![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
festival (n): a day or period of celebration, typically a religious commemoration.
.
.
.
[baru minor editing, part pendek]
.
.
.
Sudah berminggu-minggu ini Kai disibukkan dengan segala persiapan untuk agenda tahunan FT.
Bulan Oktober dan November ini memang cukup padat dengan banyak agenda kampus. Bahkan masa-masa Pemilwa atau Pemilihan Mahasiswa juga sudah dimulai. Kandidat ketua BEM baik univ maupun fakultas sudah ada dan sudah mulai kampanye.
Kai sebagai duta kampus terpilih tahun ini harus benar-benar bisa membagi waktunya. Benar-benar jadi tantangan tersendiri. Maka dari itu dirinya dan Freya berbagi tugas. Dan untungnya Frans dan Vera masih turun tangan membantu.
Dan selama sibuk memgurusi persiapan festival dan Pemilwa, Kai jadi tidak bisa ketemu dengan Aylin. Padahal mereka satu kampus dan satu jurusan. Biasanya, sebelum-sebelumnya cowok itu kadang masih bisa berpapasan atau bertemu di kantin FT.
Selain Kai yang sibuk dengan tugas duta kampusnya, ada Teo juga yang mulai menjadi aktivis kampus. Teo yang memutuskan keluar dari zona nyamannya saat jadi anak kuliahan kali ini ikut bergabung di KPU atau Komisi Pemilihan Umum bersama beberapa maba yang lain. Selain mengurusi kegiatan pesta demokrasi yang akan digelar awal Desember nanti, Teo juga ikut melakukan sosialisasi terkait pemilihan mahasiswa nantinya.
Teo pernah bilang kalau dirinya tertarik untuk ikut DPM nantinya. Berbeda dengan Kai yang lebih tertarik dengan BEM.
Sementara itu, Ojan tertarik bergabung di Hima Teknik Informatika di kepengurusan yang akan datang. Neo masih belum bisa memutuskan ikut apa. Sedangkan Ridwan, cowok itu sejauh ini tidak tertarik ikut organisasi mahasiswa manapun.
Sekarang ini Kai tengah mampir sebentar ke kantin untuk membeli es kopi. Sebelum nantinya dia harus ke aula besar untuk ikut rapat persiapan festival. Festival FT tinggal seminggu lagi. Makanya semua yang terlibat jadi dua kali lebih sibuk dari sebelumnya.
Di kepanitiaan festival, Kai menjadi salah satu koordinator lapangan yang mengurus stand dan booth milik kelas-kelas. Sementara Freya tergabung dalam Tim Acara.
Kai dan Freya nanti juga yang membuka acara festival FT setelah sambutan dari wakil dekan tiga dan ketua BEM. Kai dan Freya mewakili panitia yang terbentuk.
Kai bukan ketua panitianya. Dulu duta kampus terpilih yang menjadi ketua panitia acara festival, tetapi karena nanti terlalu memberatkan, jadinya dijadikan wakil ketua saja. Ketuanya adalah Frans karena persiapan acara festival itu sudah lama sebelum maba resmi bergabung. Baru setelah duta kampus baru sudah ada, baru diambil alih oleh mereka. Namun peran duta kampus sebelumnya tidak serta merta lepas tangan begitu saja.
Kayvan tengah menunggu es kopinya jadi ketika matanya menangkap sosok yang familiar. Senyum lebar terbit di wajah tampannya.
"Kak Alin!" panggilnya.
Yang bersangkutan namanya berhenti dan menoleh. Cewek itu tengah membawa sebuah dus entah apa isinya ke arah lapangan.
Kai lalu membayar es kopi yang sudah jadi dan membawanya menghampiri Aylin.
"Kakak mau ke mana?" tanya Kai.
"Ke stand kelasku," jawabnya. "Mau naruh barang biar sekalian."
Lapangan FT sudah disulap menjadi seperti acara pasar malam dengan banyaknya tenda kios-kios makanan, minuman, atau permainan. Karena November sudah mulai memasuki musim penghujan, tiap kelas yang mendirikan tenda di lapangan harus siap sedia andai kata hujan.
Beberapa stand atau booth ada yang di sekitar aula besar. Sementara aula besar sendiri nanti yang menjadi tempat pertunjukan seperti drama, musik, tari, dan segala pertunjukan lainnya.
"Ah iya, kebetulan ketemu Kakak di sini. Jadi sekalian," Kai merogoh tasnya dan mengeluarkan sebotol ukuran 350 ml susu stroberi.
"Ini buat Kakak," cowok itu memberikannya ke Aylin. Tak lupa dengan sedotannya.
"Tadi susunya dingin, tapi sekarang udah nggak terlalu," katanya "Rencananya mau nyari Kakak buat ngasih ini atau kalau nggak ketemu ya nitip ke asrama Kakak."
Aylin tersenyum kecil menerimanya. "Oh, terima kasih." Dia tidak mau menolak rejeki yang diberikan. Apalagi ini minuman favoritnya. Meski yang memberinya adalah junior tengil yang masih sering mencari masalah dengannya, Aylin menelan dulu gengsinya.
Kai tersenyum mendengarnya.
"Mau kubantu bawakan kardusnya?" Kai menawarkan.
Aylin menggeleng dan menjawab cepat, "Nggak perlu, ini nggak berat kok. Makasih sebelumnya. Bukannya katamu kau ada rapat sebentar lagi?"
Mereka tadi memang sempat bertukar pesan sebelum tidak sengaja mereka malah bertemu di sini.
"Ah iya benar," Kai mengecek jam tangannya, "lima menit lagi rapatnya."
"Tuh bentar lagi. Buruan nggih daripada telat," kata Aylin.
"Tapi aku 'kan baru bisa ketemu Kakak. Akhir-akhir ini aku jadi jarang bertemu Kakak."
"Ya iyalah. Kau sendiri bilang kan sibuk ngurus festival? Aku juga sibuk sama persiapan kelasku. Ya jelaslah bakal jarang ketemu," sahut Aylin agak tak acuh.
"Tapi aku kangen Kakak. Gimana dong?" ujar Kai dengan ekspresi wajah dibuat sedih.
Aylin melotot mendengarnya. "Kayvan!"
Ada sembuat merah samar di pipinya. Dia melirik kanan kiri, apakah ada orang yang mendengarnya atau tidak.
Sementara sang tersangka utama hanya tersenyum memperlihatkan deretan giginya.
"Nanti, Kakak jangan sampai sakit ya? Jangan terlalu dipaksakan kalau capek. Semangat buat jaga kafenya," kata Kayvan kemudian. "Nanti aku juga bakal mampir ke kafe kelas Kakak."
"Hmm. Kau juga," ujar Aylin setelah beberapa saat kemudian tanpa menoleh. Sementara Kai hanya tersenyum melihatnya.
.
.
.
"Sunny mana Sunny?" seru Bimala yang hari ini mampir ke FT. Dia datang bersama Frans. Cowok itu membawa gitarnya. Rencana hari ini adalah untuk latihan buat festival nanti.
"Apa?" sahut Aylin dengan ketus. Oh dia sudah tahu maksud kedatangan sepupunya ini.
Tawa Bimala seketika meledak. Dia sudah tidak bisa membendungnya.
"Hahahahaha....!"
"Ish!"
Untung suasana di dekat Gedung Otomotif lumayan sepi jadi tidak menarik banyak perhatian. Sengaja di sini karena biar lebih nyaman dan FT bagian utara terbilang ramai dengan segala persiapan untuk festival.
Aylin sebenarnya tidak sendirian di sini. Ada Naufal dan yang lainnya juga. Namun, mereka kini tengah sibuk dengan persiapan kelas masing-masing karena tinggal menghitung hari acara festival dibuka.
Frans dan Aylin nanti akan tampil di dua hari menjelang penutupan alias puncaknya. Walau begitu, Aylin tetap merasa tidak siap.
Bimala masih terkekeh geli di tempatnya. Aylin semakin kesal dengan sepupunya itu yang belum juga berhenti tertawa.
"Aduh perutku sampai sakit. Hahaha...!" Bimala lalu mendudukkan dirinya tak jauh dari Aylin.
"Hah..." akhirnya tawa Bimala berhenti. Puas sekali dia dengan apa yang dialami sepupunya ini Dari kemarin dia mampus-mampusin Aylin yang kalah TOD. Dia memang saudara yang baik.
"Keren juga ya idenya Mas Budi," celetuknya.
"Keren apanya?" tukas Aylin yang masih dongkol dengan cowok bermata sipit itu.
Ketika tahu kalau Aylin kena tantangan TOD dan disuruh tampil bersama Frans untuk mengisi hiburan membuat Bimala langsung terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak? Aylin itu orangnya paling anti kalau disuruh tampil di depan. Kikuk orangnya dan bakal demam panggung.
Kalau diberi pilihan, Aylin tentu tanpa pikir panjang akan lebih memilih mangkir. Apapun asalkan dirinya tidak tampil di depan banyak orang.
Dulu pas tahu Aylin jadi ketua TPK saja sempat membuat geger di keluarga. Anggota keluarga mereka yang dikenal sangat pemalu ini punya amanah yang bukan main-main di FT.
Namun, sekalipun mereka tidak meragukan kemampuan Aylin. Hanya terkejut saja.
Terus sekarang Aylin disuruh nyanyi. Tambah tremor yang ada dia.
"Udah Lin, nggak papa," kata Bimala pada akhirnya. Dia kasihan juga melihat sepupunya kini terlihat tertekan.
"Itung-itung latihan buat makin pede. Toh ada untungnya juga 'kan keisengan Mas Budi? Kau juga sekalian nunjukin ke orang-orang kalau kau nggak bisa dipandang sebelah mata."
Sialan memang si Budi. Tak henti-hentinya dari kemarin Aylin menyumpah serapahi biang kerok satu itu.
"Ada Frans kok," Bimala menambahkan ketika melihat ekspresi Aylin. "Kau nggak sendirian. Iya 'kan beb?"
Frans mengangguk. "Santai Mbak Lin."
"Pokoknya besok Frans harus menemani Alin. Nggak mau tahu ya, kalau sampai Alin besok kenapa-napa," Bimala berpesan ke pacarnya. "Jagain Alin."
Frans mengacungkan jarinya membentuk simbol 'OK'.
"Siap sayang."
"Udah, daripada besok kau demam panggung parah dan jadi bahan tertawaan. Hayo pilih mana?"
Aylin hanya mendengus. Oh itu yang paling dia takutkan saat dirinya harus tampil di depan banyak pasang mata.
Rasa takut bakal jadi bahan tertawaan atau olok-olok. Hal itu seperti mimpi buruk.
Setidaknya dia merasa lebih baik sekarang setelah mendengar Bimala berusaha menenangkannya. Tidak overthinking lagi, untuk saat ini.
Pada akhirnya, hari ini Frans dan Aylin jadi berlatih. Merencanakan lagu apa saja yang akan mereka tampilkan. Tak lupa Bimala yang tumben baik membeli makanan dan minuman sebagai teman keduanya berlatih. Cewek itu lalu fokus dengan tugas yang dia bawa dan sesekali memberi ide.
Dia hari ini memang sengaja ke FT, bukan karena pacarnya akan latihan dengan sepupunya, tetapi lebih ke memastikan keadaan Aylin. Oh meski kadang suka sekali menjahili sepupunya, Bimala itu orangnya peduli.
Bimala juga bukan orang sepicik itu yang lebih mementingkan pacar diatas segalanya atau yang gampang cemburuan karena pacarnya dekat dengan orang lain. Apalagi ini adalah Aylin, sepupunya sekaligus seniornya Frans di FT. Dan Aylin juga menjadi salah satu orang yang berjasa di dalam hubungan Bimala dan Frans.
Andai Bimala merasa cemburu, dia adalah tipe orang yang bakal memamerkan ke orang yang mencari masalah kalau dirinya-lah yang lebih dari mereka. Pernah dulu ada orang menyebalkan yang mengaku-aku pacar Frans dan bahkan mencari masalah dengannya. Lalu Bimala membalasnya dengan secara tidak langsung menegaskan kalau dirinya-lah yang bersama Frans.
Bukan orang itu.
Tepat di depan wajahnya.
Frans dan Aylin memang sudah akrab. Mungkin jauh sebelum Frans dan Bimala saling kenal. Satu tim dalam TPK dan beberapa kali jadi partner tugas. Keduanya, ternyata, juga punya satu band favorit yang sama.
Sebuah band rock dari Negeri Sakura yang lagu-lagunya mereka mainkan saat penutupan Isimaja FT beberapa waktu lalu.
.
.
.
Ketika hari dibukanya Festival FT tiba, suasana FT menjadi semakin ramai dengan adanya pengunjung dari luar FT. Entah dari fakultas lain, universitas lain, bahkan masyarakat umum.
Sempat gerimis dan hujan ringan. Namun, begitu reda, suasana kembali seperti semula.
Shift jaga Aylin sudah selesai ketika Naufal dan yang lainnya mampir ke stand kelasnya. Mereka mau mengajak Aylin keliling ketika sudah ada waktu luang.
Saat berkeliling, Aylin masih mengenakan kebaya lurik yang menjadi dresscode kelasnya dan Budi yang masih memakai celemeknya.
"Nih tiketnya," Rima menyerahkan empat lembar tiket ke mereka. "Datang ya Sabtu ini."
"Wih... pakai ceritanya Pak Pram. Bakalan keren nih besok dramanya," komentar Taufan begitu melihat judul drama yang tertera di tiket.
"Nah makanya, nonton ya jangan lupa," sahut Rima.
"Siap Ma."
"Sana yok!" ajak Naufal sambil menunjuk salah satu gazebo di dekat gedung dekanat yang terlihat menganggur tidak dipakai.
"Keburu dipakai orang. Biar kita makannya enak sambil duduk."
Lalu kelimanya menuju gazebo yang dimaksud Naufal. Mereka mengobrol dan bercanda sambil menikmati makanan dan minuman yang mereka beli. Suasana festival yang ramai menjadi latar belakang acara nongkrong mereka.
Di semester lima ini, mereka jadi jarang kumpul-kumpul seperti ini. Jadwal yang berbeda dan tugas kuliah yang semakin menyita waktu. Makanya, mereka sempatkan kumpul saat ada waktu luang.
Sekalian melepas stres dan penat dari kuliah mereka.
"Lin, sadar nggak sih, ternyata kau itu lumayan mirip sama salah satu aktor Thai. Tapi versi ceweknya," Taufan tiba-tiba menyeletuk.
Dia dan Rima tengah asyik membahas drama dari negeri gajah putih itu yang baru-baru ini mereka tonton karena punya alur yang menarik. Sementara Budi tengah tiduran setelah kenyang dengan makanan yang di belinya dan Naufal yang berkutat dengan komik lokal yang baru dipinjamnya dari perpus.
"Hah? Siapa?" tanya Aylin bingung. Dia sedang melihat-lihat beranda akun sosial medianya yang jarang dibuka.
"Ada-ada aja," Aylin menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Bener weh!" tukas Rima menyetujui perkataan Taufan. "Hahaha baru ngeh aku."
Drama yang mereka tonton adalah tema sekolahan. Dan menurut mereka, pemain utama pria dalam drama itu memang bisa dibilang cukup mirip dengan Aylin.
Kemudian, Rima memperlihatkan foto aktor yang barusan dia cari di internet ke Aylin.
"Nih. Agak mirip 'kan? Hahaha... kalau Alin itu ibarat versi ceweknya dia."
"Hah? Mana-mana," Budi yang semula tiduran jadi ikut penasaran juga. Naufal juga menghentikan acara bacanya. Keduanya lalu mendekat untuk melihat foto aktor yang dimaksud Rima dan Taufan.
Mereka melihat sambil mencocokkan ke wajah Aylin yang menatap mereka risih dan bingung.
"Hidungnya mirip," komentar Naufal kemudian. "Si Alin jadi kayak versi cewek sama lokalnya haha... mungkin kalau Alin potong rambut kayak dia, jadi lebih mirip."
"Iya kan?" sahut Rima bersemangat. "Pas aku nonton dramanya kemarin kayak nggak asing sama muka dia hahaha! Ternyata...."
"Dah Lin, ada kemajuan dikit," kata Taufan ke Aylin. "Kemajuan bisa dimiripin sama aktor terkenal negara tetangga. Bangga pokoknya."
Aylin hanya mendengus mendengarnya. Mereka hal itu bukan sebuah pencapaian yang harus dibanggakan.
Budi masih menampilkan raut berpikir. Terlihat masih menilai.
"Nggak ah. Si Alin mah buluk dia," katanya.
"HEH! Kurang ajar!" seru Aylin tidak terima.
.
.
.
.
"Gaes, hari ini aku ultah lho," kata Budi pada suatu hari. "Nggak ada yang mau ngucapin apa?"
Mereka mampir sebentar ke tempat lesehan langganan mereka di Tamkul alias Taman kuliner yang berada di sisi barat daya FT untuk makan malam setelah seharian mengurus festival dan kuliah.
"Kau siapa?" tanya Taufan pura-pura tidak kenal.
"Emang hari ini ada yang ultah ya?" Rima ikut mengompori. "Baru tahu aku."
"Ada katanya sih. Anak sebelah. Nggak tahu namanya," Naufal juga ikut-ikutan.
"Baj*g*r do ra kanca banget cah-cah iki." [Pada nggak pren kalian ini]
"Emang kita kenal ya?" sahut Aylin.
Keempatnya tertawa melihat ekspresi wajah sok ngambek Budi. Jarang-jarang 'kan bisa mengerjai biang kerok di geng mereka ini?
"Udah-udah," Naufal memutuskan untuk lebih dewasa kali ini. "Met ultah ya Bud., hahaha. Jangan lupa traktirannya."
"Met ultah eak. Jangan lupa bayar utang," kata Taufan.
"HBD ye," ujar Rima singkat.
"Hm, met ultah," Aylin tak kalah singkat.
"Do tegel tenan nek iki," sahut Budi yang mendapat respon tidak sesuai perkiraannya. Namun, dia juga tidak terkejut karena ini adalah mereka. Sudah biasa. [Pada tega banget kalian ini]
.
.
.
.
.
.
a.n.
so... yeah this is it. maaf kalo aneh
sengaja ku jump tiap scene-nya, biar nggak bertele-tele. dan buat aktor thai yang dibahas di sini, emang sosok Aylin sebenernya cukup terinspirasi dari dia wkwk. jadi emang sengaja masukin scene ini
see you next week i guess? hopefully