![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
closure (n): an act or process of closing something, especially an institution, thoroughfare, or frontier, or of being closed.
.
.
.
[baru minor editing]
.
.
.
Sorakan dan teriakan penonton, yang tentu mayoritasnya adalah para maba, menyambut selesainya penampilan kejutan dari para TPK. Benar-benar kejutan yang tak diduga tetapi berhasil membuat semua maba yang ada di aula tersihir dengan penampilan mereka.
Terutama Frans sang vokalis.
Dan juga Aylin—yang paling tidak disangka—yang ternyata jago juga dalam memainkan drum.
Banyak yang meminta mereka memainkan satu lagu lagi. Sayangnya, sang vokalis hanya tersenyum tipis dan berkata kalau setelah mereka adalah bintang tamu sesungguhnya yang akan tampil. Mereka sudah menunggu giliran di belakang panggung.
Bukannya tambah kecewa—meski ada juga yang menunjukkan kekecewaan mereka—mayoritas maba malah tambah menjerit histeris ketika melihat senyum tipis dari cowok ganteng idola mereka.
Siapa sih yang tidak akan histeris? Selama ini mereka selalu disuguhi ekspresi dingin, datar, dan mengintimidasi. Sama sekali tidak bersahabat. Lalu barusan saja Frans tersenyum kecil dan raut wajahnya terlihat lebih ramah.
Meski masih ada kesan dinginnya.
Ya jelas membuat para fans menjadi heboh.
Kayvan hanya geleng-geleng kepala melihatnya. Efek dari seniornya itu ternyata dahsyat juga ya. Padahal Frans hanya tersenyum tipis. Sebelumnya saja, sewaktu masih dalam mode TPK, sudah banyak yang diam-diam kagum meski takut-takut.
Bagaimana kalau senyum lebar, bahkan tertawa?
Kai tak paham dengan cara kerja pikiran mereka.
Ketika Kai kembali fokus ke depan, cowok itu tak sengaja melihat sosok Aylin berjalan cepat keluar aula. Cewek itu keluar melalui pintu sebelah timur yang memang dibuka untuk akses keluar masuk panitia.
Mau ke mana dia?
Kai menjulurkan kepalanya untuk melihatnya lebih jelas di antara para maba yang kini bersorak menyambut bintang tamunya.
Entah siapa, Kai tidak mendengar namanya disebut.
Fokusnya sudah tertuju kepada sang ketua TPK yang berjalan menjauhi kerumunan.
Sayangnya, sosok Aylin sudah menghilang di antara lalu lalang panitia di pintu sebelah timur. Kai tak melihat cewek itu pergi kea rah mana.
Tanpa pikir panjang, entah sadar atau tidak dengan yang dia lakukan, cowok itu menjauh dari kerumunan. Mengikuti ke mana seniornya pergi. Dia tak mendengar saat teman-temannya memanggil namanya.
Dia juga tidak peduli saat bintang tamu yang sekarang memulai penampilan mereka.
Yang ada dipikirannya saat ini adalah untuk mencari ke mana Aylin pergi.
"Kak Aylin pergi ke mana?"
Cowok itu berhasil menyelinap dan melewati beberapa panitia yang berdiri di dekat pintu masuk sebelah timur.
Ketika sudah sampai di luar aula yang terlihat cukup sepi, Kai bingung harus ke mana. Dia tidak tahu ke arah mana Aylin pergi.
Apa ke utara? Atau ke selatan?
Tidak mungkin kan keluar area kampus?
Ditengah kebingungannya mau ke arah mana, Kai tak sengaja melihat seorang panitia tengah berjalan menuju aula dari arah utara.
Panitia itu ternyata juga melihat Kayvan yang berdiri sendirian di luar aula. Terlihat celingak-celinguk kebingungan.
"Kok nggak masuk dek? Acaranya belum selesai lho..." tanya panitia itu.
"Eh, itu..."
Buru-buru Kai memutar otak. Mencari jawaban yang pas.
"Tadi saya emang keluar bentar Kak, nyari angin. Agak sumpek lama-lama di dalam. Terus nggak sengaja lihat Kak Aylin keluar," jawab Kai beralibi.
"Mau mengembalikan barang yang jatuh tadi," Kai mengeluarkan kalung berbandul lencana gir dari dalam saku. Memperlihatkannya ke panitia tersebut.
"Takut Kak Aylin nyariin," tambahnya.
Panitia itu sepertinya ingin berkata sesuatu, tetapi keburu terpotong dengan suara HT yang berbunyi. Menanyakan keberadaannya.
Setelah berkutat sejenak untuk berkomunikasi dengan seseorang lewat HT yang dia pegang, panitia itu akhirnya kembali menoleh ke Kayvan.
"Oalah... tadi dia ke arah lapangan," ucapnya sambil menunjuk ke arah utara, "Cari aja ke sana. Kalau udah selesai, langsung balik lagi ke aula ya?"
Kayvan tersenyum penuh terima kasih dan mengangguk. Panitia itu permisi lalu segera masuk ke aula. Terlihat buru-buru.
Kemudian, Kayvan melanjutkan jalannya menuju lapangan. Dia mengecek jam yang ada ditangannya, pukul lima sore lebih. Langit sudah berubah menjadi jingga di atas sana.
Di sekitar lapangan benar-benar sepi. Tidak ada panitia yang berlalu lalang. Hanya ada satpam yang berjaga. Itupun letaknya jauh di pos satpam dekat gerbang utama.
Kayvan mulai mencari-cari keberadaan Aylin di lapangan. Sampai matanya menemukan cewek itu tengah berdiri tak jauh darinya.
Berdiri menghadap utara dan menatap langit. Kedua tangannya dia masukkan ke saku blazer korsanya.
Kai tersenyum melihatnya. Tanpa suara, dia berjalan mendekat. Kedua matanya terus mengarah ke wajah sang ketua TPK yang kini tak ada topeng yang selalu dia gunakan saat menjadi TPK.
Tidak ada.
Namun, Kai mengerutkan keningnya ketika menyadari ada bening-bening samar mengalir turun melewati pipinya.
Apa dia menangis?
.
.
.
Rasanya begitu luar biasa lega. Aylin tidak bisa menggambarkan kelegaan yang dia rasakan saat ini.
Dibalik itu, dia juga merasa overwhelm. Begitu penuh dan berlebihan. Sampai-sampai dia merasa sesak dan harus segera keluar dari aula begitu penampilan mereka selesai.
Hari ini rasanya seperti roller-coster. Serba cepat dan memacu adrenalin. Namun, juga mengaduk-aduk emosi.
Takut.
Gugup.
Lega.
Senang.
Dan juga ada rasa kesedihan di sana.
Bercampur aduk jadi satu. Membuatnya penuh sesak.
Gugup dan takut ketika melihat banyaknya pasang mata tertuju padanya saat melakukan sesuatu yang sangat jarang, dan hampir tidak pernah, dirinya lakukan. Takut semuanya gagal dan malah mengecewakan.
Senang karena dia akhirnya bisa menikmati suasana yang ada di dalam sana. Melebur menjadi satu saat menampilkan hasil latihannya berbulan-bulan. Menikmati setiap irama lagu yang dimainkan. Dia senang ketika semua yang ada di aula tadi terlihat menikmati pertunjukannya.
Lega karena dia berhasil melakukannya. Melawan ketakutannya. Dia lega karena penampilan tadi terhitung sukses. Dia lega karena mulai saat ini, dia bisa melepas topeng yang dia gunakan, for good. Beban di pundaknya seketika hilang.
Di sisi lain, dia juga sedih. Sedih karena hari ini akan berakhir. Segala sesuatu yang terjadi mulai dari persiapan sampai detik ini akan berlalu. Hanya akan menjadi sebuah kenangan.
Aylin akan rindu hari-hari seperti itu.
Tanpa sadar, pipinya basah. Aylin membiarkannya. Dia ingin melepaskan semua emosi yang dia tahan dan pendam selama ini. Apalagi ditambah tadi, melihat usaha para juniornya membuatnya terharu.
Berhasil melakukannya. Konsep tahun ini memang dibuat sederhana tetapi ambigu juga karena petunjuk yang diberikan minim. Ditambah waktu yang diberikan lebih singkat dari tahun-tahun sebelumnya.
Pada akhirnya, para juniornya itu berhasil melakukannya.
"Kak Aylin..."
Aylin terkejut dan buru-buru menghapus air matanya. Dia menoleh dan kaget—Aylin berusaha menutupi keterkejutannya—melihat junior yang sangat dikenalinya berdiri tak jauh darinya.
"Kau?"
"Ngapain ke sini? Bukannya acara belum selesai?" tanya Aylin masih dengan nada ketus.
Kayvan malah tersenyum mendengar nada bicara Aylin padanya. Benar-benar aneh!
"Saya memang ingin menemui Kak Aylin."
Jawaban tak terduga membuat Aylin sedikit gelagapan. Dia berusaha menguasai dirinya kembali.
Cewek itu menatap Kayvan heran. Dia menunjukkan dirinya sendiri lalu berkata, "Aku?" untuk memastikan kalau pendengaran tidak salah.
Kai mengangguk. Lalu kembali tersenyum. Cowok itu sepertinya hobi sekali senyum kalau Aylin lihat-lihat. Apa tidak lelah?
Aneh.
"Buat apa?" tanya Aylin lagi.
Cewek itu melihat juniornya mengambil sesuatu dari dalam saku wearpack yang dikenakannya. Ah, Aylin jadi sedikit nostalgia. Dulu pas maba dia juga pernah memakai dresscode seperti itu.
Kai mengeluarkan sesuatu. Sebuah kalung. Aylin mengernyitkan dahi, heran.
"Ini tadi lencana yang dipegang Kakak," kata Kai sambil menunjukkan kalung berbandul lencana.
Oh, ada di tangannya toh sekarang. Baguslah, Aylin tak perlu panik mencarinya takut ada maba yang tidak dapat.
Aylin tadi sempat panik mencari kalung berbandul lencana itu di belakang panggung. Posisinya sebentar lagi akan tampil. Pada akhirnya, Megan bilang agar dia tidak usah memikirkan itu dulu. Nanti pasti ditemukan panitia lain, atau kalau tidak Megan akan bantu mencari setelah selesai tampil.
Namun, di antara seribuan maba, kenapa harus Kayvan yang menemukannya?!
"Tadi Mbak Santi yang menemukannya lalu diberikan pada saya," cerita Kai.
"Lalu kenapa sekarang nggak kau pakai?" tanya Aylin heran.
Kai tersenyum tiga jari ke arahnya, memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Membuat Aylin mengangkat sebelah alis heran.
"Saya mau Kak Aylin yang memasangkannya."
"Hah?!"
Apa dia ini tidak waras?
"Kenapa nggak minta senior lain?" tanya Aylin. "Katamu tadi diberikan Santi 'kan? Kenapa nggak minta dia aja?"
Sebenarnya, Aylin tidak masalah kalau memasangkan lencana ke maba, tadi saja dia berniat begitu sebelum tampil. Namun, ini Kayvan lho?
Orang yang paling tidak dia sangka.
"Saya maunya Kak Aylin yang memasangkan," jawab Kai. "Jadi, maukah Kak Aylin memasangkannya?"
Aylin menghela napas, terlihat keberatan. Namun, dia juga tak punya pilihan lain karena di tradisi FT saat Gear Ceremony, senior yang memberikan atau memasangkannya ke maba. Kalau ada maba yang datang kepada mereka, maka senior diharapkan menerimanya dengan sepenuh hati.
"Ke sini," lalu Kayvan berjalan mendekat sampai berdiri tepat di hadapannya.
Aylin lalu mengambil kalung yang disodorkan Kayvan. Dia melepas rantainya lalu memasangkan lencananya ke junior yang ada di depannya.
"Tolong jaga kunci-nya dengan baik," kata Aylin kemudian setelah hening beberapa saat.
"Pasti, saya akan menjaganya dengan sepenuh hati," jawab Kai tanpa ragu.
"Sudah selesai."
"Terima kasih."
"Kak Aylin tadi sangat keren saat main drum," pujinya tiba-tiba. "Saya nggak menyangka kalau Kak Aylin ternyata bisa main drum."
"Aku ini terpaksa, oke?!" balas Aylin dengan sewot. Dia lalu menggerutu pelan dengan pipi memerah samar. Entah karena marah atau malu.
Kai yang melihatnya hanya tersenyum. Dia suka melihat ekspresi lain muncul di wajah seniornya ini. Pancaran matanya mengerling jenaka.
"Tapi kakak tadi benar-benar terlihat jago."
"Tsk!"
"Sudahlah," kata Aylin kemudian. "Lebih baik kau segera kembali ke aula. Acara sebentar lagi selesai, kau akan ketinggalan pembagian hadiahnya juga."
Aylin lalu berbalik, berniat pergi dari sana setelah berkata seperti itu. Namun, Kai tak membiarkan hal itu terjadi begitu saja.
"Kak Aylin!"
Sang ketua membalikkan badannya. Menatap juniornya dengan raut wajah agak masam.
"Apa lagi sih?" tanya Aylin seperti sudah lelah meladeninya.
"Kalau kakak mau menangis, lain kali tolong beritahu saya. Biar saya yang akan menghapus air mata kakak."
"Kayvan!" seru Aylin dengan mata melotot tajam. Sementara tersangka utamanya hanya tersenyum melihat reaksi sang ketua Isimaja FT di depannya.
Maba ini benar-benar sudah sinting!
.
.
.
Menjelang maghrib, semua maba sudah dipulangkan. Walau lelah dan agak payah, mereka pulang dengan perasaan puas dan lega.
Hari ini benar-benar berkesan.
"Capek banget sih gila," keluh Ojan saat kelima sekawan tengah berjalan menuju asrama.
"Tapi seru," Teo menyahut. "Puas banget rasanya."
"Kalau aku sih lega ospeknya udah selesai," kata Neo. "Bisa istirahat, nggak perlu siap subuh-subuh ke kampus. Hah....!"
"Tapi kita masih ada sikrab atau makrab jurusan, ngomong-ngomong," Teo mengingatkan. "Terus kalau ikut UKM atau ormawa, pasti ada sikrab atau makrabnya juga."
"Duh! Itu wajib ya?" tanya Neo.
"Katanya sih wajib. Soalnya ini acara jurusan, tapi tergantung jurusan masing-masing," jawab Teo dengan kalem.
"TI adanya sikrab sih, jadi nggak nginep. Dan setauku acara gitu-gitu itu kayak buat seneng-seneng kok," Ojan memberitahu.
"Kita Otomotif adanya makrab ya Wan?" tanya Teo ke Ridwan.
Cowok jangkung itu mengangguk. "Iya, makrab."
"Beda-beda ya?" tanya Neo. "Kai, kira-kira tekdus makrab atau sikrab?"
Kai mengangkat kedua bahunya, tanda kurang tahu. "Entah. Tahun lalu makrab, tapi tahun sebelumnya sikrab. Mungkin tahun ini sikrab juga."
"Semoga sikrab..." Neo bergumam.
"Mood-mu kayaknya lagi bagus Kai," celetuk Ojan beberapa saat kemudian. Dia penasaran karena sejak kembali lagi ke aula entah dari mana, Kau terlihat lebih cerah.
"Eh iya!" seloroh Neo tiba-tiba. "Kau tadi kemana hayo? Datang-datang pas bintang tamunya udah selesai tampil."
Kai hanya tersenyum misterius, terlihat tidak berniat memberitahu.
"Jangan sok misterius lu!" kata Neo dengan jengkel.
"Nyari angin. Terus ketemu seseorang," jawab Kai dengan ambigu. Pikirannya kembali ke pertemuannya dengan sang ketua TPK tadi di lapangan.
Ridwan yang hanya diam mendengarkan, membulatkan matanya kemudian. Sepertinya dia agak paham maksud sohibnya ini.
"Oh... berhasil ketemu Kai?" tanya Ridwan.
Kai mengerling ke arah Ridwan. "Tentu saja."
"Kalian kenapa sih?" tanya Ojan penasaran. "Sumpah, aku nggak mudheng omongan kalian."
"Tau tuh!" sahut Neo. Sementara Teo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat interaksi absurd keempatnya.
"Nanti juga tahu sendiri," kata Teo akhirnya. Dia sendiripun tidak paham maksud Kai dan Ridwan tadi. Namun, saat ini dia sedang tidak mood untuk mengorek lebih jauh.
Kelimanya lalu membahas perihal penampilan kejutan dari TPK yang menggegerkan seangkatan. Mulai dari Frans yang suaranya merdu sampai Aylin, sang ketua TPK, yang ternyata jago juga main drum.
Ngomong-ngomong soal hadiah apresiasi, gugus mereka memenangkan juara kategori gugus terkompak saat yel-yel di jelajah kampus kemarin. Hadiah yang diberikan berupa makanan yang sudah dibagi-bagi untuk satu gugus sebelum pulang tadi.
Sepanjang perjalanan, Neo dan Ojan kembali berdebat entah soal apa. Kayaknya soal gim yang akhir-akhir ini mereka mainkan.
Teo dan Ridwan mengobrol santai di belakang mereka. Masih seputar Isimaja dan menerka-nerka seperti apa saat kuliah di jurusan Teknik Otomotif nanti. Sementara Kayvan yang berjalan di samping mereka memilih diam.
Senyuman masih terlukis di wajahnya yang tampan. Pikirannya kembali mengingat kejadian tadi.
Ah, dia jadi tak sabar buat hari esok!
.
.
.
Sementara itu...
"Selamat ya buat kalian semua!" seorang senior berseru mengapresiasi sambil bertepuk tangan. Diikuti senior lain yang datang hari ini.
Suasana aula masih ramai dengan para panitia. Ada yang beres-beres, istirahat, bahkan ada yang akustikan untuk menghidupkan suasana—Enggar yang menginisiasi dengan mengajak Frans dan Galang.
Semua berseru senang dan lega mendengarnya. Ikut bertepuk tangan.
Tamu hari ini juga mengapresiasi penampilan kejutan dari TPK tahun ini. Tidak menyangka kalau mereka jago ngeband. Bahkan ada yang menyeletuk untuk sekalian membentuk band saja.
Beberapa senior tahun ketiga—yang semester depan akan memasuki tahun keempat—memang menyempatkan datang di acara penutupan.
Termasuk Zul dan Teguh. Dua mantan ketua TPK FT itu bahkan sampai menyamar menjadi panitia saat Gear Ceremony tadi.
Kalau kalian ingat dua orang asing yang berdiri di belakang Aylin seperti bodyguard, nah itulah mereka.
Naufal yang mengajak mereka untuk ikut masuk sebagai pengamat. Keduanya pun memutuskan untuk menyamar sebagai panitia. Dipinjami korsa dua orang perkab yang tidak ikut di lapangan karena ada jobdesk di aula untuk persiapan—keduanya PJ soalnya.
Keduanya, Zul dan Teguh, tak lupa menemui Aylin dan mengucapkan selamat, terima kasih, dan segala bentuk apresiasi mereka. Mereka merasa bangga dengan progres dan proses Aylin sebagai ketua TPK.
Selain mantan ketua TPK dan beberapa mantan panitia lain, ada juga ketua Isimaja FT tahun lalu, Alif. Sayangnya, ketua Isimaja angkatannya Teguh tidak bisa hadir karena ada acara.
"Ngomong-ngomong, aku kayaknya melihat potensi bagus dari salah satu maba tahun ini buat jadi ketua ospek," Alif berujar.
"Siapa Lif?" tanya Teguh yang berdiri di sebelahnya.
"Yang tadi bilang kalau Alin kuncinya. Siapa ya namanya?"
"Oh, maksdumu Kayvan?" tanya Zul memastikan.
"Hooh, itu," Alif mengiyakan, "Dia punya potensi. Bakal cocok jadi ketua ospek berikutnya."
Zul manggut-manggut, lalu berujar, "Duain. Pas tak lihat tadi di lapangan emang punya potensi dia. Sama seperti Frans, tapi beda."
"Kita lihat saja nanti," Teguh bersuara. "Anak itu emang punya kharisma sama potensi. Sama seperti pas dulu aku melihat Alin."
"Kalau dia beneran jadi ketua ospek FT, sepertinya bakal ada sesuatu yang menarik yang bakal terjadi," tambahnya.
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
oke, step one from kayvan wkwk
It's not closure, it's just the beginning of all
maaf lama, rencana mau kemarin tapi ya gitu...
see you next chap!