Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Mover and Shaker



mover and shaker (phrase): a powerful person who initiates events and influences people; a leader


.


.


.


[baru minor editing]


.


.


.


.


.


.


Seperti di hari-hari TM, mayoritas panitia sejak subuh-subuh tadi sudah ada di kampus. Hari ini adalah Aqisol. Sebuah acara tradisi Fakultas Teknik UHW yang tujuannya untuk mengenalkan dan mengajarkan maba soal brotherhood atau persaudaraan yang selalu digaungkan di FT sejak lama. Tidak hanya masalah brotherhood yang jadi misi agenda turun temurun itu, tetapi juga melatih maba secara fisik dan mental.


Hanya ada di dua fakultas tradisi itu dilangsungkan. Di FT dan FO saja. Fakultas lain tidak terlalu memfokuskan masalah itu seperti kedua fakultas itu. Mungkin sikrab atau makrab yang diadakan tiap jurusan bisa dibilang agenda untuk mendekatkan antara senior dan junior serta sesame teman angkatan.


Di FT dan FO juga sama, ada makrab atau sikrab jurusan. Namun, agenda semacam Aqisol─atau di FO disebut Spoge─terbilang istimewa. Visi dan misinya tidak hanya untuk satu jurusan, tetapi satu angkatan. Salah satu tujuannya adalah agar tidak ada semacam persaingan, bully, atau hal-hal egois lain antarjurusan. Biasanya setelah TM atau Ospek, maba antarjurusan yang awalnya dekat menjadi seperti orang yang tidak saling kenal setelah kuliah dimulai.


Kecuali kalau kau mengikuti ormawa atau organisasi mahasiswa.


Tidak akan ada forum dalam forum harapannya. Persaingan antarkubu, apalagi ketika pemilwa─pemilihan mahasiswa─yang tidak sehat. Dan diharapkan semua mahasiswa memiliki solidaritas yang sama.


Jiwa satu korsa ibaratnya.


Walaupun faktanya, ketika berkuliah, kebanyakan mahasiswa memilih untuk individualis. Karena di bangku kuliah berbeda dengan ketika sekolah biasa. Dan adanya Aqisol atau Spoge, diharapkan, setidaknya, ada rasa senasib dan sepenanggungan dalam banyak hal meskipun berbeda jurusan sekalipun dan tetap terhubung satu sama lain. Itu salah satu alasan kenapa di FT tiap angkatan punya ketua.


"Hari ini dingin banget ya?" celetuk Rima sambil mengusap-usapkan tangannya, mencari kehangatan. Hari sudah mulai terang, tetapi masih terlihat cukup gelap karena masih pukul lima pagi.


"Sayang kita nggak bisa pake jaket," timpal Megan di sebelahnya. Semua TPK hanya mengenakan dresscode biasanya. Sementara panitia lain mengenakan kaos brotherhood untuk panitia berwarna merah marun. Khusus panitia kecuali Perkab dan Medis, mereka juga mengenakan jaket almet.


Rima mengangguk. "Meski kita pakai korsa, tapi nggak seanget kalau pakai almet."


Semua TPK mengenakan korsa di luar kaos hitam mereka.


Rima, Megan, Adi, dan Rahmat kini tengah berjaga di pintu gerbang utama. Mereka berempat sudah ada di sana sejak setengah jam yang lalu. Sebelum mengecek maba, mereka bertugas untuk mengecek panitia juga.


Pukul lima lebih sepuluh—mayoritas panitia sudah ada di kampus—satu persatu maba mulai berdatangan. Selain mengecek kelengkapan maba, Rima dan ketiga yang lainnya juga mengarahkan ke mana maba harus berkumpul.


Pukul enam, gerbang utama ditutup. Maba yang telat harus meminta izin ke Tim Advokasi dan TPK untuk bisa ikut agenda atau tidak. Tidak ada toleransi keterlambatan seperti ketika di TM.


Di Aqisol, semua harus tunduk pada peraturan.


Tiga puluh menit adalah waktu yang diberikan untuk bersiap dan sarapan dari penugasan yang diminta. Maba yang datangnya lebih awal tentu punya waktu yang banyak untuk sekedar hahahihi menyiapkan mental sambil makan roti dengan tenang. Beda lagi dengan maba yang datangnya telat atau mepet dari waktu yang ditentukan.


Di tempatnya, Aylin melihat ke arah jam tangannya. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh tepat. Sudah waktunya untuk memulai Aqisol hari ini. Dengan yakin, dirinya berjalan beberapa langkah ke tengah lapangan. Di tangannya ada toa pelantang.


Tanpa menunda waktu, Aylin segera membunyikan sirine toa pelantang dengan volume keras. Menandakan agar seluruh maba segera berkumpul ke tengah lapangan. Semua anggota TPK dan beberapa Menwa sudah berada di posisi masing-masing. Tim medis juga sudah mulai menempatkan diri.


Cewek itu lalu menyuruh maba untuk membentuk batalion yang terdiri dari lima gugus masing-masing.


"AYO CEPAT, CEPAT! KITA TIDAK PUNYA BANYAK WAKTU!" teriak Aylin tak sabaran ketika melihat banyak maba terlihat bingung dengan kelompoknya sendiri.


Beberapa TPK yang bertugas sebagai sie lapangan ikut meneriaki para maba untuk mempercepat. Dan setelah maba berhasil membentuk lima kelompok besar, Aylin kembali mengambil alih.


"Selamat pagi! Untuk ketua masing-masing gugus di harap menemui saya sebentar," tanpa peduli apakah maba merespon atau tidak, Aylin segera berjalan menjauh ke tepi lapangan dengan diikuti satu Menwa bernama Alam. Tak lupa menyerahkan toa pelantang ke Naufal untuk mengambil alih sementara.


Mereka berdua lalu menunggu para ketua gugus di sudut lapangan tak jauh dari posko medis. Aylin mengamati dengan tajam satu persatu ketua gugus yang sudah berkumpul.


"Oke, langsung saja. Di sini kami mengumpulkan kalian buat jadi komandan lapangan. Tidak semua tentunya, hanya lima orang yang bakal terpilih," kata Aylin langsung.


"Selain itu, saya juga mau menyampaikan pesan dari para senior terkait ketua angkatan."


Semua ketua gugus dia memperhatikan. Aylin mengamati mereka sekilas sebelum kembali berujar.


"Untuk komandan lapangan," Aylin memulai. "Tugas kalian adalah memimpin kelompok kalian selama Aqisol berlangsung. Kalian bertanggungjawab sama kelompok yang kalian pimpin. Kayak danton pas latihan baris-berbaris sederhananya. Tapi, walau kalian itu komandan, kalian harus tetap mengikuti arahan ketua angkatan siapapun nantinya. Jadi sama seperti dalam upacara yang tiap senin dan acara tertentu kalian ikuti pas sekolah. Ada yang ditanyakan?"


Salah seorang ketua gugus mengacungkan tangannya. Setelah memperkenalkan diri, dia lalu bertanya, "Kak, soal ketua angkatan, itu maksudnya gimana ya Kak? Tugasnya juga seperti apa."


"Pertanyaan bagus," sahut Aylin. "Di tradisi FT, tiap angkatan punya satu orang yang dijadikan ketua angkatan."


Aylin lalu menjelaskan secara sederhana dan singkat apa peran ketua angkatan nantinya. Selain menjadi pemimpin maba dalam Aqisol, ketua angkatan nantinya juga berperan diluar kegiatan inaugurasi. Salah satunya adalah menjadi penghubung angkatannya dengan angkatan lain. Ketua yang juga bertugas mengumpulkan teman-teman seangkatannya ketika ada kegiatan.


Ketua angkatan tidak sendirian. Ada bawahannya yang berasal dari perwakilan tiap jurusan. Kalau ketua BEM dan Hima mengurus seluruh angkatan atau satu jurusan saja, ketua angkatan lebih berfokus ke angkatannya saja. Dan juga, lebih santai dan tidak formal.


"Sebelum ke sana, kita fokus ke komandan lapangan lebih dulu."


Aylin lalu menanyakan siapa yang mau suka rela menjadi komandan. Hasilnya ada tujuh orang yang mengajukan diri. Melebihi dari kuota. Itu artinya Aylin harus meyeleksi lagi.


Cewek itu menyerahkan kepada Alam untuk memilih empat dari tujuh orang volunteer. Alam akan menanyai mereka alasan kenapa mau jadi komandan. Sementara Aylin diam memperhatikan sambil menilai.


Hasil dari wawancara singkat itu membuahkan empat orang terpilih. Kurang satu orang lagi. Kali ini, Aylin yang mengambil alih. Cewek itu melempar sebuah pertanyaan ke semua ketua gugus yang tersisa.


"Kenapa kalian mau disuruh berangkat sebelum jam enam pagi?"


Pertanyaan sederhana tetapi menjebak. Aylin menatap tanpa ekspresi ke juniornya. Menunggu siapa kira-kira yang akan berani menjawab.


Cukup lama tidak ada yang berani menjawab. Aylin mulai kehabisan kesabaran.


"Ayo jawab, teman-teman kalian menunggu lho. Jawab dengan jujur," desak Aylin.


Sampai ada satu orang maba yang mengangkat tangan dengan ragu. Aylin lalu mempersilakannya untuk menjawab.


"Saya Teodore dari Gugus Jayapura," maba itu memperkenalkan diri.


"Berangkat sebelum jam enam pagi karena kewajiban, Kak. Kewajiban saya sebagai maba dan bagian dari FT. Meski rasanya berat, tapi karena ini adalah tugas dan kewajiban, jadi mau nggak mau harus dijalani. Saya juga nggak akan tahu nanti akan seperti apa kalau saya nggak berangkat. Disisi lain, saya juga belajar buat bangun pagi Kak."


"Kewajiban ya? Jadi kalau kalian diminta berangkat jam tiga pagi mau? Padahal kalian nggak dikasih tahu buat apa gitu?" tanya Aylin sekali lagi.


"Iya Kak, sesuai keadaan dan kemampuan saya. Dan siapa yang ngasih tugas. Kalau yang ngasih tugas ternyata hanya orang iseng, ya saya biarkan. Beda lagi kalau orang itu ternyata atasan saya. Karena kita nggak akan tahu apa yang diinginkan kalau kita nggak mencoba atau mengeceknya. Entah baik atau buruk. Itu menurut saya Kak," jawab Teodore sekali lagi.


Aylin tersenyum miring dan bergumam, "Menarik."


Tanpa membuang banyak waktu lagi, Aylin memutuskan Teodore sebagai komandan kelima. Cowok itu walau terlihat agak canggung, dia mampu menunjukkan taringnya.


Kebetulan sekali karena cowok itu juga terpilih menjadi ketua angkatan. Secara tidak langsung, apa yang dilakukan Teodore barusan menguatkan posisinya sebagai ketua angkatan.


Aylin tidak butuh jawaban yang penuh basa-basi dan janji yang belum tentu bisa ditepati. Sang ketua TPK itu hanya membutuhkan jawaban yang apa adanya. Dan Teodore memberikannya.


Alam juga menyetujui keputusan langsung Aylin. Cowok itu bisa melihat kejujuran Teodore ketika menjawab pertanyaan. Itu artinya, maba itu tanggung jawab dan punya perhitungan.


Kemudian, Aylin mengumumkan siapa yang akan jadi ketua angkatan tahun ini.


"Dan yang terakhir, saya sebagi perwakilan senior kalian, memutuskan siapa yang akan jadi ketua angkatan," kata Aylin lalu memberi jeda sejenak.


Cewek itu menyapukan pandangannya ke para juniornya.


"Teodore dari Gugus Jayapura," lanjutnya. "Yang kebetulan saja menjadi komandan lapangan terpilih."


Cowok yang bersangkutan terkejut dan tidak menyangka. Tiba-tiba dia merasa canggung dan gugup. Dia tidak bisa menerimanya. Dia bahkan tidak punya pengalaman sama sekali!


"T-tapi Kak—" belum sempat Teodore memprotes, ucapannya buru-buru dipotong oleh Aylin.


"Para senior dan teman-temanmu sudah memberi kepercayaan padamu buat jadi ketua angkatan. Kau tidak mau mengecewakan mereka bukan? Kalau kami memilihmu, itu artinya kami yakin dengan kemampuanmu," kata Aylin.


Teodore jadi merasa berat mendengarnya.


"Lagian kau nggak akan sendirian kok dek," sambung Alam. Cowok itu memberikan senyum menguatkan ke Teodore. "Banyak temenmu yang tentu mau membantumu. Dan kalau kau bingung atau butuh bantuan, tinggal bilang ke seniormu."


Dengan berat hati, Teodore mengangguk mengiyakan setelah beberapa saat. Dia tidak bisa menolaknya, tetapi dia juga tidak tahu apa bisa melakukannya.


"Bagus!" sahut Aylin puas melihatnya. Cewek itu lalu menyuruh para ketua gugus kembali ke tempatnya. Tak lupa mengingatkan para komandan lapangan soal tugas mereka.


Dipimpin Aylin, mereka kembali ke tengah lapangan di mana semua sudah menunggu. Terlihat Naufal sudah selesai mengambil alih.


.


.


.


Aylin tengah mengawasi para maba yang memulai kembali latihannya setelah selesai beristirahat. Pagi ini terbilang cukup lancar walau ada beberapa kendala. Namun, semua masih bisa teratasi.


Maba bernama Teodore itu juga melakukan tugasnya dengan cukup baik. Beserta keempat komadan yang lain.


Sejauh ini tidak ada masalah berarti.


Namun, suasana yang lumayan kondusif itu terbuyarkan dengan suara ribut tak jauh dari posisi Aylin berdiri.


Cewek itu memalingkan pandangannya ke sumber suara. Dia memicingkan matanya ketika mengetahui sumber keributan itu berasal dari kelompok empat. Tempat di mana Rima dan Guntur bertugas mengawal.


Jarak Aylin dan kelompok empat tidak begitu jauh. Namun, dia tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang diributkan. Cewek itu diam di tempat dan mengawasi.


Aylin tidak akan langsung turun tangan langsung kalau masalah itu masih bisa diselesaikan oleh anggota yang lain. Tugasnya tidak hanya di satu tempat saja.


Cewek itu kembali memicingkan matanya lagi ketika melihat keributan itu semakin menjadi. Dia melihat seorang senior dan junior yang tengah adu mulut.


Guntur... apa yang dilakukan cowok itu? Kenapa dia malah mengajak ribut maba? Bukannya melakukan tugasnya dengan benar!


Aylin berusaha menahan kekesalannya. Sudah berkali-kali di setiap kesempatan, dirinya menekankan kepada semua anggotanya untuk bersikap profesional! Walau ada maba yang menjengkelkan sekalipun.


Namun, apa yang dia lihat ini?


Senior dan maba hampir saja berkelahi di tengah lapangan kalau saja tidak dihentikan Rima.


"Keluar kau!"


Oke ini tidak bisa dibiarkan lagi. Aylin harus turun tangan langsung!


Entah masalah apa yang terjadi antara Guntur dan maba bertubuh jangkung itu. Sampai-sampai Guntur mengusirnya keluar.


Di depan umum!


Di depan banyak maba!


"TPK GUNTUR!" teriaknya lantang. Lalu Aylin berjalan cepat mendekati kelompok empat yang sudah sangat tidak kondusif lagi.


Bisa-bisanya dia!


Bahkan sampai membuat kelompok lain menghentikan latihan mereka dan memperhatikan sini.


Aylin benar-benar kesal sekarang. Raut wajahnya berubah masam. Kesal dengan tindakan Guntur yang gegabah dan membuat masalah. Apa briefing tadi pagi tidak didengarkan dengan baik?


Bukan kah Aylin sudah menekankan untuk menahan dulu semua masalah pribadi selama Aqisol berlangsung? Kalau seperti ini, yang ada maba malah berspekulasi yang tidak-tidak.


Sedangkan tujuan Aqisol adalah mendekatkan antarmaba dan seniornya.


Aylin menatap tajam ke arah Guntur yang kedua tangannya masih dipiting oleh Rima.


"Ikut saya!" katanya dengan tajam.


"Dan untuk para maba, lanjutkan latihan kalian!" Aylin lalu berseru keras untuk semua maba yang ada di lapangan.


"SEKARANG!!"


Kemudian, cewek itu melenggang pergi diikuti Guntur di belakangnya. Aylin memberi kode kepada Naufal untuk tetap di lapangan sampai kondisi kembali kondusif.


Aylin dan Guntur sampai di basecamp panitia yang kosong.


"Masalahmu apa sih?" tanya Aylin tanpa basa-basi. "Kau nggak sadar ya apa yang kau lakukan itu malah membuat banyak masalah?"


"Maba itu yang kurang ajar Lin!" jawab Guntur membela diri.


"Sekurang ajarnya maba, tugas kita yang mengarahkannya!"


"Ya itu tadi yang kulakukan Lin! Aku tadi sedang memberi pelajarn. Tapi maba itu nggak terima," sahut Guntur.


"Pelajaran apa? Kenapa bisa sampai seperti tadi?" tanya Aylin dengan tenang kali ini.


"Hormat. Dan maba itu sebelumnya nggak hormat pada senior."


Aylin mendengus mendengarnya.


"Hanya itu? Ckckck!"


"Itu namanya nggak sopan Lin! Dan maba juga harus tahu sopan santun kepada seniornya!"


"Iya aku tahu. Tapi nggak gitu juga caranya!" Aylin menjawab tak kalah ngegas. Mau bagaimana lagi? Wong Guntur jawabnya juga tidak santai kok.


Aylin menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan. Setelah merasa tenang, cewek itu kembali bersuara.


"Mengajari maba soal 5S itu jangan dipaksakan. Mereka sudah dewasa. Bukan anak-anak yang harus didikte. Kalau ingin maba menghormatimu sebagai senior, hormatilah mereka juga sebagai maba. Ada hubungan timbal balik. Kalau mereka ada salah, yang nasehati baik-baik. Kalau di depan umum, nggak perlu menyebutkan siapa-siapanya. Cukup dikasih tahu kalau 5S itu penting. Kau bisa menasehatinya dibelakang secara langsung ke orangnya."


Aylin lalu terkekeh pelan. "Terdengar hipokrit memang, tapi ya seperti itu lah. Beri sanksi ke maba sesuai kesalahan mereka. Jangan pakai kekerasan fisik, bahkan sampai ngajak adu jotos. FT emang tegas dan keras, tapi bukan berarti pakai kekerasan sesuka hati."


"Tapi kau pas TM gitu Lin. Pas sidak nametag," Guntur berujar kemudian.


"Memang. Ku akui itu. Tapi bukan seperti apa yang kau lakukan tadi. Aku bukannya nyari pembelaan, tapi apa yang kau lakukan tadi sudah kelewat batas. Yang kulihat tadi justru seperti balas dendam, apa aku benar?"


Guntur terdiam tidak bisa berkata apa-apa setelah mendengar ucapan Aylin. Cewek itu tepat sasaran. Bagaimana dia bisa tahu?


Selama menjadi ketua TPK sejauh ini, terkadang Aylin bisa menjadi sangat menyeramkan. Cewek itu bisa tahu dan menilai anggotanya dengan cermat. Seolah-olah kau tidak akan bisa membohonginya.


Andai Guntur tahu, Aylin itu memang orangnya cukup terliti dan pemerhati yang baik. Dia memperhatikan setiap karakter para anggotanya dengan cukup baik. Jadi, Aylin tidak hanya mengenal sebatas nama, tetapi juga belajar memahami masing-masing karakter.


Dan Guntur merupakan karakter yang sebelas dua belas dengan Joni, David, Andre, dan Enggar. Keras kepala dan tidak sabaran.


"Jadi, apa aku benar?" tanya Aylin sekali lagi.


Dengan perlahan, Guntur akhirnya mengangguk mengakuinya.


"Darimana kau tahu Lin?" tanyanya penasaran.


"Intonasi suara dan gerak-gerikmu. Kau tahu, aku berdiri nggak begitu jauh dari kelompok kalian. Meski aku nggak paham apa masalah kalian tadi, tapi cara bicaramu yang terkesan menyudutkan maba itu, membuatku menerka-nerka. Dan ternyata tebakanmu benar," jawab Aylin dengan santai.


"Dan kusarankan padamu, buang dulu rasa dendammu. Apapun alasannya. Kau harus profesional! Apa kau paham?!"


"Iya Lin."


"Bagus. Kalau sampai kejadian lagi, aku nggak akan segan buat ngasih hukuman berat. Itu konsekuensinya."


.


.


.


.


.


.


.


.


a.n.


aku kurang puas dengan chapter ini, maafkan kalau anyep ya


ini versi Aylin dari part Kayvan di chapter 14-15 apa ya


see you di chapter selanjutnya ^^