![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
more (determiner): a greater or additional amount or degree of.
.
Pandu - Nana
.
.
[belum diedit | chapter ringan untuk intro part yang akan datang]
.
.
.
Di kelas tiga ini, Nana dan teman-temannya sudah difokuskan untuk persiapan ujian nasional. Apalagi ujian akan dilaksankan di bulan April mendatang. Yang artinya hanya tinggal menghitung bulan yang semakin dekat.
Sekarang sudah awal tahun baru. Kurang dari tiga bulan persiapan mereka menuju ujian nasional.
Selama persiapan itu, kelas tiga sudah sibuk dengan segala les dan try out. Sudah tidak lagi memikirkan hal lain seperti ekskul atau organisasi sekolah.
Nana sendiri sudah menyerahkan tugasnya sebagai kapten basket putri ke kapten baru dan sudah resmi demisioner dari Dewan Ambalan beberapa bulan yang lalu. Begitupun Pandu dengan jabatannya sebagai kapten futsal putra dan di OSIS.
Bahkan sebelum Nana dan Pandu nekat pergi ke acara dies natalis FT lalu melihat penampilan Aylin—mereka memang nekat membolos pada hari itu padahal, keduanya sudah fokus sebagai siswa kelas tiga.
Sudah sibuk dengan jadwal les di sekolah yang bisa seminggu empat kali. Lalu mereka harus berangkat pagi-pagi, jam enam harus sampai sekolah, untuk ngenol. Yang mana mereka juga les satu mata pelajaran lalu dilanjutkan shalat dhuha.
Nana sendiri memilih untuk tidak ikut les di luar sekolah, tidak seperti kebanyakan teman-temannya. Baginya, les di sekolah sudah cukup. Apalagi mereka dari pagi sampai sore yang tentu membuatnya capai.
Kemudian Pandu sendiri, dia juga sama. Lebih tepatnya kalau Nana tidak les di luar, Pandu juga ikutan tidak. Selain memang dia sudah bucin, Pandu bukan orang yang seambis itu sampai merelakan separuh harinya untuk belajar dan belajar.
Meski memang kalau dibandingkan Nana, Pandu lebih rajin dan disiplin soal akademiknya.
Dan Nana bersyukur sistem ujian nasional SMA tahun ini berbeda dengan tahun sebelumnya. Di mana kelas tiga hanya diminta untuk ujian empat mata pelajaran saja: Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan satu mata pelajaran pilihan di masing-masing jurusan.
Karena Nana adalah anak IPS, maka dia memilih mata pelajaran Ekonomi untuk ujiannya nanti. Sedangkan Pandu yang merupakan anak IPA, dia memilih mata pelajaran Biologi.
Meski beda jurusan, keduanya tak jarang belajar bersama. Entah itu di rumah Pandu atau di rumahnya Nana. Masing-masing keluarga jadinya sudah terbiasa bahkan jadi saling kenal karena anak-anak mereka yang berkawan dekat.
Kakak perempuan Pandu tak jarang menitipkan sesuatu yang dibelinya untuk Nana lewat Pandu. Bahkan si kembar adik Nana begitu lengket ke Pandu tiap kali Pandu main ke rumah.
Dan sore ini, di rumah Nana, keduanya tengah belajar bareng. Mereka mengerjakan soal pemberian sekolah masing-masing. Kebetulan besok itu akhir pekan dan mereka memang sengaja menyelesaikan soal-soal yang diberikan agar di akhir pekan nanti mereka bisa lebih santai.
Tanpa bayang-bayang soal yang belum dikerjakan yang akan dibahas saat nge-nol di hari Senin.
Namun, kali ini mereka tidak hanya berdua. Ada Bimala dan Aylin yang memang diminta Nana buat mengajari mereka.
Bimala yang memang basic-nya lebih ke Biologi, jadinya dia mengajari Pandu soal mata pelajaran yang cowok itu pilih untuk ujiannya. Sedangkan Aylin akan membantu mereka soal Matematika.
Karena Aylin dan Bimala dulu anak IPA, mereka jadinya tidak bisa membantu Nana banyak terkait mapel IPS yang dia pilih untuk ujian. Namun Nana tidak masalah soal itu. Dia sudah menghubungi kakak kelas kenalannya—yang dulu anak futsal juga—untuk membantunya belajar. Dan kebetulan kakak kelas itu kuliah di UHW, maba, mengambil jurusan Pendidikan IPS.
Mereka belajar dengan kusyuk selama beberapa saat. Mungkin sudah ada hampir sejam mereka berkutat dengan materi belajar mereka. Di mana Bimala dan Aylin dengan sabar membantu menjelaskan soal yang tidak mereka mengerti. Mereka tengah mengerjakan soal-soal Matematika.
Di sela-sela belajar mereka, ibunya Nana bahkan sudah dua kali datang membawakan minuman dan camilan untuk mereka.
"Capek!" keluh Nana. Dia memang suka Matematika, tetapi kalau harus terus menerus berhadapan dengan salah satu mapel favoritnya itu, lama-lama juga eneg.
"Kita istirahat dulu aja ya," kata Aylin pada akhirnya. Dirinya juga sudah merasa pegal karena duduk di posisi yang sama.
Tak ada sanggahan dari ketiganya. Bimala langsung menyenderkan tubuhnya dan mengambil cemilan yang disediakan. Sedangkan Nana memutuskan untuk goleran di lantai beralas karpet tebal—mereka belajar secara lesehan.
Sementara Pandu tersenyum kecil yang melihat Nana langsung rebahan begitu mendengar Aylin bilang untuk istirahat. Lalu cowok itu lanjut menyelesaikan menulisnya selama beberapa saat sebelum ikutan beristirahat. Dia duduk bersandar di sebelah Nana rebahan.
Gestur itu tak luput oleh Aylin dan Bimala. Namun keduanya tak berkomentar apa-apa. Sudah terbiasa dengan tingkah keduanya. Kalaupun pada akhirnya Nana dan Pandu berkata mereka memang benar sepasang kekasih, Aylin dan Bimala tidak akan terkejut lagi.
Tingkah mereka terlihat lebih dari seorang sahabat. Ya kenapa tidak? Tidak ada sahabat yang menatap sahabatnya selembut itu seperti Pandu menatap ke arah Nana. Atau Nana yang sering mencuri-curi pandang ke arah Pandu.
Kedua remaja itu terlalu mesra untuk sebatas sahabat dekat.
"Mbak, kalian dulu ujiannya gimana sih?" tiba-tiba Nana berceletuk. Dia sudah merubah posisinya menjadi duduk bersila. Di tangannya sudah ada setoples keripik kentang yang dia bagi dengan Pandu.
"Mbak siapa dulu nih?" tanya Bimala tanpa menoleh. Dia masih sibuk memantau grup kelasnya soal kepastian tugas laporan yang harus dikumpulkan.
Di akhir pekan ini, dia sengaja meluangkan waktunya untuk membantu adik sepupunya belajar. Kebetulan laporan-laporannya sudah hampir selesai.
"Dua-duanya," sahut Nana. Cewek itu menatap Bimala dan Aylin menunggu jawaban. Sepertinya dia benar-benar penasaran.
Pandu di sebelahnya juga terlihat tertarik mendengar jawaban keduanya.
"Dulu ujiannya masih enam mapel kan ya Mbak?" tanya Pandu.
"Hooh," jawab Bimala dan Aylin mengangguk.
"Tahun ini 'kan kalian enak cuman milih satu mapel jurusan buat ujian," kata Aylin.
"Dulu mah boro-boro. Ditambah angkatanku dan sebelum-sebelumnya dulu uprak semua mapel kecuali Sejarah sama apa ya dulu lupa."
"Angkatannya si Mala ini lebih enak karena upraknya cuman olahraga sama agama."
"Wih iya kah Mbak Mal? Enak dong! Kita uprak hampir semua mapel ya Ndu?"
Pandu mengangguk menanggapi Nana.
"He...? Kok bisa Mbak?" tanya Nana penasaran.
"Seingetku dulu itu ada kebijakan baru apa ya. Mana saat pengumuman itu kelasku lagi pelajaran olahraga. Diumuminnya pakai speaker sekolah. Tapi nggak semua sekolah kayak gitu setahuku. Aku tanya temen dari sekolah lain dia tetep uprak hampir semua mapel," jelas Bimala.
Nana manggut-manggut mendengarnya.
Mereka lalu melanjutkan mengobrol yang random lain seputar mengenang masa-masa sekolah—lebih tepatnya Nana dan Pandu mendengarkan cerita Bimala dan Aylin semasa SMA.
Keempatnya juga membahas mapel favorit selama SMA.
"Si Alin ini aneh masak suka mapel Fisika," kata Bimala dengan nada bercanda.
Nana setuju dengan ucapan Bimala. Salah satu alasan kenapa dia berada di jurusan IPS adalah menghindati Fisika. Sementara Pandu cenderung netral. Dia cukup bisa memahami Fisika di beberapa materi yang menurutnya mudah. Tidak remidi di pelajaran itu saja Pandu sudah merasa sangat bersyukur.
"Fisika itu menyenangkan kalau kau tahu cara mainnya," tukas Aylin dengan nada santai. Sejak SMA memang teman-temannya kadang heran kenapa dia bisa sesuka itu dengan Fisika sementara teman-temannya banyak yang memusuhinya.
Bukan karena ibunya yang juga guru Fisika, tetapi karena memang Aylin berbeda dengan yang lain saja. Menurutnya dia lebih mudah memahami Fisika daripada Biologi. Itulah sebabnya jadi salah satu alasan kenapa dia memilih jurusan teknik.
"Kalian jadinya mau lanjut kuliah ke UHW?" tanya Bimala.
Pandu dan Nana mengangguk.
"Iya Mbak, tapi ya masih bingung jurusan mana," kata Pandu.
"Eh ini udah masuk bulan-bulan pendaftaran SNM kan ya?" tanya Aylin. "Kalian udah daftar?"
"Udah Mbak. Tapi aku ragu bakal keterima SNM sih," jawab Nana dengan nada agak pesimis. Pandu yang mendengarnya segera menoleh ke arah Nana.
"SNM itu untung-untungan juga sih. Jadi jangan terlalu mengandalkan jalur itu," ujar Aylin.
Bimala mengangguk, "Iyap. Meski pakai nilai kita selama sekolah, tapi juga jangan terlalu bergantung. Mending fokusin buat ngejar SBM-nya aja menurutku."
"Semangat ya kalian. Semoga keterima di jurusan yang terbaik dan yang kalian mau," ujar Aylin.
"Aamiin, Mbak."
"Aamiin..."
.
.
.
"Ndu, katanya di UHW ada festival lagi," kata Nana.
Dia dan Pandu tengah ada di ruang baca di dekat perpustakaan bersama beberapa siswa yang lain. Nana tengah menghabiskan bekal makan siang yang dia bawa dari rumah. Sementara Pandu tengah menyelesaikan laporan praktikum Kimianya.
"Oh ya?" Pandu menghentikan kegiatan menulisnya. "Festival apa? Kayak nggak ada habisnya."
Meski julukan UHW sebagai Kampus Festival sudah familiar, tetapi Pandu masih merasa cukup kagum dengan acara festival demi festival yang diadakan dengan rentang waktu yang tak begitu jauh.
Pasalnya, seolah baru kemarin Pandu tahu soal kegiatan pekan olahraga yang diadakan tiap akhir semester. Lalu kurang dari sebulan akan ada acara lagi?
Nana mengangguk, lalu menjelaskan, "Iya. Aku sempat lihat story punya Mas Nopal. Terus kutanya dia, katanya emang mau ada festival hari kasih sayang besok akhir Februari. Semacam buat acara amal gitu dari BEM univ. Dana yang terkumpul nanti bakal didonasikan."
"Mau ke sana?" tanya Pandu. "Tapi harinya apa dulu. Kalau weekday jelas kita bakal nggak bisa."
"Sebentar kutanya Mas Nopal lagi," kata Nana. Lalu mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan ke Naufal.
Tidak lama kemudian, Naufal membalas pesan Nana.
"Yes! Weekend!" Nana memekik pelan. Dia senang kalau acaranya di akhir pekan.
"Ke sana ya, Ndu besok?" pinta Nana.
Pandu terlihat berpikir sebentar.
"Boleh. Tapi setelah kita TO ya, biar nggak kepikiran. Jadi kita ke sana pas hari keduanya aja. Gimana?"
Nana mengangguk setuju.
.
.
.
.
.
a.n.
halo, maaf lama. memang lagi sibuk-sibuknya dan sempat ada eror di simcard yang biasa kupakai buat internetan.
ada yang masih ingat dengan Nana dan Pandu? bagian ini terinspirasi dari lagunya Jason Mraz yang judulnya sama seperti chapter ini :D
jadi part ini semacam intro buat part yang akan datang. maaf kalau kesannya anyep dan kurang greget :')
see u on next chapter i guess?