![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
first day of school (phrase): the first day of an academic year
.
.
.
[baru minor editing seperti biasa]
.
.
.
Hari ini kuliah perdana dimulai!
Setelah melewati rangkaian agenda Isimaja dan ada jeda libur sejenak, semester baru akhirnya dimulai.
Para maba tak sabar menyambut hari ini di mana dimulainya status resmi sebagai mahasiswa. Bukan hanya sekedar siswa, tetapi sudah maha. Sudah dianggap dewasa dan tentu saja tidak dipandang sebagai anak sekolahan lagi.
Sekarang ini, mereka akan mulai dipandang sebagai anak kuliahan. Apalagi kuliah di universitas mentereng seperti Universitas Hayam Wuruk, kurang membanggakan apalagi bukan?
Tidak jauh beda dengan maba lain, Kai, Neo, dan Ojan, pagi-pagi sudah tiba di kampus. Mereka ada kelas pagi yang dimulai pukul 07.30. Kai dan Neo satu kelas kecil dan besar. Hal yang sangat Neo syukuri karena setidaknya ada orang yang dia kenal di kelas nanti.
Sedangkan Kai, dia tidak masalah. Dia senang juga ada wajah familiar di kelas nanti.
Ojan tentu satu kelas dengan Dafa. Sedangkan orang yang bersangkutan katanya sudah sampai di gedung TI lagi mencari kelas.
Mereka bertiga sengaja berangkat pagi-pagi buat mencari kelas karena belum hafal. Gedung kuliah Teknik Industri dan TI searah jadi mereka bisa bareng.
"Ridwan sama Teo masih nanti ya masuknya?" tanya Ojan.
"Iya. Katanya sih masuk jam 9.20," jawab Neo.
"Enak ya. Hari Senin bisa masuk agak siangan..."
Ojan yang ngelaju dari rumah, dia harus berangkat pagi-pagi untuk kuliah perdana ini. Alasannya adalah dia tidak mau telat di hari pertama dan dia belum hafal ruangannya yang mana.
Meski di grup gugus mereka, para pemandu sudah menjelaskan sebisa mereka dan bagaimana cara membaca kode ruangan di jadwal, kalau belum lihat langsung rasanya masih mengambang.
Ridwan dan Teo juga satu kelas. Berbeda dengan Teknik Industri yang sistem pembagian kelasnya berdasarkan NIM hasil jalur masuk, maka di Teknik Otomotif diacak. Jadi dalam satu kelas bisa terdiri dari maba jalur SNM, SBM, dan SM.
"Ketemu di kantin pas ishoma ya!" seru Neo mengingatkan pada Ojan saat mereka berpisah jalan. Ojan sudah mulai menaiki tangga gedung kuliahnya untuk ke lantai tiga.
"Yo!" jawab Ojan, lalu berjalan menjauh.
"Lantai berapa kita Kai?"
"Kalau dijadwal sih lantai satu ruang tiga," jawab Kai sambil mengecek jadwal kuliah yang dia pasang sebagai wallpaper ponselnya.
"Syukur deh hari pertama nggak perlu naik tangga," ucap Neo dengan lega.
Tidak semua gedung kuliah ada lift-nya. Jadi, baik dosen maupun mahasiswa menggunakan tangga untuk sampai di kelas di lantai atas. Paling mentok sampai lantai tiga.
Kebanyakan gedung-gedung di FT memang tidak bertingkat karena berupa laboraturium dan bengkel-bengkel. Terlebih tiap jurusan punya gedung praktik masing-masing. Jadi jangan heran kalau FT areanya sangat luas. Salah satu yang terluas di UHW.
Semester satu masih banyak mata kuliah umum dan teori. Jadi, maba masih bisa bersantai dan ambis sepuasnya. Ada tips untuk ambis dari senior-senior. Mereka menyarankan agar cari nilai sebanyak-banyaknya, setinggi-tingginya, selama masih semester-semester awal. Karena itu masih terbilang mudah untuk dapat nilai A.
Beda lagi kalau sudah semester empat ke atas.
Itu kata mereka. Toh, pada akhirnya tiap orang juga beda-beda. Namun, memang saran dari para senior itu layak dipertimbangkan.
Beda halnya dengan para maba yang terlihat bersemangat, para senior kebanyakan terlihat mulai jenuh. Rasanya ingin memperpanjang liburan lagi. Apalagi bagi senior yang semester ini memasuki tingkat tiga dan empat.
"Doh...! Masih pengen libur," keluh Taufan. Dia hari ini ada kelas pagi. Makanya, cowok itu semakin tambah malas untuk berangkat kuliah.
"Nggak buru ke kelas?" tanya Naufal yang duduk di bangku seberangnya. Di depannya ada menu sarapan pagi, nasi kuning hangat dan lauk pauknya serta es teh manis.
Naufal dan Taufan ada di kantin saat ini. Naufal untuk sarapan dan Taufan yang mampir beli kopi untuk membuatnya melek. Dia sudah sarapan tadi sebelum ke kampus.
"Dosennya hari ini bilang baru bisa masuk jam delapan. Masih empat puluh menit lagi," jawab Taufan yang terlihat ogah-ogahan. Pasalnya, info dari dosennya itu baru dikirim sepuluh menit yang lalu. Jadi ya, beberapa anak yang sudah di kampus kecele. Apalagi yang berangkatnya pagi-pagi.
Taufan masuk golongan orang yang berangkatnya tidak kepagian dan juga tidak kesiangan.
"Lah kau ngapain berangkat pagi? Kelas pagi juga?" tanya Taufan.
"Nggak. Masih nanti jam sembilan," jawab Naufal.
"Masih lama woy itu," kata Taufan tak percaya. "Rajin amat tumben.."
"Sekalian mampir ke sekre bentar ngambil buku yang ketinggalan. Udah berhari-hari di situ lupa tak ambil."
Taufan menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Kirain... soalnya kok si Alin nggak kelihatan."
"Beda kelas kita. Katanya dia masuk jam sebelas nanti," kata Naufal setelah meminum es tehnya beberapa tegukan. Naufal dan Aylin hanya satu kelas di kelas besar.
"Enak banget," komentar Taufan dengan iri. "Mesti si Alin masih ngebo dia."
Di antara mereka berlima, Aylin memang yang agak susah bangun pagi—beda lagi kalau urusan ibadah, Aylin otomatis akan bangun sendiri. Makanya, dia selalu memasang alarm berulang atau meminta seseorang untuk membangunkannya.
Kebiasaan buruk Aylin memang tidur pagi. Meski bukan habis subuh langsung tidur lagi, ada jeda. Namun, tetap saja terhitung kurang baik. Terlebih kalau sudah di kamar, apalagi di tempat tidur, rasanya luar biasa mageran.
"Biarin aja lah," sahut Naufal sambil menghabiskan nasi kuningnya. "Itung-itung bayar hutang tidur. Beberapa minggu kemarin lemburan terus kan dia."
"Nanti biar Rima yang bangunin kalau belum bangun."
"Iya sih," kata Taufan. "Kadang merasa kasihan juga, tapi si Alin kan batu banget kalau dikasih tahu buat istirahat cukup."
"Morning everibadehh...!" seseorang berseru menyapa. Terlihat Budi datang lalu duduk ikut bergabung dengan mereka berdua.
"Tumben berangkat pagi," komentar Taufan dengan heran.
"Kelas jam sembilan. Sekalian sarapan di kantin," jawab Budi dengan santai. Lalu dia segera memesan sarapannya.
"Hampir lupa kalau Rima sama Budi nggak sekelas," Taufan menepuk dahinya.
"Si Rima kelasnya nanti jam satu," kata Naufal yang sudah selesai dengan sarapannya.
"Katanya hari ini cuman satu matkul doang."
"Wihh... nanggung amat," Taufan berkomentar. "Paling males kalau harus berangkat siang-siang. Panas cuy, hawanya juga enak buat tidur siang."
"C*k, aku duluan ya. Dosennya udah jalan ke kelas," kata Taufan kemudian. Buru-buru dia menyangklongkan tasnya.
"Mana lantai tiga lagi, hadeh..." keluhnya.
"Hoi Pan, mau kemana?" tanya Budi yang sudah kembali bersama pesanannya.
"Kelas," setelah berkata demikian, cowok berkacamata itu berlari menuju gedung tata boga untuk ke kelasnya di lantai tiga.
"Lah, Pal, kok udah habis?" tanya Budi ke Naufal ketika melihat piringnya sudah kosong.
"Yee wis ket mau aku," jawab Naufal. [Udah dari tadi aku]
"Ealah..."
.
.
.
"O*su c*k! Baru masuk udah dikasih tugas," keluh Budi dengan keras. Untung suasana kantin sedang ramai, jadi tidak menganggu sekitar.
"Project buat satu semester sih kalau kelasku tadi," Aylin dengan kalem. Seolah dia tidak keberatan seperti Budi. Padahal aslinya, tadi selepas keluar kelas, dia sudah mengeluh bersama teman-teman kelasnya yang lain.
Jadinya sesampainya di kantin, dia memesan segelas besar es susu stroberi untuk menenangkannya.
"Weh iya? Matkul apa itu?" tanya Naufal.
"Matkulnya Bu Tamrin pokoknya," jawab Aylin.
"Hadoh! Mana aku juga dapat kelasnya Bu Tamrin lagi," Naufal kini yang gantian mengeluh.
"Ibunya kalau ngasih proyek suka ngada-ngada, bejibun."
"Semangat ges.. nanti jam satu kelasku baru masuk, semoga aja aman nggak ada tugas," kata Rima.
"Nggak mungkin," sahut Taufan. "Ingat ya Ma, kita itu semester berapa. Kayaknya semua jurusan bakal banyak tugas sama proyek."
"Diamlah. Jangan merusak acaraku ber-positive thinking," tukas Rima. Raut wajahnya sudah pasrah kalau nanti memang diberikan tugas berjibun.
Kelima sekawan ini tengah makan siang di kantin FT yang ramai dan terlihat sibuk. Beruntungnya mereka kebagian tempat untuk duduk.
"Halu adanya," cibir Budi.
"Ish..!"
"UKM udah mulai gencar sebar brosur sama buka pendaftaran ya?" komentar Naufal. Mereka melihat beberapa anak UKM yang mampir ke fakultas untuk memasang poster pendaftaran UKM mereka.
"Iyalah," sahut Taufan. "Terlebih animo tahun ini lebih banyak yang minat dari tahun kemarin. Temenku yang di UKM penelitian aja kaget banyak yang mau daftar."
"Bener," kata Rima sependapat. "UKM Karate aja baru besok Rabu resminya buka pendaftaran. Tapi udah banyak yang tanya kapan buka."
Obrolan mereka terpotong ketika Budi memanggil seseorang dengan keras. Mengisyaratkan orang itu untuk datang mendekat.
Dan ternyata yang dipanggil Budi adalah Frans and the gank, Haris dan Asep. Ketiga cowok Teknik Sipil tahun kedua itu—bedanya Asep di pendidikan—tadi terlihat kebingungan mencari tempat duduk buat makan siang. Pasalnya semua sudah penuh.
Makanya Budi yang tak sengaja melihat mereka, mengundang mereka buat gabung di meja mereka.
Siapa sih yang tak kenal pentolan tahun kedua itu? Terlebih Frans. Cowok berwajah agak bule itu punya penggemarnya sendiri. Neneknya orang Belanda. Jadi wajar saja kalau wajah dan postur tubuhnya agak berbeda dari orang Indonesia kebanyakan.
Selain itu Frans juga disegani banyak orang.
Rumor, yang tidak sekedar rumor, menyebutnya sebagai Raja Teknik berikutnya sudah jadi rahasia umum.
Selain Frans, ada Haris. Cowok yang terkenal jahil dan juga player itu juga cukup populer di kalangan anak-anak Teknik. Dia bisa diibaratkan hampir sebelas duabelas dengan Budi.
Dan yang ketiga ada Asep. Cowok paling kalem dalam grup pertemanan mereka. Paling alim juga. Banyak orang yang bertanya-tanya kenapa dia bisa bersahabat baik dengan Haris yang bertolak belakang dengannya.
Terkadang Adi ikut bergabung dengan mereka bertiga. Melengkapinya menjadi empat serangkai.
Jadinya, meja mereka menjadi sorotan semua orang yang berada di kantin. Bagi para senior mungkin bukan hal baru lagi. Beda lagi bagi para maba.
Lima sekawan alias Aylin dan gengnya bukan pentolannya angkatan, meski cukup banyak dikenal juga. Mungkin hampir semua kenal atau setidaknya familiar dengan mereka berlima.
Salah satu pentolan angkatan tahun ketiga itu Enggar.
Kaget 'kan?
Padahal dia sebelumnya pernah bilang kalau dia itu tidak banyak dikenal orang. Cowok itu hanya sok merendah untuk meroket. Lalu ada lagi satu yang Aylin lupa namanya, anak Teknik Elektro. Ikut BEM juga.
"Ikut gabung ya Bang, Mbak," ujar Asep. Lalu mereka bertiga duduk di kursi yang ada.
"Yo'i, santai aja," sahut Naufal dan disetujui yang lain.
"Gimana hari pertama, udah ada tugas?" tanya Taufan basa-basi.
"Di jurusanku belum sih Bang," jawab Asep. "Tapi tadi udah diwanti-wanti bakal ada tugas dan mini project."
"Sama, belum juga. Nggak tahu kalau matkul habis ini ya," kata Haris. Frans mengangguk disebelahnya. Dia dan Haris satu kelas.
"Oh iya ding, Asep di pendidikan ya? Lupa aku," kata Rima.
"Hehe... iya Mbak," sahut cowok berpotongan rapi.
"Jadi kangen pas masih jadi tahun kedua awal..." celetuk Taufan.
"Semester tiga emang masih terbilang aman nggak sih?" timpal Naufal.
"Hooh," sahut Budi. "Baru deh semester empat mulai bikin nyebut."
"Emang kau pernah nyebut?" tanya Aylin.
"Sok alim emang si Budi," Taufan menambahkan. "Pencitraan."
"Asem!" Budi hanya menatap keduanya sengit.
Mereka lalu mengobrol terkait acara makrab dan sikrab yang sebentar lagi diadakan. Budi, Rima, dan Haris yang merupakan anak Hima Teknik Sipil yang mendominasi pembicaraan terkait acara jurusan mereka. Asep tidak ikut Hima seperti halnya Frans, tetapi dia ikut rohis FT dan DPM.
Yang tentu saja ada agenda dalam waktu dekat ini.
Naufal juga sedikit membeberkan terkait sikrab Teknik Industri. Aylin mana tahu dia. Wong dia saja tidak ikut Hima apalagi kepanitiaan jurusan.
Benar-benar clueless Aylin kalau soal agenda jurusan kalau tidak diberitahu Naufal atau teman sejurusannya yang lain.
"Woiya, ngomong-ngomong soal duta kampus, bentar lagi demis ya Frans berarti?" tanya Taufan beberapa saat kemudian.
"Waduh demis. Kayak organisasi aja," jawab Frans.
"Emang iya sih. Tugas terakhir bantu ngurus Porseni bulan depan. Habis itu diambil alih sama Kayvan."
"Wah... nggak sabar buat Porseni besok," kata Haris.
"Iya nggak sabar karena banyak jamkos-nya kan, hahaha!" canda Asep.
"Betul sekali kawanku, hahaha..!"
"Wah... tahun terakhir kita bisa ikut Porseni gaes," kata Taufan pada keempat sohibnya.
"Weh, iya ya? Tahun depan kita udah sibuk ngurus magang sama KKN," sahut Budi.
"Cepet banget weh!"
"Semangat Bang, Mbak," ujar Asep menyemangati.
"Mau nggak mau ye kan?" gurau Rima.
"Berarti si Kayvan nanti tugasnya rangkap ya?" tanya Naufal kemudian. Budi dan yang lain menatapnya bingung.
"Dia kan duta kampus sama duta FT juga."
"Oh, ya bisa dibilang begitu," kata Frans. "Kalau urusan duta kampus nanti dia bakal dibantu Pasha gimananya. Secara dia kan juga kasusnya sama. Kalau di FT baru nanti tak bantu."
Semua mengangguk-angguk mengerti.
"Berarti kalau dilihat dari tahun-tahun sebelumnya, event besar pertama si Kayvan sama Freya itu pas dies natalis. Benar?" tanya Rima memastikan.
Frans mengangguk. "Iya."
"Btw, si duta baru udah tok kasih tahu soal itu?" tanya Haris.
Frans menggeleng.
"Belum sempat. Rencana mau ngasih tahu nanti kalau udah agak selo. Sekarang lagi ribet persiapan buat Porseni."
"Wihhh... dah sibuk betul duta FT kita ini. Baru aja mulai kuliah," komentar Budi.
"Semangat yo."
"Siap, Bang."
Aylin sejak tadi hanya diam mendengarkan. Sesekali ikut menimpali kalau perlu. Beberapa kali dia terlihat sibuk membalas pesan yang masuk di ponselnya sejak tadi.
.
.
.
Hari kedua kuliah berlalu seperti biasa. Para maba masih terlihat bersemangat dibandingkan para senior.
Hari pertama bagi para maba masih berupa perkenalan di kelas kebanyakan. Jadi belum ada tugas yang diberikan.
Sekarang ini, memasuki jam ishoma beberapa saat lagi dan kantin seperti kemarin masih ramai. Kali ini hanya Aylin dan Rima yang ke kantin bersama. Kebetulan mereka kosong. Budi dan Taufan masih ada kelas katanya. Baru bisa istirahat saat jam satu nanti. Naufal sudah mulai sibuk mengurusi buat agenda sikrab Tekdus. Jadinya, cowok itu tidak bisa makan bareng di kantin hari ini.
Hari ini kelas Aylin hanya sampai jam sebelas—dari jam 7.30 jadinya terhitung hanya dua matkul saja. Selepas itu tidak ada kelas lagi. Hari selasa memang jadwalnya tak begitu padat. Beda lagi kalau besok.
Sementara Rima, dia baru ada kelas lagi jam tiga sore. Masuk jam 7.30 lalu jeda dari sebelas sampai nanti masuk jam tiga. Cukup malesin ya jeda lama dan kelas dimulai lagi sore-sore. Makanya, kelas Rima nanti mau bernegosiasi dengan dosen pengampu untuk dimajukan jam atau ganti hari. Mumpung baru pertemuan pertama.
Setelah makan siang, Aylin dan Rima berencana balik ke asrama saja. Si Aylin karena tidak ada kelas lagi dan Rima yang malas menunggu jeda kelas yang lama di kampus, gabut.
"Udah mau penuh aja ini papan pengumuman," komentar Rima ketika mereka berhenti untuk melihat papan pengumuman di taman baca dekat gedung kuliah Tata Busana. Mereka sengaja muter-muter dulu baru balik asrama.
Papan pengumuman itu kini sudah hampir penuh ditempeli poster-poster UKM dan agenda terdekat.
"Hooh," sahut Aylin yang berdiri di sebelahnya.
"Btw, Lin," Rima menoleh ke Aylin setelah membaca poster dari UKM Menwa.
"Apa?"
"Dulu, pas kita main sama Bia dan yang lain, kau kan pernah bilang nggak mau punya pasangan dari militer. Terus bilang nggak minat juga daftar ke militer."
Aylin mengangguk mengiyakan. Dia juga masih ingat pembicaraan mereka tempo itu.
"Terus situ kenapa jadi Menwa yang jelas-jelas pas diksar dilatih tentara?" tanya Rima heran.
Aylin meringis dan tertawa pelan. Seolah-olah dia ketahuan melakukan sesuatu yang salah.
"Hehehe..."
"Yee... malah ketawa."
"Hehehe... aku nggak ngeh kalau Menwa itu dilatih TNI. Awalnya pas lihat display UKM dulu, ya tertarik aja gitu. Wih kayaknya keren ikutan itu sekalian nostalgia. Eh, tahunya ternyata gitu. Tapi udah kadung masuk, jadi yaudah deh jalani aja dulu." [kadung: terlanjur]
Iya, Aylin baru tahu kalau Menwa ada dilatih tentara. Dia sempat mengira kalau menwa itu seperti paskib atau tonti, makanya dia tanpa pikir panjang mendaftarkan diri.
Makanya dulu Aylin pas sudah daftar dan mulai ikut diksar (pendidikan dasar), sempat kaget dan berharap tidak ada yang mengenalinya sebagai anak ayahnya—yang melatih dulu ternyata bawahan ayahnya.
Lalu cewek itu tidak sengaja ketemu ayahnya pas ada acara kunjungan—lupa kunjungan apa yang penting ayahnya itu mampir di lokasi. Makanya, Aylin ketemu ayahnya diam-diam dan bilang ke beliau buat jangan sampai orang tahu kalau anak ayah.
Dia tidak mau ribet dan jadi sorotan.
Sempat jadi wakil ketua juga tahun lalu. Baru tahun ini dia memutuskan buat berhenti. Meski kadang masih mampir juga ke ruang sekretariatnya di gedung Student Centre.
Rima yang mendengar alasan Aylin hanya menatapnya datar. Tidak habis pikir dia dengan jalan pikiran sahabatnya ini.
"Dasar aneh."
Aylin hanya tersenyum memperlihat geliginya dengan tampang tak bersalah.
.
.
.
.
.
.
a.n.
yup this is it. maaf kalau agak mengecewakan
rencana mau up kemarin-kemarin, tapi tak rombak sana sini karena kurang puas dengan part ini
see u on next part