Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Side Story: Monster



monster (n) an imaginary creature that is typically large, ugly, and frightening


.


.


Frans - Bimala


..


[minor editing | it's not the best chapter, but i'll revise it later | maaf kalau ada istilah yang salah | mention of song lyric]


.


.


.


Sudah beberapa hari ini Frans rela bolak-balik kampus-asrama-rumah sakit. Semenjak trauma Bimala kambuh dan sempat drop juga, cewek itu harus di opname selama beberapa hari. Makanya, Frans mendedikasikan dirinya untuk membantu menjaga Bimala saat dia tidak ada jam kuliah.


Padahal sebenarnya ada ibu Bimala, Gio, dan ayah Bimala. Namun, mereka selalu bergilir karena pekerjaan mereka yang tidak bisa ditinggal lama.


Sang ayah yang punya jadwal operasi yang cukup padat beberapa hari ini. Apalagi kalau ada tindakan darurat yang harus segera dilakukan.


Gio harus bolak-balik dari kantor ke rumah sakit. Apalagi saat ini mereka tengah menangani sebuah kasus pembunuhan yang cukup rumit. Mau tidak mau Gio harus stand by untuk melakukan pemeriksaan dan asesmen psikologis dari saksi dan pelaku.


Tersisa ibunya Bimala yang jadwal kerjanya sedikit lebih longgar. Jadi perempuan paruh baya itu yang lebih sering ada di rumah sakit.


Begitu kondisi fisik Bimala mulai membaik, keluarganya memutuskan untuk membawanya pulang. Meminta izin ke pihak fakultas kenapa Bimala belum bisa kuliah untuk sementara waktu.


Ibunya sendiri yang merawat Bimala atas arahan dokter Hasna, psikiatri yang menangani Bimala sebelumnya. Sesekali wanita itu juga akan datang berkunjung untuk mengecek langsung perkembangannya.


Tiap malam Bimala selalu dihantui mimpi buruk. Membuatnya selalu terjaga sepanjang malam. Waktu tidurnnya jadi sangat berkurang. Salah satu hal yang membuatnya malah jatuh sakit sampai harus dirawat.


Hal yang membuat Gio khawatir sampai membuatnya ditegur rekan kerjanya karena tak fokus.


Ketakutan Gio saat tahu kalau trauma adiknya kambuh benar-benar kejadian.


Di mana Bimala melukai dirinya sendiri.


Lagi.


Dia tahu karena ibunya yang memergoki luka-luka di tangan Bimala saat cewek itu tertidur. Wanita itu menangis-nangis karena sekali lagi dia merasa gagal.


Ayah Bimala sampai pulang ke rumah langsung tanpa istirahat setelah selesai melakukan operasi yang panjang. Keadaan putrinya jauh lebih penting sampai seolah menghapus rasa lelahnya.


Hampir dua minggu ini, lebih tepatnya sepuluh hari, Bimala tidak berangkat kuliah.


Pasha dan Maul datang menjenguk begitu selesai kuliah. Mereka datang menggunakan mobil Pasha. Keduanya membawakan makanan kesukaan sahabatnya, berharap Bimala mau makan. Memang nafsu makan Bimala menjadi berkurang. Sering melamun dan terkadang akan berteriak ketakutan kalau ditinggal sendirian di tempat yang cukup gelap sendirian.


Makanya, sejak kejadian waktu itu, Bimala lebih sering menyalakan lampu kamar ketika tidur. Pikirannya sering kemana-mana saat berada di tempat sepi, gelap, dan sendirian.


Kedua sahabat itu juga membawakan catatan materi selama Bimala tidak berangkat. Agar saat sahabatnya itu sembuh, Bimala bisa belajar dari catatan mereka. Mereka juga berjanji pada Bimala untuk membantunya mengejar materi yang tertinggal.


Kedatangan dua sahabatnya tak membuat perubahan berarti pada diri Bimala. Cewek itu lebih banyak diam dan melamun. Makanpun hanya beberapa suap. Itupun ketika Maul menyuapinya karena Bimala benar-benar tidak menyentuh makanan yang disajikan.


Benar-benar bukan seperti Bimala yang biasanya.


Selepas isya, Pasha dan Maul harus pamit kembali ke asrama. Mereka harus mempersiapkan diri untuk ujian anatomi di hari Senin. Sebelum pamit, mereka berpamitan pada sahabatnya.


Mereka memeluknya, seolah belum rela untuk pulang. Khawatir kalau Bimala membutuhkan mereka. Namun, ujian anatomi tidak bisa ditinggal membolos. Dosen mereka tidak menerima alasan lain kalau bukan benar-benar sakit.


"Bia, kami balik dulu ya?" kata Maul berpamitan, matanya sudah berkaca-kaca ketika hanya melihat diam saja. Menatap mereka dengan datar.


"Nanti pas kau udah sembuh, kita jalan-jalan, oke? Biar Pasha nanti yang nyetir mobil. Kita ke pantai favorit kita. Kayak dulu."


Pasha hanya mengangguk sambil tersenyum. Tak tahu harus berkata apalagi ketika melihat salah satu sahabatnya harus merasakan sakit itu lagi.


Bimala diam beberapa saat sebelum mengangguk pelan. Melihat hal itu membuat Maul tak kuasa lagi. Sekali lagi dia memeluknya sambil menahan isak tangisnya yang mulai tak terbendung.


Pasha dan Maul lalu pamit pulang. Meninggalkan Bimala kembali sendirian di kamarnya. Namun, dia bisa mendengar suara ibunya yang tengah memasak di dapur. Membuatnya sedikit merasa lebih tenang meski pikiran-pikiran itu berseliweran di kepalanya.


Pagi harinya, sang ibu harus ke rumah sakit lagi untuk bekerja. Awalnya begitu berat meninggalkan putrinya, tetapi untungnya Gio ada di rumah.


Cowok itu hari ini bisa izin tidak masuk. Kasus yang dia tangani sudah mendapatkan titik terang. Membuatnya sedikit bisa bersantai. Jarang-jarang dia bisa bersantai di hari Senin seperti ini.


Jadinya di rumah mereka, hanya ada Gio dan Bimala. Serta ART mereka yang membantu membersihkan rumah di pagi hari.


Kedua orang tua mereka sudah berangkat bekerja. Bahkan sang ayah sudah harus berangkat pagi-pagi buta karena ada panggilan untuk operasi darurat.


Saat Gio tengah membuat kopi untuk dirinya, seseorang datang berkunjung. Membuatnya heran karena siapa yang datang di Senin pagi. Tidak biasanya.


Setelah mengecek sebentar keadaan adiknya di kamar—Bimala tengah tiduran setelah dia meminum obatnya, Gio lalu berjalan ke pintu depan untuk membukakan pintu.


Siapa yang dia temui pagi ini adalah orang yang tak terduga. Namun, orang yang diharapkan bisa bertemu lagi.


Di depannya, kini berdiri sosok jangkung Frans yang membawa buket bunga dan buah-buahan—yang setelah Gio lirik sekilas adalah buah kesukaan adiknya.


Sejak terakhir mereka bertemu pertama kali di rumah sakit waktu itu, Gio belum ada kesempatan lagi bertemu dengan teman adiknya ini.


Dia hanya mendengar cerita ibunya yang memang beberapa kali bertemu saat Frans menjenguk Bimala lagi. Bahkan mendengar cerita tentang bagaimana cowok yang lebih muda mendedikasikan waktunya untuk sering bolak balik kampus-asrama-rumah sakit demi menjaga adiknya.


Dan yang terpenting adalah reaksi Bimala itu sendiri.


Membuat Gio semakin ingin bertemu lagi. Ada hal yang ingin Gio bicara empat mata padanya.


Setelah berbasa-basi sejenak, Gio akhirnya mempersilakan Frans masuk. Frans bisa tahu rumah Bimala dari Aylin. Gio juga sempat bertanya kenapa adik sepupunya itu tidak ikut dan Frans menjawab kalau Aylin ada praktikum yang tidak bisa ditinggal.


"Dan kau? Kau memangnya tidak ada praktik atau matkul lain?" tanya Gio dengan santai.


"Sebenarnya ada satu matkul hari ini, Mas. Tapi dosennya izin dan minta ganti hari," jawab Frans.


Gio mengangguk-angguk paham.


Kini mereka sampai di depan kamar Bimala yang memang pintunya sengaja dibuka.


"Aku tinggal dulu ke depan. Kalau ada apa-apa, langsung panggil aja," kata Gio lalu menepuk pelan bahu Frans sebelum berlalu pergi.


"Tolong pintunya tetap dibuka juga."


Frans mengangguk tanpa suara. Dia lalu mengalihkan pandangannya ke dalam kamar. Di mana Bimala tengah memejamkan mata. Sepertinya sedang tidur.


Dengan perlahan, Frans melangkah masuk. Menaruh buah tangan yang dia bawa di meja di dekat tempat tidur Bimala. Tak lupa menaruh tasnya di bawah, tak jauh dari tempat tidur.


Apa yang dikatakan pada kakaknya Bimala memang benar. Dia tadi memang awalnya ingin berangkat kelas pagi ini. Meski niatnya dia ingin membolos karena sudah beberapa hari ini dia tidak bisa menjenguk Bimala. Dia sibuk menyelesaikan laporan-laporan tugas kuliahnya yang menumpuk karena sudah terbengkalai tak tersentuh sejak Frans mengantar Bimala ke rumah sakit.


Frans bukan tipe orang yang rajin seperti Asep, sohibnya. Namun, dia juga terbilang berotak encer. Makanya dia sering memanfaatkan jatah empat hari untuk membolos.


Namun, semenjak mengenal baik Bimala, dia jadi lebih memperhatikan kuliahnya. Membuat sohib-sohib segengnya cukup terkejut dengan perubahan Frans. Terutama Haris.


Dan hari ini, sepertinya semesta merestuinya. Dosennya hari ini tidak bisa datang mengisi kelas hari ini karena ada keperluan mendesak. Lalu meminta kelasnya untuk mendiskusikan hari pengganti.


Begitu mendapat kabar itu, Frans lalu segera menghubungi Aylin untuk menanyakan alamat rumah Bimala. Tak lupa dia pergi ke toko bunga yang buka untuk membeli buket.


Jadilah dia di sini sekarang, duduk di sebelah tempat tidur Bimala. Memandang cewek yang tengah tertidur tenang itu dengan tatapan sendu.


Tangan kanannya terjulur perlahan, membelai lembut kepala Bimala.


"Bia..." bisiknya pelan. Matanya tak lepas dari sosoknya yang tertidur.


Ketika Bimala mengerutkan keningnya—entah apa yang diimpikannya—Frans mengusapnya dengan lembut. Membuat Bimala kembali tenang dalam tidurnya.


Ketenangan itu tak berlangsung lama. Bimala kembali mengerutkan keningnya. Matanya yang terpejam bergerak-gerak gelisah. Tangannya mencengkeram selimut dengan kuat.


Dia kembali mimpi buruk.


Frans buru-buru menggenggam lembut tangan kanan Bimala. Mengusapnya dengan ibu jarinya. Tangan kanannya yang bebas kembali membelai kepala cewek itu. Berharap bisa menenangkannya.


Nafas Bimala mulai memburu. Bibirnya terbuka tertutup, seolah-olah ingin berteriak keras. Keringat mulai berucuran di dahinya.


Berulang kali Frans berbicara lembut untuk menenangkannya.


Nafas Bimala mulai tersengal. Tiba-tiba dia membuka matanya dengan ekspresi ketakutan. Sontak dia berteriak tanpa suara.


"Tenang ya. Itu semua hanya mimpi," berkali-kali Frans mengatakannya. "Aku di sini. Frans di sini. Nggak perlu takut lagi ya?"


Pandangan cewek di depannya itu belum fokus. Frans tidak mau melakukan gerakan tiba-tiba yang bisa memperkeruh keadaan.


"Frans...?" pandangannya mulai fokus. Namun, nafasnya masih memburu. Jantungnya berdetak begitu kencang.


Bimala mulai merasakan kesadarannya kembali. Dia merasakan seseorang menggenggam tangan kanannya dan mengusapnya lembut. Dengan reflek, dia balas menggenggam tangan yang lebih besa darinya itu dengan erat.


"Aku di sini. Frans di sini..."


Pandangannya mengedar melihat dia di mana sekarang. Ini kamarnya. Iya ini kamarnya. Bukan gang sempit dan gelap itu lagi.


Dia menoleh dan mendapati seseorang yang tadi dia panggil namanya ada di dekatnya.


Orang yang juga tadi ada di dalam mimpinya.


Frans agak sedikit terhuyung ke belakang dengan gerakan tiba-tiba Bimala. Namun, dia berhasil menahan dirinya agar tidak jatuh dan membuat Bimala ikutan celaka juga.


Frans membalas pelukan itu. Tangan kanannya mengusap pelan punggung Bimala agar membuat cewek itu lebih tenang.


"Frans, Frans..." gumam Bimala kurang begitu jelas.


"Iya aku di sini. Frans di sini sama Bia," cowok jangkung itu berujar lembut.


Mereka berpelukan selama beberapa saat. Tak ada kata-kata yang keluar dari keduanya. Hanya terdengar isakan pelan dari cewek di dekapannya.


Bimala menangis. Sebuah isakan yang seperti sengaja ditahan agar tidak keluar dengan keras.


Cewek itu memang sengaja menahan tangisannya. Dirinya merasa lemah dan pengecut. Menyalahkan dirinya kenapa dia masih saja kalah dan ketakutan dengan ingatan kejadian waktu itu yang terputar kembali lewat mimpinya.


Bimala tidak mau menunjukkan sisi terlemahnya itu di depan Frans saat ini. Bahkan di depan Pasha dan Maul yang sebelumnya datang menjenguk.


"Bia," panggil Frans dengan lembut. "Kalau kau ingin menangis, menangislah. Tidak apa-apa. Luapkan saja semuanya biar kau bisa lebih lega."


Bimala menggeleng. Tetap dalam posisinya yang membenamkan wajahnya ke pelukan Frans.


Frans terlalu baik untuknya. Apa yang Bimala lakukan sampai bisa bertemu orang sebaik cowok itu?


Bimala tahu, Frans adalah orang yang sering menjenguknya di rumah sakit. Tanpa perlu ibunya bercerita dengan detil.


Membuatnya menjadi terbiasa dengan kehadiran Frans. Sayangnya, hal itu justru membuatnya takut.


Bahkan saat beberapa hari—yang baginya terasa lama—saat Frans tidak lagi mengunjunginya, Bimala merasa kesepian dan rasanya hampa. Namun, dia sengaja menyimpannya rapat-rapat dan memutuskan untuk menghiraukan perasaan itu.


Frans tidak harus mengunjunginya. Dia tidak ada kewajiban untuk melakukannya.


Meskipun kehadiran Frans membuat dia sedikit lebih tenang dan mimpi buruk itu berangsur tidak muncul. Bimala tetap akan menutup mulut rapat-rapat.


Sekali lagi, Frans tidak ada kewajiban untuk datang dan Bimala tidak ada hak untuk memintanya untuk terus datang.


Dia tidak pantas dengan semua kebaikannya.


Dan mungkin tidak seharusnya Frans berteman dengan orang tak punya hati sepertinya. Agar tidak jadi beban.


Dia akan melewati malam-malam dengan mimpi buruk dan bayangan gelap itu sendirian. Dia sudah banyak merepotkan banyak orang.


Dia akan menghadapi monsternya sendirian.


Namun, dia tahu dia tidak sekuat itu dan dengan keras kepala dia tetap melakukannya. Bertahan dengan menutup mulut dan mengunci hatinya rapat-rapat.


Sampai pada hari ini, pertahanannya mulai runtuh saat ternyata Frans datang lagi padanya. Dengan sisa-sisa pertahanan yang ada, dia menahan agar tidak menangis dan mengeluhkan semuanya kepada cowok itu.


Cowok yang kehadirannya entah kenapa selalu membuatnya merasa lebih tenang. Yang diam-diam selalu dia syukuri saat terbangun dari mimpi buruk dan melihatnya ada di dekatnya.


Dengan nyata dan bukan sekedar halusinasinya.


.


.


.


Bimala kembali tertidur. Kali ini jauh lebih tenang dari sebelumnya. Gio tadi juga sempat mampir sejenak ke kamar untuk mengantarkan makanan dan minuman untuk Frans dan Bimala.


"Nanti, minta Bimala buat makan saat dia bangun," pesan Gio. "Dan bisa kita bicara sebentar? Ada hal yang ingin kusampaikan."


Frans mengangguk. Meski merasa agak tidak rela meninggalkan Bimala tertidur sendirian di kamar—dia khawatir kalau Bimala terbangun dan Frans tidak ada di sisinya.


"Kau nggak perlu khawatir. Pembicaraan kita hanya sebentar. Kita bicara di ruang tv jadi kau masih bisa memantaunya dari sana," seolah mengetahui kekhawatiran Frans, Gio berujar demikian.


Hal yang kembali menguatkan dirinya kalau dia memang harus berbicara empat mata pada teman adiknya ini.


Mereka lalu sampai di ruang tv, sebuah ruangan dengan sofa, karpet, meja rendah, rak buku, dan televisi. Ruangan yang memang didesain hanya untuk bersantai menonton televisi dengan keluarga. Dari sini, Frans bisa melihat pintu kamar Bimala yang memang sengaja di buka.


"Langsung saja ya," Gio memulai. Nada bicaranya terdengar serius. Membuat Frans cukup was-was apa yang ingin dikatakan dari kakak Bimala itu.


.


.


.


Frans kembali ke kamar Bimala dengan pikiran yang berkecambuk. Memikirkan perkataan Gio tadi.


Cowok itu mendudukkan dirinya di kursi dekat tempat tidur Bimala. Di sana, Bimala masih tertidur pulas dengan tenang. Lingkaran hitam di bawah mata Bimala terlihat jelas. Menandakan kalau beberapa hari ini kalau waktu tidurnya sangat berantakan. Ditambah mimpi-mimpi buruk dan bayangan kejadian dulu yang menghantuinya.


Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas siang. Makanan yang sebelumnya disiapkan Gio untuk Bimala belum tersentuh. Masih tertutup rapi di nakas dekat tempat tidur.


Frans termenung di tempatnya. Matanya menatap cewek yang tengah tertidur itu dengan pandangan menyendu.


Dengan perlahan, dia meraih telapak tangan kanan Bimala dan menggenggamnya.


Kali ini, dia bisa melihatnya dengan jelas secara langsung. Lengan panjang baju yang Bimala pakai tersingkap. Memperlihatkan beberapa bekas luka yang sudah mengering dan bahkan ada yang menyisakan bekas samar.


Kenapa dia tidak menyadarinya selama ini?


"Bia... apa yang terjadi padamu sebenarnya?" gumamnya.


Hatinya berdenyut sakit. Seperti digores oleh belati yang tajam. Dia merasa matanya memanas.


Dia tidak bisa melihatnya seperti ini. Bia, kau kenapa?


Perkataan Gio kembali terngiang di kepalanya.


"Aku tahu aku udah berhutang budi padamu. Tapi bisakah aku meminta satu hal lagi? Aku memohon padamu. Tolong jaga adikku. Mungkin aku terdengar seperti kakak yang nggak becus saat ini. Tapi aku udah nggak tahu harus apa lagi. Aku nggak bisa 24 jam menjaganya karena aku juga udah berjanji pada diriku sendiri dan adikku. Tolong jaga dia, aku nggak bisa melihatnya terluka lagi. Aku memohon padamu."


"Aku bisa melihatnya. Caramu menatap adikku bukan seperti seorang teman pada temannya. Dan aku bersyukur adikku bertemu sama orang yang tulus peduli padanya. Terima kasih..."


"Mendengarnya selalu mimpi buruk hampir tiap malam membuatku sedih. Apalagi saat dia selalu berusaha menutupinya dengan kata baik-baik saja. Aku merasa gagal melindunginya. Lalu ada kau. Bia nggak pernah dekat sama cowok lain selain Pasha sama teman Alin dan Nana. Membuatku berpikir, apa yang kau lakukan sampai membuat Bia terbuka padamu? Dan caramu memperlakukan Bia membuatku kembali berpikir, mungkin kau memang pengecualian."


"...Frans, Bia sedang tidak baik-baik saja. Sejak kejadian itu, Bia bukan lagi dirinya yang dulu. Dia jadi lebih tertutup dan melukai dirinya sendiri. Jadi kumohon padamu, jangan sakiti dia. Dan saat kau merasa jenuh berteman dengannya, tolong bilang langsung padaku saja..."


Dan perkataan lain yang membuat perasaan Frans semakin campur aduk.


Namun, ada dua hal yang sangat dia yakini. Yang pertama, tentu saja dia akan menjaga Bimala. Bahkan tanpa Gio minta pun, dia akan tetap melakukannya.


Yang kedua, bagaimana bisa dia akan merasa jenuh dengan Bimala? Sedangkan semakin hari dia merasa hampa saat dia tidak bertemu dengan cewek itu.


Merasa sakit saat melihatnya terluka dan menangis.


Perasaan aneh yang semula hanya memercik kecil karena rasa nyaman dan penasaran, kini justru semakin membesar. Semakin tak terbendung.


Dia sadar, perlahan tapi pasti, Frans jatuh hati pada Bimala.


Mungkin sejak Bimala dengan berani merebut rokok yang dia nyalakan dan membuang ke tanah lalu menginjaknya—yang mungkin orang lain tidak akan berani melakukannya. Kemudian cewek itu menyindirnya dengan tajam yang untuk orang lain akan merasa tersinggung atau sakit hati dengan perkataannya. Kejadiannya saat mereka baru beberapa kali bertemu dan keduanya belum terlalu kenal. Hanya sebatas teman dari Pasha.


Lalu tanpa sadar, sejak saat itu, Frans mulai memperhatikannya dan tanpa sadar dia jadi jarang merokok. Padahal Frans termasuk perokok berat.


"I see your monster, I see your pain. Tell me your problems, I'll chase them away..."


Frans mulai bersenandung lirih saat melihat Bimala mulai tidak nyaman dengan tidurnya. Iangannya bergerak membelai rambut Bimala dengan lembut dan satunya lagi menggenggam telapak tangan kanan Bimala sambil mengusapnya.


"I'll be your lighthouse, I'll make it okay. When I see your monsters, I'll stand there so brave and chase them all away..."


Frans terus bersenandung lembut sambil melakukan gestur menenangkannya. Dia tahu Bimala bermimpi buruk lagi. Cewek itu menolak meminum obat tidur meski sudah ada resep dokter.


Perlahan, kening Bimala yang semula mengkerut kembali seperti semula. Ekspresi wajahnya kembali tenang. Seolah mimpi buruk itu tidak terjadi.


"Apapun yang terjadi Bia, aku akan tetap di sini," bisiknya. "Kau nggak akan sendirian lagi. Kita hadapi monsternya sama-sama ya?"


.


.


.


.


.


a.n.


maaf kalau ada istilah atau hal yang salah karena aku belum riset lebih mendalam. sekali lagi aku bukan anak kedokteran atau dokter, jadi maaf kalo ada yg kurang tepat. let me know dan aku akan segera merevisi nya


btw lagu yg dinyanyikan frans itu punya katie sky - monster


jadi di sini udah jelas kalau frans jatuh lebih dulu. tinggal bagaimana dia mengejar bimala dan meyakinkannya 🤭


latar waktu side story ini adalah saat mereka di tahun pertama.


so see you? part depan sepertinya masih side story