![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
October (n): is the tenth month of the year in the Julian and Gregorian calendars and the sixth of seven months to have a length of 31 days
.
.
.
[minor editing, cukup banyak narasi]
.
.
.
Aylin berbaring di tempat tidurnya. Dia tidak bisa tidur. Sejak tadi dia sudah mencoba berbagai posisi tidur, mencoba mendengarkan lagu-lagu pop dan rock kesukaannya yang biasanya berhasil, membaca novel, bahkan adab sebelum tidur sesuai sunnah sudah dia lakukan.
Jam di atas nakas dekat tempat tidurnya sudah menunjukkan pukul sebelas malam.
Sayangnya, matanya seperti menolak untuk terpejam.
Pikirannya kembali melayang di kejadian beberapa hari yang lalu. Yang membuatnya mendadak insomnia akhir-akhir ini.
Kejadian saat di Malioboro sore itu. Dan ucapan dari juniornya yang masih membekas di ingatannya. Seolah-olah baru terjadi tadi sore.
"Kak, aku mau buat pengakuan. Kalau aku nggak mengatakannya sekarang, aku nggak tahu apakah besok aku masih bisa menahannya atau nggak," kata Kayvan waktu itu. Nada bicaranya terdengar serius.
Aylin yang merasa aneh dengan perubahan juniornya itu mengernyit bingung. Di sisi lain dia juga begitu penasaran apa yang akan Kayvan katakan.
"Pengakuan apa?" tanyanya.
Terlihat Kai menghela nafas sejenak. Lalu menatap Aylin tepat di matanya, sorot matanya lembut tetapi ada ketegasan di sana. Aylin yang di tatap seperti itu jadi agak salting. Namun, dia menyembunyikannya dengan cukup baik.
"Aku suka kakak," ujar Kayvan, "Aku jatuh cinta sama Kakak. tiap hari perasaanku makin membesar. Semakin dalam. Entah sejak kapan, tapi aku tahu aku suka Kakak. Mungkin Kakak nggak sadar, tapi aku selalu memperhatikan Kak. Memandang kea rah Kakak. Jadi, hari ini aku mengatakan semuanya. Aku nggak memaksa Kakak buat menjawabnya sekarang. Jadi untuk saat ini, aku memberitahu perasaanku pada Kak Alin dulu."
Senyum tipis terbit di wajah tampannya. Dia kembali melanjutkan, "Lalu Kak Alin, aku minta izin buat mengejar Kakak secara terang-terangan mulai hari ini. Izinkan aku mengenal Kakak lebih jauh. Sampai Kakak bisa menjawabnya."
Aylin terdiam. Dia sangat kaget mendengar pengakuan mendadak dari juniornya ini. Dia merasakan detak jantungnya semakin bertalu-talu. Aylin tidak enyangka kalau juniornya ini suka padanya.
Dan itu membuatnya senang entah kenapa.
Kai tersenyum lembut ke arah Aylin.
Tolong jangan begitu. Apa kau tahu efek dahsyat yang kau timbulkan untuk jantung Aylin saat ini?
"So," Kai mulai bicara lagi karena Aylin masih terlalu terkejut sepertinya.
"Can I court you properly from now?" [bolehkah aku mengejarmu dengan baik mulai sekarang?]
Aylin masih terdiam membisu. Matanya masih membulat lucu. Masih terlalu terkejut dengan apa yang didengarnya. Dia bahkan tidak mempercayakan apakah suaranya tidak terdengar melengking sekarang. Namun, Aylin mengangguk lambat sebagai jawabannya.
Kayvan yang melihatnya kini tersenyum lebar. Begitu bahagia dan ada rasa tak menyangka juga.
Sementara Aylin, dia masih membisu di tempatnya. Bahkan ketika mereka berjalan menuju halte untuk pulang.
Oh, dia tidak percaya ini. Tidak menyangka kalau junior menyebalkannya ini menyukainya. Jatuh cinta katanya? Aylin masih sulit untuk percaya.
Dan apakah dia tadi mengangguk?
Oh sial, sial, sial!
Jantung, mohon tenanglah!
Sejak hari itu, perasaan Aylin jadi tambah tidak karuan. Apalagi setelah dia legawa kalau ternyata dia juga suka pada maba 0057 itu.
.
.
.
Apa yang terjadi setelah pengakuan Kayvan waktu itu?
Benar. Kai benar-benar melaksanakan ucapannya untuk mengejar Aylin. Junior itu jadi semakin berani dan percaya diri. Lebih dari sebelumnya yang hanya berupa kode-kode.
Karena secara sadar, senior kesayangannya itu sudah mengizinkannya.
Lalu bagaimana dengan Aylin sendiri? Oh, tidak ada yang banyak berubah. Dia masih Aylin yang terlihat galak di luar.
Setidaknya, cewek itu sudah tahu dan legawa dengan perasaan baru ini.
Meski dia sudah mengizinkan Kayvan untuk mengejarnya dan dia sendiri sudah terbuka—bahasa gaulnya pedekate alias pendekatan, tetapi Aylin meminta ini semua dirahasiakan dulu.
Kenapa?
Dia belum siap semua orang tahu. Semua ini adalah hal baru baginya dan dia merasa takut.
Takut dengan penilaian orang-orang.
Tiba-tiba ketua TPK kencan dengan junior yang menentangnya tentu bakal menjadi trending topic dan membuat geger banyak orang.
Aylin juga takut Kai bakal dicerca. Lalu muncul rumor-rumor buruk tentangnya. Secara Kayvan masih maba dan dia adalah duta universitas terpilih. Takut malah merusak image-nya.
Dan Aylin juga masih takut kalau ini semua hanya permainan. Katakanlah kalau dirinya pengecut. Namun, inilah yang Aylin rasakan saat ini.
Cewek itu mengatakan alasannya kepada Kayvan. Tidak semua, hanya soal ketakutannya tentang penilaian banyak orang. Terlalu banyak pasang mata yang memandang dan menilaimu benar-benar membuat tak nyaman. Dan Aylin juga ingin menjalani ini semua berdua dulu saja.
Baby steps.
Pelan-pelan dulu.
Walau Kai agak keberatan mendengar alasan Aylin, dia akhirnya setuju juga. Sebenarnya dia masa bodoh dengan pamor dan julukannya.
Namun, dia mencoba memahami di posisi Aylin. Karena semakin hari dia semakin lebih mengenal sosok Aylin sebenarnya.
Pada akhirnya, mereka memutuskan bersikap seperti biasanya. Hanya saja kali ini lebih akrab dan lebih terlihat seperti teman baik. Kai yang tak lagi menggoda Aylin sampai membuatnya jengkel—oh dia masih melakukannya kalau hanya ada mereka berdua dan Aylin masih tsundere dengan wajah memerah kali ini.
Aylin juga menanggapi Kai dengan lebih ramah.
Membuat orang-orang terheran-heran dengan perubahan keduanya.
Lalu ketika ada yang bertanya, Aylin menjawab kalau mereka sekaran sudah berteman baik.
Pertama kali Kai mendengar itu tentu ada rasa kecewa di hatinya. Kenapa Aylin menjawab begitu?
Baru setelah mendengar alasan Aylin, Kai jadi tak terlalu kecewa. Lagipula, mereka juga belum memiliki hubungan resmi. Dirinya juga berjanji untuk pelan-pelan dulu.
Para sahabat mereka menganggap keakraban mereka adalah hal yang wajar. Akhirnya kedua bisa berdamai walau sebelumnya juga tidak benar-benar bermusuhan.
Hanya crash dan menjadi oposisi sejak TM dimulai dulu.
Di sisi lain, ada tiga orang yang curiga dengan kedekatan Kayvan dan Aylin. Namun, ketiganya memilih diam saja. Membiarkan keduanya mengatakan sendiri suatu hari nanti saat mereka sudah siap.
.
.
.
Selamat datang bulan Oktober! Salah satu bulan yang paling ditunggu-tunggu oleh semua warga UHW, khususnya para mahasiswa.
Kenapa? Karena akan banyak jam kosong untuk beberapa fakultas dan mahasiswa yang terlibat langsung bulan ini.
Selain itu, ini adalah alasan yang paling utama, karena di bulan Oktober itulah adanya salah satu perhelatan akbar yang populer di UHW. Yaitu Pekan Kesenian atau art week dan festival (festival khusus untuk di fakultas yang sedang HUT).
Pekan Kesenian yang diadakan setahun sekali ini memang diadakan di bulan Oktober. Hal ini tujuannya menyambut dies natalis UHW itu sendiri yang memang bertepatan di bulan Oktober.
Art week nanti berisi kegiatan-kegiatan lomba kesenian antarfakultas. Baik seni rupa, musik, tari, peran, bahkan sastra. Jadi tak hanya di FBS saja yang banyak senimannya, tetapi di sini juga memberikan ruang untuk fakultas lain untuk unjuk kebolehan dalam bidang seni. Selain itu, hal ini juga bertujuan untuk melestarikan kesenian dan budaya yang ada.
Karya seni rupa dan sastra dari partisipan nanti akan dipajang di galeri di auditorium UHW dan dibukukan. Lalu untuk seni pertunjukan seperti musik, tari, dan peran akan dihelat di hall di samping auditorium, dekat rektorat. Bisa datang menonton langsung atau menonton melalui siaran akun resmi UHW.
Selain dies natalis UHW, beberapa fakultas seperti FBS, FKH, dan FH juga memperingati HUT mereka di bulan yang sama. Hanya berbeda tanggal puncaknya saja.
Makanya, di bulan Oktober ini akan banyak events menarik yang bisa dikunjungi.
Untuk FT sendiri acara dies natalisnya bulan depan. Lebih tepatnya di awal bulan November.
Biasanya, untuk acara dies natalis, acara yang diselenggarakan selain upacara untuk para dosen, beberapa karyawan, dan beberapa mahasiswa (tidak semua karena itu akan sangat banyak) adalah adanya festival di masing-masing fakultas yang merayakan.
Festival itu terbuka untuk umum. Konsepnya hampir mirip dengan sekolah-sekolah di Jepang dengan festival musim panas mereka. Para mahasiswa akan membuka stand tiap kelas. Entah itu pertunjukan, makanan, minuman, atau sebuah booth permainan dengan konsep yang unik.
Selain itu ada juga hiburan yang diisi oleh mahasiswa itu sendiri atau bintang tamu yang diundang.
Untuk dies natalis UHW sendiri, selain upacara, biasanya ada acara untuk umum seperti bazaar, donor darah, atau konser musik yang mengundang band lokal dan nasional. Tidak hanya warga UHW yang bisa menikmatinya, tetapi masyarakat umum juga. Selain itu, dosen dan beberapa mahasiswa dari perwakilan semua fakultas akan mengikuti acara masal seperti senam atau menari tradisional.
Sebenarnya, acara semacam festival tidak hanya diselenggarakan ketika memperingati dies natalis saja, tetapi saat hari-hari tertentu di UHW. Seperti Hari Berbisnis atau Business Day. Di mana angkatan tahun kedua yang ada mata kuliah kewirausahaan diharapkan menciptakan produk inovatif yang nantinya akan dijajakan saat Business Day.
Tiap fakultas bisa berbeda, sesuai kapan mata kuliah itu di dapatkan. Bisa jadi saat semester tiga atau semester empat. Dan itu dilakukan per kelompok dalam satu jurusan.
Orang-orang yang membeli biasanya para dosen, sesama mahasiswa, atau wali yang diundang.
Makanya, selain dikenal sebagai universitas favorit karena kredibilitasnya di akademik maupun non akademik, UHW juga dikenal dengan julukan Kampus Festival karena banyaknya event-event besar. Menjadi wadah kreativitas mahasiswanya.
Kembali lagi ke bulan Oktober. Sekarang ini, poster-poster untuk kegiatan Porseni sudah disebar. Para dosen yang menjadi penanggungjawab, anak-anak BEM, serta para duta kampus sudah semakin sibuk mempersiapkan segalanya.
Dan sejak September sampai detik ini, Frans dan Vera sudah disibukkan dengan hal itu. Mereka harus pintar-pintar membagi waktu antara kuliah dan rapat. Tahun ini menjadi tugas pungkasan mereka sebagai duta FT sebelum digantikan junior mereka, Kayvan dan Freya yang nantinya juga merangkap sebagai duta universitas.
Berbicara soal Kayvan dan Freya, keduanya sudah diikutkan membantu seperti duta fakultas lain tahun ini. Hanya saja, tugas mereka tidak sesibuk para senior mereka.
Para junior hanya sebagai bawahan atau anggota sambil dikenalkan dan dilibatkan secara langsung untuk menangani acara besar ini.
Selain itu, fakultas yang HUT-nya di bulan yang sama dengan UHW, mereka akan lebih sibuk. Duta fakultas sebelumnya dan yang terpilih tahun ini bekerja dua kali. Untungnya, semua hima dan ormawa fakultas terlibat dalam persiapan.
Untuk persiapan festival mereka, biasanya sudah dilakukan jauh-jauh hari, bahkan sebelum ospek di mulai. Para maba yang baru secara resmi berkuliah di bulan September harus persiapan lebih ekstra dari para seniornya.
Bagaimana anggaran dananya? Mereka jualan makanan, iuran, atau memanfaatkan barang yang mereka punya selain anggaran dari fakultas yang diberikan—tidak banyak karena tentu dana fakultas dibagi untuk penunjang hal lain juga.
Sekreatif mungkin dalam mengatur keuangan. Salah satu hal penting yang mereka dapatkan dalam partisipasinya mengadakan festival.
Kalau mahir mengaturnya, bisa mendapatkan untung dengan penjualan makanan, minuman, atau tiket dari stand atau pertunjukan dan gim yang mereka buat.
Bisa balik modal.
.
.
.
Sejak hari Rabu kemarin, Aylin diminta pulang ke rumah oleh ibunya. Untungnya di hari Kamis adalah jam kosong dengan tugas yang harus dikumpulkan minggu depan. Jadi Aylin bisa pulang ke rumah naik bus.
Dan pagi-pagi sekali di hari Kamis, Aylin sudah harus bersiap-siap dengan pakaian rapi dan cukup formal—dia memutuskan pakai kebaya modern yang sederhana dan cukup longgar. Tak lupa sepatu kets bertali biasa yang sering dia pakai kuliah.
Tanpa riasan sama sekali—hanya bedak dan tabir surya. Dia bukan tipe orang yang suka berdandan. Cukup merawat kulitnya agar tetap sehat saja.
Karena dia tak begitu mahir menata rambut, Aylin hanya mengepang rambutnya saja.
Ibunya sudah rapi dengan seragam Persit-nya yang berwarna hijau dengan hijab senada. Sementara kakeknya memakai seragam veteran miliknya.
Di sisi lain, sang kepala keluarga juga sudah rapi dengan seragam perwiranya.
Begitu selesai bersiap-siap, mereka sekeluarga segera masuk ke mobil dinas sang ayah dan pergi ke Gedung Agung, tempat di mana upacara akan digelar.
Jalanan masih cukup sepi ketika mereka menuju ke kota.
Mau ada acara apa sebenarnya mereka?
Hari ini adalah tanggal 5 Oktober yang merupakan HUT TNI. Itulah sebabnya mereka harus datang di upacara. Apalagi ayah aylin adalah komandan. Pria itu berpangkat bintang satu itu diangkat dan ditempatkan di Jogja belum terlalu lama memang.
Hal yang juga disyukuri keluarga karena tidak begitu jauh dari rumah. Berbeda dari sebelum-sebelumnya yang selalu di luar daerah. Bahkan pernah bertugas di luar negeri dan di daerah konflik.
Baru pertama kali ini Aylin ikut ke upacara HUT TNI. Sebelum-sebelumnya dia memang jarang mau ikut kalau diajak. Pertama karena jaraknya begitu jauh. Kedua, dia lebih milih pergi ke sekolah atau menginap ke tempat Bimala.
Aylin hanya mengenal beberapa teman ayahnya. Itupun dapat dihitung dengan satu jari. Mereka juga merupakan atasan dan bawahan ayahnya yang memang sering berinteraksi dengan sang ayah saat bertugas.
Makanya, begitu sampai di Gedung Agung, dia merasa asing dan aneh sendiri. Ada anak-anak yang diajak selain dirinya. Tak banyak dan kebanyakan adalah anak kecil. Ada juga yang seumuran dengannya, tetapi Aylin tidak kenal dia dan dirinya terlalu enggan basa-basi kenalan pada orang asing.
Bahkan ketika ibu dan ayahnya mengenalkan dirinya, Aylin hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa.
Oh rasanya benar-benar ingin pulang sekarang.
Begitu selesai, Aylin langsung diantar balik ke asrama. Besok itu ada jadwal kuliah pagi dan Aylin tidak mau ngelaju berangkat dari rumah.
.
.
.
"Lin, besok ultah mau di kado apa?" tanya Budi pada suatu hari. Mereka tengah nongkrong seperti biasanya dan janjian mau nonton konser habis ini di GOR.
"Lah? Ya terserah," jawab Aylin heran. "Setahuku kado itu surprise gitu. Ini kok malah tanya ke aku."
"Gini Lin," Taufan berujar, "Kan kita berempat udah patungan nih. Rencananya buat beli kado buat besok ultahmu. Tapi kita bingung mau beliin apa."
"Padahal nggak perlu kasih kado nggak papa lho," kata Aylin.
"Ya jangan dong!" sahut Budi. "Tradisi kita nih tiap kalau ada yang ultah bakal dikasih kado. Entar duitnya sia-sia dong kita patungan."
"Duitnya langsung kasih ke aku aja kalo gitu," kata Aylin.
Tahun lalu, ketika dirinya ulang tahun, keempat sahabatnya ini memberikan kado aneh-aneh. Walau tidak terlalu aneh juga, tetapi aneh karena momennya kurang tepat.
Bayangkan saja. Budi memberikan sekaleng biskuit monde—salah satu kue kering kesukaan Aylin. Budi yang tahu kesukaan Aylin itu makanya beli sekaleng seperti mau memberi parsel lebaran.
Lalu Taufan memberi sekaleng oreo.
Naufal memberi satu liter susu stroberi.
Benar-benar seperti parsel lebaran.
Untungnya, hadiah dari Rima lebih normal. Dia memberikan hampers dengan warna kesukaan Aylin.
"Heh!" tukas Taufan dengan galak. Aylin hanya tertawa meresponnya.
"Makanya, kita rencana mau ngajak dirimu ke mall buat beli kado. Terserah apa kadonya. Asal sesuai budget patungan kita," kata Budi.
Aylin menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. "Ya ampun. Ini namanya nggak kejutan lagi sih."
"Nggak papa Lin. Yang penting ada kadonya," kata Rima.
"Besok ya pas hari ultahmu, kita berangkat ke mall," Naufal memutuskan.
Dan benar saja, pas hari ulang tahun Aylin, kelima sekawan itu pergi ke Hartono Mall untuk membeli kado. Pada akhirnya Aylin membeli sepatu baru dan menyisakan uang lima ribu. Budi menggunakan sisa uang itu untuk membungkus sepatunya agar terlihat seperti kado.
Padahal nanti juga dibuka Aylin dan dia sudah tahu apa isinya.
Budi berasalan, "Biarin. Biar terlihat kayak kado. Nih, met ultah ea. Jangan pelit-pelit lagi nanti kuburannya sempit."
"Maksih gaes. Dan jangan lupa lunasin utang-utangnya ya Bud, biar nggak dililit ular pas dikubur," balas Aylin.
"Hih...! Amit-amit Lin!" seru Budi. Cowok itu takut dengan ular, apapun jenisnya.
Untuk junior kesayangan kita semua dia sendiri memberikan kado apa untuk Aylin?
Kayvan memberikan satu set komik edisi terbatas dari manga yang Aylin ikuti. Harga satu set itu sangat mahal—Aylin mengeceknya di internet.
Orang kaya seperti Kai mah bebas saja beli tanpa mikir uang.
Sebagai ucapan terima kasih, Aylin traktir Kai makan di restoran Jepang favoritnya di Jogja. Restoran yang sering dia kunjungi dengan Bimala dan Nana saat mereka ingin makan makanan khas Jepang. Walau tak seberapa dengan harga set komiknya, tetapi setidaknya ada sedikit balasan terima kasih.
Kayvan?
Cowok itu dengan senang hati menerima ajakannya. Hitung-hitung sebagai latihan kencan—Kai beneran berceletuk seperti itu dan mendapatkan pelototan tajam dan wajah bersemu merah.
"Kayvan!"
"Hahaha... tapi tadi Kakak sempat ngirim emot hati lho..." goda Kai.
"Itu salah ketik hoi!" Aylin membela diri dengan panik. Dia malu sekali rasanya. Tadinya dia berniat mengirim emot senyum di belakang kata 'terima kasih kadonya' tetapi malah tidak sengaja kepencet emot hati.
Mana hati merah lagi!
.
.
.
.
.
a.n.
aku kurang tau teknis upacara hut tni gimana secara real dan personalnya, jadi maaf kalo ada yg salah
btw, business day itu beneran ada di kampusku, diadakan buat tahun kedua pas ada matkul kewirausahaan. dulu kelompokku jualan snack :D (mulai dari bikinnya, packaging, sama nempelin stiker brand segala macam)
dan di bab kemarin2 pas aku nulis porseni di bulan oktober, itu keliru ya. maaf, baru tak cek lagi pas nulis ini. nanti tak revisi pas ada waktu luang. yang bener yang di sini event nya
see you next week? hopefully