Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Side Story: Graduation Pt. 2



Graduation (n): the receiving or conferring of an academic degree or diploma.


the action of dividing into degrees or other proportionate divisions on a graduated scale.


.


.


[minor editing | lanjutan part sebelumnya | warning!ada spoiler dikit | mention of song lyricis]


.


.


.


"Jangan pesimis gitu dong," kata Pandu. "Bisa, Nana pasti bisa. Kan udah belajar sungguh-sungguh, udah usaha maksimal. Sekarang berdoa juga biar bisa lolos."


Sesi kedua dimulai. Nana kembali masuk ke ruangannya tadi. Kali ini dia memilih menitipkan tasnya pada Pandu. Jadi dia di ruangan hanya membawa pensil, penghapus, dan kartu tes. Cowok itu bilang akan menunggunya di pendopo.


Kurang lebih dua jam kemudian, Nana keluar dari ruangan bersama peserta yang lain. Ruangannya ada di Gedung Kuliah I atau Gedung WS Rendra lantai dua. Jadi Nana harus turun ke lobi lalu berjalan keluar menuju pendopo.


Nana merasa plong karena akhirnya selesai juga sesi tesnya. Tinggal menunggu hasil yang akan diumumkan sebulan ke depan. Untuk saat ini, Nana tidak mau memikirkannya dulu. Seperti salah satu motonya, kerjakan lalu lupakan.


Begitu sampai di pendopo, yang jaraknya hanya berseberangan, Nana melihat Pandu yang tengah duduk bersandar pada salah satu tiang tengah mengobrol dengan seorang bapak-bapak. Obrolan mereka terlihat seru.


"Pandu..." Nana memanggil. Pandu menoleh dan tersenyum lebar.


"Udah selesai?" Nana mengangguk.


Pandu lalu berpamitan dengan pria yang mengajaknya mengobrol tadi. Pria itu adalah salah satu orang tua peserta tes SBM.


"Langsung pulang atau masih mau mampir-mampir dulu?" tanya Pandu ke Nana.


"Pulang aja deh. Persiapan buat besok ujian keterampilannya," jawab Nana.


"Udah ada gambaran mau nampilin apa?"


"Aku ada beberapa ide. Tapi masih ragu mau yang mana. Agak gugup buat besok."


"Mau kubantu?"


Nana tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya. "Boleh."


Hari berikutnya, Pandu kembali mengantarkan Nana untuk ujian keterampilan dan wawancara. Kali ini tempatnya di Laboraturium Musik dan Tari atau Gedung Kusbini FBS. Nana membawa gitarnya untuk dia gunakan ketika ujian keterampilan.


Sebenarnya, hari ini tidak hanya Seni Musik yang melakukan ujian keterampilan dan wawancara. Ada Seni Tari, prodi-prodi di Seni Rupa, dan jurusan seni lain di FBS. Hanya jurusan Seni Tari yang berada di gedung yang sama dengan Seni Musik untuk lokasinya dengan lantai yang berbeda.


Setelah berbagai pertimbangan, Nana memutuskan untuk membawa gitarnya. Dia berencana untuk bernyanyi sambil akustikan. Namun, dia juga akan siap kalau nanti dosennya meminta untuk memainkan alat musik lain.


Nana jadi gugup saat sampai di lokasi ujian. Terlihat banyak peserta yang benar-benar siap untuk hari ini. Ada yang membawa gitar seperti Nana, biola, cello, keyboard, dan alat musik lain. Ada juga yang terlihat berlatih dengan vokalnya.


Membuat Nana jadi kurang pede dengan kemampuannya. Peserta lain terlihat keren-keren dan penuh persiapan. Sementara Nana baru fix persiapannya itu kemarin sore. Malam dia tinggal pergi tidur, tidak ada latihan tambahan.


Semua peserta dikumpulkan dan dibagi ke dalam dua ruangan. Di sana sudah ada masing-masing tiga dosen penguji. Total peserta ada hampir enam puluh. Jadi dibagi menjadi dua agar tidak terlalu lama.


Ujian dibagi menjadi tiga bagian: tes musikalitas, tes praktik instrumen, dan wawancara. Setelah pulang ke rumah, Nana benar-benar mempersiapkan ketiganya dengan dibantu Pandu. Berjam-jam keduanya berada di ruang yang memang dikhususkan untuk latihan bermusik di rumah Nana.


Untuk tes praktiknya, Nana berencana menyanyikan salah satu lagu musisi kesukaannya, Alec Benjamin. Lagu yang dia pilih adalah The Boy In The Bubble.


"Nasywa Kartika Ramadhanti."


Nana menghirup napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Gilirannya telah tiba.


Kembali ke hari ini. Nana dan keluarganya berfoto di photobooth yang disediakan. Setelah itu dia berfoto dengan kedua sahabat ceweknya, Endri dan Danisa, di tempat yang sama.


Ngomong-ngomong soal kedua orang itu, Danisa telah diterima di Fisipol UHW. Lebih tepatnya prodi Sejarah jalur SNM. Sementara Endri sama nasibnya dengan Nana. Masih menunggu pengumuman SBM. Bedanya Endri mengambil jurusan Pendidikan Seni Tari.


Iya, mereka melakukan ujian keterampilan di tempat dan hari yang sama.


"Na, Nana," panggil Endri.


"Apa?" Nana menoleh ke arah Endri.


Endri menunjuk ke sebuah arah. Nana mengikuti arah yang ditunjuk Endri. Di sana dia melihat sosok Pandu dihampiri seorang cewek yang mengenakan seragam tonti membawa buket bunga.


Wajah Nana terlihat datar. Namun, dalam hatinya dia merasakan cubitan panas itu.


Di sana, Pandu yang tengah mengobrol dengan beberapa temannya, dihampiri sosok Laras dengan sebuket bunga di tangannya. Teman-teman Pandu terlihat menggoda Pandu dan menyorakinya saat Laras menyerahkan buket bunga itu pada Pandu.


Pandu yang semula bercanda dengan teman-teman sekelasnya, senyum diwajahnya luruh saat melihat Laras memberikan buket bunga padanya. Cowok itu tidak mempedulikan sorakan teman-temannya.


Pandu pikir, Laras akan menempati janjinya untuk tidak mengganggunya sejak pernyataan cintanya tempo itu. Ternyata dia memang tidak seharusnya begitu saja lega.


Bukan apa-apa, tetapi Pandu tidak mau terjadi kesalahpahaman lagi. Apalagi secara tanpa sadar malah memberikan harapan. Dia menghargai kegigihan Laras, tetapi lama-lama Pandu juga risih.


Sekali lagi Pandu berkata pada Laras bahwa dia menghargainya. Namun, dia tidak bisa menerimanya. Bahkan saat dia terpaksa menerima bunga itu, Pandu memilih memberikannya pada salah satu temannya.


Di depan Laras.


Tega? Ya, Pandu memang harus tega. Kalau tidak cewek itu akan tetap mengejarnya. Biar dia jera juga. Untuk kali ini, dia tidak bisa bersikap gentleman.


Hatinya sudah milik Nana.


Sekali lagi, Pandu berkata pada laras dengan pelan, "Tolong, mengertilah. Saya tidak bisa menerimanya. Maaf. Hati saya sudah milik seseorang. Saya tidak mau menyakitinya. Semoga kamu menemukan orang yang juga sama menyukaimu."


Setelah berkata begitu, Pandu mengalihkan pandangannya untuk mencari seseorang. Dia mendapati Nana yang tengah melihat ke arahnya dengan wajah tanpa ekspresi berarti.


"Permisi," Pandu lalu berlalu pergi dan menghampiri Nana yang berdiri sendirian. Endri dan Danisa dipanggil keluarga masing-masing untuk foto bersama.


Pandu meraih tangan kiri Nana dan menggandengnya.


"Maaf ya?"


"Aku percaya kok," Nana tersenyum kecil menenangkan.


.


.


.


Nana dan Pandu datang bersama ke acara prom sekolah. Tahun ini acara prom angkatan mereka digelar di sekolah. Tidak mengundang bintang tamu dari luar meski tentu saja dana bukan jadi penghalang.


Mungkin, mereka pikir acara yang diisi oleh mereka sendiri akan jauh lebih erat. Lebih intim.


Sudah cukup banyak yang hadir. Dresscode acara prom kali ini adalah warna hitam, putih, dan cokelat. Mereka mengusung tema kisah klasik sekolah. Halaman belakang aula utama yang semula digunakan untuk acara kelulusan, kini disulap seperti pesta kebun. Lampu temaram, lampu kelap-kelip, dan foto-foto polaroid ditata sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan magis.


Sebuah panggung mini dengan set alat musik dan pelantang telah ditata dan siap untuk digunakan nanti.


Ada sebuah meja panjang yang digunakan untuk menghidangkan makanan dan minuman. Lilin-lilin telah dinyalakan. Kursi-kursi juga telah ditata tak jauh dari panggung berada.


Nana dan Pandu mengenakan pakaian kasual untuk malam ini. Tidak ada dress untuk Nana. Cewek itu memang sengaja melakukannya. Tidak seperti kebanyakan para cewek yang akan tampil secantik mungkin dengan dress mereka malam ini.


Rok asimetris berwarna cokelat dipadukan dengan kaos putih yang dibalut blazer hitam. Sepatu kets yang sebelumnya dia gunakan saat acara wisuda kembali dia pakai.


Sementara Pandu hanya memadukan dua warna dari dresscode yang dipakai. Celana putih, kaos putih, dan kemeja cokelat. Sepatu yang serasi dengan Nana.


"Aku ke sana dulu, Ndu," ujar Nana sambil menunjuk ke salah satu sudut di mana teman-teman satu band-nya tengah berkumpul.


Pandu mengangguk. "Kalau ada apa-apa, chat atau telepon aja. Aku ke sana."


Cowok itu menunjuk ke arah yang berlawanan. Di mana para mantan pengurus OSIS berkumpul. Acara prom mala mini memang diprakarsai oleh mereka dan bekerja sama dengan pengurus OSIS yang sekarang.


Nana melambaikan tangannya pada Pandu sebelum pamit pergi. Pandu balas lambaian tangan Nana lalu menatap kepergian Nana sejenak sebelum bergabung dengan teman-temannya.


Band Nana memang bertugas mengisi hiburan malam ini.


Benar-benar malam ini adalah malam angkatan mereka.


Hari mulai larut. Anak-anak mulai menikmati hidangan yang ada, bercengkerama dengan sesama teman, atau sekedar menikmati musik yang dimainkan.


"...Berikanlah aku waktu. Aku berjanji padamu..."


Permainan musik yang mengalun harmonis menjadi latar belakang suasana saat ini. Suara Bagas yang kini berperan sebagai vokalis terdengar merdu menyanyikan lagu Taklukkan Dunia.


"...Ku masih menantikanmu. Hingga dirimu mau, kau dan aku. Hidup bersamaku dan bahagia selamanya... Dan bernyanyi..."


Selain Nana, band mereka juga memiliki vokalis lain yakni Bagas. Keduanya memang suka bergantian dan sama-sama jago nyanyi sambil main alat musik. Mereka kedua memang jadi salah satu penyanyi andalan di angkatan mereka.


Tepuk tangan menyambut begitu lagu selesai dinyanyikan.


Band mereka turun panggung sejenak untuk beristirahat. Kini acara diambil alih oleh MC. Nana tidak memperhatikannya karena dia memilih untuk menikmati snack dan minuman yang dia ambil. Dia duduk di sebelah Syakila yang juga sama-sama menikmati hidangan.


Sampai suara yang cukup berisik terdengar. Nana yang kebingungan mencari sumber keributan dan melihat beberapa orang tengah mendorong-dorong Pandu untuk maju ke panggung.


"Sya, ada apa sih?" tanya Nana pada Syakila. Namun cewek itu hanya mengangkat bahunya tak tahu. Dia tadi juga kurang memperhatikan apa yang dibicarakan MC.


Keheranan Nana semakin bertambah saat melihat Pandu beneran naik ke atas panggung. Dia mengambil gitar akustik yang ada di sana dan memposisikan dirinya di belakang pelantang. Tempat di mana Bagas bernyanyi sebelumnya.


Tanpa Nana sadari, Pandu menjadi perwakilan dari OSIS lama untuk naik ke atas panggung malam ini untuk bernyanyi.


Petikan gitar mulai terdengar. Pandangan Nana kini fokus tertuju padanya.


"It feels like we've been friends forever, yeah. And we always see eye to eye..."


Kedua alis Nana kini terangkat. Bukan karena mendengar suara Pandu—cowok itu memang punya suara yang lumayan bagus—tetapi karena lagu yang dinyanyikan Pandu.


Dia tidak menyangka cowok itu akan menyanyikan lagu ini.


"...Cause it ain't easy to say. I wanna be more than friends..."


Dengan jelas, dia melihat Pandu mengisyaratkannya untuk mendekat.


Oh? Sepertinya Nana mulai paham maksud Pandu.


Tiba-tiba Nana berdiri dari duduknya dan berjalan menuju panggung. Dia mengambil pelantang dan mulai bernyanyi. Untung Nana tahu liriknya.


"At the risk of sounding foolish. I don't wanna fool around no more. So if we're gonna do this, then let's do this..."


Aksinya membuat suasana kembali riuh. Sorakan terdengar membuat suasana malam semakin hidup. Tidak menyangka mereka akan melihat duet dari dua sahabat itu.


Oh atau mungkin sudah berganti status?


Endri, Danisa, dan Shadam menjadi segelintir orang-orang yang langsung paham.


"I wanna be more than friends. I wanna tell everyone you're taken and take your hand until the end."


"I wanna be more than friends. I'm asking you to be my baby. I'm giving you my heart, don't break it."


Sorakan kembali heboh ketika melihat keduanya saling melempar pandangan. Apalagi tatapan Pandu yang sering kali tertuju pada Nana yang berdiri di sebelahnya.


"Akhirnya ya?" celetuk Endri.


"Udah resmi berarti?" Danisa menimbrung. Dia terlihat bersemangat. Terlihat dari senyumnya yang lebar dan matanya yang berbinar-binar.


"Sepertinya udah," Shadam menimpali. Dia duduk di sebelah Endri sambil menatap duo sejoli di atas panggung itu. "Akhir-akhir ini emang gerak gerik keduanya kelihatan beda. Apalagi kalau kalian lihat, mereka jadi cukup sering pakai asesoris yang serasi."


Endri dan Danisa mengangguk menyetujui ucapan Shadam.


"ADUHH... CIYE, CIYEE! BENERAN MORE THAN FRIENDS NIH?" seseorang berseru begitu Pandu dan Nana selesai dengan lagunya. Orang itu adalah Bagas.


Senyum terlukis di wajah keduanya.


"Yes. I'm her boyfriend," wajah Pandu terlihat bangga ketika mengonfirmasi hal itu.


"And I'm his girlfriend," sambung Nana dengan senyum yang memperlihatkan lesung pipinya.


Sontak teman-teman yang lain semakin heboh. Bahkan ada yang berteriak histeris—dalam konteks positif—mendengar pengakuan keduanya.


Meski sebagian besar sudah menduga kalau suatu hari mereka akan berakhir jadian, tetapi tidak menutup kemungkinan mereka bakal heboh saat fakta itu benar-benar terjadi. Bahkan sebagian lagi ada yang menduga kalau mereka memang sejak awal berpacaran.


Namun siapa sangka? Pasangan yang dinobatkan sebagai kandidat highschool sweethearts benar-benar canon.


Sebenarnya, selepas upacara kelulusan beberapa hari yang lalu, Pandu kembali nembak Nana sesuai janjinya. Dan tentu saja Nana langsung menerimanya.


Kisah mereka secara resmi mulai sejak hari itu.


Dan Pandu tidak akan semudah itu melepaskan Nana. Begitupun Nana.


.


.


.


Akhir pekan ini, Aylin dan Bimala sengaja menghabiskan waktu di tempat paman mereka. Lebih tepatnya rumah Nana. Terkadang keduanya memang suka berkunjung saat ada waktu luang.


Dulu memang sempat ditawari untuk tinggal saja di rumah paman mereka itu. Namun, Aylin dan Bimala menolak dengan halus. Mereka memilih tinggal di asrama kampus.


Di rumah Nana, ada juga Pandu yang datang main. Cowok itu tengah menemani kedua adik kembar Nana bermain. Sebuah pemandangan yang sudah biasa bagi Aylin dan Bimala. Keduanya tengah bersantai di ruang keluarga sambil menonton televisi ditemani dengan cemilan yang mereka beli sebelum ke sini.


Kebetulan juga hari ini adalah pengumuman hasil SBM yang sudah dilakukan kurang lebih sebulan lalu.


Saat ini jam sudah menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit.


"Nana! Pengumuman lima belas menit lagi!" Aylin berteriak memanggil Nana yang ada di dapur.


Terdengar suara berisik dari dapur. Sebuah panic yang tak sengaja jatuh. Lalu terdengar langkah kaki mendekat. Sosok Nana berlari dengan wajah yang panik.


Pandu juga ikut berjalan mendekat dan duduk di salah satu sofa single.


"Iya kah Mbak?"


"Siap-siap gih sana. Buka website-nya," ujar Aylin. Nana buru-buru menyalakan laptopnya yang memang sengaja dia taruh di meja.


Sebenarnya bisa dibuka tidak harus tepat jam lima sore. Bisa setelahnya. Namun, Nana ingin cepat berakhir rasa harap-harap cemasnya.


"Kau tadi ngapain? Suara pancinya sampai kedengeran sini," tanya Bimala.


"Mau bikin mi Mbak, tapi nggak jadi. Ini lebih penting," jawab Nana tanpa menoleh.


Keempatnya menunggu penuh harap. Terutama Nana. Cewek itu mantengin layar laptopnya sambil berulang kali melihat jam. Lima belas menit rasanya seperti satu jam.


Tepat pukul lima, Nana segera login dengan akunnya. Sempat gagal, membuat Nana mengerang frustasi.


"Sabar..." kata Bimala, "Banyak yang akses soalnya."


Setelah lima menit bergelut dengan usaha untuk masuk, akhirnya bisa juga. Semua pasang mata—kecuali si kembar yang asyik dengan dunia mereka—menatap ke layar.


"LOLOS!"


"YES! LOLOS!"


"Widih! Si bontot lolos SBM!"


"Akhirnya resmi jadi camaba UHW ya Na?"


Aylin dan Bimala terlihat bangga. Sementara Nana berteriak heboh saat melihat pengumuman kelulusannya. Dia sampai berpelukan dengan Pandu sambil berjingkrak-jingkrak saking senangnya.


Setelah eurforia cukup mereda, Nana bertanya pada kakak sepupunya.


"Berarti Mbak Alin udah nggak jadi panitia ya?"


Aylin menggeleng. "Iya. Lagian kalau masih pun aku nggak bakal ngospek kalian. Udah beda fakultas dan aku juga nggak ikut panitia univ."


"Kalian mungkin bakal ketemu Mala kalau dia join Tim Medis univ lagi."


"Ya... Kalau aku jadi join sih. Tapi juga belum bisa jamin bakal ketemu kalau nggak janjian. Soalnya pasti bakal hectic," ujar Bimala.


"Aku jadi kepo Mbak, penerus Mbak besok siapa?" tanya Nana lagi.


"Aku juga penasaran Lin," sahut Bimala.


Sementara Pandu tidak bersuara, tetapi dia juga ikutan penasaran.


"Bukan Frans?" tanya Bimala sekali lagi.


Aylin menggeleng. "Kemungkinan besar cowokmu itu bakal jadi ketua Ospek. Padahal kalau nggak ada kemungkinan itu, aku bakal nunjuk dia buat handle TPK FT."


"Terus siapa?"


"Hmm... ada lah pokoknya, lihat aja nanti. Nanti tahu sendiri," ujar Aylin sambil tersenyum misterius. Dia sudah memiliki kandidat kuat selain Frans untuk jadi ketua TPK FT tahun ini.


.


.


.


.


.


a.n.


selamat kepada Nana dan Pandu! akhirnya jadi camaba UHW :D


apakah bakal ada kisah mereka? i don't know. fokusku masih menyelesaikan plot utama.


maaf kalau ada istilah yang salah ya, i'll revise it later when i have time.


and congratulations again! akhirnya nggak kejebak friendzone terus. ada cukup banyak perubahan tentang scene Pandu-Nana tell the world about their relationship. awalnya nggak gini, tapi karena kusesuaikan dengan banyak hal, jadinya gini.


the third main couple is finally official. it took several side stories to make it happened :')


anyway, see you again on the main plot! ^^