![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
inexorable (adj): impossible to stop or prevent
.
.
.
.
.
Universitas Hayam Wuruk merupakan salah satu universitas negeri terbaik di Indonesia. Tidak hanya menjadi favorit di tingkat nasional, tetapi juga di taraf manca negara. Menariknya, dalam lima tahun terakhir ini UHW berhasil naik dan bertahan di ranking 200 besar dari total universitas yang ada di dunia. Ratusan ribu siswa SMA dan SMK bermimpi untuk bisa menjadi bagian dari almamater UHW. Meski dikenal favorit dan banyak anak borjuis berkuliah di sana, UHW juga ramah dan terbuka dengan para calon mahasiswa yang tergolong miskin atau kurang mampu. Banyak kesempatan beasiswa dapat diperoleh. UHW sendiri tidak pandang bulu soal latar belakang calon mahasiswanya, setidaknya asal bisa menjaga nama baik almamater dan bertanggung jawab. Jadi, tidak salah kalau UHW merupakan salah satu kampus idaman semua orang.
Akhir bulan Juli merupakan hari yang cukup sibuk dengan ribuan calon maba melakukan daftar ulang di kampus pilihan mereka. Tidak terkecuali di UHW itu sendiri. Setelah melalui beberapa tahap seleksi nasional dan seleksi mandiri dari pihak universitas bagi calon maba yang tidak lolos seleksi nasional—membuka peluang lagi untuk calon maba yang masih mau menjadi bagian dari UHW, masing-masing fakultas membuka pendaftaran ulang selama tiga hari.
UHW memiliki empat belas fakultas dan beberapa di antaranya adalah fakultas yang paling banyak diminati. Seperti Fakultas Kedokteran yang menghasilkan banyak lulusan terbaik, Fakultas Kedokteran Hewan yang tidak kalah keren dari FK, Fakultas Olahraga yang banyak mencetak atlet-atlet nasional dan internasional, Fakultas Ekonomi dan Bisnis karena banyak pebisnis muda dan influencer lulusan dari sana, Fakultas Hukum karena siapa sih yang tidak tertarik belajar di FH, Fakultas Teknik yang mencetak banyak insinyur ternama dan berhasil, dan Fakultas Bahasa dan Seni yang merupakan kampusnya para seniman, musisi, sastrawan dan karena cukup banyak yang minat belajar bahasa asing dengan alasan yang berbeda-beda.
Tak jauh beda dari fakultas lain, banyak calon maba berlalu lalang untuk melakukan daftar ulang di Fakultas Teknik UHW. Fakultas yang terkenal brutal dan tangguh dan saingannya adalah Fakultas Olahraga di UHW. Fakultas yang dijuluki Fakultas Tukang oleh anak-anak UHW. Salah satu dari calon maba itu ada seorang cowok yang tengah berdiri di depan lobi FT. Cowok itu bernama Kayvan Candra Notokusuma atau akrab disapa Kai, merupakan putra bungsu dari salah satu konglomerat Indonesia. Kai terkenal dengan wajah ganteng dengan senyum menawannya. Selain itu, nilai plus yang membuat banyak orang respect kepadanya adalah Kai itu orang yang humble meski dia anak konglomerat. Bahkan orang-orang tidak akan menyangka kalau Kai itu anak orang kaya kalau saja dia tidak menyebutkan nama lengkapnya atau menunjukkan kartu identitasnya. Penampilannya yang selalu rapi dan tetap terlihat sederhana sering mengecoh banyak orang.
"Sori, Kai, kami telat dari waktu janjian," seorang cowok berlari ke arah Kai diikuti cowok lain di belakangnya. Cowok itu bernama Neo dan merupakan salah satu sahabat Kai sejak SMA.
"Sepeda motor kami tadi kena jebakan batman di tengah jalan, jadi harus mampir dulu ke bengkel," lanjut Neo yang masih terengah-engah.
Kai tersenyum menenangkan ke arah dua sahabat karibnya yang baru saja tiba.
"Santai, Bro. Aku juga baru sampai nggak lama kok. Tadi nebeng mobil Kak Rin soalnya. Motorku masih di servisan," katanya.
"Tempat pendaftaran ulang di mana sih?" tanya cowok bernama Ridwan. Tampangnya yang terkesan angkuh dan datar membuat banyak orang segan untuk berbicara padanya. Ridwan memang dikenal temperamental dan mudah sekali terpancing emosi kalau ada orang yang memprovokasinya. Saat masih SMA, Ridwan pernah terlibat tawuran dan mengakibatkannya harus di skorsing selama seminggu karena ulahnya. Bahkan dirinya menjadi pelanggan setia ruangan BK tiap kali terlibat masalah.
Meski sering terlibat banyak masalah, Ridwan tidak pernah membuat nilai mata pelajarannya di bawah rata-rata yang bisa saja membuatnya dikeluarkan dari sekolah. Kai dan Neo selalu membantu Ridwan untuk belajar sebisa mereka.
"Di dalam lobi, nanti ada meja panitia di sana," jawab Kai.
"Hei, Wan, kau serius milih Teknik Otomotif? Nggak mau Teknik Industri sepertiku sama Kai?" tanya Neo. Berbeda dengan Ridwan yang terkenal keras kepala, Neo itu agak penakut bahkan sering diejek oleh Ridwan dengan sebutan cemen. Neo itu paling anti buat terlibat masalah. Tidak suka cari gara-gara padahal bisa sahabatan sama Ridwan yang seorang troublemaker.
Namun, perbedaan itu membuat kita belajar menerima dan melengkapi 'kan?
Mereka bertiga lalu berjalan memasuki lobi Fakultas Teknik.
"Heh, impianku itu masuk jurusan Otomotif di sini," kata Ridwan. "Aku bahkan udah bela-belain belajar keras biar bisa masuk sini."
"Oh, yang pas itu kau sampai ngebuat satu sekolah geger? Yang kau begitu rajin ke perpus sama jadi anak baik selama empat bulan itu?" tanya Kai dengan nada bergurau.
"Yah bisa dibilang begitu," kata Ridwan mengiyakan. "Aku sadar aku nggak akan bisa masuk Teknik Otomotif di UHW yang terkenal cukup ketat seleksi masuknya kalau masih jadi pembuat masalah."
"Oh iya, nggak kepikiran ngambil yang pendidikannya sekalian, Wan?" tanya Kai.
"Apa mukaku cocok ngajar bocah-bocah sialan di STM?" Ridwan malah bertanya balik. Wajahnya berubah datar.
"Ya siapa tau. Kau juga bisa jadi dosen kalau nggak mau ngajar di STM," kata Kai sambil mengangkat kedua bahunya, "Kau mungkin punya jiwa dan bakat jadi pengajar yang terpendam dibalik tampilanmu yang bar-bar."
"Sialan kau, Kai," Ridwan mendengus.
"Pilihanku tetap pada Teknik Otomotif murni, bukan pendidikannya. Suatu saat aku bakalan punya perusahaan otomotif dan bengkelku sendiri," lanjutnya penuh tekad.
"Aku bangga padamu, Bro. Setidaknya tidak sia-sia aku ngabisin masa SMA-ku jadi sahabatmu."
"Sialan kau!" ujar Ridwan sambil menjitak kepala Neo. Sementara Kai hanya tertawa melihat tingkah konyol mereka. Dia lalu bergumam, "Kenapa aku punya sohib macam mereka sih?"
"Eh, tapi kita nggak jadi bisa sering kumpul ya? Kudengar gedung belajar Teknik Industri beda sama Teknik Otomotif. Apalagi kudengar setiap jurusan punya Ospek sendiri-sendiri," ujar Neo kemudian. Yah... Neo itu orang yang terkadang insecure.
"Santai, Bro, kita masih tetep bisa nongkrong bareng. Tinggal kita sesuaiin jadwal kita nanti," timpal Ridwan dengan santai.
Kai mengangguk menyetujui. Di antara mereka bertiga, Ridwan mungkin yang paling keras kepala tetapi dia adalah orang yang paling peduli jika kau bisa berteman baik dengannya. Mereka bertiga kenal dan dekat saat MOS di SMA. Kai yang pertama kali mengajak bicara Ridwan yang lebih memilih menyendiri. Sementara Neo dulu satu SMP dengan Kai tetapi berbeda kelas jadi hampir tidak pernah bicara satu sama lain.
Neo dan Kai tengah mengantri di meja administrasi untuk jurusan Teknik Industri. Sementara Ridwan sudah lebih dulu menuju meja administrasi jurusannya. Mereka sepakat untuk ketemu setelah selesai melakukan daftar ulang dan melakukan tour ke keliling kampus FT. Kata Neo biar mereka biar nggak tersesat dan salah masuk ruangan karena kampus FT yang sangat luas.
"Hei, Va, maba FT tahun ini ada berapa kira-kira?"
Kai menoleh ketika mendengar ada seseorang bertanya dan mendapati seorang cewek dengan rambut dikelabang berdiri tidak jauh dari meja administrasi jurusan Teknik Industri.
"Kalau semua calon maba melakukan daftar ulang, kira-kira hampir seribu lima ratusan, Lin."
Kai terus memperhatikan cewek yang sepertinya adalah senior dalam diam. Senior itu terlihat manis dengan memakai jas universitasnya.
"Halo, dek..." sapa seorang senior yang duduk di depan meja dengan senyuman ramah. Sekarang adalah giliran Kai. Kai membalas sapaan senior itu dengan senyuman ramah juga.
"Silakan kumpulin berkasnya di sini ya? Pastikan sudah menyertakan foto empat kali tiganya. Lalu nanti ngisi nama, nomor telepon yang bisa dihubungi, jurusan, dan tanda tangan di sini ya?"
"Baik, Kak," Kai mengangguk mengerti dan mengecek sekali lagi berkas yang dia bawa. Lalu menyerahkannya ke senior yang menjelaskan tadi.
"Wah, kau ngambil Teknik Industri juga ya Dek?" tanya senior yang rambutnya dikelabang tadi. Kai yang sedang menuliskan namanya di lembar presensi mendongak dan tersenyum ke arah senior manis yang tadi dia perhatikan tadi.
"Iya, Kak," jawab Kai sambil tersenyum.
"Kalau begitu semangat ya! Siapin mental dan fisikmu dengan baik," ujar senior itu sambil tersenyum. Kai yang melihatnya terdiam dan terpana selama beberapa saat melihat senyum manis senior berambut panjang itu yang memperlihatkan lesung pipinya.
"Hei, Lin, jangan menakutinya begitu," kata senior yang duduk di depan meja administrasi.
"Aku nggak menakutinya. Aku hanya memberinya semangat kok!" kata si senior manis berlesung pipi.
"Hei, Dek, pastikan kalau kau memilih jurusan di FT itu tanpa paksaan oke? Banyak yang bilang bakalan berat tapi kalau kau menyukai apa yang kau pilih, kau pasti bisa menjalaninya dengan baik," katanya lagi, "Kalau terpaksa, sekarang belum terlambat untuk mengubahnya, atau kau bisa mencoba dan belajar menjalaninya."
Kai tersenyum mendengarnya.
"Saya memang bercita-cita masuk FT di sini, Kak. Jadi, pasti, saya akan menjalaninya dengan baik," katanya penuh keyakinan.
Senior itu tersenyum bangga dan mengangguk. Lalu, dia berujar, "Baguslah kalau begitu. Ditunggu konstribusinya di FT."
Perasaan Kai menjadi sangat baik setelah mendengar perkataan senior dengan senyum manis itu. Cowok itu menyelesaikan administrasinya dengan hati berbunga-bunga. Begitu selesai, dia berjalan dengan senyum menawannya menuju kedua sahabatnya yang sudah menunggu di depan lobi.
"Kau kenapa sih?" tanya Neo dengan heran.
"Sepertinya aku jatuh cinta," kata Kai yang masih tersenyum dengan pandangan menerawang.
"Hah?!" seru Neo dan Ridwan bersamaan.