Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Together



together (adv): into companionship or close association


.


.


[baru minor editing \ fluff dan banyak cringey \ short chapter]


.


.


.


Naufal dan yang lain kembali dibuat keheranan melihat sahabat mereka, Aylin.


Karena apa?


Kali ini, mereka heran sekaligus lega karena melihat Aylin kembali seperti sebelumnya. Tidak menjadi pemurung seperti berhari-hari yang lalu. Mungkin kali ini Aylin terkesan lebih ceria.


Bukan tingkahnya—karena Aylin masih seperti Aylin yang sebelum jadi pemurung—hanya saja dari sorot matanya terlihat jelas.


Dan mungkin dari auranya juga. Entahlah.


Ketika Budi menyuarakan keheranannya, Aylin hanya menjawab, "Tugas-tugasku udah beres. Tinggal belajar buat UAS empat matkul di bulan depan."


Budi dan yang lainnya tak bertanya jauh. Merasa ini hal yang biasa Aylin lakukan. Bahkan Naufal juga menimpali kalau dia juga merasa lebih plong karena semua tugas sudah selesai dan tinggal menunggu jadwal UAS mata kuliah yang tersisa. Alias masih dua minggu lebih untuk tiba di bulan Januari.


Sepintar-pintarnya Aylin atau serajin-rajinnya dia, bukan berarti dia juga suka mengerjakan tugas. Dia sama seperti teman-temanya yang lain ketika mendapat tugas kuliah.


Pasti ada kata sambatnya dulu. Lalu Aylin akan segera mengerjakannya biar cepat selesai dan terbebas dari tugasnya.


Padahal kenyataannya lebih dari itu.


Aylin memang lega luar biasa karena sudah tidak ada tanggungan tugas pengganti UAS. Namun, hal yang membuatnya ceria lebih dari itu.


Dalam hati, Aylin minta maaf ke para sahabatnya karena belum bisa cerita.


Apa yang terjadi sebenarnya?


Mari kita mundur ke beberapa hari yang lalu. Saat Aylin menemui Kayvan. Mengingatnya saja masih membuat Aylin malu soal kenekatannya.


Pada hari itu, ketika Aylin cemburu melihat kedekatan Kai dan Linda. Merasa hampir menyerah sampai entah keberanian dari mana, membuatnya menghampiri mereka dan mengajak Kai bicara.


Mereka ada di salah satu taman dekat sungai kecil. Hanya beberapa menit dari FT dan masih masuk dalam lingkup area UHW yang begitu luas.


Setelah keheningan selaama beberapa saat, Aylin menyetuskan pernyataan tak terduga. Membungkam Kayvan yang belum sempat membuka mulutnya, ingin memecah keheningan.


"Aku suka padamu," berhasil membuat Kayvan terkejut mendengar pengakuan tiba-tiba ini.


Masih menundukkan kepala tanpa berani menatap Kayvan, dia kembali melanjutkan setelah jeda beberapa saat.


"Jatuh hati padamu. Kau membuatku merasakan hal aneh. Aku nggak tahu kalau perasaan itu karena aku suka padamu. Selama ini kau itu junior yang menyebalkan, tapi aku suka padamu. Selama ini aku ragu, apa iya aku suka padamu? Lalu segala perhatianmu membuatku berpikir. Sampai di hari kau bilang kau ingin mengejarku terang-terangan, aku sadar aku udah jatuh hati padamu."


"Tapi aku takut. Aku takut kalau ini hanya bayanganku saja. Aku takut ternyata aku bangun dan tahu ini nggak nyata. Atau kau hanya mempermainkanku. Maaf, maaf aku nggak bilang padamu ketakutan nggak masuk akalku ini. Karena aku emang takut, karena ini semua hal yang baru buatku. Sampai aku tadi melihatmu sama Linda. A-aku... aku nggak suka melihatnya. Aku nggak mau kau sama Linda. Hal itu membuat hatiku sakit."


Dia juga bercerita kalau dia takut dengan penilaian orang-orang.


"Maaf selama ini aku selalu mendorongmu menjauh. Karena aku takut dan merasa nggak pantas. Maaf, maaf karena aku bodoh. Aku nggak tahu apakah kau memaafkanku atau tidak habis ini. A-aku tetap ingin bilang, aku beneran suka padamu..."


Kai terdiam mendengarnya, benar-benar terkejut dan tidak menyangka.


Perlahan, senyum terbit di wajahnya yang tampan. Senyum tulus yang menggambarkan perasaannya saat ini setelah mendengar pengakuan Aylin. Dia merasa lega, bahagia, dan berbagai perasaan positif bercampur baur jadi satu.


Dia berjalan mendekat, sampai tepat di depan Aylin. Ujung sepatu mereka bahkan nyaris bersentuhan.


Dia menahan diri untuk tidak tiba-tiba memeluk cewek di hadapannya ini karena perasaannya yang begitu membuncah.


Dengan lembut, Kai mengangkat wajah Aylin yang sejak tadi menunduk. Mengusap air mata yang jatuh dengan lembut.


Aylin hanya terdiam di tempatnya. Terkejut dengan gerakan Kai yang tak terduga. Memandang Kai yang menatapnya dengan pandangan lembut. Senyum teduh terukir di bibirnya.


"Aku suka Kak Alin. Jatuh cinta lebih tepatnya. Dan aku sangat senang, sangat-sangat bahagia, mendengar kalau langsung dari Kakak kalau punya rasa yang sama. Ini adalah kabar yang terbaik. Terima kasih ya, Kak," ujarnya dengan lembut.


"Tapi Kak, aku nggak bisa jadiin Kakak hanya sebatas pacar," melihat sorot sedih dari mata Aylin, buru-buru Kayvan menambahkan.


"Karena kupikir, Kakak lebih dari itu. Dan Kakak berhak diperlakukan yang terbaik. Kakak berharga bagiku. Terlalu istimewa kalau hanya dalam hubungan yang terkesan sementara. You deserve better than just be a girlfriend. Tapi aku juga nggak mau memburu-buru Kakak, dan memaksa Kakak. Untuk sekarang..." Kai menjeda kalimatnya sejenak.


Dia mendekatkan keningnya sampai menyentuh kening Aylin. Membuat Aylin gelagapan dan menahan nafas karena kini wajah mereka begitu dekat.


Sangat dekat.


Jantung keduanya bertalu-talu.


"Can I be yours?" ujar Kayvan sambil menatap langsung pada mata Aylin. "Maukah Kakak ikut berjuang bersamaku? Will you accept me as your more than boyfriend? Karena aku nggak mau hanya sekedar jadi pacar Kakak. Tapi juga sebagai teman, sahabat, partner Kakak."


Mata Aylin membulat lucu. Debaran jantungnya semakin tak karuan. Menatap Kayvan dengan pandangan yang sulit diartikan.


Beberapa kali terlihat membuka lalu menutup mulutnya. Sebelum akhirnya dia berujar, "Aku orangnya keras kepala."


Kai terdiam mendengarnya, membiarkan Aylin melanjutkan ucapannya.


"Penakut, ceroboh, sering bangun kesiangan, nggak pinter dandan, awkward, dan masih banyak kekuranganku yang lain. Apa kau menerima semua itu?"


Kai tersenyum mendengarnya. Menatap Aylin dengan sayang. "Kita sama Kak. Aku juga punya banyak kekurangan. Apa Kakak juga menerima itu?"


Kemudian, setelah diam beberapa saat, Aylin mengangguk perlahan.


Tak ada kata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan seorang Kayvan Candra saat ini. Senyumnya kini begitu lebar, kedua matanya sampai melengkung ke atas. Dengan spontan, dia mencium kening Aylin. Membuat cewek itu gelagapan dengan semburat merah menghiasi pipinya.


"Mulai sekarang, kita sama-sama ya Kak? Jalan sama-sama."


Aylin mengangguk tanpa suara. Namun, senyum yang memperlihatkan lesung pipi kirinya terukir manis. Senyum hal menjadi salah satu hal yang membuat Kayvan Candra bertekuk lutut.


Sekali lagi cowok itu mengejutkan Aylin dengan tindakan yang tak terduga.


Memajukan wajahnya, lalu menggesekkan ujung hidung mereka.


Sebuah eskimo kiss.


"Kayvan!" cowok tengil itu hanya tertawa mendengar protesan kecil Aylin.


Mereka lalu berjalan kembali. Kai yang menggoda Aylin, lalu Aylin yang berusaha mendorong jauh juniornya itu karena membuatnya malu dan salah tingkah. Tentu saja Kai tidak terpengaruh sama sekali, malahan berjalan mendekat di sisi Aylin dan kembali menggodanya.


Sampai akhirnya, cowok itu memutuskan untuk menggandeng tangan Aylin. Sedikit ragu pada awalnya karena takut adanya penolakan. Namun, senyum kembali terbit di wajahnya ketika Aylin tetap membiarkannya.


Mereka berjalan dalam keheningan yang nyaman. Pikiran Kai melayang ke berbulan-bulan yang lalu. Di mana dia pertama kali bertemu Aylin, lalu ke bagian dia menembak seniornya itu untuk pertama kali.


Tiga kali dia melakukannya. Iya, dia sudah melakukannya tiga kali.


Yang pertama adalah ketika TM alias technical meeting. Terkejut? Banyak yang akan mengira kalau tindakan berani yang dulu dia lakukan itu hanya untuk membuat Aylin kesal.


Memang iya, waktu dia juga merasa kesal dengan Aylin dan segala peraturan ospek yang menurutnya banyak yang tidak masuk akal. Namun, hanya dirinya saja yang tahu kalau diam-diam, dia menganggapnya sebagai dirinya menembak Aylin. Dia tidak keberatan kalau itu beneran terjadi pikirnya waktu itu.


Lalu yang kedua adalah ketika di Titik Nol. Di mana secara terang-terangan dia menyatakan untuk mengejar Aylin.


Kemudian, yang ketiga adalah hari ini. Yang benar-benar akan merubah segalanya mulai dari sekarang.


Memang benar ya? Third time's a charm.


Di sisi lain, Aylin masih terdiam. Perutnya terasa tergelitik seperti ribuan kupu-kupu bertebangan di dalamnya. Jantungnya yang berdebar-debar kencang. Masih tidak menyangka kalau ini semua beneran terjadi.


Namun, tangan kirinya yang merasakan genggaman hangat menjadi tanda kalau ini semua sungguhan terjadi.


Dia dan Kai.


Dirinya dan Kai.


Aylin dan Kayvan.


"Kak," cowok di sampingnya memecah keheningan.


Kai menoleh ke Aylin, "Apapun yang terjadi, ayo kita hadapi sama-sama."


Aylin menatap Kai selama beberapa saat, sebelum mengangguk. Senyum terbit di wajahnya yang manis.


.


.


.


"Gaes, nilai matkul Fisika ada yang udah keluar," Daffa memberi info siang itu. Dia baru saja baru saja kembali lagi dari kantor jurusan untuk mengumpulkan tugas susulan.


Kai dan teman-temannya tengah bersantai di salah satu meja panjang di kantin FT.


"Hah? Jurusan mana?" tanya Teo penasaran.


"Semua jurusan yang dapat Fisika. Di tempel di papan pengumuman lobi. Nama yang nggak tercantum di katanya remidi sama susulan."


"Hah?! Yang bener aja!" seru Ojan heboh. Pasalnya ini hitungannya nyaris seangkatan karena mata kuliah Fisika memang diberikan di semester satu. Meski dosennya beda-beda, pelaksanaan ulangannya tetap di jadwal yang sama secara serentak tahun ini.


Mana di matkul itu merupakan pertama yang jadi ulangan lagi!


Buru-buru mereka segera pergi ke lobi utama FT alias di dekat gedung aula besar untuk melihat nilai Fisika mereka.


"Cepet banget nilainya keluar," komentar Neo. Dalam hati dia cemas kalau namanya tidak tercantum di sana. Takut kalau harus remidi.


Sesampainya di lobi, suasananya cukup ramai. Namun, bisa dibilang ada lengangnya juga karena mungkin hanya perwakilan tiap kelas atau tiap jurusan yang datang melihat langsung.


Kai dan Teo sebagai ketua kelas di kelas masing-masing segera menerobos kerumunan untuk mencari kelas mereka.


Setelah perjuangan berdesakan, Kai berhasil memotret daftar nama yang lulus di kelasnya dengan kamera ponselnya. Setelah selesai, dia segera mundur agar orang lain bisa mendapat giliran melihatnya.


"Sudah kukirim ke grup kelas," kata Kai memberitahu Neo. Neo mengangguk penuh terima kasih karena dia tidak perlu berdesakan. Namun, dia jadi takut melihat pengumuman yang dibagikan Kai ke grup kelas.


Teo juga berhasil melihat daftar kelasnya dan memotretnya beberapa saat kemudian. Ojan masih berusaha menerobos sambil berseru ke Daffa yang sudah lebih dulu di depan untuk memfotonya.


Sambil menunggu, dia lega karena namanya ada dalam daftar yang lulus, dia melihat sekeliling. Sampai matanya menangkap seseorang yang amat dikenalinya berjalan bersama dua orang temannya.


Kai tersenyum melihatnya ketika orang itu berjalan mendekat.


"Kalian ini mengerumini apa?"


Suasana jadi agak hening. Sebagian besar mata tertuju pada ketua TPK FT beserta dua temannya, Budi dan Taufan. Entah di mana Rima dan Naufal berada.


"Kami ingin melihat hasil ulangan Fisika, Kak," jawab Kai.


"Kenapa kalian nggak berbaris? Apa gunanya kalian diajari bikin barisan selama Aqisol kalau masih seperti ini?" tanya Aylin ke para maba dengan wajah judes.


Sementara Kai yang melihatnya tersenyum tak habis pikir.


"Apa perlu diajari lagi?!" lanjut Aylin dengan sinis. "Baris yang rapi!"


"Woiwoiwoi..." Budi menyela. "Kau ini kerasukan demit ospek atau gimana?"


"Mereka jadi ketakutan begitu noh," Budi menunjuk para maba yang terdiam sungkan.


"Yha...maaf kebiasaan," rasanya baru kemarin dia menyuruh para maba untuk berbaris rapi. Padahal sudah berbulan-bulan. Lalu melihat sebagian dari mereka berkerumun dan berdesakan membuatnya agak risih melihatnya.


"Kak Alin, kita tadi beneran takut dan hampir mau berbaris lho," ujar Ojan agak sungkan. Dia tadi sampai mengira kalau ada ospek lagi.


"Ngomong-ngomong soal Fisika," Budi bersuara, "Rata-rata tertinggi di jurusan mana tahun ini?"


"Teknik Sipil, Bang Budi. Lalu Teknik Otomotif yang kedua," jawab Teo. "Tapi yang paling dikit yang remidi itu jurusan Teknik Industri kalau kulihat tadi. Terus yang dapat nilai tertinggi itu jurusan Arsitek. Intinya, dari yang kulihat tadi rata-rata nilai Fisika meningkat dari tahun kemarin."


"Wih... bagus, bagus, bagus!" Budi bangga jurusannya tahun ini yang punya rata-rata tertinggi seangkatan.


"Itulah kenapa kalian kuliah di FT," lanjutnya. Lalu menoleh ke arah Aylin.


"Perpeloncoanmu keren Lin, jadi mereka lulus ulangan Fisika."


"Apa hubungannya sama perpeloncoan?" tanya Aylin tidak habis pikir dengan jalan pikirannya Budi. Bahkan Taufan saja menatap bingung ke arah Budi.


"Weh, ospek FT itu sangat terorganisir," sahut Budi. "Jadi, mulai dari sekarang, meski mereka menghadapi macam-macam halangan rintangan, naik gunung turun gunung, mereka pasti bisa melewati semuanya. Karena ospek kita lebih brutal dari fakultas lain."


"Plis Bud, lama-lama aku nggak mudeng sama jalan pikiranmu," celetuk Taufan.


"Loh harus paham. Kita sebagai partner in crime harus satu visi dan misi," kata Budi.


"Gaes, Bu Dina udah jalan ke lantai tiga," teriakan Naufal menginterupsi. Dia berlari bersama Rima menuju tangga yang ada tidak jauh dari sana. Seketika ketiga senior ikutan panik.


"Sial! Cepetan yok naik sebelum ibunya sampai duluan," ajak Taufan. "Nggak lucu kalau kita nggak boleh masuk gegara telat."


"Ayo!" Budi mengiyakan. Lalu dia dan Taufan berlari mengikuti Naufal dan Rima serta beberapa mahasiswa tahun ketiga lain yang juga datang belakangan.


Hari ini, semua mahasiswa tahun ketiga jurusan non-pendidikan, ada sosialisasi dan kuliah umum untuk persiapan magang. Salah satu dosen yang mengisi nanti itu terkenal sangat tepat waktu dan tidak suka melihat mahasiswanya terlambat tanpa alasan jelas.


Ketika Aylin hendak menyusul mereka, Kai menahannya.


"Tunggu sebentar, Kak Alin," katanya.


Aylin menatap Kai heran.


Perlahan, setelah memastikan tidak ada yang melihat, Kai mendekatkan wajahnya. Lalu berujar pelan.


"Semangat belajarnya ya Kak."


Bagaimana perasaan Aylin sekarang? Jangan ditanya. Jantungnya sudah tidak karuan rasanya. Sialan memang juniornya ini. Dia hanya tersenyum kecil dan mengangguk pelan sebagai balasan. Sebelum menyusul teman-temannya yang sudah naik tangga duluan.


Sejak mereka akhirnya meresmikan hubungan, keduanya memang sengaja tidak memberitahu siapapun. Itupun juga karena permintaan Aylin yang belum siap semua orang tahu.


Awalnya Kai agak keberatan. Cowok itu jelas ingin bilang, terutama ke orang yang naksir Aylin—oh dia tahu ada beberapa teman jurusannya yang naksir pacarnya ini. Apalagi setelah melihat Aylin dengan tampilan rambut sedikit berbeda beberapa waktu lalu.


Namun, setelah dipikir-pikir, ada baiknya juga menjalani berdua tanpa orang lain tahu. Tidak ada orang yang merecoki.


Meski cepat atau lambat, semua orang juga akan tahu. Dan untuk sekarang, memang lebih baik seperti ini dulu.


Waktu itu, dirinya juga bilang ke Aylin ketika mendengar ketakutan-ketakuannya.


"Terima kasih Kakak udah mau jujur soal ketakutan-ketakutan Kakak. Aku juga takut, tapi ada Kakak di sini bersamaku sekarang. Kupastikan pada Kakak kalau ini semua beneran terjadi, aku dan Kakak. Dan biarkan orang bicara apa yang mereka suka, karena kita nggak bisa menutup mulut mereka satu-satu. Kita yang ada di posisi ini, bukan mereka. Mulai sekarang, kita hadapi sama-sama ya? Kakak nggak perlu menyimpan semuanya sendirian. Kita saling terbuka, oke? Kalau aku ada buat kesalahan atau hal yang bikin Kakak nggak nyaman, langsung bilang padaku. Begitupun sebaliknya aku ke Kakak."


Aylin mengangguk. "Aku nggak mau umbar janji. Tapi aku akan berusaha sebaik mungkin menjaga komitmen itu."


"Iya, kita bareng-bareng ya..."


.


.


.


.


.


a.n.


finally setelah berpuluh-puluh chapter Kayvan and Aylin are officially together wkwk


maaf banget kalau aneh banget. nggak tau dah feel-nya dapat atau tidak, tapi pas nulis ini mood-ku lagi bagus :D sambil dengerin lagu


beberapa scene di chapter ini terinspirasi dari banyak hal


i hope you like it


untuk part selanjutnya, aku gak bisa memastikan apakah minggu depan bisa up atau tidak. soalnya lagi bener-bener sibuk banget, maaf ya


see u when i see u