Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
The Hero



hero (noun): a person who is admired or idealized for courage, outstanding achievements, or noble qualities


.


.


.


.


.


"Dua puluh satu!"


"Dua puluh dua!"


"Dua puluh lima!


TM ketiga baru dimulai sekitar setengah hari ini, para maba sudah dihukum untuk melakukan push up lima seri oleh TPK.


Bukan tanpa alasan sebenarnya. Para maba yang menunggu di dalam aula besar tiba-tiba dikejutkan dengan barisan TPK yang masuk. Mereka mengadakan sidak untuk mengecek apakah ada maba yang melanggar aturan atau tidak. Jumlah TPK yang ada lima puluh orang termasuk Aylin, sang ketua, melakukan pengecekan di setiap gugus dengan masing-masing dua orang TPK.


Usut punya usut, ternyata ada salah satu maba yang ketahuan membawa pisau di tasnya saat inspeksi di depan gerbang utama selama open gate. Maba itu datang lima menit sebelum acara di mulai jadi dia kena inspeksi di depan gerbang oleh dua TPK yang berjaga. Kejadian ini hanya TPK, pemandu gugus yang bersangkutan, dan beberapa panitia termasuk Naufal yang tahu. Jadi, semua maba tidak tahu kenapa tiba-tiba ada sidak di hari-hari TM.


Alasan maba yang membawa pisau adalah pisau daging itu adalah milik ayahnya yang ketinggalan dan terbawa dirinya. Ayahnya adalah penjual daging di pasar dan katanya tadi pagi-pagi dia harus membantu orang tuanya bersiap ke pasar dan menata daging-daging yang akan dijual.


Tetap saja mencurigakan!


Jadinya, Aylin menandai maba tersebut dan mengawasinya sepanjang acara. Dia akan menginterogasinya langsung saat ishoma bersama Naufal sebagai ketua Isimaja FT dan beberapa TPK.


Untuk sementara, TPK membiarkan maba itu untuk mengikuti agenda hari ini sebelum dipanggil lagi untuk diinterogasi pas ishoma.


"Lima puluh!" teriak para maba.


Mereka sudah kehabisan napas dan lelah setelah selesai melakukan push up hukuman. Beberapa di antara mereka yang tidak kuat sudah tumbang dan mundur ke belakang ke para pemandu mereka atau personel Tim Medis yang sudah berjaga.


Aylin menatap tajam ke arah para maba yang masih terduduk lelah dan ngos-ngosan. Mood ketua TPK memburuk hari ini dengan laporan dari anggotanya mengenai maba yang membawa pisau daging di tasnya serta kenyataan karena ada lebih dari lima puluh maba dari 1500 maba yang tidak membawa dan memakai nametag mereka.


Memang nominalnya terlihat kecil, tetapi sekecil apapun itu artinya mereka melanggar aturan yang sudah mereka tahu.


Ekspresi judes Aylin dan auranya yang mengintimidasi membuat hampir semua maba FT ketakutan atau was-was.


"Sial," bisik Ojan yang duduk di belakang Kai. Cowok berkaca-mata yang juga sama-sama penakutnya seperti Neo menundukkan kepala dan mengintip ke arah Aylin yang berada di atas panggung dengan takut.


"Pagi-pagi udah lima set push up. Padahal belum jadwal latihan fisik," gerutunya lirih.


"Kak Aylin terlihat benar-benar marah," bisik Teo menimpali.


"Kira-kira apa ya sebabnya?"


"Nggak tau! Tapi dia terlihat lebih menakutkan. Lama-lama bakal keluar laser dari tatapan matanya itu," seloroh Ojan yang masih saja bisa membanyol meskipun dia ketakutan.


Sementara Kai, cowok yang menjadi idola baru karena kegantengan dan keberaniannya, terus memperhatikan Aylin. Melihat apa yang akan dilakukan senior cewek itu selanjutnya.


"Kalian tahu apa salah kalian?!" Aylin berseru dengan lantang. Dia benar-benar terlihat marah.


Semua maba yang sudah kembali duduk tegap bersila dengan kedua tangan bertumpu di kedua paha, hanya menunduk dan tidak menjawab.


"Saya tanya, APA KALIAN TAHU SALAH KALIAN?!"


"Tidak, Kak..." jawab para maba pelan.


Aylin turun dari panggung dan berdiri tepat di depan maba. Jaraknya bahkan cukup dekat dengan barisan gugus yang duduk di bagian tengah depan. Membuat mereka beringsut was-was. Lalu, cewek itu mengedarkan pandangannya dan berhenti di satu titik. Para maba yang merasa ditatap Aylin semakin was-was.


"Kau, yang berkemeja biru kotak-kotak dari Gugus Jayapura," Aylin menunjuk seseorang yang duduk di antara maba gugus sembilan belas. Membuat semua mata memandang ke arah maba yang ditunjuk oleh ketua TPK.


Bahkan ada yang berpikiran kalau nasib maba itu sudah tamat karena menjadi incaran ketua TPK yang terkenal galak dan judes.


Maba yang bersangkutan terlihat terkejut dan ketakutan karena dirinya ditunjuk oleh oang yang ditakutinya. Dia menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan.


"Iya, kau. Silakan berdiri!" kata Aylin dengan nada memerintah.


Dengan takut-takut, maba itu berdiri.


"Mana nametag-mu?" tanya Aylin dengan nada judesnya.


Maba cowok yang ditanya hanya menatap Aylin takut. Tidak berani menjawab. Dia meneguk ludahnya gugup. Kulit wajahnya yang sudah pucat, tambah pucat. Apalagi semua pasang mata tertuju padanya. Membuatnya semakin panik.


"Saya tanya, mana nametag-mu?" Aylin mulai agak kesal karena tidak dijawab.


"L-lu-lupa, K-kak..." cowok itu menjawab dengan gagap. Bahkan kedua tangannya juga ikut tremor. Saking takutnya berhadapan dengan ketua TPK FT.


"Kenapa bisa lupa?!" seru Aylin dengan nada marah.


Cowok itu terkejut dan buru-buru menundukkan kepalanya.


"Bukankah sudah dijelaskan dalam peraturan, setiap maba wajib mengenakan nametag selama inaugurasi?" Aylin menekankan kata wajib di dalamnya. Dia lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh maba yang menundukkan kepala seolah-olah sedang mengheningkan cipta.


"Peraturannya mudah 'kan? Panitia juga sudah memberikan nametag­, kalian tinggal memakainya. Bahkan, pemandu kalian juga menuliskan nama kalian! Saya juga sudah menyampaikan di hari pertama, tujuan nametag itu agar teman-teman kalian dan kakak-kakak kalian itu tahu siapa nama kalian."


"Kalian dipermudah di sini!"


Aylin kembali menatap maba yang masih berdiri menunduk kepala.


"Kau tidak membawa nametag-mu, jadi kau tidak mau teman dan kakak seniormu tahu namamu?" tanya Aylin dengan ketus.


"Bu... bukan seperti itu..." jawab maba yang bersangkutan dengan lirih.


"Atau karena teman-temanmu sudah tahu siapa dirimu?"


Cowok itu menggeleng pelan.


"Siapa pemandu yang bertanggung jawab di gugusnya?" tanya Aylin dengan meninggikan suaranya.


"Saya, Kak!" seorang pemandu cowok yang berdiri bersama beberapa pemandu lain di paling belakang barisan maba, mengangkat tangan kanannya. Pemandu yang mengenakan hand-badge berwarna hijau—yang merupakan warna identitas untuk Tim Pemandu FT tahun ini—dan sebuah pita berwarna merah juga melingkar diatasnya hand-badge di lengan kirinya, menandakan kalau dirinya adalah ketua pemandu gugus. Di mana dia yang bertanggung jawab soal perizinan, daftar presensi, dan yang akan dikontak langsung oleh tim lain terkait maba.


Dimas, nama pemandu itu, kini berlari kecil ke depan dari tempatnya. Sesampainya di depan Aylin, Dimas melapor, "Saya Dimas, pemandu gugus sembilan belas, Jayapura."


"Pemandu Dimas, saya tanya, kenapa bisa ada salah satu anak gugusmu lupa membawa nametag? Pemandu tentu tahu peraturannya bukan?" tanya Aylin dengan tegas. Dia juga tidak lupa melayangkan tatapan mengintimidasinya ke cowok berkacamata itu.


"Ya, kami tahu, Kak," jawab Dimas.


"Kau tahu sanksi bagi siapapun yang melanggar aturan bukan?" Aylin melipat tangannya di depan dada dan menatap ke arah Dimas dengan tatapan datar.


"Ya, kami tahu, Kak," jawab cowok itu.


"Bagus," Aylin tersenyum miring dengan kesan meremehkan dan kembali menatap ke arah semua maba.


"Sebagai sanksi karena kelalaian gugus sembilan belas Jayapura, hukuman kalian adalah melakukan push-up dua seri!"


"Siap, laksanakan!" seru Dimas seperti seorang prajurit.


"Pemandu Gugus Jayapura!" cowok itu lalu berseru memanggil rekan-rekannya yang lain. Kemudian, keempat rekan yang lain berlari kecil ke tempat Dimas berada.


Di depan semua maba, berdiri lima pemandu Gugus 19 Jayapura yang berbaris dalam satu barisan. Dua cowok: Dimas dan Widi, serta lima cewek: Haya, Santi, dan Pipit. Maba yang tadi kena marah Aylin, yang masih berdiri di tempatnya, menatap ke arah pemandunya dengan rasa bersalah dan cemas.


Tidak hanya dia saja, mayoritas maba gugus sembilan belas, terutama yang cewek, menatap ke arah pemandu mereka dengan khawatir.


"Push up tiga seri, apa kalian siap?" tanya Dimas dengan nada tegas.


"Siap!" dibalas rekan-rekannya yang lain. Kelima pemandu itu lalu bersiap-siap melakukan posisi push up.


"Saya Kayvan, 0057, dari Gugus Jayapura, izin berbicara!"


Giliran semua mata menatap ke arahnya. Bahkan Dimas dan kawan-kawan yang sebelumnya bersiap melakukan push up menoleh ke arah anak gugus mereka yang menyela tadi.


Aylin menatap Kayvan tidak senang. Namun, cewek itu mengizinkannya untuk berdiri dan berbicara.


"Pemandu Gugus Jayapura tidak bersalah, Kak," kata Kayvan dengan tegas.


Aylin mengangkat sebelah alisnya dan melipat tangannya di depan dada. Menunggu apa yang akan dikatakan cowok itu selanjutnya.


"Saya mengenal teman saya itu, Kak. Dia lupa membawa nametag­-nya karena buru-buru. Apa tidak ada toleransi hukuman untuk kelupaan satu kali? Kak Dimas dan yang lain juga sudah mengingatkan kami, Kak." kata Kayvan dengan lantang.


Perkataan Kayvan mengundang bisik-bisik maba yang lain dan beberapa panitia yang ada di aula besar. Kecuali TPK, tentu saja. Mereka tetap dengan ekspresi datar dan tatapan mengintimidasinya.


Aylin semakin menatap Kayvan tidak senang. Dia menyipitkan matanya dan berujar, "Oh, jadi, kalau begitu ketidakdisiplinan, kemalasan, dan acuh tak acuh juga manusiawi. Begitu maksudmu?"


Kayvan hanya terdiam, tetapi dia tetap menatap ke arah Aylin dengan berani. Nyali maba yang satu itu sepertinya sangat besar. Buktinya, sejak TM hari pertama dia sudah nekat menghadapi ketua TPK FT yang memang terkenal kejam.


"Pandai sekali mencari alasan," kata Aylin dengan nada menyindir.


"Kalau kau memang mengenalnya, beritahu teman-temanmu siapa namanya!"


Dengan tenang, Kai menjawab dengan suara dikeraskan, "Namanya Neo, Neo Andhita Murti. Asal dari Jakarta. Mengambil jurusan Teknik Industri."


Aylin mendecih.


"Kau beruntung karena dia adalah teman satu gugusmu," kata Aylin ke Kayvan sebelum dia berseru lantang ke seluruh maba.


"MABA YANG TIDAK MEMBAWA NAMETAG, SILAKAN MAJU KE DEPAN!"


Setidaknya ada lima puluh enam maba maju ke depan, termasuk Neo, dan berdiri dalam dua barisan. Aylin menyuruh Dimas dan rekan-rekannya untuk kembali ke tempat semula.


"Apa kau mengenal mereka?" tantang Aylin kepada Kayvan yang masih berdiri dengan nada judesnya yang biasa.


Kayvan terdiam sejenak sebelum menyebutkan satu-satu nama maba yang berbaris di depan. Dia juga menunjuk maba mana yang dia maksud namanya. Sementara, Seno dan Galang buru-buru membantu mengonfirmasi dengan menanyakan ke maba yang bersangkutan setelah Aylin mengisyaratkan mereka dengan matanya.


"Lingga."


"Yuni."


"Wildan."


"...."


Kayvan terdiam. Setidaknya dia sudah menyebutkan sekitar dua puluh nama termasuk Neo. Namun, dia terhenti karena cowok itu tidak tahu lagi nama mereka.


Kenapa Kai bisa tahu nama hampir separuh maba yang tidak membawa nametag? Beberapa di antara mereka satu asrama dengan Kai meski berbeda lantai, beberapa lagi dia kenal saat pendaftaran ulang, dan beberapa lagi dia kenal karena dia seorang Kai.


Kai itu orang yang supel dan ingatannya cukup kuat jadi meski baru kenalan dan bertemu sekali, setidaknya Kai tahu namanya meski sedikit lupa wajah orangnya. Namun, saat bertemu kembali, Kai akan ingat lagi wajah orangnya.


Sejak dua hari TM sebelumnya, Kai yang selalu berhadapan dengan ketua TPK, dia dikenal maba lain meski dirinya tidak mengenal mereka. Beberapa maba bahkan mengajak Kai berkenalan dan mengatakan kekaguman mereka soal keberanian Kai menghadapi ketua TPK.


Banyak maba yang rebel sebenarnya, tapi tidak ada yang seperti Kai yang sampai berhadapan langsung dengan Aylin. Kebanyakan dari mereka yang rebel akan membolos atau seperti yang barusan, ada yang sengaja tidak membawa nametag.


Sebuah keuntungan yang tidak terduga terpakai hari ini bukan? Sstt... jangan beritahu ketua TPK. Aylin tidak tahu soal hal ini.


"Kenapa diam?" tanya Aylin kemudian. "Kau tahu nama mereka lagi atau tidak?"


"Saya tidak tahu, Kak," jawab Kai dengan jujur.


Aylin lalu tersenyum meremehkan.


"Sekarang kalian tahu 'kan, pentingnya nametag itu?" pertanyaan retorik Aylin lontarkan ke seluruh maba.


"Satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal. Hal yang sering kali kalian remehkan bisa saja berujung masalah besar. Seperti sebuah nametag. Diibaratkan kalau kalian bekerja dalam sebuah perusahaan, kalian akan memiliki sebuah tanda pengenal yang wajib dipakai. Kolegamu akan memanggilmu dengan melihat tanda pengenal, atasanmu akan memanggilmu dengan melihat tanda pengenal."


"Tapi kalian bahkan lupa membawa nametag. Ini baru inaugurasi, belum di dunia kerja. Tidak masalah kalau atasanmu menolerir sikap manusiawi itu, tapi kalau tidak?" Aylin menekankan ucapannya di beberapa tempat.


"Apa kalian akan mencari-cari alasan agar terhindar dari masalah yang kalian ciptakan? Kalian itu calon insinyur. Ketelodaran kalian bisa berakibat fatal!" katanya lagi.


"Kalian mau dicap sebagai teknisi tidak becus karena satu kesalahan sepele?"


"Masa seperti itu harus dikasih tahu?!" serunya.


Semua maba menunduk, termasuk Kayvan yang masih berdiri di tempatnya. Entah apa yang dipikirkan cowok itu. Namun, kata-kata Aylin jelas menohok semua yang ada di aula.


"Dan untuk kalian!" Aylin mengarahkan pandangannya ke deretan maba yang tidak membawa nametag.


"Apa yang akan kalian lakukan karena tidak membawa nametag?" tanya Aylin dengan tegas.


"Kami siap menerima hukuman, Kak!" jawab mereka serempak. Mereka menampilkan berbagai macam ekspresi saat mengatakannya. Ada yang terlihat takut, cemas, bahkan yang berwajah datar pun ada.


"Hukuman saja tidak cukup!" bentak Aylin dengan keras. Bahkan beberapa maba dan panitia ikut terkejut mendengarnya.


"Apa yang bisa menjamin kalau kalian tidak melakukan kesalahan yang sama dua kali? Bahkan, pemandu kalian saja bisa kecolongan!"


"Pemandu kalian lho ini. Yang jelas-jelas dekat dengan kalian," sindirnya dengan sinis.


"Kami berjanji untuk memakai nametag dan mematuhi aturan, Kak!" kata mereka kompak.


Aylin hanya terdiam. Cewek itu mengamati satu persatu maba yang berbaris di depan dengan tajam. Beberapa ada yang berusaha menahan kegugupannya saat ditatap tajam oleh Aylin.


"Untuk hari ini, saya akan membiarkan kalian," tampak ekspresi lega di wajah mereka.


"Tapi," Aylin melanjutkan, "Kalau sampai kalian dan semua maba ketahuan tidak mengenakan nametag, tidak ada toleransi lagi untuk kalian. Hukuman akan dilipat gandakan dan pemandu kalian juga akan mendapat hukuman."


"DIMENGERTI?"


"MENGERTI, KAK!" semua maba menjawab dengan keras.


"Saya pegang kata-kata kalian."


Setelah berkata seperti itu, Aylin melangkah keluar aula besar diikuti dengan personil TPK lainnya.


Setelah semua personil tim berpakaian serba hitam itu keluar aula besar, para maba mulai saling berbicara dengan teman-temannya. Seolah-olah melepaskan diri dari suasana tegang barusan.


Seno selaku ketua Tim Acara menyuruh maba-maba yang masih berbaris di depan untuk kembali ke gugus masing-masing. Cowok itu juga menyuruh Kai untuk duduk di tempatnya.


Acara berlanjut dengan religious input yang tertunda sepuluh menit karena sidak yang berujung dengan adegan Kai yang bersikap heroik seperti TM sebelum-sebelumnya. Dalam satu gugus akan di dampingi dua perwakilan, cewek dan cowok, dari SKI. Satu gugus akan dibagi dua, dipisah antara kelompok cewek dan cowok, lalu satu perwakilan akan mendampingi mereka untuk agenda religious input. Karena FT didominasi kaum adam, jadinya kelompok cewek terdiri dari dua gugus yang dijadikan satu.


Sementara untuk agama lain, maba akan dipanggil dan dikelompokkan sesuai agamanya untuk mendapatkan religious input dari perwakilan yang bertugas.


Religious input adalah agenda wajib yang harus dilaksanakan setiap fakultas selama agenda inaugurasi sesuai dengan penggalan bunyi slogan Universitas Hayam Wuruk, yaitu takwa. Selain itu juga untuk mewujudkan salah satu visi dan misi UHW yang bertujuan untuk mewujudkan generasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama yang dianut dalam kesehariannya.


Setelah agenda itu selesai, acara dilanjutkan dengan pengenalan HIMA dan Ormawa yang ada di Fakultas Teknik UHW. Sesekali diselingi dengan yel-yel atau jargon FT yang dipandu oleh duo MC tercinta, Seno dan Galang.


.


.


.


.


.


.


.