![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
ceremony (n): an act or series of acts performed according to a traditional or prescribed form.
.
.
.
[part panjang, baru minor editing]
.
.
.
Selesai shalat ashar di jurusan masing-masing, maba lalu dikondisikan lagi baru diarahkan kembali ke fakultas.
Satu persatu jurusan tiba di lapangan hijau. Di mana hampir semua panitia menempatkan diri di sana. Para panitia berkumpul di sisi selatan lapangan. Sementara para maba di arahkan ke tengah.
Tidak ada pemandu yang membawa plang gugus menyambut mereka seperti biasanya. Justru semua plang di letakkan di tepi lapangan. Di tancapkan di kedua sisi, timur dan barat.
Yang tidak ikut menggerombol hanya Tim Medis dan PDD. Mereka bertugas di job masing-masing. Tim PDD dengan segala peralatan dokumentasi mereka dan Tim Medis dengan peralatan mereka.
Suasananya hampir mirip seperti saat Aqisol. Hanya saja, kali ini jumlah panitia yang terlibat langsung lebih banyak. Dan ditambah suasana sore yang jelas-jelas berbeda dari pagi hari.
Bahkan terlihat anak-anak perkap ada di gerombolan panitia itu.
Sebelum benar-benar berada di tengah lapangan, para maba diminta untuk menaruh tas atau bawaan mereka di tepi lapangan. Tempat di mana masing-masing plang berada. Harus diletakkan dengan rapi agar nanti saat diambil lagi lebih mudah, cepat, dan tidak berantakan.
Mereka juga diminta melepaskan atribut jurusan seperti nametag, topi atau helm, dan lainnya. Menyisakan pakaian dresscode tanpa embel-embel atribut tambahan.
Suasananya terlihat hening—kecuali suara grasak-grusuk dan obrolan pelan dari maba.
Meski tidak didampingi pemandu mereka, para maba berinisiatif bebaris rapi sesuai gugus masing-masing.
Sementara itu, di atas mimbar, Galang berdiri dengan tegap sambil membawa toa pelantang. Di belakangnya adalah barisan panitia. Mereka semua mengenakan blazer korsa FT dan melepas handbadge mereka.
Termasuk para TPK yang berdiri paling belakang—mereka mudah dikenali dari pakaian hitam-hitam dibalik blazer yang mereka dikenakan.
"Selamat sore!" Galang menyapa dengan lantang semua maba yang ada.
"SORE KAK!" dibalas dengan serepak.
"Gimana hari ini? Seru nggak Isimaja jurusannya?" tanya Galang.
"Ya!" para maba menjawab tak kompak. Namun, Galang tidak mempermasalahkannya. Ada juga yang menjawab kalau ospeknya cuman sebentar jadi kurang berasa kesannya.
Galang lalu menjelaskan kalau mereka nanti masih punya makrab atau sikrab di tiap-tiap jurusan. Jadi mereka bisa lebih bonding lagi dengan teman-teman dan senior satu jurusan.
"Masih semangat nggak buat hari ini?"
"YA!"
"Ah, kurang kompak nih. Padahal bentar lagi puncaknya lho... harus semangat dan kompak!"
"Kita yel-yel dulu ya? Kalian tadi udah makan kan? Udah istirahat kan? Kita yel-yel dulu biar tambah semangat dan kompak buat acara puncaknya," ujar Galang kemudian.
"Siap?"
"SIAP KAK!"
Galang lalu memimpin dua yel-yel dan satu jargon. Meski sudah lumayan lelah, para maba kembali bersemangat. Apalagi mengingat ini adalah agenda yang paling ditunggu-tunggu mereka semua.
Mendengar cerita-cerita dari para senior dan alumni, agenda puncak memang yang paling ditunggu dan berkesan. Mereka belum tentu mendapatkan pengalaman serupa di fakultas, bahkan universitas, lain.
Di acara ini nanti lah yang menjadi awal sebenarnya.
Gear Ceremony.
Begitulah anak-anak FT menyebutnya.
Begitu para maba selesai melakukan yel-yel yang dipimpin Galang dengan penuh semangat, ketua pemandu itu lalu undur diri dan membiarkan Naufal mengambil alih.
"Selamat Sore!"
"Sore Kak!"
"SELAMAT SORE!"
"SORE KAK!"
Persona cowok berpotongan cepak dan bertubuh tegap itu seperti saat pertama kali bertemu di TM hari pertama dulu.
Tegas bak komandan yang membawahi kadet-kadetnya. Yang selama TM hari kedua sampai tadi pagi Naufal terlihat ramah, kini lebih terkesan agak kaku.
Benar-benar terlihat berbeda. Para maba merasa de javu. Kambali ke suasana awal-awal TM dulu.
"Selamat datang di Gear Ceremony. Saya ucapkan selamat kepada kalian yang bisa bertahan sejauh ini. Sampai ke titik ini," kata Naufal dengan lantang.
"Dan saya harap, kalian juga berhasil melewati tahap ini. Tanpa harus mengulang tahun depan," cowok itu menyapukan pandangannya ke seluruh maba dengan tajam.
"Tentu kalian tidak mau 'kan mengulang bersama maba tahun depan?"
"Siap tidak, Kak!"
"KALIAN MAU MENGULANG ATAU TIDAK?!"
"SIAP TIDAK, KAK!"
"MAU ATAU TIDAK?!"
"SIAP TIDAK, KAK!"
Naufal mengangguk singkat mendengar jawaban para maba.
"Jadi, dengarkan baik-baik. Saya tidak akan mengulang aturannya," Naufal mulai lebih serius.
Menyadari nada bicara dan ekspresi sang ketua Isimaja FT, para maba segera diam dan memperhatikan dengan seksama.
Mereka dibuat semakin penasaran ketika para panitia yang sebelumnya berbaris di belakang mulai bergerak. Satu persatu membentuk barisan benteng di depan mimbar, tempat di mana Naufal berdiri.
Kalau mereka memperhatikan dengan jeli, benteng paling depan adalah anak-anak Tim Acara. Kedua adalah barisan dari beberapa anggota Tim Pemandu, termasuk Galang sendiri. Lalu yang ketiga adalah beberapa anak TPK.
PI berada di bawah, sisi kanan kiri Naufal. Beberapa panitia ada yang berjaga di sekitaran mimbar. Seolah mengelilingi dua orang yang di tengah, Naufal dan Frans.
Ya Frans berada di tengah, di depan Naufal. Bedanya dia tidak berada di mimbar.
Lalu panitia yang lain menyebar di di sisi lapangan.
Jadi, gambaran sederhananya, semua maba berhadap-hadapan dengan para panitia. Maba di utara sedangkan panitia di sisi selatan. Yang membedakan hanya formasi mereka.
"Kalian akan melakukan semacam royal battle. Di mana semua gugus harus bekerjasama melawan para panitia yang ada. Kecuali Tim Medis dan Tim PDD, biarkan mereka bekerja pada tugasnya masing-masing. Tujuan kalian dalam pertarungan ini hanya satu, yaitu mencari kunci. Dan kuncinya ada pada salah satu panitia. Dia yang jadi king-nya. Entah siapa itu, kalian cari tahu sendiri," Naufal menjelaskan.
"Gunakan cara apapun yang sudah pernah kami ajarkan dari TM sampai detik ini. Terserah pakai cara yang mana. Dan terutama saat kalian Aqisol. Dan itu adalah clue pertama dari saya," cowok itu menjeda perkataannya. Memastikan kalau semua maba memperhatikannya.
"Dan clue yang kedua, ini yang paling penting," Naufal menekankan kata-kata paling penting dalam ucapannya.
"Ada empat tahap yang diisi beberapa panitia. Seperti yang kalian lihat di depan kalian ini. Dan itu adalah clue yang kedua."
Semua maba seketika berseru heboh. Fokus mereka pecah. Mereka tak paham dengan apa yang dimaksud Naufal di clue yang kedua ini.
"HARAP TENANG!"
"DIAM!"
"JANGAN RAME SENDIRI!"
"BISA TENANG TIDAK?!"
Teriakan dari beberapa TPK seketika membungkam para maba kembali. Perlahan mereka kembali fokus ke Naufal.
"Sudah selesai?"
Tidak ada yang berani menjawab. Semua maba hanya terdiam dan berusaha untuk tetap fokus mendengarkan.
"Waktu kalian hanya enam puluh menit!"
Perkataan Naufal sontak membuat para maba kembali ribut sendiri. Beberapa terlihat tidak terima, beberapa terlihat tidak percaya dengan waktu yang diberikan.
Satu jam adalah waktu yang sebentar. Apalagi hanya diberikan dua clue yang masih abu-abu.
"Tenang dulu guys!" Teo berseru lantang, berusaha menenangkan teman-temannya. Walau sedikit kewalahan, tetapi untungnya dibantu oleh para ketua gugus.
Ketika para maba kembali tenang, Naufal lalu melanjutkan.
"Seperti yang saya bilang tadi, waktu kalian hanya enam puluh menit. Tidak lebih dan tidak kurang. Jadi, gunakan waktu sebaik mungkin. Kalau kalian gagal, kalian harus mengulangnya dari awal. Dan kalau kalian berhasil menemukan king-nya dan memintanya untuk memberikan kuncinya, kalian berhak mendapatkan lencana ini!"
Naufal mengangkat tinggi lencana gir dengan tanan kanannya. Membiarkan semua maba melihatnya.
"Jadi, selamat berjuang!"
Perkataan final dari Naufal menandakan bahwa waktu sudah di mulai.
Fokus maba sudah terpecah. Terlihat grasak-grusuk dan sibuk sendiri. Raut wajah mereka kebanyakan terlihat khawatir.
Sementara itu, di tempatnya berada, Teo menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Dia benar-benar merasa gugup. Menurut cerita dari beberapa senior yang di dengarnya, ketua angkatan punya peran penting untuk mengarahkan teman seangkatannya saat gear ceremony.
Maka dari itu, sejak sampai di lapangan tadi, cowok itu sudah berkeringat dingin.
Ayo, kau pasti bisa!
Dengan keyakinan baru, Teo melangkahkan kakinya ke depan semua maba. Dia berharap suaranya nanti bisa didengar mereka.
"Gaes!" teriak Teo. Namun, masih banyak yang tidak mengindahkannya.
Ivan, salah satu komandan saat Aqisol, menyadarinya. Dia lalu menjawil orang-orang di sebelahnya. Mereka lalu membantu Teo menenangkan semua maba dan membuatnya fokus ke Teo.
"KITA HARUS BIKIN RENCANA!" teriaknya. Dia membentuk toa dengan kedua telapak tangannya.
Teo lalu mengajak semua ketua gugus untuk melakukan diskusi. Tak lupa Teo meminta semua maba yang lain mengamati sekitar. Barang kali mereka menemukan petunjuk lain.
Awalnya dia ingin menyarankan untuk tiap gugus melakukan diskusi baru nanti ketua tim menyampaikannya di forum ketua gugus. Namun, dia urungkan ide itu karena bakal lebih lama waktunya terbuang hanya untuk diskusi. Sedangkan waktu yang diberikan hanya satu jam.
Belum lagi upaya eksekusinya. Kalau gagal mereka harus mengulang lagi.
"INGAT YA, KALAU KALIAN ADA IDE ATAU NEMU CLUE LAIN, LANGSUNG KASIH TAHU KE KAMI, OKE?!"
"OKE!"
.
.
.
"Pertama kita artikan dulu maksud petunjuk yang kedua," Teo berkata.
Dipimpin Teo, para ketua maba gugus kini tengah berembuk untuk memecahkan jawaban. Sementara di gugus, mereka sudah memasrahkan ke satu atau dua orang untuk membantu mengambil alih sementara sekaligus sebagai perpanjangan tangan kalau anggota gugus ada ide atau solusi jawaban.
Dan Teo mempercayakan Gugus 19 kepada Kayvan untuk sementara.
"Petunjuk kedua ini yang didahulukan dulu. Kalau kita udah tahu maksudnya sama tahu caranya, kita bisa sambil jalan nyari yang mana king-nya," lanjutnya.
"Aku setuju sama Teo," kata Felix, ketua Gugus 8. Dia juga merupakan komandan di Aqisol.
Perkataan Felix disepakati oleh ketua yang lainnya.
"Petunjuknya tadi ada empat tahap, dan tiap tahap dibentengi panitia," ujar Teo sambil berpikir.
"Gaes," celetuk Yuda, ketua gugus 24 yang jadi komandan juga di Aqisol, beberapa saat kemudian.
"Coba perhatikan deh," cowok itu menunjuk ke barisan panitia. Semua memperhatikan arah yang ditunjuk Yuda.
"Mereka itu kayak melindungi seseorang nggak sih?"
Setelah diperhatikan baik-baik, benar apa yang dikatakan Yuda. Mulai dari benteng dan panitia yang berada di sekitar mimbar. Seolah-olah melindungi seseorang.
"Yang ditengah kan Yud?" Wenda, ketua Gugus 21, memastikan.
"Hooh," Yuda mengangguk. "Yang ditengah itu Kak Naufal 'kan?"
Semua ketua mengangguk mengiyakan.
"Apa jangan-jangan, Kak Naufal itu king-nya?" sontak semua menoleh ke arah Bagas, ketua Gugus 5, yang barusan menyeletuk.
"Coba bayangkan deh, setahuku dalam permainan royal battle itu king yang dilindungi biar jangan sampai kalah sama pasukan musuh. Nah, kalau dilihat baik-baik, panitia yang tugasnya sebagai benteng berlapis itu yang melindungi king-nya. Dan yang mungkin itu Kak Naufal sendiri. Itu pendapatku sih."
Semua terlihat memikirkan penjelasan Bagas. Masuk akal juga.
"Oh.. paham maksudmu," Teo bersuara, dia terlihat berpikir keras. "Jadi tugas pertama kita adalah bagaimana cara menembus benteng itu..."
"Dan.. OH!" cowok itu berseru tiba-tiba. Membuat beberapa ketua berjengit kaget. Teo hanya meringis merasa bersalah menyadari perbuatannya.
"Aku tahu!"
"Gimana Yo?" tanya Ivan penasaran.
Teo lalu menjelaskan rencananya. Semua ketua gugus menyimak dengan seksama.
Rencananya adalah mereka akan membagi gugus ke dalam beberapa kelompok besar. Seperti waktu Aqisol waktu itu—mereka mengambil konsepnya dan sesuai petunjuk yang pertama.
Karena tidak mungkin juga seribuan maba grudugan mendatangi panitia. Yang ada malah ribet dan tidak kondusif.
Kelompok pertama bertugas untuk mengatasi benteng pertama.
Kelompok kedua di benteng kedua.
Kelompok ketiga di benteng ketiga.
Kelompok empat yang berhadapan langsung dengan Naufal.
Dan yang terakhir kelompok lima yang bertugas mengawasi dan memperhatikan keadaan. Ditambah mengatasi panitia yang menyebar di sisi lapangan.
Para ketua yang bertugas sebagai penyusun strategi.
Tiap kelompok akan dikomando satu orang. Hampir mirip seperti saat Aqisol.
Untuk sementara, mereka menggunakan cara tersebut karena mereka yakin kalau Naufal-lah king yang memegang kunci.
Setelah sepakat dengan hasil diskusi, para ketua lalu segera mengeksekusinya. Dimulai dari membagi gugus ke kelompok besar. Namun, sebelum itu, mereka melakukan tos dan berteriak untuk menyemangati diri sendiri.
"SEMANGAT!"
"YAA!!"
Yosh! Semoga berhasil!
.
.
.
Gagal.
Tidak, tidak sepenuhnya gagal sebenarnya. Hanya kurang tepat saja.
Rencana mereka yang membentuk kelompok besar ternyata sudah tepat, surprisingly. Hanya pengeksekusian rencana mereka yang ternyata kurang tepat.
Rencananya adalah kelompok pertama yang akan mencoba menembus benteng pertama. Bukan melakukan penyerbuan seperti dalam permainan royal battle sesungguhnya.
Ternyata jauh lebih mudah—setidaknya itu yang para maba pikirkan.
Mereka hanya diminta memecahkan teka-teki dan melakukan tantangan sampai kakak panitia yang menjaga setiap level benteng memberikan jalan.
Terdengar mudah bukan?
Yang membuat sulitnya adalah menjawab teka-teki dan bagaimana melakukan tantangannya. Satu kelompok harus terlibat, bagaimanapun caranya, dan kalau tidak sesuai kriteria dari panitia, mereka diminta mengulang dari awal. Sampai benar-benar penitia yang menjadi benteng menilainya lolos atau tidak.
Ya, kesulitannya adalah bagaimana mengatur waktu.
Dalam royal battle ini, mereka bermain-main dengan strategi dan waktu. Mereka harus bisa memikirkan strategi yang tepat dalam waktu yang singkat. Dan harus hati-hati juga jangan sampai salah ambil langkah.
Para maba kembali ke posisi semula, tetapi masih tetap dalam batalion. Dan kini, para ketua gugus kembali mengadakan rapat untuk membahas strategi.
"Oke, rencana yang sebelumnya kurang manjur," ujar Teo. "Tapi, kita udah bener bikin batalion kayak pas Aqisol. Dan ternyata, setelah batalion satu tadi maju, kita jadi tahu kalau Kak Naufal bukan king-nya."
"Terus siapa king-nya? Dan kenapa Kak Naufal ada di sana dan dilindungi benteng?" Wenda bertanya-tanya. Beberapa ketua yang lain juga bertanya hal yang sama.
Kenapa Naufal ada di sana?
"Bisa jadi itu jebakan," cetus Felix. Semua menatap ke arahnya, mendengarkan.
"Buat ngecoh kita dan ternyata berhasil 'kan? Kalau kita tadi nggak langsung maju, mungkin bakalan lebih lama lagi kita sadar kalau Kak Naufal bukan king yang megang kunci."
"Bener," Teo setuju dengan ucapan Felix.
"Kita punya sisa waktu berapa lama lagi?"
"Empat puluh lima menit lagi," jawab Bagas.
"Waduh! Harus gercep nih," kata Teo. Semua ketua gugus terlihat berpikir keras.
"Gaes, gimana kalau kita tetap jalankan rencana sebelumnya?" usul Ivan. Semua pasang mata menatap ke arah Ivan, menunggu kelanjutannya.
"Jadi gini," Ivan memulai, "Kita kirimkan tiap batalion buat ngurusin tiap benteng. Kayak tadi. Bedanya, ya cara eksekusinya. Tiap batalion nanti yang bertanggung jawab menyelesaikan misi mereka di tiap benteng. Dipimpin komandan, sama kayak pas Aqisol."
"Buat batalion empat yang sebelumnya menangani Kak Naufal buat ambil kunci, tetap dilakukan. Bedanya, fokus kita bukan mau ambil kunci dari Kak Naufal. Tapi melakukan misi darinya."
"OH! Aku paham maksudmu," seru Teo seolah mendapat pencerahan.
"Gimana maksudnya Yo?" tanya Bagas ke Teo. Cowok itu mengerutkan keningnya bingung.
"Coba pikirkan baik-baik. Kak Naufal adalah ketuanya. Kasarannya, dia adalah bosnya. Jadi, meski bukan king yang megang kunci, setidaknya dia juga punya tugas penting yang belum kita tahu. Lagipula, semua PI ada di sisi kanan kirinya. Semacam membentuk benteng juga. Buat jaga-jaga juga sih, biar kelompok empat yang menanganinya," jelas Teo.
"Batalion lima tetap di posisinya. Walau kelihatan paling gampang, tapi jangan terkecoh. Kalian tahu sendiri 'kan tadi? Gimana panitia yang nggak jadi benteng itulah yang jadi tantangan sebenernya."
"Ho'oh. Mereka ngecoh banget tadi. Bikin nggak fokus juga. Menghalang-halangi kita pas mau ke benteng," Felix membenarkan.
Para panitia yang tidak menjadi benteng benar-benar menjadi kendalanya. Mereka tugasnya menganggu. Entah menggoyahkan mereka dengan memberitahu arahan-arahan palsu, menghalangi jalan, menganggu mereka, sampai meneriaki mereka.
Kebanyakan adalah para pemandu—yang membuat para maba cukup kaget, TPK, dan panitia lain seperti KSK, Humas dan Sponsorship, serta Perkap.
Intinya mereka membuat langkah para maba harus terhenti beberapa kali. Membuang-buang waktu, yang tadinya bisa saja batalion satu sampai ke benteng satu dalam tiga menit, tetapi malah jadi hampir sepuluh menit—yang mungkin memang itulah tugas mereka.
"Fix ya berarti?" tanya Teo memastikan. Dijawab anggukan yakin oleh semua ketua gugus.
"Langsung kirimkan batalion satu ya berarti?"
"Anu, itu Yo, mending yang batalion satu dipimpin komandan lain dulu. Kau di sini dulu buat bahas masalah siapa king-nya," Wenda memberi saran.
"Setuju sama Wenda," kata Bagas. "Sama mau menambahi, nanti tiap batalion nggak cuman dipimpin satu komandan. Dibantu sama beberapa ketua gugus juga, satu atau dua-lah paling nggak. Biar nggak keteteran juga soalnya waktu kita sangat terbatas."
"Manut," tukas Ivan.
"Setuju-setuju aja sih," ujar Felix. Para ketua gugus yang lain menyuarakan persetujuan mereka.
"Baiklah. Nanti aku di dua atau tiga ya berarti? Keempat tetap Yuda pj-nya," kata Teo akhirnya.
"Kau empat aja Yo. Biar lebih pas gitu, soalnya pertahanan terakhir 'kan?" sahut Yuda.
"Terserah aja lah. Manut aku. Sama aja aku di batalion mana," tukas Teo.
"Jadi, kita mulai ya rencana kita sekarang?"
Semua menangguk yakin. Mereka lalu melakukan tos sebelum menempatkan diri ke posisi masing-masing.
.
.
.
Dua benteng berhasil mereka lewati. Di benteng pertama, batalion satu diminta menunjukkan kekompakan mereka. Mereka lalu melakukan unjuk yel-yel. Meski harus melakukannya beberapa kali karena menurut para panitia kurang kompak, setidaknya benteng pertama lebih mudah.
"SELAMAT YA GAES! KALIAN BOLEH MASUK KE BENTENG SELANJUTNYA!" seru Seno, yang berjaga bersama Tim Acara menjadi benteng pertama.
"Yel-yel kalian bikin merinding, hahaha!"
Batalion satu bersorak senang saat tahu kalau mereka berhasil.
Di benteng kedua adalah giliran kelompok dua. Mereka diminta memecahkan teka-teki. Agak sulit karena begitu berhasil memecahkan teka-tekinya, mereka harus mempraktikkan apa yang jadi teka-teki.
Satu kelompok.
Teka-tekinya adalah kata "Rajawali". Hanya itu, tidak ada petunjuk lain. Awalnya kelompok kedua mengira diminta untuk melakukan yel-yel rajawali utara. Ternyata salah besar. Mereka baru tahu kalau maksud kata "Rajawali" itu adalah julukan FT itu sendiri.
Mereka diminta menunjukkan rajawali itu. Akhirnya, batalion dua memutuskan menunjukkan koreo sederhana. Yang penting membentuk burung dengan sayap terbentang—semoga saja—karena waktu yang sangat terbatas. Begitu selesai mereka membunyikan jargon FT dan diakhiri kalimat, "Kita adalah rajawali itu sendiri."
Dengan harap-harap cemas menunggu jawaban Galang—benteng kedua diisi beberapa tim pemandu, mereka akhirnya lolos. Semua berteriak senang.
"Kalian menjawab cukup cepat dan diluar ekspektasi, kalian justru membentuk pola rajawali meskipun kurang sempurna. Tapi, kami hargai pemikiran dan kerja keras kalian. Sebenernya, kalian membunyikan jargon FT itu udah cukup. Kalian keren!" ucap Galang mengapresiasi.
Kemudian, giliran batalion tiga menghadapi beberapa TPK yang menjadi benteng ketiga. Berbeda dari yang pertama dan yang kedua, kesannya lebih menakutkan di benteng ketiga. Meskipun sang ketua TPK tak ikut menjaga di sana, suasananya tetap membuat sangat canggung dan gugup.
Adi, salah satu TPK yang juga ditakuti maba, memberikan teka-teki. Kata kuncinya adalah "solidaritas".
Sambil menunggu kelompok tiga menyelesaikan teka-tekinya, di tempat beberapa ketua gugus yang tersisa berada, mereka sudah selesai dengan diskusi terkait siapa king.
Mereka sepakat dan sangat yakin kalau king-nya adalah Frans.
Kenapa bisa Frans?
Pertama, cowok itu dilindungi benteng. Dia juga tidak masuk ke barisan TPK yang menjadi benteng. Justru berdiri tepat di belakang mereka.
Kedua, sang ketua TPK beberapa kali terlihat melindunginya. Ya, Aylin juga tidak masuk dalam barisan TPK yang jadi benteng. Cewek itu berjaga di sekitar mimbar bersama panitia lain.
Sesekali berpindah tempat. Intinya berada di luar benteng. Itu yang para maba lihat sejauh ini.
Dugaan terkuat memang mengarah ke Frans. Walau seolah terlihat melindungi Naufal, tetapi setelah kesimpulan di awal kalau ternyata Naufal bukan king-nya, maka Frans-lah yang berkemungkinan besar adalah king.
Teo meminta kelompok empat bersiap-siap begitu kelompok tiga hampir selesai menyelesaikan misi mereka. Misi kelompok tiga hampir sama seperti tantangan kedua di Aqisol.
Melakukan latihan fisik dalam tempo singkat. Harus kompak dan menunjukkan solidaritas yang menjadi kata kuncinya.
Kini tiba giliran batalion empat yang dipimpin Teo. Mereka berhadapan langsung dengan PI, Frans, dan beberapa panitia yang berjaga di sekitar mereka.
Sisa waktu kurang dari sepuluh menit dan mereka harus segera menyelesaikan misi ini. Waktunya begitu mepet sampai-sampai Teo tidak yakin mereka akan berhasil.
Walau sudah mengantongi nama king-nya, tetapi di hadapan mereka masih ada Naufal.
Alias bosnya.
"Para Maba angkatan 59, apakah kalian sudah menemukan king-nya?" tanya Naufal dengan tegas.
"SIAP SUDAH, KAK!" mereka menjawab dengan yakin.
"Apa kalian yakin?"
"YA!"
"APA KALIAN YAKIN?" sekali lagi Naufal bertanya dan masih dijawab dengan jawaban yang sama.
"Apa yang kalian lihat belum tentu yang sebenarnya. Kalian sudah terkecoh satu kali. Apa kalian yakin?"
"Kalian hanya bisa menebaknya satu kali lagi. Kalau tebakan kalian salah, ya sudah kalian ulang tahun depan!"
Perkataan Naufal membuat sebagian maba batalion empat jadi ragu. Termasuk Teo, keyakinannya mulai sedikit goyah.
Sebagian lagi menjawab dengan yakin.
Tentu saja respon itu membuat Naufal terlihat kurang senang.
"Kalian tidak sekompak tadi jawabannya," katanya. "Kalau kalian yakin, kalian harus kompak menjawabnya!"
Teo dilema berat. Dia tengah berpikir keras. Kemungkinannya jadi 50:50 mengenai dugaannya bahwa Frans yang jadi king. Apalagi Naufal secara tidak langsung mengisyaratkan hal itu. Didukung Frans yang kini malah berpindah tempat.
Kenapa Frans melakukannya? Bisa jadi iya, bisa jadi bukan.
Frans atau bukan?
Namun, Frans pindah posisi atau tidak, bisa jadi tidak ada maksud tertentu 'kan? Bisa jadi Frans tetaplah king-nya. Naufal tadi hanya mencoba menggoyahkan mereka. Dan mungkin tugasnya memang begitu.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
maaf kalo aneh dan agak telat, part ini terinspirasi dari berbagai sumber (drama, novel, dll) dan terutama imajinasiku sendiri :D oh tak lupa pengalamanku dulu pas sikrab jurusan main royal battle wkwk cuman tak bikin beda pas di cerita ini
kira-kira king-nya itu Frans atau bukan?
see you in the next part!