![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Confrontation (noun): a hostile or argumentative meeting or situation between opposing parties
.
.
.
.
[maaf kalo membosankan, selamat membaca ^^]
.
.
.
.
Latihan fisik dimulai!
Pukul enam pagi semua maba harus sudah sampai di lapangan FT dengan dresscode kaos putih yang dibagikan kemarin yang bertuliskan "Brotherhood" dengan gambar sebuah roda gigi, celana olahraga, sepatu bebas bertali, dan bagi miba yang berhijab hendaknya mengenakan manset atau deker karena lengan kaosnya disamaratakan pendek semua. Semua penugasan juga dibawa dan dititipkan ke pemandu masing-masing gugus.
Kaos "Brotherhood" juga akan dipakai saat Isimaja hari keempat, di mana fakultas lain mengenakan kaos polo UHW, tetapi FT punya ciri khas sendiri.
Selama empat hari latihan fisik ini, dresscode atasan diselang-seling antara kaos "Brotherhood" dan kaos polo UHW.
Ketika Fakultas Olahraga menyebut latihan fisik mereka dengan Spirit of Tiger atau Spoge—maskot kebanggaan FO adalah harimau—maka di FT menyebutnya sebagai Spirit of Engineering Brotherhood atau lebih sering disebut Aqisol yang merupakan akronim dari Aquilla's Soul.
Bahkan maskot FT saja memiliki julukan "Aquilla from the North" atau Aquilla dari Utara karena merupakan burung rajawali dan letak FT yang ada di sebelah utara.
Semua maba pergugus sarapan dengan penugasan yang telah mereka bawa. Diberikan waktu selama tiga puluh menit untuk pengondisian dan sarapan. Roti tawar yang dibalur susu kental manis menjadi menu mereka. Semua maba duduk di atas rerumputan yang masih berembun di gugus mereka masing-masing sambil menikmati sarapan seadanya.
Setelah semua selesai, pukul setengah tujuh tepat, sebuah sirine berbunyi nyaring mengejutkan para maba. Pemandu, bahkan beberapa tim medis yang berjaga, segera menyuruh semua maba berkumpul dan berbaris.
Terlihat ketua TPK berdiri di tengah lapangan dan membawa toa pelantang yang sirinenya masih dibunyikan. Para maba diminta membentuk semacam batalion. Karena jumlah semua maba FT tahun ini hampir 1500 maba—terbanyak se-UHW karena jurusan yang ditawarkan juga banyak dan itu tidak hanya program sarjana murni dan pendidikan saja, tetapi program diploma juga—maka akan dibagi menjadi lima kelompok batalion yang nanti akan diketuai oleh komandan lapangan. Kai dan kawan-kawan berada di batalion empat yang terdiri dari gugus enam belas sampai dua puluh.
Di depan mereka tidak hanya TPK yang bertugas dan Naufal selaku ketua Isimaja FT, tetapi ada beberapa mahasiswa dengan seragam hijau army polos yang modelnya terlihat seperti tentara. Bahkan mereka mengenakan beret berwarna ungu tua.
Mereka adalah para anggota Menwa atau Resimen Mahasiswa UHW yang memang bertugas membantu dan mendampingi latihan fisik. Menwa juga bertugas menjaga keamanan dan ketertiban selama Isimaja berlangsung. Bisa diartikan Menwa dan TPK saling bekerja sama.
"Selamat pagi! Untuk ketua masing-masing gugus di harap menemui saya sebentar," Aylin berseru menggunakan toa pelantang. Bahkan cewek itu tanpa memberi kesempatan para maba merespon, dirinya langsung berjalan menjauh ke sudut lapangan diikuti satu Menwa.
Teo dan ketua maba gugus lainnya berjalan keluar barisan. Lalu berlari kecil ke tempat Aylin yang sudah menunggu mereka.
Kayvan baru sadar kalau dresscode TPK masih sama seperti saat TM. Bedanya kini semua mengenakan korsa khas FT—lebih seperti blazer berlengan pendek dan berwarna merah marun—sebagai outer yang menutupi kaos hitam yang mereka kenakan. Para pemandu bahkan tidak mengenakan jas almamater UHW seperti saat TM, mereka justru mengenakan kaos merah marun dengan tulisan "Engineering Brotherhood" dengan gambar gir berwarna kuning.
Semua panitia, kecuali TPK, mengenakan kaos serupa. Mungkin kaos itu memang kaos seragam untuk panitia. Namun, mereka tetap mengenakan hand-badge identitas masing-masing tim.
Ada alasan kenapa kegiatan mahasiswa di UHW, tidak hanya inaugurasi, terlihat memiliki banyak dana padahal iuran yang ditarik tidak banyak, hal itu dikarenakan banyaknya alumni yang sukses menjadi sponsor. Bahkan di FT, misalnya saat Isimaja ini, yang jelas-jelas mahasiswanya paling banyak, kenapa bisa menyediakan kaos untuk maba dan panitianya serta keperluan lain diluar dana kampus dan iuran, karena banyak alumni yang menyokongnya. Kebanyakan alumni tidak serta merta melupakan urusan kegiatan kampus, mereka dengan suka rela membantu adik tingkat mereka entah dalam bentuk dukungan moril maupun materil. Dukungan moril termasuk masukan dan saran.
"Sambil menunggu, saya tegaskan sekali lagi," Naufal berseru membuka suara. Toa pelantang yang dipakai Aylin tadi sudah berada di tangannya.
"Bagi siapapun yang tidak disarankan untuk mengikuti kegiatan berat terlebih dahulu karena alasan medis, dimohon keluar barisan dan menunggu bersama pemandu masing-masing. Dan bagi siapapun yang merasa sakit atau tidak kuat melanjutkan sesi ini, dimohon dengan sangat, mundur dan bilang ke pemandu atau tim medis yang berjaga. Ingat, yang benar-benar sakit bukan pura-pura," cowok itu memberitahu ke para maba dengan toa pelantang dan menekankan beberapa poin penting.
"Dimengerti?!"
"Siap, mengerti!" jawab para maba.
"DIMENGERTI?!"
"SIAP, MENGERTI!"
"Bagus! Kalau sampai ada yang sok kuat atau pura-pura, konsekuensi harus ditanggung satu angkatan!" Naufal menambahkan. Beberapa maba yang ada di dalam barisan terlihat satu persatu keluar barisan dan menuju pemandu mereka.
Tak lama kemudian, Aylin kembali diikuti para ketua maba gugus di belakangnya. Sementara Menwa yang tadi kini menempatkan posisinya di sebelah Menwa yang lain dengan posisi tegak istirahat ditempat.
Hanya lima orang ketua maba gugus yang tidak kembali ke dalam barisan. Lima orang itu, di antaranya ada Teo, berdiri dan berbaris memanjang dengan jarak satu meter sebelah kanan Aylin. Lebih tepatnya Teo yang berdiri di sebelah kanan langsung dengan Aylin.
Teo terlihat gugup.
"Setiap kelompok akan dipimpin satu komandan dari perwakilan maba. Dan setiap kelompok juga akan didampingi dua TPK dan satu Menwa," Aylin membuka suaranya setelah menerima toa pelantang dari Naufal.
"Lalu, kami dan perwakilan teman-teman kalian telah menunjuk satu orang dari lima komandan untuk menjadi ketua angkatan," lanjutnya, "Teodore dari jurusan Teknik Otomotif, silakan pimpin teman-temanmu untuk melakukan pemanasan dengan lari keliling lapangan sebanyak sepuluh putaran."
Teo terlihat semakin gugup. Kai, Ridwan, dan Neo bahkan cukup terkejut saat tahu ternyata Teo ditunjuk sebagai komandan lapangan dan ketua angkatan sekaligus. Meski awalnya agak ragu dan bingung dengan tugasnya, Teo akhirnya mengerahkan keempat komandan yang lain untuk memimpin kelompok yang sudah dibagi. Teo memimpin kelompok pertama yang terdiri dari gugus satu sampai lima.
Sejujurnya, Teo tidak ada pengalaman sama sekali. Memang pas MOS SMP dan SMA dulu ada latihan fisik untuk LBB atau latihan baris-berbaris. Itupun dia hanya sebagai anggota peleton biasa pas SMP. Bahkan di SMA, Teo sama sekali tidak ikut karena hanya tonti saja yang dilatih dan dia tidak terpilih masuk peleton inti SMA-nya.
Kenapa ya dia bisa dipilih?
Dan karena jumlah maba FT yang hampir 1500 orang, sementara lapangan di FT tidak seluas milik FO, Teo, dibantu komandan yang lain, mengarahkan teman-temannya untuk berbaris empat-empat memanjang seperti pas LBB. Bedanya ketika LBB hanya terdiri tiga-tiga memanjang ke belakang.
Cukup lama mengkondisikan banyaknya manusia yang hadir. Entah tidak mau sebelah pinggir, tidak mau di depan, tidak mau kepanasan, dan sebagainya.
Aylin yang mulai jengah melihatnya, menyalakan sirine toa pelantang. Dia lalu berseru dengan keras, "Ayo, ayo, ayo! Dipercepat! Semakin lama kalian berbaris semakin siang waktunya dan semakin panas!"
Teriakan beberapa TPK yang berjaga juga terdengar bersautan.
"Gerakan dipercepat! Kalian sudah buang-buang banyak waktu!"
"Kalau kalian saja belum mulai, jangan protes kalau selesainya makin lama!"
"Jangan manja! Semua juga bakal kepanasan nanti!"
"Udah gede kok lelet!"
"Ayo dek gerakannya jangan lamban!"
"Ayo belajar gerak cepat sama ngatur waktu!" yang ini dari Aylin, "Kalian udah mahasiswa, bukan anak SMA lagi!"
Setelah perjuangan mengondisikan barisan dengan diiringi teriakan dari TPK yang mengusik mental, akhirnya semua maba sudah berbaris dengan cukup rapi.
Tiap komandan berdiri sebelah kelompoknya, tepatnya di sisi dalam lapangan, bersebelahan dengan barisan paling depan. Dua TPK dan satu Menwa masing-masing kelompok menempatkan diri di posisi masing-masing. Dengan aba-aba Teo yang berseru lantang, kegiatan pemanasan hari pertama dimulai.
.
.
.
Semua maba sedang beristirahat sejenak setelah lari memutari lapangan lima kali. Tiap batalion duduk di pinggir lapangan di tempat yang terpisah. Teo dengan kelompoknya berada di posisi cukup jauh dari tempat Kai dan yang lainnya berada.
Belum sempat memulihkan tenaga sepenuhnya, seorang Menwa sudah menyuruh kelompok Kai bersiap dalam posisi duduk siap—duduk bersila dengan punggung tegap dan telapak tangan di atas paha. Beda halnya dengan kelompok lain yang sudah melakukan push up, squad jump, dan segala bentuk latihan fisik lain. Bahkan Kai dan teman-temannya dapat mendengar dengan jelas suara bersahut-sahutan kelompok lain saat menghitung setiap gerakan yang mereka lakukan.
Lalu seorang TPK cowok tinggi besar dan berwajah sangar berdiri di depan mereka.
"Pertama, salah satu aturan yang sangat penting di FT ini adalah menghormati senior. Kalau kalian lupa, aturan itu masuk ke dalam 5S yang sudah disampaikan ketua TPK sebelumnya," senior kembali berbicara. Pandangannya kembali menyapu kelompok maba yang ada di hadapannya.
"Dan karena kalian ada di FT dan menjadi maba FT, kalian harus mematuhi aturan itu. Kami memang baru akan mengakui kalian junior kami setelah kalian mendapatkan lencana gir, tapi karena kalian masuk wilayah FT sebagai maba FT, jadi kalian harus patuh!" Guntur menekankan suaranya pada beberapa kata dalam kalimatnya.
Senior itu lalu berjalan pelan, mondar-mandir sambil matanya menyorot tajam meneliti wajah-wajah kaku dan tegang milik maba. Sampai matanya berhenti di suatu titik, dia menghentikan langkahnya.
"Sayangnya," nadanya terdengar dramatis tetapi pandangannya tetap terpaku pada satu titik, "Ada di antara kalian yang sepertinya tidak paham tentang aturan itu."
"Dan saya tidak suka dengan hal itu."
Sebagian besar maba terlihat penasaran dan takut-takut. Bahkan ada yang terlihat semakin tegang dan cemas. Ada juga yang terlihat bingung.
"Kalian tahu apa kesalahannya?" Guntur bertanya dengan nada tajam, "Dia tidak menerapkan 5S yang seniornya sudah ajarkan. Nggak salam, nggak nyapa, yang jelas-jelas ada senior di sana. Nggak ada sopan santunnya sama sekali!"
"Apa perlu didikte lagi soal sopan santun? Saya rasa pas kalian sekolah sudah diajarkan cara menghormati yang lebih tua!"
Ada satu maba di dalam kelompok menatap datar ke arah TPK yang sepertinya menyindirnya. Raut wajah maba itu mengeras. Tangannya terkepal, berusaha menahan diri.
"Yang merasa, silakan berdiri!" bentak Guntur yang membuat beberapa berjengit kaget.
Tidak ada yang berdiri.
"Oh? Apa perlu ditunjuk?" tanya Guntur retorik ketika tidak ada satupun dari maba yang menunjukkan diri.
Ada jeda selama beberapa saat sebelum Guntur kembali bersuara. Kali ini dengan nada lantang.
"Maba 0178 Ridwan dari Teknik Otomatif, berdiri!"
Beberapa maba mulai berbisik-bisik memecah ketegangan. Sikap duduk siap mereka terlihat mulai mengendur.
"Siapa yang nyuruh kalian rame?" bentak Guntur, "Sikap duduknya diperbaiki!"
Keadaan kembali hening dan tegang. Hingga seorang maba bertubuh jangkung yang duduk di belakang Kayvan, berdiri di tempatnya. Ekspresinya terlihat datar, entah apa yang dipikirkan cowok itu. Kai tidak bisa menoleh dan melihat temannya itu, jadi dia tetap berada di posisinya duduk tegak.
Beberapa maba yang berani menoleh atau sekedar melirik langsung ditegur oleh TPK satunya dan Menwa yang mendampingi.
"Kau tahu kesalahanmu 'kan?" tanya Guntur dengan tajam kepada Ridwan.
"Kenapa kau tidak menghormati seniormu? Bahkan sekedar menyapa atau memberi salam kau tidak melakukannya," lanjutnya kemudian, "Mana rasa hormatmu pada seniormu, huh?!"
"Kalau ditanya jawab!" bentak Guntur ketika tidak mendapat jawaban dari Ridwan.
"Kenapa saya harus melakukan itu?!" jawab Ridwan tidak kalah ngegas.
"Saya itu seniormu!" seru Guntur dengan sengit, "Dan kau harus hormat pada saya!"
"Hormat? Saya tidak merasa punya hutang buat hormat padamu, Senior," kata Ridwan tak kalah sengit. Dia tidak peduli para maba yang lain mulai fokus ke arah mereka.
"Yang muda harus menghormati yang lebih tua! Tata kramamu perlu dicek lagi," ujar Guntur sambil menatap tajam ke arah maba jangkung itu.
"Saya hanya tinggal hormat pada Senior dan masalah akan selesai 'kan?" tanya Ridwan, "Kalau gitu, saya akan hormat pada Senior."
Tidak disangka-sangka, cowok itu mengangkat tangannya untuk hormat seperti saat upacara bendera. Seperti bawahan kepada atasannya. Hanya beberapa detik, lalu Ridwan menurunkan tangannya. Sikapnya seolah-olah menyindir Guntur.
"Sopan begitu?! Apa orang tuamu tidak mengajarkan sopan santun dengan benar?!" terlihat Guntur tersulut amarah melihat sikap Ridwan tadi. Terlihat seorang TPK satunya lagi berjalan mendekat ke arah Guntur.
"Orang tua saya mengajarkan dengan baik, tapi buat orang-orang yang harus dihormati!" seru Ridwan dengan berani. Atau malah justru dengan kurang ajarnya.
"Kau—" nyaris saja Guntur maju ke arah Ridwan untuk memberi pelajaran sebelum senior TPK yang sejak ketegangan tadi berjaga menghentikannya.
"Sudah cukup!" seru TPK cewek berambut pendek itu. Sementara Menwa yang menjaga kelompok itu bergerak untuk mengondisikan maba yang mulai tidak kondusif.
"Biarkan aku ngasih junior itu pelajaran, Rim!" kata Guntur dengan sengit ketika Rima, TPK cewek tadi, menahannya. Amarah Guntur benar-benar membuncah saat Ridwan justru menyindir dan meremehkannya.
"Tapi nggak seperti ini juga!" emosi Rima mulai terpancing.
Ridwan dengan tanpa rasa takut justru menatap sengit ke arah Guntur. Cowok itu yang melihatnya malah semakin geram. Mengira Ridwan malah menantangnya.
Gerakannya begitu cepat. Sebagian besar maba di kelompok itu berseru tertahan ketika melihat Guntur melangkah maju. Benar-benar berniat menghajar Ridwan karena amarah yang meluap-luap. Wajah Guntur terlihat sangat merah.
Namun, dengan gesit dan reflek yang bagus, Rima melumpuhkan senior laki-laki yang sudah siap menghajar Ridwan itu. Padahal tubuh Rima jauh lebih kecil dibandingkan Guntur, tetapi dia berhasil memiting kedua tangan Guntur di belakang punggungnya dengan kuat.
Aksi Rima membuat maba di batalion empat berdecak kagum. Kecuali Ridwan yang masih datar raut wajahnya. Tidak ada yang tahu apa yang dia pikirkan saat ini. Cowok itu juga nyaris saja bersiap menerima serangan Guntur, tetapi seorang Menwa memegang pundaknya untuk menahannya.
"Keluar kau!" seru Guntur ke arah Ridwan. Cowok bertubuh bongsor itu berusaha melepaskan pitingan Rima. Bahkan tingginya hampir sama dengan Ridwan yang memang punya tinggi badan jauh di atas rata-rata laki-laki Indonesia, hampir 180 cm. Namun, pada dasarnya Rima adalah atlet karate tidak membiarkan hal itu terjadi.
Ridwan mengepalkan kedua tangannya kuat-kuat menahan marah yang sejak tadi ditahan. Dia melempar tatapan sengitnya ke arah Guntur sebelum pergi keluar dari barisan. Dia berjalan ke arah tempat pemandu gugusnya menunggu dan mengambil tasnya. Ridwan mengabaikan kelima pemandu gugusnya dan beberapa Tim Medis yang berjaga di dekat kelompoknya.
Dimas yang melihat mabanya belari keluar, segera mengejarnya. Sementara Haya dan yang lainnya menatapnya cemas.
Kayvan yang sejak tadi memperhatikan, menatap kepergian sohibnya dengan khawatir. Belum sempat dia berlari menyusul, dirinya sudah ditahan Menwa yang berjaga untuk menahan dirinya. Kai sempat ingin protes sebelum melihat Dimas berlari mengejar Ridwan.
Keadaan batalion empat benar-benar kurang kondusif sekarang. Bahkan batalion lain yang tadinya sempat berlatih, kini mereka diam. Mereka terlihat heran dan bertanya-tanya apa yang terjadi.
"TPK GUNTUR!" seseorang berseru lantang.
Terlihat sosok ketua TPK berjalan mendekat dengan cepat. Raut wajahnya masam. Sorot mata tajamnya memancarkan amarah yang sangat besar. Dia benar-benar murka sekarang.
Aylin menatap tajam ke arah Guntur yang kedua tangannya masih dipiting oleh Rima.
"Ikut saya!" katanya dengan dingin.
"Dan untuk para maba, lanjutkan latihan kalian!" Aylin lalu berseru keras untuk semua maba yang ada di lapangan.
"SEKARANG!!"
Kemudian, cewek itu melenggang pergi diikuti Guntur di belakangnya. Aylin memberi kode kepada Naufal untuk tetap di lapangan sampai kondisi kembali kondusif.
Kai menatap kepergian Aylin dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Ayo Dek kembali ke posisi! Dengar kata Kak Aylin 'kan?" seru Rima ke kelompok empat. TPK kelompok lain juga berseru mengondisikan kelompok masing-masing.
Kejadian barusan berlalu begitu saja. Meski dengan beberapa keluhan dan protesan kecil, para maba kembali berpanas-panasan ria melanjutkan latihan mereka yang tertunda.
.
.
.
.
a. n.
rajawali utara emang bener julukan FT dan maskot harimau emang beneran punyanya fakultas olahraga