan juga Kak. Takutnya nanti malah kakak sakit karena kecapekan," buru-buru Kayvan menambahkan.
Sebenarnya Kai ingin mengantarkan seniornya itu, tetapi dia masih ada kumpul sebentar dengan teman-teman satu gugusnya yang lain.
Aylin terdiam mendengarnya. Dia merasa agak aneh. Kok? Ada apa dengan juniornya ini? Sok perhatian sekali padanya.
Dia melambaikan tangan kirinya seolah mengusir.
"Terserah," jawabnya cuek lalu berlalu pergi.
Senyum masih terkembang di bibir Kayvan sambil menatap kepergian seniornya itu. Sebelum dirinya berbalik ke arah kampus untuk menemui teman-temannya yang lain.
Sudah beberapa hari berlalu sejak kejadian itu. Kejadian yang membuat Aylin sedikit kesusahan bersikap seperti biasanya ketika berurusan dengan juniornya itu.
Entah kesambet apa, cowok itu makin hari semakin, berani Aylin bilang, semakin perhatian.
Semakin manis sikapnya. Ewh! Memikirkannya saja membuat Aylin geli sendiri.
Dan itu tentu saja membuat Aylin merasa aneh, bingung, canggung dengan sikap juniornya itu.
Entah Aylin menyadarinya atau tidak—dan kemungkinan besar tidak karena cewek itu sudah kepalang jengkel lebih dulu tiap kali bertemu—Kayvan sudah melakukan hal serupa meski tertutup dengan kesenangannya menggoda seniornya itu. Membuatnya marah adalah kesenangan Kayvan karena menurutnya ekspresi Aylin itu menggemaskan.
Bagaimana tidak bersikap manis? Tiap tidak sengaja bertemu, cowok itu selalu menyapanya. Tak lupa dengan senyum khasnya. Memang sih kadang suka membuatnya kesal kalau berulah, tetapi akhir-akhir ini jadi agak berbeda.
Bahkan dalam pesannya saja, Kayvan selalu memberikan perhatian-perhatian kecil seperti apakah dia sudah makan belum. Lalu ketika iseng Aylin jawab belum, tiba-tiba tak berselang begitu lama, pintu kamarnya terketuk dan ternyata seseorang memesankan g*food untuknya.
Padahal Aylin tidak pesan sama sekali. Ketika kebingungan siapa yang mengirimkan—dia sempat berpikir kalau itu dari Rima atau Naufal—sebuah pesan masuk menjawab semuanya.
'Di makan ya kak. Semoga kakak suka. Nggak pedes kok ^^'
Dan itu dari kontak '0057' di ponselnya alias junior rese si Kayvan Candra.
Maunya menolak tetapi dirinya sudah terlanjur kelaparan. Mubazir kalau makanan dianggurkan, jadinya Aylin makan.
Ketika dia berniat membayar makanan itu ke Kayvan—Aylin tidak suka merasa berhutang, apalagi pada Kayvan—cowok itu menolak mentah-mentah.
Bahkan beraninya mengancamnya kalau dia akan mengembalikan uang Aylin kelipatannya tiap kali Aylin berusaha membayar.
Sialan memang!
Sejak saat itu, Aylin tiap ditanya bakal membalas sudah. Benar-benar menyebalkan junior itu!
Kesambet apa sih bocah itu? Benar-benar membuat Aylin pusing sendiri. Jujur, Aylin sendiri saja bingung kenapa Kayvan bisa begitu. Membuatnya merasa aneh dan merasa ada sesuatu yang mengganjal.
Oke, dulu Aylin sempat berharap andai saja Kayvan bisa berhenti bersikap menyebalkan dan menyulut amarahnya. Namun, tidak begini juga caranya!
Ini namanya malah membuatnya semakin kebingungan dengan segala perubahan yang terjadi.
Kenapa dia jadi lebih perhatian? Lebih manis sikapnya? Sampai membuatnya uring-uringan. Bahkan melebihi ketika Kayvan menentangnya saat Isimaja waktu itu.
Kok begini sih?
Aneh.
Aneh sekali.
Kenapa semuanya jadi serba aneh?
Kenapa perutnya terasa tergelitik ketika mendapatkan perhatian-perhatian kecil itu?
Oh Aylin masih ingat sekali saat Kayvan menggandeng tanggannya waktu itu. Seperti tersengat listrik. Bahkan sampai membuatnya terdiam saking terkejut dan bingung harus berbuat apa. Seolah-olah dia tiba-tiba masuk di dunia asing yang membuatnya tidak bisa apa-apa.
Perasaannya jadi semakin campur aduk.
"Oi Lin, tumben lebih diem?" tanya Budi heran. "Kenapa sih?"
Mereka berlima tengah berkumpul dan nongkrong di angkringan langganan mereka.
"Hooh nih," timpal Taufan, "Nggak biasanya. Sakit Lin?"
Aylin menggeleng. "Nggak. Cuman lagi banyak pikiran aja."
"Kalau lagi ada masalah, cerita aja ke kita. Jangan dipendem sendiri," kata Rima.
Ketiga cowok mengangguk. Cukup sering Aylin memendam masalahnya sendiri kalau tidak ada yang memaksa buat cerita.
"Iya, santai," jawab Aylin.
"Bener lho ya," Rima memastikan.
"Hooh."
"Wo iya hampir kelupaan," Taufan berujar kemudian. Dia lalu mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Sebuah wadah bening berisi roti dan kue.
"Nih, hasil kelas tadi," kata Taufan lalu menaruhnya di meja.
"Wih...! Mantap nih makanan gratis," seru Budi dengan mata berbinar. Dengan semangat dia membuat tutup wadahnya dan mencomot satu roti cokelat. Kalau soal makanan gratisan, Budi maju paling pertama.
"Makasih Pan," kata Naufal yang mengambil kue kacang. Diikuti Aylin dan Rima mengambil yang mereka mau.
"Yo'i. Makan aja gaes. Tadi sisa, jadi kukasihkan kalian aja," kata Taufan.
"Sering-sering yo Pan," kata Budi dengan mulut penuh.
"Yee kebiasaan si Apeng," Rima berujar sinis.
"Itu mah maumu doang, Bud," kata Aylin. "Gratisan."
"Heh, kalian emang nggak mau makanan gratis?" tanya Budi membela diri.
"Ya mau lah. Masa nggak?" sahut Naufal dan disetujui yang lain.
"Nyenyenye..."
"Besok deh kalau ada sisa," kata Taufan kemudian.
"Terbaek emang sobatku yang satu itu," Budi merangkul bahu Taufan, lalu memasang raut wajah sok imut. "Sayang deh."
"Najis Bud!" seru Taufan jijik dan melepaskan diri dari rangkulan Budi. sementara pelakunya hanya tertawa terbahak-bahak.
Hari berikutnya, Aylin tengah berada di ruang baca di area gedung jurusan Teknik Industri. Siang ini ada jam kosong. Meski jam kosong, tentu saja ada tugas yang harus dikumpul paling lambat sore nanti. Makanya, Aylin dan tiga teman sekelasnya—kelas kecil—pergi ke ruang baca untuk mengerjakan tugas mereka.
Saat ini tengah ishoma, tetapi mereka malas keluar karena pastinya kantin sedang penuh. Jadinya menunggu agak nanti sambil berusaha menyelesaikan tugas.
Ruang baca ini, selain sering dimanfaatkan untuk mengerjakan tugas, juga sering digunakan untuk santai menonton film atau sekedar membaca buku. Di sini ada beberapa novel dan bacaan lain yang bisa dipinjam. Semacam perpustakaan mini. Sengaja disediakan ruangan ini agar mahasiswa lebih produktif dan jadi salah satu fasilitas penunjang untuk kuliah.
Pengurus yang biasanya mengurusi ruang baca adalah anak-anak Hima Teknik Industri di divisi literasi.
Aylin tengah membaca buku referensi untuk tugasnya ketika namanya dipanggil.
"Alin!"
Aylin mendongak dan mendapati Sarah, salah satu pengurus hima, berjalan mendekat ke arah mejanya. Aylin tidak terlalu akrab dengan Sarah, tetapi dia cukup mengenalnya. Sarah berbeda kelas dengannya. Aylin kenal Sarah karena dulu pernah satu gugus saat acara sikrab waktu maba dan dia juga anak buah Naufal di hima yang menjadi bendahara umum.
"Ya? Ada apa Rah?" tanya Aylin.
Sarah menyerahkan sebuah paperbag berukuran sedang ke Aylin. Cewek berambut keriting itu berujar, "Ini ada titipan. Nggak ada namanya dari siapa. Tapi si pengirim bilang kalau ini buatmu."
Aylin terlihat bingung. "Oh? Makasih ya Rah."
"Yuhuu sama-sama. Aku duluan ya Lin," Sarah berpamitan lalu berjalan menjauh.
Dengan heran dan penasaran, Aylin membuka paperbag yang tadi diberikan Sarah. Di dalamnya ada kotak berisi, bento?, sebotol susu stroberi dingin, dan beberapa makanan ringan—semuanya manis. Oh bahkan ada oreo kesukaannya!
Di tutup bento ada sebuah catatan kecil.
'Jangan lupa makan'
Hanya itu. Tidak ada pengirimnya.
Dari siapa? Hmm...
Aylin terlihat berpikir, sebelum mengambil ponselnya yang ada di meja. Lalu membuka aplikasi kamera dan memfoto makanan yang ada di depannya.
Cewek itu lalu mengirimkan foto itu ke seseorang. Tidak lupa dengan pesan singkat, 'darimu?'.
Tidak perlu menunggu waktu lama, pesan balasan pun didapatkan Aylin.
'dimakan ya kak. Biar gak gampang sakit. Semangat nugasnya ☺'
Benar kan! Sudah Aylin duga kalau makanan ini dari Kayvan. Bukan hanya sekali ini saja juniornya itu mengirim makanan atau minuman tanpa nama yang dititipkan orang lain.
Deg deg deg.
Perasaan aneh macam apa ini? Kenapa dia jadi berdebar begini? Dia sedang tidak sakit kan?
Dulu pertama kali Aylin bingung ini dari siapa. Agak curiga juga karena takut makanan atau minumannya diberi racun—dia bukan parno tapi waspada. Sampai suatu hari Aylin curiga kalau Kayvan-lah yang memberikannya. Kata-kata dalam pesan singkat yang tertempel hampir mirip dengan kata-kata junior itu di whatsapp atau saat ketemu langsung.
Perlakuan Kayvan ini membuat Aylin semakin bingung. Kenapa juga juniornya itu sampai repot-repot begini? They're not in mutual terms, technically.
Oke, mungkin Aylin sudah menganggap Kayvan seperti juniornya yang lain. Dan mungkin bisa dibilang kenalan? Teman?
Berkali-kalipun Aylin mendorong jauh Kayvan, cowok itu tetap berbalik dan mengusiknya.
Lalu sekarang tingkahnya membuat seorang Aylin Maharani bingung dengan Kayvan Candra. Bingung dengan dirinya sendiri dan bingung dengan juniornya itu.
Brengsek memang. Membuatnya kepikiran dan merasakan hal-hal aneh ketika cowok itu bertingkah. Sialan!
Dan sekarang, bagaimana bisa Kayvan tahu kalau dia sedang mengerjakan tugas? Di ruang baca pula!
Aylin menepuk dahinya baru ingat.
Oh iya, tadi si Ana mengunggah status whatsapp di mana dirinya dan yang lain sempat selfie dengan latar belakang rak buku di ruang baca. Aylin sempat melihat tadi. Ada caption-nya juga. Tertulis, 'semangat menempuh semester lima'.
Dan Ana adalah pemandunya Kayvan di Isimaja jurusan. Otomatis Kayvan menyimpan kontaknya Ana. Kenapa Aylin bisa tahu? Kejadian di mana Kayvan menentangnya di Isimaja menjadi rahasia umum di FT dan mungkin satu univ. Ana juga cerita kalau anak gugusnya adalah si pembuat masalah.
Ya, Kai punya julukannya selain sebagai Duta Kampus, Si Ganteng, atau Si Senyum Sejuta Volt. Julukan lain Kai adalah Si Pembuat Masalah dan sama seperti julukan Frans tahun lalu yaitu, Si Pemberontak.
Haish!
"Wih... ada makanan," komentar Yuna, salah satu teman sekelasnya yang melihat ada makanan di depan Aylin.
"Dari siapa Lin? Perasaan tadi kau nggak bawa makanan," tanya Ana heran.
Aylin hanya mengangkat kedua bahu. Enggan menjawab.
"Boleh minta snack-nya nggak Lin? Hehe..." tanya Malisa, teman sekelasnya yang lain.
"Boleh. Nih, ambil aja yang kau suka," kata Aylin.
.
.
.
Sore ini, Aylin ada janji dengan Naufal untuk mengerjakan tugas bersama. Tugas individu sebenarnya, sebuah mini project yang nantinya bisa berguna untuk persiapan magang nanti. Siapa tahu bisa bertukar pikiran dan dapat inspirasi satu sama lain.
Selain itu, sudah lama Aylin dan Naufal tidak belajar bersama seperti ini. Terakhir SMA mungkin? Selama masuk kuliah, mereka selalu bersama anak-anak yang lain.
Di antara berlima, Aylin memang lebih dekat dengan Naufal. Secara mereka sahabat sejak kecil. Meski sempat ada sedikit drama di mana Naufal naksir Aylin saat SMA dan berakhir bertepuk sebelah tangan, hubungan persahabatan mereka berjalan normal seperti biasanya.
Pada akhirnya, Naufal berhasil move on—Aylin yang waktu itu merasa tidak enak dengan senang hati memberikan waktu untuk Naufal sendiri dan untungnya tidak lama.
Dan ketiga sahabatnya yang lain tahu akan hal ini cukup lama pas mereka main TOD dulu. Kadang malah jadi bahan candaan buat tertawa bersama.
Naufal kini juga tidak jomblo. Cowok itu sudah berpacaran dengan orang yang diam-diam disukainya sebelum memutuskan untuk tidak cupu lagi. Sudah berjalan hampir setengah tahun. Pacar Naufal dari fakultas lain, lebih tepatnya FBS jurusan Bahasa Jawa.
Namanya Lia. Awal mula bertemu aslinya saat mereka satu ruangan saat tes SBM di UHW. Di situ sempat kenalan dan ngobrol karena mereka satu-satunya dari sekolah masing-masing yang ada di ruangan itu. Lia dulu SBM ambil SAINTEK karena di SMA dia jurusan IPA. Sayangnya tidak lolos dan akhirnya ikut SM ambil SOSHUM malah diterima.
Belum, Naufal belum naksir Lia. Cowok itu mulai naksir Lia diam-diam ketika mereka dipertemukan lagi saat mengurus Isimaja tahun lalu. Di mana Naufal jadi salah satu perwakilan yang ikut rapat koordinasi antarfakultas dan Lia jadi sekretaris dua di kepanitiaan univ.
Ngomong-ngomong soal Lia, cewek itu sempat insecure dengan kedekatan Aylin dan Naufal.
Ya cewek mana sih yang tidak kepikiran kalau pacarnya punya sahabat cewek yang dekat banget?
Namun, Aylin bilang dia tidak perlu khawatir dan Naufal juga berhasil meyakinkan pacarnya itu. Naufal juga jujur ke Lia kalau memang dulu sempat suka Aylin.
"My feeling for Alin was just a platonic one. Tapi kalau kamu, you are the formula for my maths," kata Naufal pada Lia.
Wew! Baru tahu Aylin kalau sahabatnya itu punya sisi seperti itu saat Lia bercerita.
Pada akhirnya, Lia dan Aylin bisa akrab. Mereka saling bertukar pesan. Dan dari Aylin, Lia tahu aib-aib pacarnya yang diluar kelihatan gentle dan berwibawa.
Aylin dan Lia punya persamaan, yaitu menyukai manga dan anime. Kadang kalau Lia dan Aylin sudah bertemu, Naufal sering dilupakan eksistensinya. Nasibnya memang. Namun, dia bersyukur kalau dua orang itu bisa seakrab itu.
Terkejut? Kurasa tidak. Beberapa kali saat geng mereka berkumpul, Aylin selalu membawa komik dan dia baca sambil mendengarkan dan menyahuti obrolan mereka sesekali.
Kalau kalian memanggil mereka wibu, siap-siap dilempar sepatu oleh mereka. Wibu dan penyuka anime dan manga adalah dua entitas yang berbeda. Namun, banyak orang menganggap orang yang hanya suka nonton anime atau baca manga itu wibu.
Wibu adalah orang non-Jepang yang mendewakan budaya Jepang. Mereka bertingkah dan berbicara meniru selayaknya orang Jepang.
Berbeda dengan orang yang hanya menikmati anime dan manga buatan Jepang. Kalau ini mereka biasanya disebut anime lover.
Dan kebetulan Aylin dan Lia punya anime favorit yang sama. Entah apa namanya Naufal tidak ingat. Yang Naufal ingat anime itu termasuk yang punya episode yang panjang dan sampai sekarang belum selesai. Dan mungkin juga belum akan selesai dalam waktu dekat ke depan.
Saat ini, Aylin dan Naufal sedang berada di sebuah kafe. Di dekat perpustakaan kota dan SMA Negeri 3. Kafe dengan gaya klasik dan menu yang cukup mahal.
Sudah hampir sejam mereka di sini, sibuk dengan tugas masing-masing. Sesekali membahas seputar tugas mereka. Tak lupa Naufal memesan secangkir espresso dan segelas jus alpukat untuk Aylin.
"Lia jadi ke sini Pal?" tanya Aylin tanpa menoleh.
"Nggak jadi, dia ternyata ada rapat di BEM univ," jawab Naufal. "Tapi nanti minta jemput pas udah selesai."
Meski Naufal punya pacar, tetapi kalau urusan dengan sahabatnya, cowok itu lebih mementingkan sahabatnya. Ke Budi sekalipun.
Beruntungnya Lia mengerti. Cewek itu juga punya seorang sahabat dan tentu kalau sahabatnya butuh bantuan lebih dulu, dia akan mendahulukannya ketimbang Naufal.
Dilihat dari urgensinya.
Dan Lia, bless her soul, cepat akrab dengan Budi dan kawan-kawan meski awalnya malu-malu dan canggung.
Rima sebagai saudaranya mendukung sepenuhnya hubungannya dengan Lia.
Rima itu orangnya tidak mudah suka dan akrab dengan orang asing. Apalagi orang yang menurutnya punya kesan yang tidak baik di mata Rima. Cewek itu akan diam-diam menilai dan memperhatikan apakah orang itu benar seperti dugaannya atau tidak.
Pernah suatu kejadian di mana Budi berhubungan dengan mantannya dulu—entah yang ke berapa Naufal lupa—Rima bilang kalau cewek yang dipacari Budi kala itu matre dan hanya memanfaatkan Budi. Saat pertama bertemu, Rima sudah merasa tidak sreg dengannya.
Omongannya terbukti benar saat Budi tidak sengaja memergoki cewek itu bicara dengan temannya. Membeberkan kalau dia memacari Budi hanya buat main-main. Untungnya, si brengsek Budi tidak benar-benar berkomitmen dan memutuskan cewek saat itu juga.
No hard feeling, kalau kata Budi.
"Ini. Titip ke Lia," Aylin mengeluarkan dua komik dari tasnya dan menyerahkan ke Naufal. "Katanya dia mau pinjem ini."
Naufal mengangguk dan menyimpan komik itu ke dalam tasnya. "Oke, nanti kusampaikan."
Mereka terdiam beberapa saat. Sampai mereka memutuskan untuk menyudahi kegiatan mereka. Sekarang mereka memutuskan untuk refreshing dengan berada di sini sejenak sebelum pulang.
Sudah beberapa menit mereka hanya terdiam. Sebenarnya Naufal punya pertanyaan yang sangat ingin dia tanyakan pada sahabatnya ini. Dia sudah menahannya cukup lama. Naufal menghela nafas. Oke, baiklah.
"Lin," cowok itu memulai, "Akhir-akhir ini kau jauh lebih diem dari biasanya. Apa ada sesuatu yang menganggumu?"
Itu, dia sudah mengatakannya.
Aylin terdiam. Terlihat berpikir keras. Dia memainkan jarinya terlihat gelisah.
Naufal melihat itu berujar lembut, "Kau tahu, kau bisa cerita padaku. You're my bestfriend. Aku khawatir kau malah sakit lagi kayak waktu itu karena terlalu memikirkan semuanya sendiri."
Aylin menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan.
"Sebenernya ada satu hal," Aylin memulai dengan pelan.
"Aku nggak tahu sejak kapan, sudah berminggu-minggu mungkin?" Aylin terlihat ragu dengan ucapannya.
Naufal diam mendengarkan, tidak menyela.
"Yang penting satu hal ini sering membuatku kepikiran. Bingung dan merasa aneh."
"Merasa aneh?" tanya Naufal setelah beberapa detik Aylin terdiam lagi.
Aylin mengangguk. Naufal lalu memesan secangkir kopi lagi, kali ini Americano, karena sepertinya dia butuh lebih banyak kafein. Dan anehnya, Aylin ikut-ikutan pesan kopi. Sepertinya cewek itu penasaran dengan rasanya.
"Misal, ini misalnya," kata Aylin dan dibalas anggukan oleh Naufal.
"Ada dua orang, anggap aja A sama B. Nah si A ini suka sekali ganggu si B, apapun yang dia lakukan sampai membuat si B kesel sama marah. Lalu si A tiba-tiba jadi lebih, apa ya namanya, perhatian? Ke si B ini. Sikapnya jadi agak berbeda ke si B pokoknya. Sampai si B ini ngerasa aneh sama kepikiran kenapa si A melakukan itu semua."
"Apa yang dirasakan si B ketika A menaruh perhatiannya ke dia?" tanya Naufal. Diam-diam dia mulai sadar apa yang sedang dibicarakan Aylin ini.
"Aneh? Asing? Entahlah," Aylin terlihat berpikir. "Seperti seuatu menggelitik dan terasa hangat? Lalu ada sengatan listrik ketika tidak sengaja bersentuhan?"
Naufal mengangguk paham. Dia benar-benar paham sekarang. Dia tersenyum dalam hati.
Kopi pesanan mereka datang.
"Apa si B merasa keberatan dengan itu semua? Maksudku ada rasa jijik, nggak terima, dan sebagainya?" tanya Naufal lagi. Dia mencoba menahan senyumnya.
"Mengejutkannya, nggak sama sekali. Hanya bingung sama ngerasa aneh," jawab Aylin.
"Kau tahu Lin, aku juga ngerasa gitu ke Lia," kata Naufal kemudian.
"Kok jadi kau sama Lia?" Aylin mengerutkan kening bingung.
Cowok itu terkekeh pelan. Dasar si Aylin.
"Iya. Apa yang kau ceritakan itu sama seperti yang kurasakan ke Lia. Dulu ketika belum ngeh, aku juga merasa aneh. Seperti apa yang kau ceritakan. Baru saat aku mulai sadar, aku tahu aku jatuh cinta padanya."
"Jatuh cinta?"
Naufal mengangguk.
Aylin terlihat agak sangsi, "Jadi itu namanya jatuh cinta? Masa sih?"
"Iya," Naufal mulai gemas sendiri. Dia akui sahabatnya ini memang peka dengan sekitarnya, tetapi Aylin itu termasuk payah kalau urusan peka untuk dirinya sendiri.
"Apa yang kau rasakan akhir-akhir ini, yang membuatmu kepikiran, itu artinya kau suka sama seseorang."
"Aku? Nggak ah!" Aylin menyangkal. Namun, dia tidak menyangkal kalau dalam perumpamaan cerita tadi itu adalah dirinya
Naufal menghela nafas. How dense his bestfriend is.
"Lin," ujar Naufal, "Kita itu nggak cuman kenal setahun, empat tahun. Tapi udah belasan tahun kita saling kenal. I know you, like you know me. Dan aku tahu apa yang kau alami itu sama persis sama ciri-ciri orang yang mulai kasmaran."
Aylin terlihat ingin menyangkal lagi tetapi keburu dipotong Naufal.
"Aku tahu ini mungkin pertama kalinya bagimu. Tapi aku sangat yakin karena apa yang kau rasakan itu mirip dengan apa yang kurasakan pada Lia. Sorry not sorry Lin, kau emang peka sama sekitarmu, tapi kalau soal ini kau malah nggak peka," kata Naufal.
"Inget nggak waktu SMP dulu ada orang yang naksir dirimu?"
"Hah? Siapa?" tanya Aylin kaget. Dia baru tahu akan hal ini.
"Nah ini Lin. Kau bahkan nggak tahu padahal satu sekolah tahu sama ini. Dia dulu ketua kelas dan sering jadi juara umum di sekolah. Mungkin, kalau dulu aku nggak bilang suka pasti kau juga bakal nggak sadar. No hard feeling ya Lin."
Aylin terdiam. Berusaha mencerna perkataan Naufal.
"Sejujurnya Lin, aku menunggumu cerita langsung padaku. Meski aku nggak pernah bilang, tapi aku tahu Lin. Yes I know siapa si A dalam ceritamu. Terlihat begitu jelas pas junior itu mendekatimu. Dan junior itulah yang berhasil membuatmu seperti bukan seorang Alin yang biasanya."
"Coba tolong jawab pertanyaanku," Naufal berujar kemudian ketika melihat Aylin terlihat masih tidak percaya.
"Apa kau ngerasa deg-degan? Entah pas deket dia atau pas dia ngasih perhatian?"
Dengan perlahan, Aylin mengangguk kecil. Masih membisu.
"Ngerasa ada semacam kupu-kupu bertebangan di perutmu? Yang rasanya menggelitik?"
Sekali lagi Aylin mengangguk kecil tanpa suara.
"Ngerasa hangat? Nyaman sama dia?"
Lagi-lagi Aylin mengangguk.
"Coba bayangkan, seandainya dia itu sama orang lain, lebih perhatian ke orang lain dengan cara yang sama padamu, mungkin bisa lebih. Apa yang kau rasakan? Apa kau kesal? Marah?"
Aylin terdiam, mencoba membayangkan. Sampai akhirnya mengangguk lamat-lamat.
Naufal mengangguk puas melihatnya.
"Fix kau suka Kayvan Lin."
Mata Aylin membulat. Merasa horor ketika perkataan Naufal sudah sepenuhnya masuk di kepalanya.
Dia suka Kayvan?
Aylin Maharani suka dengan Kayvan Candra?!
"Nggak perlu nyangkal Lin," Naufal menambahkan. "Jangan ditahan juga. Karena kau nggak akan tahu apa yang kau lewatkan kalau kau sibuk menyangkal sama menahannya. Dan jangan terlalu dipikirkan. Biarkan semuanya ngalir. Nggak ada salahnya jatuh cinta, termasuk ke orang yang sempat kita nggak sukai."
"Apapun yang terjadi, aku di sini."
Naufal lalu menyesap kopinya. Menikmati aroma dan rasa khas kopi yang menenangkan.
"Emang itu enak?" tanya Aylin kemudian setelah tadi terdiam. Masih terguncang dengan fakta yang ada.
"Coba aja."
Dengan penasaran Aylin meminum kopi yang sengaja dipesannya. Baru satu seruputan, buru-buru Aylin menaruhnya kembali ke meja. Hidungnya mengkerut, bibirnya melengkung ke bawah.
"Pahit banget! Nggak enak," katanya. Lalu menghabiskan sisa jus alpukat yang sebelumnya dia pesan.
Naufal tertawa pelan, mengejek. Ada-ada saja si Aylin. Sudah tahu dia tidak suka kopi malah penasaran mencobanya.
Aylin heran kenapa Naufal bisa doyan. Rima tak jarang minum kopi kalau sedang ingin. Ayahnya juga suka minum kopi di rumah. Bahkan juniornya itu, si Kayvan, terlihat sering memesan kopi saat mereka tidak sengaja bertemu di kantin atau kedai minuman.
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
sampai perlu naufal turun tangan buat ngasih paham aylin :v maklum aylin itu emang pro di akademik, tapi noob kalo masalah kisah asmaranya sendiri
btw, selain suka manga+anime, aylin juga suka nonton dorama-nya. dia juga nggak nolak kalo dikasih drakor asal ceritanya menarik :D
nulis part ini juga sambil dengerin lagu flumpool - kimi ni todoke sama scandal - namida no regret, jika tertarik boleh dicari lagunya
see you on next part