Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Baby Steps



baby steps (n): a tentative act or measure which is the first stage in a long or challenging process


.


.


.


[baru minor editing. aku nggak tau ini nulis apa, enjoy!]


.


.


.


Kai dan Neo selesai dengan kelas mereka siang ini. Pertemuan pertama belum langsung membahas materi kuliah. Hanya diisi perkenalan dan penjelasan terkait silabus yang akan mereka gunakan satu semester ke depan.


Mereka berdua kini tengah berjalan menuju kantin untuk makan siang. Di mana mereka juga janjian dengan Teo dan yang lainnya di sana.


"Btw, Kai, kau udah tahu mau masuk UKM mana?" tanya Neo.


Kai terlihat berpikir, sebelum akhirnya menjawab, "Entahlah. Belum ada yang benar-benar membuatku tertarik. Kau?"


Neo tersenyum bersemangat.


"Aku berpikir mau daftar UKM basket."


Neo dulu juga pemain basket sama seperti Ridwan. Kai juga, tetapi cowok itu bukan tim inti. Kesibukannya sebagai ketua OSIS dan kompetisi debat membuatnya cukup sering izin dari latihan.


"Itu bagus," komentar Kai. "Kau juga bisa ajak Ridwan kalau dia mau main basket lagi."


"Kau punya kontak pengurusnya 'kan?"


Neo mengangguk. Cowok itu menyimpan nomor salah satu kontak pengurus dari UKM Basket UHW.


Minggu lalu, saat UKM Fest di halaman Gedung Student Centre, Neo berhasil mendapatkan kontak pengurusnya setelah berkunjung ke stand mereka.


UKM Fest adalah acara rutin yang digelar setahun sekali setelah Isimaja. Biasanya sebelum kuliah di mulai selama seminggu. Karena UHW ada empat belas fakultas, jadi tidak mungkin seluruh maba berbondong-bondong memadati halaman Student Centre yang tidak terlalu luas. Makanya dibuat jadwal kloter dua fakultas sehari.


UKM Fest sendiri adalah agenda untuk memperkenalkan UKM secara langsung. Para maba bisa datang ke stand dan langsung bertanya-tanya terkait UKM yang menarik buat mereka. Selain itu, dari panitia Isimaja juga memberika tugas tambahan untuk meminta cap dari dua puluh lima UKM minimal. Lalu tugas itu dikumpulkan ke masing-masing pemandu.


Jadinya, setelah liburan sejenak mereka kemarin, Kai dan kawan-kawan punya agenda untuk datang ke UKM Fest.


Tidak harus satu gugus. Jadi, mereka datang berenam (dengan Dafa) ke halaman Student Centre.


Halaman Student Centre kala itu begitu ramai dengan berbagai stand yang berdiri. Banyak senior yang mempromosikan UKM mereka. Bahkan ada hiburannya juga di sana.


Kai dan lainnya juga tidak sengaja bertemu senior mereka, meski senior mereka mungkin tak sadar kehadiran mereka karena sibuk mengurusi stand.


Senior pertama yang mereka temui adalah Rima. TPK berambut pendek yang secara tidak mengejutkannya ada di stand UKM Karate. Cewek itu terlihat sibuk menjelaskan sesuatu ke para maba yang bertanya padanya.


Lalu, senior kedua, yang cukup mengejutkan mereka, adalah Aylin. Sang ketua TPK FT itu sendiri. Aylin berada di stand UKM Menwa dan tengah berbicara dengan salah satu pengurusnya. Cewek itu sepertinya tak sendiri, ada beberapa senior FT lain yang terlihat familiar juga berada di sana.


Kai yang melihat Aylin di sana terdiam beberapa saat. Dia baru tahu kalau seniornya itu ikut Menwa. Sebelumnya, Kai pernah mendengar Aylin berbicara tentang Menwa (saat di basecamp waktu itu). Namun, Kai tidak tahu kalau Aylin juga Menwa.


Dan senior itu tidak sadar kalau Kai dan yang lain melihatnya.


Lagipula, Aylin tidak lama di sana. Ketika Kai dan yang lain hampir selesai mengumpulkan stempel, cewek itu sudah tidak ada di stand. Namun, beberapa senior FT terlihat masih ada di sana.


Balik lagi ke Kai dan Neo sekarang. Keduanya sudah tiba di kantin yang terlihat penuh. Jam-jam ishoma memang membuat kantin super sibuk.


"Hoi Kai! Yo!" terlihat Ojan melambaikan tangannya memanggil mereka. Dia terlihat sendirian.


Kai dan Neo lalu berjalan menuju meja tempat Ojan berada. Lalu duduk menempatkan diri di kursi yang ada. Saat melihat sekeliling, matanya tak sengaja menangkap sosok familiar yang duduk tak terlalu jauh dari tempatnya.


Sosok itu adalah Aylin, yang tengah mengobrol dengan teman-temannya.


Melihatnya mengenakan pakaian kuliah hari Senin daripada setelah TPK membuatnya agak sedikit berbeda auranya. Kai tersenyum kecil.


"Dafa mana?" tanya Kai heran pada Ojan. Dia pikir Ojan bersama Dafa.


"Oh... dia balik kos. Katanya ada saudaranya mampir tiba-tiba," jawab Ojan.


"Nggak kelas lagi kalian?" tanya Neo.


"Ada, nanti jam setengah dua masuknya tapi."


"Teo sama Ridwan nyusul," kata Kai memberitahu setelah membuka ponselnya dan mengecek pesan masuk. Dia juga mengirimkan pesan ke seseorang yang akhir-akhir ini memang sering dia hubungi.


"Belum bisa keluar kelas."


Neo dan Ojan mengangguk mengerti.


Mereka bertiga lalu memutuskan untuk segera memesan makanan. Sekalian memesankan Teo dan Ridwan yang katanya nitip sekalian. Begitu pesanan mereka datang, pas sekali Ridwan dan Teo sampai di kantin.


"Gimana, bro?" tanya Ojan.


"Dosennya lama banget tadi. Padahal udah masuk jam istirahat," kata Teo. "Mana gedung Otomotif jaraknya mayan jauh dari kantin lagi."


Mereka lalu bertukar cerita tentang kelas perdana mereka. Di kelasnya, ternyata Teo dijadikan ketua kelas. Begitupun Kai juga bernasib sama.


Mungkin karena keduanya sudah dikenal banyak orang dan terlihat lebih bertanggungjawab. Entahlah. Mau tak mau Kai dan Teo setuju sebagai ketua kelas.


"Misi... kami boleh gabung nggak? Meja lain masih penuh soalnya."


Kelimanya menoleh dan mendapati tiga cewek yang familiar. Mereka adalah Maya, Rifa, dan Freya. Maya dan Rifa mereka kenal ketika menonton malam pemilihan duta kampus. Lalu ada Freya yang jelas-jelas mereka kenal.


Pemenang duta kampus dan partner kerja Kai di sana.


Alhasil meja mereka menjadi sorotan juga. Sejak kedatangan Kai sebenarnya dan sekarang ditambah adanya Freya.


"Oih.. Papang and friends, sini-sini," kata Ojan mempersilakan.


"Thanks ya!" kata Freya dengan ramah.


"Santai aja," tukas Teo kalem.


Kai belum kenal Rifa secara langsung. Jadinya, mereka sempat berkenalan singkat.


Lalu mereka kembali mengobrol dengan santai tanpa ada rasa canggung. Yang mendominasi obrolan adalah Ojan, Rifa, Teo, Freya, dan cukup mengejutkannya Neo juga.


Ketiga cewek ini berbeda jurusan. Freya yang di jurusan Pendidikan Teknik Sipil, Rifa di Tata Boga, dan Maya yang sekelas dengan Neo dan Kai di Teknik Industri. Mereka janjian untuk makan siang bersama karena kebetulan jadwal istirahat mereka sama.


Kalau dilihat dari gerak-geriknya Neo, sepertinya cowok itu naksir Maya. Sejak tadi Neo terlihat lebih sering mengajak bicara Maya dan cewek itu menanggapinya dengan ramah dan sopan. Kai dan Ridwan yang sangat sadar akan hal itu hanya saling bertukar pandang.


Ngomong-ngomong soal Maya, Kai sempat minta maaf ke cewek itu karena tidak mengenalinya saat mereka sempat dihukum di TM hari kedua. Kalau kalian lupa, di mana semua maba yang tidak memakai nametag diminta maju dan Kai harus menyebutkan nama mereka.


Waktu itu nametag milik Maya sobek jadi lepas dari talinya. Jadinya, dia kena hukuman juga.


"Nggak papa Kai. Santai aja," kata Maya. "Udah berlalu juga, hehe..."


Kantin kembali menjadi sedikit lebih heboh. Membuat Kai dan yang lainnya penasaran apa yang terjadi.


Yang menjadi sorotan kali ini adalah Frans dan kedua temannya. Mereka terlihat memantau apakah ada meja yang kosong atau tidak.


"Ganteng banget.." celetuk Rifa dengan tatapan memuja. "Kharisma-nya bukan kaleng-kaleng emang."


"Kau benar," Maya menyetujui, "Melihatnya di luar tugas TPK kalihatan agak berbeda. Tapi kesannya masih dingin sih."


"Justru itu yang bikin keren."


"Mereka terlihat populer sekali," komentar Ojan kemudian. Dia cukup penasaran kenapa bisa begitu berpengaruhnya sampai orang-orang memalingkan wajah untuk melihat mereka. Para cowok hanya dia memperhatikan senior mereka yang jadi pusat perhatian.


Bahkan ketika Frans dan kawan-kawan dipanggil Budi untuk duduk bergabung di meja para senior tahun ketiga, membuatnya semakin menjadi pusat perhatian.


"Mereka emang dikenal banyak orang, mungkin semua anak FT tahu siapa mereka," ujar Teo. "Terutama gengnya Kak Frans."


"Kenapa begitu?" tanya Neo penasaran.


"Aku dapat cerita dari kating yang satu kamar denganku. Dia bilang kalau gengnya Kak Frans itu adalah pentolan angkatan tahun kedua," Teo menjelaskan. Kemudian, nada bicaranya berubah menjadi sedikit lebih serius. Membuat teman-temannya semakin penasaran memperhatikannya.


"Rumor yang beredar, tapi kata kating ini bukan sekedar rumor, kalau Kak Frans itu adalah kandidat terkuat Raja Teknik berikutnya."


Teo lalu menjelaskan kalau di FT terdapat julukan Raja Teknik untuk seseorang yang disegani semua angkatan dan dianggap pemimpin yang baik. Gampangannya sebagai alfa-nya kalau kata Rifa barusan setelah menyimpulkan penjelasan Teo.


Raja Teknik berbeda dengan ketua BEM. Beda dari segi urusan dan sifatnya.


Lalu biasanya, Raja Teknik ini juga mengurusi hal yang di luar kampus sekiranya itu menganggu ketenangan dan mencoreng nama baik.


"Hmm... kalau begitu pentolan angkatan tahun ketiga itu Kak Aylin dan kawan-kawan?" tanya Freya penasaran.


Mereka memperhatikan ke meja senior yang dimaksud.


Teo menggeleng. "Bukan malahan. Awalnya kupikir juga begitu, melihat mereka banyak dikenal juga. Tapi ada senior bilang kalau pentolan angkatan ketiga bukan mereka."


"Terus siapa?" tanya Neo penasaran.


"TPK yang menyidang kita pas Gear Ceremony. Dia salah satu pentolannya, Bang Enggar."


Beberapa pasang mata membulat terkejut.


"Serius?" tanya Ojan tak percaya.


Teo mengangguk yakin.


"Wih... gila, gila," celetuk Rifa yang masih setengah percaya.


"Kau sepertinya kenal banyak senior, Yo," komentar Ridwan kemudian.


"Dia aja punya predikat maba yang punya paling banyak tanda tangan dan nama seniornya," ujar Kai kalem.


"Hah?! Serius?" Ojan, Neo, dan ketiga cewek terkejut mendengarnya. Buku merah kecil yang digunakan untuk minta tanda tangan dan nama para senior memang tidak dikumpulkan. Namun, dicek langsung oleh TPK dan Tim Acara.


Sayangnya mereka tidak diberitahu siapa yang berhasil mengumpulkan semuanya.


"Hei, hei, hei.. kalau kalian tahu ya, lantai yang kutinggali itu isinya senior semua," kata Teo membela diri. "Yang maba aja cuman ada empat apa ya."


Teo mengangguk.


"Nah, Bang Enggar itu satu lantai denganku. Kamarnya beda dua kamar dariku."


Teo jadi lumayan akrab dengan Enggar dan senior lainnya semenjak Isimaja selesai.


"Kok kau tahu Kai kalau Teo paling banyak tanda tangannya?" tanya Ojan.


"Dari Bang Frans," jawab Kai sederhana.


"Dan itu katanya jadi salah satu pemberat keputusan untuk Teo jadi ketua angkatan," imbuhnya sambil mengutip kata "pemberat" dengan jarinya.


"Eh? Serius?" kata Teo tak percaya. Bersamaan dengan itu, Ojan dan Neo nampak terlihat lega. Mereka jadi malah semakin bersyukur mengetahui fakta ini.


Keduanya sempat khawatir dan ketakutan saat buku mereka akan dicek saat hari terakhir Isimaja.


Berulang kali ada sidak oleh TPK tetap membuat maba seperti Ojan dan Neo ketar-ketir.


"Seketika aku menyesal punya banyak tanda tangan," kata Teo meratapi nasibnya yang tak bisa diobat.


"Tak apa Yo," ujar Rifa sok bersimpati. "Berkat kau, kita semua aman, hahaha..."


"Sialan."


"Lagipula ada banyak untungnya juga," kata Freya kemudian. Maya di sebelahnya mengangguk setuju.


"Salah satunya, kau punya koneksi luas," sambung Maya.


"Lalu, kau juga akan dikenal banyak orang. Nggak hanya temen seangkatan atau para senior, tapi juga dosen dan para alumni," Freya menimpali. "Kau punya, istilahnya privilege, sebagai ketua angkatan."


"Wih... keren," kata Neo, Ojan, dan Rifa hampir bersamaan.


"Bos besar kita," gurau Ridwan sambil meninju bahu Teo pelan.


"Haish...!" hela Teo yang terlihat agak keberatan. Dia tidak terbiasa dengan ini. Selama dia bersekolah dulu, belum pernah dia jadi semacam sorotan seperti ini. Jadi pengurus OSIS saja dulu dia tidak tertarik.


"Tapi masih ada Kai," kata Teo kemudian. "Dia noh yang paling berpengaruh."


"Bener juga," sahut Neo.


"Edan yo, ternyata isi geng kita orangnya serem-serem," komentar Ojan. "Teo, Ridwan, Kai. Apalah aku yang cupu ini." [Gila ya]


Neo merangkul Ojan lalu berujar, "Senasib kita Jan."


Teo dan Ridwan mendengus mendengarnya. Sedangkan Kai hanya menggelengkan kepala pelan.


Freya, Rifa, dan Maya hanya memperhatikan mereka. Cukup terhibur dengan kelakuan kelimanya itu. Rifa berpikir mungkin di angkatan mereka, kelima cowok itulah yang akan jadi pentolannya. Karena sejauh ini belum ada yang begitu mencolok seperti mereka.


Mereka lalu kembali mengobrol ringan. Membahas apa saja yang terbesit di kepala.


Sebuah pesan kembali masuk ke ponsel Kai setelah ada jeda hampir lima belas menit sejak pesan terakhir terkirim.


'Kau udah tahu tugas perdamamu jadi duta kampus besok?'


Kai tersenyum kecil. Untuk pertama kalinya orang ini mengirim pesan duluan. Selama ini Kai-lah yang selalu mengirim pesan pertama kali. Dia tidak keberatan, sama sekali tidak.


Bagaimana mungkin cowok itu merasa keberatan? Dia punya banyak alasan untuk sekedar mengiriminya pesan singkat. Langkah perlahan awal yang klise untuk menjadi lebih dekat dengan orang yang memenuhi pikiran kita. Yang membuat perut kita berasa seperti ada ribuan kupu-kupu.


Namun, sekarang tentu dia merasa luar biasa senang. Walau tanpa basa-basi seperti biasanya.


Tanpa mempedulikan teman-temannya yang masih mengobrol entah membahas apa sambil beberapa dari mereka menunggu jam kelas selanjutnya, Kai segera mengetikkan balasan.


'Tugas yang mana, Kak Aylin?'


Yep! Orang itu adalah Aylin.


Terkejut? Kurasa tidak.


Sejak Kai punya nomor Aylin, cowok itu emang sesekali mengirimi pesan. Yah... meski balasan Aylin masih terkesan cuek dan judes, cowok itu tentu saja tidak kapok.


Tak berapa lama kemudian, balasan datang.


'Oh iya ding. Frans belum ngasih tahu.' Di meja seberang sana, Aylin tanpa pikir panjang langsung bertanya ke juniornya itu setelah mendengar penjelasan Frans. Entah sadar atau tidak dia. Kebetulan juga tadi berkirim pesan sebentar.


Namun tentu saja Kai tidak tahu akan hal itu.


Apapun itu, Kai toh senang-senang saja mendapatkan pesan singkat dari seniornya itu.


Bahkan saat Kai dan yang lainnya melihat Aylin di UKM Fest, sepulangnya dari sana, Kai mengirimkan pesan singkat ke Aylin kalau dia melihatnya.


Modusnya Kai memang.


.


.


.


Hari kedua kuliah berlalu hampir sama seperti kemarin. Ketika ishoma, sayangnya Kai tidak melihat sosok Aylin. Kelasnya baru bisa istirahat setelah kelas jam sebelas selesai. Itu artinya baru bisa keluar pukul satu kurang.


Kali ini hanya bisa makan siang berempat. Ojan ada jadwal kelas jam satu. Sedangkan Teo dan Ridwan baru ada kelas lagi nanti jam tiga setelah tadi selesai kelas jam sebelas.


Jeda yang lama untuk kelasnya Teo dan Ridwan. Jadi untuk membunuh kebosanan Teo mengajak Ridwan ke perpustakaan. Ridwan untuk tidur siang dan Teo yang memang berniat mencari buku bacaan sekalian memakai WiFi.


Ojan sudah makan siang lebih dulu bersama Dafa dan beberapa teman sekelasnya yang lain. Hari ini jadwal kelas mereka cukup padat. Membuat jam ishoma mereka tidak lama.


Begitu kelas Kai dan Neo selesai, mereka berempat baru makan siang bersama di kantin.


Teo dan Ridwan sebenarnya bisa makan terlebih dulu atau bahkan pulang ke asrama karena jeda yang lumayan. Namun, Ridwan yang sudah malas bolak-balik kampus dan asrama serta Teo yang belum begitu lapar memutuskan untuk menunggu Kai dan Neo.


Baru dua hari kuliah perdana, para maba sudah mulai terbiasa dengan kehidupan mahasiswa yang jelas-jelas memang berbeda dari sekolah.


"Bulan depan kampus kita ada Porseni," kata Teo memberitahu. "Kurasa Kai juga udah tahu beritanya."


Kai mengangguk mendengar perkataan Teo.


"Benar. Acara tahunan univ," katanya. "Tiap fakultas wajib mengirimkan perwakilannya di tiap cabor."


"Semua wajib ikut?" tanya Neo penasaran.


"Nggak semua sih," balas Kai. "Nanti bakalan ada selebarannya. Yang mau ikut pertandingan bisa daftar ke panitia. Sifatnya umum, jadi misal kau ikut basket, nanti bisa satu tim dengan senior. Nggak cuman maba isinya. Dan nggak cuman olah raga aja. Ada kesenian juga."


"Jadi hitungannya ini acara besar," timpal Teo. "Tiap fakultas membolehkan tiga angkatan untuk ikut berpartisipasi. Oh iya, nanti juga ada penilaian suporter terbaik."


"Aku pernah dengar kalau tiap akhir semester juga ada semacam classmeeting," kata Ridwan kemudian. "Apa itu hal yang sama?"


"Beda. Kalau Porseni diselenggarakan emang buat memperingati Hari Olahraga sama rangkaian agenda buat menyambut dies natalis. Kalau yang itu emang cuman buat refreshing habis UAS. Dan yang mengadakan itu BEM," jelas Kai.


"Kayaknya seru besok," celetuk Neo.


"Bener. Jadi nggak sabar," timpal Ojan.


.


.


.


Kak Aylin, aku baru ingat mau nanya sesuatu pada kakak


^^^Apa?^^^


Kenapa pas isimaja, maba diminta bawa obeng sama kunci inggris?


^^^Ada dua alasan^^^


^^^1. Buat sedia payung sebelum hujan, ada alasan kenapa ft disebut fakultas tukang^^^


^^^2. Buat lihat reaksi kalian kalo dapat tugas kayak gitu gimana, apa kalian akan tetep bawa ato gak^^^


^^^Udah, singkatnya gitu. Males ngetik^^^


Oh... gitu


Makasih kak Aylin ☺


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


a.n.


yap ini dia. kai emang modus dia XD (baby steps dulu), aylin sadar nggak ya kira-kira


btw, dulu pas maba juga disuruh minta cap dari ukm2 (emang ada semacam UKM fest gitu kayak di cerita ini) rame banget suasananya, untungnya pake kloter (ya tetep aja rame sampe nyaris berdesakan, suasananya kayak pasar malam)


buat part depan nggak tau bisa tepat waktu atau nggak, soalnya udah mulai sibuk buat kerja sama nyelesain tugas, tapi kuusahakan nggak telat up


see youu..