![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Idol (noun): a person or thing that is greatly admired, loved, or revered
.
.
.
.
Pukul setengah tujuh pagi, Kai keluar dari asramanya. Penampilannya sudah rapi, dengan kemeja berwarna navy lengan panjang, celana chinos abu-abu, dan sneakers putihnya. Tidak lupa rambutnya yang disisir rapi menambah kesan charming pada diri seorang Kayvan.
Hari ini ada temu perdana untuk semua duta fakultas di Auditorium UHW. Semalam Kai juga sudah menghubungi Freya, partner-nya dari duta FT untuk bertemu di auditorium. Selepas pertemuan mereka beberapa hari lalu dengan Seno dan Frans, Kai dan Freya memang sesekali bertukar pesan untuk membahas terkait pemilihan duta ini. Mereka berdua menerka-nerka dan bertukar informasi terkait acara yang melibatkan mereka.
Kai bahkan belum bertemu lagi dengan Frans, selaku pembimbingnya dan duta FT tahun lalu. Freya lebih parah lagi. Dia belum pernah bertemu Vera, yang merupakan pasangan Frans di duta FT tahun lalu, dikarenakan senior itu baru bisa balik ke asrama tadi malam. Meski belum bertemu, mereka cukup sering bertukar pesan. Frans dan Vera belum memberitahukan secara gamblang, tetapi dua senior itu baru bisa melakukan tugas mereka sebagai mentor setelah temu perdana nanti. Bahkan waktu pertemuan dengan Seno beberapa waktu lalu hanya menjelaskan peraturan dan gambaran umum.
Karena ada peraturan dari panitia, biar adil dan tidak ada dari fakultas manapun yang berbuat curang dengan mencuri start. Bagi fakultas yang melanggar, akan langsung didiskualifikasi dan tidak boleh mengikuti kegiatan kedutaan dan mengirimkan duta mereka selama dua tahun.
Terdengar kejam karena menyangkut harga diri dan wajah fakultas. Namun, cara itu terhitung cukup efektif.
Kai memilih memakai motornya—setelah seminggu di asrama, akhirnya motornya sampai di asrama, yang sebelumnya masih di Kaliurang. Jadi dia tidak perlu nebeng temannya atau menelepon kakaknya yang ada di Jogja untuk menjemput pulang.
Jarak asrama FT dan Auditorium UHW terbilang jauh dan harus mengendarai motor atau sepeda kalau tidak mau berjalan jauh dan untuk menghemat waktu juga. FT yang berada di utara, sementara auditorium berada satu kompleks dengan gedung rektorat yang ada di sebelah selatan.
Ada sekitaran dua puluh menitan, cukup lama karena meski pagi, jalanan sudah ramai dengan orang-orang yang pergi kerja atau sekolah. Kai bisa saja melewati jalanan di dalam area universitas, tetapi karena masih liburan beberapa jalan antarfakultas ditutup. Jadi, dia mau tidak mau mengambil rute luar yang melewati jalan raya.
Gerbang pintu masuk UHW yang mengarah ke rektorat terbilang sangat megah karena merupakan wajah UHW itu sendiri. Gapura gerbang berbentuk gunungan dalam pewayangan yang dibagi dua, kanan dan kiri. Bahkan sebelum memasuki gapura sudah disambut dengan taman melingkar dengan tulisan Universitas Hayam Wuruk di sana. Taman berdiameter kurang lebih lima meter yang terletak di tengah jalan raya dan sering disebut Bundaran UHW. Di depan gapura sisi kanan terdapat pos satpam.
Sepanjang jalan menuju rektorat terdapat taman memanjang yang membagi jalan. Di taman itu terdapat semacam tugu melengkung dengan tulisan besar yang merupakan semboyan dari UHW itu sendiri. Kompleks rektorat terbilang cukup luas dengan sisi kanan dari pintu masuk merupakan area parkir, sisi kiri merupakan taman baca dan tempat untuk bersantai, di ujung jalan terdapat lantai berundak yang menuju halaman luas. Di tengah halaman terdapat air mancur besar. Gedung rektorat ada di sisi utara air mancur dengan gaya bangunan ala-ala eropa. Sebelah barat rektorat merupakan gedung perpustakaan pusat yang bersebelahan dengan perpustakaan digital. Gedung auditorium tepat berada di sebelah tenggara gedung rektorat. Sisi timur gedung rektorat terdapat gedung berlantai empat yang digunakan untuk mahasiswa pascasarjana.
Kai memakirkan sepeda motornya lalu berjalan menuju auditorium. Ini adalah pertama kalinya Kai berkunjung ke area kompleks rektorat dan membuatnya benar-benar terpana. Bangunan dengan perpaduan arsitektur eropa dan nusantara benar-benar terlihat keren.
Sesampainya di auditorium, Kai melakukan presensi yang dijaga oleh beberapa panitia dan menerima snack dan teh hangat. Kai berjalan masuk. Di dalam auditorium sudah banyak maba sepertinya yang merupakan duta kampus dan beberapa panitia yang berlalu lalang. Cowok itu mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Freya yang sudah sampai terlebih dahulu.
Dia melihat cewek itu duduk bersama dua maba yang tidak dikenalnya di sebelah tengah. Freya yang melihat Kai melambaikan tangannya.
Kai berjalan mendekat dan duduk di sebelah Freya di sisi kiri. Kai menyapa dua orang yang duduk di sisi kanan Freya dan mengobrol tadi dengan senyum sopan.
"Oh iya, Kai, kenalin ini temenku, Galuh, dari FBS dan partner-nya Rian. Gaes, ini Kai," kata Freya mengenalkan.
"Galuh," cewek cantik dengan rambut panjang dikucir itu tersenyum sopan.
"Rian," kata cowok berambut gondrong sebahu tersenyum ramah.
"Kai, Kayvan," sahut Kai sembari tersenyum ramah. Galuh sampai terkesima ketika melihat senyum Kai.
"Masnya di FT jurusan apa ya?" tanya Rian pada Kai.
"Teknik Industri. Kalo masnya?"
"Pendidikan Seni Kriya," jawab Rian, "Kenal Wahid nggak? Dia temenku, di FT juga. Tapi jurusannya Pendidikan Teknik Elektro."
Kai mengangguk, "Ah iya kenal. Kebetulan satu lantai di asrama."
"Oh, iya to?"
"Iya."
"Jadi dari FBS tahun ini dari jurusan seni semua ya berarti?" tanya Freya, nimbrung.
Galuh mengangguk, "Iya Fey. Tahun lalu sih dari Pendidikan Seni Musik sama Bahasa Jawa. Mbak Anggi dari PBD (Pendidikan Bahasa Daerah—Jawa) yang jadi runner-up ceweknya. Yang cowok dari FT ya?"
Freya dan Kai mengangguk. Mereka juga diberitahu oleh Frans kalau pemenang duta kampus dua tahun sebelumnya, kalau sekarang berarti senior tahun ketiga, yang cowok dari FT dan yang cewek dari FBS. Sedangkan runner-up dari FKH dan Fisipol. Perwakilan FK waktu itu justru malah juara tiga bersama perwakilan dari FH.
"Iya. Kak Frans," jawab Freya.
"Mbaknya dari jurusan apa kalau boleh tahu?" tanya Kai pada Galuh.
"Pendidikan Seni Tari," jawabnya sambil tersenyum manis, "Gugup juga sih ngikutin kayak gini. Aku aja nggak nyangka malah kepilih jadi perwakilan FBS."
"Duta univ tahun kemarin siapa sih?" tanya Rian.
"Keduanya dari FK semua. Aku lihat di web kampus," jawab Freya.
"Eh, serius?" tanya Galuh terkejut, "Waduh berat nih. Perwakilan dari FK tahun ini mentornya duta univ semua."
"Menurutku, nggak menjamin juga sih mau mentornya itu juara tahun kemarin atau bukan. Kan yang dinilai individunya yang ngejalanin sekarang," kata Kai.
Rian dan Freya mengangguk setuju.
"Tenang aja Luh," kata Rian menenangkan, "Mereka belum tentu jadi juara juga kok."
Mereka menghentikan obrolan mereka ketika salah satu panitia berjalan ke depan. Panitia itu lalu membuka temu perdana hari ini.
Sekarang pukul tujuh lewat sepuluh menit. Telat sepuluh menit dari jadwal yang ditentukan. Panitia yang bertugas sebagai pembawa acara di depan itu mengatakan alasannya karena tadi ada kesalahan teknis.
Setelah pembukaan, lalu dilanjutkan dengan sambutan dari Pak Ali, selaku perwakilan dosen. Ngomong-ngomong soal Pak Ali, dosen itu juga salah satu tim yang jadi perwakilan dosen yang ikut menyeleksi duta fakultas. Kemudian, dilanjutkan sambutan oleh duta universitas terpilih tahun lalu, yang keduanya berasal dari Fakultas Kedokteran.
Ketika dua perwakilan itu maju ke depan, suasana auditorium menjadi bergemuruh dengan teriakan histeris. Iya, histeris dengan teriakan mayoritas perempuan di ruangan itu.
Penyebabnya adalah sosok duta universitas yang terlihat sangat mencolok. Mereka berdua terlihat seperti model daripada seorang mahasiswa meski mengenakan setelan hitam putih UHW.
Yang cowok terbilang tampan dengan tubuh yang sangat tinggi untuk ukuran orang Indonesia. Mungkin beberapa senti dibawah Frans yang bisa dibilang tower dengan tinggi badan sekitar 182 cm. Bahkan sohib Kai, Ridwan, yang juga tower masih kalah tinggi dibandingkan Frans. Senior laki-laki dari FK itu memiliki perawakan seperti idol Korea dengan kulit kuning langsat. Dia melempar senyum ramah.
Keduanya lalu memperkenalkan diri. Yang cowok bernama Pasha dan yang cewek bernama Cindy. Kemudian, mereka memberikan sambutan, semangat, dan harapannya untuk duta fakultas maupun untuk duta universitas yang terpilih nanti.
Setelah memberikan sambutan, keduanya pun undur diri. Tidak lupa dengan mayoritas perempuan yang ada di ruangan berteriak heboh seolah habis bertemu dengan idola mereka.
"Gila, bener-bener kayak model papan atas. Pantesan mereka menang," kata Galuh yang masih terpana dan disetujui Freya.
"Kak Pasha itu kayak oppa-oppa Korea, cuman lebih lokal aja," ujar Freya.
"Aku jadi ragu kalau acara ini itu pemilihan duta kampus," Rian berceluk di tengah kebisingan yang belum mereda, tetapi Kai masih bisa mendengarnya.
Kalau dibandingkan dengan runner-up tahun kemarin, Frans, memang untuk penampilan fisik Pasha seperti modelan cowok impian para remaja putri Indonesia dengan kulit terang, tubuh tinggi, dan wajah ganteng. Apalagi dia berada di FK yang menjadi nilai plus.
Frans tidak kalah ganteng sebenarnya. Tidak kalah tinggi, dan sepertinya malah agak lebih tinggi Frans daripada Pasha. Frans memiliki kulit tan kas orang Indonesia. Dia punya kesan tinggi gagah. Kalau Pasha terlihat seperti idol dan prince charming, maka Frans memiliki aura berandalan dan terkesan cukup sangar.
Ngomong-ngomong soal Frans, Kai belum melihat sosok seniornya itu sejak tiba di auditorium.
Keadaan kembali kondusif ketika seorang panitia lain ke depan dan mengondisikan. Panitia itu membawa map biru di tangannya.
"Assalamu'alaikum, selamat pagi. Perkenalkan saya Yulia, Duta FIP tahun 20xx," panitia yang ternyata Duta FIP tahun lalu itu memperkenalkan diri. Lalu maba yang ada di ruangan itu menjawab salamnya.
Seperti panitia pelaksana pemilihan duta kampus merupakan para perwakilan duta tahun sebelumnya dan orang-orang dari BEM univ maupun fakultas. Pembawa acara yang sebelumnya tadi memperkenalkan diri sebagai salah satu staf di kementrian (atau divisi) BEM universitas.
"Di sini, saya akan membacakan ketentuan dan tema yang diusung dalam pemilihan duta universitas tahun ini," lanjutnya.
Suasana menjadi serius. Semua perwakilan fakultas terlihat fokus dan ada yang membuka buku catatan mereka.
"Mohon dengarkan baik-baik dan nanti sesi pertanyaan akan dibuka setelah penjelasan selesai. Jadi, dimohon dengan sangat jangan ada yang menyela ya?"
.
.
.
"Gimana Kai?" tanya Neo ketika melihat Kai datang menyusul.
Kai melepaskan tas selempangnya dan duduk di sebelah Ojan yang menatapnya penasaran. Tidak hanya Ojan, semua teman-teman gugusnya juga menatapnya ingin tahu. Bahkan pemandu gugus juga ikut melihat ke arahnya.
Setelah selesai temu perdana tadi, Kai langsung pergi ke fakultas, ke tempat kemarin gugusnya kumpul. Freya tadi berangkat naik sepeda, jadi Kai pergi duluan ke fakultas. Cowok itu sampai di lokasi kemarin pukul sebelas lebih sepuluh menit.
"Ya gitu, penjelasan mengenai besok acaranya gimana. Konsepnya apa. Terus tadi juga ada kumpul bareng semua duta fakultas buat bahas pentas pembukanya mau seperti apa. Karena tema yang diangkat beda-beda pertahunnya, jadi ya konsepnya beda," jawab Kai. Dia lalu meminum air mineralnya beberapa teguk. Dia belum sempat meminumnya selama acara karena di sana juga disediakan minuman.
"Emang tahun ini temanya apa?" tanya salah satu cewek di gugus, Zulfa namanya. Anak jurusan pendidikan teknik boga.
Kai tidak langsung menjawab. Dia menatap ke arah pemandu gugus dengan ragu. Dalam temu perdana tadi, pihak panitia bilang jangan sembarangan memberi tahu konsep tema yang dipakai ke orang lain. Takutnya dimanfaatkan untuk berbuat curang atau hal-hal lain.
"Jangan dulu diberitahukan," kata Dimas yang menyadari maksud tatapan dan ekspresi Kai, "Seingatku, dari tahun-tahun kemarin, konsep tema baru dipublikasikan pas release foto sama video perkenalan. Yang penting kau simpan dulu aja Kai. Atau tanya lagi ke Frans biar lebih paham."
Kai mengangguk mengerti, "Baik, Mas Dimas."
"Maaf ya Zul," katanya pada Zulfa.
Zulfa tersenyum dan berujar, "Santai aja, aku bisa nunggu pas publikasi nanti kok."
"Emang harus gitu ya?" tanya Teo penasaran.
Kai mengangguk, "Iya Yo. Minimalisir kecurangan katanya."
Teo mengangguk-angguk paham.
Hari ini, sampai pukul setengah dua dengan jeda shalat dzuhur, gugus mereka berhasil menyelesaikan hampir tujuh puluh persen nametag dan hiasan kepala sebagai atribut mereka untuk Isimaja. Mereka menyudahi dan melanjutkannya besok pagi. Dan sekali lagi, Kai harus izin juga untuk besok karena hari Sabtu, yang berarti besok itu, sudah dimulai persiapan dan latihan untuk pentas pembuka bersama duta fakultas lain.
"Yo, bawa bukunya 'kan?" tanya Teo kepada Neo.
"Udah dong!" Neo menunjukkan buku kecil miliknya dengan bangga.
Mereka kini tengah bersiap untuk berburu tanda tangan senior babak kedua.
"Masih kosong aja bangga," kata Ridwan dengan nada meremehkan.
"Wan, diem bisa? Atau kutonjok nih," ujar Neo sambil memperlihatkan kepalan tangan kirinya.
"Berani lu sama gue?" keluar sudah gaya bicara ala anak kota Jekardah. Memang sih, dulu pas SMA, Kai, Neo, dan Ridwan terbiasa menggunakan lu-gue—Kai hanya menggunakannya ke teman-teman terdekatnya. tapi karena ini di Jogja dan suasananya jelas-jelas berbeda mereka membiasakan pakai aku-kau atau aku-kamu. Namun, terkadang mereka pakai lu-gue di sini meski tidak sering.
"Sini lu kalau berani," Neo malah semakin meladeninya.
Kai hanya menggelengkan kepala melihat tingkat keduanya. Sudah cukup sering melihat kedua orang itu ribut, diawali dengan Ridwan yang sering mengejek Neo, dan Neo meski dikenal awkward dengan orang lain, malah meladeni Ridwan.
"Udah woy! Kita kapan nyari tanda tangannya kalau gini?" ujar Kai pada akhirnya.
"Tau tuh," timpal Ojan. Sementara Teo hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum melihat tingkah random sahabat barunya itu.
.
.
.
.