![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Chosen (adj): having been selected as the best or most appropriate
.
.
.
.
[baru minor editing, part panjang dan banyak narasi]
.
.
.
.
.
"Itulah tadi penampilan yang sangat luar biasa dari semua kandidat duta kampus malam ini. Bagaimana menurutmu Andi? Kira-kira bakat mana yang menurutmu paling berkesan?"
"Wah susah untuk memilihnya, Keisha. Dari keempat belas fakultas, semuanya keren-keren. Semua peserta sudah menunjukkan bakat-bakat mereka yang menarik dengan sepenuh hati. Benar-benar sesuatu yang sangat berkesan pada malam hari ini."
Kedua MC kembali mengambil alih acara setelah semua kandidat selesai unjuk bakat.
"Benar sekali. Dan untuk semua penonton yang hadir maupun yang ada di rumah, kesempatan untuk voting duta favorit kalian masih dibuka. Yang belum vote, ayo vote segera dengan login menggunakan NIM ke link yang ada di web kampus. Ayo dukung duta favoritmu untuk menjadi pemenang duta terfavorit tahun ini," Keisha menimpali.
Kemudian, Andi kembali berujar menjelaskan, "Caranya mudah. Tinggal meng-klik foto duta fakultas favorit kalian. Dan saya ingatkan sekali lagi, voting ini tidak terbatas hanya dalam lingkup fakultas masing-masing. Kalian boleh pilih duta yang sekiranya pantas dan menjadi favorit kalian, meski itu di luar fakultas kalian. Voting akan kami tutup setelah penjurian oleh para juri selesai. Jadi, yang belum voting, masih ada sedikit waktu lagi untuk memantapkan hati memilih duta favorit kalian. Yang sudah terlanjur memberi vote, kami memberikan opsi maksimal satu kali kesempatan lagi untuk mengganti pilihan sampai batas waktu nanti. Jadi, manfaatkan sebaik mungkin. Dan yang sudah yakin dengan pilihannya, kalian bisa menguncinya dengan fitur yang tersedia."
Mereka lalu menyapa sebentar keempat juri yang sudah hadir sejak sesi unjuk bakat di mulai. Para juri terdiri dari perwakilan senat, perwakilan dosen, perwakilan tokoh masyarakat—biasanya tokoh yang disegani atau pemimpin daerah karena tujuan duta kampus tidak hanya bermanfaat untuk kampus saja tetapi juga sebagai contoh untuk masyarakat sekitar, dan perwakilan mahasiswa yang biasanya diwakilkan oleh ketua BEM universitas. Kemudian, Keisha dan Andi menjelaskan secara padat acara yang selanjutnya yaitu penjurian individu yang akan menentukan siapa yang berhak mengenakan selempang duta kampus tahun ini.
Semua peserta akan diundi urutannya. Jadi, pada sesi ini mereka akan berjuang sendiri-sendiri untuk membuktikan kelayakan mereka dengan menjawab pertanyaan juri yang diajukan. Semua pertanyaan akan dilempar juri secara acak dan berbeda-beda sehingga masing-masing kandidat tidak akan mendapatkan pertanyaan yang sama. Dan semua pertanyaan yang terkumpul merupakan hasil survei panitia berdasarkan tema yang diperiksan dan dipilih oleh para juri.
Jadi, bukan pertanyaan asal-asalan maupun pendapat pribadi juri. Namun, hasil dari apa yang dipermasalahkan oleh mahasiswa dan masyarakat umum. Dan terkadang, permasalahan yang dilontarkan berasal dari berbagai fakultas. Jadi, bisa jadi seorang kandidat mendapatkan pertanyaan seputar permasalahan dari fakultas lain. Misal, kandidat dari Fakultas Kedokteran bisa jadi ditanyai tentang solusi permasalahan Fakultas Filsafat.
Hal itu tentu juga untuk menguji mereka sebagai calon duta universitas yang nantinya tidak hanya akan menemukan masalah seputar fakultas mereka saja. Kurang lebih hampir mirip dengan pemilihan ketua BEM universitas. Bedanya, pemilihan ketua BEM bersifat demokratis.
Kalau diibaratkan dalam pemerintahan, mungkin ketua BEM itu seperti presidennya dan duta kampus seperti badan non-kementrian setingkat menteri. Selain itu, duta kampus juga bertugas sebagai "wajah" kampus dan representasi mahasiswa yang bekerja sama dengan DPM.
Biasanya, duta kampus juga menjadi salah satu motivasi seseorang mau kuliah di UHW juga. Dengan kata lain juga bisa diartikan untuk mempromosikan UHW dan menarik minat untuk berkuliah di sana.
Setiap kandidat diberi waktu maksimal hanya tiga menit untuk menjawab secara lugas, padat, dan jelas. Lalu tentu saja, secara sejujur-jujurnya. Kedua pembawa acara akan menyalakan timer untuk menandai waktu tiap kali perwakilan akan menjawab. Kalau ada perwakilan yang belum selesai menjawab tetapi waktu sudah habis, maka akan dipotong dan dicukupkan tanpa ada tambahan waktu.
Terdengar sangat menegangkan. Apalagi tidak bisa menebak pertanyaan apa yang akan diajukan karena ini mengetes kecakapan dan kecerdasan calon duta kampus selanjutnya.
"Baik, tanpa membuang waktu lebih banyak lagi. Kita panggilkan, kandidat urutan yang pertama, Sandi Rahardian Fahmi dari Fakultas Kedokteran!"
Semua penonton memberi tepuk tangan ketika duta FK berjalan maju ke depan. Seorang maba dengan potongan rapi dan senyum yang ramah. Dia mengenakan selempang yang bertuliskan Duta Fakultas Kedokteran.
Semua kandidat kembali mengenakan setelan hitam putih lengkap dan riasan natural, Serta memakai selempang dengan tulisan fakultas masing-masing. Namun, kali ini, semua peserta diperbolehkan mengenakan tambahan atribut lain yang menjadi ciri khas masing-masing fakultas kalau ada. Dan itu sifatnya opsional, boleh pakai atau tidak meskipun ada atribut lain. Seperti halnya perwakilan dari FBS yang mengenakan ikat kepala yang berupa kain batik berbentuk segitiga. Di mana yang laki-laki memakainya dengan dibentuk sedemikian rupa menjadi blangkon, sedangkan yang perempuan hanya dibentuk ikat biasa yang rapi seperti.
Kembali ke duta Fakultas Kedokteran sebagai peserta urutan pertama di babak penentuan akhir. Dia tengah menjawab pertanyaan yang dilempar oleh salah satu dewan juri. Raut mukanya terlihat tenang dan nada bicaranya terdengar jelas. Setelah berhasil menjawab dengan sebaik mungkin, para juri mengangguk dan mempersilakan peserta selanjutnya untuk dipanggil setelah Sandi kembali ke barisannya semula.
Tidak hanya para kandidat duta kampus saja yang berdebar-debar. Namun, semua penonton dari masing-masing fakultas juga harap-harap cemas menunggu giliran perwakilan mereka, mendesah sedikit lega ketika perwakilan mereka berhasil menjawab, dan menunggu hasil akhir yang masih nanti.
Freya mendapat urutan nomor sebelas setelah salah satu perwakilan dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Dia mendapat pertanyaan mengenai bagaimana solusi yang terbaik untuk menangani kesenjangan antara ormawa FBS yang lain dan rohis fakultas mengingat FBS adalah fakultas budaya yang terkadang bertentangan dengan kegiatan keagamaan.
Banyak dari penoton mengembuskan nafas tidak percaya. Banyak yang berbisik-bisik heboh sampai-sampai MC harus menenangkan mereka. Pertanyaan tersebut sangat menjebak dan tidak terduga.
Benar kata senior-senior, kalau pertanyaan yang dilempar juri pada babak ini sangat acak karena juri akan mengambil gulungan pertanyaan yang ada di mangkuk kaca. Tergantung hari ini kau beruntung atau tidak. Namun, tentu saja juri tetap menilai bagaimana kau menjawab pertanyaan yang diajukan.
Sementara dibangku penonton, teman-teman Freya dan Kai terlihat tidak terima dengan pertanyaan yang diajukan. Meski pertanyaan itu diundi sekalipun.
"Pertanyaan apa-apaan itu?!" bisik Ojan dengan keras.
"Duh... Fey bisa menjawabnya nggak ya?" Rifa berujar pelan dengan cemas. Maya yang duduk di sebelahnya juga terlihat khawatir.
"Kira-kira Kai nanti dapat pertanyaan apa ya?" Teo bertanya dengan nada khawatir sekaligus penasaran.
"Mana kita tahu!" Neo menggerutu di tempatnya. Dia agak kesal sekaligus tidak percaya. Sementara Ridwan tetap diam dan tenang di bangkunya. Wajahnya terlihat serius menunggu jawaban dari Freya. Menurutnya dengan pertanyaan yang diundi, itu adalah cara yang cukup adil sehingga semua kandidat akan mengeluarkan kemampuannya masing-masing tanpa contekan. Kelemahannya mungkin ada yang dapat pertanyaan mudah dan ada yang sulit. Tetap saja, pertanyaan mudah sekalipun kalau menjawabnya sembrono akan terasa sulit. Jadi, mereka harus memilah kata-kata yang tepat dalam waktu sangat singkat.
Benar-benar gila!
Pertanyaan yang dilontarkan kepada Freya memang terdengar tidak adil.
Pertama, Freya adalah mahasiswa baru dari Fakultas Teknik. Bagaimana dia bisa paham mengenai permasalahan FBS yang dari tahun ke tahun menjadi perhatian itu? Meski beberapa tahun terakhir hubungan antarormawa dengan rohis sedikit lebih mendingan. Namun, tetap saja masih ada kesenjangan yang terasa.
Kedua, permasalahan itu harusnya dilemparkan ke Rian atau Galuh sebagai duta Fakultas Bahasa dan Seni. Meski mahasiswa baru, setidaknya mereka memiliki sedikit gambaran.
Ketiga, Freya bahkan baru tahu ada permasalahan itu di FBS. Seseorang bisa memberikan solusi yang sekiranya tepat dan terbaik ketika tahu akar permasalahannya. Dan Freya benar-benar clueless.
Dengan berusaha tetap tenang, Freya mencoba menjawab sebaik mungkin setelah dipersilakan oleh MC.
"Solusi terbaik menurut saya untuk menangani kesenjangan antara ormawa dan ormawa rohis adalah dengan mengadakan kegiatan kolaborasi atau kegiatan bersama yang didukung oleh pihak BEM. Kenapa harus disokong BEM? Menurut saya, BEM sebagai pusat dari organisasi di kampus yang memiliki pengaruh dan wewenang yang lebih tinggi dari ormawa lain. Jika BEM sendiri terbuka dengan adanya kegiatan budaya yang dikolaborasikan dengan kegiatan agama, maka ormawa lain akan mengikuti. Mengubah mindset orang lain itu butuh kesabaran, oleh karena itu, selain opsi BEM, siapapun yang memiliki kesadaran bersama sebagai satu rasa satu fakultas, alangkah lebih baik memulainya pertama kali dengan bersikap terbuka dan membaur dengan yang masih tertutup. Membaur di sini bisa dilakukan dengan datang ke kegiatan antarormawa, menyapa satu sama lain, berkunjung ke sekre, dan berkolaborasi bersama membentuk sebuah kegiatan. Jadi berlaku untuk siapa saja. Selain BEM dan kesadaran diri, duta kampus juga berperan penting untuk menggandeng dan menjadi penghubung antara rohis dan ormawa lain. Jika orang-orang antarormawa bisa saling membaur satu sama lain, saya yakin kesenjangan akan hilang seiring waktu."
Tepuk tangan menyambut selesainya Freya menjawab pertanyaan yang diajukan. Dia bahkan menjawabnya dengan jelas dan tanpa terseret-seret. Padahal waktu yang dia gunakan untuk berpikir tergolong sangat singkat dan dirinya berhasil menjawabnya kurang dari tiga menit.
Bagi yang menyadarinya, terlihat ekspresi Freya yang menahan kelegaan dibalik senyum sopan yang menjadi topeng yang mesti dikenakan.
Semua juri mengangguk mendengar jawaban yang dikemukakan Freya. Lalu memberikan penilaian di lembar yang mereka pegang. Setelah itu, Freya dipersilakan kembali ke tempatnya dan giliran kandidat selanjutnya untuk menjawab pertanyaan.
.
.
.
Malam semakin larut. Satu persatu kandidat duta kampus menjawab pertanyaan yang diajukan oleh dewan juri. Kini hanya tersisa empat peserta lagi yang belum mendapat gilirannya.
Termasuk Kayvan, Duta Fakultas Teknik kita ini belum mendapat gilirannya.
Saat ini adalah giliran dari Rian, Duta Fakultas Bahasa dan Seni yang tengah mengemukakan jawabannya. Begitu selesai, giliran kandidat berikutnya yang dipanggil oleh kedua MC.
"Malam semakin larut, tapi kalian masih tetap semangat 'kan?" tanya Andi kepada para penonton.
"Ya!"
"Penasaran tidak siapa peserta kita selanjutnya?" giliran Keisha yang bertanya. Mereka berdua mencoba melakukan sedikit ice breaking untuk melepas ketegangan dan kejenuhan selama babak final ini.
"YA!"
"Baiklah, mari kita sambut..."
"...Kayvan Candra dari Fakultas Teknik!"
Suara gemuruh tepuk tangan dan siulan menyambut Kai maju ke depan panggung. Dia terlihat tenang dan melemparkan senyum andalannya yang membuat sebagian besar penonton berjenis kelamin perempuan menjerit histeris.
Sialan, dia sengaja melakukannya!
Kai benar-benar terlihat sangat percaya diri.
Setelah dirinya menangkupkan kedua tangannya dan membungkuk sedikit ke arah juri sebagai bentuk sapaan dan penghormatan, Andi dan Keisha mempersilakan dewan juri untuk melemparkan pertanyaan.
"Untuk Kayvan Candra, bagaimana pendapatmu mengenai sistem Isimaja atau yang lebih dikenal dengan sebutan Ospek diterapkan di beberapa fakultas yang terkenal dengan senioritasnya, terutama di FT dan FO yang memiliki latihan dan hukuman fisik dan beberapa senior fakultas lain yang sewenang-wenang? Apa perlu dipertahankan atau dihapuskan? Berikan alasanmu."
Wow!
Beberapa penonton menghela napas terkejut dengan pertanyaan yang diajukan. Sebuah rahasia umum mengenai level senioritas di FT dan FO ketika Isimaja. Banyak yang biasa saja dan menganggap hal itu wajar, tetapi banyak juga yang tidak setuju dan bahkan menentangnya.
Banyak dari mereka yang memandang heran dan kebingungan. Ada apa dengan pertanyaan para dewan juri malam ini? Banyak sekali yang kontroversi dan menjebak kandidat yang mendapatkannya.
Apalagi pemilihan duta kampus tahun ini mengangkat tema kampanye anti diskriminasi dan perundungan. Jika pertanyaan itu diajukan, maka kandidat yang memperolehnya harus memilih apakah harus dipertahankan atau dihapuskan. Kedua jawaban memiliki konsekuensi masing-masing dari pihak pro dan kontra.
Kali ini benar-benar pertanyaan yang menjebak dan menyudutkan. Lebih gila dari pertanyaan yang diajukan ke Freya dan beberapa kandidat yang mendapat pertanyaan kontroversi.
Salah sedikit bisa kacau.
Dan malam ini, Kai sepertinya kurang beruntung mendapatkan pertanyaan ganda tersebut. Apalagi di dalam pertanyaan yang diajukan dewan juri menyebutkan nama fakultasnya sendiri.
Setelah memastikan Kai siap menjawab, Andi mempersilakannya untuk berbicara.
"Kegiatan inaugurasi atau lebih umum disebut Ospek memang perlu dilakukan untuk mengenalkan mahasiswa baru dengan kehidupan kampus yang akan dijalaninya. Hanya saja, saya kurang setuju dengan tindakan senioritas dan sewenang-weang yang mendeskriminasi maba. Karena menurut saya, kita memilih kampus sebagai tempat belajar selanjutnya bukan untuk ditindas oleh senior-senior di kampus..."
Banyak yang menahan napas menunggu kelanjutan jawaban Kai. Sementara itu Kai memandang ke arah titik yang sudah dia hapal di wilayah penonton. Dengan tegas dia kembali melanjutkan.
"Tetapi, setelah mengikuti agenda pengenalan yang diadakan oleh senior untuk kami, para maba, saya memahami dan belajar banyak hal. Saya belajar bahwa para senior menyiapkan berbagai kegiatan untuk para maba memiliki maksud dan tujuan yang baik. Mereka melakukannya untuk kebaikan para maba. Cara mereka mungkin keras, karena itulah kehidupan yang sebenarnya nanti setelah lulus dari kampus. Dan saya memilih untuk mempertahankan tradisi yang ada karena ada banyak hal positif yang bisa kita ambil hikmahnya kalau saja kita mengesampingkan hal-hal yang kontra. Jangan pandang hal-hal negatifnya pertama kali, tapi cobalah cari hal positifnya. FO dan FT perlu latihan dan hukuman fisik karena ranah kerja kita yang lebih keras dari fakultas lain. Pada dasarnya peran senior disesuaikan dengan kebutuhan maba dan tujuan yang akan dicapai saat Ospek. Masing-masing fakultas memiliki kebutuhan mereka masing-masing. Ospek bukan ajang balas dendam antara senior ke juniornya. Dan saya percaya Ospek yang dilakukan di UHW memiliki dasar dan tidak seperti rumor yang beredar. Mungkin ke depannya, kita bisa melakukan alternatif pendekatan lain selain bertindak keras kepada maba. Keras memang perlu, tetapi dalam hal tertentu yang memang diperlukan untuk menegaskan sesuatu yang sangat penting. Dengan begitu, pandangan negatif mengenai Ospek akan berkurang seiringnya waktu."
Semua penonton menyambut dengan gemuruh tepuk tangan dan siulan. Banyak yang tak menyangka kalau Kayvan akan memilih pro karena di bagian awal dia terlihat kontra. Namun, alasannya membuat banyak maba yang kontra dengan adanya sistem hukuman fisik di Isimaja berpikir sejenak untuk melihat kembali.
Ospek dengan hukuman fisik dan senioritas memang cukup tabu karena banyak yang tidak setuju. Namun, jika diingat kembali, FO dan FT memang berbeda dari fakultas lain. Fisik mereka harus kuat dan tidak boleh teledor saat bekerja. Karena sebagian besar ranah kerja lulusan FO dan FT memang perlu kondisi fisik yang baik dan punya resiko tinggi.
Dan sepertinya jawaban Kai membuat para dewan juri puas. Dirinya bisa tersenyum lega sekarang. Dia mengerling ke arah yang sama dengan senyum kelegaan tampil di wajahnya.
Kemudian, Kai dipersilakan untuk kembali ke tempatnya. Kini giliran kandidat selanjutnya dipanggil maju ke depan.
Pertanyaan undian yang sejenis juga sebelumnya dilemparkan kepada kandidat dari FBS, Rian, yang maju sebelum Kai. Bedanya, Rian hanya dimintai pendapat bagaimana solusi terbaik untuk menyelesaikan 'tradisi mistis' yang sering kali terjadi pada maba FBS setiap para senior melakukan tradisinya.
'Tradisi mistis' yang dimaksud adalah entah dimulai sejak kapan, tetapi tiap kali hari terakhir Ospek dan saat memasuki acara penutup, banyak maba yang mengalami histeria dan kerasukan. Acara penutup di FBS biasanya ketika para TPK melakukan 'sidang' kepada seluruh maba. Dan 'tradisi mistis' itu terjadi ketika para TPK tengah berteriak memarahi para maba karena kesalahan yang dilakukan selama Isimaja. Kondisi yang sudah kelelahan dan tertekan karena terkejut membuat beberapa mengalami hal itu.
Banyak rumor yang beredar di FBS kalau setiap tahun genap biasanya kejadian itu lebih parah daripada saat tahun ganjil. Apalagi FBS yang memang kental dengan budaya dan berbagai mitosnya.
Untungnya Rian sedikit tahu rumor yang beredar sehingga dia sedikit paham kasusnya. Apalagi para panitia sempat beberpa kali menyinggung dengan halus dengan memperingati maba untuk tetap fokus dan jangan mengosongkan pikiran. Apalagi para TPK kerap kali menegur maba yang terlihat melamun.
Kejadian itu tentu meresahkan banyak orang. Apalagi banyak yang tidak setuju dengan 'sidang' yang mesti dilakukan dengan suara keras yang mengagetkan. Membuat pemandu harus ekstra menjaga anak gugusnya dan apalagi Tim Medis yang mau tidak mau harus siap dan menyediakan penanganan untuk non-medis sekaligus.
Meski sempat ragu di awalan, Rian tadi menjawabnya dengan baik dan jelas.
.
.
.
Setelah semua kandidat menjawab pertanyaan dewan juri, acara dilanjutkan dengan selingan hiburan pertunjukan musik tradisional dan semi teater yang ditampilkan oleh UKM Kamasetra atau UKM Keluarga Mahasiswa Seni Tradisi. Salah satu UKM universitas yang menampung mahasiswa yang menyukai kesenian tradisional seperti karawitan, tari daerah, dan lain-lain.
Tidak lupa Andi dan Keisha mengingatkan sekali lagi bahwa voting sebentar lagi akan ditutup ketika jeda pertunjukan.
Ketika semua penonton menikmati pertunjukan dan ada juga yang membuka laman untuk voting, maka dewan juri akan menilai dari hasil yang didapatkan siapa yang pantas menjadi pemenang duta kampus tahun ini.
Setelah hampir lima belas menit, acara kembali diambil alih oleh kedua MC. Kesempatan untuk vote bahkan sudah ditutup sekitar lima menit yang lalu.
"Voting sudah kami tutup dan tidak ada kesempatan lagi untuk mengubah ataupun mem-vote, terima kasih sudah ikut berpartisipasi memilih duta favorit. Dan akhirnya, kita telah sampai di puncak acara. Bagian yang paling kita nanti-nantikan," Andi berujar.
"Wah tidak terasa ya," timpal Keisha, "Kalian pasti tidak sabar lagi 'kan menunggu pengumumannya?"
"Ya!" para penonton menjawab.
"Siapa nih kira-kira yang akan memakai selempang duta univesitas tahun ini?"
Pertanyaan Keisha dijawab teriakan para penonton yang meneriakkan nama fakultas masing-masing secara bebarengan.
"Siapa yang memilih Fakultas Kedokteran?"
Teriakan pendukung FK terdengar keras.
"Siapa yang jagoannya dari Fisipol?"
Kali ini pendukung kandidat dari Fisipol.
"Pendukung jawaranya FT mana nih?"
Dan kali ini dijawab dengan teriakan "Jawara" secara serentak.
Keadaan hingar bingar euforia terjadi selama beberapa saat sebelum perlahan mereda.
"Apakah para juri sudah selesai menilai...?" pertanyaan Andi dibalas anggukan oleh para juri.
Lalu seorang panitia memberikan kertas dari dewan juri ke Andi. Panitia itu membisikkan sesuatu selama beberapa sebelum kembali ke tempatnya.
"Baik," Andi kembali memulai, "Tanpa banyak membuang waktu, kami akan mengumumkan pemenang kategori, juara favorit dan pemenang duta kampus Universitas Hayam Wuruk tahun 20XX."
Keadaan menjadi hening. Semua menunggu dengan jantung berdebar-debar.
"Yang pertama, pemenang Kategori Penampil Bakat Terbaik, adalah..." Keisha memberi jeda beberapa detik.
"Riansyah Abdurrahman dan Galuh Puspita dari Fakultas Bahasa dan Seni!"
Gemuruh tepuk tangan menyambut kedua perwakilan maju ke depan untuk menerima penghargaan. Sebuah selempang dan papan yang menunjukkan nominal uang diberikan oleh perwakilan tokoh masyarakat yang diundang menjadi dewan juri.
Setelah sedikit sesi foto dan ucapan selamat, acara kembali dilanjutkan.
"Selanjutnya," Andi memulai, "Pemenang Duta Favorit dengan nilai vote tertinggi jatuh kepada..."
"Kayvan Candra dari Fakultas Teknik dan Resti Adiningrum dari Fakultas Psikologi!"
Tepuk tangan yang tak kalah heboh menyambut dua kandidat yang dimaksud. Kai berdiri bersisian dengan duta berwajah yang sedikit bule saat menerima penghargaan yang diberikan oleh ketua BEM univ yang menjadi dewan juri.
Teman-teman Kai dibangku penonton sangat antusias mengetahui dirinya adalah juara favorit. Namun, mereka juga sedikit kecewa karena harapan untuk menjadi pemenang duta kampus berkurang. Kemungkinannya sekitar 50:50 dan lebih sering tidak terjadi. Karena jarang terjadi seorang kandidat yang berhasil menjadi juara favorit akan menjadi juara duta kampus.
Bagaimanapun juga, menjadi duta favorit tidak buruk juga.
"Runner-up Duta Universitas Hayam Wuruk dimenangkan oleh..." Keisha berkata.
"Riansyah Abdurrahman dari Fakultas Bahasa dan Seni dan Wirda Nur Setyorini dari Fakultas Kedokteran Hewan!" Andi melanjutkan.
Ekspresi terkejut terlihat di raut wajah Rian yang tidak menyangka dirinya bakal menang. Sekali lagi, dia maju ke depan dan berdiri di sebelah maba berhijab dari FKH. Mereka menerima penghargaan dari perwakilan dosen yang merupakan salah satu dewan juri.
Selanjutnya merupakan hal yang ditunggu-tunggu. Pengumuman juara duta kampus.
Andi dan Keisha mengumumkan secara bersama-sama.
"Pemenang Duta Universitas Hayam Wuruk yang akan meneruskan estafet amanah tahun ini, adalah...."
Semua menahan napas. Beberapa detik terasa begitu lama. Beberapa penonton ada yang menyerukan nama jagoan mereka. Beberapa yang lain memilih diam menunggu.
"Duta Universita Hayam Wuruk tahun 20XX adalah..."
"...Kayvan Candra dari Fakultas Teknik dan Freya Sukma Palupi dari Fakultas Teknik!"
Suasana menjadi pecah. Gemuruh tepuk tangan, siulan, dan teriakan dari hingar-bingar penonton menyambut pemenangnya. Beberapa ada yang tidak menyangka tahun ini FT kembali juara pertama.
Bahkan kedua kandidat menjadi pemenangnya!
Terdengar teriakan serempak yel-yel Jawara dari bangku penonton menyambut perwakilan mereka yang menang jadi duta kampus.
Freya bahkan sampai harus menjawil Kai yang masih terdiam ditempatnya setelah diumumkan pemenangnya. Cowok itu sebelumnya sempat agak pesimis karena janjinya untuk menjadi juara gagal. Namun, siapa sangka, selain jadi duta favorit, dia menjadi pemenangnya juga!
Sebuah piala dan simbol uang pembinaan diserahkan oleh perwakilan senat yang menjadi dewan juri. Selanjutnya, selempang duta kampus diserahkan oleh duta kampus sebelumnya kepada pemenang tahun ini.
Pasha mengenakannya kepada Kayvan dan Cindy kepada Freya.
Tahun ini seperti tahun kemarin, pemenangnya dari fakultas yang sama.
Selamat Kai dan Freya! Semoga kalian amanah dalam bertugas dan menjadi salah satu contoh yang baik.
Dan untuk Kai, ada bonus menunggumu setelah ini.
.
.
.
.
.