Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Knock Down



Knock down (n): an act of knocking an opponent down


.


.


[minor editing | warning!violence scene, harsh word and the usage of cold steel, so i decided to put the rating just in case]


.


.


.


Ridwan berjalan sendirian menuju tempat fotokopian. Ada tugas yang perlu dia cetak karena printer bersama di asrama—di daerah lantai kamarnya lebih tepatnya—rusak dan tengah dibawa ke tukang servis.


Dia jalan sendirian. Karena jarak ke tempat fotokopian terbilang cukup dekat. Makanya, selesai kelas, dia langsung cabut pergi.


Baru berjalan kurang dari sepuluh menitan, langkahnya tiba-tiba terhenti.


"Sialan," kata Ridwan pelan.


Di depannya, kini berdiri orang-orang tidak kenal berpenampilan preman. Mereka mulai berjalan mendekat. Mengepung Ridwan dan menghalangi jalannya.


Mata tajam Ridwan menatap awas. Punggungnya tegak, dengan reflek langsung merubah posisinya menjadi siaga. Satu tangannya memang belum benar-benar sembuh meski sudah lepas gips. Namun, untuk luka dan memar yang lain sudah hilang tak berbekas.


"Ini orangnya?" salah satu dari mereka bertanya sambil melempar tatapan menilai ke arah Ridwan. Lalu seseorang yang sepertinya pimpinan mereka mengiyakan.


"Kita habisi dia," katanya.


Semua begitu cepat. Tiba-tiba Ridwan sudah terlibat perkelahian. Sebisa mungkin cowok itu tidak menggunakan tangan yang masih dalam pemulihan. Akan sangat merepotkan kalau dia harus masuk rumah sakit lagi karena tangannya kembali patah.


Dengan susah payah, Ridwan melindungi diri dan sekaligus balas menyerang mereka.


Dari mana mereka datangnya?


Apa mereka ini yang merupakan suruhan Vino?


Ridwan benar-benar kewalahan sekarang. Hampir saja pukulan melayang ke arahnya saat dirinya lengah, sebelum seseorang menangkisnya.


Dengan napas tersengal, dia melihat gerombolan orang yang tiba-tiba muncul tengah bertarung melawan kelompok geng berpenampilan seperti preman yang semula menyerang Ridwan.


Siapa mereka?


"Dek," seseorang menepuk pundaknya. Membuat Ridwan sedikit berjengit kaget. Dia menoleh dan mendapati seseorang yang wajahnya sepertinya familiar.


"Kau nggak apa 'kan? Oh, kau berdarah tuh," katanya sambil menunjuk luka Ridwan di pelipis kanannya.


Sontak tangannya langsung menyentuh luka yang dimaksud. Benar saja, bercak darah kini ada di jemarinya. Dia terlalu fokus sampai dia tidak merasakan rasa sakit dari luka yang ada.


Percakapan mereka terpotong ketika beberapa orang mengarahkan serangannya pada mereka. Back to back, keduanya membalas mereka.


"Geng ini beneran keras kepala ya?" komentar orang itu sambil melayangkan sebuah pukulan.


Ridwan ingat sekarang. Orang itu adalah salah satu senior yang mengantar dirinya dan Aylin ke Third House setelah nyaris saja dikepung.


Jadi gerombolan yang tiba-tiba datang itu adalah para senior. Bedanya mereka tidak mengenakan korsa merah marun lagi. Jumlahnya sepertinya juga tidak sebanyak tempo itu. Hanya ada beberapa.


Lama-lama gerombolan geng itu makin lama terasa makin banyak. Membuat Ridwan dan para senior sedikit kewalahan.


Sasaran utama mereka adalah Ridwan.


Sementara di tempat lain, Budi berlari dan membuka pintu Third House dengan kasar.


"Bang Teguh sampai turun tangan sama para senior ***!"


"Hah?!" semua yang ada di Third terkejut mendengarnya.


"Frans mana?" tanya Naufal mencoba tetap tenang di tengah yang lain yang mulai panik.


"Udah jalan ke sana sama anak-anak tahun kedua. Ada Enggar sama yang lain juga," jawab Budi masih ngos-ngosan.


"Sumpah ***! Aku tadi sempet lihat Frans, dia udah marah banget."


Aji, Naufal, Aylin, Rima, Taufan, serta Kai dan gengnya memang tengah di Third House. Membahas perihal kasus Vino dan ibunya Ridwan. Lalu dikabari kalau Ridwan tengah dikepung. Teo yang mengabari mereka karena awalnya cowok itu ingin pergi menyusul Ridwan.


Namun, tidak jadi karena apa yang dia lihat membuatnya membatalkan rencananya. Dia langsung pergi mencari bantuan.


Rima sudah panik lebih dulu saat mendengar kabar barusan. Namun, Naufal menahannya agar tidak gegabah. Tak lama kemudian Budi datang.


"Kita bagi tugas," kata Aji dengan tegas. "Sesuai plan yang kita sepakati, kita langsung saja eksekusi."


.


.


.


Frans dan kawanannya tiba di lokasi. Tanpa babibu, mereka langsung membantu Ridwan dan para senior yang mulai kewalahan.


"Ada urusan apa kalian ke sini?" tanya Enggar sambil menghindari tendangan yang dilayangkan padanya. Meski dia tahu jawabannya, dia perlu sedikit pengecoh.


"Ini bukan urusan kalian! Urusan kami hanya dengan dia."


Dia yang dimaksud tentu saja Ridwan. Frans sudah memperkirakannya kalau cepat atau lambat geng suruhan Vino akan datang mengincar Ridwan. Hanya menunggu waktu yang tepat.


Sayangnya, geng itu kalah cepat. Para senior tahun keempat memang sudah diberitahu soal geng itu. Jadi mereka bisa dengan cepat membantu Ridwan saat keadaan itu benar-benar terjadi.


Yang Frans tidak kira adalah mantan Raja Teknik itu sendiri, Teguh, sampai ikut turun tangan.


Orang yang bersangkutan tengah membantu melawan salah satu anak buah geng yang membawa kayu.


"Urusan dia urusan kami juga!" terdengar Haris berteriak menyahuti. Dia seperti kesetanan saat menghajar habis salah satu orang dari geng itu.


Frans yang memang sudah dikuasai amarah, dia juga menghajar mereka tanpa ampun. Dia marah karena berani-beraninya geng itu ikut campur dan cari masalah.


Apalagi menargetkan orang yang sebenarnya tidak tahu apa-apa.


Iya, selain Ridwan, ada laporan kalau ada beberapa yang diganggu. Usut punya usut memang geng itulah yang cari gara-gara. Bermaksud untuk memancing Ridwan keluar atau menunggu saat Ridwan sendirian.


"As*!" seru Haris mengerang kesakitan saat bahu kirinya terkena pukulan kayu.


Beberapa dari mereka tertawa melihatnya.


"ARGH!!"


Teriakan kesakitan Haris kembali terdengar saat tangannya dengan sengaja diinjak.


Sialan mereka!


"Menyerah saja kalian! Nggak perlu sok jagoan."


"BANGS*T KOEN!" seru Frans. Karena fokusnya sempat terpecah dengan teriakan Haris, lengannya tergores senjata tajam dari salah satu anggota geng yang dihadapinya.


.


.


.


Rima tiba di lokasi kejadian. Perkelahian yang terjadi di sini sudah usai. Terlihat beberapa senior saling membantu satu sama lain. Ada juga orang-orang berpenampilan preman pasar yang babak belur.


"Semua harus clear!" seru Frans sambil memapah Haris dibantu Adi. Haris terlihat sangat payah.


"Kau urus yang lain aja Frans. Biar aku yang urus sisanya di sini," kata Teguh. "Aku nanti yang bakal jadi saksi. Aman."


"Makasih Bang," balas Frans.


"Yo'i santai."


Rima tidak lagi mendengarkan pembicaraan mereka. Dia kini fokus mencari-cari seseorang. Hingga matanya menangkap sosok itu yang tengah berdiri membelakanginya.


Buru-buru dia menghampirinya. Tidak peduli kini Naufal dan lainnya berhasil menyusulnya.


"Ridwan!" panggilnya dengan keras. Orang itu menoleh. Wajahnya terlihat kelelahan. Senyum lemah terbit di wajahnya. Darah dari luka di pelipisnya mulai mengering.


Semua sudah berakhir. Ridwan aman di sana. Rima yang sejak tadi tanpa sadar menahan napas cemas, kini bisa sedikit bernapas lega.


Mungkin banyak yang bertanya, kenapa perkelahian sebesar itu tidak ada yang melerai? Atau setidaknya ada yang langsung melapor sehingga pihak yang berwajib datang lebih cepat.


Semua ini perihal kekuasaan. Geng suruhan yang mengincar Ridwan terkenal sebagai geng yang cukup ditakuti. Entah Vino sadar atau tidak berurusan dengan mereka.


Seperti apa yang pernah disebutkan sebelumnya, Frans punya banyak kenalan di luar sana yang jadi mata untuknya. Informan yang sering menghubungi Frans, Sentot, adalah bagian dari geng yang ditakuti di kota ini.


Meski ditakuti, gengnya Sentot termasuk yang hampir tidak pernah mencari masalah dengan masyarakat sipil. Mereka tetap bukan pihak yang baik, tetapi melakukan aksi tanpa alasan jelas seperti begal atau klithih bukan kebiasaan mereka.


Makanya, meskipun Ridwan atau anak FT berjalan sendirian pun tetap ada yang mengawasi atau memantau selama masalah ini belum selesai.


Dan Frans meminta mereka—Sentot dan gengnya—untuk tidak terlibat. Biarkan anak-anak FT yang menyelesaikan masalahnya. Kesalahan fatal geng suruhan Vino adalah mereka mau-maunya ikut campur dengan urusan yang tidak ada sangkut pautnya dengan mereka.


Membuat masalah jadi semakin besar dan merepotkan.


"Ma, mendingan kau antar Ridwan ke klinik buat ngobatin lukanya itu," kata Naufal.


Rima mengangguk tanpa kata.


"Bud, Pan, kita bantu beresin sebelum aparat datang," Budi dan Taufan mengangguk.


"Lin, Kai, udah mastiin CCTV?"


Kali ini Aylin yang mengangguk.


.


.


.


Semua sudah berakhir. Sisa-sisa anak geng suruhan Vino itu sudah diamankan. Yang ternyata memang salah satu pelaku yang selama ini dicari-cari pihak aparat. Catatan mereka tidak hanya soal disogok buat ikut campur dan memanasi masalah antara FT dan FGK.


Bukan hanya itu.


Mereka juga bersalah kepada warga sipil yang sering kali harus merasa was-was di kota mereka sendiri.


Sisanya lagi bagaimana?


Masih menjadi buron. Namun, itu bukan hal penting sekarang. Biarkan yang lebih punya wewenang melakukannya. Itu sudah tugas mereka dengan upah dari masyarakat. Semoga saja amanah selalu.


Kemudian, nama baik ibunya berhasil dipulihkan. Berhasil menang atas gugatan dari proses yang alot. Membungkam ibunya Vino yang ternyata wanita itu sendiri penuh skandal.


Skandal yang kini sudah bukan sebuah rahasia karena banyak media yang menguliknya.


Itu sudah karmanya. Ridwan tak mau ambil pusing untuk sekedar memikirkannya.


Oh satu lagi yang benar-benar membuatnya puas.


Vino akhirnya dikeluarkan.


Dengan tidak hormat.


Sama seperti ibunya, kebusukannya juga sudah tersebar luas. Mungkin tidak ada yang tidak tahu di UHW soal kecurangannya. Terutama soal trek akademisnya.


Sang mahasiswa teladan kini jadi orang yang tidak disukai se-UHW, terutama di fakultasnya sendiri. Falling from grace.


Lalu soal ayahnya?


Pria tua itu terlibat skandal dan kecurangan ibunya Vino. Entah sengaja atau tidak. Namanya jadi terseret, membuatnya jatuh tertimpa tangga.


Dan Ridwan memilih untuk bersikap tak peduli. Meskipun orang itu masih berhubungan darah dengannya.


Cowok itu menghentikan langkah kakinya saat tiba di dekat wilayah gedung jurusan Teknik Otomotif.


Selama beberapa saat dia hanya menatap gedung kuliahnya. Tidak ada niatan untuk masuk dan menuju kelasnya yang sebentar lagi akan mulai.


Pikirannya berkecambuk. Terasa penuh dengan rentetan kejadian yang terjadi. Perban yang menutupi luka jahitan di pelipisnya menjadi bukti nyata. Bahwa semua hal yang terjadi belakangan ini benar-benar bukan hanya sebuah bunga tidur yang panjang.


Baru beberapa hari sejak kejadian itu. Tidak sampai tiga hari. Namun, rasanya semuanya terasa sangat normal.


Pada akhirnya, Ridwan memilih untuk memutar balik. Memilih membolos seluruh kelas pada hari ini. Dia sudah memastikan bahwa masih ada sisa jatah hari untuk absen dari kelas.


Rasanya benar-benar menguras energinya.


Dia mengirim pesan di grup yang berisi teman-temannya, Kai dan yang lain. Mengabarkan kalau dia akan bolos hari ini.


Balasan dari Teo lebih cepat dari yang lain. Hanya berselang beberapa detik sejak pesan Ridwan terkirim. Sepertinya cowok itu sedang membuka ponselnya di kelas.


'oke wan. Buat istirahat aja.


Nanti aku TA kan sama kukabari kalo ada tugas.'


Tanpa menunggu balasan yang lain, Ridwan menyimpan ponselnya dan berjalan menjauh berlawanan dari arahnya tadi.


Di tengah jalan, Ridwan bertemu Rima. Senior yang masih betah dengan potongan rambut ala taruninya.


Rima dalam perjalanan untuk mencari sarapan. Dia baru ada jadwal kelas siang nanti. Jadi dia bisa sedikit lebih bersantai karena jeda waktu yang lumayan.


Cowok itu akhirnya memilih ikut Rima saja. Lagipula dia juga belum sempat sarapan.


Mereka tak banyak mengobrol. Kalaupun bicara, Rima yang lebih mendominasi pembicaraan keduanya. Namun, Ridwan tak mempermasalahkannya. Dia senang mendengarkan cewek itu berbicara.


Langkah keduanya terhenti. Ekspresi Rima berubah tak suka saat melihat di depannya. Sementara Ridwan tetap diam dengan wajah datar. Namun, tatapannya berkilat tajam.


.


.


.


.


a.n.


aku putuskan buat membagi chapter ini jadi dua bagian. untuk part kedua, di up besok, setelah ini. maaf baru bisa update. padahal rencana mau awal Juli (tepat tanggal 1), tapi yah.. karena ada satu dan lain hal jadi baru bisa up sekarang


so.... nggak percaya udah sejauh ini ya? kayaknya cerita ini bakal memasuki akhir. but i dunno. kalaupun udah tamat, insya Allah aku mau bikin special chapter (dari ide-ideku yang lain di draft yang belum ku masukkan ke main story)


atau


seperti tag di ceritanya, slice of life. jadi minim drama dan konflik. but i'll post it sporadically


let's see...


see you!