Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Side Story: Older



Older [superlative adjective]: no longer young


.


.


.


.


[baru minor editing]


.


.


.


.


Berada di keluarga sempurna tentu saja menjadi doa dan harapan semua orang. Namun, tidak semuanya mendapatkan kesempatan itu. Terkadang ketika kita merasa sudah sempurna dan lengkap, kita melupakan mereka yang kurang beruntung lalu menutup mata.


Ada juga yang berkata semua akan baik-baik saja dan menganggap luka yang mereka pendam akan sembuh seiring waktu.


Namun, kenyataannya, semua tak pernah benar baik-baik saja.


Dirinya adalah salah satu dari mereka yang kurang beruntung itu. Hidup tanpa figur ayah yang menjadi sosok pahlawan putra-putrinya menorehkan luka yang dalam. Ingatan manis tentang ayahnya hanya sebatas ingatan samar anak-anak kelas empat SD.


Selepas itu adalah mimpi buruk yang panjang.


Dia tinggal bersama ibunya. Bertiga dengan kakeknya di rumah milik kakek di daerah Bekasi. Ayahnya tidak pernah ada dalam lingkaran kecil mereka. Pria itu tidak pernah peduli, tetapi selalu menuntut hal yang tidak dia sukai ketika bertemu.


Lama-lama, dirinya mulai terbiasa.


Dulu, dia sering berharap semua akan baik-baik saja. Ayah dan ibunya akan selalu bersama dengan harmonis dan saling mencintai. Sejak dirinya mulai paham, dia sering mendengar suara ayah dan ibunya bersahutan dengan keras dari arah dapur rumah mereka dulu. Dan dirinya memilih mengurung diri di kamar ketika semua itu terjadi. Berusaha menulikan suara-suara yang mengerikan untuk seorang anak kecil berusia sembilan tahun.


Dia marah.


Sangat marah.


Namun, dia juga ingin menangis waktu itu.


Puncaknya adalah ketika dirinya awal-awal masuk SMP. Ayahnya mulai berani melakukan kekerasan fisik. Andai saja tidak ketahuan kakeknya, mungkin akan terus menerus seperti itu. Tidak ibu, tidak dirinya, semua menjadi sasaran kemarahan ayah. Setelah itu, ayahnya memutuskan pergi meninggalkan rumah tanpa pernah kembali.


Kenapa dia melakukannya? Apa salahnya? Apa karena dia tidak bisa memenuhi keinginannya? Apa dia selalu membangkang karena dia tidak suka dituntut banyak hal?


"...The older I get, the more that I see. My parents aren't heroes, they're just like me. And loving is hurt, it don't always work. You just try your best not to get hurt. I used to be mad, but now I know. Sometimes it's better to let someone go..."


Sialan!


Kenapa lagu yang diputar secara acak dalam aplikasi musik di ponselnya malah mengingatkannya pada masa lalunya yang menyedihkan?


Hal yang membuatnya menjadi dirinya yang dingin, kasar, dan pembuat masalah. Yang membuat jiwa pemberontaknya keluar setiap kali ada orang yang bersikap mirip ayahnya. Dan juga, hal yang menjadi salah satu faktor kenapa dirinya membenci senioritas dan kekuasaan.


Faktor lainnya adalah seniornya ketika dia masih SMA.


Namun, dirinya tidak bisa menyalahkan keadaan secara terus menerus. Semua sudah terjadi. Ayahnya sudah tidak mengganggu hidup ibu dan dirinya. Meski sekali dua kali dalam beberapa bulan, mau tidak mau, sengaja atau tidak sengaja, dirinya atau ibunya berpapasan dengan orang itu. Sejauh yang dia tahu, ketika dirinya bertemu ayahnya, pria itu tidak pernah berubah. Masih suka ikut campur urusannya dan menuntut macam-macam.


Ditambah lagi, ayahnya selalu membanding-bandingkannya dengan anak tirinya yang begitu sempurna. Pria itu selalu bilang kalau dirinya itu produk gagal yang tidak bisa diharapkan. Muak mendengarnya, dirinya sengaja membalasnya dengan ikut tawuran antarsekolah hanya untuk membuat pria itu semakin jengkel.


Karena bagaimanapun dia berusaha membuktikan diri, ayahnya tidak akan pernah peduli.


Bahkan ketika dulunya pernah jadi ketua tim basket SMA dan membawa sekolah mereka menang kejuaraan, pria itu sama sekali tidak pernah muncul untuk sekedar melihat anaknya.


Dan kini, sejak kelas tiga SMA, dia tidak peduli lagi ayahnya mau berbicara apa. Orang itu tidak memiliki peran penting, berbeda dengan ibu dan kakeknya. Anggap saja tak pernah ada. Jadi, dia mau fokus dengan apa yang dia sukai mulai sekarang.


Kalau dipikir lagi, bisa jadi, andai bukan karena alasannya dulu waktu mau mendaftar SMA, dirinya tidak akan bertemu teman-temannya yang sekarang ini.


Dia terkekeh pelan mengingat alasannya—yang menurutnya tidak sepenuhnya konyol—kalau dia ingin bersekolah di Jakarta saja agar tidak bertemu lagi dengan ayahnya. Namun, di sisi lain dia juga harus meninggalkan ibu dan kakeknya.


Beruntungnya, ada adik bungsu ibunya yang bekerja di Jakarta dan mau menjadi walinya selama bersekolah di sana. Ibu dan kakeknya juga tidak mempermasalahkannya, mereka pikir dirinya memang butuh suasana baru untuk membuatnya berdamai dengan keadaan. Setiap akhir pekan atau ketika libur sekolah, dirinya akan mengusahakan untuk pulang ke rumah.


Dan ya, hal itu cukup berhasil. Dirinya merasa lebih bisa menerima keadaan keluarganya yang tak sempurna. Dia juga bertemu dua orang yang bahkan menjadi sahabat dekatnya. Mereka berdua menerima dan berteman dengannya meskipun banyak hal yang ada dalam dirinya tidak membanggakan.


Pernah dulu, dia sedikit iri dengan salah satu sahabatnya, Kai. Meskipun keluarganya adalah salah satu konglomerat Indonesia, Kai dan keluarganya hidup sederhana dan bahagia. Ayah Kai yang merupakan pimpinan perusahaan besar selalu punya waktu untuk keluarganya, ibunya adalah ibu rumah tangga yang suka sekali memasak untuk keluarganya, dan tak lupa ketiga kakak Kai yang meski terpaut umur cukup jauh dengannya, mereka begitu hangat dan saling menyayangi.


Bahkan, keluarga Kai sangat terbuka ketika dirinya dan Neo berkunjung ke sana.


Ayah Neo mungkin bersikap keras, tetapi dia sangat sayang dan bangga pada putra sulungnya itu. Adiknya memang lebih percaya diri dan lebih unggul dari kakaknya, tetapi dia menghormati dan menyayangi Neo.


Dia selalu berangan-angan, andai dia punya saudara, mungkin dirinya tidak akan selalu merasa kesepian. Being an only child is suck, sometimes. Namun, mengingat keadaan keluarganya, dia bersyukur menjadi anak tunggal karena tidak perlu mengkhawatirkan adik atau kakaknya.


Lagipula, Kai dan Neo sudah lebih dari cukup. Mereka bersahabat layaknya saudara. Ditambah dengan Teo dan Ojan, semoga.


Sekarang ini, dia berada di lapangan yang ada tidak jauh dari asrama. Lapangan semen multifungsi milik masyarakat kompleks sekitar asrama yang memang untuk dipergunakan untuk umum.


Dia tengah mendinginkan kepalanya dengan bermain basket sambil menikmati musik melalui earphone. Basket adalah olahraga favoritnya dan mungkin satu-satunya yang membuatnya merasa menjadi orang yang lebih berguna.


Bola basket yang dia pakai adalah bola yang tertinggal di sana. Entah sengaja atau tidak. Dirinya juga tidak terpikirkan untuk kembali ke asrama untuk mengambil bolanya.


"Tak kusangka ternyata Guntur jadi seniorku di sini," gumamnya sambil berusaha memasukkan bola ke ring.


"Orang itu sepertinya nggak berubah."


Dia mengenal Guntur, senior yang tadi nyaris berkelahi dengannya. Yang membuatnya memutuskan untuk keluar karena tidak betah lagi. Guntur dulu merupakan salah satu siswa di SMA yang menjadi salah satu rival sekolahnya. Dia mengenalnya secara tidak sengaja ketika dirinya, yang waktu itu masih kelas sepuluh, tidak sengaja terlibat tawuran saat mau pulang ke rumah bibinya. Guntur menjadi salah satu siswa yang terlibat tawuran dari sekolah rival melawan sekolahnya. Awalnya dia mau melipir dan lanjut pulang saja, tetapi dia malah dihadang oleh Guntur karena mengira dia ikut terlibat. Dia bahkan menonjok wajah Guntur sampai berdarah karena membuatnya jengkel setengah mati.


Untungnya dirinya tidak terkena hukuman dari sekolah karena ketidaksengajaan dan upaya membela diri. Terlebih Kai dan Neo waktu itu membelanya, padahal mereka belum terlalu dekat. Entah dengan Guntur. Mengingat orang itu sudah kelas tiga kala itu.


Mungkin Guntur menyimpan dendam pribadi padanya. Mungkin juga karena beberapa waktu lalu, dia memang tidak menyapa senior yang bersisihan dengannya—yang kemungkinan besar itu Guntur karena dia tidak memperhatikan siapa.


Benar-benar merepotkan!


.


.


.


Setelah puas bermain basket sendirian dan merasa sudah sedikit lebih dingin pikirannya, dirinya memutuskan untuk mencari sarapan yang tertunda. Meskipun tadi pagi sudah makan roti dua lembar yang diolesi susu, menurutnya itu belum terbilang sarapan. Paling tidak dia harus makan nasi.


Ketika dirinya berjalan keluar lapangan, dia tidak memperhatikan sekeliling dan tak sengaja menabrak seseorang di trotoar luar lapangan. Membuat orang itu sedikit terhuyung dan dirinya harus merasakan sedikit nyeri di bahu kanannya.


"Woy, kalau jalan itu pakai mata!" orang itu berteriak marah.


"Maaf," dia berujar singkat kerena tak ingin memperpanjang masalah. Belum sempat dirinya melangkah lagi, tas yang dia gendong ditarik kencang dan membuatnya nyaris jatuh terjengkang.


Orang itu beralih menarik kerah depan kaosnya dengan kuat.


"Kau itu buta ya?" maki orang itu dengan penuh emosi. Lalu mata orang itu melihat tulisan yang ada di kaosnya. Apakah dirinya sudah bilang kalau dia tidak sempat berganti baju? Karena dia masih mengenakan kaos bertulis "Engineering Brotherhood" dan celana olahraga.


Raut wajah orang itu jadi mengkerut masam. Terlihat sangat tidak senang.


"Cih! Ternyata kau anak FT rupanya," ujarnya sengit, "Ba****** yang sok berkuasa. Sialan memang!"


Siapa sih orang ini? Tiba-tiba berucap sangat kasar dan menjelek-jelekkan fakultasnya. Dirinya paling tak suka kalau ada orang mencari masalah dengannya tanpa alasan jelas seperti ini.


"Kau maba FT 'kan? Bilang ke seniormu untuk nggak usah sok keras dan ngerasa superior!" lanjut cowok itu sambil mengeratkan cengkeramannya di keras kaosnya.


"Atau jangan-jangan kau sama aja kayak mereka?"


Dirinya mengepalkan kedua tangannya. Maunya apa sih orang ini? Membuatnya semakin kesal saja. Padahal niat awal dirinya tidak mau berurusan dengannya, tetapi orang ini justru minta ditonjok di wajahnya.


Heran!


"Lu kenapa sih? Ba*** banget!" dia berujar sinis, mulai terpancing emosi. Bahkan dirinya mulai menggunakan lu-gue dan kata-kata kasar.


"Mabok ya lu?!"


"Berani ya kau sama yang lebih senior!?!" orang itu semakin gelap mata.


Dirinya berhasil menghindari sebuah tinju yang melayang ke arahnya. Cukup sering berada di situasi seperti ini membuatnya lebih awas dan gesit. Orang itu sekali lagi berusaha memukulnya dan lagi-lagi berhasil dia hindari. Dirinya berniat membalas, tetapi ketika nyaris saja mereka adu pukul ketika tiba-tiba seseorang berteriak dan mencegah mereka.


"Woy, hentikan!"


Orang yang baru datang memisahkan mereka berdua. Seorang cowok berbadan kurus, tetapi tenaganya sangat kuat, menahan dirinya dan orang itu untuk tidak saling adu jotos.


"Oi, Berhenti! Udah!" seru cowok itu lagi ketika keduanya hendak melayangkan tinjunya lagi.


"Dek, tolong tenang ya. Jangan ladeni dia lagi," ujarnya pada juniornya. Kemudian, dia menoleh ke pria yang membuat masalah lebih dulu.


"Kowe mendhem? Lagakmu sempoyongan gitu," katanya. [Kau mabuk?]


Orang yang dimaksud menatap sedikit sayu. Posisi berdirinya pun tidak sempurna seperti orang pada umumnya.


"Gara-gara kalian, kami dipermalukan! Dasar ba******!" katanya dengan sangat kasar. Meski terlihat sayu, tatapannya tak kalah tajam dengan sorot penuh amarah. Sepertinya orang ini benar-benar mabuk. Walau begitu, dia masih cukup sadar dengan apa yang dia lakukan.


"Ridwan!" seru seseorang yang baru datang. Sebenarnya sejak tadi dia melihat semua yang terjadi, hanya saja tak tahu apa masalahnya. Bahkan dia mau menolong untuk memisahkan mereka tetapi keburu dilakukan oleh seniornya.


Seorang cewek berambut pendek dan masih mengenakan setelan hitam-hitam⸺yang merupakan dresscode TPK⸺menatap khawatir ke arah cowok yang tadi tiba-tiba di serang.


"Siapa dia, Mas Shodiq? Tadi kulihat tiba-tiba mau mukul Ridwan," cewek itu bertanya ke senior yang melerai.


"Anak FGK, kayaknya masih dendam sama kita pas kalah futsal bulan lalu. Dia tiba-tiba nyerang adik ini pas nggak sengaja nabrak," kata cowok bernama Shodiq itu.


"Dia sepertinya lagi mabuk. Jadinya gini."


"Kau tak apa-apa?" tanya cewek itu pada Ridwan dengan khawatir.


Ridwan hanya mengangguk singkat. Dia sangat mengenal cewek itu. Namun, dirinya sekarang merasa canggung dan tak tahu harus apa saat berhadapan dengannya. Sudah sangat lama dan ada begitu banyak yang perlu dijelaskan.


Singkat cerita, Shodiq membawa paksa pergi orang setengah sadar yang ternyata dari Fakultas Geografi dan Kependudukan itu ke kosnya yang kebetulan satu kosan dengan temannya. Rencana awalnya, dirinya mau mampir ke kos temannya untuk meminjam buku referensi. Namun di tengah jalan malah menjumpai kejadian seperti ini.


Orang itu sempat memberontak, tetapi tenaga Shodiq lebih kuat meskipun postur tubuhnya lebih kecil darinya, sebelum jatuh tak sadarkan diri. Shodiq menghela napas melihatnya dan berusaha memapah orang tak sadarkan diri itu. Membuat kedua orang lain yang niatnya hendak membantu, tetapi dibuat kagum dengan senior itu yang bisa dengan cukup mudah melakukannya sendiri.


Apa mungkin Shodiq itu seorang atlet angkat beban atau beladiri? Namun, postur tubuh cowok itu yang tak mungkin untuk seorang atlet angkat beban, jadi kemungkinan lain adalah atlet beladiri profesional. Atau memang cowok itu sangat kuat dan terbiasa mengangkat beban berat.


Senior tahun keempat itu juga sempat cerita sedikit soal turnamen futsal antarfakultas bulan lalu yang diselenggarakan oleh BEM universitas di mana FGK kalah telak dari FT. Dua fakultas itu walaupun tak jarang juga saling kerjasama, tetapi juga merupakan rival berat saat ada pertandingan antarfakultas. Dan FT sering sekali lebih unggul dan FGK tak terima akan hal itu.


Sebelum benar-benar pergi sambil memapah anak FGK yang tak sadarkan diri itu, Shodiq menatap Ridwan sejenak sebelum bertanya, "Oh bukannya hari ini Aqisol ya? Kenapa kau malah di sini?"


Shodiq tahu karena melihat kaos yang dikenakan Ridwan.


Ridwan tak menjawab. Antara bingung mau menjawab apa dan enggan mengatakan yang sebenarnya.


"Sesekali membolos itu juga perlu kok, haha!" gurau senior itu tanpa menunggu lama Ridwan menjawab.


"Jangan mengajari yang aneh-aneh, Mas Shodiq!" seru senior cewek yang sedari tadi diam.


"Hahaha...! Jangan terlalu spaneng," kata Shodiq sambil tertawa.


"Aku jadi ingat, dulu ada senior menjengkelkan yang membuatku malas ikut Aqisol. Tapi setelah kupikir-pikir, kenapa membiarkan satu senior sepertinya menghentikanku di tengah jalan? Justru dengan aku yang nggak mau datang karena senior dan acara yang merepotkan itu malah jadi bukti kalau aku nggak siap dan malah melarikan diri. Bukannya menghadapinya. Itu aku dulu, dan kuharap kau sebagai juniorku, lebih baik dariku."


Shodiq menepuk-nepuk pundak Ridwan sebelum berlalu pergi. Entah sadar atau tidak, ucapan senior itu begitu tepat sasaran. Membuat cowok itu terdiam di tempatnya.


Keadaan menjadi hening. Hanya tersisa Ridwan dan senior cewek itu. Suasana terasa canggung kemudian. Ada banyak pertanyaan yang ingin Ridwan tanyakan padanya. Begitupun sebaliknya.


"Kemana saja kau selama ini?" tanya Ridwan tiba-tiba. Dirinya sudah tak tahan dengan keheningan yang tidak nyaman ini.


"Kau menghilang tiba-tiba dan nggak bisa dihubungi lagi. Selama dua tahun!" lanjutnya dengan cukup sinis, "Lalu sekarang kau jadi seniorku di sini dan seorang TPK? Tak kusangka."


"Maaf," kata senior itu menyesal.


"Bukan tanpa alasan sebenernya," buru-buru dia menambahkan sebelum Ridwan membuka suara.


"Ponselku hilang dan aku lupa kata sandi emailku. Dan sepertinya semua akun yang ada di ponselku diblokir atau dihapus karena aku nggak bisa mengaksesnya lagi. Kejadiannya setelah kelulusan, kau bisa menanyakannya pada ibuku kalau kau tak percaya. Ngomong-ngomong, ibuku kangen padamu. Katanya kenapa kau nggak menghubungi kami lagi," ujarnya bercerita, "Aku membuat email baru dan juga berusaha menghubungimu lewat twitter sama instagram, tapi sepertinya kau mengganti nama akunmu karena aku nggak menemukan akun lamamu. Aku nyoba mencari nama akun yang sekiranya itu punyamu tapi nggak bisa. Aku sangat khawatir dan bingung harus apa lagi buat menghubungimu. Nomor ibumu yang pernah kau berikan juga nggak aktif."


Dia juga bercerita kalau setelah kelulusan, dia dan ibunya harus kembali ke kampung halaman di Jogja karena pekerjaan ibunya sudah selesai masa kontraknya di Jakarta. Bersamaan dengan itu, dia diterima di UHW jadi banyak yang harus dipersiapkan. Apalagi dengan adanya serangkaian inaugurasi yang harus dijalani. Tidak lama setelah itu, ibunya menikah lagi.


Membuatnya agak sedikit melupakan usaha pencariannya karena ada banyak hal yang harus difokuskan.


Ridwan cukup terkejut mendengar kabar kalau ibunya menikah lagi. Apalagi dengan seorang duda beranak dua, yang salah satu anaknya ternyata seumuran cewek ini.


"Kau mengenalnya kok. Ibuku menikah sama ayahnya Naufal, si ketua Isimaja FT."


Cowok itu lebih terkejut dengan siapa pria yang dinikahi ibunya.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Ridwan.


Mereka saling mengenal ketika mengikuti pekan olahraga SMA se-Jakarta. Di mana Ridwan yang saat itu masih kelas sepuluh ditunjuk menjadi bagian dari tim basket untuk mewakili sekolah. Sementara cewek di sebelahnya ini mewakili sekolahnya dalam karate. Sekolah mereka adalah rival⸺selain dengan sekolahnya Guntur.


Setelah tahu ternyata mereka mempunyai latar belakang yang hampir sama⸺di mana hanya ada ibu mereka sebagai orang tua yang tersisa⸺mereka berdua menjadi dekat. Bedanya, ayah cewek itu meninggal saat dia masih SMP. Namun, perasaan yang sama karena sama-sama anak tunggal membuat mereka mengerti satu sama lain. Kehidupan yang sulit dan berada di keluarga yang tidak lengkap.


Apalagi keduanya sama-sama punya wajah dingin yang sering kali membuat orang salah sangka.


Cewek itu tersenyum tipis. Raut wajahnya terlihat tenang.


"Melihat ibuku bahagia, aku juga bahagia. Dan nggak begitu buruk juga punya saudara."


Ridwan itu tersenyum tipis mendengarnya. Dirinya senang melihat cewek itu merasa lebih baik.


Cowok lalu bertanya bagaimana bisa dirinya menjadi anggota TPK. Bahkan jadi salah satu yang ditakuti maba. Seingatnya dulu, cewek itu begitu kalem, cukup pendiam, dan menjadi sie kedisiplinan bukan pilihannya karena merepotkan.


Dia terkekeh. Lalu berujar, "Kejadiannya nggak begitu menarik sebenernya, tapi cukup berkesan. Awalnya aku nggak mau ikut TPK. Pas maba aja aku sama sekali nggak bikin masalah jadi nggak kelihatan sama senior. Malah sengaja menghindarinya."


"Tapi pas penutupan Isimaja FT, membuatku sedikit tertarik soal TPK. Mereka nggak terlalu buruk. Dan sahabatku, Aylin, dia ditunjuk jadi calon ketua bahkan saat maba. Mau nggak mau dia harus ikut TPK dari awal buat tahu seluk-beluknya. Jadi aku mutusin daftar TPK di tahun keduaku karena mereka menarik, sekalian menemani Aylin di sana."


Ridwan baru tahu Aylin, si ketua TPK Isimaja, sudah ditunjuk menjadi ketua TPK berikutnya sejak maba. Dia jadi penasaran kenapa bisa begitu? Apa yang terjadi sehingga membuatnya ditunjuk.


"Dan begitu aku jadi bagian dari TPK, aku mendapat sudut pandang baru yang aku yakin para maba nggak menyadarinya," tambahnya.


Mereka lalu pergi ke sebuah kedai minuman di dekat asrama sekalian untuk melepas rindu karena sudah lama tidak bertemu. Keduanya saling bertukar cerita mereka masing-masing.


Sejujurnya Ridwan cukup terkejut saat bertemu dengannya di UHW. Apalagi pertemuan mereka seperti orang asing karena posisi mereka yang kontras dan kubu yang berbeda, junior dan senior. Di tambah cewek itu menjadi bagian dari TPK yang banyak dibenci maba. Lalu ada urusan mereka yang mengambang karena hilang kontak selama dua tahun.


Cowok jangkung itu awalnya kecewa dan sakit hati karena tiba-tiba hilang kontak tanpa ada kabar. Bahkan ucapan perpisahanpun tidak ada. Namun, Ridwan bukan tipe orang yang berlarut-larut dan membesar-besarkan masalah. Tidak, hidupnya sudah terlalu penuh drama untuk membuat drama baru. Dia punya prinsip, andai bertemu lagi, dirinya akan bertanya kejelasannya kenapa. Lalu dia akan melihat ke arah mana setelahnya.


Diam-diam Ridwan sangat mengharapkan bisa bertemu lagi dengannya. Senior berambut pendek itu adalah satu-satunya orang luar, selain Kai dan yang lain, yang sangat berharga dan dia percayai sepenuhnya. Dan sekarang, dia sangat lega bisa bertemu dan mendengar semuanya.


Ridwan juga berharap, mereka akan kembali baik-baik saja setelah ini. Apalagi setelah mendengar kalau cewek itu rindu padanya.


Itu artinya, rindunya selama ini berbalas.


"Kau membuatku sangat khawatir selama ini," ujar Ridwan pelan. Namun, bisa didengar senior di depannya.


"Aku pikir, semuanya udah berakhir dan kau melupakanku."


Cewek itu tersenyum lembut ke arahnya.


"No. Gimana bisa aku melupakanmu? Dan selama ini aku juga mengkhawatirkan keadaanmu. Syukurlah aku bertemu lagi denganmu di FT, walau agak kaget, tapi aku sangat senang."


Ridwan tersenyum mendengarnya. Raut wajahnya yang selalu dingin, kini terlihat menghangat. Tak ada yang berubah, malah mereka bisa lebih sering bertemu daripada waktu mereka masih SMA.


.


.


.


.


.


.


a. n.


you can try to hear the song, it's good >> sasha sloan - older