![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
girl talk (n): conversation between women or girls, typically about subjects considered to be uninteresting to or inappropriate for men
.
.
.
[minor editing, part panjang, mostly dialogue. kejadiannya jauh sebelum mengurusi Ospek]
.
.
.
Mumpung ada libur tanggal merah dan akhir pekan, Bimala memutuskan untuk mengajak para cewek jalan-jalan. Para cewek yang diajak ada Aylin, Rima, Maul, dan tentu saja si bontot Nana.
Bimala sengaja memang memanfaatkan waktu libur akhir pekan yang panjang untuk sejenak lepas dari tugas-tugas kuliahnya. Semester dua di Kedokteran mulai membuatnya suntuk dan pusing dengan banyaknya materi yang harus dihafal dan dipelajari.
Ini masih semester dua, masih belum ada apa-apanya dengan semester berikutnya. Apalagi ketika saatnya harus magang dan koas. Namun, Bimala tetap tidak mau menyiksa dirinya dengan terus menerus berkutat pada buku-buku kedokteran yang tebal-tebal.
Itulah sebabnya dia mencetuskan ide untuk hari ini waktunya girls time. Maul, sahabatnya, langsung setuju dengan ajakan Bimala. Cewek bertubuh mungil itu sudah mengeluh pusing dengan banyaknya tugas yang harus diselesaikan. Butuh hiburan dan refreshing.
"Kita mau ke mana?" tanya Aylin. Cewek itu datang bersama Rima. Mereka tengah berkumpul di dekat Wisma UHW yang dekat dengan Fakultas Olahraga. Sekarang masih pukul delapan pagi kurang beberapa menit. Sengaja berangkat pagi agar bisa puas jalan-jalannya.
"Taman Sari yuk! Sama keraton," ajak Bimala, "Habis itu ke Amplaz. Nggak usah beli-beli, kita lihat-lihat aja. Tapi kalau ada yang mau beli sih nggak masalah. Sama mampir ke gerai makanan yang baru buka. Katanya menu di sana enak dan tempatnya cocok buat nongkrong. Kita pesan buat barengan aja. Habis dari sana, kita muter-muter Jogja aja, terserah kemana nanti kesepakatan aja. Naik TJ atau becak kayaknya seru tuh. Finalnya kita ke Malioboro."
Sepertinya Bimala benar-benar sudah merencanakan agenda mereka hari ini.
"Aku ngikut aja," kata Aylin.
"Bolehlah. Rasanya udah lama nggak keliling Jogja," kata Maul.
"Gaskan! Aku kapan ya terakhir muter-muter kota Jogja?" Rima mencoba mengingat-ingat. "Pas masih semester satu kalau nggak salah."
"Oke sip! Tinggal nunggu si bontot," Bimala mengecek ponselnya untuk melihat jam.
"Kok belum ke sini ya itu anak."
Tidak lama kemudian, Nana datang diantar oleh Pandu.
"Aduh aduh aduh... diantar sama sahabat-nya toh," komentar Bimala dengan nada menggoda.
"Apaan sih Mbak," sahut Nana dengan sewot. Dia lalu menyerahkan helm-nya ke Pandu. "Wong Pandu aja sekalian mau kerkom sama kelompoknya kok!"
"Heleh. Tenane?" cibir Aylin. [yakin?]
"Iyaaa Mbak..." jawab Nana.
"Duluan ya Na, kalau ada apa-apa kabari aja," kata Pandu kepada Nana yang dibalas acungan jempol. Kemudian mengalihkan perhatiannya ke Bimala dan yang lain.
"Mari Mbak..." setelah berkata demikian dan mengangguk dengan sopan, Pandu lalu berlalu pergi.
"Yakin itu bukan pacarmu?" tanya Maul sangsi.
"Iya Mbak," jawab Nana.
"Beneran nggak tuh?" kali ini Rima yang bertanya.
"Beneran Mbak!" Nana sudah mulai gemas sendiri.
"Iyain aja deh," kata Bimala pada akhirnya.
"Kita berangkat sekarang aja yok!"
Akhirnya, mereka menggunakan TJ alias Trans Jogja untuk pergi ke Taman Sari. Mereka memang sengaja tidak menggunakan kendaraan pribada karena pengen bisa lebih merasakan rasanya jalan-jalan dengan kendaraan umum.
.
.
.
Setelah muter-muter di Taman Sari sekaligus foto-foto di sana, kelima cewek itu akhirnya sampai di Ambarukmo Plaza alias Amplaz setelah naik TJ dan berjalan kaki. Cukup random memang karena Taman Sari dan Ambarukmo itu berlawanan arah.
Taman Sari di Patehan yang masuk wilayah kraton. Sementara Amplaz ada di Sleman dan lebih dekat arahnya kalau dari UHW.
Sesampainya di Amplaz, Nana mengajak mereka untuk nonton film. Mumpung lagi di sini katanya. Ajakan Nana disetujui oleh yang lain. Lalu, mereka memutuskan untuk menonton film kartun yang belum lama ini dirilis.
Setelah puas menonton film, mereka lalu mencari makan ditempat yang dikatakan Bimala sebelumnya.
Nama tempat makannya adalah "Kitorang Indonesia" yang menyediakan masakan khas daerah di seluruh Indonesia. Di sana juga cukup lengkap menunya. Mulai dari Sabang sampai Merauke ada. Tidak hanya menu utama yang dijual, tetapi ada banyak macam hidangan penutup dari berbagai daerah. Harga terjangkau dan suasana yang terlihat tradisional dan disediakan tempat nongkrong membuat tempat itu cukup ramai.
"Adem ya di sini rasanya," celetuk Maul saat mereka tengah menunggu pesanan. Sesuai kesepakatan bersama, mereka memilih meja di tempat nongkrong.
"Hooh," Rima mengangguk setuju. "Idenya boleh juga gabungin konsep kekinian sama tradisional. Apalagi pakai menu andalannya dari Indonesia. Biasanya tuh kebanyakan pakai menu-menu hidangan luar negeri."
"Mah bagus nggak sih?" timpal Aylin. "Secara nggak langsung ngajak buat cintai produk dalam negeri. Mana tadi tak lihat tampilan menunya keren-keren."
"Aku suka kalau harganya murah terus porsinya banyak," kata Bimala.
"Semua orang juga mau kali," sahut Maul.
"Tapi jujur ya, aku tadi sempet lihat menu di meja lain emang porsinya nggak mengecewakan. Dan sesuai sama gambar. Semoga aja rasanya juga oke," tambah Maul.
Tidak berapa lama kemudian, menu pesanan mereka datang. Mereka hanya memesan menu seafood untuk dibagi bersama. Sedangkan mereka kebanyakan memesan menu desserts dan minuman.
"Wiiih... gila sih ini. Untung ya kita pesannya buat barengan," komentar Rima ketika melihat menu utama mereka. Mereka sengaja memesan menu dengan porsi jumbo untuk barengan. Dan yang datang memang tidak mengecewakan. Malah agak diluar perkiraan.
"Na, ponselnya simpen dulu," ucap Aylin pada Nana yang sejak tadi sibuk bermain ponsel. Entah apa yang dilakukannya.
"Hayoo... pasti habis chatingan sama Pandu," goda Bimala.
"Apaan sih Mbak Mala! Gaje," tukas Nana dengan sewot tetapi tetap menuruti Aylin untuk menyimpan ponselnya.
"Oh iya," Rima memulai setelah hening beberapa saat. Mereka tengah menikmati makanan mereka.
"Nana itu SMA kan ya?" tanya Rima.
"Iya Mbak," jawab Nana.
"Kelas berapa?"
"Kelas sebelas Mbak Ma. Tahun depan udah kelas dua belas."
"Wah... bentar lagi mau lulus dong. Mau lanjut kuliah atau kerja?" tanya Rima sekali lagi.
"Kuliah Mbak. Pengen di UHW kayak Mbak Mala sama Mbak Alin, hehe..."
"Ambil jurusan apa nanti?" Maul ikut menimbrung.
"Belum tahu," jawab Nana sambil berpikir. "Banyak yang nyaranin buat di FO aja. Tapi aku juga pengen ambil jurusan Musik."
"Olahraga itu masuk jurusan SAINTEK kan ya?" Maul memastikan. "Berarti Nana nanti ambil tesnya yg IPC."
IPC itu Ilmu Pengetahuan Campuran. Camaba yang tes dengan IPC biasanya lintas jurusan. Karena Nana anak IPS, berarti dia tesnya ambil IPC. Namun, boleh-boleh saja langsung ambil SAINTEK dengan resiko belajar IPA dari awal.
"Tapi kayaknya ada deh jurusan di FO yang terbuka semua jalur. Yang prioritas dari SAINTEK itu kayaknya yang kepelatihan," kata Rima.
"Tapi nggak tahu juga ding," Rima menambahkan sambil mengangkat kedua bahunya. "Cari-cari info aja sih kalau itu."
"Masih ada waktu buat milih jurusan. Yang penting rajin-rajin aja belajar buat persiapan," kata Aylin. "Jangan lupa doa juga. Orang yang pinter bisa kalah sama yang bejo."
"Mbak Rima dulu masuk jalur apa?" tanya Nana. "Kalau Mbak Mala SBM, Mbak Aylin SNM, sama Mbak Maul SM apa ya?"
"Aku juga SBM. Bersyukur banget dulu, padahal udah hampir nangis sama nyerah karena aku nggak bisa ngerjain soalnya. Eh tahu-tahunya lolos SBM. Nggak nyangka banget," jawab Rima.
Maul mengangguk. "Iya aku dulu SM Prestasi."
"Eh, kau SM? Baru tahu aku," kata Aylin.
"Iya dia. Pas SBM nggak lolos. Tapi keren sih Maul, dia juga dapat beasiswa penuh," sahut Bimala.
"Keren," kata Aylin. "Sama kayak Rima berarti dapat beasiswa."
"Iya, tapi nggak full. 65% apa ya, lupa aku," Rima menimpali. "Soalnya pas keterima di UHW, mamaku masih single parent. Kalian tahu sendiri kan ya, selain Kedokteran, Teknik itu juga mayan mahal buat golongan UKT-nya."
Setelah selesai menghabiskan menu utama, kini mereka beralih ke dessert dan minuman yang dipesan.
"Eh iya, Mbak Rima kan saudaranya Mas Nopal kan ya?" Bimala memastikan.
"Eh beneran?" Maul baru tahu soal fakta ini. Cewek itu belum lama juga mengenal Rima dan tidak terlalu dekat.
Rima mengangguk. "Iya. Saudara tiri."
"Eh?" Nana agak terkejut. Walau dulu pernah diceritakan soal ini, tetapi dia tidak terlalu mendengarkan.
"Terus gimana Mbak?"
"Ya nggak gimana-gimana?" Rima mengangkat sebelah alisnya.
"Emang mau gimana?" sambungnya.
"Ya... itu. Jadi saudara tirinya Mas Nopal. Kan Mbak Rima sama Mas Nopal udah dewasa semua," kata Nana agak ragu.
"Maksud si bontot itu canggung nggak kalian. Soalnya ketemu gede kan. Kayak di drama-drama gitu, ada konfliknya," Bimala memperjelas ucapan Nana. [besar/ dewasa]
"Nah! Itu maksudku," tukas Nana. "Soalnya kalau di novel-novel itu kan biasanya nggak akrab, musuhan, sama nggak terima gitu."
Rima terkekeh pelan. "Yakali! Kadang realita itu lebih sederhana daripada di novel atau drama yang ribet. Sebelum Mama nikah sama Bapak, ayahnya Nopal, aku udah kenal dekat sama si Nopal. Akrab lah kita. Pas ortu nikah, emang awalnya kita agak canggung gitu. Tapi aku sama Nopal sepakat kalau kita bersikap biasa aja, cuman ganti status jadi saudara bukan cuman sahabat. Toh akhirnya kita enjoy aja jadi saudara tiri. Malah lebih dekat dan paham satu sama lain."
"Dan jujur ya, kalau ada yang tanya kriteria cowok yang kusuka, aku jawab yang kayak Nopal. Soalnya Nopal itu ngingetin aku sama almarhum ayah. Mereka punya banyak kesamaan. Bedanya, mungkin di olah raga kesukaan sama makanan. Aku juga pernah bilang gini ke Nopal, dan dia nggak masalah. Malah kadang nanya soal ayah dulu gimana. Sebaliknya aku juga kadang nanya soal ibunya Nopal. Jadi lebih ke sibling bonding malahan. Nopal udah kayak kakak, eh adik sih lebih tepatnya, soalnya tua aku tiga bulan," lanjutnya.
Almarhum ayahnya Rima dulu adalah seorang pelatih karate dan wirausaha. Itulah sebabnya Rima jago dan bahkan jadi atlet karate karena sudah berkecimpung sejak SD. Almarhum ayahnya asli Jogja, sementara ibunya asli Solo. Jadi Rima dulu memang sempat tinggal di Jogja sebelum pindah karena ayahnya meninggal dan kemudian ibunya kerja.
Di lain sisi, ayah Naufal merupakan seorang PNS dan almarhumah ibunya adalah ibu rumah tangga. Ayah Naufal dan ibunya Rima bertemu ketika ada urusan pekerjaan. Naufal dan Rima memang tidak terlalu ambil pusing soal pernikahan kedua orang tua mereka. Asalkan keduanya bahagia dan tidak melupakan anak-anaknya, tidak masalah. Toh orang tua mereka yang telah meninggal pasti tidak suka kalau melihat pasangannya berlarut dalam kesedihan.
Intinya move on dan mengenang apa yang telah berlalu.
Pada akhirnya, Rima punya kesempatan sekali lagi mendapat figur seorang ayah. Bahkan saudara. Begitupun dengan Naufal dan terutama adiknya, Aziz, punya kesempatan mendapat kasih sayang seorang ibu. Orang tua mereka juga tidak pernah membeda-bedakan. Walau memang, tidak akan menggantikan orang tua kandung yang telah lama meninggal, setidaknya perasaan itu masih sama.
"Jadi, kalau kau punya pacar, kriterianya yang seperti Mas Nopal?" tanya Maul penasaran.
Rima tertawa mendengarnya. Lalu menjawab, "Nggak juga sih."
"Malah aneh kalau dipikir-pikir. Kriteria seperti Nopal sama almarhum ayah itu ya idealnya menurutku. Tapi, kalau disuruh milih, aku tetap memilih yang agak berbeda yang penting aku sama dia itu nyambung sama nyaman. SMA dulu punya pacar dan karakternya jauh beda dari si Nopal. Dan kuakui, lebih prefer seperti pacarku itu, haha!" katanya sambil tertawa ringan.
Namun, Aylin bisa melihat ada sedikit gurat kesedihan ketika Rima berbicara soal pacarnya. Entah apa yang terjadi, Aylin akan menanyakannya nanti saat Rima mau bercerita.
"Ih ternyata Mbak Rima udah pernah punya pacar," celetuk Nana. "Beda dong sama Mbak Alin yang jomblo dari lahir."
"Heh!" seru Aylin tidak terima. Namun, memang kenyataannya dia belum pernah pacaran. Hidupnya terlalu lempeng kalau kata Bimala.
"Hahaha...!" Rima tertawa mendengarnya.
"Oh ya Mbak Lin, misal nih ya misal, kalau punya pasangan atau pacar gitu pengen yang kayak gimana?" tanya Maul penasaran.
"Apa dari militer juga? Kayak ayahnya Mbak Alin."
"Nggak," jawab Aylin dengan cepat. "Seandainya aku punya pasangan, aku nggak mau yang latarnya militer. Udah cukup bapak aja. Sama simbah kakung."
"Lah, kakek kalian bertiga itu dari militer juga?" tanya Rima tidak percaya.
"Iya, veteran," Bimala menjawab. "Simbah dulu pejuang. Beda lagi kalau almarhumah simbah putri. Malah mbah putri dulu guru tari sama sinden. Kontras banget ya?"
"Nggak kelihatan kalau veteran, hehehe..." kata Rima.
"Emang sih," sahut Nana. "Aku juga dulu mikirnya simbah malah mantan guru atau petani biasa."
"Balik ke Alin," kata Rima akhirnya. "Kenapa kau nggak mau punya pasangan dari militer? Kan keren tuh. Sama apa ya kalau TNI ngegombal..."
"Oh! Negara aja aku jaga apalagi kamu... Hahahaha...!"
"Ish!" Aylin berdecak sebal.
"Nggak ah. Aku pengen punya pasangan yang orang biasa, yang bukan dari militer," katanya. "Aku kayaknya nggak bakal sebaqoh ibuku kalau masalah LDR."
"Oh ya? Bakal sering ditinggal-tinggal ya buat bertugas?" sahut Maul.
Bimala mengangguk. "Iya lah. Dulu pas SD sama SMP apa ya, aku aja jarang banget lihat Paklik. Apalagi Alin kan yang jelas-jelas anaknya. Terus pernah dapat cerita dari Bulik dulu kalau Alin sempet ngerasa asing sama bapaknya sendiri, hahaha..."
"Lah ibu cerita?" tanya Aylin ke Bimala.
"Hooh, aku lupa kapan. Tapi lucu aja gitu haha...! Padahal ayahku juga sering jarang di rumah karena ada jadwal operasi sama ngisi seminar. Apalagi si bontot kan sering ditinggal terbang mulu. Tapi nggak separah Alin."
"Ya kan paling nggak Pakde nggak sampai bertahun-tahun. Dan mesti sering ketemu juga meski bentar. Paklik juga," tukas Aylin.
Ayahnya Bimala itu seorang dokter bedah yang jadwalnya memang terbilang padat. Kalau ibunya dokter umum dan punya klinik di rumah. Jadi sering ketemu Bimala dan kakaknya. Sedangkan ayah Nana seorang pilot maskapai penerbangan. Jadi memang sering bertugas di luar.
Persamaan ketiga sepupu itu adalah ayah yang jarang berada di rumah karena urusan pekerjaan.
Kejadian yang dikatakan Bimala itu terjadi waktu Aylin kelas enam SD mau masuk SMP. Setelah bertahun-tahun bertugas di luar negeri, ayahnya Aylin pulang ke rumah. Dulu belum ada whatsapp jadi biaya telepon atau SMS ke luar negeri itu mahal.
Dan Aylin yang waktu itu terbiasa dengan adanya ibu dan kakeknya jadi sangat canggung tiba-tiba ada ayahnya di rumah. Butuh berhari-hari untuk Aylin bisa dekat dengan ayahnya lagi.
Untungnya, ayah Aylin ditugaskan di daerah yang tidak jauh dari rumah setelah itu. Jadi, masih bisa cukup sering pulang.
"Eh, bisa gitu ya?" komentar Maul. "Tapi sama ayahmu deket nggak? Atau tetap canggung?"
"Deket kok," jawab Aylin.
"Alin kan anak bapak," tambah Bimala sambil mengerling jahil ke arah Aylin. "Sering qtime bareng kalau kata Bulik. Apa-apa ke bapak seringnya."
"Ish!" Aylin berdecak sebal. Namun, tidak menyangkalnya.
"Syukur deh Lin, haha!" kata Rima. "Tapi dulu kesan pertama ketemu ayahnya Alin tuh nggak kelihatan kalau tentara. Serius! Apalagi punya pangkat mentereng."
Maul mengangguk setuju. Cewek itu pernah bertemu juga waktu ikut Bimala main ke rumah Aylin.
"Lah si Paklik emang kayak gitu orangnya. Iya nggak Lin?" dibalas anggukan oleh Aylin.
"Bapak itu orangnya nggak suka nunjukin kalau dia itu abdi negara. Kalau pas nggak pakai seragam atau orang yang nggak kenal sama bapak, sering pada salah sangka."
"Wihh... keren ya?" komentar Rima."Eh tapi kok tadi nggak mau punya pasangan seperti ayahmu?"
"Yang aku nggak mau itu yang latar belakangnya militer. Tapi kalau segi sifat atau karakter ya yang mirip-mirip bapak lah, sederhana sama punya komitmen orangnya," jawab Aylin.
"Aamiin deh. Semoga aja Mbak Lin, hehe," Maul mengaminkan.
Mereka lalu mengobrol ringan ngalor ngidul. Membahas hal-hal random lain yang terbesit di kepala, [ke utara ke selatan, maksudnya di sini ngobrol apa saja random]
Sampai pada akhirnya, Rima bertanya soal hubungan Bimala dengan Frans.
"Gimana hubunganmu sama Frans?"
"Hmm... baik-baik aja kok," jawab Bimala. "Apa ya? Agak susah buat nyari kata yang pas."
"Frans nggak kurang ajar kan?" tanya Aylin memastikan. Dia tahu betul seorang Bimala yang tersembunyi dibalik sikapnya yang ceria.
"Nggak!" sahut Bimala cepat. "Kalau ditanya siapa cowok terbaik versi aku setelah ayah sama Mas Gio, aku bakal jawab Frans."
Mas Gio adalah kakak Bimala. Beda dari kedua orang tuanya yang dokter dan Bimala yang kini sedang belajar kedokteran, Gio lebih memilih menjadi seorang polisi. Cowok itu juga lulusan sarjana Psikologi UHW.
"Frans itu... beda deh pokoknya dari mantan-mantanku dulu. Dia selalu memperlakukanku dengan sangat baik. Menghormatiku sebagai seorang cewek. Idaman banget pokoknya. Dia juga nggak pernah neko-neko. Percaya atau nggak, selama bareng Frans, hal yang romantis itu pas kita gandengan tangan. Itu aku merasa udah cukup. Every moment with him is special..." lanjutnya dengan pandangan seperti orang yang pertama kali jatuh cinta.
"Pengen banget bisa last sama Frans. Sampai nikah, menua bareng, karena aku merasa he's the one for me."
Perkataan Bimala diaminkan oleh keempat yang lain.
Aylin yang melihat dan mendengar hal itu merasa lega. Dia tahu kalau juniornya itu adalah cowok yang baik meski luarannya terkesan badboy. Jujur, awalnya Aylin sempat khawatir saat tahu Frans dan Bimala menjalin hubungan. Dia takut Frans akan sama seperti mantan-mantannya Bimala dulu. Atau Bimala sendiri yang menyakiti Frans.
Namun sekarang, di merasa plong. Apalagi seorang Bimala sampai bilang mau nikah dengan Frans! Seorang Frans bisa membuat seorang Bimala tobat. Dan Aylin hanya bisa berdoa semoga mereka berdua bertahan sampai maut memisahkan. Kalau perlu sampai jannah.
"Aku sampai sekarang masih cukup kaget, kalau Frans itu bucin banget ternyata," Rima berkomentar. Ekspresinya terlihat tak habis pikir.
"Bener banget!" tukas Maul dengan bersemangat. "Tiap kali Frans ngapel ke FK buat ketemu Bia, keuwuan menyebar. Bau banget woy!"
"Ih aku juga pernah ketemu Mas Frans ini. Tinggi banget dan kayaknya lebih tinggi dari Pandu yang jelas-jelas bongsor. Tiap kali Mas Frans menatap Mbak Mala itu kayak tatapan memuja," Nana menambahkan. "So sweet. Jadi pengen punya pacar kayak Mas Frans, hehehe..."
"Iri bilang kawan!" Bimala berujar dengan pongah. Bangga sebagai orang yang dicintai Frans.
"Heleh!" cibir Aylin melihat sepupunya yang songong.
"Ul, kau kok betah sih temenan sama Bimala?" tanya Rima ke Maul.
"Ya karena aku cakep, pinter, baik hati, dan rajin menabung," belum sempat Maul membuka mulut, malah Bimala yang menjawab duluan.
"Ih, Mbak Mala narsis banget!" komentar Nana geli. Sementara Aylin hanya memutar kedua matanya jengah. Kumat deh itu anak. Untung masih mending daripada Budi.
"Hei Bia, aku tanya ke Maul. Bukan ke situ," kata Rima.
"Tapi aku mewakili Maul. Bener kan Ul?"
"Nggak," jawab Maul singkat. "Aku terpaksa temenan sama dia, Mbak Rima."
"Haiiss... jangan tsundere gitu~" goda Bimala.
"Heh! Siapa yang tsundere?!" tukas Maul galak.
Maul lalu menghela napas. Lalu menjawab pertanyaan Rima dengan lebih jawaban sebenarnya.
"Ya gimana ya Mbak, kita udah temenan dari SD soalnya. Mana tetangga juga dulu sebelum Bia pindah rumah. Meski pindahnya juga nggak jauh-jauh amat," kata Maul.
"Intinya, dari SD itu aku emang udah sering main sama Bia. Terus pas SMP ketambahan Pasha. Sejak saat itu kita bertiga jadi sobat kentel hahaha! Terus pas SMA kita komitmen sama-sama buat daftar Kedokteran UHW, jadi dokter bareng. Aku karena cita-cita dari kecil sih pengen jadi dokter. Dokter anak lebih tepatnya. Si Bia katanya termotivasi ortunya. Terus kalau Pasha dia malah aneh. Pas diajak buat ambis daftar Kedokteran dia iya-iya aja, kayak nggak ada beban."
"Tapi Pasha itu emang pinter sih," Bia menambahkan. "Nggak tahu gimana bisa orang modelan kayak dia bisa sepinter itu."
"Pernah nggak Mbak ada yang cinlok gitu diantara kalian bertiga?" tanya Nana dengan penasaran.
"Pernah," jawab Bimala singkat dan diiyakan oleh Maul.
"Pasha pernah suka Bia. Tapi habis itu nggak karena malah merasa kayak incest jadinya, haha. Itu kata Pasha sih," kata Maul.
"Hahaha! Lagian aneh-aneh aja. Meski kadang sengklek, Pasha itu udah kuanggap kayak keluarga gitu. Sama kayak Maul," Bimala menambahkan.
"Oh.. brotherzone jadinya. Eh, bukannya kalian satu sekolah sama Alin?" tanya Rima lagi.
Bimala, Maul, dan Aylin mengangguk.
"Adik kelasku mereka bertiga itu," kata Aylin. "Mana mereka yang paling rusuh di angkatan mereka lagi. Jadi bahan omongan angkatanku karena ada aja tingkahnya."
"Hehehe peace Mbak Lin," ujar Maul sambil meringis sedikit merasa bersalah saat mengingat tingkah mereka bertiga dulu. Kalau bukan karena Pasha dan Bimala yang jadi otaknya menyeret Maul untuk ikut, mana mau Maul berbuat ulah.
"Daripada Alin yang kerjaannya ngambis doang," ejek Bimala. "Sama jadi DPT galak pas melatih adik kelasnya."
"Sirik aja Mal!" sahut Aylin.
"Hahaha... jadi template galak Alin itu ada sejak jadi DPT ternyata? Hahaha..." tawa Rima.
"Mbak Alin nggak galak tahu," bela Nana. "Kata Pandu sih emang tugasnya DPT gitu. Orang Mbak Alin aja isinan gini kok!" [pemalu]
"Heh! Kau ini mau membelaku atau mengejekku sih?" tanya Aylin.
"Hehehe... sayang Mbak Alin juga," Nana hanya cengengesan.
"Aku nggak nih?" kali ini Bimala yang bertanya.
"Iya Mbak Mala juga. Tapi kurangin galak-galaknya ya, nanti Mas Frans ilfeel sama Mbak Mala..."
"Sialan!" tukas Bimala. "Amit-amit deh..."
"Lucu ya interaksi mereka, haha..." komentar Rima.
"Hahaha! Ya gitu mbak. Tiap kali aku ikut ngumpul bareng mereka pasti ada aja yang diributkan," sahut Maul.
"Ngomong-ngomong soal Pandu," Bimala berujar setelah beberapa saat. Dia menoleh kea rah Nana.
"Sejauh mana hubunganmu sama dia, Na? Kulihat-lihat makin mesra aja."
"Apasih?!" sahut Nana dengan cepat.
"Mesra apanya? Mbak Mala halu nih!" lanjutnya dengan sewot. "Kita itu kan—"
"Sahabat. Iya tahu kok," potong Aylin. Membuat Nana menjadi cemberut.
"Sahabat rasa pacar kan?"
Bimala tertawa mendengar perkataan Aylin barusan. Lalu Aylin dan Bimala melakukan tos saat melihat wajah cemberut Nana sedikit memerah. Puas sekali dia kalau menggoda adik sepupunya yang satu ini.
Mereka menutup jalan-jalan mereka pada hari itu dengan menikmati suasana sore dan menjelang malam di sepanjang Jalan Malioboro. Apalagi di Titik Nol kilometer yang selalu ramai orang-orang yang berlalu lalang, pedagang asongan, atau orang yang sama-sama menikmati libur akhir pekan.
.
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
Side story lagi sebelum masuk ke main part minggu depan
Rencana mau tak up kemarin, tapi ada sedikit kendala jadi baru bisa sekarang (sesuai catatan di part kemarin, minggu ini double up)
See you next week^^