![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Session (n): a meeting of a deliberative or judicial body to conduct its business; a period devoted to a particular activity
.
.
.
[baru minor editing]
.
.
.
.
Aylin menarik nafas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Dia melakukannya selama beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Barusan tadi dia menerima telepon dari Teguh. Tumben sekali seniornya itu menelepon dan biasanya kalau Teguh sampai menelepon ada hal mendesak yang disampaikan.
Dan benar saja!
Aylin bahkan sampai gelapan ketika tiba-tiba Teguh menyuruhkan untuk mengumpulkan semua TPK sore nanti.
"Gimana Lin?" tanya Rima begitu melihat Aylin berjalan kembali menghampiri meja mereka.
Siang ini, selepas ishoma dan beres-beres, Aylin dan gengnya pergi ke tempat makan yang sedang hits dan belum lama ini dibuka di dekat kampus mereka. Mereka ingin mencoba menu di sana yang katanya dinamai nama unik-unik dan sangat laris.
"Malam nanti semua TPK wajib kumpul. Bos besar yang nyuruh," jawab Aylin.
"Bos besar?" tanya Budi bingung.
"Siapa lagi kalau bukan si Raja Teknik," jawab Taufan.
"Mas Teguh?" Budi memastikan.
Rima dan Aylin mengangguk mengiyakan.
"Ngapain Lin?" kali ini Naufal bertanya.
"Entah. Tapi feeling-ku ada inspeksi sama bahas masalah yang kemarin," jawab Aylin.
"****!" dengan reflek Rima mengeluarkan kata kasar.
"Semangat ya kawan..." ujar Taufan bersimpati. Dia tahu betul bagaimana susunan di TPK bekerja. Kalau ada TPK yang ketahuan berulah, apalagi sampai diluar batas, senior sebelumnya mau tak mau harus turun tangan untuk menasehati mereka.
Sekedar mengingatkan kalau di langit masih ada langit.
Naufal dan Budi menatap kedua temannya prihatin. Mereka ingat tahun lalu bagaimana Aylin dan Rima sampai pulang begitu larut setelah menghadiri inspeksi itu. Katanya mereka seperti sedang di MOS, di Ospek, bahkan renungan dicampur jadi satu.
"Untung ya aku nggak pernah minat jadi TPK," Budi berujar kemudian.
"Aku juga. Tapi si Nopal dulu sempet daftar jadi TPK kan ya?" Taufan menimpali.
Naufal mengangguk. "Iyo. Tapi opsi kedua setelah pemandu. Dan keterimanya jadi pemandu waktu itu."
"Si Alin jadi TPK karena dari awal dia udah ditandai buat jadi ketua sama Mas Teguh. Lah situ ngapain milih TPK dulu?" tanya Budi pada Rima.
"Buat nemenin Alin. Lagian TPK itu juga tim yang menarik kok," sahut Rima.
"Idih ikut-ikutan! Rasain sekarang...!" cemooh Budi.
"Yeee...!" belum sempat Rima membalas, Naufal sudah melerai mereka duluan. Jangan sampai dua orang itu ribut di sini. Kan membuatnya malu.
"Woy udah! Jangan mulai deh! Bikin malu orang aja."
"Semangat ya Lin, Ma, buat nanti malam," kata Taufan kemudian.
.
.
.
Seperti pesan Teguh, Aylin sudah menyampaikan ke semua anggota TPK untuk berkumpul malam ini selesai evaluasi. Banyak yang bertanya-tanya kenapa senior mereka itu menyuruh untuk bekumpul malam-malam. Ada juga yang protes karena sudah lelah dan mau beristirahat hari ini. Besok masih harus bangun pagi-pagi untuk Aqisol hari terakhir.
Untuk yang protes, Aylin juga merasakan hal yang sama. Ingin sekali cewek itu bisa tidur lebih awal. Atau paling tidak dalam kasusnya, dia ingin tidur sebelum pukul dua belas. Kalau beruntung sebelum pukul sebelas.
Sesuai "perintah", kini hampir semua TPK sudah berkumpul di aula besar selepas evaluasi. Beberapa ada yang masih diluar untuk membeli makan, urusan lain, atau hanya sekedar menghirup udara segar sebelum menguatkan diri untuk malam ini.
Aylin sendiri tengah mencoba mengistirahatkan dirinya sebentar sambil memejamkan mata. Dirinya bersandar pada dinding. Di sebelahnya ada Rima yang tengah menghabiskan makan malamnya sambil sesekali mengobrol dengan Megan dan Tiara.
"Capek banget ya Lin?" tanya Megan. Namun, hanya dijawab gumaman pelan oleh Aylin.
"Untung hari ini aja aku sama Frans yang ambil alih," Rima berujar, "Kurang tidur dia dari seminggu yang lalu."
"Jangan sampai tumbang lagi ya Mbak Lin ," kata Tiara. Masih ingat jelas bagaimana waktu itu Rima mengabarkan di grup TPK kalau Aylin sakit. Apalagi waktu itu sedang diambil alih David.
Aylin hanya merespon dengan mengacungkan jarinya membentuk symbol "ok" tanpa membuka mata. Raut wajahnya benar-benar kelelahan.
"Udah yuk. Biarin si Alin nyuri-nyuri istirahat bentar. Nanti kita beritahu kalau Mas Teguh udah mau ke sini," Megan berujar kemudian.
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Teguh dan beberapa senior bersamanya datang. Semua TPK sudah ada di aula besar. Termasuk Frans yang dari sore izin untuk mendampingi calon duta kampus FT.
Aylin lalu menyiapkan anggotanya untuk berbaris rapid an dalam posisi berdiri tegap. Setelah itu Aylin memosisikan dirinya di sisi paling kanan.
Di depan mereka, ada tujuh senior berdiri dengan raut wajah tanpa ekspresi. Empat diantaranya merupakan senior angkatannya Zul. Bahkan mantan ketua TPK tahun lalu itu hadir.
Teguh berdiri di tangah. Cowok berambut agak gondrong itu belum mengeluarkan sepatah kata apapun. Tidak ada yang berani bersuara sedikitpun.
Setelah keadaan hening selama beberapa, akhirnya si Raja Teknik membuka suara.
"Ada yang tahu kenapa kalian dikumpulkan di sini malam-malam?"
"Siap, belum tahu Kak!" semua TPK menjawab serempak. Walau ada yang bisa mengira-ira, tetapi mereka lebih memilih diam. Itupun sudah jadi kesepakatan di grup whatsapp mereka sebelum ke sini.
"Kalian dikumpulkan di sini karena kami dengar ada berita yang kurang menyenangkan," kata salah satu senior cewek yang hadir. Hanya ada dua cewek di sana. Itupun semua angkatannya Zul.
"Kejadian yang mencoreng nama panitia, terutama kalian sendiri!" lanjutnya agak sinis.
Semua TPK terdiam.
"Kalian tahu apa kesalahan kalian?" tanya Teguh kali ini. Nada bicaranya terdengar tidak main-main.
"Siap, kami tahu!"
Siapa yang tidak tahu kesalahan yang dimaksud Teguh? Menjawab tidak sama saja bunuh diri. Apa lagi kalau bukan masalah Guntur dan seorang maba dari gugus Jayapura? Ditambah Aylin yang nyaris saja kelepasan karena amarah yang bergejolak tempo itu. Dan kesalahan lain yang kurang begitu terlihat.
Ditempatnya, Aylin menelan ludah dengan gugup. Mewanti-wanti apa yang akan dilakukan Teguh untuk menyidang mereka.
"Kalau kalian tahu, kenapa kalian masih melakukannya?!" Teguh mulai menggikan suaranya.
"Kalian seharusnya tahu masuk panitia, terutama jadi TPK, itu buat apa!"
"Oh, apa karena kalian merasa sudah jadi senior, kalian bisa berbuat seenaknya?!"
"Tidak, kak!" sangkal semua TPK.
"Alah! Alasan!" seloroh sinis salah satu senior bernama Wisnu.
"Perlu diingat lagi ya," kali ini Zul berujar dengan tenang. Namun, masih terdengar tegas.
"Kalian panitia itu tugasnya buat membantu sama mengayomi adik tingkat kalian yang baru masuk. Sebagai TPK itu tugasnya buat menjaga kedisiplinan dan keamanan. Bukan untuk balas dendam!"
"Sepertinya kami salah mengira kalau kalian benar-benar pantas buat jadi TPK," kata Teguh kemudian.
"Alin," panggilnya ke Aylin.
"Siap, Kak!" Aylin berseru di tempatnya. Pandangannya fokus ke Teguh.
"Sebagai ketua, kau harus terus menekankan tujuan utama kalian di sini, sampai detik ini, itu buat apa. Kau itu ketua! Sudah jadi tanggung jawabmu memimpin dan memastikan anggotamu tetap sefrekuensi. Atau kau malah sengaja membiarkannya dan ikut-ikutan berbuat seenaknya?!"
"Tidak, Kak!"
"Tidak apa?!"
"Saya tidak membiarkan sikap menindas dan seenaknya dari anggota saya dan panitia lain, Kak."
Dan itu terkesan lebih menyeramkan. Apalagi kalau sudah lama diam, tiba-tiba meledak.
"Kau bilang seperti itu. Tapi nyatanya anggotamu justru melanggarnya dan malah berulah di depan banyak maba," kata seorang senior bernama Jalu dengan sinis.
"Kami tahu karena sudah kesebar. Benar-benar memalukan!" timpal Wisnu, "Coba kalau tidak sampai viral, apa kalian akan tetap membiarkan itu terjadi? Diam-diam ditutupi biar orang lain tidak tahu."
"Nasi sudah jadi bubur. Kalian mau apa buat memperbaikinya? Toh sudah kejadian juga. Kalian mencoreng nama baik kalian sendiri, dan menghilangkan kepercayaan maba ke kalian," kata Zul.
Salah satu keahlian Zul ketika sidak atau sidang seperti ini adalah membuat lawan bicaranya merasa sangat bersalah. Bahkan saat jadi ketua TPK tahun lalu, Zul lebih sering menggunakan guilt trip saat menghukum maba, selain hukuman fisik.
"Hukuman apa yang pantas buat kalian kalau seperti ini? Seharusnya kalian sadar diri dengan posisi kalian, tahunya malah keblinger. Kalau dibiarkan terus, belum tentu kedepannya tidak berulah!" ujar Teguh kemudian. [keblinger: sesat, keliru]
Uh, oh! Malam panjang yang sebenarnya baru akan di mulai!
.
.
.
Setelah melakukan puluhan kali sit up dan squat jump diiringi teriakan-teriakan dari para senior, tidak lupa bonus ke Aylin yang harus lari keliling lapangan belasan kali di awal, semua TPK bisa sedikit bernafas lega. Yah... walaupun lelah dan kena mental juga, setidaknya mereka sudah mendapatkan pelajarannya.
Kenapa Aylin mendapat hukuman tambahan?
Karena dia adalah ketuanya. Untung saja tidak sampai puluhan atau ratusan kali seperti jumlah maba yang bolos Aqisol. Para senior itu masih punya sisi manusiawi dalam hukum menghukum.
Bisa-bisa nanti viral dan Aylin tidak mau jadi pusat perhatian.
Sekarang ini, Teguh tengah menegaskan kembali tujuan ikut jadi TPK, tugas TPK, dan soal peringatan dari Pak Rudi tadi pagi.
Iya, Teguh tahu soal itu. Entah dari mana Aylin tidak tahu tetapi juga tidak merasa heran.
"Kalian mengerti?!" Teguh bertanya dengan keras kemudian.
"Siap, kami mengerti!" dijawab oleh para TPK.
"Saya bilang, APA KALIAN MENGERTI?!"
"SIAP, KAMI MENGERTI!"
Dan sebagai penutup, para TPK melakukan push up lima seri—lebih banyak dari hukuman sebelumnya—sebagai hukuman fisik ketiga. Keempat kalau versi Aylin. Bukan apa-apa, itu memang sudah kesepakatan dari awal hukuman apa yang akan mereka lakukan dan disaksikan para senior.
Para senior juga tidak memaksa. Namun, para TPK kita ini yang harga dirinya begitu tinggi. Ketika mereka sadar kesalahan, meski itu satu dua orang yang berbuat salah, mereka harus membayarnya sebagai penebusan.
Memang terdengar aneh dan, apa sih? Namun, itulah mereka yang sudah tertanam jiwa satu korsa dan rasa saling menanggung beban.
Teguh dan senior yang lain diam-diam sampai terkesan dengan solidaritas TPK tahun ini.
Dipimpin Aylin, para TPK melakukan push up. Sekali lagi Teguh berkata dengan nada keras. Niatnya untuk memberikan semangat ke juniornya itu untuk menyelesaikan hukuman mereka. Walau terkesan memarahi.
Ketika selesai, para TPK kembali berdiri ke posisi semula. Banyak yang menahan kesakitan dan rasa pegal. Di tempatnya, Aylin tetap diam tanpa menunjukkan ekspresi apapun.
Jangan salah, dia sebenarnya sudah sangat lelah dan pegal-pegal. Namun, memilih untuk tidak menunjukkannya.
Setelah ditutup dan dibubarkan oleh Teguh, akhirnya mereka bisa benar-benar bernafas lega. Teguh dan kawan-kawan menyemangati para TPK yang sudah berusaha sampai sejauh ini dan masih ada perjuangan yang harus dipungkaskan.
Teguh dan yang lainnya tidak benar-benar jahat kok. Hanya terkenal sangat disiplin dan tidak mentoleril hal-hal yang berbau menindas dan di luar batas. Apalagi Teguh sangat disegani di kalangan mahasiswa karena cowok itu kepimpinannya sangat bagus.
Kemudian, satu persatu mereka keluar. Aylin pulang bersama Rima karena memang seasrama. Namun, dirinya keluar aula paling akhir karena harus mengecek perlengkapan yang disiapkan untuk Aqisol hari terakhir. Sekaligus menutup aula, walau cewek itu tahu masih ada beberapa anak perkab dan PDD yang lemburan dan menginap, tetapi sedikit meringankan pekerjaan mereka tidak ada salahnya.
Saat sudah keluar asrama, Aylin tidak sengaja melihat seseorang yang sangat familiar di parkiran.
"Kau?" ujarnya terkejut. Siapa sih yang tidak kaget kalau bertemu seorang maba—apalagi maba itu yang suka mencari masalah dengannya—tengah malam seperti ini?
"Kenapa masih di area kampus?" tanya Aylin.
"E-eh..." maba itu terlihat gelagapan. "Saya habis latihan unjuk bakat buat duta kampus, Kak."
Aylin memicingkan mata curiga. Sampai selarut ini?
"Selarut ini?"
"Iya, Kak. Sama teman saya, tapi dia udah pulang duluan. Tadi habis latihan buat pensi juga," cowok itu menunjuk sebuah gitar yang bersender manis di sepeda motornya.
Aylin hanya mengangguk singkat. Sudah terlalu malas untuk menginterogasi lebih lanjut. Entah jujur atau tidaknya 0057, saat ini cewek itu sedang tidak mau ambil pusing. Dia hanya ingin segera bertemu kasur dan mengistirahatkan dirinya.
"Sebaiknya kau langsung pulang. Besok masih harus berangkat pagi-pagi," katanya kemudian. Mengusir halus lebih tepatnya.
Lagi-lagi maba 0057 itu memanggilnya dan menghentikan langkahnya ketika hendak berjalan pulang. Menyusul ke tempat di mana Rima memakirkan sepeda motornya.
"Kak Aylin!"
Aylin menahan dirinya untuk tidak ngedumel. Cewek itu lalu berbalik dan menatap ke arah Kayvan. Memberi isyarat bertanya.
"Kenapa kakak terlihat benci pada saya?"
Pertanyaan tak terduga. Cewek itu cukup terkejut mendengarnya.
"Saya tidak pernah benci padamu," dia berujar kemudian.
"Saya hanya tidak suka sikapmu yang selalu menentang dan mempertanyakan seniormu."
"Tapi saya juga melakukannya untuk teman-teman saya," maba itu membela diri.
Tatapan Aylin menajam begitu mendengar alasannya.
"Justru itu," Aylin berkata, "Apa yang kau lakukan itu justru merugikan teman-temanmu karena terlalu sering kau bela."
Ketika mendapat tatapan bingung dari cowok itu, Aylin menghela nafas sejenak. Dia memijat pangkal hidungnya sebentar.
"Gini, dengarkan baik-baik," nada bicara Aylin berubah serius. "Satu, dua kali kau melakukannya itu tak masalah. Kebanyakan orang pasti juga bakal melakukan hal sama. Tapi..."
Aylin menekankan kata tapi.
"Kalau caramu seperti itu, dan kau lakukan terus-terusan, yang ada kau hanya memanjakan teman-temanmu. Mereka jadi mengandalkanmu dan meremehkan semua hal karena mereka pikir kau bakalan ada di sana untuk save the day. Dan ketika suatu hari kau lagi ada urusan lain, atau lagi nggak bisa bersama mereka, teman-temanmu bakal kebingungan apa yang harus dilakukan. Mereka jadi nggak bisa mengandalkan kemampuan mereka, jadi ragu pada diri sendiri," jelas Aylin panjang lebar.
"Jangan terlalu bersikap sok heroik. Di FT nggak butuh semacam itu. FT butuhnya semua orang memanfaatkan potensi masing-masing dan berjuang bersama. Nggak cuman ngandelin satu orang dengan sok jagoan," tambahnya, "Apa kau paham sekarang?"
Aylin melihat maba itu mengangguk perlahan.
"Bagus—"
"Lin!" seseorang memanggil dari kejauhan. Kedua orang itu sontak menoleh ke sumber suara dan mendapati Rima yang duduk di atas motornya berada tidak jauh dari tempat mereka.
"Balik yok!" Rima berseru dari tempatnya. Aylin mengisyaratkan Rima dengan tangannya untuk menunggu sebentar.
Aylin kembali menatap Kayvan. Lalu berkata, "Sebaiknya kau pulang sekarang. Udah mau setengah satu. Paginya masih latihan. Dan aku dengar kau juga tiap malam latihan buat duta kampus. Jangan sok kuat dan jangan sok jagoan. Dengarkan seniormu bicara, jangan jadi pembangkang."
Setelah berkata demikian, Aylin melenggang pergi menuju Rima yang sudah menunggunya. Tidak lagi menggubris atau menoleh ke maba yang masih terdiam di tempatnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
nggak terlalu panjang dan nggak terlalu pendek. maaf kalau cringy ya
bagi yang nggak ngeh, scene terakhir itu ada di part kayvan (lupa chapter berapa 😅)
see you next week, i guess? ^^