Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Special Chapter: Unconditionally



unconditionally (adv): without conditions or limits


.


.


Kinda special ficlet (?) for valentine with some pairings (dan yang bukan atau malah belum? entahlah) in Equilibrium. Honestly, I'm one of the people who don't celebrate valentine (no offense), but after I listened Katy Perry – Unconditionally, I want to write this features.


It contains some spoiler for the main plot, when the scene takes place sometime in the future.


.


.


.


[baru minor editing, jadi maaf kalo ada typo. warning! this part is a kinda long, around 4k words bcoz i don't wanna cut it into two part]


.


.


.


.


1. Matahari dan Bulan


Aylin lega kelas hari ini selesai. Kelas terakhir di minggu ini karena besok adalah akhir pekan. Dia berencana menghabiskan akhir pekannya di asrama saja nonton film. Atau pulang ke rumah saja karena sudah sebulan lebih tidak pulang? Dia merasa tidak ingin main ke mana-mana—mager dan bingung dengan siapa karena sepertinya semua orang terlihat sibuk.


Mari kita putuskan saja setelah sampai di asrama.


Aylin tengah berjalan bersama ketiga teman sekelasnya melewati koridor kelas ketika orang yang sangat dikenalinya berjalan ke arahnya.


Melihat itu mereka berhenti. Ana dan dua yang lain, Yuna dan Malisa, lalu berpamitan ke Aylin.


"Duluan ya Lin," kata Ana, "Sepertinya kau udah dijemput."


Ana tersenyum jahil kea rah Aylin yang hanya dibalas dengusan, lalu menggandeng Malisa dan Yuna pergi.


Aylin menatap orang yang kini sudah di depannya dengan pandangan bertanya. Orang tersenyum memperlihatkan giginya. Senyuman khas yang membuatnya mendapatkan julukan Senyum Sejuta Volt.


Yang jadi salah satu senyum favorit Aylin dari orang ini.


"Hari ini Kakak ada acara nggak?" tanyanya.


Aylin menggeleng. "Nggak. Rencana habis ini mampir beli makanan terus langsung pulang. Ada apa?"


"Ayo kita jalan-jalan Kak. Seminggu lebih kita nggak ketemu. Padahal satu jurusan," ajak Kayvan.


Aylin mengerutkan alisnya bingung, "Kupikir kau sedang sibuk? Bukannya kau ada tugas laporan kunjungan industri sama kelompokmu ya?"


Kayvan mengangguk. "Udah hampir selesai Kak. Jadi kami udah bisa santai. Kamis depan baru dikumpulin kok."


"Jangan kebanyakan nunda, lebih cepet selesai lebih cepet kau punya banyak waktu buat yang lain," Aylin mengingatkan.


Kayvan tersenyum mendengarnya. "Siap Kak. Sekarang ayo kita jalan-jalan."


Cowok itu lalu menggandeng tangan Aylin dan kemudian berjalan menuju tempat parkir.


"Kemana?"


Pada akhirnya, Kayvan mengajak Aylin jalan-jalan memutari kota Jogja. Bisa dibilang ini adalah kencan dadakan mereka.


Suasana Jogja yang menjelang sore dan jalanan yang mulai macet karena jam-jam pulang kantor dan sekolah tidak menghentikan keduanya untuk menikmati acara jalan-jalan ini.


Mereka mampir dan melewati beberapa tempat. Mampir sebentar di gramedia, ke tempat makan, bahkan melewati Jembatan Sayidan di mana mereka menepi di sana sebentar untuk menikmati pemandangan perumahan di tepi kali dan langit sore yang terlihat menenangkan.


Sampai tujuan akhir jalan-jalan hari ini adalah ke Jalan Malioboro. Tempat yang kini ramai karena banyak orang yang menghabiskan waktu akhir pekannya di sini. Sudah berapa kalipun Aylin menginjakkan kakinya di sini, rasa magis dan nostalgia kerap terasa.


Setelah memakirkan motor, Kai lalu menggandeng tangan Aylin menyusuri trotoar Jalan Malioboro yang ramai. Awalnya Aylin menolak digandeng—bukan karena risih tetapi dia malu kalau dilihat orang-orang—tetapi juniornya ini keukeuh dengan alasan takut Aylin hilang. Aylin memutar kedua bola matanya mendengarnya.


Sepanjang jalan Kai tidak pernah melepaskan genggamannya. Ketika mampir membeli jajanan pun tidak pernah dilepas.


Langit mulai menggelap. Tak lupa mampir sebentar ke mushola baru melanjutkan acara jalan-jalannya.


Mereka duduk di salah satu bangku yang di sediakan di sepanjang Jalan Malioboro. Menikmati es krim yang mereka beli dengan rasa yang berbeda. Pemandangan di sekitar mereka terlihat hidup dengan diterangi cahaya lampu. Di mana sebelah timur adalah Monumen Serangan Umum 1 Maret yang berada di area Museum Benteng Vredeburg, lalu di sebelah selatan ada Gedung BNI 1946 dan jalan menuju alun-alun utara.


Meski terlihat ramai dengan orang lalu lalang, tetapi suasana ini rasanya menenangkan.


"Selamat hari kasih sayang Kak Alin," ucap Kai tiba-tiba, dia menatap Aylin dengan pandangan teduh. "Terima kasih udah mau menemani jalan-jalan hari ini."


"Hah? Oh iya ini tanggal 14," kata Aylin.


"Kau tahu, aku nggak merayakanannya jadi kau nggak perlu repot-repot. Tapi makasih buat hari ini, aku senang."


Kai terkekeh pelan. "Sama berarti Kak, hehehe. Tapi aku pikir nanti Kakak bakal kepikiran karena banyak yang merayakannya."


Aylin mendengus mendengarnya. Lalu berujar, "Menurutku, nggak perlu nunggu pas hari kasih sayang buat menunjukkan kasih sayang kita. Tiap haripun bisa."


Kai tersenyum lebar mendengarnya.


"Jadi apa itu artinya setiap hari Kakak akan menunjukkan kasih sayangnya padaku?" cowok itu terlihat pura-pura berpikir, "Eh tapi itu udah dilakukan, hehe."


"Bodoh," Aylin berujar ketus dan memalingkan wajahnya. Namun, semburat merah menghiasi pipinya.


Tiba-tiba Kai merangkul Aylin dengan erat. Cukup membuat Aylin terkejut dengan gerakat yang tiba-tiba.


Lalu Kai mendekatkan wajahnya ke arah Aylin, membuat cewek itu sedikit menjauhkan wajahnya karena ini terlalu dekat.


"Aku juga sayang kakak. Aku cinta banget sama kakak. Because you're my sun."


Mendengar perkataan Kayvan, wajah Aylin berubah galak. Namun, semburat merah yang belum hilang di pipinya terlihat semakin kentara.


"Kayvan!" seru Aylin lalu mendorong wajah Kayvan menjauh. Benar-benar brengsek cowok ini. Membuat dadanya berdebar tak karuan. Oh, Aylin malu sekali. Apalagi ini di tempat umum.


"Apa Kakak nggak mau membalas ucapanku?" tanya Kayvan pura-pura sedih. Namun, tidak melepaskan rangkulannya.


Aylin memalingkan wajahnya. Tidak mau melihat ke arah Kayvan.


"A-aku juga sayang kamu," ujarnya lirih beberapa saat kemudian. Wajahnya sudah merah padam seperti tomat.


"Apa Kak? Aku nggak dengar," Kai menggoda Aylin lalu mendekatkan wajahnya.


"Kayvan! Jangan buat aku mengulanginya lagi!" seru Aylin dan menatap tajam ke arah Kayvan.


"Hahahaha!" Kayvan tertawa. Gemas sekali orang kesayangannya ini.


Tiba-tiba suara ledakan kecil terdengar. Kembang api dengan warnanya yang indah menghiasi langit gelap Jalan Malioboro. Oh? Ada pertunjukan kembang api? Kai dan Aylin baru tahu akan hal ini. Sepertinya pengunjung di sini juga baru tahu.


Kai merangkul Aylin dengan erat. Lalu berkata, "I'm glad that I've met you that day, my sun."


Aylin menyandarkan kepalanya di bahu Kayvan. Menikmati pertunjukan kembang api yang disediakan.


Beberapa saat kemudian, Aylin berkata pelan tetapi masih bisa didengar oleh Kayvan.


"Me too...


...my moon."


.


.


.


2. Ik Hou van Jou


Bimala hampir stres karena tugasnya tidak selesai-selesai. Satu tugas selesai tugas lain muncul. Dia benar-benar pusing.


Padahal dia hari ini ada janji untuk keluar bersama Frans. Sayangnya hal itu justru tidak terjadi.


Batal.


Bimala mau menangis rasanya. Menangis karena tugasnya yang entah kapan selesainya. Meangis karena dia tidak enak dengan Frans karena mereka sudah berjanji jauh-jauh hari untuk acara hari ini.


Dan berakhir batal dengan dirinya yang masih sibuk berkutat mengerjakan laporan demi laporan.


Ketika tadi dirinya melepon pacarnya itu kalau hari ini ternyata tidak jadi, dia sudah menahan isak tangisnya. Apalagi Frans berujar dengan sabar dan tenang kalau tidak apa-apa.


Tetap saja rasanya tidak enak dan kesal. Bimala tipe orang yang kalau bisa melakukan sesuatu sesuai rencana.


Dia tidak mau mengeluh, sungguh! Menjadi dokter adalah ambisinya. Namun, ada kalanya semuanya terasa berlebihan dan membuatnya keteteran. Tidak masalah banyak tugas karena itulah konsekuensinya.


But right now, she feels really overwhelm. Dia ingin istirahat barang sejenak tetapi banyak tugas yang tenggat waktu pengumpulannya dalam waktu dekat. Dia bukan Pasha si jenius yang dengan mudahnya menyelesaikan semuanya dan mendapat A. Dan Bimala ingin mendapatkan nilai yang terbaik, minimal A-.


Bimala masih berusaha menyelesaikan tugasnya dengan perasaan campur aduk ketika pintu kamarnya diketuk.


Tok! Tok! Tok!


"Siapa?" suara Bimala terdengar serak. Buru-buru dia mengusap matanya yang masih terasa lembab.


Cklek!


Pintu terbuka dan memperlihatkan sosok pacarnya yang menenteng buket bunga dan kantong kresek entah apa isinya.


"Frans?" Bimala cukup terkejut melihat cowok itu ke sini.


Frans tersenyum lembut lalu berujar, "Aku masuk ya?" dan dibalas anggukan kepala oleh Bimala. Cowok itu membiarkan pintunya setengah terbuka lalu berjalan masuk.


"Kok ke sini?" tanya Bimala penasaran. Dia masih merasa tidak enak pada pacarnya ini. Cewek itu hanya memperhatikan Frans ketika cowok itu mengambil sebuah meja kecil yang ada di kamar. Lalu menaruh kantong kresek dan mengeluarkan isinya.


Bimala satu kamar dengan Maul. Namun saat ini dia sendirian di kamar karena Maul masih di kampus. Bimala dan Maul berbeda kelas di kelas besar semester ini—dia kehabisan kuota kelas saat regis. Aslinya mereka bertiga satu kelas. Sistem pembagian kelas di FK agak berbeda dengan kebanyakan fakultas lain di UHW.


"Aku bawakan makanan. Tadi udah izin sama ketua asrama buat masuk sini," kata Frans. Setelah menyusun makanan yang dia bawa, cowok itu beralih ke Bimala.


"Ini untukmu," Frans menyerahkan buket bunga—semuanya berisi bunga mawar merah—ke Bimala.


"Rencananya aku mau ngasih bunganya ke kamu hari ini pas ketemu. Tapi ternyata nggak bisa. Jadi kubawakan saja ke sini."


Bimala tersentuh dengan gestur yang dilakukan Frans. Dia menerima buketnya dan mengamatinya beberapa saat. Senyum terbit di wajah ayunya. Dia lalu menaruh buket di meja belajarnya dan berlari menubruk Frans.


Memeluknya erat. Dan Frans membalas pelukan itu.


"Terima kasih," kata Bimala dan melepaskan pelukannya. Pandangan matanya memburam. Air matanya berhasil lolos keluar.


"Maaf hari ini mendadak nggak jadi," kata Bimala yang masih menyembunyikan wajahnya. "Maaf nggak bisa menepati janji."


"Hei..." Frans melepas pelukan mereka. Lalu menatap pacarnya dengan pandangan lembut. Dia sedih melihat Bimala malah menangis.


Dengan lembut, Frans menghapus air mata Bimala yang menetes keluar dengan ibu jadinya.


"Kamu nggak perlu minta maaf," tutur Frans selembut mungkin. "Masih ada waktu lain buat kita pergi keluar sama-sama. Kita emang nggak bisa mengontrol keadaan tak terduga sesuai kemauan kita."


"T-tapi..."


"Jangan terlalu dipikirkan. Aku juga udah di sini," kata Frans. "


"Hari ini, aku akan menemanimu nugas," lanjutnya. "Kita makan bareng di sini. Kau pasti belum sempat makan 'kan?"


Dengan perlahan Bimala mengangguk.


Frans lalu tersenyum dan berujar, "Ayo kamu istirahat sebentar. Jangan terlalu memaksakan diri, tubuhmu juga perlu istirahat. Setelah cukup istirahatnya, kamu bisa lanjut lagi. Aku akan tetap di sini. Kalau ada apa-apa, kamu bisa bilang langsung. Oke?"


Sekali lagi Bimala mengangguk.


"Frans, terima kasih," kata Bimala kemudian ketika mereka sudah duduk dan bersiap menikmati makanan yang tersedia.


"Aku mencintaimu."


Frans, yang duduk di seberangnya, tersenyum lebar mendengarnya.


"Ik hou ook van jou, mijn Mia." *


"Oh, dan selamat hari kasih sayang," tambah Frans beberapa saat kemudian.


Bimala tersenyum mendengarnya. Semburat tipis muncul di kedua pipinya.


"Yeah... selamat hari kasih sayang juga, Jojo," Bimala memanggil Frans dengan nama panggilan waktu kecilnya dulu.


.


*) dari bahasa Belanda yang artinya I love you too, my Mia. Dan Mia dalam bahasa Latin artinya bintang di lautan.


.


.


.


3. My Priority


Sepulang sekolah, Pandu dan Nana berniat pergi main ke timezone di Lippo Plaza. Mumpung hari Sabtu besok libur karena semua guru ada rapat. Begitu kelas dua belas, mereka jarang mendapatkan libur. Tidak seperti kelas sepuluh dan sebelas.


Begitu tadi pulang ke rumah sebentar untuk ganti baju, Pandu menjemput Nana lalu mereka berdua pergi ke tempat tujuan.


Mereka berdua memang berencana memanfaatkan hari libur yang mulai jarang-jarang ini untuk refreshing. Tiap di sekolah dan les mereka sudah direcoki soal-soal dan materi untuk persiapan ujian beberapa bulan lagi.


Pandu dan Nana juga sudah tidak mengikuti ekstrakurikuler dan pertandingan sejak kurang lebih dua bulan lalu.


Begitu sampai di timezone, mereka memainkan setiap gim yang ada—yang sekiranya menarik buat mereka—dan bersaing siapa yang paling banyak menang atau dapat skor yang lebih tinggi.


Tidak ada yang berubah.


Pandu dan Nana memang aneh dengan persaingan kecil mereka. Hampir semua hal mereka bersaing. Tiap ada yang kalah harus melakukan suatu hal yang diminta yang menang.


Namun, mereka menikmatinya. Bagi Pandu dan Nana, selain untuk bersenang-senang, mereka juga mengukur kemampuan masing-masing. Lalu kalau salah satu dari mereka belum berhasil, yang lainnya akan membantu memperbaiki.


Persaingan yang positif.


Begitu puas main-main di timezone, Nana mengajak Pandu untuk mencari makan di restoran yang ada di Lippo.


"Besok jadi kuliah di UHW?" tanya Nana.


Pandu mengangguk tanpa suara, masih mengunyah makanannya. Mereka berdua memang berniat melanjutkan kuliah di UHW.


Berkuliah di Universitas Hayam Wuruk memang impian hampir semua orang.


Nana yang memang sejak awal ingin berkuliah di sana. Dia juga ingin menunjukkan kalau dirinya bisa kuliah di salah satu universitas terfavorit se-Indonesia dan juga elit.


Salah satu faktor utama yang memotivasinya adalah karena sebagian besar keluarganya berkuliah di sana.


Sementara Pandu memang tertarik melanjutkan studi ke UHW. Bukan karena Nana tetapi juga tidak sepenuhnya salah.


Ha bagaimana?


Jadi dulu pas awal masuk SMA—sebelum dekat dengan Nana, Pandu sudah merencanakan untuk berkuliah. Pernah disarankan kakak perempuannya buat ambil kesehatan di Poltekkes tetapi cowok itu tidak tertarik. Ayahnya juga pernah menyarankan untuk ambil di ikatan dinas.


Lalu begitu tahu Nana juga ingin masuk ke UHW, Pandu jadi semakin mantap dengan keputusannya.


"Udah tahu mau ambil apa?" tanya Pandu kemudian.


Nana mengangguk. "Aku pengen ambil seni musik," katanya. Lalu wajahnya jadi agak mendung.


"Tapi takut mengecewakan papa. Papa nyaranin aku buat ambil olahraga. Iya sih aku lumayan tertarik, tetapi aku lebih milih seni musik."


Berbeda dengan kedua saudaranya yang alumni UHW, ayahnya Nana itu alumni sekolah penerbangan. Pria itu memang menyarankan putrinya ambil olahraga karena melihat kemampuan Nana yang bagus di olahraga. Bahkan jadi atlet sekolah.


"Papamu niatnya baik. Dia melihat kemampuanmu yang bagus di olahraga," ujar Pandu, "Tapi kalau kau udah yakin mau masuk jurusan musik, ya nggak papa. Ambil jurusan yang kamu mau. Karena ini yang akan kamu jalani selama beberapa tahun ke depan. Aku nggak mau kamu menyesal."


"Coba kasih papamu pengertian, alasan kenapa kamu pengen ambil musik. Aku pikir papamu bakalan mengerti. Dia kan selalu memprioritaskan kebahagian anak-anaknya 'kan?" lanjutnya. Pandu pernah bertemu ayah Nana beberapa kali saat pria itu di rumah.


Nana mengangguk. Apa yang dikatakan pandu soal ayahnya memang benar. Pria itu tak pernah memaksakan kehendaknya. Bahkan jarang memaksa anak-anaknya untuk ambil ini atau itu. Beliau tipe orang yang akan mendukung pilihan anaknya asalkan itu baik.


Ayahnya dan kedua saudarinya sama. Mereka dididik demikian oleh almarhumah simbah putri. Kemana simbang kakung saat itu? Beliau berjuang membela negeri yang dulu masih belum se-stabil sekarang meski sudah merdeka.


"Lalu kamu mau ambil jurusan apa?" tanya Nana kemudian.


"Hmm..." Pandu terlihat berpikir. "Aku masih bingung antara ambil jurusan di FO atau di FT. Aku masih nyoba nyari-nyari referensi buat meyakinkanku."


"Yah... kita jadi beda fakultas nanti," kata Nana.


"Iya eh."


"Saat kita beda fakultas nanti, jangan lupakan aku ya kalau udah punya temen baru, hehe..."


Pandu sepertinya sudah hafal ketika Nana sudah berbicara seperti ini. Orang-orang pasti tidak akan menyangka orang seceria dan seaktif Nana bisa insecure. Selain Cika—sahabat masa kecil Nana yang tinggal di luar kota—Pandu adalah teman yang paling dipercayai Nana.


Nana memang orang yang supel dan punya banyak teman. Namun, hanya mereka berdua-lah yang benar-benar paling dekat.


"Kamu itu prioritasku setelah ibuku, Na. Justru aku yang mungkin bilang itu."


Nana menggeleng. "Nggak bakal. Aku terlalu menyukaimu buat sekedar lupa karena ada temen baru."


Pandu tersenyum tiga jari mendengarnya.


"Aku juga suka kamu, Na. Tentu aja, kamu kan pacarku."


"Bukannya kita ini rival?"


"Lebih ke sahabat deh. Bestfriend forever."


"Haha...!"


"Oh iya," Pandu berujar beberapa saat kemudian. Dia mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.


Sebuah cokelat batangan berukuran sedang. Dia tadi membelinya di warung dekat rumahnya sebelum menjemput Nana.


"Ini. Mumpung hari kasih sayang dan biar kayak orang-orang ngasih cokelat," Pandu memberikannya pada Nana.


"Ckckck... payah banget masa nggak dibungkus. Mana cuman satu lagi," meski begitu Nana tetap menerimanya.


"Kan yang penting ada, Na."


"Hahaha iya, iya. Makasih ya Ndu. Nanti kubelikan boba sebagai gantinya."


"Dua ya Na," pinta Pandu.


"Maruk banget. Harganya beda jauh nanti sama cokelatnya."


"Haha... kan yang satu buat Nana."


"Heleh."


.


.


.


4. Pasangan Aktivis


Dua minggu lagi adalah acara seminar internasional akan digelar di auditorium UHW. Panitianya terdiri dari beberapa dosen dan mahasiswa. Mahasiswa yang tergabung di kepanitiaan pun adalah anak-anak BEM dan duta kampus karena seminar kali ini berkolaborasi dengan BEM dan duta kampus.


Itulah sebabnya, Naufal yang merupakan salah satu perwakilan BEM FT, begitu selesai kelas, cowok itu langsung ngacir pergi ke parkiran. Tiga puluh menit lagi ada rapat panitia. Lebih tepatnya rapat untuk timnya.


Yup, Lia dan Naufal kebetulan satu tim. Awalnya mereka tidak tahu kalau mereka satu sama lain mendaftar di tim yang sama.


Cowok itu mampir sebentar ke FBS untuk sekalian menjemput Lia, pacarnya.


Iya, Lia juga ikut kepanitiaan. Awalnya memang Lia yang mengajak ikut kepanitiaan. Hitung-hitung menambah pengalaman. Apalagi tema yang diangkat di acara seminar besok sangat menarik dan pembicara yang diundang tidak main-main.


Naufal mah ayo-ayo saja. Dari dulu dia memang suka berorganisasi dan ikut kepanitiaan.


Ketika sampai di gerbang FBS sebelah timur—gerbang utama di sebelah barat dan daripada harus muter dulu Naufal lewat timur karena lebih dekat ke Auditoriumnya—Lia sudah berdiri menunggu di sana.


"Udah dari tadi?" tanya Naufal.


Lia menggeleng. "Nggak juga. Tadi ke kantin dulu baru ke sini."


Naufal mengangguk mendengarnya.


"Yuk?"


Lia mengangguk lalu segera membonceng di motor Naufal. Setelah memastikan Lia sudah nyaman, Naufal segera menjalankan motornya.


"Oh iya, Pal, happy valentine ya," ujar Lia dari belakang.


"Happy valentine juga Ya. Habis rapat nanti kita makan bareng mau? Sekalian kencan."


"Boleh."


.


.


.


5. Dua Orang Kurang Kerjaan


Ridwan baru kembali dari toko ATK ketika dia tidak sengaja melihat Rima di jalan. Sepertinya seniornya itu baru selesai dari dojo melatih anak-anak UKM karate.


Cowok itu lalu memberhentikan motornya dan memanggil Rima. Merasa di panggil, cewek itu menoleh dan tersenyum mendapati orang yang sangat dikenalnya.


"Dari mana?" tanya Rima dan berjalan mendekat.


"Dari Toko Merah," jawab Ridwan. "Baru selesai? Tumben jalan."


"Iya. Ban motorku bocor. Belum sempat kubawa ke bengkel karena tadi buru-buru. Jadi tadi nebeng temen."


Jarak asrama putri FT dan tempat latihan lumayan jauh—masih masuk wilayah FO meski letaknya cukup jauh dari wilayah utama tempat kelas teori dan gedung dekanat berada.


"Mau bareng nggak? Tapi cari makan dulu," Ridwan menawarkan.


Rima tersenyum lebar mendengarnya. "Boleh banget. Kebetulan aku juga mau cari makan."


Lalu mereka berdua pergi mencari tempat makan yang sekiranya tidak perlu antre terlalu lama dan menu yang mereka mau hari ini. Begitu sampai, Ridwan segera memarkirkan motornya. Membiarkan Rima memesankan menu makanan hari ini karena dia sudah tahu apa yang dipesan Ridwan.


Mereka makan sambil mengobrol tentang kesibukan masing-masing. Di mana Rima masih sibuk melatih di dojo dan semester ini juga mempersiapkan buat magang. Dia juga masih aktif di Hima dan tahun ini akan resmi demisioner.


Sementara Ridwan hanya sibuk kuliah. Dia tidak ikut organisasi apapun. Pengecualian untuk tim basket. Cowok itu jadi ikut basket kampus bareng Neo berbulan-bulan yang lalu. Selebihnya, Ridwan termasuk mahasiswa kupu-kupu.


"Habis ini kau mau kemana?" tanya Rima. "Balik asrama?"


"Entahlah. Kau?"


"Mungkin. Gabut sebenernya. Paling nanti nonton film di laptop."


Mereka sudah selesai makan. Namun, masih enggan beranjak dari tempat duduk.


"Mau jalan-jalan?" tanya Ridwan beberapa saat kemudian.


"Boleh. Mumpung gabut. Tapi kau beneran nggak ada kegiatan apa sehabis ini?" jawab Rima.


Ridwan menggeleng. "Nggak ada. Tugasku baru mau kukerjakan besok. Jadi ya sama, gabut."


Akhirnya mereka berdua lanjut jalan-jalan menghabiskan sore hari ini. Mereka langsung ke Jalan Malioboro karena tidak tahu harus kemana—karena mendadak dan mereka berdua sama-sama tidak ada kerjaan.


Sesampainya di Malioboro, Rima dan Ridwan tidak sengaja melihat dua orang yang sangat mereka kenali. Dua sahabat mereka.


Kayvan dan Aylin.


Yang sepertinya keduanya tidak melihat mereka dan mungkin tidak sadar kalau ada Ridwan dan Rima di tempat yang sama. Sepertinya Kayvan dan Aylin sedang kencan.


Ridwan dan Rima lebih memilih diam. Tidak berniat menyapa. Takut menganggu. Jadinya, mereka berdua memilih berjalan sambil melihat-lihat sekeliling.


Rima duduk di salah satu bangku yang kosong. Tak berapa lama kemudian, Ridwan datang membawa dua es krim dan memberikan satunya pada Rima.


Mereka mengobrol lagi sambil menikmati es krim dan suasana sore yang ramai di Jalan Malioboro. Obrolan mereka kali ini adalah membahas teman-teman mereka.


Dari Kai dan Aylin yang mereka lihat tadi. Di mana Rima terlihat heran melihat Aylin tadi mau digandeng Kayvan di tempat umum seperti ini. Cewek itu cukup tahu kalau Aylin orangnya bagaimana.


"Kai itu orangnya keras kepala. Mungkin Mbak Alin udah nggak bisa nolak lagi karena berapa kalipun, Kai bakal tetap melakukannya," kata Ridwan.


Rima mengangguk-angguk. "Bisa jadi. Temenmu itu emang kelihatan gigih."


Di masing-masing geng mereka, keduanya adalah orang pertama yang menyadari ada sesuatu di antara Kayvan dan Aylin.


Rima sudah curiga kalau Kayvan suka Aylin sejak acara pemilihan duta kampus. Di mana sahabatnya Ridwan itu terang-terangan memberi kode ke Aylin saat sesi unjuk bakat. Baru Naufal yang sadar kemudian. Entah kapan tepatnya.


Kalau Ridwan, dia sudah diam-diam memperhatikan gelagat Kayvan saat sahabatnya itu sering sekali berdiri menentang Aylin waktu Isimaja. Lalu kecurigaannya mulai terlihat saat Kayvan terang-terangan mendekati Aylin pas awal kuliah. Orang kedua yang sadar mungkin Teo. Cowok itu tidak terlalu terkejut saat tahu kalau Kai dan Aylin menjalin hubungan.


"Tadi aku lihat Frans beli buket bunga pas berangkat ke dojo," Rima bercerita. "Aku yakin itu buat Bimala."


"Bimala yang anak FK itu?" tanya Ridwan memastikan.


"Hooh. Dia lumayan sering ke FT juga. Pacarnya Frans dan sepupunya Alin."


Ridwan baru tahu fakta kalau mereka berdua bersaudara. Cowok itu lalu bercerita kalau dia melihat Naufal dan seorang cewek ke arah auditorium saat dia mau ke toko ATK.


Rima lalu menjelaskan kalau cewek itu pacarnya. Keduanya memang bisa dibilang sama-sama aktivis kampus. Sama-sama anak BEM di fakultas masing-masing.


Keduanya lalu membicarakan hal random lainnya. Lalu terdiam selama beberapa saat. Menikmati suasana Malioboro yang semakin ramai. Ramai dengan pengunjung, para pedagang, kendaraan, becak dan andong, serta musisi jalanan.


Rima asyik mengamati sekelilingnya lalu mengecek ponselnya sejenak, sampai pada akhirnya menyeletuk:


"Pantesan pada kencan semua di sini. Wong hari ini hari valentine."


Es krim mereka sudah habis dari tadi.


Rima lalu kembali melihat ke selilingnya beberapa saat. Lalu berkata dengan nada bergurau, "Melihat orang-orang pada uwu-uwu jadi pengen, hahaha..."


"Biarkan saja. Kita bukan mereka," Ridwan menimpali.


Rima lalu menoleh ke arah Ridwan lalu mengangguk setuju.


"Kau benar. Kita 'kan sama-sama dua orang gabut yang nekat main ke sini, hahaha..."


Ridwan tersenyum tipis mendengarnya. Benar, mereka adalah dua orang tidak punya kerjaan yang tidak sengaja bertemu dan spontan memutuskan untuk jalan-jalan berdua.


"Wan, ayo hunting foto," ajak Rima tiba-tiba.


Ridwan mengangkat sebelah alisnya. "Emang kau bawa kamera?"


"Bawa, nih," Rima lalu mengeluarkan kameranya dari dalam tas yang dia bawa.


"Kau itu tadi niatnya ngelatih atau foto-foto?" komentar Ridwan.


"Ngelatih kok. Sekalian bantu dokumentasi kegiatan sama pengurus baru," sahut Rima.


"Jadi mau nggak?" tanya Rima sekali lagi.


Ridwan akhirnya mengiyakan ajakan seniornya ini.


"Yaudah ayo."


.


.


.


Bonus!


.


6. We are Dating (with papers)


Akhirnya!


Maul bisa menghirup udara segar begitu keluar ruangan setelah kelas terakhir di minggu ini. Jumat ini jadwalnya memang lebih banyak dari kedua sahabatnya. Gara-gara dia telat registrasi ulang saat pengisian KRS (Kartu Rencana Studi) secara daring sebelum mulai awal semester ini, dia jadi tidak kebagian kelas yang sama dengan Pasha dan Bimala.


FK memang sistemnya siapa cepat siapa dapat waktu mulai pengambilan jadwal mata kuliah selama satu semester. Tidak seperti di FT, FBS, dan mayoritas fakultas lain yang memang pembagiannya berdasar kelas masing-masing. Kalau ada yang ketahuan menyerobot akan dipindah oleh adminnya dan kalau ada yang kehabisan kuota kelas bisa dibukakan lagi oleh admin jika masih memungkinkan.


Hah....!


Maul tidak langsung pulang ke asrama. Dia memutuskan untuk mengerjakan tugasnya dulu di kampus. Sebelum itu, dia membeli camilan dan minuman untuk menemaninya mengerjakan tugas.


Cewek itu lalu memilih duduk di salah satu bangku dan meja yang disediakan di taman FK. Dia tidak sendirian. Ada anak-anak lain yang masih mengerjakan tugas atau mengobrol dengan teman mereka di sana.


"Ul!" seseorang memanggilnya. Maul menoleh dan mendapati sahabat jangkungnya berjalan mendekat.


"Baru selesai kelas?" tanya Pasha lalu mendudukkan dirinya begitu saja di seberang Maul.


Maul mengangguk. "Hooh. Kau dari mana? Bukannya kelasmu udah selesai dari tadi?"


"Tadi ke perpus."


"Mau ngerjain tugas? Bareng dong," kata Pasha kemudian. Maul mengiyakan. Pasha lalu mengeluarkan tugasnya dari dalam tas.


"Tadinya mau ngajak Bia nugas bareng di sini. Tapi tadi lihat Frans ke arah asrama bawa bunga. Jadinya nggak jadi," ujar Maul.


"Oh... kencan kali," Pasha menanggapi.


Keduanya lalu mengerjakan tugas masing-masing dalam diam. Sesekali mengobrol untuk mengisi keheningan. Maul juga tak jarang bertanya ke Pasha tentang hal yang dia belum paham.


Pasha itu jenius. Otomatis dia cepat paham dengan materi yang dipelajari. Termasuk topik yang tidak menjadi tema tugasnya. Makanya, sering kali Bimala dan Maul meminta bantuan Pasha untuk mengajari mereka topik yang sekiranya membingungkan.


Maul dan Pasha lalu istirahat sejenak setelah sejak tadi berkutat dengan tugas mereka.


"Emang hari ini hari valentine ya?" tanya Pasha yang kini tengah membuka akun sosmed-nya.


"Iya?" Maul lalu mengecek tanggal di ponselnya memastikan. "Oh iya tanggal 14."


"Pantesan timeline-ku isinya orang pacaran semua," kata Pasha.


"Lah kita kan lagi pacaran," sahut Maul tanpa menoleh, masih sibuk dengan ponselnya.


"HAH?!" jujur, Pasha sangat terkejut mendengarnya. Dia juga agak salting tetapi untungnya Maul tidak melihatnya.


Maul lalu menatap Pasha seolah perkataannya sangat-sangat jelas.


"Iya kan? Pacaran sama tugas. Dari kemarin kita udah kencan sama tugas. Jadi budak tugas."


Pasha akhirnya paham maksud Maul meski di sudut hatinya ada sedikit rasa kecewa. Entah kenapa.


"Oh.... Bener juga ya? Kirain."


"Kirain apa?"


"Nggak kok," buru-buru Pasha menjawab.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


a.n.


how's the chapter? which one is your fav?


btw, untuk par Kai-Aylin, yg bingung kenapa kok bulan dan matahari, jadi gini nama Aylin artinya Matahari, dan Candra (dari nama tengah Kayvan) artinya Bulan. And so... yeah..


maaf kalo bahasa Belanda nya ada yg salah, karena cuman lihat di kamus (aku blm pernah belajar) kenapa bahasa Belanda? ya kan Frans punya darah belanda dan bisa sedikit2 bahasanya :D


di part orang gabut, bener2 ada spoiler soal main pairing (kai-aylin) lebih jelasnya lihat besok


untuk lanjutan part utama, bisa jadi di up hari kamis (as always most of the time), bisa juga mundur. malah bisa jadi besok side story, i dunno. let's see this later


see you^^