![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
[short chapter about Ridwan, based on OOR song 'Hard to Love']
.
.
.
[2] Hard to Love
.
...When I was just a kid, I couldn't wait till I grew up...
...Tried walking in your shoes, but couldn't even tie them up...
...No matter how big and tall I grew, I was always looking up to you...
.
Dua tahun lalu, dirinya tidak berani membayangkan masa depannya yang seperti ini. Bahkan mungkin dia akan menepis jauh-jauh kalau sampai terbesit di pikirannya.
Namun, sekarang dia merasa mungkin tidak ada salahnya membayangkan semoga, di masa depan, seterusnya akan serupa seperti ini.
Kalau saja dia tidak punya orang itu dari awal, entah seperti apa dirinya di masa depan. Yang jelas akan jauh berbeda dengan yang sekarang.
Saat ini saja, dia masih merasa seperti mimpi.
Berdiri di tengah teman-temannya sambil menatap ke depan, menonton penampilan salah satu seniornya yang bernyanyi di panggung.
Teman-teman...
...dan senior.
Dua kata yang mungkin bagi seorang Ridwan dua tahun lalu akan dianggapnya sebagai lelucon omong kosong.
Waktu cepat sekali berlalu. Dirinya yang masa bodoh kemana arus akan membawanya, kini justru membuatnya bertemu dengan hal-hal yang dulu dia anggap tidak mungkin.
Sampai sejauh ini... dan Ridwan ingat betul tanpa orang itu, mungkin sampai sekarang dia tetap menjadi orang yang getir.
Tidak banyak orang yang tahu kalau Ridwan adalah orang yang begitu menyayangi ibunya. Orang tua tunggal yang membesarkannya selepas keluarganya hancur saat dia masih kecil.
Orang yang menjadi idolanya.
Orang yang membuatnya ingin jadi kuat sepertinya. Mungkin lebih kuat agar dia bisa melindungi orang yang berharga baginya.
Agar jangan ada lagi Ridwan kecil yang kedua dan seterusnya.
Ridwan sampai tak habis pikir, bagaimana ibunya masih tetap bertahan untuknya? Dia bukan anak yang baik. Selalu membuat masalah dan terlibat masalah.
Rebel.
Troublemaker.
Bukan tipe anak kebanggaan yang bakal disayang-sayang orang lain.
Namun, ibunya berbeda. Dia tidak peduli orang-orang mengatai kalau anaknya susah diatur, tidak bisa diharapkan, anak nakal, dan segala jenis julukan jelek menempel pada Ridwan.
Bahkan ketika dia nyaris dikeluarkan dari sekolah karena terlibat masalah, ibunya tidak pernah menyerah padanya.
Wanita itu membuat semuanya terlihat mudah. Namun, kenyataannya tidak sesederhana itu. Aslinya seperti benang kusut.
Ruwet.
.
......You showed me that I was just a diamond in the rough,...
...You helped me to grow into the man that I've become......
.
Bukan, dirinya bukan siapa-siapa.
Hanya anak nakal pembuat masalah yang membuat banyak orang akan setuju kalau dirinya tidak bisa diharapkan.
Bahkan dia dulu membenarkan kata-kata ayahnya kalau dia itu tidak berguna.
Tidak punya masa depan.
Sekali lagi, ibunya lebih memilih berbeda.
"Tiap anak itu istimewa. Mereka melihat dunia ini yang kita orang dewasa belum tentu bisa melihatnya. Dan aku percaya, anakku salah satu permata yang suatu hari bisa mengubah dunia."
Dia pernah mendengar ibunya berkata demikian saat membalas perkataan orang-orang yang menyayangkan kenapa dirinya punya anak nakal dan susah diatur.
Bahkan ketika ayahnya yang lebih memilih keluarga barunya, anak barunya yang lebih berbakat, ibunya tetap membelanya. Percaya kalau dirinya itu istimewa.
"Nak, aku sayang kamu. Kalau kamu takut, datanglah padaku. Jadi kalau kamu terjatuh, gagal. Jangan khawatir, aku selalu ada untukmu."
Lalu kata-kata itu selalu terngiang di kepalanya. Kata-kata yang mengubahnya mulai sejak saat itu.
Membuat hatinya yang semula mati kembali hidup. Dan untuk pertama kalinya sejak entah kapan, dia menangis di pelukan ibunya kala itu.
Dia perlahan mulai percaya.
.
...I hope I've made you proud enough...
...You make it look easy even when I'm hard to love...
.
"Bu, apa kau bangga padaku? Sekarang aku punya teman. Tidak banyak, tapi aku percaya pada mereka. Aku jadi ketua tim basket dan membawa pulang piala. Lalu aku udah jadi mahasiswa di univ yang kuimpikan sejak dulu. Ternyata tidak semua senior itu buruk. Aku kenal, bahkan berteman sama beberapa dari mereka. Apa aku udah membuatmu bangga? Aku harap begitu."
Sepulang dari menonton konser ini, dia akan menelepon ibunya. Tiba-tiba dia merasa kangen. Lalu bagaimana dengan kabar kakeknya juga.
"Gaes, habis ini makan yok!" ujakan Ojan membuyarkan lamunannya.
"Gas!" Neo menimpali dengan semangat. Sementara Kai dan Teo mengangguk setuju.
Ah, dia masih di sini bersama mereka. Senyum samar terukir di bibirnya saat dia melihat interaksi teman-temannya.
"Wan, ikut kan?" tanya Ojan padanya.
Dia lalu mengangguk.
.
.
.
.
a.n.
maaf ya kalo agak sedih. Tapi pertama kali denger lagunya, seketika langsung kepikiran "aku harus nulis ceritanya" dan akhirnya ini, cerita pendek dari sudut pandang seorang Ridwan Yudhatama :'D
ada yang bisa nebak siapa senior yg nyanyi di cerita ini?
yap betul! Frans ✨
awalnya mau kutulis dg pov Aylin (rencana awal itu kubuat Aylin mempersembahkan lagu buat ayahnya), tapi setelah dengerin sambil meresapi liriknya, lagu ini lebih cocok buat Ridwan. Jadi begini hasilnya
i hope u like it
see u
(6822)