![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
expose (v): reveal the true, objectionable nature of (someone or something)
.
.
.
.
[baru minor editing, a quite long chapter]
.
.
.
.
"Kalau menurutku sih, hari ini udah bagus, udah gercep semua. Cuman TPK yang megang HT tolong dong dijaga. Tadi aku lihat ada HT ketinggalan di pos jaga parkiran," kata David.
"OH IYA! Aduh maaf lupa tadi aku," sahut Rendra tiba-tiba. Cowok bertubuh tambun itu terlihat sangat bersalah.
"Aku tadi buru-buru ke aula, lupa ngasih tahu ke Guntur buat megang HT," lanjutnya. "Tapi tadi Guntur bilang udah megang kok akhirnya."
Cowok bernama Guntur mengangguk. "Iya. Pas aku udah balik, HT udah tak amankan."
Sang ketua mengangguk menanggapi. Lalu cewek itu berujar, "Ingat ya, siapapun yang megang HT tolong dijaga baik-baik. Itu barang nyewa karena punya kita belum memadai jumlahnya. Untung aja masih aman, kalau sampai rusak atau hilang kita yang harus ganti."
"Baik, Lin," semua anggota mengangguk paham.
"Oke. Ada tambahan lagi?"
Sore ini, para TPK kita tengah mengadakan evaluasi internal untuk TM hari ketiga. Mereka mengevaluasi kinerja mereka hari ini. Karena mayoritas anggota sudah mengeluh lelah, akhirnya jadwal evaluasi mereka diajukan.
Aylin tidak keberatan soal itu. Lagipula dia juga sudah sama-sama lelah.
"Oh iya, Frans, laporan terkait maba yang bawa pisau tolong dong sampaikan. Kelanjutannya gimana─?"
Drrtt.. drrtt...
Suara ponsel bergetar menginterupsi. Aylin melihat ponselnya yang layarnya berkedip-kedip dan menampilkan panggilan masuk.
Panggilan dari Seno, si ketua Acara.
Tidak biasanya Seno menelepon. Setelah minta izin sebentar untuk mengangkat telepon dan memasrahkan ke Adi untuk mengambil alih sementara, Aylin berjalan menepi.
"Iya ha─" belum sempat menyapa penelepon, sudah keburu dipotong.
"Lin! Kau di mana?" tanya Seno.
"Lagi eval sama anak-anak. Gimana?" jawab Aylin.
"Soal menwa buat Aqisol gimana Lin? Aku kemarin mau bahas itu tapi kelupaan. Tadi aku udah spam chat dirimu tapi nggak dibales, jadi kutelepon," Seno kembali bertanya, "Oh iya Frans suruh ke basecamp dong. Buat ketemu sama kandidat dutanya, kenalan."
Oh pantesan ponselnya tadi menyala terus dan notif pesan terus muncul. Ternyata ulah Seno rupanya. Dia tadi hanya mendiamkannya karena harus fokus ke evaluasi yang harus diselesaikan.
"Frans lagi mau laporan, No. Bentaran lagi deh aku suruh ke sana," Aylin memijat pelipisnya.
"Cepetin aja Lin evalnya. Keburu malem, kasihan adek-adeknya," Seno terus mendesak.
"Iya, iya. Dan soal menwa, daftarnya udah ada─" belum sempat menyelesaikan kalimatnya, ponselnya sudah keburu mati karena baterainya habis. Aylin menghela nafas lelah. Niatnya tadi mau bilang akan mengirimkan daftarnya lewat whatsapp.
Sepertinya dia benar-benar harus ketemu Seno buat bilang daripada kelimpungan saling mencari.
Aylin lalu memasukkan ponselnya ke saku dan kembali ke tempat evaluasi. Cewek itu bilang ke semua anggotanya untuk mempersingkat saja evaluasi hari ini. Tidak lupa menyampaikan ke Frans soal pesannya Seno tadi.
.
.
.
"Aku masih nggak habis pikir gimana kau bisa jadian sama Mala," Aylin berkomentar.
Saat ini, dia dan Frans tengah berjalan menuju basecamp panitia sambil mengobrol ringan. Topik yang dibicarakan kali ini adalah soal sepupu Aylin. Alias pacarnya Frans. Alias Bimala Ayu Sekar.
Frans terkekeh pelan. Sorot matanya yang biasanya terlihat tajam melembut.
"Entahlah, Mbak," jawabnya sederhana. "Tiap kali aku sama Bia itu rasa-rasanya semuanya udah cukup, tidak butuh apa-apa lagi. Nggak bisa dijelasin. Intinya aku merasa Bia adalah orang yang kucari, seorang yang tepat."
Aylin tersenyum tipis mendengarnya. Cewek itu tahu, walau Frans diluar terlihat badung dan susah didekati, cowok jangkung itu benar-benar bucin kepada Bimala. Begitupun sebaliknya. Aylin tidak pernah melihat kakak sepupunya itu seperti saat dia bersama Frans.
Bimala dulu memang hobi gonta-ganti pacar. Sama seperti Budi. Malahan sohibnya itu masih terlihat remeh dibandingkan Bimala. Cewek itu dulu berani memainkan perasaan orang lain. Memanfaatkan pesona dan kecantikannya dengan sangat apik.
Iya selicik itu dulu. Licik tetapi menawan.
Bimala memang cantik dan bisa saja menjadi kandidat duta kampus tahun lalu. Sayangnya, cewek itu menolak mentah-mentah dengan alasan tidak mau repot dan ribet.
Namun, Aylin tahu kenapa sepupunya itu bisa seperti itu. Rahasia yang ditutup rapat-rapat dan hanya dia, kakak Bimala, dan kedua sahabat Bimala, Pasha dan Maul, yang tahu. Aylin tidak yakin apakah kedua orang tua Bimala tahu. Keduanya adalah dokter. Dan meski sama-sama sibuk, apalagi ayahnya, Bimala tidak pernah kekurangan kasih sayang dari mereka.
Lalu kemudian Frans masuk ke kehidupan Bimala. Cowok itu yang jatuh cinta pertama kali pada Bimala. Dia sangat keras kepala sampai bisa meluluhkan seorang Bimala yang juga sama keras kepalanya.
Cerita mereka bahkan sempat booming tahun lalu dan dinobatkan menjadi pasangan terfenomenal di UHW. Sampai sekarang banyak orang yang masih membicarakannya.
Dan ya, Frans tahu semuanya. Namun, tidak mengubah semuanya.
Hal yang membuat Aylin bisa percaya kalau Frans mampu menjaga dan membahagiakan Bimala.
"Uluh uluh..." kata Aylin ketika mendengar jawaban Frans. "Kau bucin sekali ya ternyata."
Frans tertawa.
"Ketika Mbak Alin bertemu dengan orang yang tepat, mungkin Mbak juga akan merasakan hal yang sama," katanya kemudian.
"Sayangnya belum, hahaha!" balas Aylin dengan santai.
"Soon, siapa tahu," Frans berujar dengan nada gurau.
Aylin belum pernah pacaran. Belum pernah merasakan apa itu jatuh cinta. Selama ini dia selalu berfokus pada pelajaran. Kegiatan selain itu adalah tonti dan paskib.
Dia akui memang terkesan membosankan. Hanya seputar itu-itu saja. Namun, sejauh ini dia tidak pernah mempermasalahkannya. Sampai dia bertemu teman-temannya di sini yang memberi warna lain. Aylin merasa hidupnya tidak semonoton itu.
Mereka berdua sampai di basecamp panitia. Aylin membuka pintu dan masuk terlebih dahulu. Diikuti Frans dibelakangnya.
Namun, tidak ada Seno di sana.
"Loh, Ci, mana Seno?" tanya Aylin dengan bingung kepada Suci yang ada di sana.
Cewek itu menggeleng, lalu menjawab, "Belum ke sini, Lin. Tadi nggak ketemu kah?"
"Lah, padahal dia yang telepon sama spam chat aku buat nyuruh cepet-cepet nyelesain eval," gerutu Aylin.
"Wah nggak tahu Lin. Tapi Seno dari tadi emang belum ke sini lagi," kata Suci yang ikut-ikutan bingung.
"Ada keperluan juga sama Seno?" tanyanya.
"Iya, soal Menwa. Ponselku mati, jadi nyoba nyari ke sini deh," jawab Aylin.
Astaga dia sudah lelah sekali hari ini. Pakai acara ke mana ini Seno? Harusnya Aylin bisa cepat-cepat pulang untuk istirahat beberapa jam sebelum ke sini lagi buat evaluasi panitia.
Dengan wajah agak cemberut karena kesal terhadap Seno, Aylin mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Matanya bertemu pandang dengan sepasang mata dari maba yang membuatnya uring-uringan selama TM.
Dia lagi! Dia lagi!
"Ngapain kau di sini?" tanya Aylin dengan ketus. Suasana hatinya bertambah buruk. Mau apa maba itu di sini?
Sebelum maba itu menjawab, Suci sudah menjawab duluan.
"Dia itu yang jadi Duta FT kita tahun ini."
"Masa? Kok nggak meyakinkan ya?" sahut Aylin dengan sinis. Dia lalu berjalan ke belakang Suci dan mengambil sebotol air mineral. Dia belum minum sejak penutupan TM tadi. Sementara Frans lebih memilih diam dengan wajah datarnya. Cowok jangkung berwajah sedikit bule itu mendudukkan dirinya di sudut ruangan dan mulai bermain dengan ponselnya.
"Tampang pas-pasan gitu mana bisa jadi Duta FT," tambah Aylin. Melihatnya lagi membuatnya teringat kekesalannya selama ini pada maba 0057 itu. Benar-benar deh!
"Hah? Masa sih Lin?" tanya Suci bingung.
"Padahal kau setuju sama keputusan Nopal pas selesai penilaian. Seingatku kau juga ngusulin namanya pertama kali buat jadi Duta FT deh," celetuk Suci dengan heran.
Aylin terdiam. Untung saja dia belum jadi minum. Bisa-bisa tersedak dan membuatnya terlihat salah tingkah. Dasar mulut penghianat! Kenapa dulu dia bisa-bisa berkata seperti itu?
Aylin melotot tajam ke arah maba 0057 itu ketika melihatnya mengerling ke arahnya dengan sorotan aneh. Bahkan berani-beraninya cowok itu menyeringai padanya!
Ketua TPK itu lalu melengos memalingkan muka.
Keadaan ruangan menjadi hening. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Aylin menyibukkan diri dengan bermain gantungan kunci basecamp tanpa menghiraukan apapun. Tak jauh darinya, Frans masih fokus dengan ponselnya. Mungkin sedang bertukar pesan dengan Bimala.
"Mbak Lin," panggil Frans pelan kemudian. "Bia tanya kenapa nggak dibales chat-nya. Katanya sejak tadi dia chat ke Mbak Alin tapi ceklis satu."
"Ponselku mati," balas Aylin ikutan bersuara pelan. "Nanti deh pas di asrama aku charge."
"Ada apa? Tumben."
"Katanya mau ngajak hunting dessert. Katanya sih ada kafe kekinian yang baru. Bia bilang dia udah ajak Nana."
Aylin hanya mengangguk sebagai balasan. Bisa disimpulkan kalau Bimala pengen mengajak kumpul bareng khusus sepupu. Sekalian jalan-jalan. Cewek itu memang punya kebiasaan buat mengajak hang out orang terdekatnya. Dia termasuk orang yang tidak betah tinggal di asrama atau rumah. Sama seperti Nana. Dan kali ini Bimala mengajak kedua sepupunya. Biasanya cewek itu kemana-mana selalu bersama Frans atau kalau tidak kedua sahabatnya, Pasha dan Maul.
Mungkin ada sesuatu yang mau dibicarakan hanya ke keluarga?
Ngomong-ngomong soal Seno, ke mana orang itu? Kenapa belum ke sini?
Aylin sudah mulai bosan dan suntuk menunggu. Dia juga rasanya mengantuk. Menjadi panitia, apalagi ketua TPK, membuatnya harus merelakan banyak waktu tidurnya. Sering pulang larut dan harus lemburan.
Benar-benar tak hanya menguras emosi, tetapi juga tenaga.
Tiba-tiba pintu ruangan dibuka dengan cukup keras. Disusul dengan sosok Seno yang berjalan masuk dengan terburu-buru.
Akhirnya tersangka utama yang ditunggu datang juga!
Cowok itu terlihat kehabisan napas seolah habis dikejar sesuatu. Suci inisiatif menyiapkan kursi kosong dan menyuruh Seno untuk duduk. Lalu cewek itu memberikan sebotol air mineral dan diterima ketua Tim Acara dengan senang hati.
"Makasih Ci," kata Seno begitu menerima air minum dari sekretaris panitia itu. Sementara Suci hanya tersenyum menanggapinya dan kembali berkutat dengan laptopnya.
"Dari mana aja, No?" tanya Aylin pada Seno.
"Bentar Lin," jawab cowok itu, masih berusaha menangkan dirinya yang habis berlari. Lalu meminum air minumnya beberapa teguk.
Setelah napasnya teratur, Seno menoleh ke arah Aylin yang menatapnya menunggu penjelasan. Cowok itu lalu memberikan alasan kenapa dia baru datang. Alasan yang masuk akal dan mudah diterima.
Aylin mengangguk mengerti. Dia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Seno setelah mendengar alasannya tadi.
"Sebenernya mau bahas langsung, tapi aku lupa kalo ada pembahasan duta univ. Sori banget Lin, malah ngerepotin," ujar Seno dengan tampang memelas. Aylin sadar kalau Seno sengaja menyamarkan apa yang akan mereka bahas karena ada dua maba di sini.
Cewek itu memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam. Dia melakukannya beberapa kali. Lalu kembali membuka matanya setelah merasa lebih tenang.
Dia mencoba mengingatkan dirinya sendiri bahwa tidak ada yang sia-sia dalam proses. Walau rasanya dia cukup kesal dengan Seno yang memburu-burunya tadi, tahu-tahunya malah tidak jadi.
"Oke, nanti aku kirimkan file-nya aja. Kau tinggal cek. Ponselku mati soalnya. Kita bisa membahasnya pas sebelum atau habis eval aja," kata Aylin kemudian.
Aylin tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh iya, buat rundown acaranya jangan terlalu padet ya. Prioritaskan kesehatan maba," katanya tanpa pikir panjang.
"Ahsiap Alin!" Seno mengacungkan jempolnya. "Makasih ya Kakak Alin. TPK terfav deh!"
Seolah baru tersadar, Aylin melirik sekilas ke arah dua maba yang sejak tadi hanya menjadi penonton. Ah dia baru ingat kalau ada dua maba di ruangan ini. Dan dia tadi keceplosan berkata soal rundown dan kesehatan maba.
Ugh! Dasar Aylin yang kadang pelupa. Sayangnya, nasi sudah menjadi bubur.
"Buat Dek Kayvan sama Dek Freya, yok ikut aku ke gazebo aja. Biar lebih enak buat bahas acara pemilihan duta univ-nya," kata Seno kepada dua maba kandidat duta kampus itu yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.
Kedua maba itu mengangguk dan bersiap mengikuti Seno keluar ruangan.
"Frans, ayo!" Seno memanggil cowok jangkung yang sudah tidak memainkan ponselnya di sudut ruangan. Duta FT tahun lalu itu mengangguk dan berjalan mendahului kedua maba.
Aylin menatap dua maba yang terlihat buru-buru mengikuti langkah Seno dan Frans yang lebih dulu keluar ruangan. Dia juga sempat melihat keduanya terlihat ragu dengan makanan dan minuman yang diberikan kepada mereka mau dibawa sekalian atau tidak.
Pada akhirnya mereka hanya memutuskan mengambil minumannya saja.
Aylin memutar kedua bola matanya jengah. Benar-benar tidak tahu terima kasih dan menghargai pemberian orang lain!
"Hei!" panggilnya.
Dua maba itu berhenti dan menoleh. Aylin melihat tatapan was-was dari maba cewek dan tatapan penasaran dari maba 0057. Oh ayolah! Mereka bertingkah seolah dia akan menghukum mereka tanpa alasan.
Aylin tidak sekejam itu.
"Kemarikan tangan kalian," katanya.
Dengan ragu-ragu, dua maba itu mengulurkan tangan kanan mereka.
"Jangan lupa dibawa. Senior kalian sudah memberinya untuk kalian," kata Aylin sambil tersenyum sangat tipis. Berusaha terlihat lebih ramah dari biasanya. Dia tidak sedang berada di lapangan, oke? Sedikit kebaikan tidak akan membuat reputasi sadisnya anjlok. Cewek itu meletakkan bungkusan berisi buah jeruk dan pir ke masing-masing tangan.
Setelah itu, Aylin berlalu pergi. Tanpa menghiraukan lagi kedua maba itu. Dia ingin cepat-cepat pulang ke asrama dan beristirahat sejenak.
.
.
.
Hari ini, mayoritas maba ke kampus untuk kumpul gugus dan kerja kelompok membuat atribut. Ada juga yang mulai mencari tanda tangan senior. Namun, kebanyakan dari mereka masih menggerombol dengan gugus mereka untuk kerja kelompok didampingi pemandu masing-masing.
"Jadi kita bakal latihan di mana? Udah banyak maba di area FT, kita nggak bisa leluasa," Rima bertanya kepada Aylin.
Mereka berdua tengah mampir ke kedai minuman dekat FT untuk membeli minuman favorit mereka. Sekaligus titipan dari tiga cowok yang katanya sedang sibuk.
Sibuk mabar.
Latihan yang dimaksud Rima tentu saja latihan mingguan yang dilakukan TPK. Minggu ini terakhir sebelum benar-benar disudahi.
"Hmm..." Aylin terlihat berpikir. Di fakultas manapun maba sudah benar-benar berada di area kampus. TM menjadi salah satu alasan utama mereka.
"Dekat lembah UHW itu cukup sepi dan tertutup 'kan?" tanya Aylin memastikan. "Di sana aja gimana? Lagipula ini terakhir kok, soalnya minggu besok bener-bener harus fokus ke Isimaja."
Harusnya latihan itu dilakukan minggu kemarin sebelum TM dimulai. Namun, karena ingin melakukannya sebagai closure sekaligus persiapan Aqisol, makanya dijadikan minggu ini. Di sela-sela jeda TM dan Aqisol.
Sayangnya, resikonya adalah maba. Tidak hanya TPK saja, tetapi semua panitia memastikan segala persiapan dan hal yang perlu dibahas dan lakukan harus terbebas dari maba.
Tentu tidak akan menjadi kejutan spesial kalau maba sampai tahu bukan?
"Lembah UHW? Boleh boleh," balas Rima setuju. Lembah UHW yang dimaksud adalah tempat di mana biasanya orang-orang berolahraga─ada hall tenis indoor di sana─atau piknik. Letaknya tak jauh dari wilayah FBS, FO, FMIPA, masjid kampus, dan sunmor. Lokasinya di dataran rendah, itulah sebabnya dijuluki lembah.
Tempat itu tak terlalu ramai di hari biasa─kecuali ada yang memakainya untuk latihan tenis. Tempat itu cukup tenang dan damai, cocok untuk sekedar bersantai melepas penat selain di Taman UHW yang sangat luas di dekat FO.
Aylin dan Rima kemudian berjalan menuju kampus dengan pesanan mereka. Tidak lupa membeli camilan manis untuk Aylin dan snack kesukaan Rima di warung terdekat.
Mereka sampai di tempat biasanya mereka berlima nongkrong─gazebo dekat kantin yang dekat dengan Gedung Arsitek di wilayah timur. Kantin FT memang berada di sisi timur kampus. Sedangkan sisi barat ada taman kuliner di luar gerbang, tak lupa dekat kawasan kompleks penduduk.
"Woy lama amat!" keluh Budi dengan keras ketika melihat dua sohib perempuannya baru datang dengan titipan mereka.
"Ya maaf! Salah sendiri nggak mau ikut," tukas Rima tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Kita sibuk ya maaf," sahut Budi dengan tengil.
"Punya dua babu kenapa nggak sekalian di manfaatkan?" tambahnya dengan kurang ajar.
DUAGH!!
Dan berhasil mendapat tendangan maut di kakinya. Bukan, bukan Rima yang melakukannya. Walau cewek itu sering sekali ribut dengan Budi.
Namun, Aylin.
Tidak menyangka bukan? Sama.
"ARGH!!" teriak Budi kesakitan. "Sakit Lin!"
Sementara ketiga yang lain hanya tertawa cekikikan melihatnya. Dasar teman-teman baik memang!
"Apa?" kata Aylin dengan galak. "Mau bilang apa?!"
Walau jarang menunjukkannya di hadapan orang lain, kecuali gengnya dan saudaranya, Aylin itu bisa bersikap galak kalau sedang kesal. Dan sekarang Aylin merasa kesal dengan Budi yang seenaknya bilang "babu".
Dasar tidak tahu diri!
"Kapok ra kowe! hahaha!" Taufan tertawa terbahak. [Syukurin/ mampus kau]
Naufal menggelengkan kepala melihatnya. "Udah cukup sering terjadi tenyata nggak bikin kapok ya?" komentarnya.
"Makasih Alin udah mewakilkan," kata Rima. Dia lalu membagikan minuman dan snack yang dibeli ke yang lain.
"Oi, minumanku, Ma!" protes Budi ketika hanya menerima sedotan saja dari Rima.
"Minum angin sana!" balas Rima dengan sinis.
"Heleh, baperan amat jadi orang," cibir Budi lalu mengambil minuman pesanannya dari tangan Rima.
Minuman yang mereka pesan itu adalah Susu Sarjana, salah satu minuman kekinian di dekat area kampus yang bahan utamanya susu dan memiliki aneka rasa. Cukup terkenal di kalangan mahasiswa karena harganya yang cukup terjangkau dan porsinya yang besar.
"Hari ini mulai hunting tanda tangan ya?" tanya Taufan di sela kegiatan mereka─makan, ngobrol, main gim, dan scrolling sosial media.
"Iya," jawab Naufal. "Tapi kebanyakan fokus ke gugus dulu sih."
Mereka melihat gerombolan maba dan pemandu mereka yang ada di beberapa tempat─sejauh yang bisa mereka lihat─tengah membuat atribut untuk Ospek nanti. Tim PDD dan Tim Humas Sponsor yang menyediakan kebutuhan atribut dari panitia tengah berada di aula besar.
"Jadi keinget dulu nggak sih?" ujar Rima bernostalgia. Para senior kita ini dulu juga pernah yang mengalami berburu tanda tangan seperti para maba saat ini. Bahkan kating-kating di atas mereka dulu─angkatannya Teguh dan sebelumnya─harus mengumpulkan seribu tanda tangan. Lebih parah dan berat dari tahun ini.
Apa ada yang pernah berhasil?
Tidak. Namun, ada yang hampir.
Kemudian ketia Teguh menjadi ketua TPK, tugas itu diringankan menjadi lima ratus tanda tangan karena ada banyak pertimbangan. Salah satunya adalah waktu. Dan angkatan Aylin dkk adalah yang pertama yang merasakan kemudahan itu.
Dibanding seribu, lima ratus tentu jauh lebih ringan.
Kenapa tidak dihapuskan saja? Ada yang pro dan ada yang kontra. Teguh mengambil jalan tengahnya. Lagipula, salah satu esensi utama tugas itu dilakukan adalah agar maba berinteraksi dengan senior selain pemandu mereka. Membangun relasi dan kenalan karena salah satu hal yang dipegang teguh anak-anak FT UHW adalah mereka itu keluarga, satu kesatuan.
Tidak seperti kebanyakan fakultas lain. Para senior FT akan menjaga dan membantu juniornya, begitupun sebaliknya, ikatan mereka lebih kental dari fakultas lain.
Salah satu alasan Naufal yang dulu tidak begitu tertarik masuk FT bisa bertahan sampai sekarang. Belum tentu di fakultas lain dia akan merasakan hal yang sama.
"Eh serius, aku jadi ingat Budi dulu disuruh lari keliling lapangan sambil teriak "telur ceplok dua ribu" malah jadi "kolor ceplok dua ribu". Hahaha, g*blo banget!" Taufan tertawa teringat kejadian dulu waktu maba.
Tawa meledak di ketiga yang lainnya. Sementara wajah Budi berubah masam.
"Emang salahan si Bang Fajar," gerutu Budi menyalahkan senior mereka dulu.
"Kau nya aja yang g*blo. Bang Fajar kan bilangnya "telur" kenapa bisa kau ubah jadi "kolor" itu darimana woy?!" Naufal berujar kepalang gemas sendiri.
"Ya maap, kan nggak sengaja. Kan aing gugup waktu itu, mana dilihatin banyak orang lagi!" Budi membela diri.
Fajar adalah salah satu senior mereka yang dulu menjadi anggota Perkab. Terkenal usil dan memberikan tantangan aneh ketika ada maba yang meminta tanda tangannya. Dan Budi salah satu korbannya. Padahal jelas-jelas keempat sohibnya sengaja tidak mendatangi Fajar karena malas melakukan tantangan aneh. Namun, Budi dengan sok gagah justru mendatangi Fajar dan meminta tanda tangan.
Siapa yang bodoh di sini?
"Eh, tapi berkat itu kau jadi akrab sama Bang Fajar kan?" tanya Rima. "Malah kalau bukan karena Bang Fajar, kau mungkin tahun lalu nggak mau ikut kepanitiaan Ospek."
Budi awalnya malas ikut kepanitiaan walau teman-temannya pada ikut. Namun, Fajar mengajak Budi untuk mencobanya dan ternyata cowok itu punya potensi dan malah jadi ketua perkab sekarang.
Terima kasih Fajar yang telah menyeret Budi keluar dari zona nyamannya.
"Iya sih," Budi mengiyakan. Benar kata Aylin, selalu ada hikmah di setiap kejadian. Cewek itu selalu bisa menyikapi keadaan dengan kepala dingin di antara mereka berlima selain Naufal.
Mereka berlima tidak punya banyak agenda hari ini. Hanya melihat dan memantau perkembangan panitia yang lain serta melayani maba yang mau minta tanda tangan mereka.
Hanya berlaku untuk Budi, Naufal, dan Taufan. Para maba kebanyakan segan dengan Aylin dan Rima yang merupakan TPK. Terutama Aylin karena dia adalah bosnya.
Sungguh ironi sekali memang.
Ada juga beberapa yang segan dengan Naufal karena dia ketua Isimaja. Namun, cowok itu terbilang masih bisa didekati dan tidak mendapat tuntutan peran sebagai senior yang sadis. Hanya seorang ketua yang tegas berwibawa tetapi ramah kepada maba.
Sementara Aylin dan Rima memang harus mempertahankan karakter mereka. Cukup membantu karena mereka bisa lebih leluasa tanpa ada maba yang menghalangi jalan. Namun, risih juga karena ditatap seperti singa yang seolah siap-siap menerkam mangsanya.
Oh ayolah, kedua cewek itu tidak menggigit kok!
Asal kalian bukan jadi pengecut yang lebih memilih menghindar atau lari dari TPK, semua akan baik-baik saja.
Untungnya ada juga beberapa maba yang berani mencoba minta nama dan tanda tangan Aylin dan Rima, lebih ke Rima sebenarnya. Mereka terlalu takut dan segan berhadapan dengan Aylin.
Ditatap biasa saja olehnya malah dianggap seolah dihakimi karena melakukan kesalahan besar.
Serba salah memang jadi Aylin.
Padahal yang berani─nekat minta tanda tangan Aylin atau Rima hanya diberi tantangan push up satu seri atau latihan fisik ringan lainnya. Tidak seperti Budi dan Taufan yang justru iseng memberikan tantangan konyol. Naufal malah hanya memberikan tantangan wajar seperti yel-yel, hafalkan nama senior yang sudah diketahui, dan lainnya. Namun, malah banyak yang minta tanda tangan Budi dan Taufan hanya karena mereka senior yang gampang didekati!
"Hebat Lin, belum mulai semester lima aja udah punya gelar baru. Senior yang paling ditakuti maba," Taufan berkomentar siang itu. Dia dan budi baru saja selesai memberikan tanda tangan di buku beberapa maba yang datang memintanya.
"Usahamu buat jadi ketua TPK terkejam berhasil dengan sukses Lin!"
Aylin hanya mendengus mendengarnya. Bahkan bisa-bisanya Taufan menepuk-nepuk punggungnya dengan bangga. Seolah-olah seperti ayah yang bangga dengan pencapaian putrinya.
"Kalau mereka tahu kau aslinya gimana, mungkin pada nggak nyangka kali ya," sambung Budi. "Aylin si senior galak pecinta makanan manis yang aslinya penakut. Ckckck!"
"Kalau si Rima wajar sih. Orang aslinya udah galak sama bar-bar," katanya lagi.
Rima hanya melirik sinis ke arah Budi. Malas meladeninya. Dia mungkin akan membalasnya lain kali.
.
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
Budi emang nggak pernah nggak bikin ulah ya? wkwk
btw susu sarjana itu emang ada bagi yg belum tau, kedainya masih di area kampus. bukan promosi ya
kita uncover satu-satu sifat asli dan cerita dari para senior kesayangan kita ini ^^
rencananya mau up besok, tapi nggak jadi. part berikutnya nggak bisa jamin bakal cepet up (walau udah tak cicil tulis) intinya paling lama (insya Allah) seminggu sekali