![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Back to reality (phrase, idiom): to stop living in fantasy, to face reality
.
.
.
[Baru minor editing]
.
.
.
.
.
Setelah dua minggu liburan dan pulang ke rumah, mau tidak mau Aylin harus kembali lagi ke asrama. Walau rasanya masih betah dan nyaman di rumah, tetapi ada kewajiban lain menunggu di kampus.
Tentu saja apalagi kalau bukan kewajiban sebagai panitia Isimaja FT?
Tidak hanya Aylin, semua mahasiswa yang bergabung dalam kepanitiaan harus merelakan liburan panjang semesteran, yang baru saja di mulai, terpotong demi menyambut para maba tahun ini. Hampir semua sudah kembali ke asrama atau kost. Ada juga yang menyusul.
"Dua minggu rasanya kurang ya semenjak kuliah," keluh Risa.
"Cuman pas liburan semester genap aja yang panjang," timpal Imah. "Konsekuensi kita juga karena ikut kepanitiaan. Kau mah enak bisa pulang ke rumah, aku kayaknya nunggu semester depan atau tahun depan bisa pulang, hah..."
"Iya sih...." kata Risa. Kemudian cewek itu menoleh ke arah Aylin yang sejak tadi diam. "Lin, masalah TPK udah aman kan?"
Aylin mengangguk. "Beres pokoknya. Kayaknya aku emang perlu lebih tegas lagi. Tapi nggak masalah sih, biar belajar."
"Semangat, Lin! Aku tahu kau pasti bisa!" kata Risa menyemangati.
Imah mengangguk di sebelahnya. "Amanah nggak pernah salah memilih pundak kok."
Mereka bertiga tengah berjalan menuju aula besar untuk rapat internal perdana ketua tim dan PI selepas liburan. Rabes baru akan diadakan besoknya. Dan terkait masalah TPK yang dimaksud Risa tadi adalah masalah David. PI dan ketua tim tentu tahu permasalahannya dan hanya mereka yang tahu, selain anggota TPK itu sendiri.
"Konsumsi udah dapat tempat cateringnya?" tanya Imah penasaran. "Jangan yang kayak tahun lalu, mahal."
"Nggak kok, santai. Malah ada tiga opsi yang enak sama terjangkau. Nanti deh tak kasih tahu pas rapat detilnya," jawab Risa.
"Tahun lalu kita sampai nggak bisa dapat buat sarapan nggak sih?" tanya Aylin memastikan.
Risa dan Imah mengangguk. Mereka ingat tahun lalu di mana RAB (rancangan anggaran belanja) Tim Konsumsi membengkak sampai harus merelakan jatah buat panitia. Bahkan lebih difokuskan ke maba. Walau dana yang masuk terbilang cukup dan bisa mengover semua kebutuhan, tetapi kalau ada satu atau dua hal yang melebihi batas tentu akan menggeseh bagian yang lain.
Dan kebetulan tahun kemarin lagi apes dapat tender yang cukup mahal meski bisa pesan cepat. Tim Konsumsi terpaksa melobinya karena satu-satunya yang tersisa yang jaraknya cukup dekat dengan kampus, bisa pesan cepat, dan sedang tidak banyak pesanan.
Menyiapkan konsumsi untuk lebih dari seribu maba dan ditambah ratusan panitia tentu perlu persiapan.
"Tapi kayaknya kita bisa deh dapat sarapan sekalian," kata Risa. "Soalnya tiga tempat ini bisa kita lobi semua, tinggal nunggu deal-dealannya gimana."
"Mantep tuh!" celetuk Imah.
.
.
.
Hari berikutnya, pagi pukul delapan Aylin harus datang ke rapat koordinasi antarketua TPK semua fakultas. Kali ini agak berbeda jadwal dari sebelumnya karena beberapa ketua ada yang berhalangan hadir. Lalu ketika biasanya mereka mengadakan rapat di wilayah rektorat atau auditorium, kali ini mereka ke wilayah FBS. Katanya untuk mengubah suasana.
Sekarang ini Aylin sudah berada di FBS bersama Rima. Sengaja mengajaknya biar dia tidak cewek sendirian. Tahun ini, ketua TPK perempuan hanya di FIP, Fakultas Pertanian yang untuk pertama kalinya, dan tentu saja FT yang sempat menggegerkan satu univ.
Aylin bisa melihat beberapa ketua TPK dan satu pendampingnya sudah berkumpul di pendopo FBS. Tentu cewek itu mengenal mereka walau beberapa tidak terlalu dekat. Namun, ada beberapa wajah asing yang merupakan anggota TPK yang ikut sebagai perwakilan.
Ada Danang yang merupakan ketua TPK FBS. Cowok berambut gondrong dengan kumis tipis itu memang sekilas terkesan kalem dan tak akan ada yang menyangka kalau dia ketua TPK. Aylin cukup mengenal baik Danang yang ternyata dulu merupakan teman SD sebelum cowok itu pindah.
Ada juga ketua TPK FO, Banu. Cowok bongsor dengan badan tegap itu merupakan atlet judo. Ketika pertama kali mengenalnya, Aylin kira Banu itu orang yang serius dan kaku. Ternyata cowok itu sebelas duabelas dengan Budi, sama-sama somplak.
Tentu Aylin sangat mengenal baik ketua TPK FIP dan Fakultas Pertanian, Rani dan Danis, karena mereka sama-sama perempuan di perkumpulan kaum testoteron ini. Mereka merasa senasib dan sepenanggungan.
Dan masih banyak yang lain.
"Karena semua sudah ngumpul, mari kita mulai pertemuan pagi ini," koordinator TPK univ, Gilang, memulai rapat pagi ini.
.
.
.
Lanjut pukul satu siang adalah rabes perdana setelah liburan kemarin. Aylin benar-benar tidak ada jeda hari ini. Ditambah besok adalah rapat internal TPK dan dilanjut memulai 'olahraga' seminggu sekali dua hari berikutnya.
Untungnya mereka semua sudah tidak ada tanggungan UAS atau tugas kuliah karena sudah selesai sebelum lebaran. Tidak seperti universitas lain yang baru mengadakan UAS minggu ini. Itu karena UHW semester ini tidak mengadakan minggu tenang sebelum UAS seperti biasanya. Walau diawal memberatkan, tetapi pas diakhir mereka punya banyak waktu santai.
"Nih Lin!" Rima memberikan jus alpukat yang baru dibelinya kepada Aylin. Sementara dirinya menikmati jus mangga.
"Makasih, Ma," kata Aylin menerima jus yang diberikan Rima.
"Yo'i. Biar kau nggak tumbang kayak waktu itu lagi. Baru mulai lagi tapi udah banyak agenda aja," ujar Rima.
Mereka tengah berada di aula besar sambil menunggu rapat di mulai. Tidak ada briefing ketua tim hari ini. Jadi aylin bisa sedikit lebih santai.
Mayoritas sudah datang di aula besar. Sebagian lain masih di kampung halaman atau dalam perjalanan. Sudah jadi resiko kalau mau ikut kepanitiaan Isimaja.
Sepuluh menit kemudian Naufal memulai rapatnya. Prosedurnya seperti biasanya, sedikit basa-basi lalu laporan singkat tiap ketua tim terkait kehadiran anggotanya. Baru dilanjutkan dengan laporan progres tiap tim di mulai dari Tim KSK yang melaporkan perkembangan administrasi maba yang masuk─dari SNM, SBM, dan Seleksi Mandiri jalur kerjasama dan prestasi. SM jalur Utul alias Ujian Tulis baru akan diselenggarakan dua minggu lagi. Mereka juga sudah menyicil memplotkan maba ke gugus yang belum dinamai dan ploting lainnya.
Lalu dilanjut laporan Tim Konsumsi terkait tender yang kemarin sempat dibilang oleh Risa. Kemudian dilanjutkan Tim Medis yang mengumumkan akan adanya sosialisasi pelatihan dari PMI untuk Tim Medis dan Pemandu.
Lalu ada Tim Perkab yang melaporkan tentang sewa alat dan barang yang telah dilakukan guna kepentingan Isimaja nanti. Setelah itu baru dari TPK melaporkan tentang hasil rapat koordinasi tadi disambung dengan penyampaian tatib panitia yang sudah fix.
"Tata Tertib Panitia Isimaja FT 20XX. Pertama, semua panitia wajib hadir sesuai waktu yang telah disepakati. Briefing selama TM dan Isimaja dimulai pukul lima sampai pukul enam pagi di aula besar. Kedua, segala perizinan dilakukan ke ketua masing-masing dan TPK yang jadi PJ dengan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Saya bacakan lagi buat PJ-nya, Tim Acara oleh Adi, Tim Pemandu ada Burhan, Galih, dan Enggar, Tim PDD oleh Nanda, TPK oleh saya sendiri dan Frans, Tim Perkab oleh David, Tim Medis oleh Tiara dan Febrian, Tim Konsumsi oleh Doni, Tim KSK oleh Megan, dan Tim Humas Sponsorship oleh Joko. Jadi tolong diingat baik-baik dengan siapa PJ-nya," Aylin menjelaskan.
"Ketiga, semua panitia dilarang mengenakan aksesori seperti gelang, cincin, kalung, dan anting selama kegiatan berlangsung. Jam tangan masih diperbolehkan. Keempat, wajib berambut hitam, jadi tidak boleh ada yang diwarnai kecuali merupakan warna rambut asli karena faktor genetik. Kelima..."
Dan masih banyak lagi peraturan yang dibacakan Aylin. Setelah selesai pun masih ada beberapa yang bertanya untuk memastikan sebelum lanjut ke laporan Tim PDD. Dari PDD sendiri tidak banyak yang dilaporkan selain progress desain kaos untuk panitia dan maba serta handbadge untuk panitia. Mereka mendaftar warna apa yang akan menjadi identitas masing-masing tim di handbadge. TPK tentu saja memilih warna merah sesuai tradisi di UHW.
Lalu ada laporan dari Tim Pemandu yang menyampai yel-yel yang sudah selesai dibuat dan disepakati. Mereka mempraktikkan yel-yel mereka dengan semangat membuat suasana aula terasa lebih hidup.
Kemudian dari Tim Acara menyampaikan rancangan kegiatan selama TM dan dilanjutkan sedikit diskusi soal itu.
"Terima kasih atas masukannya teman-teman. Oh ya, kami dari Tim Acara juga mau mengusulkan nama terkait gugus tahun ini. Ada tiga pilihan, yaitu nama ibu kota provinsi, nama pulau, dan nama mesin. Kita voting ya, pilihan terbanyak yang akan kita pakai," ujar Seno selaku ketua Tim Acara.
Setelah melakukan voting, hasil yang didapatkan adalah nama ibu kota provinsi sebagai nama gugus tahun ini. Ada dua puluh lima gugus di FT seperti tahun-tahun sebelumnya. Jadi Tim Acara harus menyiapkan dua puluh lima nama dan mereka akan menyampaikannya di rabes mendatang.
Lalu ada laporan dari PI. Kemudian yang terakhir adalah Tim Humas dan Sponsorship. Hari ini Tim Advokasi tidak ikut rabes. Mereka bisa dibilang tim yang independen karena dibentuk oleh DPM. Bisa dibilang tugas mereka mengawal jalannya Isimaja selain tergabung dalam kepanitiaan.
Rabes ditutup dengan halal bi halal karena masih berada di suasana lebaran.
"Panitia Isimaja FT 20XX...?" Naufal memulai tos mereka sebagai penutup begitu selesai salam-salaman.
.
.
.
"DUA PULUH TUJUH!"
"DUA PULUH DELAPAN!"
"DUA PULUH SEMBILAN!"
"TIGA PULUH!"
Mayoritas anggota sudah tumbang karena kelelahan setelah melakukan push up tiga seri. Sebelumnya, mereka sudah melakukan serangkaian latihan fisik dari lari keliling lapangan untuk pemanasan, squat jump, dan sebagainya. Hari ini adalah jadwal 'olahraga' mingguan TPK.
TPK FT punya tradisi untuk melakukan latihan fisik seminggu sekali agar fisik lebih sehat dan kuat. Apalagi TPK yang bertanggungjawab terhadap segala latihan dan hukuman fisik maba nantinya. Jadinya biar tidak hanya omongan saja. Hitung-hitung olahraga setelah selepas SMA belum tentu sempat olahraga.
Biasanya latihan dipimpin oleh ketua.
"Kita istirahat sebentar!" Aylin memutuskan. Semua anggota bernafas lega mendengarnya. Lalu cewek itu mengajak salah satu anggota untuk membantunya mengambil minum untuk semuanya.
"Sial, aku nggak nyangka kalau latihan fisik dari Alin nggak kalah strict dari Bang Teguh!" komentar Andre ketika semua TPK beristirahat sejenak setelah melakukan segala latihan fisik.
"Kudengar Bang Teguh itu disiplin banget kalo masalah gini. Mas Zul kemarin aja nggak sampai segitunya," lanjutnya.
"Kudengar dari Nopal kalau dulu Alin pernah jadi danton tonti sama jadi DPT," kata Burhan.
"Jangan lupakan Alin itu mantan paskib yang jelas-jelas pernah dilatih tantara," Rima menambahkan.
"Sial, pantesan berasa latihan militer," keluh Andre.
"Mbelgedes Ndre, Andre. Kau itu kan Menwa, lah pas diksar apa nggak dilatih sama TNI?" seloroh Burhan.
"Dasar bujang sok ngedrama," cibir Rima.
Andre hanya cengengesan mendengarnya. Jelas ingat pas masa-masa diksar selama dua minggu dulu. Semua Menwa dari seluruh univ di Jogja dilatih langsung oleh TNI.
Dia hanya sok mendramatisir tadi. Jelas-jelas latihan versi Aylin ini lebih "friendly" daripada dilatih TNI. Namun, tidak semua orang tahu kan bagaimana latihan menwa dibawah perwira langsung?
"Btw, ayahnya Alin itu juga komandan militer. Jadi, mungkin Alin bisa strict gini karena lingkungannya," kata Rima lagi dengan sengaja untuk melihat reaksi mereka. Anggota lainnya yang mendengarnya langsung lemas.
Dalam hati Rima tertawa. Rima jelas pernah bertemu Ayah Aylin dan mengobrol dengan pria itu. Walau seorang komandan militer, di luar tugasnya pria itu adalah orang yang hangat dan ramah. Dan sejauh yang dia tahu, Ayah Aylin termasuk dalam jajaran bapak-bapak yang begitu menyayangi putrinya dan memanjakannya─meski Aylin lebih suka mandiri. Namun, orang yang belum kenal tentu tidak tahu itu.
"Eh, beneran?" tanya Tiara memastikan.
Rima mengangguk membenarkan.
"Wow..."
"Hahaha...! Nggak juga sih sebenernya," kata Rima kemudian setelah melihat wajah beberapa anggota yang tadi mendengarnya berubah semakin pucat.
"Iya, Ayah Alin emang komandan militer. Tapi kalau diluar tugas bapaknya ramah, baik kok. Tanya aja si Nopal kalau nggak percaya. Alin bisa strict gini mungkin emang kemampuan sama pengalaman dia. Aku aja baru tahu dia bisa gini tadi, serius!" lanjutnya.
"Bener-bener beda ya?" tanya Megan. "Tapi itu beda yang baik. Mungkin ini yang dinamakan don't judge a book by its cover."
Semua mengangguk setuju mendengar ucapan Megan. Beberapa anggota yang di awal masih meragukan kemampuan Aylin, kini menjadi lebih yakin.
Aylin perlahan mulai menunjukkan taringnya sebagai ketua TPK FT yang pantas.
Beberapa saat kemudian, Aylin kembali bersama satu orang anggota membawa minuman. Lalu membagi-bagikannya sebelum dirinya ikut duduk mengistirahatkan diri.
"Lin!" panggil Enggar dari kejauhan.
"Nanti atau besok olahraganya jangan strict-strict banget dong," pintanya. "Berasa ikut tonti lagi aku."
"Lah bukannya kau yang minta dulu?" Aylin bertanya setelah menenggak minumannya. "Aku masih ingat lho... katanya suruh tegas, keras, sama yang menantang biar nggak lembek."
"I-iya sih..." cowok itu tidak tahu harus berkata apalagi. Jelas-jelas dia ingat kalau pernah berkata demikian.
"Aku cuman ngikutin permintaan kalian lho yang pengen biar TPK FT itu nggak terkesan lembek. Biar nggak anjlok pamornya, katanya. Giliran aku ajak latihan gini malah pada ngeluh. Gimana sih?" Aylin kembali bersuara.
Semua anggota terdiam.
"Padahal diawal aku sengaja ngebiarin adem ayem biar bebas tekanan jadi bisa lebih leluasa berekspresinya, tapi kalian minta buat lebih keras dan tegas. Kalau kalian ingin lebih kuat fisik sama mentalnya, biar nggak terkesan adem ayem tanpa terkanan, ya kalian harus mau dan siap ditekan," lanjutnya.
"Kita ini kating dan bentar lagi menyambut maba. Sebagai kating kita juga harus bisa ngasih contoh yang baik buat adik tingkatnya. Dan ketika kita sendiri terlalu banyak protes sama alesan padahal pengennya gini tapi nggak mau usaha, ya gimana dong? Zonk nanti berarti?"
"Iya Lin, sori kita kebanyakan ngeluh," kata Burhan kemudian. "Kita terlalu banyak nuntut tapi nggak mau ngejalaninya."
Semua mengangguk setuju.
"Iyo, sori ya Lin," sambung Enggar merasa bersalah.
"Iya santai aja. Aku ngomong gini bukan karena sok bijak, tapi karena kita di sini sama-sama. Tujuan kita sama. Jadi karena di sini kita punya agenda yang sama, yok kita capai sama-sama. Kita ini tim kedisiplinan, tugasnya ya buat mendisiplinkan maba. Kalau kita sendiri belum bisa mendisiplinkan diri sendiri, gimana ke orang lain?" kata Aylin.
"Bener gengs," timpal Fuad. Tak biasanya cowok itu menyuarakan pendapatnya.
"Yang tahun lalu pernah jadi anggota pasti tahu lah seluk beluknya, tradisinya apa, kewajiabannya apa. Buat yang baru gabung, ya beginilah TPK FT. Mungkin bagi beberapa orang ngira kok ribet banget sih, sok sokan ada tradisi segala. Tinggal gabung, tahu tugasnya, sama akting judes udah jadi. Tapi nanti kurang ada esensinya. Aku ingat kata Mas Zul dulu bilang gini, jadi TPK itu juga harus melatih diri sendiri nggak cuman maba. Seperti yang Alin bilang tadi juga, kalau kita masih terlalu banyak protes, gimana ngasih contoh ke orang lain?"
Penjelasan panjang lebar dari Fuad sukses mendiamkan mereka semua.
Aylin mengangguk dan tersenyum tipis ke arah Fuad dan dibalas acungan jempol. Cewek itu jadi tidak perlu menjelaskan panjang lebar lagi.
"Yok semangat yok!" seru Aylin menyemangati. Dia kini sudah terbiasa dengan tugasnya. Jadi dirinya sudah tidak merasa canggung dan ragu lagi.
"YA!!"
.
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
sengaja tak jump-skip dan nyeritain part pentingnya. karena kalau tidak bakalan panjang dan bertele-tele banget. intinya kurang lebih seperti dicerita prosesnya dan untuk penegak kedisiplinan tentu aku bumbui sana sini karena aku dulu bukan bagian dari mereka, malah bagian dari pemandu. lol
sebenernya aku kurang paham tugas tim advokasi itu apa, blm survei lagi. maafkan. keterangannya cuman sebatas yg aku tahu aja pas dulu jadi panitia
bakalan double up karena beberapa hari hp rusak malah bikin produktif buat nulis wkwk