Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Love Confession



love confession (noun phrase): a declaration of love


.


.


.


.


[baru minor editing, it's not really a love confession]


.


.


.


.


Hari kedua Aqisol dimulai!


Sesuai dugaannya kemarin, banyak maba yang benar-benar nekat membolos hari ini. Namun, yang membuat Aylin harus menahan dirinya agar tidak frustasi adalah jumlah maba yang bolos melebihi apa yang diperkirakan.


Sangat jauh melebihi.


Bahkan lebih parah dari tahun kemarin. Mungkin yang terparah sejauh yang dia tahu!


Cewek itu memang sudah mempersiapkan dirinya kalau saja ada banyak maba yang membolos hari ini. Namun tidak sebanyak ini!


Lihat saja para maba yang kini tengah pemanasan. Walau masih terlihat banyak dan sekilas tidak ada yang begitu berubah. Namun, kalau diperhatikan lagi kau akan tahu maba yang datang hari ini berkurang.


Semua ketua pemandu masing-masing gugus sudah melaporkan kalau cukup banyak anak gugusnya yang nekat membolos. Bahkan tidak mengabari sama sekali ke pemandu masing-masing.


Ada seratus lebih! Itu tidak dihitung yang sakit atau memang tidak bisa ikut karena alasan medis. Bahkan Aylin yakin ada beberapa maba yang belum dihitung karena tidak bisa dihubungi sejak kemarin.


Sepertinya, kejadian Guntur dan maba kemarin sudah menyebar ke seluruh maba FT. Maksudnya, siapa sih yang tidak tahu kalau kejadian itu terjadi di tengah lapangan? Walaupun ada jarak antarbatalion, tetap saja cerita itu akan menyebar. Aylin tidak tahu harus menyalahkan siapa. Semuanya terlihat semakin berantakan.


Beban pikiran Aylin semakin bertambah. Tiba-tiba rasa sakit kepala mendera hebat.


"Ingat ya Lin, kau nggak sendirian," Megan berujar pelan di sebelahnya. Sepertinya cewek itu menyadari perubahan suasana hati Aylin begitu mendengar laporan dari Tim Pemandu tadi.


Aylin mengangguk samar menanggapi. Merasa berterimakasih ke temannya satu ini. Setidaknya, kepalanya terasa lebih ringan setelah mendengar perkataan Megan.


Dipikir-pikir lagi, seratus lebih maba yang membolos itu terlihat wajar kalau dihubungkan dengan kejadian kemarin. Masih untung lebih dari seribu maba mau datang hari ini.


Selalu ada hikmahnya.


"AYO GERAK CEPAT! JANGAN LELET!"


"...YANG LAMBAN!"


"KUKANG KOK DI CONTOH!"


"HARI PERTAMA MASIH DITOLERANSI..."


Teriakan anggota TPK yang bersautan mengisi pagi ini. Aylin diam mengawasi dengan tatapan setajam elangnya di tempatnya. Teriakan para TPK lalu diiringi para maba yang mulai menyanyikan yel-yel sambil lari pagi keliling lapangan. Lalu dilanjut dengan latihan lain yang dikomando oleh Teodore dan para komandan dengan arahan dari sie lapangan yang bertugas hari ini.


Kegiatan itu berlangsung hampir dua jam dengan jeda lima menit beberapa kali. Setelah itu, para maba kembali istirahat dengan durasi sepuluh menit. Para TPK membiarkan mereka mengambil air minum atau berteduh.


"Lin, minum dulu Lin," Rima memanggil. Cewek itu lalu menyodorkan sebotol minuman ke sahabatnya.


"Makasih Ma," kata Aylin sambil menerima minuman pemberian Rima.


"Yo'i!"


"Neduh dulu sini," kata Rima kemudian. "Kan nggak lucu kalau ketua TPK kita malah jatuh pingsan."


Aylin tersenyum tipis mendengarnya dan mengiyakan ajakan Rima.


Mereka mengobrol sambil beristirahat sejenak. Tak lupa memastikan kalau maba tidak mendengar atau melihat.


Ya, mereka harus menjaga karakter sebagai penegak kedisiplinan yang kaku dan mengintimidasi. Mereka harus tetap memakai topeng di depan maba selama inaugurasi. Baru setelah semuanya selesai, mereka bisa bebas.


Itu konsekuensinya memang.


Sepuluh menit berlalu, para TPK kembali ke posisi masing-masing. Aylin sudah berada di tengah lapangan dengan toa pelantang di tangannya. Dia lalu membunyikan sirine untuk menandakan waktu istirahat sudah habis.


Persetan dengan keluhan maba yang terdengar. Di sini, panitia yang memberikan aturannya.


"Duduk siap, grak!" terdengar ketua angkatan berseru lantang ketika maba sudah duduk dan berbaris rapi.


Para TPK kali ini tidak mempermasalahkan suara tepukan yang terdengar tidak kompak. Ada hal yang lebih penting dari itu.


"Selamat pagi!" Aylin berseru menyapa kemudian.


"Pagi!" para maba menjawab.


Aylin mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh maba sebelum berujar, "Saya lihat hampir seluruh dari kalian masih bertahan. Cukup mengesankan!"


"Tapi sayangnya, cukup banyak dari kalian yang sepertinya tidak menganggap kegiatan ini berguna dan memilih membuangnya. Melarikan diri dan meninggalkan teman-temannya yang berpanas-panasan di lapangan," lanjutnya dengan nada menyindir dan dramatis. Dia mungkin akan berterima kasih kepada Budi setelah ini.


Tidak ada respon dari para maba.


"Saya ingin tahu, kemana teman-teman kalian yang tidak hadir?" tanya Aylin tajam.


Sekali lagi tidak ada yang menjawab.


"Saya tanya, kemana mereka?!" Aylin meninggikan suaranya.


Masih tidak ada yang menjawab. Bahkan mayoritas maba lebih memilih untuk menundukkan kepala.


"KALAU ADA YANG BERTANYA, DIJAWAB!"


Habis sudah kesabaran Aylin.


"Tidak tahu, Kak..." beberapa menjawab dengan lirih.


"KENAPA BISA TIDAK TAHU?!" bentak Aylin dengan sinis. "Mereka itu teman kalian bukan?!"


"Sepertinya bukan teman Kak!" salah satu anggota TPK, entah siapa tetapi dari suaranya sepertinya Enggar, berseru. Lalu, beberapa TPK lainnya ikut berkomentar dengan nada sinis dan menyindir.


"Seratus lebih yang bolos, tidak ada kabar," kata Aylin dengan ketus kemudian.


"Rekor baru!"


Beberapa TPK terlihat bertepuk tangan mencemooh.


Aylin lalu kembali melanjutkan ceramah­nya. Dia menyindir soal Teodore yang tadi berkata kalau mereka satu tim. Karena tim itu adalah kelompok yang saling menanggung beban, jadi mereka yang hadir di sini juga mendapatkan sanksi yang sama dengan yang bolos.


Cewek itu bilang kalau semua maba harus dihukum lari keliling lapangan dan push up masing-masing seratus kali. Konsekuensi sebagai satu tim.


Perkataan Aylin yang terdengar kontroversial itu tentu saja mendapat respon heboh dari maba yang sejak tadi diam. Banyak raut wajah tak percaya terpetak dan protesan kecil dari mereka. Tidak terima dengan hukuman yang diberikan.


"Saya Kayvan, 0057, dari Gugus Jayapura, izin bicara!"


Suara lantang memecah suasana. Siapa lagi kalau bukan dari maba kesayangan kita, Kayvan?


Aylin menahan diri untuk tidak mengerang kesal. Dengan dingin, cewek itu mempersilakan maba pembuat masalah itu bicara.


Cowok itu bahkan berani-berani menatapnya dengan sok jagoan dan tidak sopan. Kewanen! [terlalu berani]


"Izin bertanya, kalau saya menyampaikan alasan kenapa teman-teman tidak bisa hadir, apakah hukuman bisa diringankan?"


Aylin mengangkat sebelah alisnya mendengar pertanyaan maba 0057. Mau apa lagi cowok itu? Sudah jelas-jelas banyak yang membolos tanpa keterangan. Menyusahkan pemandunya saja!


"Tergantung," jawabnya singkat. Mari kita dengar apa yang akan dikatakan cowok itu.


"Kau mencoba main-main?"apa maba 0057 itu buta?


Dia menggeleng, "Tidak, Kak. Teman-teman saya sebenarnya berangkat, Kak. Mereka menitipkan semangatnya kepada kami yang berangkat di sini."


"Oh? Menitipkan semangat ya? Baik sekali!" Aylin mencemooh.


"Mereka juga menitipkan hatinya kepada saya. Jadi itu secara tidak langsung mereka hadir bersama kami di sini."


"Kau sepertinya punya banyak ruang untuk menerima titipan hati teman-temanmu," Aylin meladeninya dengan sinis.


"Karena hati saya sepenuhnya sudah saya berikan kepada Kak Aylin!" ujarnya lantang sambil menyeringai tipis.


"EEIIII~!!!"


"CIIEEE....!!"


Aylin melotot tajam mendengarnya. Tangannya mengepal kencang sampai buku-buku jarinya memutih. Cewek itu tidak menghiraukan suasana yang berubah menjadi heboh dan geger karena perkatan tidak masuk akal dari maba 0057.


Cewek itu sekarang benar-benar menahan amarah. Dia merasa dipermalukan!


Berani-beraninya dia?!


"MABA KAYVAN 0057!" teriak Aylin dengan geram, "Push up tiga seri dan keliling lapangan tujuh puluh kali!"


"SEKARANG!"


"Dan buat semua maba!" Aylin lalu beralih ke seluruh maba. Matanya berkilat marah.


"Squat jump sepuluh seri, sekarang!"


Seseorang memegang pundak kanan Aylin yang tegang. Cewek itu menoleh dan melihat Megan menatapnya dengan sorot mata khawatir.


"Tahan dirimu Lin," ujarnya pelan sambil menepuk-nepuk pundaknya pelan. "Tarik nafas dulu, tenangkan diri dulu. Jangan sampai kelepasan emosi."


Aylin menuruti saran Megan. Nyaris saja dia kelepasan. Bahkan saat menyuruh semua maba, termasuk 0057, untuk melakukan hukuman, dia berusaha mati-matian menahan diri.


Dia merasa jengkel. marah, dan dipermalukan di depan umum. Rasa tidak sukanya kepada maba bernama Kayvan dari Gugus Jayapura semakin meningkat.


Sialan memang!


Cewek itu lalu kembali mengawasi para maba yang melakukan hukuman di tengah lapangan setelah berhasil menenangkan diri. Megan berdiri tak jauh darinya. Cewek berhijab itu memang sejak tadi bertugas tidak jauh darinya. Jadi dia cukup cepat menyadari suasana hati Aylin yang memburuk setelah mendengar perkataan Kayvan.


Mata Aylin yang awas memperhatikan semua maba yang tengah melakukan squat jump. Cewek itu menyipitkan matanya ketika melihat ada sesuatu yang janggal di barisan belakang batalion tiga.


Oh tidak! Jangan lagi!


Ingatan kejadian tahun lalu sekelebat berputar. Tanpa aba-aba, Aylin berlari mendekat.


"Jangan ada yang berkerumun!" teriaknya. Cewek itu menerobos kerumunan maba sambil menyuruh mereka untuk menyingkir.


Benar ternyata. Kejadian yang sama seperti tahun lalu. Ada maba jatuh sakit di tengah-tengah latihan.


"TIM MEDIS!" cewek itu kembali berseru sambil membantu maba itu untuk berada di posisi yang lebih nyaman. Tak berapa lama, Imah datang bersama beberapa Tim Medis. Dengan sigap, cewek berhijab yang merupakan ketua Tim Medis FT itu segera menangani maba berkacamata yang sepertinya asmanya kambuh.


Imah lalu meminta Aylin untuk membantunya memegangi maba itu, sementara dirinya memasangkan oksigen. Ketika maba itu sudah lebih tenang, Imah menyuruh salah satu anggotanya untuk membopong maba itu ke posko.


Aylin segera memerintahkan semua maba untuk kembali ke posisi masing-masing. Sementara dirinya dengan cemas mengikuti Tim Medis yang membawa maba itu untuk memastikan semua baik-baik saja.


Dia merasa sangat bertanggungjawab dengan segala apa yang terjadi di Aqisol.


Keadaan diambil alih oleh Naufal, sang ketua Ospek. Cowok itu menyuruh semua maba menyudahi hukuman mereka. Termasuk Kayvan.


Naufal lalu kembali mengingatkan dan menekankan kembali soal masalah medis. Bahkan sejak TM, cowok berpotongan cepak itu selalu bilang ke maba kalau mereka merasa tidak kuat, merasa sakit, atau alasan medis lainnya, untuk segera bilang ke panitia terdekat. Semua panitia ada dan berjaga itu juga buat memastikan para maba baik-baik saja. Jangan coba-coba memaksakan diri. Jangan sok kuat karena mereka-lah yang tahu batas kemampuan mereka.


"Hari ini buat refleksi. Mulai besok, jangan lupakan apa yang saya sampaikan tadi. Ajak juga teman-teman kalian yang masih bolos. Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa kalau kalian menghindar," Naufal berkata, "Jangan jadi pengecut! Tunjukkan kalau kalian memang maba FT!"


"Dimengerti?!"


"Mengerti!"


Banyak yang tidak menyadari ada seseorang melihat semua kejadian yang terjadi dari seberang lapangan. Sebelum orang itu berlalu pergi ke arah Gedung Dekanat.


"Sialan c*k! Pak Rudi lihat," seorang TPK yang berdiri di pinggir lapangan berujar kasar dengan pelan. Sadar kalau dia sedang berada di mana.


"Harus kasih tahu Alin sama Nopal!" timpal TPK di sebelahnya.


"Bener!"


.


.


.


Keesokan harinya, Aylin memimpin briefing pagi itu di basecamp. Briefing khusus TPK sebelum berlanjut ke seluruh panitia setelah ini.


"Frans, hari ini kau ambil alih dulu. Kuserahkan semuanya padamu," Aylin berkata ke Frans. "Nanti dibantu Rima."


"Terus pendamping batalion empat gimana Lin?" tanya Rima menyela.


"Sementara dipegang Guntur sama Riana," jawab Aylin, "Oh iya, sama batalion lima juga. Adi nanti ikut aku bentar. Sementara digantikan Burhan." Orang yang bersangkutan mengangguk mengerti.


"Buat sie lapangan tahu kan ya tugasnya ngapain. Intinya, PJ sementara hari ini Frans. Jadi kalau ada apa-apa ke Frans dulu," lanjutnya.


"Oh ya, Lin. Soal Pak Rudi gimana jadinya?" tanya Burhan beberapa saat kemudian. Semua panitia sudah tahu soal kejadian kemarin. Di mana, tanpa sengaja, Pak Rudi melihat ada maba yang tumbang saat Aqisol berlangsung. Mana pas Aylin menghukum maba lagi!


Kebetulan yang kurang beruntung.


Oleh karena itu, panitia menjadi cukup was-was dengan apa yang akan dikatakan Pak Rudi. Secara beliau adalah Wakil Dekan III Fakultas Teknik yang tugasnya berhubungan langsung dengan mahasiswa. Apalagi segala kegiatan inaugurasi atau organisasi di FT harus melalui persetujuan Pak Rudi.


Mahasiswa FT mengenal Pak Rudi sebagai pribadi yang humoris dan dekat dengan mahasiswanya. Namun, dibalik itu, pria paruh baya itu benar-benar tegas dan tidak suka segala perundungan di FT.


Aylin menghela nafas sebelum berujar.


"Nanti aku, Naufal, sama Adi mau menghadap beliau."


Dapat dilihat dari ekspresi Aylin kalau cewek itu nampak gugup. Semua anggota TPK hanya bisa menyemangati dan mendukung ketua mereka.


.


.


.


.


.


.


a.n.


part pendek lagi


nah di sini udah pada tahu kan alasan aylin kenapa pas di part kayvan di hari kedua aqisol, dia nggak muncul. malah diambil alih frans


dan kira-kira apa ya yang bakal dibicarakan sama Pak Rudi? apa itu terkait perundungan? hukuman? atau malah ospek bakal di larang di FT?


itu bakal dikasih tahu besok.


bagi yang baca, tuh tak kasih clue dikit :D


see you next part!