![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Breaktime (n): a scheduled time when workers stop working for a brief period
.
.
.
.
[baru minor editing, warning: banyak percakapan]
.
.
.
.
David tetap jadi anggota TPK walau ada beberapa yang tidak setuju. Cowok terlihat jauh lebih pendiam dari sebelum-sebelumnya. Namun, setidaknya tugas-tugas yang diberikan padanya untuk sementara ini tetap bisa beres. Melalui kejadian sebelumnya, dia juga belajar banyak hal.
Salah satunya adalah bersikap professional. Walaupun kau tidak begitu suka orang yang bekerja denganmu. Cowok itu juga belajar untuk tidak serta merta menghakimi kinerja orang lain yang bahkan kita sendiri tidak tahu aslinya seperti apa. Ya, David sekarang mencoba lebih terbuka dengan segala masukan. Cowok itu mulai respect ke Aylin yang notabene cewek, tetapi dia tidak kalah dengan laki-laki.
Benar kata Aylin, masing-masing ketua punya ciri khas masing-masing. Tinggal kita sebagai anggota mau belajar menerima dan membuka kesempatan atau justru menjatuhkannya. Bahkan menjadi bawahan pun tidak bisa bertingkah seenaknya saja.
Lalu untuk masalah Joni yang masih skeptis, Aylin lebih memilih membiarkannya. Berdebat dengannya pun tidak akan menemukan jalan tengahnya. Bagaimanapun, orang seperti Joni itu terlalu keras kepala. Lebih baik dianggap sebai angin lalu atau netijen yang hobinya nyinyir tanpa bisa apa-apa. Satu cara yang bisa membungkamnya hanya menunjukkan fakta. Jadi, Aylin akan membuktikan dan berusaha keras agar bisa menjadi ketua TPK FT yang baik dan disegani.
Yang awalnya ragu dan canggung, cewek itu sekarang jadi termotivasi untuk lebih yakin dan percaya pada kemampuannya. Rima dan yang lainnya bisa merasakan perubahannya. Bahkan yang diluar tim bisa merasakan perbedaannya. Ketika serius, Aylin menjadi lebih kharismatik dan tegas. Walau sejak awal kesan dingin sudah ada, kali ini dua kali lipatnya.
Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya. Itu prinsipnya.
"WOY! ALMETKU MANA OY?!" suara menggelegar terdengar di antara orang-orang yang tengah menunggu dan mempersiapkan diri. Siapa lagi kalau bukan Budi. Tak ada hari tidak mendengar Budi bertingkah.
Hari ini selesai rabes, yang dimulai lebih awal, adalah waktunya foto-foto untuk profil perkenalan panitia Isimaja FT. Sampai rabes hari ini, sudah selesai pembahasan tema dan konsep, desain logo dan kaos, beberapa yel-yel yang sudah fix, progres untuk melobi tempat persewaan alat-alat perkab dan medis, melobi tempat catering, administrasi maba, proposal sponsor yang sudah dimasudkan ke beberapa tempat, dan tentu saja tatib untuk panitia.
Selesai rabes, masing-masing tim bersiap untuk sesi foto yang akan dilakukan oleh Tim PDD. Ada yang ganti pakaian untuk dresscode, ada yang menunggu giliran, ada yang mencari tempat untuk latar foto, ada juga yang sibuk mencari jaket almamater seperti Budi sekarang ini. Apapun warna pakaiannya, semua panitia wajib mengenakan almamater.
"Ini pasti ada yang nyolong. Puasa-puasa oy malah nyolong almet!"
"Eleh! Sok sokan dicolong. Almet ra tau dikumbah e..." komentar julid Taufan dari tempatnya. [tak pernah dicuci]
Berbeda dengan Budi yang masih terlihat terlalu santai, Taufan sudah rapi dengan jas almamaternya. Tim Konsumsi kali ini mengenakan dresscode batik dan bawahan hitam, ditambah jaket almet. Hijab menyesuaikan warnanya bagi yang berhijab. Kata ketuanya, Risa, biar mereka terlihat seperti mas-mas dan mbak-mbak sinoman. Padahal menurut Taufan mereka mas terlihat seperti mau magang di sekolah.
"Bang Budiii!! Maaf...!" seorang cewek berhijab dari Tim Medis berseru dari jarak yang cukup berjauhan. Giliran pertama adalah Tim Medis, PI, dan Tim Acara. Masing-masing mengambil latar depan lapangan, depan gedung dekanat, dan dekat air mancur.
"Aku pinjem bentar buat foto! Aku lupa bawa almet, Bang, maaf!"
"Cin! Awas bau lho! Soalnya belum dicuci sama Budi!" seru Taufan mengompori.
"HOY!" Budi terlihat tidak terima.
"Kok nggak bilang?" tanya Budi pada Cinta.
"Udah yo Bang, tadi. Bang Budi sendiri yang bilang boleh," jawab Cinta. "Sans Bang Topan! Udah tak semprot parfum banyak hasil minta dari Topek, hahaha!"
"Kok aku nggak inget ya minjemin si Cinta?" tanya Budi dengan bingung.
"Kau aja yang sibuk nge-game. Almetmu tok anggurin," sahut Taufan.
Sementara di sisi lain, Aylin tengah menunggu bersama timnya. Sesuai ciri khas TPK, mereka mengenakan dresscode hitam-hitam dan tak lupa jas almamater sesuai kesepakatan. Cewek yang berambut panjang dan dan tidak mengenakan hijab harus diikat rapi rambutnya. Semua rambut harus berwarna hitam, jadi kalau sebelumnya ada yang disemir harus dicat hitam lagi. Intinya penampilan mereka harus sama ketika mereka akan bertugas di TM dan Isimaja.
"Lin, tim-mu mau di mana fotonya?" tanya seseorang dari PDD, Regina.
"Kami sepakat di depan gedung dekanat, Gin," jawab Aylin.
"Oke. Habis PI langsung TPK ya."
TPK berpose dengan tangan dilipat di depan dada untuk yang berdiri dan semua memasang raut wajah datar dan judes tanpa senyum. Aylin tentu saja berdiri di tengah untuk menandainya sebagai ketua. Mereka melakukannya beberapa kali sesuai arahan dari Regina. Biar nanti PDD yang memilih mana yang terbaik untuk di posting.
Tak hanya pose mengintimidasi saja, TPK juga melakukan pose normal seperti orang berfoto bersama-sama. Ada yang tersenyum, memasang wajah konyol, berangkulan, dan lain-lain. Tentu saja foto itu nanti untuk konsumsi pribadi mereka. Sekalian dimasukkan untuk video aftermovie kalau kata Regina.
"Sampai ketemu habis lebaran ya gaes! Minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin semua...!"
Naufal menutup rabes terakhir sebelum liburan akhir puasa dan hari raya Idul Fitri di mulai.
.
.
.
"Assalamu'alaikum! Buk, Alin pulang..!"
Aylin memasuki rumahnya yang sudah dia tinggal selama beberapa minggu ini karena sibuk UAS dan rapat panitia. Tadi pulang bersama Naufal karena Rima mau mampir dulu ke tempat langganannya untuk mengambil pesanan. Setelah orang tua mereka berdua menikah, Rima ikut tinggal di rumah Naufal. Jadi Rima bertetangga dengan Aylin.
"Wa'alaikumsalam... eh, nak wedhok udah pulang," Lathifah, ibunya Aylin, berjalan keluar dari arah dapur. Sepertinya wanita itu tengah menyiapkan menu untuk berbuka puasa hari ini. [anak perempuan]
"Pulang bareng siapa, Nduk?" tanya Lathifah kepada putri semata wayangnya.
"Sama Nopal, Buk. Rima lagi ada urusan jadi nggak bisa bareng," jawab Aylin. "Bapak pulang, Buk?" kepalanya celingak-celinguk mencari keberadaan ayahnya yang biasanya kalau sore-sore begini selalu menonton tv ketika tidak ada tugas kerja. Dan itu juga cukup jarang terjadi mengingat posisi ayahnya.
"Hari ini pulang. Sore sih pas ngabarin ibu. Tapi kok sampai sekarang belum sampai," jawab ibunya dengan raut agak cemas.
"Lagi di jalan kali, Buk. Biasanya macet kan kalau ramadhan gini?"
"Iya, ya? Benar juga."
Lalu Lathifah kembali berkutat dengan masakannya.
"Mbah Kung?" tanya Aylin sekali lagi. Tidak biasanya kakeknya itu tidak duduk di depan teras sambil membaca buku dan mendengarkan radio.
"Tadi ke rumah Pak Jamali, ada kenduri. Nggak tahu kenapa belum balik sampai sekarang, mungkin mampir dulu," jawab Lathifah.
"Adus-adus sik kana, baru pulang kan?" [mandi-mandi dulu sana]
Tanpa babibu lagi, Aylin bergegas ke kamarnya untuk menaruh barang bawaan dan siap-siap mandi.
Di rumah, ada empat orang yang menghuni. Aylin, bapak, ibu, dan kakek. Rumah inipun sebenarnya milik kakeknya. Semenjak nenek meninggal, bahkan sebelum Aylin lahir, kakek tinggal sendirian di sini karena semua anaknya yang sudah menikah dan punya pekerjaan masing-masing.
Di antara ketiga anaknya, hanya ibunya lah yang setidaknya punya cukup banyak waktu luang disamping mengajar di sekolah dan tugas sebagai Persit. Jadi ibunya memutuskan tinggal bersama kakek untuk merawat dan menemaninya. Walaupun harus sering ditinggal ayah Aylin untuk bertugas sampai ayah ditempatkan di Jogja dan menjadi komandan beberapa tahun ini.
Bisa dibilang Aylin juga anak pindahan dulu pas TK. Selama lima tahun awal kehidupannya, Aylin cukup sering berpindah tempat mengikuti tugas ayahnya. Baru ketika TK, Aylin dan ibunya memutuskan menetap di sini, tinggal bersama kakek sementara ayah masih harus bertugas ke pelosok bahkan sampai ke daerah konflik sebelum benar-benar ditugaskan di dekat sini. Bertepatan dengan Aylin yang mau masuk SMP.
Kedua saudara ibu yang lain walau sibuk, mereka selalu menyempatkan untuk menengok─kalau ada libur biasanya akan membawa keluarga masing-masing untuk menginap.
Kakeknya itu walau sudah sangat sepuh, tetapi masih terlihat bugar. Tak jarang mengajak Aylin dan sepupunya yang lain kalau mampir untuk jalan-jalan pagi ke pantai sambil mendengarkan kisah-kisah lama.
Jarak pantai dengan rumah Aylin tak begitu jauh. Hanya sekitar lima belas sampai dua puluh menitan dengan jalan kaki. Iya, bisa dibilang Aylin itu anak pesisir.
"Bulikmu beberapa waktu lalu telepon, katanya Nana nginep di asrama ya?" tanya Lathifah pada Aylin yang memasuki dapur setelah selesai mandi.
"Iya, Buk. Ada tanding basket antarsekolah. Kemarin finalnya, jadi tadi pagi udah pulang," jawab Aylin.
"Oh... iya to? Puasa-puasa kok malah ada pertandingan," komentar Lathifah dengan heran.
Aylin mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tahu.
"Aku juga kurang tahu, Buk. Soalnya panitianya juga bukan dari kampus. Mereka cuman nyewa tempat setahuku."
"Assalamu'alaikum!"
Suara seorang pria terdengar dari pintu masuk. Diikuti suara langkah kaki memasuki rumah.
"Tuh Bapak udah pulang," ujar Lathifah pada Aylin sebelum menjawab salam dari suaminya.
"Coba tolong susul Kakung di tempatnya Pak Jamali, bentar lagi mau buka tapi kok malah belum balik," pinta ibunya pada Aylin kemudian.
Aylin mengangguk dan berjalan keluar rumah setelah menyapa ayahnya.
"Mau kemana Nduk?" tanya ayahnya yang masih mengenakan seragam lengkap. Tumben.
"Nyari Kakung, Pak!" setelah berkata demikian, Aylin berjalan keluar pekarangan rumah menuju rumah tetangganya, Pak Jamali.
.
.
.
Cewek itu tengah bersama Rima dan Naufal di pekarangan belakang rumah yang lumayan sepi. Mereka bertiga duduk di dipan sambil melakukan skype dengan Taufan dan Budi. Sengaja pakai laptop karena biar tidak capek memeganginya dan layarnya yang lebih lebar.
Hari ini adalah Hari Raya Idul Fitri. Semua anak dan cucu kakek berkumpul di rumah jadi ramai. Rima dan Naufal datang berkunjung satu jam lalu bersama kedua orang tua dan adiknya, Aziz, untuk halal bi halal. Mereka berdua tetap tinggal sebentar untuk ngobrol sekalian menghubungi dua sohib yang lain.
Tahun ini adalah lebaran ketiga Rima menjadi saudara tiri Naufal. Tidak ada drama seperti di sinetron-sinetron yang kebanyakan tidak realistis. Awalnya memang terkejut dan merasa canggung, tapi karena sudah saling kenal dan berteman baik, mereka berdua menjadi lebih akrab dan terlihat seperti sepasang saudara yang dekat.
Adik Naufal, Aziz, bahkan menjadi dekat dengan Rima dan ibunya. Secara, selama hidupnya, Aziz belum pernah merasakan kasih sayang ibu sebelumnya. Jadi kehadiran ibunya Rima mengobati perasaan itu. Wanita itu bahkan menganggap Aziz seperti anak kandungnya.
Rima memang sejak dulu ingin punya saudara. Yah... walau aslinya Rima ingin sekali punya saudara perempuan karena sepupunya kebanyakan laki-laki dan hanya satu sepupu perempuan yang benar-benar dekat dengannya karena seumuran. Namun, meski bukan perempuan, mendapatkan Naufal dan Aziz sebagai saudaranya itu merupakan anugrah yang harus disyukuri.
Lagipula Ayah Naufal itu merupakah pria yang ramah dan humoris. Walau tetap tak akan menggantikan sosok ayah kandungnya, tetapi Ayah Naufal merupakan ayah sambung terbaik yang pernah Rima minta. Sejak awal bertemu, pria itu bisa mudah akrab dengannya. Dia juga tidak pernah memaksa Rima langsung menerimanya sebagai ayah tiri.
"Iyalah! Yakali kagak pulang! Semester lalu aku udah nggak pulang. Ibuku udah ngomel dikira aku lupa rumah, hahaha..." jawab Taufan. "Untung aja aku dapet tiket kereta, huhu. Yah walau lebih mahal karena lebaran tapi nggak apalah yang penting bisa pulang."
"Pan fotoin pantai sana dong, katanya pasirnya putih," pinta Rima.
Terlihat wajah Taufan berubah datar.
"Rumahku nggak deket pantai btw. Yakali aku ke pantai buat foto doang. Pantai utara emang pasirnya putih, tapi banyak yang kotor. Bukannya rumah kalian dekat pantai? Ke sana aja sih kalau gitu," kata Taufan.
"Bosen cuy, hampir tiap hari liat pantai sini. Di sini pasirnya biasa, pasir hitam," kata Rima. "Pengen ke pantai yang pasirnya putih, terus suasananya masih alami."
"Emang belum pernah?" tanya Taufan bingung.
"Kalau kau lupa, Rima dulu kan anak Jakarta," Naufal mengingatkan.
"Oh iya ding. Mantan anak kota," timpal Taufan dengan nada sok dibuat dramatis. "Eh, bukannya di mana itu di Jakarta Utara ada pantai bagus ya? Terus Kepulauan Seribu? Dulu aku ke Jakarta Cuma pas study tour SMP sih, itupun ke monas sama Ancol."
"Kurang suka ke sana, terlalu ramai. Aku belum pernah ke Kepulauan Seribu btw," jawab Rima.
"Kita ke Gunung Kidul aja kalau gitu, ke pantainya. Di sana bagus-bagus kok," usul Aylin.
"Gas yok!" seru Naufal menimpali. "Agendakan!"
"Boleh-boleh," sahut Rima.
"Okelah," kata Taufan. "Mumpung belum pernah ke sana. Selama kuliah ini terlalu sering ke daerah Sleman, kota, sama main ke rumah Nopal sama Alin, duh!"
"Budi kemana sih?" tanya Aylin kemudian. Sejak tadi mereka mencoba menghubungi cowok itu tetapi belum berhasil.
"Mati kali," kata Taufan asal. Emang suka kurang ajar sekali dia sama sohib sendiri. Budi pun tingkahnya juga suka minta dihajar.
"Dia jadi pulang kampung?" tanya Naufal ke Rima.
Rima mengangguk. "Jadi katanya. Pagi tadi sebelum shalat Ied aku sempet lihat sw-nya Budhe yang posting foto keluarga. Ada Budinya di sana, jadi masih hidup lah."
Tidak jauh berbeda dengan Taufan, Rima juga suka menistakan sepupunya itu. Walau sudah kebal dengan segala tingkah laku Budi sejak masih kecil, tetap saja Rima sering dibuat marah-marah dan jengkel dengan tingkah cowok itu yang suka nyeleneh.
"Ada panggilan video masuk tuh! Dari Budi," kata Naufal.
"Mending nggak usah diangkat," Taufan berujar, "Jeleh aku weruh rupane." [Bosan aku lihat mukanya]
Namun, Naufal tetap mengangkat panggilan skype dari Budi.
"HALOO FANS!" teriakan heboh Budi langsung terdengar begitu panggilan tersambung.
"Pasti pada kangen kan? Kupingku dari tadi panas, pasti lagi ngomongin orang ganteng ini kan?" katanya dengan narsis.
"Kok seketika aku nyesel ya ngangkat teleponnya," Naufal berkomentar.
"Kan udah kubilang tadi, nggak usah diangkat," sahut Taufan.
"Bukannya salam atau apa, malah bikin orang jengkel," komentar Rima dengan nada julid.
"Sugeng riyadi, Bud. Mohon maaf lahir dan batin!" Aylin memang yang paling normal di sini, untuk sementara. [Selamat lebaran]
"Mohon maaf lahir dan batin juga, Alin sayangku!" balas Budi dengan ceria.
"Emang Alin doang sohibku, yang lain buang aja," lanjutnya.
"Nggak merasa kehilangan juga kok," balas Rima.
Setelah beberapa menit diisi ejekan dan percakapan nyeleneh lainnya, akhirnya Naufal membuka suara lagi.
"Kita agendakan trip ke Gunung Kidul yuk, refreshing sekalian jalan-jalan," katanya.
"Gaskan pokoknya!" seru Budi dengan semangat. Dia emang selalu bersemangat kalau pergi liburan atau jalan-jalan.
"Eh tapi kok tumben ke sana?" tanyanya heran. Budi pernah ke sana waktu ada kegiatan Hima Teknik Sipil.
"Rima pengen ke pantai yang pasirnya putih, terus tadi Alin ngasih usul ke GK," jawab Taufan.
"Lah, bukannya rumah deket pantai? Kok pantai lagi? Ke gunung kek," komentar Budi.
"Bosen Bud. Terus pengen ke pantai pasir putih. Dan GK kan dari gunung, jadi udah sepaket!" sahut Rima.
"Tumben ngebet banget. Ngidam? Jangan-jangan lagi hamidun ya?!"
"Cangkem-nya!" seru Rima tak terima dengan komentar frontal dari Budi. [mulut; kesannya lebih kasar dari "lambe"]
"Yowis, kita agendakan habis Isimaja aja gimana? Kan masih ada waktu libur tuh seminggu, kita refreshing setelah kegiatan full di kepanitiaan," kata Naufal memutuskan. [ya udah]
"Setuju!!" semua mengangguk sepakat.
.
.
.
.
..."Sial, aku nggak nyangka kalau latihan fisik dari Alin nggak kalah strict dari Bang Teguh dulu!" komentar Andre ketika semua TPK beristirahat sejenak setelah melakukan segala latihan fisik....
..."Kudengar dari Nopal kalau dulu Alin pernah jadi danton tonti sama jadi DPT," kata Burhan....
..."Jangan lupakan Alin itu mantan paskib yang jelas-jelas pernah dilatih tantara," Rima menambahkan....
..."Sial, pantesan berasa latihan militer," keluh Andre....
..."Btw, ayahnya Alin itu juga komandan militer. Jadi, mungkin Alin bisa strict gini karena lingkungannya," kata Rima lagi dengan sengaja untuk melihat reaksi mereka. Anggota lainnya yang mendengarnya langsung lemas....
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
aku kasih sneak peak buat part berikutnya
aku nggak tau masih ada atau tidak yang baca cerita ini. tapi ini cerita panjang pertamaku yang ku unggah ke platform umum. apalagi masih on going, but i want to write this until the end part.
oh ya, sosok ayah aylin itu terinspirasi dari kakak sepupuku yang juga seorang TNI AD. tapi aku belum survei lebih jauh sih, jadi maaf ya kalo ada yang kurang tepat. nanti bakal aku revisi kalau udah selesai, atau kalau ada yang komen (kalo ada)
aku nggak bisa misuh (sorry not sorry, katakanlah aku emang cupu tapi dari dulu emang nggak bisa (prinsip juga). tapi di cerita ini mau nggak mau aku harus nulis beberapa kata atau kalimat kasar untuk menyesuaikan karakter.
oh iya, cerita ini emang lebih ke SLICE OF LIFE jadi konfliknya ya itu-itu aja, nggak tahu nanti
buat yang blm tahu apa itu sinoman, itu adalah muda mudi karang taruna yang biasanya diminta bantuan di nikahan atau pengajian buat ngasih minum, snack, makan ke tamu (kayak pelayan gitu)