![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
more (determiner): a greater or additional amount or degree of
.
.
[baru minor editing | part 2 dari chapter sebelumnya]
.
.
.
Nana aneh sekali. Sudah berhari-hari ini Nana terlihat tidak bersikap seperti biasanya. Bahkan sejak sebelum pertandingan Nana di GOR, Nana sudah terlihat menghindarinya.
Awalnya Pandu pikir Nana mungkin sedang sibuk-sibuknya mengurus pertandingan karena dirinya sebagai kapten tim. Pandu bisa memakluminya karena dirinya paham bisa sesibuk apa seorang kapten tim saat menjelang maupun sepanjang pertandingan.
Lagipula Pandu akhir-akhir ini juga disibukkan dengan persiapan salah satu proker besar OSIS di mana dia jadi salah satu penanggung jawabnya. Cowok itu baru menyadari dengan berubahan sikap Nana saat dirinya mengalihkan perhatiannya dari proker.
Pandu berusaha memakluminya dengan alasan mereka berdua sama-sama sibuk di agenda masing-masing. Namun, lama-lama Pandu kepikiran juga. Karena benar-benar tidak biasanya Nana seperti ini.
Sesibuk apapun Nana, cewek itu pasti menyempatkan untuk menyapanya. Begitupun dia sebaliknya ke Nana.
Apa Nana marah padanya?
Namun kenapa?
Apa dia tanpa sadar berbuat salah sampai membuatnya marah?
Pikiran-pikiran itu membuatnya tidak tenang dan fokus. Berbagai cara dia lakukan tetapi Nana sama sekali tidak menggubrisnya.
Cewek itu benar-benar mendiamkan dan sengaja menghindari Pandu.
"Oi Ndu, jangan bengong mulu woy!" perkataan Shadam membuyarkan lamunannya.
Shadam adalah pacar dari teman dekat Nana yang bernama Endri. Juga salah satu kawan baik Pandu sesama pengurus OSIS. Cowok itu pula yang membuat Pandu sadar kalau Nana terlihat menghindarinya.
"Masih kepikiran soal Nana?" tanya Shadam yang memutuskan duduk di seberangnya dengan sebotol minuman di tangannya.
Pandu mengangguk. Percuma juga dia menutupinya. Toh Shadam sudah tahu masalahnya. Dan mungkin termasuk orang yang memahami dinamika hubungan Pandu dan Nana.
Shadam juga termasuk orang yang sadar soal Pandu yang diam-diam menyimpan rasa pada sahabatnya itu.
Ya, Shadam memang orang yang peka.
"Udah nyoba ngajak ngobrol?" tanya Shadam sekali lagi.
"Udah. Tapi nggak pernah digubris," jawab Pandu terdengar lesu. Dia bahkan sudah mencoba menghubungi Nana lewat ponsel, tetapi selalu saja berakhir tidak dibalas. Kalaupun dibalas hanya jawaban super singkat.
Cowok itu juga sudah mencoba menghubungi lewat teman-teman sekelas Nana, menunggunya sepulang sekolah dengan harapan bisa pulang bareng seperti biasanya, bahkan sampai menghubungi salah satu kakak sepupu Nana. Hasilnya tetap sama.
Nana benar-benar menghindarinya.
"Coba Ndu diinget-inget. Terakhir kali kalian ngapain?" Shadam mencoba memberi saran. "Siapa tahu ada hal yang kurang mengenakkan buat Nana tapi kau sendiri nggak menyadarinya. Ada nggak kira-kira?"
Pandu mencoba mengingat-ingat. Namun, hasilnya juga sama. Sebelum Nana terlihat menjauh, Pandu sangat yakin kalau mereka masih baik-baik saja.
Cowok itu lalu menggeleng menanggapi perkataan Shadam. "Sebelum semua ini terjadi, kami baik-baik aja malahan. Ya kayak biasanya. Kalaupun aku bikin salah tanpa sadar, biasanya Nana langsung bilang juga."
"Hmm..."
Pandu kembali hanyut dengan pikirannya. Cowok itu benar-benar terlihat galau. Sangat terlihat bukan seperti Pandu yang biasanya. Membuat pengurus OSIS yang lain heran melihat cowok itu terlihat tidak bersemangat beberapa hari ini.
"Ndu," panggil Shadam beberapa saat kemudian.
"Aku beberapa waktu lalu nggak sengaja lihat kau sama Laras sekilas. Kita 'kan tahu ya si Laras itu naksir berat sama kau Ndu. Mungkin Nana nggak sengaja lihat juga dan mikir yang nggak-nggak?"
Mata Pandu membulat mendengarnya. Ah benar! Waktu itu memang dia sempat bicara empat mata dengan Laras, si wakil ketua OSIS yang jadi salah satu primadona sekolah. Itupun karena cewek itu yang mengajak Pandu buat bicara.
Pandu waktu itu ingin buru-buru pulang. Sudah lelah dan dia ada janji juga dengan Nana untuk mampir ke rumah—janji yang pada akhirnya dibatalkan oleh Nana dengan alasan di rumah lagi ada acara keluarga mendadak.
Cowok itu sebenarnya malas meladeni Laras diluar profesionalitas sebagai sesama pengurus OSIS. Pertama karena dia risih dengan cewek itu yang berusaha sok dekat dengannya. Lalu yang kedua karena Pandu pernah tanpa sengaja mendengar Laras menjelek-jelekkan Nana.
Padahal Nana posisinya adalah kakak kelas yang tidak pernah berurusan dengan Laras sama sekali. Kenal saja mereka tidak, apalagi mau bertegur sapa.
Namun, karena Laras yang memaksa dan Pandu benar-benar sudah malas, dia akhirnya sudah setuju dengan harapan setelah ini dia bisa bebas dari Laras.
Waktu itu, Laras memang benar menyatakan rasa sukanya. Bahkan menembaknya. Pandu hanya tersenyum formal menanggapinya. Laras tidak tahu kalau cowok itu tahu soal dirinya yang pernah menjelekkan Nana.
Pandu menolaknya dengan sopan. Bagaimanapun juga Laras adalah cewek. Pandu tidak dibesarkan untuk bersikap kasar pada cewek sekalipun dia adalah orang yang tidak disukai. Minimal bersikap seperti manusia yang masih punya etika.
Dan Pandu cukup tahu kalau Laras bukan orang yang nekat untungnya. Cewek itu hanya terpengaruh oleh teman-temannya.
Di sini Pandu ingin menegaskan dan memperjelas semuanya. Cowok itu tidak ingin hanya karena sikapnya malah membuat orang salah paham. Dia juga tidak mau hanya karena gara-gara ini, tugas mereka sebagai sesama OSIS jadi terganggu. Apalagi dia dan Laras adalah PJ untuk acara mendatang.
Kembali ke waktu sekarang. Pandu memikirkan perkataan Shadam baik-baik. Waktu dia bicara dengan Laras, memang sekolah sudah sepi. Mungkin yang tersisa tinggal anak-anak yang ikut ekskul tari dan karate.
Jika Nana ternyata masih di sekolah, kemungkinan besar dia melihatnya dan Laras. Yang lebih parah mungkin Nana mendengar Laras mengatakan perasaannya.
Pandu ingat waktu itu samar-sama mendengar suara langkah seseorang berlari dan menyenggol pagar besi. Namun, dia mendengarnya sebelum dia memberi penjelasan ke Laras kalau dirinya tidak bisa menerima pernyataannya.
Jika benar suara samar yang didengar Pandu itu berasal dari Nana, kemungkinan besar Nana tidak mendengarnya secara keseluruhan. Membuat Nana salah paham dan malah menghindarinya.
Tunggu dulu. Apa mungkin Nana...?
Pandu menggelengkan kepalanya.
Tidak, tidak mungkin. Pandu tidak ingin memupuk tinggi harapannya dengan pikirannya barusan.
Tidak mungkin Nana juga suka padanya 'kan?
Cowok itu tidak mau terlalu percaya diri. Hal itu terlalu indah untuk jadi kenyataan. Angan-angannya ketinggian kalau sampai itu benar terjadi.
Meski hatinya berdenyut sakit, Pandu tetap tidak mau terlalu berharap ketinggian.
Dia tidak percaya diri, oke?
Bisa dibilang Nana itu cinta pertamanya. Meski banyak rumor yang beredar sejak dia SMP, kenyataannya adalah Pandu sama sekali belum pernah berpacaran. Suka sama seseorang pun baru kali ini dengan sosok sahabatnya sendiri.
Meski baru bertemu dan berkawan baik sejak MOS, rasanya Pandu seperti sudah berteman lama dengan Nana.
"Ndu," panggilan Shadam menyadarkan Pandu dari lamunannya. "Endri chat aku nanyain kau di mana nih. Katanya dia tadi ngirim pesan ke nomormu, tapi kau nggak bales-bales."
"Coba buka nggih. Katanya penting."
Pandu segera mengambil ponsel dari saku celana seragamnya. Ponselnya memang dalam mode silent, jadi kalau dia tidak membuka ponsel Pandu tidak akan tahu kalau ada pesan masuk.
Benar kata Shadam. Endri mengiriminya pesan sejak sepuluh menit yang lalu. Tidak hanya satu pesan, tetapi pacar Shadam itu seperti mem-boom-nya dengan pesan.
Yang paling menarik perhatiannya adalah pesan Endri yang bilang kalau Nana sedang menangis.
Jantungnya berdebar kencang. Takut kalau Nana kenapa-napa. Buru-buru Pandu membalas pesan Endri dan menanyakan mereka di mana.
'atap'
Tanpa buang-buang waktu, Pandu segera bergegas ke tempat yang dituju. Bahkan tanpa berkata apapun ke Shadam yang masih di sana. Pikiran Pandu sudah penuh dengan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi pada Nana.
Wajahnya terlihat panik.
'Kau kenapa, Na...' batinnya mulai kalut.
Tanpa Endri menjelaskan lebih lanjut, Pandu sudah tahu di mana 'atap' yang dimaksud. Dia berlari dengan jantung yang berdebar-debar. Tak menghiraukan panggilan orang yang menyapanya di jalan.
Pikirannya hanya dipenuhi Nana saat ini.
Setelah sekian lama hubungan keduanya merenggang, informasi pertama yang dia dapatkan tentang Nana adalah kabar kalau Nana tengah menangis di atap.
Sebuah kabar yang mengejutkan Pandu.
Pandu sedang menaiki tangga dengan cepat ketika dia kembali mendapat pesan dari Endri.
'kalian berdua emang harus bicara. Good luck, Ndu. Kupikir perasaanmu berbalas'
Pandu berusaha mencerna pesan yang dikirimkan Endri. Apa maksudnya kalau perasaannya berbalas?
Apa mungkin Nana memang suka padanya? Bolehkah dia berharap lebih kali ini?
Cowok itu kemudian menggelengkan kepalanya. Sekarang bukan waktunya yang tepat. Meski dalam hati dia mulai benar-benar berharap.
Kali ini dengan pelan, Pandu kembali menaiki tangga yang tersisa. Samar-samar dia mendengar suara isakan tangis dan suara seseorang yang berujar lembut menenangkan.
Hatinya kembali mencelos.
Pandu sampai di atap. Pemandangan di depannya membuat hatinya kembali diremas kuat-kuat. Nana ada di sana, duduk menyandar pada bahu Endri sambil menangis.
"Nana..." suara Pandu terdengar agak terbata.
Bukan Nana yang menoleh, melainkan Endri.
Cewek itu mendapati Pandu yang terlihat sehabis lari jauh. Kelas Pandu memang letaknya cukup jauh dari kelas Nana. Apalagi harus ke atap. Endri tidak tahu bagaimana Pandu bisa ke sini dan apakah saat ini sedang pelajaran atau tidak—kelas Pandu jam kosong siang ini.
Cewek berambut panjang itu kembali mengalihkan perhatiannya ke Nana yang terlihat memilih menundukkan kepala dalam-dalam. Seolah tidak mau melihat ke arah Pandu. Membuat hati Pandu kembali tersentil.
Pandu tidak terlalu jelas mendengar apa yang dikatakan Endri pada Nana. Namun respon Nana yang menggelengkan kepala tanpa menoleh ke arahnya membuat Pandu hanya bisa menduga-duga dengan jantung yang berdebar kencang.
"Nana? Kau kenapa? Kenapa nangis?" Pandu memutuskan untuk kembali bersuara. Dia sudah terlalu khawatir dengan sahabatnya itu. tanya Pandu dengan penuh kekhawatiran. Dia berjalan mendekat dan kini berdiri di depan Nana yang masih setia menunduk.
"Na..." panggil Pandu dengan lembut. Namun, tidak digubris oleh Nana.
"Kalian selesaikan dulu ya," kata Endri penuh simpati. "Saling ngobrol biar bisa tahu masalahnya."
"Dan Nana, tolong cerita aja ke Pandu dengan jujur ya?" ujarnya ke Nana. "Apapun yang terjadi, aku sama Danisa ada buatmu, oke?"
Pandu bisa melihat Nana masih memegangi tangan kiri Endri dengan kuat. Tidak mau Endri pergi. Isak pelan masih terdengar jelas.
Hatinya kembali teriris sakit.
Menepis pikiran-pikiran yang mulai muncul di otaknya, Pandu memutuskan melakukan apa yang harus dia lakukan. Dengan perlahan, cowok itu merengkuh tubuh Nana dan memeluknya. Membuat sang empunya terkejut dan melepaskan genggamannya pada tangan Endri.
Cowok itu membiarkan Nana menangis dipelukannya. Tidak ambil pusing kalau seragamnya jadi basah karena air mata. Yang penting adalah cewek dalam pelukannya ini jadi lebih tenang.
nb"Ingat apa kataku tadi ya Na?" sekali lagi Pandu mendengar Endri berujar pada Nana. "Dan apapun yang terjadi, kami ada buatmu."
Tanpa suara, Pandu berterima kasih ke Endri dan dijawab anggukan dan senyuman kecil olehnya. Lalu, cewek berambut panjang itu lalu pergi dari tempat itu dan balik ke kelas lagi.
Tak lama kemudian, Pandu merasakan Nana berusaha memberontak melepaskan diri dari pelukannya. Namun, cowok itu tidak membiarkan hal tersebut terjadi. Justru semakin mengeratkan pelukannya pada Nana.
Hatinya teriris ketika mendengar suara isak tangis orang dalam pelukannya semakin kencang. Pandu menyandarkan kepalannya di atas kepala Nana. Membiarkan cewek itu meluapkan semua emosinya.
Mereka bertahan dalam posisi itu selama beberapa saat. Setelah memastikan kalau Nana sudah lebih tenang, Pandu melonggarkan pelukannya. Cowok itu menatap wajah penuh air mata Nana dengan pandangan lembut. Dengan perlahan, dia juga menghapus air mata Nana dengan ibu jarinya.
"Na, kau tahu kan kalau kau itu salah satu prioritasku setelah orang tuaku?" ujar Pandu dengan lembut. Namun, Nana tidak menjawab.
"Rasanya sakit pas kau selalu menghindariku akhir-akhir ini. Mungkin aku ada salah yang nggak sadar aku lakukan padamu. Jadi maafkan aku ya Na? Mau kan kau memaafkanku? Dan sekarang kau nangis pasti gara-gara aku ya? Aku paling nggak suka melihatmu sedih. Aku bakal melakukan apapun yang aku bisa biar kau nggak nangis kayak gini lagi," lanjutnya sambil kembali mendekap Nana dengan erat tetapi tetap dengan lembut.
"It's all for you... Do it all, do it all, do it all again for you. Again for you..." Pandu bersenandung kecil sambil menangkan Nana. Lagu yang familiar karena beberapa minggu terakhir Pandu sering sekali mendengarkannya. Bahkan ketika sedang bersama Nana sebelum mereka sedikit "crash" selama beberapa hari ini.
Terakhir kali mereka bercanda lepas bahkan sebelum Nana bertanding di GOR UHW. Selama pertandingan dan beberapa hari setelahnya, cewek itu selalu menghindarinya.
Cowok itu bahkan sampai menanyakan ke Aylin, kakak sepupu Nana yang lain, perihal Nana. Namun, Aylin bilang dia tidak punya hak buat memberitahunya. Aylin sudah berjanji ke Nana. Saran dari Aylin adalah tetap coba ajak bicara Nana dan saling mendengarkan satu sama lain.
Kerisauan Pandu sedikit teralihkan ketika dia sibuk mengurusi persiapan event besar sekolah. Namun, dia selalu menyempatkan waktu untuk mengecek Nana atau sekedar menanyakan keadaannya pada teman sekelasnya.
Cowok itu tersenyum lega ketika cewek itu akhirnya membalas memeluknya erat.
"It's all for you... Do it all, do it all, do it all again for you. Again for you..."
Dengan penuh perasaan, Pandu mencium puncak kepala Nana. Lalu membisikkan sesuatu di telinga cewek itu. Sesuatu yang sudah lama sekali ingin dia katakan.
"Aku selalu memandang ke arahmu, Na. Jadi, please don't be in love with someone else..."
Pandu menatap Nana yang kini menampilkan raut wajah terkejut. Cowok itu lalu tersenyum dengan raut menyendu.
"You're the apple of my eyes, Na..."
"...Always."
.
.
.
Pandu mengajak Nana untuk mulai terbuka. Pandu juga menceritakan semuanya pada Nana.
Tentang perasaannya selama ini dan tentang Laras.
Pandu memutuskan untuk jujur. Dia juga meluruskan kesalahpahaman yang membuat Nana menghindarinya. Sejujurnya, saat Nana menghindarinya, Pandu merasa sedih.
Berkat pengakuan dan kejujuran Pandu, Nana juga berani mengakuinya. Hal yang membuat Pandu terkejut, tetapi senang bukan kepalang.
Pandu tidak tahu kalau Nana suka pada dirinya sejak awal kelas sebelas. Begitupun sebaliknya, Nana tidak tahu menahu kalau Pandu ternyata diam-diam suka padanya. Bahkan sejak mereka masih kelas sepuluh!
Itu artinya Pandu yang pertama kali naksir Nana diam-diam.
Setelah pembicaraan dari hati ke hati di atap kala itu, hubungan keduanya membaik. Malah lebih lengket dari sebelum-sebelumnya.
Banyak yang mengira mereka berpacaran. Meski tidak sedikit juga yang sebelum ini sudah mengira mereka ada hubungan lebih.
Namun, tiap kali ditanya begitu, mereka memilih diam dan tersenyum.
"Kita lebih dari teman," ucap Pandu dan Nana mengangguk setuju di sebelahnya.
Sebenarnya Pandu sudah lebih dulu nembak Nana. Bahkan sebelum Nana sempat berucap, cowok itu mendahuluinya. Meski begitu, mereka punya komitmen bersama.
"Aku bakal nembak kau lagi setelah kita ujian," kata Pandu pada suatu hari. Membuat Nana keheranan.
"Lagi? Bukannya udah?"
"Iya," Pandu mengangguk. "Aku ingin menegaskan lagi. Let's tell the world on that day."
Dan tidak ada yang tahu soal komitmen keduanya itu. Mereka memang sengaja merahasiakannya. Keduanya berharap kalau perasaan yang mereka miliki tidak hanya sesaat.
Jadi biarkan mereka menjalaninya berdua dulu. Menghabiskan waktu bersama seperti sebelum-sebelumnya. Hanya kini mereka tahu perasaan masing-masing dan lebih terbuka satu sama lain.
.
.
.
.
.
a.n.
semoga nggak aneh ya :')
semoga lebih jelas ya soal kisah dan hubungan Nana dan Pandu
soo... aku mau buat pengakuan. aslinya cerita ini rencananya tidak sepanjang ini, tapi ternyata pas eksekusinya malah jauh di luar perkiraan :'D
di cerita ini, untuk sisi romance, aku akan fokus ke empat kisah pasangan utama (kalian sudah bisa menebaknya siapa), dan kisah mereka saling berhubungan. so yeah, aku harap aku nggak bikin kalian bosan dengan cerita ini :')
so.. see you on next chapter! hopefully we'll back to the main chapter, but if not, another side story doesn't hurt