![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
crowned head (n) : a king or queen
.
.
.
[baru minor editing, part panjang]
.
.
.
Kai berdiri tak jauh dari Teo. Cowok itu mengedarkan pandangannya ketika semua teman-temannya sibuk memikirkan ucapan Naufal yang menggoyahkan mereka.
Dia mencari seseorang yang sejak tadi tidak begitu terlihat. Hal yang cukup aneh mengingat orang itu punya posisi yang penting di kepanitiaan.
Matanya terus mencari-cari keberadaan orang itu. Sampai pandangannya berhenti pada satu titik yang tak jauh dari Naufal dan yang lainnya berdiri. Orang itu berdiri dengan tenang. Raut wajahnya terlihat datar tanpa eskpresi.
Orang itu adalah Aylin, sang ketua TPK itu sendiri.
Aylin terlihat berdiri sendirian di sana.
Oh tunggu! Tidak benar-benar sendirian. Tak jauh di belakangnya ada dua orang asing memakai korsa. Dibalik korsa, mereka memakai dresscode seperti TPK. Kai belum pernah melihat dua orang itu sebelumnya.
Ekspresi keduanya sama-sama datar, tanpa senyum. Mereka berpose seolah-olah seperti seorang bodyguard.
Tanpa sengaja, Kayvan melihat ada sesuatu berkilau terpantul samar di leher Aylin. Terpantul oleh cahaya matahari sore.
Sesuatu yang berkilau itu menandakan kalau sang ketua TPK mengenakan sesuatu yang disembunyikan. Setahu Kai, semua panitia tidak mengenakan aksesoris sama seperti maba.
Kecuali jam tangan.
Sesuatu yang berkilau samar itu ada di sekitar leher Aylin. Jarak antara dirinya dan sang ketua TPK tak begitu jauh. Jadi, Kai setidaknya masih bisa melihatnya setelah memperhatikannya dengan jeli.
Benda apa itu?
Apa yang dipakai Aylin? Yang membuat seorang ketua TPK nekat memakainya padahal jelas-jelas peraturannya dilarang dan Aylin sendiri yang menyampaikannya sejak TM hari pertama.
Dan kenapa dia malah memakainya di hari terakhir? Padahal semua panitia tidak terlihat memakai benda serupa.
Buat apa?
Benar-benar mencurigakan!
Oh! Atau jangan-jangan...?
Sementara di sisi lain, Teo masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Cowok itu tengah berpikir keras. Meyakinkan dirinya kalau dia tidak akan terpengaruh dengan ucapan-ucapan sang ketua Isimaja FT.
Sejak tadi Naufal terlihat berusaha keras menggoayahkan mereka.
Ditengah-tengah dia sedang memutar otak, seseorang menepuk pundaknya. Teo menoleh dan mendapati Kai-lah yang melakukannya.
"Bang Frans bukan king-nya," perkataan Kai membuat Teo dan beberapa maba yang ada di dekat mereka terkejut bukan kepalang.
"Apa maksudmu?" tanya Teo. Matanya membulat terkejut. Aneh-aneh saja si Kayvan. Apa dia terpengaruh dengan ucapan Naufal?
Terlihat bukan seperti Kai yang biasanya.
Dengan yakin, sang duta kampus terpilih menjawab, "Aku sangat yakin kalau Bang Frans bukan king-nya. Dan aku punya dugaan sangat kuat siapa king yang asli."
Barusan Naufal mengingatkan mereka soal waktu. Membuat sebagian besar maba terlihat panik dan mendesak Teo untuk segera melakukan keputusannya.
"Waktu kita nggak banyak Kai! Kita nggak punya cukup waktu buat nebak-nebak lagi," seru Teo dengan cemas.
"Percayakan padaku. Aku tahu siapa king-nya."
"Kau yakin?" sang ketua angkatan bertanya dengan nada tidak yakin.
Kai mengangguk mantap. "100%. Saat Kak Naufal bertanya tadi, aku melihat sekitar dan curiga pada salah satu panitia. Ada ciri-ciri yang nggak ada di panitia lain. Kita ini udah dikecoh dua kali, Yo."
Walau masih agak kurang percaya, Teo berkata, "Kalau kau udah yakin banget gini, aku percayakan padamu. Semoga dugaanmu benar."
Sekali lagi Kai mengangguk dengan yakin. Dia lalu tersenyum menenangkan.
"Aku yakin banget. Bahkan kalau sampai harus bertaruh, aku berani melakukannya."
Teo meminta Kai mengambil alih untuk yang ini. Karena dirinya sendiri tidak tahu siapa yang dicurigai sahabatnya itu. Bahkan sampai membuat seorang Kayvan berkata dia berani untuk bertaruh untuk yang satu ini.
Tandanya cowok itu benar-benar percaya diri dengan jawabannya.
"Saya Kayvan Candra mewakili angkatan 59, izin bicara!" Kai berseru dengan lantang dihadapan Naufal dan yang lainnya.
Naufal mengisyaratkan Kai untuk melanjutkan.
"Saya izin menjawab pertanyaan Kak Naufal terkait siapa king yang membawa kuncinya," lanjut Kai.
"Kalau begitu, siapa king-nya?" tanya Naufal dengan nada menantang. "Di antara kami, siapa king-nya?"
Naufal menunjuk PI, termasuk dirinya, dan Frans.
Dengan yakin, Kai menjawab, "King yang sebenarnya tidak berdiri bersama para kakak panitia dihadapan saya."
Jawaban Kai sontak membuat semua maba heboh mendengarnya. Mereka sudah yakin kalau Frans-lah king yang dicari. Namun, kenapa justru cowok itu menjawab berbeda?
Apa dia tidak diberi tahu? Sepertinya hal yang sangat mustahil!
Berbagai respon dari maba angkatan 59 mewarnai sore itu. Ada yang memprotes jawaban Kai dan ada juga yang menanyakan kenapa dia menjawab demikian.
Beberapa saat kemudian, Naufal tersenyum samar dan mengangguk.
"Benar. Tidak ada di antara kami di depan kalian adalah king-nya!"
Jawaban Naufal semakin membuat heboh. Banyak dari maba yang tak percaya mendengarnya. Terkejut dengan fakta yang ada serta panik dan cemas karena waktu tinggal sebentar lagi.
Jadi, selama ini tebakan mereka salah?
Lalu siapa king yang asli? Kenapa Kai bisa tahu? Di mana king yang dimaksud sekarang berada?
Banyak maba terlihat mencari-cari keberadaan king yang dimaksud.
"Waktu kalian tinggal tujuh menit!" sekali lagi Naufal mengingatkan. "Kalau kalian ingin king yang membawa kuncinya ditemukan, tunjukkan sesuatu yang membuatnya keluar dan mau memberikan kuncinya ke kalian."
Antara panik dan lega bercampur jadi satu. Panik karena waktu tinggal tujuh menit dan lega karena Naufal memberikan petunjuk kepada mereka.
Mendengar perkataan Naufal, Kai segera memanfaatkan kesempatan yang ada. Dia tidak mau membuang-buang waktu. Dia ada ide dan dia harap ide ini akan berhasil. Cowok itu lalu meminta Teo dan ketua gugus lainnya untuk mengumpulkan semua maba.
Ya, semua. Tidak hanya satu batalion.
Walau agak kurang paham untuk apa, tetapi Teo dan ketua gugus lainnya yakin kalau Kai punya rencana. Semua ini juga berawal dari Kai yang menebak berbeda dan terbukti benar.
Setelah semua maba berkumpul dan berbaris rapi—membuat semua panitia bingung dan keheranan dengan apa yang akan mereka lakukan, Kai lalu kembali ke depan.
"Saya izin meminta Kak Aylin untuk tolong maju ke depan!"
"Tolong lihat kami, Kak! Kami ingin menunjukkan sesuatu kepada Kak Aylin."
Perkataan Kai tak hanya membuat maba terkejut, tetapi juga sebagian besar panitia yang ada di lapangan.
Di tempatnya, Aylin mengangkat sebelah alisnya mendengar namanya disebut. Bahkan dirinya diminta maju segala. Walau agak kebingungan dan penasaran—dia menyembunyikannya dengan baik, cewek itu melakukan apa yang diminta.
Dia juga agak sangsi, takut cowok bernama Kayvan itu malah membuat ulah lagi.
Setelah Aylin menempatkan diri di tempat yang diminta, Kai lalu kembali bergabung bersama para maba. Dia meminta tolong ke Teo dan para ketua gugus lainnya untuk mengomando para maba.
Sebelum memanggil Aylin tadi, dia sudah mem-briefing singkat mereka soal rencana apa yang dilakukan dan dimohon sebarkan ke semua maba.
Semua bergerak cepat. Tidak mau membuang lebih banyak waktu lagi.
Pertama, mereka akan melakukan yel-yel. Waktu tinggal empat menit lagi.
Dipimpin Kai dan para ketua gugus, para maba melakukan yel-yel Engineering dan Rajawali Utara dengan kompak. Berkali-kali menyanyikannya membuat mereka punya reflek yang cepat. Tak perlu latihan lagi untuk mengompakkan mereka. Bahkan hentakan kaki mereka begitu terasa dan terdengar keras.
Efek waktu yang terbatas juga mempengaruhi adrenalin mereka.
Begitu selesai yel-yel, mereka di sambut tepuk tangan meriah dari sebagian besar panitia yang terharu dengan kekompakan mereka. Bahkan sampai ada yang merinding melihat kekompakan dan semangat yang ditampilkan.
Namun, tentu saja tidak berhenti sampai situ. Dimulai dari Kai, lalu para ketua gugus satu persatu, baru semua maba, mereka mengucapkan terima kasih.
"TERIMA KASIH KAK AYLIN DAN KAKAK-KAKAK PANITIA ATAS KERJA KERASNYA!"
Mereka membungkuk singkat untuk menunjukkan rasa hormat mereka. Ide itu Kai dapatkan secara tiba-tiba. Lagipula, mereka memang juga ingin berterima kasih ke semua panitia yang telah menyiapkan agenda Isimaja ini untuk para maba.
Lalu, Kayvan berjalan maju ke depan. Sampai dirinya berdiri tak begitu jauh dan berhadapan langsung dengan Aylin.
Semua menahan napas menunggu apa yang akan terjadi. Para panitia penasaran—termasuk Aylin—dengan apa yang akan dilakukan pemenang duta kampus tahun ini. Sementara para maba penasaran dengan apa yang akan dikatakan teman mereka.
Walau mereka sudah diberikan briefing singkat, tetapi tetap saja. Mereka hanya diberitahu rencana garis besarnya saja. Itupun dilakukan buru-buru karena mengejar waktu dan sudah mereka lakukan tadi.
Mereka menunggu isyarat berikutnya.
Aylin mengangkat sebelah alisnya, menunggu apa yang akan dikatakan maba di hadapannya ini. Kedua tangannya dilipat di depan dada.
"Kak Aylin adalah pemegang kuncinya!" seru Kayvan dengan lantang. Sorot matanya tak goyah.
"Dan bolehkah kami menjaga kuncinya dan membantu kakak-kakak senior meneruskannya ke generasi berikutnya?"
Sebagian besar panitia berseru heboh—TPK dan Aylin masih tetap pada posisi yang sama—mendengar ucapan seorang Kayvan barusan. Mereka tidak menyangka kalau kata-kata itu akan keluar dari mulutnya. Kagum, kaget, tidak percaya, dan haru menjadi satu.
Ditambah semua maba, yang dikomando Teo si ketua angkatan, berkata serempak, "Benar, Kak. Kami mohon!" sambil sedikit membungkuk.
"Tahu dari mana kalau saya yang memegang kuncinya?" tanya Aylin dengan nada menantang.
"Karena kakak memakai apa yang tidak dipakai panitia lain," jawab Kayvan dengan penuh percaya diri. Lalu cowok itu menunjuk benda berkilau yang terlihat sekilas di leher Aylin.
Sekali lagi, sebagian besar panitia kembali heboh.
Aylin menatap ke arah maba di depannya dengan pandangan sulit diartikan. Kayvan balas menatap tepat di matanya dengan sorot penuh keyakinan.
Dengan perlahan, Aylin mengeluarkan benda yang menggantung di lehernya dan tersembunyi di balik kaos hitamnya—semua TPK memang hari ini memakai kaos hitam dibalik blazer korsa mereka saat Gear Ceremony.
Benda yang ternyata sebuah kalung berbandul lencana gir. Di lencana gir itu terdapat angka 59, yang merupakan angkatannya Kayvan.
Aylin mengangkat kalung itu dengan tangan kanannya. Para maba yang melihat apa yang dipegang sang ketua TPK berteriak kesenangan dengan heboh. Euforia mereka berkali lipat daripada saat bisa menyelesaikan tantangan di hari terakhir Aqisol waktu itu.
Semua panitia—kecuali TPK yang masih bertahan pada posisinya—bertepuk tangan kagum dan mengapresiasi usaha para maba tahun ini.
Waktu sudah habis dan king sudah ditemukan. Tinggal lencana itu berpindah tangan saja.
Dan ketika Aylin hendak menyerahkannya ke Kayvan, seseorang berteriak lantang. Menghentikan lencana gir itu berpindah kepemilikan.
"Izin menginterupsi, Ketua!"
Semua pasang mata menoleh ke sumber suara. Dari arah barat, Enggar berjalan mendekat diikuti beberapa TPK. TPK yang mungkin kurang familiar bagi para maba.
Aylin tahu para TPK itu.
Ya, para TPK bayangan.
Hanya Enggar yang mengenakan blazer korsa FT. Para TPK bayangan masih mengenakan dresscode seperti tadi pagi.
Saat Enggar dan TPK bayangan sampai di depan Aylin, Enggar lalu bersuara. Ekspresinya terlihat tidak baik. Cowok itu lalu menyapukan pandangan ke seluruh maba dengan pandangan menilai yang terkesan meremehkan. Sebelum kembali fokus ke Aylin.
"Jangan diberikan dulu kuncinya, Ketua!" katanya dengan lantang. "Mereka belum pantas dan masih ada konsekuensi yang harus mereka lakukan."
Perkataan konstroversial dari Enggar memicu reaksi berbeda dari para maba dan panitia.
Panitia terlihat keheranan dan sebagian besar maba terlihat tak terima. Waktunya sudah habis. Kenapa masih ada saja halangannya? Toh mereka sudah menemukan kuncinya. Ini malah disuruh jangan diberikan!
"Saya punya alasan kuat kenapa Ketua harus menahan kuncinya dulu," kata Enggar dengan tegas. Raut wajahnya mengeras.
Dia lalu mengeluarkan catatan dari saku blazernya.
"Dan di catatan ini adalah daftar bukti-buktinya."
Enggar lalu mulai membacakan catatan yang dibawanya. Catatan yang ternyata berisi daftar nama para maba yang melakukan kesalahan dan pelanggaran selama Isimaja berlangsung.
Enggar menyebutkan nama dan jenis pelanggaran dan kesalahan mereka. Bukan mengada-ada, tetapi memang benar sesuai kenyataan yang ada.
Ada yang telat lebih dari batas toleransi.
Membuang sampah sembarangan.
Tidak membawa penugasan dan dresscode yang salah.
Membawa barang yang tidak ada dalam daftar yang dibolehkan.
Berkata kasar dan berlaku tidak sopan. Termasuk kasus ketika beberapa maba cewek bersikap sksd yang terkesan tidak sopan kepada Frans kemarin.
Tidur saat acara formal berlangsung.
Sibuk ramai sendiri saat ada orang yang berbicara di depan.
Dan beberapa list lagi.
Dan hari inilah saatnya meluruskan. Sebelum Isimaja FT benar-benar ditutup.
Tak hanya menyebutkan siapa saja yang melanggar dan berbuat salah, Enggar juga membentak dan menyindir mereka dengan kata-kata tajam. Tidak membiarkan maba untuk protes.
Para TPK bayangan juga tak tinggal diam. Mereka juga melontarkan kata-kata pedas kepada maba angkatan 59.
Di sidang habis-habisan di tengah lapangan dan disaksikan semua panitia.
"KALIAN PIKIR HABIS BIKIN KESALAHAN, KALIAN BISA LOLOS GITU SAJA?"
"HEBAT YA, MABA TAHUN INI. REKOR KESALAHAN TERBANYAK JATUH PADA KALIAN!"
"BAGUS, BAGUS BANGET! DITERUSKAN YA JANGAN LUPA."
"NGGAK SOPAN! KURANG BISA JAGA SIKAP!
"HARUSNYA PENUGASANNYA DISURUH BAWA TONG SAMPAH! BIAR NGGAK BUANG SAMPAH SEMBARANGAN!"
"KURANG JELAS APA SIH ATURAN DAN PENUGASANNYA?!"
"SENANG YA BISA BERBUAT SEENAKNYA?"
"SENENG DONG PASTINYA."
"NGGAK MALU APA SAMA TEMEN KALIAN YANG NGGAK BERSALAH SAMA SEKALI?!"
"MALU-MALUIN ANGKATAN SENDIRI!"
Wow! Benar-benar lebih mengguncang mental dari sebelum-sebelumnya. Bahkan meski saat Aqisol sudah sering diteriaki, kali ini benar-benar berbeda.
Ditambah tadi para maba sudah berhasil menyelesaikan misi, tinggal sedikit lagi. Eh, malah para TPK yang tidak tahu datangnya dari mana ini menghancurkan semuanya.
Para panitia hanya terdiam menyaksikannya. Tidak bisa berbuat apa-apa kalau TPK sudah mengambil alih.
Apalagi memang ada kesalahan. Mau membela diripun, para maba sudah dicecar dan dibungkam oleh Enggar dan TPK bayangan.
Tidak peduli seperti apa reaksi para maba yang dimarahi habis-habisan. Untung saja tahun ini para maba yang melakukan kesalahan tidak diminta maju ke depan dan langsung disemprot seperti tahun lalu.
Tahun ini, satu angkatan kena semua.
Hari semakin sore. Waktu sudah habis sejak tadi. Namun, lencana juga belum didapatkan.
Maba yang tak kuat langsung mengundurkan diri dari barisan. Dengan sigap Tim Medis segera bertindak.
Sementara itu, sang ketua terdiam di tempatnya. Jika para maba biasanya hanya melihat raut datar, marah, dan judes selama ini, kini ekspresi baru terbit menghiasi wajahnya. Bukan ekspresi senang atau sedih.
Namun, justru ekspresi kekecewaan terpetak dengan jelas. Kekecewaan yang mendalam seolah-olah orang yang selama ini kau percayai ternyata tidak seperti apa yang dibayangkan.
Membuat hampir semua maba yang melihat merasa bersalah. Sisanya tidak tahu harus apalagi. Mereka dilanda kebingungan, rasa bersalah, dan tentu saja rasa lelah. Benar-benar kalut.
Ada juga yang menahan amarah karena apa yang mereka kerjakan harus gagal karena interupsi tadi.
Aylin tersenyum kecut, sorot matanya sinis.
"Terima kasih kalian semua."
Setelah berkata demikian, Aylin pergi dari lapangan. Diikuti sebagian TPK tak lama kemudian, termasuk Frans—cowok itu sempat melemparkan tatapan datar ke semua maba sebelum berlalu pergi.
Keadaan menjadi hening. Beberapa panitia yang berada di sisi lapangan satu persatu pergi dari sana.
Semua maba menunduk, tidak tahu harus melakukan apa selanjutnya. Merasa gagal dan putus asa.
"Tes, tes," suara Naufal yang menjajal toa pelantang memecahkan suasana hening yang terjadi.
"Oke, minta perhatiannya buat semua maba," lanjutnya.
"Tolong baris yang rapi sesuai gugus ya? Pengondisian dulu yang rapi. Tolong tiap ketua gugus mengondisikan anggotanya masing-masing."
"Kalau sudah rapi, silakan duduk dulu, istirahat bentar. Ada yang ingin saya sampaikan ke kalian juga," kata Naufal.
Setelah semua maba berbaris rapi pergugus dan duduk di lapangan, Naufal kembali membuka suaranya.
"Saya nggak mau basa-basi lagi karena sepertinya kalian sudah capek dan pastinya kecewa karena lencana kalian masih harus ditahan," ujarnya. "Saya mewakili semua panitia mohon maaf kalau dari awal kita bertemu sampai sekarang ada salah. Dan maaf sekali lagi kalau lencana gir kalian belum bisa kami berikan. Mengingat konsekuensinya tadi juga."
"Tapi disamping itu, saya bangga dengan kerja keras kalian. Pemikiran dan strategi kalian. Saya apresiasi itu. Kalian sudah hebat sejauh ini, tetapi ada beberapa kesalahan yang memang tidak bisa ditoleril dan ada konsekuensi yang berlaku."
Naufal menyapukan pandangannya ke seluruh maba.
"Sebelum nanti kalian pulang, ada pembagian hadiah apreasi dari kami. Sesuai yang kami janjikan sebelumnya. Gugus mana yang akan menang nanti diumumkan sesuai kategorinya," katanya, "Tapi sebelum itu, tolong tutup mata kalian dulu ya? Pejamkan mata dan nggak boleh mengintip."
"Kalau sampai ada yang ketahuan mengintip, kalian akan lebih lama lagi di sini. Kalian ingin pulang cepat kan? Jadi dimohon kerja samanya. Tolong pemandu yang masih di lapangan, bantu mengawasi ya? Sekalian nanti dibantu mengarahkan mereka ke aula besar untuk penutupan."
Pemandu yang ada di lapangan segera melakukan tugas mereka. Tak peduli di gugus mana. Para maba lalu mulai memejamkan mata mereka.
Panitia yang dilapangan hanya bersia PI, beberapa PDD, beberapa Tim Medis, dan sebagian dari tim Pemandu.
Naufal lalu meminta para maba memegang pundak teman yang ada di depannya, pergugus. Yang paling depan sendiri tetap diam dan menunggu aba-aba dari pemandu yang masing-masing.
"Meski kalian belum bisa dapat lencananya tahun ini, tapi kami ada sedikit kejutan tambahan untuk kalian. Kita nanti juga akan bersenang-senang karena dari panitia sudah mengundang beberapa bintang tamu. Nah, itu bocoran dari saya. Semoga kalian menikmatinya nanti."
Naufal lalu meminta mereka untuk pergi ke aula dengan mata terpejam, tidak boleh mengintip, dan tetap berpegangan pada pundak teman di depannya. Gugus demi gugus dibantu dua pemandu pada masing-masing kelompok untuk mengarahkan mereka.
Para maba dibuat penasaran. Dan apa tadi Naufal bilang? Bintang tamu? Siapa ya kira-kira?
Walau masih kecewa karena gagal mendapat lencana girnya, setidaknya masih ada pesta penutupan secara resmi.
Begitu sampai di dalam aula, dengan bantuan pemandu, para maba semakin dibuat penasaran dengan suara-suara yang mereka dengar. Suara obrolan pelan dan langkah kaki yang mereka yakin berasal dari panitia yang berlalu lalang.
Mereka belum boleh diminta membuka mata. Dalam keadaan bingung dan gelap, mereka hanya bisa berdiri dan berdiam diri di tempat masing-masing. Beberapa kali terdengar panitia berseru, "Jangan ada yang mengintip ya!"
Setelah beberapa menit dalam ketidakpastian, akhirnya terdengar suara Naufal yang membolehkan mereka untuk membuka mata.
Dengan kelegaan dan rasa penasaran luar biasa, para maba membuka mata.
Namun, apa yang dilihatnya malah kembali membuat bingung. Bukannya melihat suasana aula besar, mereka justru kembali mendapatkan kegelapan.
Pintu aula di tutup dan semua lampu dimatikan. Hanya ada kegelapan dan gumaman lirih sebagian dari mereka yang mempertanyakan keadaan. Bahkan mereka tidak tahu di mana semua panitia berada.
Para maba mulai grasak-grusuk agak panik dan kebingungan.
Sampai dari arah depan, cahaya temaram mulai menyala. Membuat fokus maba ke arah depan dengan pandangan takjub.
Di hadapan mereka, hampir semua panitia berbaris rapi—beberapa Tim Medis dan PDD berjaga di beberapa sudut ruangan. Diterangi cahaya lampu-lampu temaram yang menambah kesan magis dan romantis.
Di belakang panitia, terdapat sebuah panggung dengan tirai merahnya. Ada perlengkapan alat musik dan sound tertata rapi di sana. Sepertinya untuk penampilan bintang tamu nanti.
Semua tim dalam kepanitiaan ada di sana. Berbaris rapi dengan senyum terukir di wajah mereka.
Semua panitia. Yang artinya termasuk para TPK juga!
Wow mengejutkan!
Hal itu sontak membuat para maba kaget bukan kepalang. Mereka benar-benar syok seolah-olah mereka salah masuk ruangan.
TPK yang biasanya mengintimidasi, judes, dan menyeramkan kini terlihat lebih ramah. Para maba masih ingat dengan jelas tadi di lapangan mereka disidang habis-habisan.
Kini mereka malah melihat tim panitia yang membuat hampir semua maba takut dan sungkan tersenyum ke arah mereka?
Tidak salah nih?
Mereka sedang tidak berada di semesta yang lain 'kan?
.
.
.
.
Beberapa jam sebelumnya...
"Siap-siap ya nanti, begitu ada kode langsung ke posisi masing-masing, oke?" ujar Seno memastikan. Dia menyapukan pandangannya ke wajah para ketua tim dan beberapa perwakilan anggota mereka.
Mereka tengah melakukan fiksasi konsep dan gladi bersih untuk eksekusi sore nanti. Mumpung para maba masih sibuk dengan agenda Isimaja jurusan masing-masing.
Dan untungnya, sesuai kesepakatan dari tahun ke tahun, lokasi pelaksanaan Isimaja jurusan tidak boleh di area lapangan dan aula besar. Sekitaran dua tempat itu harus clear dari maba.
"Siap!"
"Oke!"
Semuanya menyahut paham. Acara hari ini harus sukses dan berkesan karena merupakan puncaknya.
"No, ini seriusan aku yang jadi kuncinya?" Aylin bertanya untuk kesekian kalinya. Dia terlihat keberatan.
"Iya, Lin," Seno sudah bosan mendengar pertanyaan yang sama sejak keputusan itu dibuat beberapa waktu lalu.
"Semua udah setuju kok. Udah fix dan kita juga udah gladi bersih."
"Kenapa nggak Nopal aja sih?"
"Nggak bisa Lin," kali ini Naufal bersuara. "Mereka pasti akan langsung tahu kalau aku yang jadi kuncinya. Frans apalagi."
"Halah..." keluh Aylin. Dia tidak suka kalau disuruh hal yang membuatnya jadi pusat perhatian, lagi.
Iya, lagi.
Sepanjang dia menjadi ketua TPK tahun ini, sudah berapa kali dia diminta (baca: dipaksa) secara sepihak oleh yang lainnya dengan embel-embel "demi kita semua".
Raut wajah Aylin berubah masam. Seperti belum rela kalau dirinya lah yang menjadi kuncinya. Lagipula, bukankah sama saja kalau dia yang jadi kuncinya mereka bisa menebaknya?
Seolah bisa membaca pikiran Aylin, Seno berujar, "Tenang Lin. Kita pakai konsepnya pas kita maba dulu. Cuman kita ubah dikit aja. Bang Teguh dulu kan yang megang kuncinya juga. Dan kita dulu baru ngeh pas waktunya hampir mepet."
"Iya, Lin. Demi suksesnya hari ini juga Lin. Kita nggak mungkin ngubah lagi. Udah terlalu mepet waktunya. Ya ya ya?" bujuk Naufal pada sahabatnya itu.
"Nanti kutraktir kebab, oreo, sama susu stroberi deh," Seno mengiming-imingi.
Aylin mengusap wajahnya dengan tangan kanannya. Raut wajahnya masih menunjukkan kalau dia masih agak keberatan.
Namun, pada akhirnya, cewek itu mengangguk pelan.
"Iya lah..."
"Nah gitu dong! Mantul, mantap betul!" ujar Seno sambil tersenyum puas.
"Dobel ya No, nanti. Ditambah sama gacoan juga," kata Aylin pada Seno. Giliran Seno yang berubah masam.
"Oh, jangan. Jangan itu! Diganti bayarin buat makan-makan anak TPK aja No. Di lesehan dekat FBS nggak apa deh," buru-buru cewek itu meralat ucapannya. Dia tersenyum licik dan mengerling ke arah anggotanya yang ikut rapat ini.
"Itung-itung buat apresiasi kerja mereka."
Terdengar sorakan heboh dari anak-anak TPK yang hadir ketika mendengar perkataan Aylin barusan. Siapa sih yang tidak mau makan-makan gratis? Terbaik memang ketua mereka ini.
"Perampokan ini namanya!" seru Seno tak terima.
"Suruh siapa nawarin kebab, oreo, sama susu stroberi doang? Sama numbalin aku? Masih ingat ya yang awal-awal itu. Huh!"
"Kok Nopal nggak? Padahal dia juga ikutan ngompor!"
"Kalau si Nopal nanti, buat cadangan. Nunggu timing dulu," Aylin menambahkan dengan tampang tak bersalah.
"Haish! Nyesel aku..."
"Nah, siapin budget-mu ya No, habis ini, hahaha!" tawa Naufal sambil menepuk-nepuk bahu Seno.
"Sialan!"
Habis sudah duit bulanannya.
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
sengaja up lebih cepat soalnya kedepannya gak tau bisa up cepat atau nggak, disambi fokus nyicil tulisan akademik dulu
thx yg udah komen dan mampir baca di part sebelumnya
btw, di part ini (terutama dibagian tpk nyidang maba yg melakukan kesalahan selama ospek) terinspirasi dari SPK (kalo di cerita TPK) in Action fakultasku wkwk
part ini mayan panjang karena ada behind the scene dari panitia di akhir ^^
see u next part! masih kelanjutannya ini, tak potong biar nggak nambah panjang