Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Work



work (noun): a task or tasks to be undertaken; something a person or thing has to do


.


.


.


.


[as always, baru minor editing]


.


.


.


.


.


Hari ini TM!


Aylin dan anggotanya sudah ada di kampus selepas subuh tadi. Bahkan ada yang menginap di kampus─mayoritas anak Perkab dan PDD melakukannya karena mereka harus lemburan semalam mempersiapkan semuanya.


Semua panitia sudah memakai dresscode masing-masing hari ini. Tim Medis dengan kaos putih panjang dan celana olahraga, Pemandu, KSK, PI, Humas dan Sponsor, serta Acara dengan batik dan jas almamater. PDD yang lebih santai dengan kaos dibalik jaket almet mereka. Apalagi Perkab yang hanya pakai kaos oblong dan terlihat belum mandi pagi ini.


Dan tentu saja TPK dengan pakaian hitam-hitam mereka.


"Jadi pakai korsa Lin?" tanya David. Iya, hubungan pertemanan mereka berdua sudah membaik.


"Nanti aja pas masuk pembacaan tatib," jawab Aylin dan menyimpan korsa FT dan handbadge hitam di pos penjaga parkiran. Aylin punya dua handbadge, hitam dan merah. Hitam dipakai pas memakai korsa biar warnanya tidak samun sekaligus untuk menandainya sebagai ketua.


"Jadi pakai dramatic entrance kayak biasanya nih?" tanya Enggar. "Paling suka pas kita masuk pakai pembukaan dramatis, hahaha!"


"Emang suka ya bikin maba kaget sama degdegan," komentar Rima.


"Jadilah!" sahut Andre. "TPK tanpa itu rasanya kurang afdhol."


Semua tertawa mendengarnya.


Sekarang mereka masih bisa tertawa lepas sebelum nanti mereka harus fokus ke tugas. Semua TPK tengah berada di tempat parkir di sebelah aula besar. Disamping karena jadi basecamp selama acara, tempat itu cukup tertutup dari maba. Tempat parkir juga akan sepi karena maba dan mayoritas panitia sibuk dengan kegiatan.


"Oke," Aylin memulai. "Sekarang udah pukul setengah lima. Yang jaga di gerbang utama buat open gate segera siap di posisi ya. Frans, Burhan, sama Megan?"


Mereka bertiga mengangguk dan segera menuju gerbang utama untuk bertugas. Panitia sudah banyak yang berdatangan. Sekalian mengecek kelengkapan mereka, nametag dan handbadge terutama.


"Gerbang timur Enggar, gerbang barat David, dan gerbang selatan Joni. Pastikan nanti maba nggak boleh lewat sana, harus lewat gerbang utama. Jaga parkir nanti dua orang, Febrian sama Fuad. Nanti sebagian ada yang ikut briefing bersamaku. Yang kemarin udah dikasih jobdesk, ngecek kelengkapan panitia sama mengingatkan maba buat menuntun motornya. Paham?"


Semua anggota mengangguk.


"Oh ya Mbak Lin, kalau udah selesai gimana?" tanya Tiara.


"Kembali ke posisi yang udah disepakati. Kalau ada yang selo atau nganggur, terserah mau ngapain. Yang penting jangan sampai kelihatan maba dan siap kalau sewaktu-waktu ada tugas," jawab Aylin.


"Terus kalau kalian mau makan atau minum, atau buka ponsel, pastikan nggak kelihatan maba. Oke?" tambahnya. "Oh iya, yang pegang HT siap siaga ya?" Aylin menunjukkan HT yang dipegangnya untuk menegaskan.


"Siap Ketua!" jawab para anggota.


"Bismillah yo, semoga hari ini sukses," kata Aylin lalu mengajak mereka tos untuk memberi semangat memulai hari.


"TPK FT?!"


"SUKSES!"


Lalu mereka semua membubarkan diri dan pergi ke pos masing-masing. Pukul lima tepat. Aylin dan beberapa anggota yang tersisa menuju aula besar untuk mengikuti briefing pagi semua panitia.


.


.


.


"Edan, edan si Nopal tadi," Taufan bertepuk tangan begitu melihat Naufal masuk ke ruang basecamp panitia. Saat ini waktunya Ishoma. Taufan dan salah satu anggota konsumsi tengah mengantarkan makanan ke ruang basecamp.


"Nggak heran juga sih, dulu dia jadi komandan lapangan pas Aqisol sama pernah jadi korlap juga," kata Rima seolah tidak terkejut dengan penampilan Naufal di depan para maba tadi sebagai ketua Isimaja FT.


"Habis ini tatib sama penugasan kan?" tanya Naufal memastikan.


Aylin mengangguk. "Iyo. Tapi diisi dulu sama Galang sama Seno."


"Jangan sampai demam panggung ya Lin," kata Taufan mengingatkan sahabatnya itu.


"Duh udah degdegan aku," sahut Aylin yang terlihat mulai panik.


"Udah shalat?" tanya Naufal.


"Udah. Langsung tadi ketika udah dengar adzan. Sebelum maba disuruh ishoma," jawab Aylin.


"Yaudah makan dulu aja gih," kata Naufal sambil menunjuk nasi kotak yang tadi dibawa Taufan dan temannya.


"Nggak bisa ketelan nanti. Bentar lagi soalnya," tolak Aylin.


"Yaudah kalau gitu. Buat nanti, kau bisa, Lin. Aku yakin," kata Taufan memberi semangat. "Aku duluan ya gaes, mau ngasih makan anak orang lagi."


Setelah berkata demikian, Taufan dan temannya pergi keluar basecamp.


Sementara itu, Rima yang menyadari sahabatnya sudah mulai gugup dan panik, berusaha menenangkannya.


"Tenang Lin. Tarik nafas, keluarkan," katanya sambil menggenggam tangan Aylin yang dingin. Bermaksud untuk membuatnya rileks.


"Nanti ada aku sama yang lainnya. Bahkan Frans nanti juga bakal berdiri nggak jauh darimu."


"Jangan terlalu dipikirkan juga Lin," sambung Naufal. "Nanti itu ngalir sendiri kok."


Beberapa panitia yang ada di sana juga memberi semangat kepada Aylin. Waktu tiga bulan tentu membuat mereka tahu satu sama lain, saling kenal, dan bahkan ada yang sampai akrab.


Setelah merasa cukup tenang, Aylin segera memakai korsa FT-nya. Lalu mengganti handbadge merahnya menjadi hitam.


Terdengar ketukan pintu sebelum pintu di buka. Memperlihatkan sosok jangkung Frans.


"Mbak Lin, bentar lagi," kata Frans memberitahu. Aylin mengangguk mengerti. Sekali lagi Aylin menarik nafas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan. Rima menepuk-nepuk bahunya memberi semangat.


Kemudian, Aylin dan Rima mengikuti Frans keluar menuju depan pintu aula yang tertutup. Di sana semua TPK sudah menunggunya.


"Ingat ya Lin, pembukaan dramatis," kata Enggar dengan wajah sok serius. "Pastikan para maba pada kaget, oke?"


Aylin terkekeh pelan mendengarnya. Namun mengiyakan ucapan Enggar. Di sini Aylin cukup bisa mendengar suara Seno dan Galang yang tengah memimpin yel-yel.


"Mantep gaes!" terdengar suara Seno dan Galang mengakhiri yel-yel mereka. Oke, itu kodenya.


"Siap-siap ya gaes," kata Aylin kepada anggotanya yang beberapa terlihat grasak-grusuk mempersiapkan diri. Dipimpin Aylin, para TPK memasuki aula besar.


BRAK!!


Tidak lupa dengan pembukaan dramatis seperti yang Enggar bilang tadi. Membuka pintu dengan cukup kasar sampai menimbulkan suara nyaring. Memakai topeng dingin, judes, dan mengintimidasi. Serta mengeluarkan aura dominan yang membuat semua maba terdiam.


Oke Lin, kau pasti bisa!


Semua menempatkan diri di posisinya. Tak lupa melipat tangan di dada dan melemparkan sorot permusuhan ke semua maba. Aylin maju ke depan panggung dan mengedarkan pandangannya sekilas ke semua maba. Semua maba fokus kepadanya.


"Saya Aylin, dari Teknik Industri," Aylin memulai dengan tegas.


.


.


.


"Gila sih maba tahun ini," celetuk Andre. "Hari pertama TM aja udah ada yang rebel."


"Siapa sih namanya?" tanya Rima penasaran. Dia tidak terlalu mendengarkan karena terlalu fokus mengawasi maba lain.


"Kayvan kalau nggak salah dengar," jawab Megan.


Semua maba sudah pulang. Saat ini para TPK tengah bersantai mengistirahatkan diri sebelum mulai evaluasi internal. Mereka kini sibuk membahas sosok maba cowok bernama Kayvan dan aksinya hari ini.


"Kayak Frans dulu nggak sih?" tanya Burhan. Sementara cowok yang dimaksud terkejut namanya disebut.


"Tapi Frans dulu 'kan baru memberontaknya pas Aqisol apa ya," sahut Rima.


"Tapi si Kayvan ini kayaknya cocok lho kalau disuruh maju jadi Duta FT," celetuk Riana.


"Udah berani, ganteng lagi," tambahnya.


"Tapi 'kan nanti ada seleksinya juga. Iya kalau bocahnya lolos seleksi," Andre menyahut.


"Oi! Kalau si Kayvan-kayvan ini jadi Duta FT, udah genap tuh empat tahun ini berturut-turut Duta FT itu asalnya dari maba yang rebel," kata Enggar.


"Eh iya juga ya, hahaha! Baru sadar," tawa Andre.


"Siapa aja sih? Frans, Agung, sama Mas Latif," Rima mengingat-ingat.


"Eh, Mas Agung dulu pernah rebel?" tanya Tiara tidak percaya. "Kalem gitu lho padahal."


"Iya. Dulu ada si Nopal juga sih walau nggak separah Agung dan lainnya. Si Frans kan juga keliatannya kalem tuh, tapi nyatanya ngeyel banget dulu pas maba," kata Andre.


"Angkatan kami dulu lebih keras, tapi cukup banyak yang rebel juga," Riana menambahkan.


"Eh, itu kau? Kirain pajangan! Hahaha...!" canda Andre.


"Kok tumben diem Lin?" tanya Megan penasaran karena sejak tadi ketuanya itu hanya diam mendengarkan.


"Masih agak kesal dia soal maba tadi," Rima yang menjawab.


"Cuman agak kaget aja sih," Aylin membuka suara akhirnya. "Tapi udah nggak masalah..."


"Kita mulai evalnya aja yuk. Keburu sore."


.


.


.


Hari berikutnya...


Hari ini sangat-menyebalkan-sekali!


Sial!


Sial!


Sial!


Sejak tadi Aylin sudah uring-uringan sendiri. Lebih tepatnya sejak keluar dari aula besar. Masalahnya apa? Tentu karena maba yang sama seperti kemarin!


Siapa lagi kalau bukan Kayvan?


Cewek itu pikir hari ini akan berjalan normal, meski kemarin sedikit bermasalah. Aylin anggap itu wajar saja karena pasti akan ada maba yang mempertanyakan terkait penugasan atau tatib.


Namun, apa tadi itu?!


Beraninya maba itu mempermalukan dirinya di depan umum. Awas saja dia!


"Gimana Lin, lamarannya mau diterima?" Andre berujar sambil menahan tawanya. Sementara anggota yang lain tersenyum menggoda dan terkikik pelan. Bahkan ada yang berani tertawa terbahak.


"Diam!" Aylin menyahut galak.


"Aku aja tadi hampir kelepasan!" celetuk Enggar, kemudian tertawa terbahak. Diikuti banyak anggota lain yang sependapat.


"Hahaha... gila sih maba itu," Rima berusaha menahan tawanya mati-matian.


"ARGH!!" Aylin berteriak kesal.


Untung saja mereka sudah di tempat yang lumayan jauh dari aula besar.


"Aduh perutku sampai sakit! Hahaha..." Rima masih saja berusaha menghentikan tawanya yang kepalang jadi.


"Kayaknya dia naksir sama dirimu deh Lin," Megan berujar kalem. Namun, perkataannya sontak mendapat pelototan tajam dari Aylin.


"Mana ada!" sahut Aylin cepat.


"Udah, udah, udah," Burhan menenangkan. "Lupakan dulu masalah lamaran maba ke Alin tadi (hal ini kembali mendapat tatapan tajam dari Aylin). Kita fokus tugas hari ini dulu."


Semua mengangguk setuju. Mari lupakan sejenak masalah maba tadi. Masih ada tugas yang harus dilakukan.


Beberapa anggota melaporkan ke Aylin kalau ada beberapa maba yang tidak membawa obeng dan kunci Inggris. Mereka tahu ketika mereka tadi bertugas di gerbang utama saat open gate.


Sejak tahun-tahun lalu, FT memang memberi penugasan yang terkesan nyeleneh dan tidak terduga. Seperti tahun ini, maba diminta membawa obeng dan kunci Inggris. Gunanya untuk mengecek apakah maba mau melakukannya atau tidak. Sekaligus mengajarkan mereka secara tidak langsung bahwa sebagai calon teknisi, mereka tidak akan jauh-jauh dari dua benda itu dan kalau sewaktu-waktu butuh mereka sudah siap.


"Besok pagi-pagi kita sidak," Aylin berkata. "Cek semua barang bawaan maba. Kalau ada yang melanggar, beri sanksi atau hukuman. Jangan lupa ditandai mabanya!"


"Siap, Ketua!"


.


.


.


Keesokan harinya, mereka benar-benar mengadakan sidak. Apalagi ketika di gerbang utama Frans memergoki ada maba yang nyaris telat dan membawa pisau daging milik ayahnya. Katanya sih dia tadi membantu orang tuanya ke pasar terlebih dahulu sebelum ke kampus.


Hasil sidak menghasilkan cukup banyak maba yang ternyata tidak membawa nametag. Bisa-bisanya mereka. Padahal para pemandu mereka juga sudah mengingatkan.


Pada akhirnya, semua maba dihukum saat itu juga. Konsekuensi mereka melakukan kesalahan. Aylin tadi benar-benar marah. Dua hari kemarin TPK sengaja tidak menggubris kesalahan yang dibuat maba. Namun, semakin dibiarkan kok malah menjadi.


TPK juga sudah memperingatkan pemandu soal mabanya. Kesalahan maba berarti kesalahan pemandu juga. Sudah sesuai kesepakatan sejak awal. Ya, walau hanya panitia yang tahu kalau sebenarnya seperti apa, tetapi tentu TPK tetap harus menegakkan aturan.


Padahal masih hari-hari TM! Kalau pas Isimaja-nya bagaimana nanti?


"Frans, Nggar," panggil Aylin kepada dua anggotanya.


"Maba yang bawa pisau tadi udah kalian atasi 'kan?" dan dijawab anggukan oleh dua orang itu.


"Gila sih, maba tahun ini. Bisa-bisanya pisau daging milik bapaknya kebawa," celetuk Rima tak habis pikir.


"Si Kayvan tadi juga berulah lagi tuh," ujar Adi.


Ah benar! Maba bernama Kayvan itu sejak hari pertama selalu saja berulah. Aylin tak habis pikir lagi menghadapi maba sok jagoan itu. Stok kesabarannya benar-benar diuji. Baru TM, belum besok-besoknya seperti apa dia tidak tahu.


"Aku masih bingung nih ya," Andre berkata.


"Kenapa?" tanya anggota yang ada di situ. Sebagian lain ada yang masih bertugas di aula besar.


"Si Kayvan itu kok bisa tahu nama-nama maba lain ya? Padahal beda gugus jauh kan? Jangan-jangan..."


Semua menunggu kelanjutannya. Mereka juga cukup penasaran.


"...dia makan data administrasi penduduk!"


Perkataan nyeleneh dari Andre sontak mendapat respon yang beragam dari TPK yang lain.


"Oh iya, Lin, gimana kemarin? Kandidat duta FT yang kepilih siapa jadinya?" tanya Megan kemudian. Kemarin adalah seleksi pemilihan Duta FT dan Aylin harus ikut lemburan bersama PI dan ketua tim lain untuk menilai hasil wawancara dan esai tentang diri sendiri. Pagi tadi Naufal sudah menyampaikan hasilnya ke Bu Ratna selaku dosen yang kemarin ikut mewawancarai para kandidat.


Aylin hanya tidur dua jam semalam.


"Udah ada," jawab Aylin terdengar lesu.


"Siapa?" tanya yang lain penasaran. Namun, Frans tentu saja sudah tahu. Dia kan Duta FT tahun kemarin dan akan jadi mentor kandidat berikutnya.


"Itu si maba 0057."


Beberapa anggota terlihat bingung siapa maba 0057.


"OH! Maksudmu si Kayvan?" tanya Rima memastikan. Cewek itu cukup sering mendengar Aylin menyebut maba 0057 di sela unek-uneknya. Siapa lagi kalau bukan Kayvan yang sampai membuat seorang Aylin gemas sendiri karena jengkel?


Aylin mengangguk tanpa suara.


"HA!" Andre berseru tiba-tiba. Mengagetkan semua yang ada di sana.


"Beneran genap empat tahun nih Duta FT dari maba yang rebel!" katanya seolah telah berhasil menemukan sesuatu.


"Yang cewek siapa?" tanya Megan menghiraukan Andre.


"Freya Sukma Palupi dari Pendidikan Teknik Sipil. Aku udah pernah lihat anaknya, cantik kok. Di esainya juga kelihatan meyakinkan," jawab Aylin.


Sosok Freya memang menjadi primadona di kalangan sebagian panitia belakangan ini. Walau tidak begitu terlihat, tetapi karena dia orangnya cantik, tinggi, dan anggun, tentu saja rasanya akan aneh kalau sampai terlewatkan. Siapa sih yang menolak yang bening-bening? Mayoritas pasti bakal memperhatikan. Dan beruntungnya, Freya benar-benar lolos terpilih sebagai kandidat duta kampus.


Lalu untuk Kayvan sendiri, cowok itu memang jadi bahan perbincangan panitia karena aksinya saat menghadapi Aylin. Di samping itu, maba itu juga ganteng. Itu kata panitia yang lain, Aylin mana sudi mengakuinya. Dan Aylin agak menyesal kemarin dia mengusulkan Kayvan.


Iya dia jadi orang pertama yang mengusulkan nama Kayvan saat penilaian kemarin. Namun, Aylin tidak akan mengakuinya dihadapan orang lain. Apalagi maba itu!


Tidak akan pernah!


Kalau mengesampingkan sikap sok heroik dan menjengkelkannya, Aylin cukup mangakui kalau maba itu punya kemampuan. Dan setelah melihat esainya, Aylin lumayan yakin bisa mengandalkan maba itu untuk maju ke pemilihan duta kampus.


Yah... walaupun sekarang ini rasa-rasanya kembali menyesal dengan keputusannya kemarin. Namun, kemarin memang semua setuju mengajukan maba 0057 itu kok!


"Dahlah, kembali ke pos masing-masing!" kata Aylin kemudian.


HT yang dia pegang sudah berbunyi memanggil namanya dan menanyakan posisinya sekarang.


.


.


.


.


.


.


a.n.


who doesn't like dramatic entrance? wkwk


dulu pas aku maba aja pas tim penegak kedisiplinan masuk buat bacain tatib, semua lampu dimatikan sama tiba-tiba hawa ruangan jadi kaku wkwk (aku dulu tm sama ospeknya di gedung pertunjukan fakultasku)


lebih cepat dari biasanya? yup kebetulan chapter nya udah siap jadi why not?


basically ini dibelakang layarnya para TPK kita selama TM dan tak buat skip-jump, ada reaksi Aylin dan TPK setelah kejadian Kayvan "melamar" Aylin (ada di part "Proposing" di awal2)