Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
The Mentors



Mentor (noun): an experienced and trusted adviser


.


.


.


.


.


Seperti kemarin, Kai berangkat ke auditorium pagi-pagi untuk membahas terkait pentas pembuka dan hal-hal lainnya yang sudah didaftar melalui grup whatsapp duta kampus. Bedanya, hari ini dia berangkat agak lebih longgar dari kemarin. Acara dimulai pukul delapan. Namun, karena dia terbiasa sudah bersiap-siap sejak subuh tadi, cowok itu berangkat pukul tujuh dari asrama.


Kai mau mampir membeli sarapan terlebih dahulu sebelum menancapkan gas menuju auditorium.


Hari ini juga dia mau bertemu dan berdiskusi dengan mentornya, Frans. Kemarin belum sempat bertemu karena seniornya itu masih sibuk membantu-bantu dalam kepanitiaan.


Jadilah dia sekarang, pukul delapan kurang lima belas menit sampai di auditorium seusai mampir sarapan. Sudah cukup banyak duta fakultas lain yang sudah hadir. Ada yang duduk menggerombol, ada juga yang memilih menyendiri dan sibuk dengan ponselnya. Kai melihat Freya dan juga temannya, Galuh, duduk menggerombol dengan beberapa mahasiswi yang tidak dia kenal.


Kai kembali mengedarkan pandangannya dan menemukan seseorang yang dia kenal tengah mengobrol. Dirinya memutuskan untuk menghampirinya.


Orang itu menyadari kedatangan Kai. Dia tersenyum menyapa.


"Oi, Kai, barusan dateng?"


Kai mengangguk, "Iya."


"Oh iya, kenalin gaes. Dia Kai, duta dari FT," katanya mengenalkan Kai kepada dua orang lainnya.


"Wuih, anak FT?" salah satu dari mereka yang tingginya lebih pendek berujar.


"Gile, gile, gile! Kudengar FT tiap tahunnya nggak pernah nggak juara," katanya lagi. Sebuah rahasia umum memang kalau hampir tiap tahunnya sejak dimulainya pemilihan duta kampus—dan lima tahun terakhir ini berturut-turut—FT menyabet gelar juara. Entah juara pertama, kedua, ketiga. Entah kedua perwakilan atau hanya salah satu dari mereka.


Kai hanya tersenyum sopan menanggapi. Dia tidak tahu harus berkata apa.


"Kenalin, Damar dari Hukum," dia mengenalkan dirinya. Damar dan Kai lalu saling berjabat tangan.


"Wadaw," timpal cowok yang lebih tinggi di antara mereka, "Angga dari FO."


Kai menjabat tangan cowok berkulit sawo matang itu sembari tersenyum ramah.


"Yakin nih, FT bakalan juara lagi. Juara satu malah, gantiin duta FK, haha!" Rian yang tadi pertama kali memanggil Kai berceletuk


"Wah ya nggak begitu juga sih. Ada kalian dan fakultas lain juga tuh," Kai berujar canggung.


"Eh, tapi serius Kai. Pas tak liat-liat emang kau yang lebih mencolok dari kita di sini," kata Damar, "Palingan sainganmu itu dari Pertanian, Psikologi, FO, sama FBS—"


"Woy, woy, woy! Kok bisa ada aku juga?" Rian memotong perkataan Damar.


"Kalau si Angga mah iya aku setuju," tambahnya. "Kalau aku nggak deh. Aku aja terpaksa ngikutin beginian."


"Kau itu satu-satunya yang gondrong di sini, cok. Mungkin aja juri ngeliatnya jadi nilai plus dan meloloskanmu?" Damar berhipotesa.


Rian menatap datar ke arah Damar. Sementara Kai dan Angga tertawa mendengarnya.


"Aku setuju bagian si Rian bisa jadi kandidat pemenangnya," kata Angga setelah berhasil meredakan tawanya, "Dan buat Kai, aku dukung dia jadi duta kampus gantiin FK."


"Hei, hei, hei, jangan begitu," kata Kai mengibaskan tangannya, menolak. Dirinya malah tambah canggung.


"Jangan terlalu yakin. Bisa jadi, kalian yang jadi juaranya 'kan?"


Rian menepuk-nepuk pundak Kai. Dia bilang, "Yakin pasti. Aku barusan lihat perwakilan dari FK sekarang, kalau dibandingkan denganmu, kau lebih unggul darinya."


"Kita belum tahu kedepannya seperti apa 'kan?" kata Kai mengelak. Teman-teman barunya ini terlihat yakin kalau dirinya bakal menang. Namun, Kai tidak mau menerimanya mentah-mentah. Bahkan mereka baru akan mulai.


"Kalian malah terdengar nggak suka sama perwakilan FK," Kai berkomentar.


"Hahaha...! Nggak juga, cuman feeling aja," kata Damar.


"Kau nggak iri sama mereka 'kan, Dam?" tanya Angga penuh selidik.


Dengan cepat Damar menggeleng, "Iri? Yakali!"


"Udahlah. Yang penting aku dukung Kai jadi duta kampus. Meski baru kenal, aku ngerasa kau lebih bisa diandalkan dan lebih pantas megang amanah itu daripada kita semua. Feeling aja gitu," ujar Rian.


Damar mengangguk-angguk setuju.


"Nah, itu maksudku! Kai itu keliatan lebih becus daripada kita di sini, itu kesan pertamaku lho..."


"Who knows 'kan? Siapa tau ada malaikat lewat terus mengaminkan ucapanku, Kai jadi duta kampus berikutnya," kata Rian sambil mengangkat bahu.


"Woy! Nggak bisa gitu juga!" seru Kai tidak setuju.


"Semoga Angga yang jadi duta kampus."


"Kenapa malah jadi begini sih," Angga berkomentar, "Bilang aja kalau kalian itu nggak niat ikut ginian. Eh, aku juga sih sebenernya..."


Mereka lalu membicarakan hal lain sambil menunggu acara dimulai.


Angga ternyata berasal dari Tangerang. Cowok itu bilang kalau dia belum terbiasa dengan penggunaan aku-kau atau aku-kamu di sini. Dia juga bilang hampir tiap hari, ketika tidak berhadapan dengan orang tuanya, Angga lebih sering menggunakan elu-gue dikesehariannya ketika tidak dalam kondisi formal. Dan ketika menemukan orang yang ternyata senasib dengan dirinya di sini, dia merasa leluasa karena ada temannya.


Beda lagi dengan Damar. Cowok itu asli orang Surabaya. Ketika berbicarapun logat Jawa Timurnya sering keluar. Sementara Rian asli warga Jogja. Rumahnya pun tidak jauh dari kampus, hanya sekitar lima belas sampai dua puluh menitan menggunakan motor.


Jadi ketika Rian dan Damar nyeletuk menggunakan bahasa Jawa, Angga dan Kayvan hanya diam karena belum tahu artinya. Namun, mereka bisa mendengar logat Rian dan Damar yang cukup berbeda.


Obrolan mereka terputus ketika dua orang panitia memanggil mereka untuk berkumpul. Semua duta fakultas duduk setengah lingkaran dengan dua panitia itu di tengah.


"Okai, gaes, sebelumnya, assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh..." salah satu dari mereka memulai menggunakan pelantang yang ia bawa.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh..."


"Perkenalkan, nama saya Dian dari Fisipol," senior perempuan berambut pendek itu memperkenalkan diri.


"Saya Rere dari FEB," senior berhijab di sebelahnya menimpali.


"Kami dan beberapa kakak-kakak yang ditugaskan akan mendampingi kalian buat latihan pensi pembuka. Temanya kalian sudah tahu kan? Jadi kalian berdiskusi soal konsep pentasnya gimana. Tapi tenang aja, kami bakalan siap sedia buat membantu juga, ngasih saran dan masukan. Kita punya waktu sekitaran seminggu buat persiapan semua," kata Dian menjelaskan.


"Oh iya, karena jadwalnya yang cukup padat, sebisa mungkin konsep buat pensi sudah ada paling tidak hari ini. Latihannya bisa dimulai besok," Rere menambahkan, "Kalian juga masih harus mengikuti sesi foto dan rekaman video buat publikasi. Jadwalnya nanti akan Mbak kirimkan di grup."


Seseorang dari perwakilan tiap fakultas mengangkat tangan kanannya.


"Ah iya, Dek?"


Semua mata kini terfokus padanya.


"Saya Kayvan dari FT, izin bertanya," maba yang ternyata Kai itu mengenalkan diri terlebih dahulu.


"Untuk videonya Kak. Kira-kira rekaman videonya berisi apa saja ya Kak? Kemarin soalnya belum terlalu dijelaskan terkait hal tersebut."


"Ah iya, terima kasih ya atas pertanyaannya," kata Dian, "Terkait video, nanti ngerekamnya individu ya. Nggak bareng-bareng satu fakultas. Sama halnya buat sesi foto. Dan untuk isi video, nanti kayak kampanye gitu lho, ajakan buat milih kamu jadi duta kampus. Biasanya isinya ada perkenalan, asal fakultas, lalu ajakan dari kalian. Terserah ajakannya dalam bentuk gimana, sekreatif kalian saja dan semeyakinkan kalian. Asal nggak nyinggung SARA sama ada unsur politik."


"Oh iya, hampir lupa. Jangan lupa siapkan pentas dari masing-masing fakultas juga ya. Jadi tiap perwakilan fakultas diharapkan menampilkan skill atau bakat, bareng sama partner kalian perform-nya," Rere menambahkan.


"Jadi besok itu, pas malam pemilihannya, urutan yang pertama itu pensi pembuka dari kalian semua sesuai tema, baru nanti perform tiap fakultas yang bakal diundi urutannya. Habis itu ada penilaian dari juri."


"Ada kayak catwalk­ pengenalan duta masing-masing fakultas juga sebelum unjuk bakat. Detil rundown acaranya menyusul ya... Yang penting kalian udah tahu secara general besok itu ngapain aja sih," Dian berujar menambahkan.


"Ada pertanyaan lagi?"


Semua maba terdiam. Beberapa hanya menoleh ke kanan dan kirinya kalau-kalau ada yang mau bertanya.


"Kalau belum ada, kita lanjut ke pembahasan konsep pensinya ya? Nanti kalau kalian ada pertanyaan boleh langsung ditanyakan saja," Dian menawarkan.


"Baik, Kak," kata semua maba yang ada di auditorium.


"Yok, yok, yok, semangat!" Rere memberi semangat.


.


.


.


"Gimana tadi?" tanya Frans pada adik mentornya.


"Cukup ribet juga ya Kak ternyata," jawab Freya jujur, ada rasa canggung ketika dia menjawab begitu ke seniornya yang merupakan TPK. Meski kedua mentornya tadi bilang untuk tidak terlalu formal karena tidak sedang berada di Isimaja.


"Emang sih," sahut seorang senior cewek berhijab, Vera, "Tapi aku salut lho sama kalian semua. Baru hari pertama latihan, kalian udah dapet konsep buat pensinya."


"Kalau pas tahun lalu memangnya gimana Kak, kalau boleh tahu?" tanya Kayvan dengan sopan.


Mereka berempat tengah makan siang bersama di Preksu, sebuah warung makan dengan menu utama ayam geprek, yang berada di seberang jalan. Hanya butuh sepuluh menit jalan dari auditorium. Ide buat makan bersama berasal dari Vera ketika semua peserta dibubarkan untuk ishoma. Karena masih pukul sebelas lebih dua puluh menit, mereka jadinya memilih makan terlebih dahulu.


Selama diskusi penentuan konsep tadi, para duta tahun lalu dari masing-masing fakultas tidak ikut terjun langsung. Para maba hanya didampingi panitia yang berasal dari BEM.


"Kita dulu sampe dua hari ya, buat nentuin konsepnya," kata Vera sambil mengerling ke arah Frans yang duduk di depannya, di sebelah Kayvan.


Frans mengangguk.


"Dan dua hari itupun kami masih belum fix banget," lanjut Vera.


Freya dan Kayvan mengangguk-angguk paham. Tadi saja konsep yang akan dipakai tahun ini cepat disetujui karena memang idenya keren, tidak ada yang membantah. Mungkin, beberapa memberi masukan buat menyempurnakan. Ide konsep pensi sesuai tema tahun ini dicetuskan oleh temannya Freya yang dari FBS itu, Galuh dan dua maba lainnya yang Kai kurang tahu namanya. Namun, Kai mendengar mereka dari FIP dan FGK.


Freya bilang, Galuh itu lulusan SMKI atau sekolah kesenian dan sering mengikuti berbagai pertunjukan seni. Freya kenal Galuh karena dulu teman SMP. Sementara untuk dua maba lainnya, yang cowok dari FIP merupakan anak teater pas SMA katanya, dan satunya miba dari FGK yang mengusulkan lagu yang pas sesuai temanya.


Sepemahaman Kai tadi, mereka berencana menampilkan semacam teater musikal, tetapi entahlah. Detilnya baru nanti akan dibahas bersama lagi.


"Oh iya, Kak, pas kalian dulu unjuk bakatnya menampilkan apa Kak?" tanya Kai lagi.


"Ah iya, itu. Perform-nya berpasangan katanya tadi," Freya menimpali.


"Kita dulu ngapain ya, Frans?" Vera malah bertanya pada Frans. Senior itu terlihat mengingat-ingat.


"Kita dulu nyanyi sambil akustikan," jawab Frans.


"Oh!" Mata Vera membulat, teringat sesuatu.


"Unjuk bakatnya itu bebas. Dulu seingatku ada yang menampilkan tarian, mini teater, bahkan sampe beladiri juga."


"Oh yang dari FO itu ya?" tanya Frans memastikan. Dia ingat pasangan perwakilan dari FO dulu menampilkan poomsae, rangkaian jurus dalam beladiri Taekwondo.


Vera mengangguk, "Iya. Macam-macam sih dek. Tapi emang kebanyakan pada nyanyi sih."


"Juara duta kampus, yang kemarin kalian liat. Yang cewek nampilin gerakan cheerleader, yang cowok basket. Intinya, buat jadi juara itu dilihat dari like atau vote yang didapat, unjuk bakat, sama juri. Tapi kalau boleh jujur, bukan bermaksud apa, tapi untuk penampilan, aku lebih milih perwakilan FO daripada duta kampus sekarang," Vera menjelaskan.


"Bukannya yang dari FO itu jadi salah satu penampil terbaik ya?" tanya Frans.


"Iya benar," Vera membenarkan, "Selain juara satu sampe tiga, ada kategori juara favorit juga. Ya kayak yang paling populer, penampil terbaik, gitu-gitu."


Di antara kedua seniornya, Vera memang lebih banyak berbicara daripada Frans. Vera lalu menjelaskan kalau keputusan final untuk menjadi duta kampus itu adalah nilai dari juri dengan pertimbangan hasil akhir jumlah votes dan penampilan. Setiap peserta akan ditanyai pertanyaan yang berbeda satu sama lain dan tidak ada yang bisa menebak pertanyaan apa kira-kira yang akan dilemparkan juri.


Kai dan Freya bahkan baru tahu kalau Frans nyaris saja jadi juara dan menyabet gelar duta universitas. Jumlah votes yang dia peroleh lebih unggul satu poin dari Pasha, duta terpilih. Padahal jawaban Frans saat itu lebih memuaskan dan ngena, menurut Vera, daripada jawaban Pasha.


Benar-benar hanya selisih satu poin!


Selain jadi runner-up, Frans menyabet gelar sebagai yang terpopuler bersama duta dari FK, Cindy. Meski Frans memenangkan gelar terpopuler, tetap saja yang menjadi sorotan adalah Pasha yang memang terlihat lebih mencolok.


Dan sebenernya, Frans diam-diam bersyukur tidak menjadi juara. Justru Bimala, pacarnya, yang protes tidak setuju.


Vera tidak mendapat juara karena jumlah votes yang dia peroleh kalah cukup jauh dari yang jadi juara waktu itu.


"Kita mau nampilin apa ya, Kai, bagusnya?" tanya Freya pada Kai. Kai mengerutkan keningnya, dia belum ada ide.


"Kalian pikirkan sambil jalan aja. Nggak harus sekarang," ujar Frans membuka suara.


"Iya," Vera mengangguk setuju.


"Yang penting, sesuai kemampuan kalian aja. Nggak harus saklek sama kayak tahun lalu juga."


Mereka menyelesaikan makan siangnya sebelum kembali ke kampus. Frans mengajak Kai ke muhola dekat auditorium untuk shalat dzuhur. Sementara Vera yang lagi berhalangan kembali ke auditorium bersama Freya yang juga sama keadaannya.


Pukul setengah satu, selesai ishoma semua peserta kembali memantapkan konsep pensi mereka dengan mengurai detil dan pembagian tugas.


Kayvan baru selesai dan kembali ke asrama pukul setengah empat lebih. Diperjalanan tadi, dia mampir dulu ke masjid kampus, yang letaknya dekat FMIPA, FH, dan FEB, untuk shalat ashar berjamaah di sana. Masjid Kampus UHW terbilang megah dengan halaman yang luas. Bahkan di pelataran depan masjid memiliki air mancur dan kolam ikan. Sisi kiri ada bangunan yang biasa digunakan untuk tempat belajar atau bersantai. Sisi kanan terdapat menara besar yang menjadi salah satu spot favorit dan bangunan yang jadi pusat syiar dan pembelajaran Islam. Masjid yang terdiri dari dua lantai itu terbuka untuk umum karena letaknya di pinggir jalan raya. Jadi, tidak heran kalau masjid itu tidak pernah sepi, selain warga UHW yang menggunakannya.


Kai merebahkan dirinya ditempat tidur begitu sampai di asrama. Dia membuka aplikasi whatsapp di ponselnya yang sudah ramai dengan pesan-pesan masuk. Kebanyakan pesan masuk dari grup-grup.


Cowok itu membuka grup gugusnya dan menemukan info terkait apa saja yang perlu dipersiapkan untuk pelatihan fisik mulai besok Senin.


Ah benar, hari Senin mulai pelatihan fisik. Dia hampir saja lupa karena mengurusi pemilihan duta kampus. Hari ini saja dia tidak ikut kumpul gugus dan katanya sudah selesai semua atributnya pukul dua siang tadi. Kai juga tidak ikut berburu tanda tangan bersama teman-temannya. Namun, Kai, bersama Freya tadi, berhasil meminta tanda tangan Frans dan Vera serta beberapa senior FT yang menjadi panitia dari perwakilan BEM.


Kai lalu membuka grup gengnya. Isinya ajakan untuk ke sunmor besok pagi-pagi. Mencari kebutuhan buat pelatihan fisik. Kebetulan juga, Kai tidak ada latihan di duta kampus pagi-pagi. Jadi, masih ada waktu luang dua sampai tiga jam—latihan pensi dimulai pukul sembilan pagi di halaman rektorat—untuk ikut bersama teman-teman gengnya.


.


.


.


.


.