Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Seal the Deal



Seal the deal (idiom):  to come to an agreement, to finalize the deal


.


.


.


.


[baru minor editing; chapter lain yang lumayan panjang, maybe?]


.


.


.


.


.


.


.


"Eh, sudah rilis man-teman!" seorang maba berseru ke teman-temannya yang lain. Mereka tengah mengistirahatkan diri di salah satu gazebo dekat kantin FT sambil menikmati makan siang.


Teman-temannya buru-buru mengecek ponsel mereka dan membuka situs web kampus dan akun sosial media resmi milik kampus.


"Wih beneran!" seru maba berambut pendek yang duduk di sebelahnya.


"Wow, tahun ini parah banget kandidatnya. Visual mereka banyak yang nggak main-main."


"Gila sih," timpal maba berhijab yang duduk di maba berambut pendek tadi. Jempolnya sibuk menggulirkan layar sentuh di ponsel pintarnya.


"Kai diurutan nomor enam fotonya. Parah sih dia... ganteng banget!"


"Senyumnya bikin meleleh 'kan?" sahut maba yang pertama. Semua temannya mengangguk.


"Freya ada dinomor dua puluh nih," maba berambut pendek tadi berujar, "Nggak tahu kenapa, tapi aku lebih suka dia berambut pendek gini. Ya meskipun pas dia berambut panjang sebelumnya tetap cantik, tapi kali ini lebih terlihat auranya. Manis, cantik, tapi juga kelihatan tangguh."


"Iya, aku setuju," timpal yang berhijab, "Keputusannya buat potong rambut sangat tepat."


"Yang dari FBS juga ganteng nih. Rambut gondrong ala-ala aktor film laga," maba pertama berkomentar.


"Duta FKH yang cewek juga kelihatan manis dan anggun kayak putri keraton," timpal yang maba satunya yang sejak tadi diam, "Duta Fakultas Pertanian yang cowok malah kelihatan mirip Adipati Dolken nggak sih? Sekilas..."


Keempat maba itu saling berkomentar mengenai masing-masing foto duta fakultas yang sudah dirilis panitia. Tidak hanya mereka, banyak mahasiswa yang masih ada di area kampus sibuk dengan ponsel mereka untuk melihat para kandidat yang sudah dirilis secara resmi. Ada yang saling berkomentar dengan teman di sebelahnya, ada juga yang hanya sibuk dengan ponselnya sendiri.


Tidak jauh beda dengan gerombolan maba yang tengah duduk di gazebo taman dekat gedung arsitek. Mereka tengah membahas perilisan para calon duta universitas sambil menikmati makan siang mereka.


"Baru dua puluh menit, dan videomu sudah ditonton lebih dari tiga ratus kali?" Neo berdecak kagum sambil memandang ponselnya. Lalu pandangannya beralih ke arah Kai yang duduk di depannya.


"Perlu kalian tahu, Kai itu udah terkenal ke fakultas lain," kata Ojan. Cowok itu menaikkan kacamatanya yang sedikit melorot.


"Kok bisa?" tanya Neo dengan heran. Kai dan yang lainnya juga menatap Ojan ingin tahu.


"Ada video pas Kai lagi menghadapi Kak Aylin pas TM viral di twitter. Entah siapa yang merekam, bisa maba bisa panitia. Cuman sepuluh detik apa ya, kurang jelas juga suaranya. Tapi di video itu kelihatan cukup jelas kok kalau itu Kai dan Kak Aylin. Dibawah video, ada thread dari sender-nya yang intinya kalo ada maba yang berani ngadepin ketua TPK FT yang terkenal garang sampai di mana maba itu "melamar" si ketua TPK."


Ojan memberi tanda kutip di kata 'melamar' dengan jarinya.


"OH! Yang itu?" Teo berseru tiba-tiba.


"Aku sempat lihat sekilas. Tapi keburu dihapus," lanjutnya.


"Iya, soalnya cuman bertahan bentar doang lalu hilang. Tapi aku sempat lihat dan baca semua thread-nya. Dan udah ada cukup banyak yang retweet juga," kata Ojan, "Walau kurang jelas, tapi videonya udah dilihat ratusan kali."


Yah.. Ojan adalah anak twitter. Dia main sosial media itu sudah cukup lama. Bahkan pengikutnya sudah ada ribuan.


"Terus gimana? Ada hal-hal yang perlu dikhawatirkan tidak Jan?" tanya Kai dengan nada yang benar-benar khawatir. Dirinya sudah cukup lama tidak main twitter. Terakhir kali bahkan pas SMA kelas satu semester awal. Selepas itu, dia menonaktifkan akunnya.


"Sejauh ini, tidak ada Kai. Lagian itu cuman viral sekilas di twitter doang. Pas kucoba cek di medsos lain nggak ada yang membahasnya," jawab Ojan menenangkan.


"Iya, Kai. Cuman di twitter doang kok," kata Teo menambahkan. Selain Ojan, Teo adalah pengguna twitter juga. Namun, dibanding dengan Ojan, pengikutnya hanya puluhan orang saja. Itupun berisi teman-temannya.


Selain Kai, Neo dan Ridwan juga tidak menggunakan twitter. Sebenarnya, Ridwan punya, tetapi jarang memainkannya dan tidak aktif. Dulu Ridwan membuat akun twitter hanya untuk mencari info seputar pertandingan basket atau kejuaraan lombanya pas SMA. Dia saja baru tahu ada video Kai dan Aylin yang tersebar di twitter dari Ojan barusan.


Kai yang mendengar jawaban Ojan dan Teo, menghela napas lega. Setidaknya dia sedikit lebih tenang. Bukan masalah pamor karena dia adalah kandidat duta kampus, tetapi ini menyangkut ketenangan privasi. Kai paling tidak suka kalau ada hal yang sekiranya mengusik privasinya. Apalagi dalam video itu bukan hanya dirinya, tetapi ada Aylin yang kemungkinan tidak mengetahuinya.


Entah Kai sadar atau tidak, dia sudah banyak dikenal baik dari kalangan sesama maba maupun senior karena aksinya. Sepertinya, selama tidak mengusik privasinya dan orang terdekatnya atau orang yang tidak bersalah malah terbawa-bawa, Kai benar-benar tidak akan peduli.


"Besok itu, kalau mau nonton, gratis 'kan Kai? Tidak ada tiket masuk atau apa gitu 'kan?" tanya Neo.


Kai mengangguk dan bilang, "Iya. Paling nanti disuruh ngisi daftar kehadiran buat administrasi aja."


"Ngomong-ngomong, besok kalau kalian mau datang, aku sarankan datang awal, karena aku yakin pasti bakal cepat penuh. Kata temenku yang dari FBS, Lab Karawitan nggak seluas Gedung Pertunjukan. Jadi kalau mau dapat tempat duduk, datanglah lebih awal," lanjutnya.


"Kenapa tidak pakai Gedung Pertunjukan kalau gitu?" tanya Ridwan yang sejak tadi diam.


"Katanya sih, baru selesai di renovasi besar-besaran, jadi belum bisa digunakan. Mungkin pas Senin-nya baru bisa katanya," jawab Kai sambil mengangkat kedua bahunya, "Aku belum pernah ke Lab Karawitan. Nanti malam baru kami ke sana buat gladi bersih."


Rian sempat cerita kalau maba FBS melakukan TM di depan gedung LMT alias Laboratorium Musik dan Tari dan lahan parkir mobil di depan Gedung Dekanat selama Gedung Pertunjukan FBS belum bisa dipakai. Jadi maba FBS tahun ini belum pernah masuk dan melihat ke dalam Gedung Pertunjukan. Tidak seperti maba tahun-tahun kemarin. Katanya sih Gedung Pertunjukan yang sekarang lebih modern dengan fasilitas yang lebih lengkap. Gedung tersebut merupakan salah satu bangunan lama di FBS jadi tentu perlu renovasi.


Itulah sebabnya kenapa acara pemilihan duta kampus tidak di Gedung Pertunjukan seperti enam tahun terakhir ini—sebelumnya pernah di auditorium dan GOR. Dan Lab Karawitan menjadi alternatif yang paling mendekati karena memiliki fasilitas yang sama. Hanya tidak menampung orang sebanyak Gedung Pertunjukan.


Keempatnya mengangguk-angguk mengerti. Mereka juga memberi semangat kepada Kai yang sudah berjuang sejauh ini.


"Oi, Wan!" seru Ojan di tempatnya. Padahal hanya berseberangan dan terhalang oleh meja bundar.


"Aku masih penasaran, kenapa kau tiba-tiba memutuskan buat berangkat hari ini?"


"Hei, Jan, harusnya kau senang karena sahabat kita itu berangkat," kata Neo. Aslinya Neo juga masih penasaran. Namun, dia gengsi mau bertanya.


"Senang kok! Cuman penasaran aja. Kukira kau bakalan tidak akan berangkat sampai selesai," sahut Ojan.


"Rahasia," kata Ridwan padat dan jelas. Dia sedang tidak mau bercerita apa-apa. Hari ini saja, dia masih mencerna apa yang terjadi selama Aqisol tadi. Meski dia mulai sedikit respect ke senior dan agenda yang diadakan. Namun, tetap saja.


Dia butuh waktu memprosesnya, oke?


"Udahlah..." Teo melerai mereka, "Nanti Ridwan juga akan cerita kalau dia mau."


"Oh iya, Wan, dua hari kau tidak berangkat kemarin, ada kejadian menarik lagi lho...."


"Ah, benar!" Neo berseru dengan semangat, "Pas hari kedua Aqisol 'kan?"


Kayvan mulai paham arah pembicaraannya. Dia menggeleng ke arah Neo untuk menghentikan, tetapi tidak digubris sama sekali. Justru Neo hanya mengerling sekilas ke arah Kai, sebelum melanjutkan dengan sok mendramatisir.


"Kau harus tahu, Wan. Bisa-bisanya, Kai, sahabat kita ini, nembak ketua TPK di depan umum. Lagi!"


"Ah, yang itu?" timpal Ojan, dia terbahak kencang.


Kai mengerang sambil menyembunyikan kepalanya dengan kedua tangannya. Dirinya menggelengkan kepala. Dia tidak mau mendengar ini lagi. Cuping telinganya memerah.


"Hahaha! Bisa-bisanya kau Kai. Kukira waktu itu beneran serius, eh tahu-tahunya Kai malah ngeluarin jurusnya buat menaklukkan ketua TPK."


Ridwan menatap Kai dengan pandangan menilai. Dia lalu berujar, "Aku jadi ragu, kau ini berniat mengganggunya karena kesal atau kau memang suka dengan cewek itu, Kai?"


Kai menurunkan tangannya. Dia menghela napas.


"Neo, kau ingat pas kau menitipkan bukumu padaku buat tanda tangan?" tanya Kai pada Neo. Neo mengangguk perlahan. Dia merasa tidak enak jadinya kalau mengingat hari itu. Namun, Kai waktu itu juga menawarkan diri untuk membantunya.


"Sepertinya aku ketahuan para TPK ngebantu Neo dan maba lain minta tanda tangan. Kak Aylin kebetulan ada di sana bersama TPK yang lain. Dan yah... Kak Aylin nawarin tanda tangannya dengan syarat nembak sepuluh orang yang ada di kantin."


"Terus...?" tanya Teo penasaran, "Kau dapat tanda tangan Kak Aylin?"


Yang lain juga memperhatikan Kai, menunggu lanjutannya.


Kai menggeleng, "Tidak. Aku malah jadi tontonan waktu itu. Kesal? Jelas. Tapi setelah tahu alasannya, aku jadi mengerti. Dan soal kejadian hari kedua itu, Kak Aylin bilang untuk nembak sepuluh orang 'kan? Tapi pas di kantin sebenarnya baru sembilan, jadi yang ke sepuluh adalah Kak Aylin, hehe..."


Keempat temannya menatap Kai tidak percaya. Bahkan Ojan sempat-sempatnya berkomentar kalau Kai di-prank Aylin buat nembak orang biar dapat tanda tangannya.


"Jadi, sebenarnya kau suka dia atau tidak?" tanya Ridwan langsung tanpa basa-basi.


Namun, Kai hanya tersenyum misterius dengan sorot mata jenaka. Tidak membenarkan, tetapi tidak menyangkalnya juga. Entah apa maksudnya. Gelagat Kai itu seperti orang iseng yang suka menjahili orang lain. Jadi, teman-temannya hanya bisa menduga-duga.


.


.


.


Pukul empat sore, Kai dan Freya kembali berlatih untuk penampilan mereka dua hari lagi. Setelah pulang ke asrama untuk istirahat sejenak dan bersih-bersih, mereka kembali ke kampus. Kali ini mereka berdua memilih untuk berlatih di dekat Gedung Otomotif di sisi paling selatan FT. Di mana pintu masuk FT bagian selatan berada. Sengaja di situ karena dekat dengan taman kuliner atau tamkul yang selalu buka dari sore sampai malam hari. Jadi, mereka bisa sambil mengisi perut selama latihan.


Kai bahkan baru menyadari kalau ada taman kuliner di dekat wilayah FT bagian selatan kalau Freya tidak memberitahunya. Meskipun tamkul pas liburan semester tidak seramai pas hari biasa, tetapi ada beberapa warung yang tetap buka dengan harga yang tentu saja sesuai kantung mahasiswa.


Hari ini Kai dan Freya tidak ditemani kedua mentor mereka. Frans masih sibuk di kepanitiaan dan Vera ada urusan dengan UKM yang diikutinya mengingat dia juga salah satu pengurus. Namun, Frans dan Vera berjanji akan mengusahakan untuk datang pas gladi bersih nanti.


"Jadi kita pakai lagu ini sebagai pembukaan 'kan?" tanya Freya memastikan.


Kai mengangguk dan menjawab, "Iya. Semacam buat pemanasan sama intro dulu sebelum masuk ke lagu utama kita nanti. Nada dan liriknya ear-catching sama fun. Jadi, nanti penonton lebih fokus ke kita juga."


Freya mengangguk-angguk paham. "Oh... semacam attention-getter gitu ya?"


"Kayvan! Freya!"


Seseorang memanggil mereka. Keduanya menoleh dan mendapati ketua Tim Acara berlari kecil ke arah mereka dari arah utara. Senior itu terlihat membawa sesuatu di tangannya.


"Aku tadi nyari kalian, dan kata Frans ternyata kalian di sini," kata Seno sambil terengah-engah.


"Duduk dulu, Kak," ujar Freya. Tanpa babibu, Seno mendudukkan dirinya di sebelah Kai yang sudah menggeser tempat duduknya agar seniornya itu bisa duduk.


"Makasih ya," kata Seno.


"Sama-sama, Kak," balas Freya, "Ada apa ya Kak kalau boleh tahu?"


"Cuman mengingatkan aja, nanti malam gladi bersih di Labkar. Sama itu, besok jumat kalian tidak perlu latihan lagi buat pensi karena sudah gladi bersih. Buat istirahat sama persiapan kalian aja. Urutan penampilannya buat unjuk bakat nanti diundi, tapi per fakultas nggak boleh lebih dari tujuh menit buat semua jenis penampilan," jelas Seno kemudian.


Kai dan Freya mengangguk mengerti.


"Nanti aku juga ikut ke sana. Jadi, kalau kalian belum tahu tempatnya, boleh bareng aku. Soalnya, Vera sama Frans nanti nyusul," lanjutnya. Kemudian, dia mengeluarkan satu paper bag ukuran sedang dan menyerahkannya ke Kai dan Freya.


"Ada titipan dari salah satu senior. Itu isinya amunisi buat kalian."


Freya membuka paper bag yang diberikan dan mengeluarkan isinya. Ada dua paket makanan dan minuman dengan masing-masing nama mereka di sticky note yang tertempel.


"Dari siapa Kak kalau boleh tahu?" tanya Kai penasaran, "Sebelumnya terima kasih banyak buat amunisinya."


"Wah... makasih, Kak!" sambung Freya.


"Nanti akan kusampaikan ke orangnya. Katanya sih jangan beritahu dari siapa."


"Makasih sekali lagi," kata Freya lagi.


Kemudian, Seno pamit undur diri. Katanya dia mau ke Limuha untuk mengerjakan sesuatu. Tak lupa dia juga berpesan untuk mengabarinya kalau keduanya ingin ikut ke FBS bersama sekalian.


"Dari siapa ya Kai kira-kira?" tanya Freya penasaran. Paket amunisi itu terdiri dari susu kotak, roti dan wafer, serta vitamin.


"Entahlah..." jawab Kai. Dia memperhatikan sticky note yang tertuliskan namanya 'Kayvan' tanpa ada pengirimnya. Begitupun milik Freya.


Tidak ada kata-kata penyemangat atau apapun itu selain nama mereka.


Ketika Kai membalikkan kertasnya, di melihat ada tulisan kecil tetapi masih bisa dibaca di sana. Andaikata dia tidak melihatnya dengan jeli, mungkin akan terabaikan.


Di sana tertulis, jangan sok kuat. Ketika Kai mengeceka punya Freya, tidak ada tulisan apapun selain nama Freya. Hanya milik Kai saja yang ada tulisan seperti itu di belakangnya.


Ah... sepertinya Kai tahu siapa pengirimnya. Cowok itu punya dugaan kuat siapa yang mengirimi mereka amuni ini.


"Ada apa? Kau tahu siapa pengirimnya?" tanya Freya.


Kai terdiam sejenak sebelum menjawab, "Aku tidak begitu yakin..."


Dalam hati, dia tersenyum. Ada perasaan hangat yang menyenangkan perlahan muncul.


.


.


.


Hari Kamis berlalu begitu cepat. Di hari Jumat ini sebagian besar maba FT memilih untuk bersantai-santai sejenak selepas agenda Aqisol yang melelahkan tetapi juga berkesan. Entah hanya bersantai di asrama atau kos-kosan, main bersama teman di luar kampus, atau bahkan main-main ke kampus FT untuk nongkrong.


Namun, ada juga yang memilih untuk melanjutkan sesi berburu tanda tangan.


Kai dan kawan-kawannya termasuk dalam sebagian maba yang memutuskan untuk melanjutkan berburu tanda tangan. Kali ini mereka melakukannya dengan lebih santai, tidak seperti di awal-awal. Nongkrong di kampus sekalian berburu tanda tangan.


Pukul sembilan lebih sedikit, mereka sudah sampai di area kampus FT melalui gerbang utama. Mereka lalu memutuskan untuk mencari tempat tongkrongan yang pas sekalian menggunakan fasilitas Wi-Fi kampus. Bahkan Ojan dan Neo membawa laptop mereka untuk main game daring.


"Mau di mana?" tanya Ridwan. Sebuah earphone terpasang di kedua telinganya. Dia memastikan volume musik yang dia dengar rendah sehingga dia bisa mendengar jawaban dari yang lain.


"Dekat gedung Arsitek gimana?" usul Teo, "Atau kalau tidak yang dekat kantin."


"Kita cek dulu aja. Sekalian kalau ketemu senior minta tanda tangan," sahut Ojan.


Kai mengedarkan pandangannya melihat-lihat. Mereka berlima kini berada di halaman depan Gedung Dekanat di dekat lapangan hijau. Sepasang mata jelaga milik Kai menangkap sosok senior cewek yang rambutnya dikucir. Terlihat senior itu tengah berjalan sendirian dari arah parkiran.


Kai tersenyum miring. Sebuah ide terlintas di benaknya.


"Guys, aku ke sana bentar ya ada urusan. Nanti aku nyusul," setelah berkata demikian, Kai melesat pergi meninggalkan Teo dan yang lainnya yang kebingungan.


"Woy, Kai! Kau mau kemana?" seru Ridwan. Namun, tidak digubris oleh Kai yang sudah berlari kecil menjauh.


Kai menghampiri senior yang tadi dia lihat dan sepertinya senior itu tidak menyadari keberadaannya. Cewek itu tengah memainkan ponselnya di tangan kanannya. Sementara tangan kirinya menenteng minuman choco-banana dingin.


"Kak Aylin," panggil Kai dengan senyuman khasnya. Cowok itu memandang sekilas minuman yang dibawa oleh seniornya. Sorot matanya tidak tertebak. Bukan sesuatu yang buruk kok, tenang.


Cewek yang merupakan sosok Aylin itu menoleh dan melihat siapa yang memanggilnya. Dia terkejut melihat sosok yang membuatnya kesal selama TM dan Aqisol kemarin. Buru-buru dia memasang wajah juteknya.


"Ada apa?"


"Hehehe... cuman mau nyapa Kakak doang sih," jawab Kai dengan santai. Cowok itu bahkan beraninya tersenyum palsu.


Aylin mendecih, "Tsk! Kalau nggak penting, mendingan kau pergi saja. Aku sibuk."


"Eits, tunggu dulu Kak," kata Kai buru-buru.


"Apa?"


"Kakak tahu 'kan kalau besok malam adalah pemilihan duta kampus?"


Aylin memutar kedua bola matanya mendengar pertanyaan juniornya.


"Iya, terus?"


Benar-benar si bocah bernama Kayvan ini, suka sekali mengusik dirinya. Bahkan di hari yang harusnya dia bisa sedikit bersantai, cowok itu malah datang merecoki dirinya.


"Bisakah kakak datang ke acaranya besok malam?" tanya Kai dengan sungguh-sungguh, "Saya mohon, kakak datanglah ke acara pemilihan duta kampus. Kedatangan kakak akan sangat berarti."


"Untuk apa? Melihatmu tampil? Apa kau yakin bisa menang kalau aku datang?" tanya Aylin dengan nada menantang.


Dengan yakin, Kai mengangguk.


"Iya, saya akan memenangkannya!"


"Jangan hanya bermulut besar. Aku butuh bukti bukan kata-kata kosong!"


"Saya akan membuktikannya kepada kakak, kalau saya bisa menang," ujar Kayvan dengan bersungguh-sungguh.


Aylin terdiam sebentar. Melihat apakah juniornya itu bersungguh-sungguh atau hanya membual saja. Namun, sorot mata Kayvan yang terlihat sangat yakin begitu jelas terpancar.


Dengan enggan, Aylin mengangguk, "Baiklah, aku akan datang. Buktikan kalau kau bisa jadi juara, bukan sekedar juara kategori. Tapi, kalau sampai kau kalah, ada hukuman menanti untukmu yang tidak bisa membuktikan omonganmu sendiri."


"Dan jangan pernah menggangguku lagi."


Tanpa pikir panjang, Kayvan mengangguk yakin. Dia tidak akan kalah. Kai akan buktikan itu.


Semoga.


"Satu lagi, Kak," kata Kayvan buru-buru menambahkan. Aylin nampaknya sudah tidak sabar. Dia ada urusan hari ini dan meladeni bocah satu ini bukan salah satunya.


"Apa lagi?" Aylin sudah jengah.


"Kalau saya menang, bisakah kakak mengabulkan satu permintaan saya?" tanyanya penuh harap. Entah apa yang direncanakannya


Aylin mendecih kesal, "Tsk! Tsk! Maruk banget. Iya, iya! Udah ya? Aku beneran ada urusan soalnya."


Kai tersenyum lebar mendengar jawaban seniornya itu. Bahkan kedua matanya sampai menyipit melengkung ke atas. Dia mengangguk dan mempersilakan Aylin untuk berlalu pergi.


Kai sangat senang pagi ini. Entah apa yang dia rencanakan, tetapi dia merasa puas. Ah iya, satu lagi! Dia lupa menanyakan apakah Kak Aylin yang memberikan amunisi kemarin atau bukan.


Sudahlah tidak apa, dia bisa menanyakannya lain kali.


Sekarang, dia harus mencari keberadaan kawan-kawannya. Untungnya, Teo mengabari lewat grup whatsapp mereka kalau dia dan yang lain menunggu Kai di dekat gedung Arsitek.


Teo dan yang lainnya melihat Kai berlari kecil menghampiri mereka dengan senyum bodohnya.


"Kau tadi ngapain? Aku sempat melihatmu berbicara dengan Kak Aylin tadi," tanya Neo penasaran.


Namun, Kai hanya tersenyum misterius dengan sorot mata jenakanya. Tidak mau menjawab.


"Kalau sudah gini, kayaknya Kai merencanakan sesuatu deh," Ojan berkomentar.


Dan sepertinya, perkataanmu benar, Jan!


Namun, entah apa yang direncanakan duta FT kita ini.


.


.


.


.