Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Encounter



Encounter (noun): an unexpected or casual meeting with someone or something


.


.


.


[baru minor editing. bukan judul drama ya..]


.


.


.


.


.


.


"Nj*r, tinggal sebulan lagi gaes!" seru Taufan dengan tak percaya.


Mereka berlima tengah sarapan di burjo langganan mereka di dekat FT.


"Nggak kerasa ya?" celetuk Rima sambil menikmati gorengan panas yang disajikan. "A' minta sambalnya lagi dong!"


Pemilik burjoan sudah biasa menghadapi tingkah lima sekawan itu. Bahkan akrab dengan mereka. Saking terbiasanya, pemilik burjo, Yanuar, sudah biasa dihutangi oleh Budi yang kerap kali kasbon. Asal dibayar tidak masalah dan untungnya walau Budi sering hutang, dia tidak lupa bayar walau harus diingatkan oleh sohib-sohibnya.


Tahu diri lah.


"Udah hampir beres juga persiapan kita," ujar Naufal. "Maba jalur SM juga udah masuk."


"Dua minggu lagi kita TM nggak sih?" tanya Rima memastikan.


Naufal mengangguk. "Iya."


"Kasihan ya yang SM Utul, baru lolos keterima udah harus sibuk regis," kata Taufan.


"Budi tuh SM Utul," kata Rima. "Mana keterimanya jurusannya sama lagi. Masih heran aja sih bisa masuk Teknik Sipil UHW."


"Ini yang namanya don't judge by its cover," sahut Budi dengan Bahasa Inggris yang medhok.


Rima hanya mencibir mendengarnya. Benar-benar kedua sepupu itu selalu saja ribut.


"Aku SM juga sih, tapi jalur prestasi. Nopal sama Rima dulu SBM ya? Gila sih kalian," kata Taufan.


"Yang lebih gila itu Alin. Dia kan SNM," kata Naufal. Semua menatap ke arah Aylin yang masih sibuk menyantap sarapannya.


"Apa?" tanyanya begitu sadar orang-orang menatapnya.


"Otakmu terbuat dari apa sih?" tanya Taufan dengan frontal.


"Jalur masuk univ itu nggak menentukan nasib pas di kuliah. Univ nggak peduli kau masuk jalur mana. Yang menentukan itu konstribusinya selama kuliah," Aylin mengutip kata-kata dosennya yang pernah memberi wejangan di kelasnya.


"Heleh!" cibir Budi. "Aku masih ingat ya, dulu pas kita dapat matkul umum yang sama, pas kita ulangan kan susah banget tuh soalnya. Kau aja sampai panik sama bilang susah. Eh tahu-tahunya kau lulus sama dapet B+, c*k! Mana yang dapat B+ Cuma dua puluh anak seangkatan."


"Hahaha yang waktu itu ya?" tawa Rima. "Aku aja dapat C+ udah bersyukur banget."


"Mana seangkatan mayoritas pada remidi ya waktu itu?" timpal Naufal.


"Gila sih, soalnya emang janc*k banget," kata Taufan.


Budi masih saja menatap sengit ke arah Aylin. Sepertinya dia masih dendam karena waktu itu.


"Yaudah sih, udah berlalu juga. Lagian udah pada lulus matkul itu juga kan akhirnya?" kata Aylin. Walau teman-temannya sering berkata kasar, Aylin tidak terpengaruh dan sudah biasa mendengar mereka.


Kata umpatan yang pernah Aylin ucapkan mentok-mentoknya kata "sial". Ibunya tidak suka umpatan dan mendengar anaknya berkata kasar, baik di depan atau di belakangnya. Makanya Aylin jarang, nyaris tidak pernah, mengumpat meski teman-temannya punya bahasa yang berwarna-warni.


"Tumben Lin, dikepang rambutnya," celetuk Taufan.


"Oh... lagi pengen aja," sahut Aylin dengan santai.


"Kukira mau nyamar. Tinggal menambah kacamata tuh, biar kelihatan culun."


Hari ini adalah jadwalnya registrasi ulang buat Ospek. Akan diadakan selama tiga hari ke depan. Semua maba dari jalur SNM sampai SM Utul wajib melakukannya selama jadwal berlangsung.


Setelah selesai sarapan, dengan Budi yang menambah hutang gorengan lima ribu, mereka berlima berjalan kembali ke kampus.


Sudah banyak maba berlalu-lalang di area kampus.


"Jadi keinget dulu pas masih di posisi mereka ya Lin," kata Rima di sebelah Aylin.


Aylin mengangguk. "Iya, haha. Cepet banget ya waktu berlalu. Kita udah masuk tahun ketiga aja."


"Duh jadi gugup buat hari-H nya."


Rima merangkul pundak Aylin dan berujar, "Kau pasti bisa kok! Coba bayangin aja, maba pasti geger kalau tahu ketua TPK FT cewek, haha!"


"Ish..! Kau malah membuatku tambah gugup!"


"Hahaha!"


Mereka berjalan menuju Gedung PKM, tempat di mana pengumpulan formulir dan pendaftaran Ospek dilakukan. Naufal sudah berlalu ke lantai dua di mana letak ruang secretariat Hima Teknik Industri berada. Dia mau mengecek ke sana karena dia ketua Hima-nya. Budi sudah menuju secretariat Hima Teknik Sipil dengan Taufan. Entah mau merusuh atau membantu mereka berdua itu. Ruang Hima Tata Boga bersebelahan dengan Teknik Sipil.


"Eh, Ma, aku lihat di lobi PLA dulu," kata Aylin tiba-tiba. PLA adalah Gedung Pusat Layanan Akademik, gedung di mana kantor jajaran dekanat berada.


"Ngapain?" tanya Rima heran.


"Kan di sana tempat ngumpulin form Ospek-nya," jawab Aylin. "Eva sama timnya di sana kok. Lobi PKM kita udah penuh soalnya."


"Oh... aku mau ngecek ke PKM dulu aja Lin. Nanti kususul," kata Rima kemudian.


Setelah berkata demikian, mereka berpisah jalan. Rima ke Gedung PKM, Aylin ke PLA. Kedua gedung jaraknya berdekatan, hanya terpisah jalan setapak dan tempat parkir milik PLA.


"Halo Al," sapa seorang cewek berwajah ayu kepada Aylin.


"Eh, Linda. Mau ke PLA juga?" tanya Aylin dengan ramah. Linda mengangguk. Cewek itu merupakan salah satu Tim Advokasi, anak buahnya Tyo. Karena sama-sama dipanggil "Lin", kalau mereka bersama Aylin lebih sering dipanggil "Al" untuk membedakan.


Dan sejujurnya, Aylin tidak ada masalah dengan Linda. Linda memang seorang cewek cantik yang ramah dan bahkan seorang aktivis kampus, tetapi Aylin merasa agak sungkan dengannya. Walau mereka sudah saling kenal sejak tahun lalu.


Entahlah. Begitulah yang dia rasakan.


Jadinya selama perjalanan menuju lobi PLA FT hanya ada keheningan.


Ketika sampai di lobi, Linda langsung bergabung dengan beberapa anak Advokasi yang ada di sana. Sementara Aylin menghampiri Eva yang tengah sibuk melayani para maba mengumpulkan formulir dan memberikan informasi penting yang sudah disiapkan. Tak lupa mengarahkan maba ke gedung PKM kalau belum melakukan registrasi ospek jurusan.


"Eh Alin, sini Lin," sapa Eva ketika melihat Aylin.


"Aman kan Va?" tanya Aylin.


"Aman Lin. Cuman agak riweuh aja," jawab Eva. Hari pertama memang cukup ramai maba yang berdatangan. Hari kedua akan lebih ramai lagi baru di hari terakhir hanya akan ada segelintir maba yang datang.


Untungnya Aylin memakai jas almamater. Jadi dia bisa membantu KSK yang terlihat kerepotan dengan maba yang bertanya-tanya. Seno, ketua Tim Acara, juga sempat mampir ke stan selama beberapa saat sebelum ke Gedung PKM.


"Kau tadi kok bisa bareng Linda, Lin?" tanya Eva ketika suasana sudah lengang, belum ada maba yang datang lagi.


"Kebetulan aja ketemu pas mau ke sini," jawab Aylin. Mereka mengobrol beberapa saat sebelum berhenti ketika beberapa maba kembali datang.


"Halo, dek..." sapa Eva ketika seorang maba berjalan mendekat.


"Silakan kumpulin berkasnya di sini ya? Pastikan sudah menyertakan foto empat kali tiganya. Lalu nanti ngisi nama, nomor telepon yang bisa dihubungi, jurusan, dan tanda tangan di sini ya?"


Aylin memperhatikan maba itu dengan pandangan menilai. Menurutnya, dia bisa jadi kandidat duta FT menggantikan Frans tahun ini. Secara fisik sekilas, belum tahu kemampuannya bagaimana.


Cewek itu melihat berkas yang dibawa maba itu. Dia melihat jurusan yang tertera di sana, Teknik Industri. Ah sepertinya maba ini bakalan menjadi adik tingkatnya di jurusan nanti.


"Wah, kau ngambil Teknik Industri juga ya Dek?" tanya Aylin basa-basi. Maba itu menoleh dan tersenyum ke arahnya.


"Iya, Kak," jawabnya.


"Kalau begitu semangat ya! Siapin mental dan fisikmu dengan baik," kata Aylin sambil tersenyum ramah, memperlihatkan lesung pipi kanannya. Tak akan ada yang menyadari kalau dirinya itu ketua TPK. Walau foto panitia sudah dirilis sekalipun, maba pasti tidak terlalu memperhatikannya. Biasanya baru akan kembali diperhatikan ketika bertemu dan berkenalan langsung.


"Hei, Lin, jangan menakutinya begitu," Eva berujar.


"Aku tidak menakutinya. Aku hanya memberinya semangat kok!" sahut Aylin. Lalu mengarahkan kembali pandangannya ke maba itu.


"Hei, Dek, pastikan kalau kau memilih jurusan di FT itu tanpa paksaan oke? Banyak yang bilang bakalan berat tapi kalau kau menyukai apa yang kau pilih, kau pasti bisa menjalaninya dengan baik," ujarnya memberitahu, "Kalau terpaksa, sekarang belum terlambat untuk mengubahnya, atau kau bisa mencoba dan belajar menjalaninya."


Memilih jurusan itu kalau bisa harus bisa nyaman ke depannya. Karena kau akan berada di jurusan itu selama beberapa tahun. Naufal dulu katanya iseng coba-coba mengambil Teknik Industri sebagai pilihan pertama dan Pendidikan Matematika sebagai pilihan kedua karena bingung mau mengambil jurusan apa. Pas hasil tes keluar, Naufal lolos di jurusan Teknik Industri. Cowok itu sempat ragu, tetapi karena sudah kepalang lolos dan tidak mau ambil pusing ikut tes lagi, akhirnya dia mencoba menjalaninya. Awalnya memang sulit menyesuaikan, tetapi akhirnya dia mencoba membuat dirinya santai tanpa paksaan. Tahu-tahu dia menjadi ketua Hima!


Hal yang diluar dugaan seorang Naufal. Cowok itu bilang, banyak yang membuatnya nyaman di FT. Salah satunya adalah para senior dan teman-temannya.


Maba cowok itu tersenyum mendengarnya.


"Saya memang bercita-cita masuk FT di sini, Kak. Jadi, pasti, saya akan menjalaninya dengan baik," katanya penuh keyakinan.


Aylin tersenyum bangga dan mengangguk. Lalu, dia berujar, "Baguslah kalau begitu. Ditunggu konstribusinya di FT."


.


.


.


Tinggal menghitung hari menuju dilaksananakannya TM alias Technical Meeting. Semua persiapan sudah mendekati sempurna. Gugus sudah terbentuk dan pemandu sudah mulai berinteraksi dengan maba gugusnya melalui grup daring. Pernak-pernik Ospek berupa tas serut yang berlambang logo Isimaja FT 20XX serta dua slayer yang berwarna putih dan merah marun dengan logo Isimaja beruntungnya sudah didistribusikan bahkan sebelum TM dimulai. Rencananya, tas serut dan slayer akan digunakan selama Isimaja nantinya bersama atribut lainnya.


Kaos panitia dan handbadge juga sudah dibagikan. Tinggal menunggu kaos maba yang memang cukup lama karena jumlahnya sangat banyak.


Video rekaman yel-yel dari Tim Pemandu juga sudah diunggah di akun YouTube sejak beberapa minggu yang lalu. Jadi para maba bisa mempelajari yel-yelnya di rumah. Walau dulu sempat ada kendala karena ada yel-yel FT yang nadanya mirip dengan yel-yel yang digunakan fakultas lain. Namun, akhirnya bisa teratasi dengan FT yang tetap mempertahankan yel-yel itu karena lebih dulu disampaikan di forum antarketua pemandu fakultas. Memang sudah aturannya agar yel-yel tidak boleh sama antarfakultas, baik nada lagunya sekalipun.


Segala perlengkapan lain seperti kamera, drone, HT, kotak P3K, tenda, tandu, dan lainnya sudah siap. Intinya, semua persiapan dari yang besar dan kecil sudah disiapkan dan dicek.


Dan hari ini, semua panitia mengadakan rabes terakhir sebelum menyambut maba di TM beberapa hari lagi.


"Eh, jadi cukur rambut anak itu," komentar Rima ketika melihat Naufal berjalan memasuki aula besar dengan rambut yang sudah dipangkas.


"Bang Nopal kok udah botak aja sih?" tanya Winda, salah satu PI dengan nada bercanda.


Naufal hanya tertawa sambil menyapukan tangan di rambutnya yang tinggal tipis.


"Nopal emang totalitas beneran deh," komentar Taufan di tempatnya. Dia sendiri hanya memotong rapi rambutnya. Bahkan ada panitia cowok yang masih sedikit gondrong rambutnya. Walau ada juga yang memang menyukur rambut seperti Naufal. Panitia tidak terlalu saklek aturannya seperti maba soal potong rambut. Asalkan terlihat rapi dan tetap dalam aturan tidak masalah.


"Oke, hari ini kita checking terakhir ya sebelum eksekusi. Sekaligus kita doa bersama biar semua dilancarkan dan dimudahkan urusan kita," kata Naufal memulai. Beberapa Tim Konsumsi terlihat datang membawa nasi tumpeng. Tradisi dari tahun ke tahun di semua fakultas memang mengadakan doa bersama sekaligus makan-makan sebelum menghadapi hari-H.


Di FBS bahkan lebih tradisional lagi. Sampai menaburkan kembang ke beberapa tempat segala. Walau banyak yang tidak setuju, tetapi karena sudah tradisi di sana jadi agak sulit dihilangkan. Apalagi FBS memang kampus budaya dan kental dengan segala mitosnya.


"Lin, nanti jadi ke GOR buat ploting tempat?" tanya Rima.


Aylin mengangguk.


"Iya. Habis isya ke sana."


.


.


.


"Aku mau FT dibuat satu tribun biar nggak kepisah-pisah," pinta Galang, ketua Tim Pemandu FT.


"FBS juga. Intinya yang jumlah mabanya paling banyak dikasih tempat dulu kalau bisa," sambung Dani, ketua Tim Pemandu FBS.


"Terserah. Yang penting plotingnya adil aja dah," ketua Tim Pemandu FEB berujar.


Malam ini Aylin bersama beberapa TPK, Galang, Seno, dan Naufal tengah survei tempat di GOR bersama fakultas lainnya.


"FT sama FBS kalau bisa jangan sebelahan dong," pinta ketua Tim Pemandu FH. "Kasian fakultas lain kalah suaranya."


Rendi, selaku koor pemandu univ mempertimbangkan semua usulan yang diberikan.


"Oke, jadi buat hari pertama FT di tribun barat ya. FBS di tribun selatan sebelahan sama Fisipol, Filsafat, dan FIP. Tribun utara diisi FO, FMIPA, Psikologi, FH, sama FGK. FK, FKH, FEB, sama Pertanian dibawah bareng pascasarjana. Tribun timur kita kosongin buat hari pertama soalnya protokoler," Rendi menjelaskan ploting tempatnya.


"Buat hari kedua, tribun timur diisi FT. Tribun barat FBS. Tribun utara nanti Fisipol, FIP, FK, FEB, Filsafat sama FGK. Tribun selatan diisi FH, FKH, FMIPA, Psikologi, FO, sama Pertanian. Nanti ada yang masuk di tribun barat sama timur, menyesuaikan. Gimana? Aku menyesuaikan jumlah maba masing-masing fakultas," lanjutnya.


"Boleh lah. Kita bisa cek lagi tribunnya sekalian ngasih tanda nanti," kata ketua Pemandu FO.


Semua mengangguk setuju. Pembahasan dilanjut dengan membahas pintu masuk dan keluar, pintu darurat, serta pintu yang hanya boleh dimasuki panitia yang memegang kartu identitas dari panitia univ. Dan kali ini didominasi oleh TPK yang membahasnya.


Suasana GOR mala mini cukup ramai. Banyak panitia dari berbagai fakultas hadir. Kebanyakan adalah PDD dan Perkab yang tengah menyicil memasang perlengkapan dan sebagainya. Ada juga beberapa UKM yang tengah berlatih untuk display di hari kedua. Pun juga ada panitia yang hanya berkunjung melihat persiapan.


Atribut dan umbul-umbul masing-masing fakultas baru boleh dipasang sebelum Isimaja. Jadi panitia sekarang ini lebih berfokus ke survei tempat.


"Jadi, yang bisa bebas keluar masuk GOR itu hanya TPK, PI, Acara, pemandu korlap, Tim Medis, sama PDD. PDD, Acara, sama TPK pun nggak semua boleh masuk. Jadi di shift ya sistemnya. Dan buat pemandu gugus yang berjaga, itu juga model shift. Satu gugus satu pemandu. Jadi nanti kita bikin kuota masuk, berapa orang yang boleh masuk buat panitia. Kalau masalah konsumsi, nanti pendistribusiannya pas ishoma sama pemandu gugus masing-masing. Tapi tetap dijaga oleh TPK," koor TPK univ, Nares, berujar menyimpulkan setelah berdiskusi panjang.


"Segala perizinan harus lewat TPK masing-masing fakultas. Jadi pastikan tim kalian siaga dan siap di posisi pas bertugas. Tapi kalau ada maba fakultas lain yang mau tanya, dibantu aja atau diarahkan ke TPK fakultasnya."


Semua mengangguk paham.


"Semangat gaes!"


"YA!"


.


.


.


.


.


.


a.n.


aku dulu SM Utul :D dan perkataan Aylin itu berdasarkan ucapan dosenku pas dulu pernah ngajar di kelasku. univ nggak peduli kau mau masuk lewat mana, bukan jadi patokan kau pinter atau nggak, yang penting kontribusinya buat kampus. jadi buat kalian yang sama kayak aku masuknya (bukan SNM dan SBM) pede aja, oke?


pas maba dulu aku pake goodiebag yg dibagiin sama panitia, warnanya ungu dg lambang logo ospek


2 part terbaru emang pendek-pendek dan jump-skip.


dan emang pas di gor itu panitia fakultas dibatasi aksesnya, boleh masuk kalau punya kartu identitas yg dikasih dari panitia univ. pas aku jadi ksk beneran nggak boleh masuk, walau sebatas lihat doang. tapi untungnya aku ikut display ukm wkwk


terus pas aku jadi pemandu, shift-shift an modelnya. satu gugus satu pemandu, dan di dalam itu kami nggak boleh asal nonton doang, harus ngawasin maba gugus walau ada tpk yg jaga.


yap di part ini versi Aylin-nya pas ketemu Kai pertama kali, entah dia sadar atau nggak. menurut kalian gimana?


awalnya mau tak bikin drama suspense gitu wkwk, tapi udah males duluan. maaf ya


oh iya, aku pernah dapat cerita dari temenku yg FT dulu, emang cukup susah dapat nilai A atau B. dapat C aja temenku udah bersyukur. tapi nggak tahu kalau yang lain