![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Unexpected (adj): not expected or regarded as likely to happen
.
.
.
Selesai TM dan selesai dari mushola, Kai berjalan menuju basecamp panitia yang ada di dekat aula besar. Tadi sewaktu ishoma, Seno dan Dimas memanggilnya untuk ke basacamp panitia. Di sana Kai diberi tahu kalau dia terpilih sebagai perwakilan Duta FT. Bersama dengan seorang miba dari jurusan Pendidikan Teknik Sipil bersama Freya. Di sana mereka berdua diberikan sedikit gambaran umum mengenai keikutsertaan mereka dalam pemilihan Duta Universitas. Kai dan Freya juga diminta untuk berkumpul lagi di basecamp untuk arahan lebih lanjut.
Seperti sekarang ini, Kai mengetuk pintu basecamp sebelum permisi memasuki ruangan. Di sana sudah ada Freya dan dua orang panitia. Freya yang melihat kedatangan Kai hanya tersenyum ramah dan menganggukkan kepalanya.
"Oh, Dek Kayvan ya? Ayo sini masuk," kata seorang senior cewek yang mengenakan hijab. Yang kalau Kai tidak salah ingat, senior itu bernama Suci, yang menjabat sebagai sekretaris.
Kai tersenyum dan mengangguk untuk menanggapi seniornya. Cowok itu lalu duduk di bangku terdekat yang tidak jauh dari dari Freya duduk.
"Tunggu Seno bentar ya, untuk masalah teknisnya gimana aja. Nanti kalian juga akan dibimbing sama Duta FT tahun lalu, jadi kalian bisa tanya-tanya sama mereka," kata Suci kemudian.
"Iya, Kak," Freya bersuara.
"Kak, mau tanya. Pemilihan Duta Universitas itu emangnya kapan ya kalau boleh tahu?" tanya Kai.
"Hmm... kalau nggak salah sebelum ISIMAJA. Tunggu Seno dulu ya, biar dijelasin sama dia," jawab Suci.
"Oh, gitu ya Kak? Terima kasih, Kak."
Suci hanya tersenyum menimpali.
"Mbak Ci, aku ke mushola dulu ya. Mbak nggak papa sendirian 'kan?" senior yang satunya, Rika, yang merupakan sekretaris dua, berujar kepada Suci.
"Tenang. Lagipula ada adek-adek kok di sini," kata Suci.
"Udah lah sono, buruan shalat ashar. Keburu kesorean ntar."
Mahasiswi tahun kedua jurusan Teknik Kimia itu mengangguk dan berlari keluar ruangan.
"Ini, di makan aja snack sama minumannya. Ada buah pir dan jeruk juga, ambil aja," kata Suci kemudian setelah beberapa saat. Dia memberikan dua teh botol kepada Freya dan Kai. Suci juga menyodorkan satu bungkus besar camilan serta dua buah pir dan jeruk, lalu menaruhnya di meja di dekat mereka berdua duduk.
"Di makan ya?"
"Apa nggak masalah Kak?" tanya Freya ragu.
Suci tersenyum dan mengibas-ngibaskan tangan kirinya. Dia bilang, "Santai aja. Snack-nya juga buat kalian kok. Tadi ketua Konsumsi juga udah bilang."
"Makasih kak," kata Kai, disusul Freya.
Mereka lalu diam, disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Suci yang mengecek berkas-berkas dan kedua Duta FT kita tengah menikmati minuman dan cemilan yang diberikan.
Pintu dibuka dan sosok ketua TPK berjalan masuk diikuti satu TPK lagi dibelakangnya. Kai dan Freya menghentikan acara makan mereka dan melihat ke arah dua senior yang baru datang. Freya buru-buru menaruh jeruk yang tadi hendak dia kupas di atas meja.
"Loh, Ci, mana Seno?" tanya Aylin dengan bingung.
Suci menggeleng, lalu menjawab, "Belum ke sini, Lin. Tadi nggak ketemu kah?"
"Lah, padahal dia yang spam chat aku buat nyuruh cepet-cepet nyelesain eval," gerutu Aylin.
"Wah nggak tahu Lin. Tapi Seno dari tadi emang belum ke sini lagi," kata Suci yang ikut-ikutan bingung.
"Ada keperluan juga sama Seno?" tanya Suci.
"Iya, soal Menwa. Ponselku mati, jadi nyoba nyari ke sini deh," jawab Aylin. Dia sebenarnya sudah lelah, ingin cepat-cepat pulang ke asrama buat istirahat sebentar sebelum evaluasi nanti malam. Namun, Seno malah memintanya untuk membahas perwakilan Menwa yang mendampingi pelatihan fisik. Aylin bisa saja mengirimkan daftarnya lewat whatsapp, tetapi ponselnya keburu langsung mati. Jadinya, dia pergi ke basecamp bersama Frans untuk menemui Seno.
Kalau kalian lupa, Johan atau akrab disapa Frans adalah Duta FT tahun lalu. Dia anggota TPK dan salah satu kaki tangan Aylin. TPK tadi sedang mengadakan evaluasi tim—diajukan jamnya karena banyak dari mereka sudah lelah—dan Frans memiliki laporan yang harus dilaporkan, jadinya Aylin tidak mengizinkannya pergi sebelum menyampaikan laporannya terkait maba yang ketahuan membawa pisau daging di tasnya. Ya, Frans itu salah satu TPK yang melakukan inspeksi di depan gerbang utama tadi pagi.
Lalu Seno, pelaku utama kita yang malah tidak ada ditempat, memburu-buru Aylin agar segera menyelesaikan evaluasinya. Cowok itu juga ingin membahas soal fiksasi tempat, Menwa pendamping, dan teknis untuk pelatihan fisik minggu depan agar nanti malam bisa dibahas juga di evaluasi besar.
Dengan wajah agak cemberut karena kesal terhadap Seno, Aylin mengedarkan pandangannya ke seliling ruangan. Matanya bertemu pandang dengan sepasang mata dari maba yang membuatnya uring-uringan selama TM.
"Ngapain kau di sini?" tanya Aylin dengan ketus.
Sebelum Kai menjawab, Suci sudah menjawab duluan.
"Dia itu yang jadi Duta FT kita tahun ini."
"Masa? Kok nggak meyakinkan ya?" timpal Aylin sinis. Dia berjalan ke belakang Suci dan mengambil sebotol air mineral. Sementara Frans lebih memilih diam dengan wajah datarnya. Cowok jangkung yang sepertinya keturunan Adonis itu mendudukkan dirinya di sudut ruangan dan mulai bermain dengan ponselnya.
"Tampang pas-pasan gitu mana bisa jadi Duta FT," tambah Aylin. Sepertinya dia masih kesal.
"Padahal kau setuju sama keputusan Nopal pas selesai penilaian. Seingatku kau juga ngusulin namanya pertama kali buat jadi Duta FT deh," celetuk Suci dengan heran.
Aylin terdiam. Untung saja dia belum jadi minum. Bisa-bisa tersedak dan membuatnya terlihat saah tingkah.
Kai yang mendengarnya mengerling jenaka ke arah ketua TPK. Cowok itu melemparkan senyum miringnya dan dibalas pelototan Aylin sebelum cewek itu membuang muka.
Keadaan ruangan menjadi hening. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Diam-diam Kai mengamati sosok ketua TPK yang kini bermain-main dengan gantungan kunci di sudut ruangan. Cewek itu duduk berseberangan dengan Frans yang masih fokus dengan ponselnya. Namun sesekali berbicara dengan Aylin dengan suara rendah. Entah apa yang mereka bicarakan.
Kai bisa melihat dengan jelas gurat kelelahan di raut wajah suntuknya Aylin. Cewek itu benar-benar tidak mau repot-repot menampilkan wajah datar dan judesnya seperti waktu TM. Seolah tidak peduli dengan adanya dua maba di dalam ruangan. Bahkan salah satunya merupakan maba yang suka sekali mencari gara-gara dengannya.
Tetap saja, cewek itu masih terkesan dingin.
Tiba-tiba pintu ruangan dibuka dengan cukup keras. Disusul dengan sosok Seno yang berjalan masuk dengan terburu-buru. Cowok itu terlihat kehabisan napas seolah habis dikejar sesuatu. Suci inisiatif menyiapkan kursi kosong dan menyuruh Seno untuk duduk. Lalu cewek itu memberikan sebotol air mineral dan diterima ketua Tim Acara dengan senang hati.
"Makasih Ci," kata Seno begitu menerima air minum dari sekretaris panitia itu. Sementara Suci hanya tersenyum menanggapinya dan kembali berkutat dengan laptopnya.
"Dari mana aja, No?" tanya Aylin pada Seno.
"Bentar Lin," jawab cowok itu, masih berusaha menangkan dirinya yang habis berlari. Lalu meminum air minumnya beberapa teguk.
Setelah napasnya teratur, Seno menoleh ke arah Aylin yang menatapnya menunggu penjelasan.
"Sori Lin sebelumnya. Tadi tiba-tiba aja ditelfon Pak Rudi. Mana aku juga harus nyari-nyari Nopal yang ponselnya nggak aktif buat nyampein pesan si bapak," kata Seno.
Aylin mengangguk paham. Pak Rudi adalah wakil dekan tiga yang berurusan dengan kemahasiswaan. Jadi, kegiatan Isimaja fakultas juga menjadi ranah tanggungjawab tugasnya.
"Sebenernya mau bahas langsung, tapi aku lupa kalo ada pembahasan duta univ. Sori banget Lin, malah ngerepotin," ujar Seno dengan tampang memelas. Dia juga menyamarkan apa yang akan dia bahasa dengan Aylin karena ada dua maba di sini. Untung saja tadi salah satu anggotanya mengingatkan perihal briefing ke duta FT terpilih.
Aylin memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam. Dia melakukannya beberapa kali. Lalu kembali membuka matanya setelah merasa lebih tenang.
"Oke, nanti aku kirimkan file-nya aja. Kau tinggal cek. Ponselku mati soalnya. Kita bisa membahasnya pas sebelum atau habis eval aja," kata Aylin.
"Oh iya, buat rundown acaranya jangan terlalu padet ya. Prioritaskan kesehatan maba."
Entah Aylin sadar atau tidak dia mengatakan hal itu. Padahal ada dua maba yang dengan jelas mendengarnya.
"Ashiiaap Alin!" Seno mengacungkan jempolnya. "Makasih ya Kakak Alin. TPK terfav deh."
Seolah baru tersadar, Aylin melirik sekilas ke arah Kayvan dan Freya yang sejak tadi hanya menjadi penonton. Ah dia baru ingat kalau ada dua maba di ruangan ini. Dan dia tadi keceplosan berkata soal rundown dan kesehatan maba.
Ugh! Dasar Aylin yang kadang pelupa. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur.
Aylin hanya mengangguk singkat. Dia menahan dirinya agar tidak terpengaruh dengan godaan Seno. Bagaimanapun dirinya juga harus tetap menahan wibawanya sebagai ketua TPK karena ada dua maba di sini. Meskipun tidak sesaklek pas di lapangan.
"Buat Dek Kayvan sama Dek Freya, yok ikut aku ke gazebo aja. Biar lebih enak buat bahas acara pemilihan duta univ-nya," kata Seno kepada Kayvan dan Freya yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.
Kedua maba itu mengangguk dan bersiap mengikuti Seno keluar ruangan.
"Frans, ayo!" Seno memanggil cowok jangkung yang sudah tidak memainkan ponselnya di sudut ruangan. Duta FT tahun lalu itu mengangguk dan berjalan mendahului Kai dan Freya.
Sementara dua maba itu buru-buru mengikuti langkah Seno dan Frans yang lebih dulu keluar ruangan.
"Hei!"
Kai dan Freya berhenti. Mereka menoleh dan mendapati Aylin berjalan mendekat. Freya terlihat agak was-was. Sementara Kai menatapnya penasaran.
"Kemarikan tangan kalian."
Dengan ragu-ragu, dua maba itu mengulurkan tangan kanan mereka.
"Jangan lupa dibawa. Senior kalian sudah memberinya untuk kalian," kata Aylin sambil tersenyum sangat tipis. Ia meletakkan bungkusan berisi buah jeruk dan pir ke masing-masing tangan.
Aylin tadi melihat kedua maba itu terlihat ragu-ragu harus membawa makanan mereka atau tidak. Lalu hanya memilih membawa botol minuman yang sudah mereka minum dan meninggalkan buah pemberian Suci yang memang disediakan Tim Konsumsi untuk siapa saja yang mau di ruangan ini. Jujur saja, itu membuatnya sedikit jengah apalagi saat ini dia ingin cepat-cepat pulang beristirahat barang sebentar.
Setelah berkata begitu, Aylin berlalu pergi. Meninggalkan sepasang maba yang cukup terkejut dengan sikap Aylin yang diluar dugaan. Pikiran keduanya berkecambuk sebelum disadarkan oleh Rika, yang baru saja tiba, bahwa keduanya sudah ditunggu Seno dan Frans di luar.
.
.
.
.