Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Stay: You're not Alone



stay (v): remain in the same place


.


.


[minor editing | maaf atas keterlambatannya]


.


.


"Ayah, lihat! Aku sekarang bisa masukin bolanya ke dalam ring!"


"Wah... hebat ya anak ayah! Suatu saat kau pasti bisa jadi atlet basket. Nanti ayah yang jadi suporter nomor satu pas Ridwan tanding."


"Hehehe!"


.


"Nah, sekarang kau nggak akan telat lagi ke sekolah. Dirawat ya sepedanya?"


"Uhm! Makasih ayah!"


"Sama-sama, jagoan ayah."


.


"Ayah baru pulang? Kenapa larut sekali? Ibu sejak tadi nungguin ayah."


"Kenapa kau nggak tidur?! Besok sekolah 'kan?"


"Aku kebangun haus Yah, mau ambil minum..."


"Jangan banyak alasan Ridwan! Sekarang, pergi ke kamar!"


.


"Kenapa gagal lagi?! Percuma aku sekolahkan mahal-mahal kalau kau nggak becus ngerjain soal ulangan!"


"Ridwan baru sembuh. Jadi wajar saja kalau dia ketinggalan materi. Jangan memarahinya begitu," ibu membela Ridwan. Kemudian wanita itu menoleh ke arah Ridwan yang ketakutan dengan pandangan teduh.


"Nak, nanti kita minta sama bu guru buat ulangan ulang ya? Sebelumnya Ridwan kan udah izin sakit juga, jadi bakal dibolehin."


"Kau itu selalu membelanya! Pantes anaknya jadi manja!"


.


"Jangan pukuli ibu! Ayah kenapa mukul ibu?" Ridwan kecil berlari dengan panik dan ketakutan saat melihat ibunya dipukuli ayahnya. Dia berusaha menghentikannya. Namun, dirinya malah ketendang sampai jatuh tersungkur.


"Kau itu sama menjengkelkannya dengan ibumu."


.


"Aku malu punya anak nggak berguna sepertimu."


.


.


.


Pada akhirnya pria itu tidak pernah menempati janjinya. Bahkan saat Ridwan menjadi kapten basket sekolah dan berhasil membawa nama baik sekolah di tingkat nasional pun pria itu tidak pernah melihat ke arahnya.


Dengan penuh amarah, Ridwan berjalan pergi keluar area FT dan menuju wilayah FGK. Ada seseorang yang ingin dia hajar habis-habisan.


Persetan dengan tangan kirinya yang digips atau pipi kirinya yang masih agak ngilu.


Dia sangat yakin, semua ini ulah dari Vino dan ayahnya. Otak licik dibalik ini semuanya pasti Vino.


Cowok itu yang merebut sosok ayah darinya. Dan Ridwan tahu, sejak ayahnya lebih memilih Vino, Vino selalu menyombongkannya di depan wajah Ridwan. Dengan fakta bahwa pria itu akan diam saja melihat Ridwan dihabisi oleh anak kesayangannya itu.


Ditambah ayahnya yang selalu membanding-bandingkan dan membanggakan anak tirinya membuat Ridwan semakin muak.


Ya! Ayah Ridwan menikah dengan ibunya Vino bertahun-tahun lalu. Tidak lama setelah perpisahannya dengan ibunya. Kala itu Ridwan baru saja masuk SMP.


Bagi ayahnya, Vino adalah anak laki-laki yang selalu diharapkannya. Anak sempurna yang sesuai keinginannya.


Dan Ridwan sudah kenyang dengan semua rasa pahit dan sakit yang dia alami.


"Ridwan!"


"Wan!"


"Berhenti dulu Wan! Jangan gegabah dulu."


"Wan."


"Ridwan!"


"RIDWAN!"


Tangan kanan Ridwan ditarik paksa dan membuatnya terhenti. Dia menoleh dan mendapati Rima dengan wajah khawatirnya.


"Tenang dulu ya?" kali ini Rima berujar dengan lembut.


"Nggak bisa! Aku harus ngasih dia pelajaran," Ridwan masih dikuasai emosinya. Tangan kanannya mengepal dengan kuat. Sampai urat-uratnya terlihat jelas.


Demi apapun, Ridwan benar-benar membenci mereka. Rasa kebencian itu kembali bergemuruh membakar hatinya.


"I know," Rima tetap menimpali dengan setenang mungkin. "Tapi kita nggak bisa gegabah, Wan. Kita butuh rencana. Jangan pergi sendirian..."


"Aku nggak mau kau kenapa-napa lagi..." Rima menambahkan dengan lirih. Namun, Ridwan masih bisa dengan cukup jelas mendengarnya.


Bahu Ridwan bergetar. Rima bisa mendengar sebuah isakan pelan yang seperti ditahan. Dengan cepat Rima mengangkat kepalanya dan melihat air mata telah menetes di wajah cowok itu.


"Ibuku, Ma..." Ridwan berujar pelan. "Dia menargetkan ibuku. Aku yakin ini baru awal. Vino nggak akan puas begitu aja."


Pertahanan yang selama ini dia pertahankan mati-matian perlahan luruh, jebol. Kalau sudah masalah ibunya, Ridwan tidak bisa tinggal diam. Apalagi saat mendapat kabar dari bibinya kalau ibunya menangis di sana. Sementara Ridwan tidak bisa memeluk menenangkannya saat ini.


Ibunya itu wanita yang luar biasa tegar. Selalu menutupi apa yang membuatnya sedih dan tampil seolah baik-baik saja di depan Ridwan.


'Iya nak... maafkan ibu ya? Nanti ibu bakal cari kerjaan lagi biar kita bisa hidup enak' bahkan ibunya bisa-bisanya meminta maaf saat Ridwan mengonfirmasi apa yang diucapkan ayahnya pada wanita itu.


Lalu bibinya menelepon dan mengatakan yang sebenarnya. Tentang ibunya yang menangis dan nama baiknya yang tercoreng karena sebuah tuduhan yang membuatnya dipecat secara tidak hormat.


Persetan dengan hidup enak! Kalau bukan mimpinya dan janjinya pada ibunya, Ridwan pasti lebih memilih tidak kuliah dan memilih bekerja agar kehidupan keluarga kecil yang dia punya lebih baik.


Buru-buru Ridwan menghapus air matanya yang menetes. Kedua kalinya ini dia menangis di depan Rima.


Payah sekali.


Dia merasakan seseorang menarik dirinya mendekat dan sebuah tangan melingkar memeluk tubuhnya.


"Nggak ada yang salah cowok nangis," Rima berujar. "Yang salah adalah pas kita sok kuat menahan sama memendam semuanya sendirian."


Dengan perlahan, Ridwan membalas pelukan Rima.


Sudah sejak lama...


...sejak terakhir dia memeluk dan mendapatkan pelukan seperti ini.


.


.


.


"Ini," Rima menyodorkan sebuah es krim rasa vanila pada Ridwan. Lalu mendudukkan dirinya di sebelah cowok itu dengan es krim yang sama di tangannya.


Ridwan termasuk orang yang tidak terlalu suka manis. Namun, untuk es krim rasa vanila adalah sebuah pengecualian.


Tidak jauh berbeda dengan Rima. Cewek tomboy itu suka sekali dengan es krim vanila. Menurutnya rasanya natural dan pas di lidahnya.


Keduanya terdiam sambil menikmati es krim masing-masing. Menikmati pemandangan dan suasana tenang di Lembah UHW, sebuah taman luas di dataran yang rendah dengan kali yang mengalir. Di seberang jalan di sisi kanan merupakan salah satu gedung olahraga milik UHW dan lapangan tenis outdoor. Di sana juga tempat yang digunakan latihan fisik TPK FT beberapa bulan lalu.


Rima tersenyum mengingatnya. Aylin kalau sudah di lapangan akan jauh berbeda dari biasanya.


Mereka lalu bercerita. Rima lebih mendominasi obrolan ringan mereka. Meski lebih banyak diam saat ini, Ridwan benar-benar memperhatikan apa yang dibicarakan Rima. Matanya sesekali menatap cewek di sebelahnya sedikit lebih lama. Sebelum kembali memalingkan pandangannya ke depan dengan senyum tipis terukir di bibirnya.


Satu hal yang Ridwan syukuri adalah semua rasanya masih sama seperti dulu. Dia, Rima, dan es krim vanila kesukaan mereka.


Hati Ridwan yang semula berat dan dipenuhi amarah, kini rasanya berangsur terasa ringan dan lega.


Hanya dengan berada di dekat sosok di sebelahnya ini, dia merasa jauh lebih tenang.


"Ma," panggil Ridwan dengan pelan.


Rima menoleh dan menjawab, "Ya?"


"Aku bersyukur bertemu denganmu lagi."


'Terima kasih udah mau tinggal,' dia menambahkan dalam hati.


Entah sudah berapa kali Ridwan mengatakannya pada dirinya sendiri. Dia bersyukur bertemu kembali dengannya.


Dengan Rima.


Rima tersenyum. "Aku juga," katanya kemudian.


"Ma."


"Hmm?"


'Aku merasa nggak pantas, Ma. Padamu... pada semuanya.'


"Kenapa Wan?" tanya Rima karena Ridwan tak kunjung melanjutkan perkataannya.


"Apa kau masih kepikiran soal ayahmu?" Rima mencoba menebak.


"Dua hari lalu aku ketemu orang itu sama anak kesayangannya," Ridwan berujar kemudian.


Rima menoleh dengan cepat ke arah Ridwan begitu mendengarnya.


"Kau nggak apa 'kan?" tanya Rima memastikan. Rima terkejut, tentu. Dia juga khawatir karena dia tahu pertemuan ketiganya selalu berakhir tidak baik.


"Seperti biasanya," jawab Ridwan. "Kali ini cuman dapat bogem di pipi."


Rima memperhatikan wajah Ridwan yang terkesan tenang. Dia baru menyadari ada memar samar di pipi Ridwan.


Setidaknya, Ridwan tidak terluka parah. Hatinya tidak akan kuat melihat orang di sebelahnya ini terluka. Sudah cukup yang terparah adalah kejadian belum lama ini, sampai harus membuat cowok itu patah tulang dan cedera yang lain.


Ridwan menggeleng. Meski Rima juga tidak salah seratus persen juga. Cowok itu memilih mengurungkan apa yang sebenarnya ingin dia katakan.


Mereka lalu terdiam dalam keheningan yang nyaman. Ridwan sibuk dengan isi pikirannya. Sementara Rima sibuk dengan ponselnya.


Dia mendapat pesan dari Aylin soal informasi terbaru mereka. Lalu soal rencana baru yang perlu persetujuan Ridwan agar bisa dilakukan. Meski tanpa persetujuan Ridwan juga tidak masalah. Namun akan lebih baik kalau Ridwan tahu apa yang mereka rencanakan.


'Oke. Aku bareng Ridwan sekarang.'


Rima lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya. Lalu beralih ke arah Ridwan yang terlihat melamun.


Entah apa yang mengganggu pikirannya.


"Wan," panggil Rima.


"Hmm?"


"Seandainya kau bisa balik ke masa lalu, apa yang ingin kau ubah?"


Ridwan tidak langsung menjawab. Dia terdiam selama beberapa saat sebelum menjawab.


"Entahlah. Mungkin saat semua ini belum terjadi. Saat semuanya masih baik-baik saja."


Lalu Ridwan menoleh ke arah Rima. "Kalau kau?"


"Aku..." Rima terdengar pelan. Pandangannya lurus ke depan. "Aku ingin kembali ke delapan tahun lalu. Sebelum Papa kalah dengan penyakitnya."


"Bukan berarti aku nggak sayang sama Bapak, Nopal, atau Aziz," Rima menambahkan. "Sangat bersyukur malah dapat bertemu mereka terus jadi keluarga."


"Tapi kadang aku juga kangen sama Papa," Rima tersenyum sedih.


Ridwan lalu merangkul Rima mendekat. Membiarkan cewek itu bersandar pada bahunya.


Mereka begitu serupa, tetapi tidak sama.


Sama-sama mencoba kuat demi ibu mereka.


Sama-sama sendirian sebelum bertemu dengan kawan-kawan mereka yang peduli tanpa melihat masa lalu masing-masing.


"Wan," ujar Rima kemudian. Dia mengangkat kepalanya dan menatap Ridwan dengan sorot mata serius.


"Apapun masalahmu, jangan ditanggung sendirian ya? Ada aku, sahabatmu sama yang lainnya. Bahkan Alin, Frans, sama yang lainnya juga bakal membantu."


"Kau nggak sendirian Wan. Kita ada bersamamu," lanjut Rima.


Ridwan terdiam. Dia balas menatap Rima dengan pandangan sulit diartikan.


Sebelum pada akhirnya cowok itu mengangguk dengan perlahan. "Uhm."


.


.


.


Mereka berdua sampai di Third House dan sudah ditunggu oleh Aylin dan yang lainnya.


Setelah pembicaraan mereka dari hati ke hati, Rima mengajak Ridwan buat kembali ke Third House. Rima bilang hal yang sebenarnya soal rencana yang butuh persetujuan Ridwan. Entah rencana apa itu biarkan Aylin dan yang lain menjelaskannya langsung.


Awalnya pun Ridwan terlihat tidak setuju. Terlihat jelas di raut wajahnya yang tidak senang.


Cowok itu tidak mau orang-orang jadi terlibat mengurusi masalahnya. Meski orang itu adalah teman dekatnya sendiri.


Namun, Rima berhasil memberikan alasan yang sedikit meluluhkan Ridwan. Setidaknya agar Ridwan mau mendengarkan mereka lebih dulu.


"Dengerin mereka dulu ya, Wan. Kita semua peduli padamu. Aku peduli padamu. Kau nggak sendirian lagi di sini Wan. Coba dengerin dulu ya?"


"Tapi keputusan akhir tetep ada padamu, Ridwan."


Pada akhirnya, Ridwan mendengarkan apa yang ingin mereka bicarakan. Memberi kesempatan mereka menjelaskan tentang semua praduga dan rencana yang akan mereka lakukan.


Aylin dan yang lainnya memberikan ruang untuk Kai dan Neo mengajak Ridwan bicara. Karena keduanya-lah yang lebih mengenal Ridwan. Yang lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi dibandingkan mereka.


Mungkin pengecualian untuk Rima. Cewek itu sepertinya sangat dekat dengan Ridwan. Aylin sudah curiga sejak melihat interaksi Rima dan junior itu sejak kejadian pengeroyokan waktu itu. Namun, seperti apa hubungan keduanya, Aylin belum tahu.


Aylin dan yang lainnya tidak terlalu jelas mendengar apa yang ketiga junior itu bicarakan di ruangan sebelah. Namun, sepertinya terdengar serius dan cukup alot.


Mereka menunggu dengan cukup harap-harap cemas. Jika Ridwan masih bersikukuh dengan pendiriannya, terpaksa mereka harus melakukan rencana B. Dengan atau tanpa sepengetahuan dan persetujuan Ridwan.


Masalah Ridwan adalah salah satu masalah serius yang berasal dari masalah-masalah sebelumnya. Kalau mereka tidak segera bertindak, bisa saja masalah yang semula hanya soal persaingan antarfakultas bakal berbuntut panjang dan semakin ruwet.


Makanya kali ini Frans dan Aji mengambil inisiatif langkah dari masalah pengeroyokan Ridwan sebagai yang paling parah karena berdasar dari berbagai hal. Salah satunya sudah membawa masalah pribadi ke persoalan antarfakultas.


Sekaligus agar masalah ini tidak merembet ke mana-mana sampai melibatkan para alumni, bahkan petinggi-petinggi kampus.


Mungkin kasus pengeroyokan itu menjadi titik puncaknya.


"Jem, kau sedekat itu ya sama si Ridwan?" akhirnya Budi memutuskan untuk bertanya pada Rima. Sudah sejak tadi dia begitu penasaran dengan hubungan apa yang dimiliki sepupunya itu dengan junior mereka.


"Aku udah kenal dia sejak SMA. Kami ketemu pas sama-sama ikutan pekan olahraga sekolah se-Jakarta," kata Rima dengan nada santai.


Oh... pantes, batin Aylin dalam hati.


"Wo iya, kau kan dulu pernah sekolah di Jakarta," sahut Budi seolah baru ingat sesuatu.


"Yakin hanya kenalan aja, Ma?" kali ini Naufal yang bertanya.


Rima hanya nyengir menanggapinya. Tidak ada niatan untuk menjawabnya. Karena sejujurnya Rima tidak tahu hubungan apa yang mereka miliki sekarang. Teman mungkin? Entahlah.


Lagipula sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas lebih jauh tentang hubungan antara Ridwan dan Rima.


Tidak berselang lama, Kai, Neo, dan Ridwan berjalan menghampiri mereka. Ketiganya sepertinya sudah selesai dengan pembicaraan mereka.


"Ingat ya Kai," kata Ridwan pada Kai dengan nada mengingatkan. Raut wajahnya terlihat tidak sedang main-main. "Jangan libatkan siapapun di luar rencana."


"Oke," jawab si duta kampus. "Tapi kalau nggak ada cara lain, kita pakai caraku."


Ridwan mengangguk tanpa suara. Terlihat terpaksa.


Bagaimana tidak? Cowok itu tahu betul cara apa yang akan dilakukan oleh sahabatnya ini. Entah para seniornya ini tahu atau tidak soal rencana dengan cara seorang Kayvan Candra.


"Kita pakai rencananya, Bang," Kai memberitahu Frans. Cowok jangkung dengan tindik di telinganya itu mengangguk.


Sementara itu, Ridwan yang kini duduk di samping Teo terlihat diam. Raut wajahnya terlihat datar, entah apa yang dia pikirkan sekarang.


Cowok itu sebenarnya tidak terbiasa dengan semua ini. Awalnya hanya dia sendirian. Lalu muncul Kai dan Neo. Kemudian ada Rima. Selanjutnya Ojan dan Teo masuk ke dalam lingkaran.


Dan kini, senior-seniornya.


Pandangannya tidak sengaja bertemu dengan Rima. Cewek itu melemparkan senyum. Seolah bilang kalau dia tidak sendirian lagi sekarang.


Pada akhirnya, Ridwan mengangguk pelan dan tersenyum samar.


.


.


.


"Sudah kubilang 'kan, kau nggak sendirian di sini," ujar Rima.


"Uhm. Terima kasih," Ridwan masih tidak menyangkanya. Melihat teman-teman dan para seniornya yang peduli pada masalahnya.


"Aku juga senang ada kau bersamaku," tambahnya dengan pelan. Namun, Rima masih bisa mendengarnya.


Cewek itu menoleh ke arah Ridwan begitu mendengarnya. Senyum tersungging manis di wajahnya. Hatinya tiba-tiba terasa hangat.


"Aku juga."


Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing.


Sampai Ridwan kembali membuka suaranya. Mengatakan sesuatu yang sangat bukan Ridwan sama sekali. Namun dia merasa dia ingin mengatakannya sekarang pada cewek di sebelahnya ini.


"Ma..."


"Hmm?"


"Kalau aku bilang aku membutuhkanmu, apa kau keberatan?"


"...you make me strong. Bisa bertahan sampai sejauh ini."


Rima terdiam mendengarnya. Lebih tepatnya dia sangat terkejut sampai kehabisan kata-kata. Dia menoleh ke arah Ridwan yang masih setia memandang ke depan dengan raut wajah tekejut.


Dalam hati, Ridwan cukup cemas karena Rima tidak hanya terdiam. Apa dia salah karena mengatakannya?


Bodoh sekali kau Wan!


Kenapa kau mengatakannya? Harusnya kau diam saja


Cowok itu merasakan tangan yang lebih kecil menggenggam tangan kanannya. Dia menoleh dan melihat tangannya digenggam oleh Rima. Cowok itu mengalihkan pandangannya ke wajah Rima yang tersenyum kecil.


"I'm with you."


.


.


.


.


.


a.n.


apakah udah lebih jelas soal hubungan Rima sama Ridwan di chapter ini?


semoga nggak aneh ya karena plot di sini agak berbeda dari rencana awal


maaf lama banget baru bisa update.


untuk kedepannya juga masih slow update karena uts dan tugas2 lainnya


see you!