Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
You are the Reason



reason (n): a cause, explanation, or justification for an action or event


.


.


[baru minor editing, maaf kalau aneh]


.


.


.


Beberapa hari ini, rasanya sama sekali tidak baik-baik saja. Hubungan yang belum jelas, makin tak jelas. Yang satu terlalu takut dan sibuk menyalahkan diri, yang satu memilih memberikan ruang sejenak agar masing-masing bisa lebih yakin apa yang diinginkan.


Bagi orang lain, mungkin tidak terlihat aneh. Seperti semuanya sedang baik-baik saja. Sibuk dengan kuliah masing-masing. Apalagi sebentar lagi ulangan akhir semester akan di mulai.


Sudah Desember, bulan depan, selepas tahun baru UAS dimulai. Beberapa dosen juga memilih memajukan hari atau ganti hari di bulan ini. Ada juga yang memilih final project dari mahasiswanya sebagai ganti UAS, terutama untuk mahasiswa semester lima ke atas.


Selain UAS yang di depan mata, ada juga yang namanya musyawarah akhir tahun bagi anak-anak organisasi. Menyiapkan lembar pertanggungjawaban alias LPJ dan melaporkannya di sidang akhir kepengurusan. Bersiap-siap diserang pertanyaan-pertanyaan dari yang hadir, dan biasanya mantan pengurus.


Itulah kenapa belum ada kemajuan pasti antara Aylin dan Kayvan.


Bukan masalah gengsi lagi yang menunda mereka meluruskan apa yang jadi benang kusut. Kesibukan masing-masing yang membuat hal itu tertunda.


Sebenarnya, Kayvan masih memberikan perhatian-perhatian kecilnya. Namun, hal itu jelas berbeda rasanya dari sebelumnya.


Aylin yang berusaha fokus menyelesaikan final project­-nya sebaik mungkin masih sering kepikiran dengan apa yang sebelumnya terjadi. Membuatnya merasa juniornya itu benar-benar marah dan kecewa padanya.


Dia ingin sekali menyelesaikan semuanya, meluruskan dan berharap semuanya baik-baik saja. Namun, egonya masih cukup tinggi. Dia masih penakut, agak pesimis, dan overthinking.


Dia juga lebih memilih fokus ke kuliahnya dulu, menyelesaikan tugas-tugasnya baru memikirkan lagi masalahnya. Baginya, pendidikan masih jadi yang paling pokok meski harus berusaha keras agar tetap fokus kali ini.


Menyinkronkan antara hati dan otak itu susahnya minta ampun.


Lalu ketika dia rehat sejenak dari tugas-tugasnya, Aylin lebih memilih untuk menggalau di dalam kamar. Suasananya begitu mendukung dengan lagu-lagu mellow yang diputar.


Selanjutnya, dia akan merenung, memikirkan semuanya.


"...I'm in a foreign state. My thoughts they slip away. My words are leaving me. They caught an aeroplane, because I thought of you..."


Dan kali ini Aylin istirahat sejenak dari berjam-jam mengerjakan tugasnya yang tinggal sedikit lagi selesai. Lalu membuatkan dirinya secangkir coklat panas dan menikmatinya sambil memandang keluar jendela.


Hujan turun sejak satu jam lalu.


Membuat suasana terasa tenang. Apalagi alunan lagu mellow dan bunyi hujan yang sengaja Aylin putar untuk menemaninya belajar kali ini menambah kesan syahdu.


Pandangannya mengarah keluar jendela tetapi pikirannya melayang entah kemana.


Dia memikirkan soal Kayvan. Bagaimana sikap juniornya itu selama ini padanya. Dari yang awalnya begitu menentangnya, membuatnya jengkel setengah mati, sampai pada akhirnya ketika juniornya itu mengaku kalau dia suka padanya.


Jatuh hati padanya.


Dan berniat mengejarnya terang-terangan.


Membuatnya berhasil memporak-porandakan hati Aylin. Membuatnya merasakan berbagai perasaan yang baru untuknya.


Membuat Aylin mengalami apa yang namanya suka pada seseorang, jatuh hati pada seseorang.


Bisa dibilang, Kayvan adalah orang pertama dalam segala hal yang berurusan dengan perasaan baru yang dia rasakan akhir-akhir ini. Membuatnya merasakan hal yang sama seperti apa yang dia lihat pada orang-orang disekitarnya.


Seperti Bimala dan Frans.


Naufal dan Lia.


Nana dan Pandu meskipun adik sepupunya itu sering menyangkalnya.


Taufan pada teman kecilnya yang Aylin belum pernah bertemu hanya sesekali mendengar ceritanya dari sahabat berkacamatanya itu.


Bahkan Rima kepada seseorang yang entah siapa itu karena cewek itu tidak pernah cerita. Hanya sekali dulu dan itupun tidak jelas siapa. Namun, sorot matanya begitu jelas walau sekilas.


Sejujurnya, Aylin bukannya terlalu fokus pada akademiknya untuk mengurusi percintaan. Tidak sepenuhnya salah. Namun, ada suatu waktu di mana Aylin sempat memikirkannya.


Bagaimana rasanya jatuh cinta.


Sayangnya, dirinya langsung ragu karena mengingat kejadian yang pernah Bimala alami di depan matanya. Takut kalau ketika dia suka pada seseorang dia nanti bakalan kasusnya serupa dengan Bimala.


Makanya, Aylin lebih memilih fokus pada pendidikannya. Lebih memilih menyendiri membaca buku ketika semua orang sibuk dengan kisah percintaan mereka.


Melihat saudaranya pernah sampai sehancur itu membuat Aylin merasa takut. Cinta itu bisa sesakit itu ya?


Namun, sekarang Bimala ada Frans. Mereka saling menemukan satu sama lain. Membuat Aylin sedikit lebih lega.


Lagipula, belum ada orang yang bisa membuatnya merasakan apa yang namanya jatuh cinta. Termasuk Naufal sekalipun yang dulu pernah bilang suka padanya.


Perasaannya pada Naufal murni platonis. Bahkan ketika Naufal jadian dengan Lia, Aylin justru senang untuk keduanya.


Sampai pada akhirnya, ada seorang junior yang berhasil menerobos masuk. Membuat Aylin merasakan adrenalin yang rasanya asing.


Lalu Aylin memikirkan sikap dia selama ini kepada Kayvan. Yang mungkin akan ada banyak orang yang setuju kalau sikapnya kurang baik pada Kayvan yang memberikan segala bentuk perhatiannya padanya.


Aylin tahu itu. Dia seharusnya tidak mendorong jauh tiap kali cowok itu menunjukkan perhatiannya hanya karena dia tidak biasa dan merasa malu.


Mungkin pembelaannya adalah karena dia takut semuanya ini tidak nyata.


Namun, begitu melihat sorot mata dan senyum kecewa yang Kayvan tampilkan saat itu membuat hatinya diremas begitu kuat. Ada luka di sorot mata itu. Sesuatu yang seharusnya tidak ada pada sosok Kayvan yang sering memandang dengan sorot jenaka.


Dia salah. Tak seharusnya dia begitu.


Dia salah.


Ketika dia menyendiri dan memikirkan semuanya, dia tahu dia seharusnya segera meluruskan semuanya. Kalaupun dia ragu, harusnya dia memastikan langsung pada Kayvan.


Namun, ketakutannya dengan jawaban yang mungkin tidak sesuai ekspektasi membuatnya lebih memilih memendamnya sendiri.


Apalagi cowok itu masih sempat memberikan perhatian kecil untuknya, meski sikapnya tidak seperti biasanya.


Iya Aylin tahu dan sadar soal itu. Dia kini lebih peka dengan hal-hal istimewa yang ditujukan pada dirinya oleh Kayvan. Tidak menyangkal lagi.


Membuatnya merasa ada harapan dan di satu sisi juga merasa semakin bersalah, tidak enak.


Dia tidak mau memikirkan kemungkinan buruk yang hanya membuatnya semakin takut, ragu, dan terus kepikiran.


Tidak. Sudah cukup.


Kali ini dia yang harus bergerak.


Dia harus bertemu Kayvan. Aylin mengangguk pada dirinya sendiri. Matanya kini menyorot lebih tegas dan yakin.


Iya, dia harus menemui Kayvan. Segera.


Kemudian, dia melirik tugasnya yang belum selesai. Tenggat pengumpulannya tinggal beberapa hari lagi.


Sekarang dia selesaikan final project-nya lebih dulu. Sudah sejauh ini, sayang kalau lewat batas pengumpulan dan dosen mengurangi nilainya atau bahkan menolaknya.


Dia akan mengajak Kayvan bicara setelah ini.


Untuk saat ini, mungkin berinisiatif mengirimi Kayvan pesan singkat tidak ada salahnya. Selama ini, cowok itu-lah yang lebih sering lebih dulu mengiriminya pesan.


Berterima kasih atas kiriman makanan atau minuman yang sesekali cowok itu berikan meski hubungan mereka sedang dingin saat ini bukan hal yang buruk.


"Oh lights go down. In the moment we're lost and found. I just wanna be by your side. If these wings could fly..."


.


.


.


Aylin baru saja selesai mengumpulkan tugas final project-nya di meja dosennya. Untuk saat ini sudah bisa lega karena sudah tidak ada tugas-tugas lagi. Tinggal belajar untuk beberapa mata kuliah lain yang terjadwal selepas tahun baru.


Lalu sekarang, saatnya untuk menemui Kayvan.


Hubungannya dengan juniornya itu saat bertukar pesan sudah terbilang seperti sebelumnya. Hanya mungkin ada jeda cukup lama dalam membalas karena sama-sama sibuk.


Dan bagi Aylin, hal itu menandakan mereka akan baik-baik saja.


Aylin belum bilang ingin menemui Kayvan. Namun, dia sudah bertanya pada juniornya sedang di mana melalui pesan. Cowok itu lalu membalas dia ada di gedung PKM selesai rapat dengan DPM.


Aylin membalas kalau dia akan ke sana, jadi jangan ke mana-mana dulu.


[Okey kak ^^] adalah balasan Kayvan tak lama setelahnya.


Itulah sebabnya, saat ini Aylin tengah berjalan menuju gedung PKM yang letaknya memang di sisi timur FT. Jarak antara gedung kuliah teknik industri dan gedung PKM memang lumayan.


Sepanjang jalan, Aylin memikirkan apa yang akan dia katakan nanti pada Kayvan.


Apakah mereka benar-benar akan baik-baik saja?


Berjalan dengan isi kepala yang berkecambuk membuat perjalanan terasa lebih cepat. Tak jauh di depannya, sudah terlihat begitu jelas gedung PKM yang bertingkat.


Aylin berhenti sejenak, menarik nafas dalam-dalam lalu mengembuskannya perlahan. Meyakinkan dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Dia merasakan jantungnya bertalu-talu. Perasaannya campur aduk antara gugup, cemas jadi satu. Padahal hanya akan menemui Kai yang sebelum-sebelumnya mereka saling berinteraksi begitu dekat. Namun, rasanya kali ini seperti berbeda.


Cowok itu tengah merapikan map dan berkas yang dia bawa untuk dimasukkan tas.


Belum sempat langkah kakinya semakin jauh, pemandangan tak jauh di depannya itu menahannya. Seseorang menghampiri Kayvan.


Aylin terdiam di tempatnya, memperhatikan dengan perasaan campur aduk dan ditambah sedikit curiga.


Dia tidak tahu Kai dekat dengan Linda. Sejak kapan? Interaksi mereka saat ini terlihat begitu akrab. Mungkin orang-orang bisa mengira mereka ada sesuatu dari gestur ketika bicara, terutama Linda.


Oh, Aylin cukup kenal Linda. Salah satu anak DPM yang kemarin juga ikut Tim Advokasi Isimaja FT. Salah satu primadona di angkatannya dan hampir saja didapuk jadi duta kampus kalau saja dulu tidak sakit.


Aylin sendiri tidak punya masalah dengan Linda. Mereka saling kenal tetapi tak bisa dibilang teman karena sangat jarang bicara. Namun, memang Aylin merasa kurang nyaman berinteraksi dengan Linda.


Seolah ada sesuatu yang mengganjal. Namun, Aylin tidak pernah menunjukkannya. Dia akan tetap bersikap sopan dan bicara kalau memang perlu.


Dan saat ini, melihat Kai terlihat akrab dengan Linda membuatnya tak nyaman.


Apalagi melihat cara Linda yang terlihat sok akrab dengan Kayvan. Seolah-olah mereka memang sudah sangat dekat. Jelas-jelas Kai terlihat menanggapinya sewajarnya.


Aylin tidak suka ini. Sangat tidak suka.


Oh tidak, Linda sadar kalau Aylin berdiri tak jauh darinya. Cewek itu terlihat diam tidak berekspresi apa-apa. Dia tersenyum dengan sengaja ke arah Aylin sebelum berpaling ke Kayvan. Mulai mengajak bicara lagi sambil sesekali melirik ke arah Aylin.


Entah apa yang mereka bicarakan, Aylin tidak mendengarnya dengan jelas. Posisi Kayvan agak memunggunginya. Dia hanya menangkap beberapa potong kalimat.


Tentang pacar, seseorang yang disukai, dan sesuatu yang personal.


Lalu Linda dengan sengaja mendekatkan tubuhnya ke arah Kayvan. Sambil sesekali mengerling ke arah Aylin. Tak lupa senyum tipis yang terkesan meremehkan.


Linda tidak suka orang seperti Aylin. Baginya, Aylin itu payah. Kenapa si payah dan bukan siapa-siapa itu selalu mendapatkan perhatian banyak orang? Bukan dirinya yang jelas jauh lebih baik darinya?


Lalu Linda bertemu Kayvan Candra. Sosok sempurna yang sayangnya kenapa malah dekat dengan Aylin? Lagi-lagi Aylin. Lagi-lagi dia.


Dia mengamati dalam diam. Dia bisa menyimpulkan kalau si pecundang Aylin itu suka pada Kayvan Candra. Meh! Mana pantas orang seperti Aylin bersanding dengan Kayvan Candra.


Kita lihat saja, siapa di antara mereka yang lebih pantas. Sekarang saja, dirinya yang lebih akrab dan dekat dengan Kayvan Candra. Yang mengobrol dengannya.


Di sisi Aylin, cewek itu terdiam membeku. Merasa kelu dengan apa yang dilihat di depannya dengan mata kepalanya sendiri. Hatinya memanas dan seperti diremas begitu kuat.


Mereka begitu dekat dan akrab. Bahkan, sesekali Kayvan tertawa mendengar entah perkataan apa yang dilontarkan Linda.


Mereka...


Mereka juga terlihat serasi.


Mata Aylin mulai memanas. Tanpa sadar setetes air mata jatuh dipipinya.


Dia pikir semua akan baik-baik saja. Masih ada kesempatan untuk meluruskan semuanya. Memperbaikinya.


Namun, kenapa...?


Ini rasanya sakit sekali. Sakitnya seolah-olah membuatnya kesulitan bernafas. Dia tidak suka ini. Tolong hentikan.


Apa dia menyerah saja?


Semua sudah terlambat kan?


.


.


TIDAK!


Apapun itu, dia tidak mau semua ini berakhir begitu saja. Tidak, tidak boleh.


Buru-buru Aylin mengusap air matanya.


Apa yang ada di depannya seolah-olah menamparnya dengan kuat. Dia sadar, dirinya sudah jatuh cinta sedalam ini pada Kai. Sadar atau tidak, Kai berharga untuknya, jadi salah satu orang terpenting buatnya.


Untuk pertama kalinya, dia merasa seperti ini. Karena seorang Kayvan Candra.


Dan melihat ini semua, semakin menyadarkannya, kalau dirinya takut Kai akan pergi meninggalkannya.


Jangan, tolong.


Entah keberanian dari mana, tanpa pikir panjang, Aylin berjalan menghampiri mereka berdua. Terlihat nekat, seperti bukan seorang Aylin.


Untuk saat ini, Aylin tanpa ambil pusing memanfaatkan keberanian tiba-tiba muncul dan spontanitas ini.


"Kai... boleh kita bicara berdua saja?" suaranya terdengar bergetar.


.


.


.


Kai tengah menunggu Aylin di lobi PKM sambil kembali mengecek berkas-berkas yang mesti dia bawa. Menjadi panitia sidang akhir tahun BEM sekaligus menjalankan proker pertama duta kampus yang bekerja sama dengan DPM membuatnya sangat sibuk akhir-akhir ini.


Dia juga harus bisa membagi waktunya dengan kuliahnya. Untung saja semester satu masih bisa dikatakan lebih bisa santai karena mayoritas materi yang dipelajarinya masih perkenalan dan basic.


Itulah kenapa berhari-hari ini dia tidak merecoki Aylin. Hanya saling bertukar pesan. Sesekali, saat luang, Kayvan menyempatkan memberikan amunisi makanan ke Aylin seperti sebelum-sebelumnya.


Kayvan tidak bisa marah kepada Aylin lama-lama setelah waktu itu. Katakanlah dia terlalu bucin, biarlah. Setelah dia memikirkannya baik-baik, dan mencoba memosisikan dirinya jadi Aylin, dia sedikit lebih mengerti. Meski dia juga harus mendengar langsung dari Aylin.


Dia juga butuh kepastian.


Selama ini, Kai belum pernah benar-benar merasa sampai seperti ini dengan perempuan lain. Karena seorang Aylin Maharani.


Kalau bukan dia, Kai tidak tahu apakah dia bisa merasa begitu jatuh cinta sedalam ini. Seperti ini. Dan karena sejak awal, ini semua tentang dia.


Apalagi setelah beberapa waktu lalu, dia berbicara dengan Naufal. Sosok cowok yang sangat dekat dengan Aylin sampai sempat membuatnya cemburu dengan kedekatan mereka.


Kai tak pernah bilang apa-apa soal rasa cemburunya itu. Anehnya, Naufal seolah tahu. Sampai mengajaknya bicara sambil minum kopi.


Dari Naufal, Kai tahu kalau cerita antara Naufal dan Aylin. Dan dari cowok itu pula, Kai semakin yakin buat mengejar Aylin. Entah dari mana seniornya itu tahu Kai jatuh hati pada sahabatnya.


"Dari tatapan dan gesturmu," begitu kata Naufal kala itu.


Secara tidak langsung, Kai mendapatkan lampu hijau dari sahabat dari kecil Aylin.


Kembali pada saat saat ini, Kai sudah selesai merapikan berkasnya ketika seseorang menghampirinya.


Dia tersenyum karena dia pikir itu Aylin. Namun, senyumnya sedikit luruh ketika tahu ternyata bukan senior kesayangannya.


Dia adalah Linda, senior tahun ketiga yang jadi salah satu pengurus DPM. Kai baru mengenalnya saat dia dan Freya membahas proker kerjasama dengan beberapa perwakilan DPM.


The rest is history.


Jujur, Kai cukup risih dengan kedekatan Linda padanya. Oh, dia tahu itu dan sangat sadar.


Namun, memang dasar Kai, dia selalu bersikap sopan dan ramah ke siapapun. Ridwan pernah bilang kalau sikapnya yang seperti itu sering membuat orang salah paham. Dan ya memang benar.


Bagi Kai, tidak ada salahnya tetap bersikap sopan dan ramah ke orang lain. Asalkan orang itu tidak mengusiknya dan orang terdekatnya, semua akan baik-baik saja.


Dan apa yang dilakukan Linda, masih bisa ditolerir meski sering membuatnya risih karena sikapnya. Mereka masih ada proker kerjasama, jadi Kai sebisa mungkin menahan diri.


Kai semakin tak nyaman ketika dia melihat Linda mendekatkan tubuhnya.


Di mana Kak Alin sekarang?


"Kai... boleh kita bicara berdua saja?"


Akhirnya! Namun, kenapa suaranya terdengar bergetar?


Dengan senyum penuh, Kai berbalik ke arah suara Aylin berasal. Namun, senyumnya luruh ketika melihat wajah senior kesayangannya yang terlihat sembab. Seperti bekas menangis.


Kenapa dia?


Apa yang membuatnya seperti ini?


Kak Alin habis menangis?


"Kakak..." bisik Kai dengan khawatir. Hatinya sedih melihatnya seperti ini tanpa tahu sebabnya.


.


.


.


.


.


a.n.


maaf kalo aneh, dan maaf baru bisa up


sepertinya minggu ini nggak jadi double up. tapi part selanjutnya udah ada draftnya tinggal merangkai ke paragraf


btw, aku mau cerita sedikit. hari ini ke kampus, terus berasa nostalgia. lewat ft sambil bayangin aylin dkk ngospek para maba, lewat fbs terus student centre yg malam masih rame, lihat orang-orang pada latihan :'''


so... see u!