Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Friction



friction (n):


– the resistance that one surface or object encounters when moving over another;


– conflict or animosity caused by a clash of wills, temperaments, or opinions


.


.


.


.


.


.


Pukul setengah sebelas pagi, Aqisol hari pertama sudah selesai. Para maba kembali berkumpul ke gugus masing-masing dan beristirahat. Terdengar keluhan sana-sini dari maba ke pemandu masing-masing. Banyak yang mengeluh capek, panas, bahkan tubuh mereka yang rasanya sakit dan pegal-pegal karena jarang olahraga.


Selama latihan fisik tadi, mereka sudah melakukan push up, squat jump, lari, dan sit up sampai puluhan kali. Bahkan ada saat di mana mereka harus berteriak adu kekompakan menyanyikan yel-yel fakultas. Yah.. sepertinya menyanyikan yel-yel adalah satu-satunya bagian yang cukup seru sepanjang Aqisol hari pertama berjalan.


"Tadi ada apa sih? Kok Ridwan pergi gitu aja?" tanya Teo saat mereka berempat duduk menggerombol bersama anggota gugus 19 yang lain.


"Kau nggak tau?" tanya Ojan heran.


Teo menggeleng, "Tidak. Aku tadi kan di kelompok lain. Mana jaraknya jauh lagi, jadi nggak kedengeran."


"Oh iya, kau jadi komandan sama ketua angkatan ya? Hahaha.. Gila, gila, gila! Mantap bro!" seru Neo tidak percaya sekaligus takjub.


"Kok bisa sih?" tanya Kai penasaran, "Maksudku, bisa dobel gitu jabatannya.."


"Duh, jabatan... Nggak ngerti juga aku, Kai. Tadi itu ketua gugus disuruh kumpul sama Kak Aylin, terus dikasih beberapa pertanyaan gitu. Tadi juga Kak Aylin ngasih tawaran siapa yang mau jadi komandan lapangan," jawab Teo. Dia masih cukup syok karena dijadikan komandan lapangan sekaligus ketua angkatan.


"Kau ngajuin diri, Yo?" kali ini Neo bertanya.


"Tidak sama sekali!" sahut Teo dengan cepat.


"Tadi itu aku cuman jawab aja pertanyaan Kak Aylin seadanya. Nggak tahu deh kenapa bisa terpilih. Padahal tadi juga beberapa yang mau jadi komandan, tapi cuman dipilih empat selain aku," katanya kemudian, "Dan soal ketua angkatan, Kak Aylin cuman langsung menunjuk aja gitu dan katanya berdasar beberapa pertimbangan senior lain."


"Gile lu, Ndro," celetuk Neo sambil menepuk-nepuk bahu Teo.


"Emang mantul nih Si Teo. Jadi pimpinannya angkatan kita, hahaha," Ojan berkomentar jenaka, "Punya 'kekuasaan'. Sendika dhawuh, Ndoro..." [Siap laksanakan, Tuan]


"OI!" seru Teo, "Nggak gitu juga kali."


"Ampun, Ndoro..." kata Ojan sambil menangkupkan kedua tangannya iseng. Neo dan Kai hanya tertawa melihatnya. [Ampun, Tuan]


"Balik ke topik awal," kata Teo kemudian, "Tadi kenapa? Ridwan juga nggak balik-balik."


Neo lalu menceritakan semua yang terjadi tadi. Dari seorang TPK bernama Guntur bercerita soal maba yang tidak melakukan 5S sampai nyaris adu jotos antara Guntur dan Ridwan setelah mereka sempat adu mulut.


"Kesannya tadi juga si senior kayak nyindir juga sih," Ojan menambahkan, "Terus Ridwan tadi juga ngegas pas jawab. Keliatan banget udah emosi."


"Aku tadi sempat lihat Mas Dimas lari nyusul Ridwan, tapi baliknya malah sendiri nggak sama Ridwan," ujar Teo penasaran.


"Nggak kekejar si Ridwannya. Nggak tau kemana. Tapi Kai tadi juga sempet bilang ke Mas Dimas suruh biarin aja dulu, biar dingin dulu. Ridwan kalau udah emosi sama mood-nya buruk emang sering ngilang menyendiri selain adu jotos," jelas Neo, "Aku dan Kai pas SMA emang sering ngasih waktu buat menenangkan diri dulu kalau pas kayak gini. Beda lagi kalau adu jotos, sebisa mungkin kita nenangin dia. Iya nggak, Kai?"


Kai mengangguk mengiyakan.


"Semoga aja cuman mau menyendiri dulu. Soalnya tadi nyaris banget mau nonjok itu senior," katanya kemudian.


"Wew..." celetuk Ojan lirih. Dirinya tadi yang duduk tidak jauh dari Ridwan saja sempat ngeri melihat adu mulut antara Guntur dan Ridwan.


"Apa kita susul aja si Ridwan? Takut kenapa-napa gitu," ujar Teo dengan khawatir.


"Kita nggak bisa sembarangan izin keluar ngomong-ngomong. Kita juga nggak tahu posisi dia di mana sekarang," kata Kai, "Biarkan Ridwan menenangkan diri dulu. Aku yakin dia cuman mau menyendiri tanpa gangguan siapa-siapa."


Sejujurnya, Kayvan sangat khawatir kepada sahabatnya itu. Kai dan Neo sudah bersahabat dengan Ridwan sejak kelas satu SMA. Ridwan pada awalnya adalah penyendiri sebelum berteman dengan mereka. Dan, Kai dan Neo jelas-jelas tahu sifat Ridwan memang keras kepala.


"Nanti aku tanyain juga deh pas sampai asrama. Semoga aja Ridwan mau cerita," kata Neo.


Ridwan dan Neo satu kamar di asrama. Kamar mereka bersebelahan dengan kamar sepupu Ojan yang untuk sementara ditempati Ojan. Asrama-asrama di UHW memiliki kamar untuk individu dan kamar untuk dua orang. Fasilitasnya sama dan yang membedakan hanyalah ukuran kamar. Lalu kamar untuk dua orang juga memiliki masing-masing dua untuk tempat tidur, meja belajar, dan lemari. Serta sebuah partisi untuk memberikan privasi antara wilayah tempat tidur. Kai beruntung bisa mendapat kamar untuk individu jadi dia tidak perlu berbagi kamar. Ridwan dan Neo awalnya juga sama mencari kamar sendiri, tetapi slot kamar tersebut sudah terisi. Mereka baru bisa pindah kalau ada slot kamar sendiri sudah kosong dengan menghubungi kepala asrama. Sementara Teo, dia berbagi kamar dengan senior tahun ketiga yang menjadi panitia ospek. Bedanya senior itu adalah panitia ospek jurusan dan tidak ikut panitia fakultas serta berbeda jurusan dengan Teo.


"Oh iya, tadi Kak Aylin keliatan marah banget 'kan?" tanya Ojan kemudian, "Kalian lihat nggak tadi?"


Kai dan Neo mengangguk.


"Gila serem banget," ujar Neo bergidik. Dianggukki oleh Ojan.


"Nggak terlalu jelas sih. Jauh soalnya," kata Teo, "Tapi emang gelagatnya marah banget."


"Kira-kira Kak Aylin tahu nggak ya sebelumnya? Si Guntur-guntur tadi keliatan sengaja, iya nggak sih?" Ojan menerka-nerka.


"Hmm... kayaknya tidak tahu. Ekspresi marahnya benar-benar murni marah," Kai berpendapat.


"Tapi entahlah..." dia mengangkat kedua bahunya.


"Kalian lihat senior cewek yang ngelumpuhin Guntur?" tanya Neo dengan bersemangat.


"Gila keren banget, coy!" kedua mata Neo berbinar, "Refleknya bagus, gerakannya cepet. Kayak di film-film action."


Obrolan dilanjutkan dengan Neo dan Ojan yang asik membahas aksi senior cewek tadi, meskipun orang itu anggota TPK yang mereka takuti, lalu merembet dengan bahasan adegan berkelahi di games dan film-film. Sementara Teo dan Kai hanya mendengarkan dan sesekali menimpali.


.


.


.


Mayoritas maba mulai berburu tanda tangan begitu selesai beristirahat. Namun, ada juga yang memesan makan siang via daring atau pergi ke kantin FT. Meski masih dalam waktu libur, ada juga beberapa warung makan di kantin yang buka sesuai hari-hari kuliah, yaitu Senin sampai Jumat. Mengingat ada juga beberapa mahasiswa yang mengambil semester pendek untuk mengulang atau mengambil mata kuliah umum yang ditawarkan di semester pendek. Dan juga ada dosen-dosen yang harus masuk karena jadwal tugas dan memang punya waktu libur sedikit.


Di waktu liburan, kondisi kampus memang tidak sepi. Namun, tidak seramai ketika semester baru dimulai.


Semua senior panitia terlihat menyebar di area kampus FT. Beberapa ada yang menggerombol di satu titik dan ada juga yang hilir mudik menyelesaikan tugasnya. Ada yang hanya sekedar mengobrol santai, makan makanan yang dipesan melalui g*food karena malas untuk antri di warung kantin, ada juga yang di kantin makan sambil nongkrong.


Pemandangan itu ditambah dengan maba yang hilir mudik mendatangi mereka untuk meminta tanda tangan. Ada yang disuruh nyanyi, menari, bahkan push up dan squat jump. Beberapa maba ada juga yang diminta untuk berfoto bersama senior yang ditunjuk sebagai syarat, melakukan tounge twist atau merapalkan kalimat berbelit dengan cepat dan jelas, menebak arti nama dari senior yang dimintai, dan berbagai tantangan dan syarat yang diajukan senior untuk maba yang minta tanda tangan.


Bahkan ada juga beberapa senior yang menolak mentah-mentah—lebih ke tidak digubris sama sekali ketika ada maba mendekat sampai membuat maba itu canggung sendiri—permintaan maba untuk tanda tangan. Ya senior mana lagi kalau bukan TPK?


Tidak ada yang berani meminta tanda tangan mereka. Ralat, hanya segelintir maba yang berani. Itupun dengan resiko ditolak atau melakukan tantangan berupa push up atau squat jump.


Sosok ketua TPK tengah duduk bersama beberapa anggota TPK lainnya di sudut kantin. Mereka tengah menunggu pesanan makan siang mereka. Sejauh ini, tidak ada maba satupun yang berani mendekat ke meja mereka. Meski terlihat agak lebih santai, mereka tetap mengintimidasi.


Apalagi ada sang ketua TPK itu sendiri di sana!


"Guntur tadi gimana, Lin? Aman?" tanya salah satu dari mereka, cowok dengan rambut keriting bernama Burhan.


"Aman. Selebihnya kita bahas pas eval nanti," jawab Aylin.


"Sementara kita keep dulu, sebelum sampai ke Mas Teguh atau Mas Zul," tambahnya. Semoga saja belum, tambahnya dalam hati.


"Mbak Rima kemana sih?" tanya seorang cewek, satu-satunya selain Aylin di meja mereka, dengan heran. Dia terlihat celingak-celinguk mencari keberadaan Rima.


"Tadi aku lihat dia keluar area kampus," jawab Burhan, "Nggak tahu kemana."


"Izin dia. Katanya ada urusan penting mendadak," kata Aylin.


Tak lama kemudian, Frans datang bergabung diikuti satu TPK lagi di belakangnya. Frans duduk di sebelah kanan Aylin, sementara TPK yang datang bersamanya tadi duduk di seberangnya.


Jadi, dalam meja panjang itu terdapat enam orang. Tiga senior tahun ketiga, dan tiga senior tahun kedua. Dan hanya ada dua cewek di meja itu. Harusnya tiga dengan Rima, tetapi cewek itu belum juga kembali.


Beberapa saat kemudian, pesanan mereka datang. Mereka lalu menikmati makan siang mereka dengan tenang, sesekali mengobrol ringan tanpa menghiraukan sekitar. Beberapa menit kemudian, mereka sudah menyelesaikan makan siang mereka. Namun, mereka masih betah di tempat tanpa beranjak. Melanjutkan obrolan mereka sambil sesekali menikmati minuman yang belum habis.


Tidak jauh dari sana, terlihat kerumunan menggerombol. Entah dari beberapa maba maupun dari senior.


"Oi, Lin," panggil Andre—yang sejak beberapa menit yang lalu mengamati kerumunan di sana—kepada Aylin yang sibuk dengan ponselnya.


"Hmm?" Aylin mendongak.


"Tuh lihat," Andre menunjuk dengan dagunya ke arah kerumuman.


Aylin mengarahkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Andre. Di sana terdapat kerumunan maba dan beberapa senior. Sekilas memang terlihat seperti para maba itu sedang antre untuk meminta tanda tangan. Namun, Aylin melihat sosok Kayvan yang berada di tengah, seperti sedang dikerubungi. Maba dengan NIM belakang 0057 itu terlihat membagi-bagikan buku kecil yang digunakan untuk mengumpulkan tanda tangan. Dari jauh memang terlihat kurang jelas, tetapi sampul buku yang berwarna merah terlihat menyolok dan mudah dikenali.


Apa yang dilakukan maba itu? Apa itu seperti yang Aylin duga setelah melihatnya?


"Sepertinya dia sangat populer ya," Burhan berkomentar, ikut menyaksikan.


"Kayaknya emang populer, Bang," timpal Tiara, nama cewek selain Aylin di meja itu.


"Sebelum ke sini tadi juga sempat ngelihat beberapa senior menghampirinya."


"Dia ngasih buku tanda tangan ke maba lain?" kali ini Adi, TPK yang seangkatan dengan Tiara dan Frans di meja itu berkomentar. Dia menyipitkan matanya ke arah yang dimaksud.


"Dia mau jadi joki?" lanjutnya dengan sinis.


Frans hanya diam, tidak ikut berkomentar. Cowok jangkung itu hanya melihat sambil sesekali menikmati es kopi yang dia pesan tidak lama sebelumnya. Dia membiarkan ketuanya memandang hal yang dilakukan adik mentornya itu.


Frans mengerling ke arah Aylin.


"Apa rencanamu, Ketua?" tanya Andre.


Raut wajah Aylin yang semula datar, berubah sinis.


"Maba 0057 Kayvan!" seru Aylin memanggil. Suara Aylin sedikit teredam suasana kantin yang cukup berisik. Namun, maba yang dimaksud mendengarnya. Terbukti dengan cowok itu yang menoleh, lalu melangkah mendekat ke meja Aylin ketika melihat senior itu mengisyaratkannya untuk mendekat.


Ketika Kayvan sudah berada di depannya, Aylin melirik buku yang dibawa oleh maba itu. Ada dua buku kalau Aylin tidak salah lihat.


"Kenapa kau punya dua buku?" tanya Aylin dengan datar.


"Yang satunya punya teman saya, Kak," jawab Kai.


"Temanmu mana? Kenapa bukunya bisa ada di tanganmu?" Aylin kembali menginterogasi.


"Dia menitipkan ke saya, Kak."


Kayvan tidak menjawab pertanyaan tentang keberadaan temannya. Aylin lalu mengisyaratkan Adi untuk mengecek buku yang dibawa Kayvan. Adi dengan sigap meminta buku merah yang dibawa Kai.


"Kau sudah punya tanda tangan saya?" tanya Aylin dengan nada santai.


"Belum, Kak," jawab Kai.


"Kalau gitu, ada hal yang harus kau lakukan buat dapat tanda tangan saya," kata Aylin sambil menatap Kai tepat di matanya.


"Dan karena sepertinya kau juga sangat populer," Aylin tersenyum miring tipis, terlihat agak sinis.


"Kau harus mengatakan suka ke sepuluh senior—" ucapan Aylin terpotong.


"Dua puluh!"


"Lima belas!"


Tersangka yang menyelanya adalah Andre dan Adi. Mereka berdua berniat mengusulkan jumlah senior yang harus Kai 'tembak'.


Cewek itu hanya melirik sekilas ke arah mereka, sebelum kembali berbicara.


"Sepuluh senior yang ada di kantin ini, dan pastikan senior itu menjawabnya. Saya nggak terlalu peduli apakah senior itu menerima atau menolak pernyataanmu. Yang penting saya harus melihat dan mendengar kau melakukannya."


"Saya tahu kau bukan pengecut, Maba 0057," Aylin menyindir Kai yang selama berhadapan dengannya, cowok itu selalu menentangnya.


Kai menatap sekilas ke arah Aylin yang mengisyaratkannya untuk segera memulai. Senior TPK yang bersama Aylin di meja itu juga menyuruhnya untuk segera mulai. Sementara Frans telihat menatapnya tanpa ekspresi.


Lalu, maba itu pergi dari hadapan Aylin untuk memulai tantangannya. Dia mendatangi meja-meja yang terdapat seniornya secara acak dan mulai 'menyatakan perasaannya'. Aylin dan teman-temannya cukup bisa mendengar dengan jelas dari tempat mereka karena suasana kantin seberisik tadi. Banyak yang diam melihat ada juga yang memilih acuh tak acuh dan melanjutkan acara makan mereka.


"Kau udah mengeceknya?" tanya Aylin. Cewek itu mengerling ke arah Adi yang memegang buku merah milik Kai.


"Ya. Yang satu jelas punya teman maba itu. Satu gugus, namanya Neo Andhita Murti," jawab Adi.


Aylin mengangguk. Lalu kemudian dia menoleh ke arah Frans dan berkata, "Frans, kau adalah mentornya. Jadi, tolong lakukan tugasmu sebaik mungkin."


Frans mengangguk mengerti, "Baik."


Setelah menyelesaikan tantangan dari Aylin dan membuatnya menjadi bahan tontonan gratis, Kai lalu berjalan menghampiri meja Aylin. Ekspresi wajahnya seolah puas telah berhasil menyelesaikan syaratnya.


Dia terlihat congkak.


"Saya sudah menyelesaikannya, Kak," ujar Kai.


Aylin menyerahkan kembali dua buku merah yang tadi dibawa Kayvan, "Kau memang melakukannya dengan cukup baik."


"Tetapi saya tidak menjanjikan untuk menandatangani bukumu," Aylin menyeringai tipis.


Tidak ada tanda tangan Aylin di kedua buku merah. Bahkan buku milik Kayvan sekalipun!


Memang benar tadi Aylin diawal bertanya apakah Kai sudah punya tanda tangan dan data diri singkatnya atau belum. Dan bukan berarti cewek itu akan memberikan tanda tangannya 'kan?


Ekspresi puas yang ditampilkan Kayvan tadi hilang seketika. Raut wajahnya mengeras, kedua alisnya mengerut, dan sorot matanya menajam. Dia memegang bukunya kuat-kuat karena buku-buku jarinya terlihat memutih.


Aylin bangkit berdiri, diikuti teman-temannya yang lain. Mereka lalu berlalu begitu saja. Bahkan Andre dan Adi sempat-sempatnya melempar tatapan sinis ke arah Kai.


Sebelum berlalu pergi, Aylin membisikkan sesuatu pada Kai. Tinggi badan mereka yang terpaut lima belas senti bukan menjadi halangan.


"Saya benci orang yang sok jagoan," kata Aylin kepada Kai dengan lirih. Kemudian, cewek itu melenggang pergi. Menyisakan Kayvan yang masih berdiri di tempatnya.


.


.


.


.