![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
fool (n): a person who acts unwisely or imprudently; a silly person
.
.
.
[baru minor editing, warning! part panjang ]
.
.
.
..."Why does it feel like it gets worse before it gets better?...
...Storms are always spinnin' around us like birds, it's only weather..."...
.
.
[flashback]
Siang hari yang terik dan peluh menetes deras mau tak mau harus ditahan terlebih dahulu. Gara-gara ada kesalahan di nametag-nya, Nana harus menjalani hukuman yang diberikan oleh seniornya.
Hukumannya adalah membersihkan halaman sekolah di tengah hari ketika semua teman seangkatannya mengikuti sesi materi MOS di kelas.
Untungnya Nana tidak sendirian. Ada satu siswa baru yang juga mendapat hukuman serupa. Bedanya, siswa itu kesalahannya adalah telat saat hari pertama MOS hari ini.
Hari pertama saja sudah dihukum. Memang lagi apes saja sepertinya Nana hari ini.
"Capek ya?" tanya siswa baru itu kepada Nana yang tengah berhenti sejenak dan mengelap peluh di dahinya.
"Hehehe, iya," jawab Nana sambil tersenyum sopan. "Panas juga. Mana tadi belum sempat sarapan lagi."
Cowok itu tersenyum tipis. Dia lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebungkus roti pia seribuan. Lalu memberikannya ke Nana.
"Nih! Mending kau makan aja ini dulu. Takutnya malah kenapa-napa nanti," kata siswa baru yang belum diketahui namanya itu.
"Eh? Apa nggak papa? Nanti kalau ketahuan kakak kelas gimana?" tanya Nana khawatir.
Cowok itu melihat sekitar sejenak, memastikan apakah ada senior atau tidak, sebelum kembali fokus ke Nana.
"Lagi aman kok," katanya. Lalu kembali menyodorkan roti miliknya. "Nih, buat kau aja."
"Yakin nih?"
Cowok itu mengangguk. "Iya. Tadi aku bawa dua, udah tak makan satu pas berangkat ke sini. Tadi pagi juga buru-buru jadi ngambil seadanya di rumah buat ganjal perut."
Nana menerima roti itu dan tersenyum memperlihatkan dua lesung pipinya.
"Makasih ya!"
"Santai aja."
Kemudian, Nana memakannya dengan lahap. Dia benar-benar kelaparan. Walau tak seberapa, yang penting bisa sedikit mengganjal perut sampai nanti ishoma tidak lama lagi.
"Ngomong-ngomong, kita belum kenalan," cowok itu berujar kemudian.
"Namaku Pandu dari kelompk delapan. Tapi kalau kelasnya, aku kelas X B."
"Eh? Kita sekelas dong ternyata!" sahut Nana cukup terkejut. Dia senang akhirnya punya kenalan baru yang sekelas. Selama MOS semua siswa baru memang diacak ke dalam kelompok yang terdiri dua puluh siswa. Dalam kelompok itu diketuai siswa yang ditunjuk sebagai "pak lurah" dan "bu lurah". Lalu ada sekretaris dan bendaharanya juga.
"Oh iya, aku Nana dari kelompok dua belas!"
.
.
.
"Ndu, kau mau ikut ekskul apa?" tanya Nana pada suatu hari.
Pandu dan Nana menjadi dekat sejak perkenalan ketika mereka mengerjakan hukuman bersama waktu itu. Bahkan di kelas, mereka duduk semeja. Kebetulan juga jumlah antara murid cowok dan cewek itu ganjil. Jadi, masing-masing ada yang duduk sendiri tidak ada teman semeja. Dan karena ini, mereka memutuskan buat jadi teman semeja selama setahun ke depan.
"Futsal kayaknya. Soalnya yang menarik buatku cuman itu," jawab Pandu.
Mereka tengah makan di kantin bersama beberapa teman yang lain.
"Kalau kau Na?"
"Basket dong pastinya," jawab Nana. "SMP ikut basket juga soalnya. Jadi sekalian aja sih."
"Ndu!" seseorang memanggil Pandu. Nana dan Pandu menoleh dan mendapati Banu, teman sekelas mereka, yang memanggil.
"Nanti jangan lupa latihan tonti yak! Mas Denis barusan ngasih info kalau latihan hari ini dimajukan jamnya, jadi jam setengah dua nanti kita izin keluar kelas lebih dulu buat latihan. Aku tak ngasih tahu ke yang lainnya," Banu memberi tahu.
"Yo'i Nu. Makasih infonya," balas Pandu.
Pandu memang masuk ke dalam pasukan tonti sekolah yang tiap beberapa hari sepekan harus latihan. Cowok itu ditunjuk dan terpilih ketika LBB pas MOS kala itu.
"Semangat ya!" Nana memberi semangat kepada Pandu.
"Makasih Na," cowok itu tersenyum menanggapi.
"Ngomong-ngomong, kok kau nggak ikutan tonti? Setahuku dulu pernah ditawari buat ikut tonti juga. Tinggimu mendukung banget lho," tanya Pandu penasaran.
"Males. Dulu pas SMP udah pernah ikut juga sih. Pas SMA ini pengen nggak mau ribet ngurus tonti. Lagipula biar nggak gosong juga hahaha...!"
Pandu hanya terkekeh menanggapi. Kulit cowok itu kini sudah gosong kecoklatan karena terbakar matahari. Namun, tidak mengurangi citranya sebagai salah satu cowok ganteng sekolah.
Sudah ganteng, tinggi, anak tonti pula. Pandu juga mendaftar sebagai pengurus OSIS. Benar-benar idola sekolah.
"Ikut OSIS aja kalau gitu," kata Pandu. "Pendaftaran baru ditutup besok kok."
Nana menggeleng. "Nggak begitu tertarik, Ndu. Tapi sempat kepikiran buat daftar Dewan Ambalan tahun depan."
"Eh, Ndu," panggil Nana kemudian.
"Hmm?"
"Taruhan yok! Siapa nanti yang bisa jadi ketua atau kapten di masing-masing tim. Kau di futsal dan aku di basket," kata Nana.
Pandu terlihat berpikir. "Yakin?"
Nana tersenyum meremehkan. "Nggak berani?"
Dengan senyum percaya diri, Pandu menerima tantangan Nana.
"Oke. Siapa takut!"
.
.
.
"Wah... duo tower kita pisah kelas gaes!" komentar Banu ketika kelas mereka melihat pengumuman yang di tempelkan di mading sekolah. Pengumuman itu tentang kelas penjurusan yang akan dimulai kelas sebelas nanti. Setelah mengikuti berbagai tes, semua siswa kelas sepuluh di akhir semester kedua akan mendapatkan jurusan kelas masing-masing.
Antara IPA, IPS, atau Bahasa.
"Eh beneran? Mana-mana!" sahut Rani, salah satu anak X B juga.
"Iya weh," kata Joko, ketua kelas X B, sambil melihat pengumuman.
"Padahal kemana-mana belum pernah pisah kayak anak kembar," komentar Rani.
"Nana di IPS 1, sementara Pandu di IPA 3," kata Joko memberitahu.
"Gimana nih Ndu, Na? Kalian nggak akan sekelas lagi mulai semester baru," tanya Banu. Kelas X B memang sudah hafal kalau Nana dan Pandu itu terbilang cukup lengket. Walau kadang sering saingan. Namun, membayangkan kalau mereka berdua nanti bakal pisah kelas jelas membuat X B heran.
"Ya nggak gimana-mana?" kata Nana heran dengan reaksi teman sekelasnya.
"Aku emang milih jurusan IPS kok," tambahnya. "Lagian aku udah nggak mau lagi ketemu fisika atau kimia buat dua tahun kedepan. Apalagi harus ujian itu. Kalau di IPA nanti cuman dapat matematika masih boleh lah dipertimbangkan."
"Lagian kan masih satu sekolah juga. Reaksi kalian seolah-olah kalau kita bakalan pisah sekolah," timpal Pandu sambil menggelengkan kepalanya.
"Ya bukan gimana-gimana ya, Ndu, Na. Tapi kalian itu kan kemana-mana sering bareng. Ya aneh aja gitu. Kirain bakal satu kelas pas penjurusan," kata Joko dan diamini oleh teman-teman yang lain.
"Wah bisa stres aku kalau di IPA," kata Nana. "Nggak ah! IPS for life pokoknya."
"Lagian si Pandu kan emang pinter di Kimia sama Fisika," tambah Nana.
.
.
.
"Wih congrats Na. Udah jadi kakak DA," kata Pandu memberi selamat ke Nana yang lolos jadi pengurus Dewan Ambalan.
"Makasih Ndu," balas Nana sambil nyengir. "Traktir dong Ndu. Masa cuman ngucapin selamat doang."
Pandu mendengus. "Harusnya kau yang nraktir Na. Kan yang kepilih."
"Tapi kau kan kepilih jadi kakak OSIS terpopuler, Ndu. Mana kau juga jadi DPT. Harusnya yang punya banyak titel yang nraktir," Nana memberi alasan. DPT itu Dewan Pelatih Tonti. Karena Pandu tahun lalu jadi tonti, tahun ini cowok itu menjadi DPT yang melatih tonti sekarang.
Pandu menggelengkan kepalanya pelan. Dia tersenyum kecil mendengar alasan Nana yang terbilang tidak masuk akal.
"Iya deh. Apasih yang nggak buat my-FRD," kata Pandu akhirnya.
"Hahaha! Nah gitu dong! Nanti habis sekolah ya FRD. Lagi bm makan jajanan di sepanjang jalan Malioboro."
"Iya, iya."
FRD alias Friend katanya. Namun teman-teman mereka lebih mengartikan FRD dengan for real dearest. Mereka terlalu lengket untuk jadi teman biasa, terlalu manis untuk sekedar sahabat, serta terlalu aneh kalau disebut rival.
"Yes! Habis aku ekskul musik ya Ndu. Hari ini aku ekskul itu soalnya," kata Nana. Selain mengikuti ekskul basket, Nana juga ikut ekskul musik karena punya bakat di sana. Cewek itu juga suka dengan musik.
"Iya, Na," Pandu mengiyakan saja. "Kebetulan ada rapat bentar sama DPT. Nanti kalau aku udah selesai duluan, aku nonton kalian latihan ya?"
Nana mengangguk. "Boleh. Pak Yuan juga izin hari ini, tapi bakal didampingi sama senior. Mas Satria pasti juga nggak masalah kalau ada yang nonton latihan."
"Sip! Makasih Na."
.
.
.
"Na, tebak siapa yang jadi kapten futsal sekarang?" tanya Pandu pada suatu hari.
"Kau?" tanya Nana agak ragu.
"Tepat sekali!" sahut Pandu sambil tersenyum angkuh.
"Eit! Tunggu dulu!" seloroh Nana. "Hati-hati ya kalau Anda sedang bicara."
"Anda lagi bicara sama ketua tim basket putri nih!" kata Nana tak kalah sombong.
"Heleh..." cemooh Pandu. "Oke, karena seri. Kita buktikan tim siapa nanti yang bakal bawa pulang piala turnamen tahun ini!"
"Oke. Siapa takut!"
.
.
.
"Ndu! Pandu!" seseorang meneriakkan namanya.
Pandu yang baru saja keluar dari ruang OSIS terkejut mendapati Endah, salah satu anak basket yang dikenalnya, terlihat ngos-ngosan.
Hari ini Pandu tidak ada latihan futsal. Jadi selama menunggu Nana berlatih basket bersama timnya, dia memilih untuk ke ruang OSIS sekalian mengerjakan tugas. Mereka berdua selalu menyempatkan pulang bersama kalau salah satu di antara kedua tidak benar-benar sibuk.
"Kenapa Ndah?"
"Bentar," Endah mengangkat sebelah tangannya untuk memberinya waktu menenangkan napasnya yang tersengal karena berlari panik dari lapangan basket ke ruang OSIS.
"Itu, si Nana," cewek itu memulai.
Pandu mulai was-was ketika nama Nana disebut.
"Nana kenapa Ndah?"
"Nana cidera Ndu. Kakinya sakit pas kami latihan basket tadi. Anaknya nggak bisa berdiri."
Pandu membulatkan matanya terkejut mendengar berita yang dibawa Endah.
"Sekarang Nana di mana, Ndah?"
Pandu lalu mengikuti Endah menuju lapangan basket dengan perasaan berkecambuk. Tidak hanya sekali ini Nana terluka saat main basket.
Di tepi langan, terlihat Nana yang duduk meluruskan kakinya. Ada Mas Sony juga di sana, pelatih tim basket sekolah, tengah memberikan pertolongan pertama ke Nana. Teman-teman basket Nana yang lain terlihat menatap Nana yang menahan kesakitan dengan khawatir.
"Gimana Mas?" tanya Pandu kepada Mas Sony. Sorot matanya terlihat sangat khawatir.
"Udah aku kasih pertolongan pertama," jawab Mas Sony. "Tapi perlu cek ke dokter juga buat mastiin seberapa parah. Semoga aja nggak parah."
Pandu mengangguk mengerti.
"Baik Mas."
"Kau ada kendaraan?" tanya Mas Sony.
"Bawa motor Mas," jawab Pandu. "Kebetulan tadi berangkat sekolah bareng juga."
Mas Sony mengangguk mendengarnya. "Tolong antarin ke dokter bisa Ndu? Aku harus handle di sini dulu. Nanti kalau udah selesai aku susul. Jangan lupa kasih tahu lokasinya."
"Bisa Mas," jawab Pandu dengan sigap. Lalu cowok itu membantu Nana berdiri dan memapahnya. Bisa saja dia menggendong koala Nana biar lebih mudah, tetapi cewek itu pasti akan menolak.
"Dan buat Nana," perhatian Mas Sony berlatih ke Nana. "Buat turnamen antarsekolah jangan dipikirin dulu. Yang penting sembuh dulu. Biar aku sama yang lainnya yang handle, oke? Ingat, jangan terlalu dipikirkan."
Nana mengiyakan saja. Cewek itu sudah menebak habis ini pasti Pandu akan memarahinya karena terlalu memforsirkan dirinya. Nana merasa punya tanggung jawab besar sebagai kapten tim. Apalagi sebentar lagi ada turnamen antarsekolah.
Dibantu Endah yang membawakan tas Nana dan menemaninya sebentar di lobi saat Pandu mengambil sepeda motornya, Pandu lalu membawa Nana ke puskesmas atau rumah sakit terdekat sesuai instruksi Mas Sony.
Pada akhirnya, Nana harus opname sehari karena ternyata cewek itu kecapaian dan dehidrasi. Terlalu banyak pikiran soal turnamen dan terlalu memaksakan diri berlatih. Untung saja, cidera kaki Nana tidak parah. Tidak perlu waktu sampai berbulan-bulan buat sembuh. Hanya diingatkan untuk tidak ikut latihan basket dulu.
Walau agak kecewa, Nana pasrah saja. Toh ketika turnamen nanti, Nana masih bisa ikut walau latihannya tidak maksimal.
Pandu bahkan rela menunggui Nana yang diopname. Bahkan sampai menelepon Bimala, kakak sepupu Nana yang saat ini kuliah di kedokteran, untuk tanya soal cidera. Ayah Nana ada jadwal penerbangan jadi belum bisa pulang. Sementara ibunya sibuk mengurusi adik kembar Nana yang tengah rewel-rewelnya. Jadi, kedua orang tua Nana mempercayakan Pandu untuk menjaga putri mereka sambil sesekali bertukar kabar.
Niat awal cowok itu yang ingin memarahi Nana yang terlalu memaksakan diri, diurungkan juga ketika melihat raut wajah Nana yang kelelahan.
"Jangan pikirin dulu soal turnamen. Percaya sama timmu, oke?" kata Pandu sambil membelai rambut Nana.
Nana mengangguk sambil menatap Pandu penuh terima kasih.
"Makasih Ndu. Maaf malah merepotkan."
"Nggak repot kok. Santai aja kali."
.
.
.
"Ndu, jangan pernah tinggalin aku ya?"
"Lah apanih? Kok tiba-tiba?"
"Jawab aja udah!" sahut Nana dengan sewot.
Pandu tertawa pelan sebelum menjawab.
"Iya Na. Ngapain juga aku ninggalin cewek ceroboh kayak kau ini. Nanti kalau nggak ada aku, bisa bahaya. Kau kan ceroboh banget."
"Ish!" dengan kesal Nana menendang kaki Pandu.
"Aduh! Woy sakit tahu!"
"Salah siapa ngatain orang!"
"Iyadeh... maaf ya," Pandu mengalah. "Tapi beneran kok Na. Meski agak heran aja sih kau tanya gitu. But, I'll never leave you."
Nana tersenyum kecil mendengarnya.
...***...
Nana menatap ke luar jendela kelasnya dengan pandangan bosan. Jam kosong di jam terakhir membuat kelasnya bebas melakukan apa saja. Asalkan tetap dalam kelas dan mengerjakan tugas yang diberikan. Walau tak sedikit juga teman-temannya yang pergi ke kantin atau ke perpustakaan.
Kelas Nana termasuk tipe kelas yang rusuh dan ramai. Walau tidak serusuh kelas IPS 2. Jadi, kalau ada jam kosong tentu saja semua akan bubar dan bebas. Kelasnya akan benar-benar memanfaatkan jam kosong dengan bebas melakukan apa saja. Asalkan tidak cabut pulang atau keluar sekolah dengan alasan tidak jelas.
Pak Satpam sekolah mereka tentu akan mencegat siapa saja yang nekat membolos di jam pelajaran.
Nana, untuk kesekian kalinya, menghela napas. Dia menatap buku catatannya dengan pandangan kosong. Kalau biasanya dia akan ikut bergabung dengan teman-temannya membuat ulah saat jam kosong, entah karokean, ngobrol, atau hal rusuh lainnya. Kali ini Nana memilih duduk di bangkunya di dekat jendela yang mengarah ke lapangan sekolah.
Kelasnya berada di lantai dua.
"Na!" seseorang memanggilnya.
Dengan agak malas, Nana menoleh dan mendapati Endri, yang ternyata memanggilnya.
"Nanti kita latihan musik ya, kayak biasa," kata Endri. Cewek itu juga satu ekskul musik seperti Nana.
Cukup banyak yang minat mengikuti ekskul musik. Di kelasnya saja ada enam orang yang ikut. Jumlah yang terbilang banyak dibanding kelas lain. Kelas IPS 1 memang dikenal banyak yang jago main musik dibanding kelas lain. Terlihat ketika ada unjuk karya akhir semester, kelas Nana memang punya konsep yang menarik dan bervariasi dalam bermusik.
Nana mengangguk pelan. "Oke, Ndri."
"Kau kenapa Na?" tanya Endri dengan khawatir kemudian. Cewek itu memang cukup dekat dengan Nana. Dan akhir-akhir ini Nana lebih sering menghabiskan waktu dengan Endri daripada dengan Pandu.
Hal yang tentu saja membuat semua orang yang mengenal Nana dan Pandu keheranan.
"Nggak papa, Ndri," jawab Nana lalu kembali memusatkan perhatiannya ke buku catatannya yang penuh dengan doodle.
"Kalau ada apa-apa cerita ya Na? Jangan dipendam sendiri," kata Endri. "Beberapa hari ini kau terlihat nggak bersemangat kayak biasanya. Bahkan nggak main sama Pandu. Padahal kalian berdua itu kan lengket banget."
"Lagi ada masalah ya sama Pandu?"
Endri punya pacar yang merupakan anak OSIS. Dan pacarnya itu cukup akrab dengan Pandu di kepengurusan. Pacarnya cerita kalau akhir-akhir ini Pandu juga kelihatan tidak seperti biasanya.
Endri sering kali melihat Pandu yang menunggu Nana sepulang sekolah atau sehabis ekskul. Namun, Nana terlihat menghindari Pandu. Bahkan sekarang lebih sering bersamanya daripada Pandu. Walau Endri tidak ada masalah soal itu, dia dan Nana juga terbilang cukup dekat, tetapi tetap saja aneh.
Nana hanya diam saja. Tidak menjawab pertanyaan Endri. Ingatannya kembali ke waktu itu. Di mana dia merasakan hatinya serasa diremas begitu kuat. Bahkan sampai sekarang masih sangat terasa.
Nana tidak tahu sejak kapan dia punya perasaan lebih ke sahabatnya itu. Namun, Nana yakin kalau perasaan seperti tersetrum listrik dan ribuan kupu-kupu bertebangan di perutnya adalah ketika kelas sebelas awal-awal.
Awalnya, Nana menyangkal dan menganggap perasaannya itu akan cepat berlalu. Namun sama sekali tidak. Justru semakin kuat dan kuat.
Nana sudah terlalu nyaman dengan kebersamaannya dengan Pandu sejauh ini. Namun, dirinya takut kalau suatu saat dia tidak bisa membendung lagi. Lalu pada akhirnya malah merusak hubungannya dengan Pandu.
Membuat Pandu menjauhinya dan pergi meninggalkannya.
Tanpa sadar, setetes air mata jatuh di pipi Nana. Endri yang melihatnya terkejut.
"Eh, Na? Kau kenapa?" tanya Endri khawatir. Cewek itu lalu mendekati Nana dan duduk di sebelahnya. Teman sebangku Nana hari ini tidak berangkat sekolah karena sakit. Biasanya selain dengan Endri, Nana juga dekat dengan teman sebangkunya, Danisa.
Nana menggeleng. Buru-buru mengusap air matanya. Namun, justru semakin banyak yang berjatuhan.
"Kita ke atap aja ya? Kita tenangin dirimu dulu oke? Kalau mau cerita, aku siap mendengarkan," ujar Endri sambil menenangkan Nana.
Atap sekolah menjadi salah satu tempat yang sering dikunjungi siswa yang ingin menenangkan diri atau sekedar ngobrol bersama teman di tempat yang lebih sepi.
Nana mengangguk pelan. Lalu bersama Endri, mereka keluar kelas—setelah Endri bilang ke ketua kelas kalau mereka akan ke atap. Endri merangkul Nana yang menundukkan kepalanya sambil berusaha menenangkannya. Walau tinggi mereka berbeda, tetapi tidak membuatnya terkesan awkward.
Sesampainya di atap, Endri membiarkan Nana menangis dalam diam untuk melegakan dirinya.
Endri setengah memeluk Nana dan membiarkan cewek itu bersandar padanya.
"Kenapa sakit banget ya, Ndri," kata Nana pelan disela isak tangisnya. Sementara Endri diam mendengarkan, berusaha tidak menyela.
"Hiks, hiks! Aku nggak tahu kenapa bisa begini. Aku takut Pandu meninggalkanku, benci padaku, Ndri. Tapi aku juga nggak mau kayak gini terus. Rasanya terlalu banyak, sampai sesak."
Endri dengan setia mengelus punggung Nana untuk menenangkan.
"Tapi pas aku lihat Pandu sama Laras waktu itu, rasanya benar-benar udah nggak terbendung lagi. Mana sakit banget lagi. Kok gini amat ya nasibku?"
Dilihat dari ucapan Nana barusan, Endri menyimpulkan kalau Nana menyukai Pandu. Entah benar atau tidak, dirinya tidak tahu. Namun, dari deskripsi Nana, Endri jelas pernah merasakan hal yang sama.
Endri baru tahu kalau Pandu dengan Laras. Sejauh ini, yang ada malah dia selalu melihat Pandu yang selalu berusaha menghampiri Nana. Memang sih akhir-akhir ini dia sering melihat Pandu dan Laras bersama. Mereka juga pengurus OSIS dan kata pacarnya, Pandu dan Laras jadi PJ buat acara sekolah nanti. Namun, benar atau tidaknya soal hubungan Pandu dan Laras, Endri tidak bisa memastikan.
"Nggak apa-apa nangis, Na," kata Endri yang masih setia menenangkan. "Tumpahin semua aja, biar bisa lega."
"Aku nggak tahu soal Pandu sama Laras. Tapi satu hal dari aku, kalau kau udah siap, coba temui dulu Pandu-nya ya? Dengarkan dulu cerita dia gimana. Katakan juga apa yang lagi kau rasakan. Biar Pandu juga tahu. Kalau terus menghindar, yang ada malah nggak menyelesaikan masalah. Kalau udah saling ngobrol, nah baru deh nanti kau bisa ambil langkah gimana kedepannya. Apapun yang terjadi nanti, ada aku sama Danisa. Jadi kau nggak sendirian, oke?" ujarnya dengan lembut.
Dengan perlahan, Nana menganggukkan kepalanya. Cewek itu masih menangis sambil mengepalkan tangan kirinya kuat di dada. Di mana hatinya berada.
"Makasih, ya Ndri," ucap Nana dengan parau.
"Iya, Na. Kita kan temen baik."
Mereka lalu terdiam. Dengan Nana yang masih terisak dalam diam. Namun, sedikit lebih tenang. Endri tidak menghakimi Nana. Toh semua orang pasti pernah mengalami yang namanya sakit hati. Endri juga pernah mengalaminya.
"Nana?" seseorang memanggil dari arah belakang. Endri menoleh karena orang yang dipanggil memilih tidak menyahuti.
Cewek itu mendapati Pandu yang terlihat sehabis lari jauh. Kelas Pandu memang letaknya cukup jauh dari kelas Nana. Apalagi harus ke atap. Endri tidak tahu bagaimana Pandu bisa ke sini dan apakah saat ini sedang pelajaran atau tidak.
Endri kembali berfokus ke Nana yang menundukkan kepala dalam-dalam.
"Na," ujar Endri dengan lembut. "Udah ada Pandu. Kau mau menemuinya?"
Nana menggeleng tanpa menolehkan kepalanya. Dia bahkan mencengkram tangan Endri dengan kuat agar tidak meninggalkannya sendirian.
"Nana? Kau kenapa? Kenapa nangis?" tanya Pandu dengan penuh kekhawatiran. Cowok itu sudah berjalan mendekat dan kini berdiri di depan Nana yang masih setia menunduk.
"Na..." panggil Pandu dengan lembut. Namun, tidak digubris oleh Nana.
"Kalian selesaikan dulu ya," kata Endri penuh simpati. "Saling ngobrol biar bisa tahu masalahnya."
"Dan Nana, tolong cerita aja ke Pandu dengan jujur ya?" ujarnya ke Nana. "Apapun yang terjadi, aku sama Danisa ada buatmu, oke?"
Nana masih memegangi tangan kiri Endri dengan kuat. Tidak mau Endri pergi. Isak pelan masih terdengar jelas.
Dengan perlahan, Pandu merengkuh tubuh Nana dan memeluknya. Membuat sang empunya terkejut dan melepaskan genggamannya pada tangan Endri.
Cowok itu membiarkan Nana menangis di pelukannya. Tidak ambil pusing kalau seragamnya jadi basah karena air mata. Yang penting adalah perempuan dalam pelukannya ini jadi lebih tenang.
"Ingat apa kataku tadi ya Na?" sekali lagi Endri mengingatkan. "Dan apapun yang terjadi, kami ada buatmu."
Tanpa suara, Pandu berterima kasih ke Endri dan dijawab anggukan dan senyuman kecil olehnya. Lalu, Endri pergi dari tempat itu dan balik ke kelas lagi. Sebentar lagi juga bel pulang sekolah. Dia akan membantu membereskan barang-barang Nana.
Nana yang sudah kembali dari keterkejutannya, berusaha memberontak melepaskan diri. Namun, Pandu tidak membiarkan hal itu terjadi. Justru semakin mengeratkan pelukannya pada Nana.
Hatinya teriris ketika mendengar suara isak tangis orang dalam pelukannya semakin kencang. Pandu menyandarkan kepalannya di atas kepala Nana. Membiarkan cewek itu meluapkan semua emosinya.
Mereka berada bertahan dalam posisi itu selama beberapa saat. Setelah memastikan kalau Nana sudah lebih tenang, Pandu melonggarkan pelukannya. Cowok itu menatap wajah penuh air mata Nana dengan pandangan lembut. Dengan perlahan, dia juga menghapus air mata Nana dengan ibu jarinya.
"Na, kau tahu kan kalau kau itu salah satu prioritasku setelah orang tuaku?" ujar Pandu dengan lembut. Namun, Nana tidak menjawab.
"Rasanya sakit pas kau selalu menghindariku akhir-akhir ini. Mungkin aku ada salah yang nggak sadar aku lakukan padamu. Jadi maafkan aku ya Na? Mau kan kau memaafkanku? Dan sekarang kau nangis pasti gara-gara aku ya? Aku paling nggak suka melihatmu sedih. Aku bakal melakukan apapun yang aku bisa biar kau nggak nangis kayak gini lagi," lanjutnya sambil kembali mendekap Nana dengan erat tetapi tetap dengan lembut.
"It's all for you... Do it all, do it all, do it all again for you. Again for you..." Pandu bersenandung kecil sambil menangkan Nana. Lagu yang familiar karena beberapa minggu terakhir Pandu sering sekali mendengarkannya. Bahkan ketika sedang bersama Nana sebelum mereka sedikit "crash" selama beberapa hari ini.
Terakhir kali mereka bercanda lepas bahkan sebelum Nana bertanding di GOR UHW. Selama pertandingan dan beberapa hari setelahnya, cewek itu selalu menghindarinya.
Cowok itu bahkan sampai menanyakan ke Aylin, kakak sepupu Nana yang lain, perihal Nana. Namun, Aylin bilang dia tidak punya hak buat memberitahunya. Aylin sudah berjanji ke Nana. Saran dari Aylin adalah tetap coba ajak bicara Nana dan saling mendengarkan satu sama lain.
Kerisauan Pandu sedikit teralihkan ketika dia sibuk mengurusi persiapan event besar sekolah. Namun, dia selalu menyempatkan waktu untuk mengecek Nana atau sekedar menanyakan keadaannya pada teman sekelasnya.
Cowok itu tersenyum lega ketika cewek itu akhirnya membalas memeluknya erat.
"It's all for you... Do it all, do it all, do it all again for you. Again for you..."
Dengan penuh perasaan, Pandu mencium puncak kepala Nana. Lalu membisikkan sesuatu di telinga Nana. Hal itu berhasil membuat cewek itu membulatkan matanya terkejut dan jantungnya berdebar begitu kencang.
.
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
ah... young love
cringy banget nggak sih? :'v
mencoba nulis yang agak uwu-uwu, walau ada angts-nya dikit. semoga aja nggak terlalu aneh ya wkwk :'v mana ini yg keluar duluan cerita side story Nana sama Pandu, bukan tokoh utama kita (soon dah, pake kecepatan kura-kura untuk sementara ini)
btw, lagu yg menginspirasi part ini itu WILD - Do It All Again. lagi nagih dengerin lagu itu soalnya. awalnya lagu itu buat nulis part couple lain, tapi tak pikir2 cocok juga buat part ini
see you