![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Ignorance is bliss (phrases): if you do not know about something, you do not worry about it
.
.
.
[semua chapters belum diedit menyeluruh, baru minor editing. jadi maafkan kalo ada yang typo atau kalimat yang berbelit]
.
.
.
.
"Sebenernya kita ngikutin Aqisol buat apaan sih? Kita 'kan bukan maba FO."
Terlihat beberapa maba yang tengah beristirahat makan siang di gazebo dekat kantin FT.
"Nah bener!" satu maba menyahuti temannya, "Kalau anak FO wajar 'kan ya disuruh push up, sit up, lari, capek banget! Lah kita anak FT buat apa coba?"
"Hei, kalian apa nggak khawatir kalau TPK mendengarnya?" maba yang lain berujar. Dia terlihat khawatir.
"Biarin saja," maba yang pertama berkata dengan santai, "Lagipula, mana mungkin mereka menghafal kita semua. Mereka juga palingan setting-an juga 'kan?"
"Jujur ya, kalau bukan karena ospek itu wajib dan syarat yudisium, aku nggak mau ikutan. Apalagi Aqisol, menurutku kurang ada faedahnya selain bikin capek," kata maba kedua.
Ya, UHW memiliki aturan yang mengharuskan semua mahasiswa baru harus mengikuti inaugurasi sebagai syarat yudisium kelak.
Obrolan mereka lalu berganti topik lain. Tadi mereka juga datang belakangan, karena kantin masih ramai. Jadi, ketiganya tidak ikut menyaksikan Kayvan, pentolan angkatan mereka, melakukan tantangan dari ketua TPK di kantin FT.
Bahkan ketika membahas masalah penting tidaknya Aqisol tadi, mereka bertiga tidak menyadari ada seseorang yang tidak sengaja mendengarnya. Orang yang mengenakan dresscode kaos dan celana olahraga itu kebetulan lewat di samping gazebo yang mereka tempati sehabis dari kantin membeli minuman. Orang itu sempat terhenti sejenak, sebelum berlalu pergi. Tanpa ada yang menyadari dan memperhatikannya.
.
.
.
Pukul empat sore, Kayvan sudah berada di auditorium untuk melakukan sesi pemotretan duta kampus. Ruangan auditorium yang luas telah disulap seperti tempat pemotretan pada umumnya. Di sudut ruangan yang kosong dijadikan tempat tata rias untuk merias peserta duta kampus agar terlihat natural dan tidak pucat saat difoto nanti.
Pemotretan dilakukan secara bergilir sesuai urutan yang ditetapkan panitia. Dresscode para peserta adalah setelan hitam putih UHW (dengan pin atau nama fakultas di baju atau dasi mereka), kaos kaki putih panjang, dan sepatu pantofel. Intinya, mereka memakai seragam sesuai ketentuan hari pertama Isimaja protokoler dan segaram hari senin pas kuliah.
"Eh, Kai?" sapa Rian agak pangling dengan penampilan Kayvan.
"Rambutmu kemana, bro?" tanya Rian dengan nada bergurau.
Kai hanya tersenyum simpul sambil menyapukan tangan kanannya ke rambutnya yang sudah tipis alias botak tiga senti.
Yah meskipun botak, Kayvan tetap terlihat tampan. Malah terlihat lebih kharismatik ala-ala taruna atau anak paskib. Terlihat ada beberapa maba dan panitia cewek mencuri-curi pandang ke arahnya sejak kedatangannya.
"Ini si Angga juga sama tuh," Damar ikut berkomentar, sambil menunjuk Angga yang baru saja tiba.
"FO sama FT emang ketentuan ospeknya harus cukur rambut," kata Angga. Kai mengangguk menyetujui.
"Untung fakultasku nggak gitu ya," ujar Damar. Fakultas Hukum, sama seperti hampir semua fakultas yang lain, hanya mengharuskan maba laki-laki mereka untuk potong rapi. Damar tidak bisa membayangkan dirinya harus dibotaki seperti Angga dan Kayvan.
"FBS lebih enak dong, hahaha!" Rian berujar. Rambutnya masih tetap gondrong sebahu seperti kemarin-kemarin. Hanya saja, kali ini cowok itu mengucir separuh rambutnya tanpa menyisakan poni. Seperti ketentuan Isimaja fakultasnya untuk maba laki-laki yang berambut gondrong.
"Yeee... itu sih nggak nanya!" sahut Damar.
Sambil menunggu giliran, mereka berbincang-bincang seputar ospek, duta kampus, dan hal-hal random lain. Mereka juga dirias sebelum melakukan pemotretan. Tenang saja, hanya bedak tipis dan disemprotkan toner agar terlihat segar saat di foto nanti.
Perwakilan pertama yang dipanggil adalah dari FIP, lalu FMIPA, FBS, dan seterusnya sampai perwakilan Fakultas Filsafat yang terakhir. Perwakilan FT sendiri mendapat urutan nomor enam setelah Fakultas Hukum. Sepertinya, urutan peserta dari tiap fakultas diurutkan berdasarkan dari fakultas pertama atau tertua di UHW. Dan Fakultas Filsafat merupakan fakultas termuda sejauh ini. Posisi itu juga nantinya akan tergeser dengan fakultas baru yang sedang dalam proses pembangunan. Fakultas yang baru nantinya adalah Fakultas Kehutanan yang sampai saat ini masih merupakan salah satu jurusan di Fakultas Pertanian (dan Kehutanan) UHW. Rencana itu sudah menjadi rahasia umum dan juga sudah ada konfirmasi dari pihak kampus.
Nanti malam pukul setengah delapan, Kai juga harus ikut latihan untuk pensi pembuka bersama perwakilan duta lainnya. Lalu esoknya, Kai juga harus bangun pagi-pagi untuk acara Aqisol.
Benar-benar padat dan melelahkan. Bahkan dia belum sempat memikirkan apa yang akan dia siapkan untuk rekaman video kampanye dan bakat apa yang akan dia dan Freya tampilkan nantinya. Belum lagi penugasan Isimaja yang harus dikerjakan, terutama berburu tanda tangan. Untungnya, kakak pemandu gugusnya memberikan suplemen dan food support untuknya. Bahkan Teo dan yang lain juga berinisiatif memberikan vitamin dan mental support untuknya agar tidak tumbang dengan jadwal yang begitu padat. Dan Kayvan sangat bersyukur akan hal itu, meski dia masih kepikiran dengan Ridwan dan tragedi di kantin tadi yang mengacaukan mood-nya, dirinya harus bisa fokus dan tetap menjalaninya sesantai mungkin.
Kai juga belum bertemu Frans, selaku mentornya, selain di kantin tadi. Senior itu juga bilang kalau baru besok dia benar-benar bisa menemuinya karena ada urusan yang harus diselesaikan. Namun, Kai bisa menemui Vera kalau misal butuh apa-apa, karena senior cewek itu bakalan hadir di sesi pemotretan dan latihan nanti malam.
Ada beberapa hal yang besok mau dibahas kata Frans. Sayangnya, dia tidak menyebutkan tentang hal apa secara rinci.
Mungkin masalah di kantin tadi.
Atau bisa jadi hal lain terkait duta kampus.
Sesi foto dilakukan secara individu. Jadi, tiap perwakilan akan di foto sendiri-sendiri secara terpisah. Tidak barengan. Namun, tetap pada urutan nomor fakultasnya.
Saat ini adalah giliran Freya, partner Kai sesama FT. Bahkan Freya yang awalnya berambut panjang, kini rambutnya pendek menggantung di atas bahu. Rambutnya yang pada dasarnya bergelombang, terlihat manis dan cocok untuk bentuk wajah Freya. Katanya, dia sengaja memotong rambutnya biar tidak gerah saat agenda Aqisol. Dan bukan juga karena keterpaksaan adanya opsi aturan maba perempuan yang tidak berhijab untuk potong rambut.
Lagipula dia juga bukan tipe cewek yang tidak tega rambut panjangnya untuk dipotong. Meskipun banyak temannya yang menyayangkannya.
Setelah Freya selesai dengan sesi fotonya, kini tiba giliran Kai. Cowok itu lalu melangkah maju begitu namanya dipanggil. Dia menempatkan dirinya di latar putih yang memang dipasang untuk sesi foto dan berpose sesuai arahan fotografer yang bertugas.
Tukang fotonya pun adalah mahasiswa UHW itu sendiri. Yang berasal dari panitia bagian tim media. Kemampuan mereka juga tidak perlu diragukan lagi karena mahasiswa yang bergabung di tim media pemilihan duta kampus tentu memang ada bakat dibidangnya. Bahkan ada juga yang tergabung dalam anggota UKM Serufo, Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Rupa dan Fotografi, merupakan UKM universitas yang menampung orang-orang yang tertarik dan memiliki potensi di sana. UKM itu juga tidak jarang mengadakan pameran dan perlombaan.
"Senyum senatural mungkin, pertahankan posenya. Yak, bagus! Dalam hitungan satu, dua, ti–ga..."
Sambil berpose santai—dengan tangan kiri di saku celananya, Kai melemparkan senyum andalannya ke arah kamera. Beberapa kali mengambil gambar, sebelum si tukang foto menyudahinya.
"Yok, lanjutnya!"
.
.
.
Hari kedua Aqisol dimulai!
Hari ini dimulai sangat tepat waktu dibanding kemarin tanpa toleransi sedikitpun. Suara sirine toa pelantang berbunyi keras menandakan bahwa semua maba harus menyudahi sarapannya dan segera berbaris dengan rapi. Para komandan lapangan juga sudah mulai bertugas dengan mengarahkan teman-temannya.
Teriakan-teriakan para sie lapangan—beberapa TPK yang bertugas dan perwakilan Menwa—benar-benar menguji mental para maba yang masih terlihat lamban di mata para senior. Sebenarnya teriakan yang menguji mental itupun berasal dari TPK. Sementara Menwa lebih memilih membantu mengatur dan mengarahkan maba tanpa teriakan.
"AYO GERAK CEPAT! JANGAN LELET!"
"ORANG LAIN NGGAK ADA WAKTU BUAT MENUNGGU KALIAN YANG LAMBAN!"
"KUKANG KOK DICONTOH!"
"HARI PERTAMA MASIH DITOLERANSI, TAPI TIDAK UNTUK HARI INI DAN SETERUSNYA!"
Dan berbagai teriakan lainnya yang mengiringi pagi itu.
Setelah semua maba berbaris dalam kelompok mereka, dengan aba-aba dari Teo di kelompok pertama, mereka lalu memulai pemanasan pagi itu dengan lari mengelilingi lapangan sebanyak sepuluh kali. Kali ini, mereka berlari sambil menyanyikan yel-yel penyemangat yang merupakan salah satu yel-yel yang diajarkan pas TM.
"...Kami siap, kami cepat! Kami tangkas, kami kuat! Karena kami jawaranya..."
"...Merah marun tekadku, rajawali jiwaku. Tak terkalahkan, tuk bangun nusantara satu..."
"FT, FT! FT! FT! FT! HOY!"
Bahkan mereka menyambung yel-yel dengan beberapa baris penggalan lirik lagu Cendol Dawet. Namun, dengan nada yang dibuat tegas.
"...Ji ro lu pat, tak gintak-gintak, tak gintak-gintak...."
Para maba mengulang yel-yel sampai mereka menyelesaikan kesepuluh putaran. Kemudian, mereka berbaris dalam batalion masing-masing, mengistirahatkan diri selama beberapa menit sebelum diperintahkan untuk melakukan latihan selanjutnya.
Semua berjalan dengan normal. Di mana maba dikomando untuk melakukan push up, squat jump, bahkan lari dalam barisan dari satu sisi lapangan ke seberangnya dengan waktu yang ditentukan. Hari kedua sudah mulai bermain dengan timer. Mau tidak mau para maba harus menyesuaikan diri dan para komandan harus bisa mengomando kelompoknya dengan baik sesuai arahan dari sie lapangan yang bertugas.
Hampir dua jam mereka melakukan semua itu, dengan beberapa jeda lima menit untuk beristirahat mengatur nafas. Para maba kini kembali beristirahat dengan durasi sepuluh menit dan mereka memanfaatkannya untuk mengambil minum dan menepi di tempat yang lebih teduh. Tim medis yang berjaga segera mengecek apakah ada yang sakit atau tidak dibantu dengan para pemandu.
Sirine toa pelantang kembali berbunyi setelah sepuluh menit berlalu. Keluhan maba yang masih lelah dan belum puas beristirahat tentu tidak akan digubris oleh para sie lapangan.
Dengan komando dari Teo dan para komandan lainnya, semua maba yang berada di kelompok batalion masing-masing melakukan duduk siap.
"Duduk siap, grak!"
Disusul bunyi tepukan tangan ke paha yang belum terlalu kompak. Namun, anehnya para TPK terlihat tidak mempermasalahkannya.
Terlihat sosok ketua TPK—yang kali ini tidak mengenakan korsa blazernya—memegang toa pelantang dan berdiri di tengah lapangan.
"Selamat pagi!"
"Pagi!"
Aylin mengedarkan pandangannya, menyapu seluruh maba, sebelum berujar, "Saya lihat hampir seluruh dari kalian masih bertahan. Cukup mengesankan!"
"Tapi sayangnya, cukup banyak dari kalian yang sepertinya tidak mengganggap kegiatan ini berguna dan memilih membuangnya. Melarikan diri dan meninggalkan teman-temannya yang berpanas-panasan di lapangan ini."
Dari gugus sembilan belas pun ada yang tidak datang. Semua orang tahu karena alasan apa. Ya, Ridwan tidak berangkat hari ini. Kata Neo, Ridwan memang sengaja tidak berangkat padahal Neo dan yang lainnya mencoba untuk mengajaknya. Dan Ridwan itu yang dasarnya keras kepala, apalagi ditambah kejadian kemarin, jelas menambah alasan untuk menolak mentah-mentah buat hadir di Aqisol.
"Saya ingin tahu, kemana teman-teman kalian yang tidak hadir?"
Tidak ada yang menjawab. Lebih tepatnya, tidak ada yang berani.
"Saya tanya, kemana mereka?!"
Masih tidak ada yang menjawab. Bahkan mayoritas dari maba lebih memilih untuk menundukkan kepala.
"KALAU ADA YANG BERTANYA, DIJAWAB!" Aylin mulai jengkel.
"Tidak tahu, Kak.." beberapa menjawab lirih.
"KENAPA BISA TIDAK TAHU?!" tanya Aylin, lebih tepatnya bentaknya dengan sinis, "Mereka itu teman kalian bukan?!"
"Sepertinya bukan teman, Kak!" seorang anggota TPK berseru menyindir.
Lalu, beberapa TPK lainnya mulai berkomentar dengan nada sinis dan menyindir.
"Katanya satu tim, kok temannya ngilang pada nggak tahu?"
"Pemandunya aja sampai nggak tahu lho, Kak. Saking sibuknya kali jadi nggak mengabari!"
"Bukan sibuk, Kak. Tapi males, nggak penting soalnya. Mending rebahan di kamar!"
"Capek mungkin, Kak. Takut item juga nanti."
"Seratus lebih yang bolos, tidak ada kabar," kata Aylin dengan sengak, "Rekor baru!"
Beberapa TPK terlihat bertepuk tangan mencemooh.
"Ketua kalian tadi bilang kalau kalian satu tim," Aylin kembali berujar. Saat mulai pemanasan dan latihan tadi, Teo memang bilang ke semua maba bahwa mereka adalah tim untuk menyemangati. Dan hasilnya cukup berpengaruh dengan menyelesaikan serangkaian latihan dengan lumayan memuaskan.
"Dan setahu saya, tim adalah kelompok orang yang saling menanggung beban. Jadi, sebagai hukuman mereka yang tidak hadir, mereka harus lari keliling lapangan dan push up masing-masing seratus kali. Dan karena kalian adalah tim, maka hukuman itu akan kalian laksanakan sebagai bentuk solidaritas sebagai tim!"
Keadaan hening di antara maba terpecah dengan raut tidak percaya dan protesan kecil mendengar hukuman yang harus mereka lakukan. Hukumannya terlalu berlebihan!
"Saya Kayvan, 0057, dari Gugus Jayapura, izin bicara!" seorang maba yang duduk di tengah batalion empat berseru lantang sambil mengacungkan tangan kanannya.
Dengan dingin, Aylin mempersilakan Kayvan untuk berbicara. Cowok itu berdiri dan menatap ke arah Aylin dengan berani.
"Izin bertanya, kalau saya menyampaikan alasan kenapa teman-teman tidak bisa hadir, apakah hukuman bisa diringankan?"
Aylin mengangkat sebelah alisnya, raut wajahnya masih datar.
"Tergantung," Aylin berujar kemudian. Hal itu membuat para maba yang mendengarkan sedikit mendesah lega. Setidaknya ada kemungkinan walau sangat kecil.
"Saya mau mengatakan kalau teman-teman yang tidak berangkat itu bukan karena malas. Mereka sebenarnya berangkat, Kak!"
"Kau mencoba main-main?"
Kai menggeleng, "Tidak, Kak. Teman-teman saya sebenarnya berangkat, Kak. Mereka menitipkan semangatnya kepada kami yang berangkat di sini."
Aylin mengangkat sebelah alisnya, ekspresinya mencemooh, "Oh? Menitipkan semangat ya? Baik sekali!"
"Mereka juga menitipkan hatinya kepada saya. Jadi itu secara tidak langsung mereka hadir bersama kami di sini."
"Kau sepertinya punya banyak ruang untuk menerima titipan hati teman-temanmu," ujar Aylin dengan sinis.
"Karena hati saya sepenuhnya sudah saya berikan kepada Kak Aylin!" Kai berujar lantang sambil menyeringai tipis. Sorot matanya yang jenaka menatap lurus ke arah Aylin.
"EEIIII~!!!"
"CIIEEE.....!!"
Semua senior yang mendengarnya berseru heboh. Para maba pun juga tidak kalah dalam bereaksi mendengar teman seangkatan mereka itu malah menggombali ketua TPK.
Para TPK tetap profesional. Mereka terlihat tidak bereaksi apapun.
Aylin melotot tidak senang begitu mendengarnya. Raut wajahnya mengeras. Kedua tangannya mengepal kuat.
"MABA KAYVAN 0057!" teriak Aylin dengan geram, "Push up tiga seri dan keliling lapangan tujuh puluh kali!"
"SEKARANG!"
Akibat ulahnya, Kai mau tidak mau menerima hukuman dari Aylin. Dimulai dari melakukan push up lima seri sambil menghitungnya keras-keras.
"Dan buat semua maba!" Aylin berseru ke seluruh maba, "Squat jump sepuluh seri, sekarang!"
Dengan terpaksa, semua maba mulai melakukan hukuman squat jump sepuluh seri. Itu lebih baik daripada disuruh lari dan push up masing-masing seratus kali. Para maba bersiap-siap di batalion masing-masing. Mereka saling berangkulan sebelum melakukan squat jump berjamaah.
"SATU!"
"DUA!"
"TIGA!"
"..."
Kayvan yang sendirian menjalani hukumannya, kini berganti berjalan keluar barisan dan mulai berlari keliling lapangan lima puluh kali setelah selesai melakukan push up. Teman-temannya masih melakukan squat jump berjamaah.
"LIMA PULUH TIGA!"
"LIMA PULUH EMPAT!"
Aylin yang sedang memantau, tiba-tiba matanya menangkap ada kejanggalan di batalion tiga barisan belakang. Batalion tiga terlihat tidak fokus dan beberapa ada yang berseru kaget. Melihat apa yang terjadi, Aylin berlari mendekat.
"Jangan ada yang berkerumun!" teriaknya ketika melihat kerumunan di barisan belakang kelompok tiga. Aylin menerobos kerumunan sambil menyuruh maba untuk tidak berkerumun.
Terlihat ada seorang maba perempuan jatuh dan terlihat tidak bisa bernapas.
"TIM MEDIS!" Aylin kembali berseru sambil membantu maba itu untuk berada di posisi yang lebih nyaman.
"Bisa tolong minggir, Dek!" Imah, ketua Tim Medis yang kebetulan berada di dekat kelompok tiga, berseru menyuruh beberapa maba yang masih berdiri menghalangi jalan.
Imah datang bersama beberapa Tim Medis yang sudah sigap dengan kotak p3k. Imah dengan cekatan mengeluarkan tabung oksigen yang memang disiapkan untuk keadaan darurat seperti ini.
"Alin, bantu aku memegangi dia. Buat dia dalam posisi nyaman," pinta Imah yang langsung dituruti Aylin yang sudah sangat cemas. Imah lalu membantu memasangkan oksigen ke maba yang asmanya kambuh itu.
Beberapa saat kemudian, asmanya sudah teratasi. Namun, kondisi maba berkacamata itu masih lemas. Dengan perintah Imah, satu anggota Tim Medis cowok membopong maba itu untuk dibawa ke posko. Aylin berjalan cepat mengikuti setelah memerintahkan semua maba yang lain kembali melanjutkan kegiatan mereka.
Aylin terlihat benar-benar panik dan cemas. Secara semua agenda Aqisol merupakan ranah tanggung jawabnya sebagai ketua TPK.
Acara kini diambil alih oleh Naufal, sang ketua Isimaja FT. Naufal menyuruh semua maba menyudahi hukuman mereka. Termasuk Kayvan yang entah sejak kapan sudah kembali ke barisan. Usut punya usut, ternyata Kayvan diputaran keenam tadi dihentikan oleh anggota Tim Medis yang berjaga untuk menyudahi larinya karena melihat raut wajah Kai yang sudah kelelahan. Dia diberikan minum dan memintanya istirahat sebentar sebelum kembali ke barisan.
"Kau tidak perlu menyelesaikan semuanya, Dek. Jangan dipaksakan, kau sudah keliatan agak pucat juga. Nanti Mbak yang akan bilang ke TPK. Ini minum dulu, istirahat bentar di sini. Baru masuk barisan lagi kalau udah mendingan," kata senior itu ketika Kai sempat protes karena belum selesai.
Tugas Tim Medis memang sering bertabrakan dengan TPK.
Kembali ke Naufal. Cowok itu kini tengah berbicara kepada seluruh maba menggunakan toa pelantang. Semua maba sudah diminta untuk berada dalam posisi duduk istirahat—sama seperti duduk siap, tetapi postur badannya lebih santai tidak tegap.
"Catatan buat semuanya saja. Dari awal, kami sudah menekankan bukan? Siapapun yang merasa sakit, entah pusing atau apa, bilang ke kakak senior kalian. Tidak perlu dipaksakan. Tim Medis juga sudah berjaga di tiap sudut. Bahkan para TPK juga bilang dari awal juga 'kan? Kalau kalian memperhatikan, siapapun yang tidak kuat, boleh mundur," kata Naufal.
"Mudah 'kan? Tinggal bilang, "Kak, sakit" atau langsung mundur keluar barisan, kakak senior kalian pasti langsung sigap, Dek," lanjutnya. Pandangannya menyapu ke seluruh maba yang kini memperhatikannya.
"Apa gunanya kami sebagai senior, Dek, kalau kalian justru bertingkah remeh dan sok kuat. Di FT bukan gitu cara mainnya. Sikap kalian justru mengecewakan kami sebagai senior!" ujar Naufal kemudian.
Terlihat beberapa maba menundukkan kapala.
"Hari ini buat refleksi. Mulai besok, jangan lupakan apa yang sudah saya sampaikan tadi. Ajak juga teman-teman kalian yang masih bolos. Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa kalau kalian menghindari tantangan," kata Naufal, "Jangan jadi pengecut! Tunjukkan kalau kalian memang maba FT!"
"Dimengerti!"
"Mengerti!"
"DIMENGERTI!"
"MENGERTI!"
Tanpa diketahui semuanya, seorang pria paruh baya beberapa saat tadi sempat melihat semuanya di tepi lapangan. Sebelum pergi menjauh. Kepergiannya justru sempat dilihat beberapa senior yang tidak sengaja melihatnya.
.
.
.
.