![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Fool (noun): a person who acts unwisely or imprudently; a silly person
.
.
.
[Pandu X Nana]
[baru minor editing]
.
.
.
.
..."...what if we ruin it all, we love like a fool......
......and all we have we lose...
...and I don't want you to go, but I want you so...
......so tell me what we choose..."...
Nasywa Kartika Ramadhanti atau akrab disapa Nana adalah putri sulung dari Kapten Lukman Suripto, seorang pilot dari salah satu maskapai penerbangan di Indonesia, dan Riska Ayu yang merupakan pramugari kala itu tetapi memutuskan berhenti ketika Nana lahir. Awalnya Nana tidak ada bayangan sama sekali untuk bersekolah di mana setelah lulus SMP. Cewek itu tipe orang yang santai dan kadang cenderung menyepelekan sesuatu. Namun, karena saran dan permintaan ibunya, Nana lalu masuk ke SMA 3, salah satu SMA favorit di Jogja. Untung saja nilai ujiannya mencukupi untuk masuk ke sana. Jarak dari rumah pun tak terlalu jauh.
Sejak kecil, Nana memang sering ditinggal pergi oleh ayahnya karena sibuk bertugas. Namun, hal itu tidak membuatnya merasa asing terhadap ayahnya. Justru terbilang dekat. Selepas ibunya berhenti jadi pramugari dan berfokus mengurus anak-anaknya, ibunya membuka usaha pesanan kue kecil-kecil karena memang suka membuat kue.
Bisa dibilang Nana punya banyak teman tetapi tidak satupun di antara mereka yang benar-benar dekat seperti hubungan persahabatan kakak sepupunya, Aylin dan gengnya atau Bimala dengan kedua sahabatnya, Pasha dan Maulida. Hingga pada akhirnya, Nana bertemu Pandu saat memasuki SMA 3. Bahkan mereka satu kelas saat kelas sepuluh sebelum penjurusan.
Awal pertemuan mereka sampai menjadi dekat terbilang cukup unik dan klise. Nana dan Pandu kala itu sama-sama dihukum karena melakukan pelanggaran pada saat MOS.
Pandu Grahana merupakan orang pertama yang menjadi kawan baik dan sahabat dekat Nana. Sekaligus rivalnya karena mereka cukup sering bersaing.
Cowok itu lahir pada saat gerhana matahari terjadi, itulah sebabnya dia diberi nama Grahana. Pandu merupakan anak bungsu dari dua bersaudara. Kakak perempuannya merupakan calon bidan dan kala itu baru tengah menempuh kuliah di Poltekes. Bisa dibilang, kakaknya mengikuti jejak sang ibu yang merupakan bidan. Sementara Ayah Pandu yang akrab disapa Pak Danang, merupakan seorang pengusaha.
Nana dan Pandu itu ibarat dua kutub yang berlawanan. Di mana Nana terkenal dengan pribadi yang supel, periang, dan terkadang rusuh serta kekanakan. Seolah-olah Nana itu kelebihan energi karena tidak bisa diam. Sementara Pandu terkenal lebih kalem dan temannya tak sebanyak Nana yang ada di mana-mana. Cowok itu lebih bisa bersikap dewasa juga ketimbang Nana dan sangat bisa diandalkan.
Walau begitu, mereka begitu klop dan tak terpisahkan. Di mana ada Nana, di situlah ada Pandu. Begitu sebaliknya. Bahkan ketika mereka sudah berbeda kelas sekalipun. Di mana Nana berada di IPS 1 sedangkan Pandu di IPA 3.
Nana memang lebih unggul dibidang ilmu-ilmu sosial meskipun katanya cewek itu suka matematika.
Awal mula persaingan mereka adalah ketika mereka berdua mengikuti ekstrakurikuler. Awalnya hanya iseng-iseng saja tetapi malah keterusan sampai sekarang.
Di mana Nana mengikuti basket dan Pandu di futsal. Awalnya mereka hanya melakukan taruhan kecil siapa yang bisa direkrut di tim inti sekolah di masing-masing bidang olahraga. Lalu persaingan mereka berlanjut sampai ke mana-mana.
Menjadi kapten di masing-masing tim.
Menjadi atlet andalan sekolah.
Mengikuti organisasi, di mana Pandu ikut OSIS dan Nana ikut Dewan Ambalan.
Kalau Pandu termasuk anak tonti sekolah, maka Nana memilih tidak. Dia bilang dia malas mengikutinya walau dulu pas SMP pernah. Padahal dengan tinggi badannya, Nana tentu saja otomatis bisa masuk. Alhasil, Nana lebih milih ikut ekstrakurikuler tambahan yaitu musik karena memang hobinya. Jadwalnya tidak bentrok dan bisa dibilang cukup santai ketimbang ekskul basket.
Dan mereka berdua termasuk salah satu murid populer. Selain prestasinya, Pandu populer karena termasuk cowok ganteng dan most wanted di sekolah. Walau kalem, dia juga ramah ke siapa saja. Sementara Nana, selain terkenal sebagai atlet basket andalan sekolah dan anak musik juga, Nana dikenal banyak orang karena dirinya memang cewek supel yang mudah berbaur dengan siapa saja. Walau terkesan agak tomboy, Nana dikenal karena senyumnya yang manis dan lesung pipinya akan kelihatan.
Seperti Aylin, Nana juga punya lesung pipi. Bedanya, lesung pipi Nana lebih kentara daripada punya Aylin. Tinggal Bimala seorang cewek yang tak punya lesung pipi di ikatan pesepupuan mereka.
Namun, mereka berdua, Pandu dan Nana menikmatinya kok. Tidak ada rasa iri antarsatu sama lain.
Banyak yang bilang hubungan mereka itu aneh.
Kenapa aneh?
Pandu dan Nana selalu bilang bahwa mereka adalah sahabat sekaligus rival. Namun, banyak orang yang salah sangka kalau mereka itu pacaran.
Sedekat-dekatnya sahabat, mereka pasti tidak akan terlalu perhatian dan protektif ke sahabatnya 'kan? Kau tahu, sampai benar-benar mendedikasikan dirinya untuk sahabatnya.
Bahkan Aylin yang punya tiga sahabat cowok tidak pernah merasa terlalu diperhatikan oleh mereka begitupun sebaliknya. Atau Bimala dengan Pasha, mereka saja terkadang ribut karena beda pendapat.
Mungkin memang hanya Tuhan, Nana, dan Pandu yang tahu sebenarnya. Tidak lupa dengan malaikat yang bertugas juga.
.
.
.
Bagi Aylin dan Bimala, Nana dan Pandu itu seperti pasangan orang bodoh. Aylin yang belum pernah pacaran sama sekali saja tahu kalau Nana dan Pandu itu saling suka satu sama lain. Bahkan Rima yang belum lama kenal juga tahu fakta tersebut.
Sayangnya, tiap kali ada pertanyaan, "Kalian pacaran ya?" dan sejenisnya, mereka selalu menjawab:
"Dia sahabatku."
"Dia rivalku."
Atau
"Mana ada!"
Dan segala jenis kalimat sangkalan lainnya mereka lontarkan. Benar-benar membuat gemas siapapun yang mengenal mereka berdua.
"Na, aku memaksamu buat jujur sekarang," kata Bia, nama panggilan Bimala, dengan nada serius pada suatu hari.
Bia dan kedua sepupunya tengah berada di sebuah restoran Jepang di sebuah mall. Mereka mau Q-time bareng sekalian melepas penat dari tugas-tugas laknat yang tak ada habisnya. Sekaligus juga untuk mengeratkan tali persaudaraan cucu perempuan keluarga Tjokro Darsono (nama kakek mereka). Itu kata Bia ketika cewek itu mengajak Aylin dan Nana.
"Jujur apa?" tanya Nana bingung sambil menikmati sushi yang dihidangkan. Di antara mereka bertiga, memang Nana yang paling suka sushi. Jadi ketika mereka kumpul dan sedang berada di restoran Jepang, sushi jadi salah satu menu wajib yang harus dipesan.
"Kau suka Pandu kan?" tanya Bia tanpa tedeng aling-aling. "Nggak usah mengelak sama alesan kalau kalian sahabatan kek, rival kek, basi tahu!"
Nana yang mendengar pertanyaan kakak sepupunya itu tersedak sushi-nya.
Bia memang suka gitu orangnya. Suka sarkas dan bicara frontal.
Aylin yang menikmati ramennya dalam diam hanya mengamati percakapan kedua sepupunya. Meski sejujurnya dirinya setuju dengan perkataan Bimala.
"Jawab, Nana," Bia berujar dengan gemas karena tak kunjung mendapat jawaban dari Nana.
"Atau sushi-mu kucelupkan di es susu stroberi-nya Alin," ancamnya sambil mengangkat piring yang masing berisi beberapa potong sushi.
"Eh, kenapa susu stroberiku yang jadi korban!" seru Aylin tak terima. "Wah nggak bisa dibiarkan ini."
Cewek itu lalu mengamankan gelas tinggi yang berisi susu stroberi dingin menjauh dari jangkauan Bia. Demi apapun, jangan sampai salah satu minuman favoritnya itu jadi korban dari kekepoannya Bimala!
"Jawab aja sih Na," kata Aylin pada Nana, "Daripada memakan korban nanti..."
Cewek SMA yang dimaksud terlihat gugup. Mukanya memerah samar. Hal yang jarang terjadi melihat Nana yang terkenal agak tomboy dan hiperaktif itu bisa malu-malu meong seperti ini.
"Tapi jangan kasih tahu siapa-siapa ya?"
Tanpa banyak bicara, Aylin dan Bimala menangguk.
Nana tampak menarik nafas dalam-dalam sebelum mengeluarkannya perlahan. Butuh beberapa saat sebelum Nana bersuara.
"Sebenernya... iya aku suka sama Pandu," katanya pelan.
"Tapi Mbak Alin sama Mbak Mala beneran jangan kasih tahu siapa-siapa ya? Pandu terutama," lanjutnya dengan muka memelas.
Nana ikut-ikutan Aylin memanggil Bimala dengan sebutan Mala sejak dua tahun terakhir. Katanya lebih nyaman memanggil Mala daripada Bia.
Bia dan Aylin mengangguk menenangkan. Dan bisa dilihat raut wajah Bia yang nampak puas mendengar jawaban Nana.
"Duh... anak bontot udah gede, udah bisa jatuh cinta sama cowok," kata Bia sambil merangkul Nana dan mengusak kepalanya dengan gemas.
"Mbak Mala!" Nana protes sambil berusaha melepaskan diri dari Bia. Aylin hanya tertawa kecil melihatnya. Tidak ada niatan sama sekali untuk memisahkan mereka.
"Aku bukan anak bontot tahu!" gerutu Nana setelah berhasil melepaskan diri dari kakak sepupunya itu. Dia lalu merapikan rambut pendeknya yang acak-acakan akibat ulah Bimala.
"Kan harusnya itu sebutan buat Ical sama Ijal," kata Nana. Ical dan Ijal adalah panggilan dari adik kembar Nana, Faisal dan Farizal, yang masih TK. Sebelum si kembar lahir, Nana memang sering dipanggil si Bontot, karena merupakan cucu termuda dalam keluarga. Apalagi papanya Nana juga merupakan adik bungsu dari bundanya Bimala dan ibunya Aylin.
"Tapi di antara kita betiga, kau tetap masih yang termuda," kata Aylin. Dirinya adalah cucu kedua setelah kakaknya Bimala, Mas Gio, dan cucu perempuan pertama di keluarga. Walau begitu, Aylin tetap merupakan adik sepupu Bimala meski lebih tua setahun.
Nana hanya mengerucutkan bibirnya kesal. Meski sekarang Nana jauh lebih tinggi dari kedua kakak sepupunya, dirinya tak jarang diperlakukan seperti anak kecil.
Aslinya dia tak menolak karena Nana tahu itu bukti kasih sayang kakak sepupunya─meski anak sulung, Nana sebenarnya ingin punya kakak. Bahkan sebelum punya adik kembar, Nana sudah manja ke kakak-kakak sepupunya, terutama ke Aylin. Bisa dibilang, Aylin itu jarang memarahinya dibandingkan Bimala. Menurut Nana, Bia itu kadang suka galak padanya meskipun sering membelikannya makanan.
Andai Nana tahu kalau Aylin, walau terkesan kalem, kadang dikenal galak oleh teman-temannya.
"Na, kenapa kau nggak nyoba ngasih tahu Pandu soal perasaanmu?" tanya Bia penasaran. "Kurasa dengan sikapnya selama ini padamu, tak akan jadi masalah."
"Benar. Kalian itu terlihat lebih dari sebatas sahabat atau rival," sambung Aylin.
"Aku takut, Mbak..." ujar Nana pelan.
"Takut kenapa?" tanya Aylin.
Nana menundukkan kepala, lalu kembali berujar, "Takut merusak persahabatan kami."
"Omong kosong macam apa itu?" seloroh Bia. Aylin mengisyaratkan sepupunya itu untuk mendengarkan Nana terlebih dahulu.
"Mbak kan tahu, aku sama Pandu saling kenal pas kelas sepuluh. Pandu itu satu-satunya orang yang paling dekat selain Chika," lanjut Nana. Chika adalah sahabatnya Nana dulu sewaktu SD sebelum pindah keluar kota. Mereka masih sering kontak-kontakan untuk bertukar kabar.
"Terus kau sadar rasa sukamu ke Pandu itu sejak kapan?" tanya Aylin.
"Kelas sebelas awal-awal," jawab Nana yang kini tidak menunduk lagi.
"Wah... cukup lama juga ya?" celetuk Bia. "Terus kau diam-diam gitu dan selama ini bersikap seolah semua baik-baik saja ke Pandu?"
Nana mengangguk. "Aku nggak mau Pandu menjauh kalau aku bilang suka padanya. Bisa dibilang, Pandu itu orang yang paling kupercayai dan membuatku nyaman selain keluarga kita."
"Selama ini Pandu selalu ada buatku, Mbak. Bahkan walau kami sering saingan, Pandu nggak pernah sekalipun marah padaku."
"Ah iya, dia pernah bela-belain menjagamu pas kau cedera habis latihan basket," kata Bia teringat sesuatu. "Ingat nggak Lin, dulu si Nana pernah cedera dan harus dirawat? Sebelumnya itu si Pandu sampai telepon aku cara menangani luka cedera buat pertolongan pertama gimana, padahal aku lagi mau persiapan ulangan. Pandu kedengeran panik banget."
"Mana si Pandu nungguin semaleman sampai nginep karena Paklik (Pak-Lik) ada jadwal penerbangan terus Bulik harus jagain si kembar yang lagi rewel," lanjut Bia.
Aylin mengangguk mengiyakan.
"That's dedication..."
Sebenarnya tak hanya itu, masih banyak lagi hal yang dilakukan Pandu untuk seorang Nana yang terkadang ceroboh dan kekanakan.
Jadi bakalan tidak mungkin seorang Pandu akan menjauh setelah Nana mengungkapkan perasaannya. Aylin dan Bia bahkan yakin serratus persen kalau Pandu juga suka Nana. Cara cowok itu menatap Nana itu lho yang membuat mereka berdua sangat yakin.
"Jadi nggak ada yang perlu ditakutkan kan?" tanya Bia pada Nana.
Nana menggeleng.
"T-tapi udah telat, Mbak..." katanya dengan pelan. Raut wajahnya berubah sedih dan ada sorot terluka di matanya.
"Kok...?" Aylin dan Bia bertanya bingung.
"Tiga hari lalu aku lihat Pandu sama Laras..." kata Nana sambil mencoba menahan air matanya.
"Siapa Laras?" tanya Aylin bingung.
"Laras itu wakil ketua OSIS, Mbak. Dia anak IPA 1, anaknya sangat cantik," jawab Nana. "Mereka saling kenal dan cukup dekat. Beberapa kali aku lihat Pandu bareng sama Laras..."
"Bisa jadi karena tugas sebagai sesama pengurus OSIS kan?" ujar Aylin mencoba berpikir positif. Bimala mengangguk membenarkan.
"T-tapi pas itu aku lihat mereka berduaan sepulang sekolah. Aku nggak sengaja dengar obrolan mereka sekilas pas mau ambil buku yang ketinggalan di kelas. Aku dengar Laras bilang suka sama Pandu. Terus aku lihat Pandu senyum dia juga suka Laras, Mbak..."
Kali ini Nana benar-benar terisak. Buru-buru Bimala mendekat dan merangkul Nana. Membiarkan cewek SMA itu menangis di pelukannya.
"Cupcupcup... adik bontotku," katanya berusaha menenangkan.
Sementara Aylin masih terdiam di tempatnya. Dia masih tidak bisa mempercayainya. Walau pengalaman dirinya perihal asmara terbilang nol besar, Aylin bisa melihat dengan jelas kalau Pandu itu jatuh cinta pada Nana. Kalaupun andaikata Pandu menganggap Nana seperti saudaranya, tetapi sepasang mata itu bukan memancarkan sorot sayang sebagai saudara.
Entah Bia sadar atau tidak, tiap kali mereka berdua bertemu Pandu dan Nana, cowok itu selalu memandang ke arah Nana.
Mendengar hal itu barusan tentu membuatnya sangsi.
"Dek..." Aylin berujar lembut. Jarang-jarang dia memanggil Nana dengan sebutan "Adek".
"Kau yakin mendengar semuanya dengan jelas?"
Nana mengangguk pelan.
"Keseluruhannya?"
Nana terlihat ragu selama beberapa saat, sebelum mengangguk. Aylin yang melihat keraguan Nana lalu berkata, "Bisa jadi kau nggak dengerin semuanya karena udah terlanjur kalut. Berpikir positif aja ya, bisa jadi semua itu nggak benar. Kalaupun iya, jodoh nggak akan kemana kok, Dek. Sekarang tenang dulu ya? Kita cari kepastiannya dulu."
Padahal pas turnamen sesi kemarin Pandu datang mencari-cari Nana dan menanyakan kenapa Nana tidak bareng sekalian dengan Pandu. Malah memilih menginap di asrama Aylin. Apa karena kejadian yang didengar Nana membuatnya menghindari Pandu?
"Aku nggak mau ngerusak persahabatan kami, Mbak. Aku nggak mau Pandu ngejauh, tapi aku juga nggak mau sebatas sahabatan doang... rasanya sulit buat milih," kata Nana lirih.
"Tenangkan dirimu dulu ya?" Aylin kembali berujar lembut. Memang sih banyak yang bilang cewek dan cowok itu bakalan susah kalau sebatas sahabat saja.
Bagaimanapun, ini pertama kalinya Nana benar-benar jatuh cinta. Dulu pernah suka sama seseorang pas SMP, tetapi tidak seperti perasaannya ke Pandu.
.
.
.
"Lin, kata Frans, TPK FT bakal ada latihan fisik juga? Iya kah?" tanya Bimala ketika mereka tengah duduk di bangku sambil menikmati es krim.
Selepas dari restoran, mereka bertiga sengaja memilih berjalan-jalan menyisiri Jalan Malioboro untuk menenangkan diri sekaligus menghibur Nana. Setelah puas berjalan-jalan, mereka lalu memutuskan duduk di salah satu bangku yang ada di trotoar sambil menikmati es krim dan suasana sore Jalan Malioboro yang ramai.
Aylin mengangguk. "Pacarmu cerita?"
"Iya. Katanya biar doi bisa ngasih hari yang kosong buat kencan. Soalnya bakalan sama-sama sibuk juga."
"Bucinnya kalian berdua," Aylin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum tipis.
"Iya deh yang jomblo," sambar Bia tak mau kalah. "Awas aja nanti pas beneran punya pacar, terus bucin. Tak mampus-mampusin!"
"Jadi penasaran gimana Mbak Alin nanti ditembak cowok," celetuk Nana yang sejak tadi diam. "Muka Mbak Alin pasti merah banget terus sok-sokan tsundere gitu. Salting parah, terus pura-pura marah padahal mau, hahaha...!"
Nana dan Bia tertawa cekikikan membayangkan andai hal itu terjadi. Mereka tahu kalau Aylin itu benci jadi pusat perhatian dan orangnya memang pemalu. Aylin juga termasuk cewek yang kalau kata orang tsundere. Sok galak dan nolak tetapi sebenarnya mau.
"Mending dilamar aja sekalian," sahut Aylin sakartis. Dia sebal kalau mereka berdua sudah bersatu menggoda dirinya.
"Eh, siapa tahu dilamar beneran lho!" tukas Bia sambil mengerling jahil. "Aku bayanginnya bakalan di depan umum gitu, Alin paling udah mati berdiri saking malunya, hahaha!"
Andai mereka tahu kalau ucapan mereka menjadi kenyataan beberapa bulan kemudian. Di mana ada seorang maba yang nekat melamar sang ketua TPK di depan semua maba dan panitia yang hadir.
.
.
.
[Mbak Lin
Nana lagi sama mbak?
Kok ponselnya nggak aktif ya? Udah tak kirim pesan sama tak telepon tapi nggak ada balesan
Aku khawatir nana kenapa-napa. Belakangan ini dia rada menjauh juga mbak, mungkin aku ada salah kali ya mbak?
Kalau lagi bareng nana, tolong sampekan buat bales chat pandu
Tolong sekalian juga bilang ke nana, kalau pandu pengen ketemu
Makasih mbak...]
.
.
.
tbc.
.
.
.
.
.
.
a.n.
i recommend you to listen fools by lauren aquillina