Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Reassuring Hope



reassuring (adj): serving or intended to remove someone's doubts or fears


.


.


.


[baru minor editing, warning! part pendek]


.


.


.


.


Hari ini adalah hari terakhir Aqisol tahun ini.


Aylin hanya tidur kurang dari tiga jam. Badannya juga masih terasa berat dan pegal-pegal karena semalam. Rasa-rasanya dia ingin kembali bergelung di kasurnya dan tidur sampai siang.


Sayangnya itu tidak akan mungkin terjadi. Ada tanggung jawab yang harus dia selesaikan hari ini. Mungkin, Aylin baru akan bisa benar-benar istirahat dengan nyaman dan cukup setelah Isimaja nanti. Untuk sekarang ini, dia harus menahannya.


"Capek banget asli!" keluh Rima. "Rasanya aku butuh kopi biar melek."


"Ke konsumsi aja. Kayaknya mereka nyediain kopi buat panitia yang mau," kata Aylin. Dirinya sendiri lebih memilih meminum the hangat yang barusan dia ambil dari konsumsi untuk menyegarkan dirinya.


Cewek itu tidak suka kopi.


"Kopi item ada berarti? Lagi butuh yang kuat kafeinnya."


"Ada. Aku tadi ngeliat si Budi ambil kopi item," jawab Aylin. "Tapi cepat ya, bentar lagi mulai."


"Siap!"


Setelah berkata begitu, Rima bergegas pergi ke tempat para Tim Konsumsi berada untuk meminta kopi hitam.


Meminum yang hangat-hangat dan manis di pagi yang dingin ini membuat rasa lelahnya sedikit berkurang. Aylin berharap raut wajahnya tidak terlihat kuyu.


Beberapa menit kemudian, sudah saatnya dimulai Aqisol hari keempat. Aylin meminta Frans untuk mengumpulkan semua maba dan disanggupi cowok jangkung itu dan mengambil toa pelantang.


Semua TPK segera menuju posisi masing-masing. Namun, sebelumnya, Aylin sudah mengingatkan lagi untuk tetap profesional. Kalaupun ada di antara mereka ada yang tidak sanggup atau tidak kuat lagi, harus segera mundur ke belakang. Bahkan saat briefing internal tadi, Aylin meminta semua anggotanya untuk sarapan. Jangan sampai perut kosong.


Mereka bukan robot. Apalagi semalam mereka benar-benar disidang habis-habisan oleh senior mereka.


Untung saja, Risa dan timnya selalu menyediakan sarapan untuk panitia sejak TM minggu lalu. Walau ala kadarnya—sederhana, berbeda dari menu dan ukuran porsi makan siang— setidaknya bisa mengganjal perut.


Suara sirine toa yang dibunyikan Frans membuyarkan lamunan Aylin. Hari ini adalah penutupan Aqisol, semua TPK dan menwa sudah berbaris di sisi lapangan, berhadapan langsung dengan maba. Tidak ada pemanasan terlebih dahulu seperti sebelum-sebelumnya.


Sesuai kesepakatan dan rundown, hari ini waktunya untuk tantangan. Tradisi lain yang masih terjaga sampai sekarang. Walau Aylin yakin, cukup jauh berbeda dari pelaksanaannya ketika dulu-dulu.


Teguh dan Zul juga pernah mengonfirmasi kebenarannya.


Namun, inti konsepnya tetap sama. Hanya disesuaikan untuk tiap generasi.


Frans mematikan sirine toa yang dipegangnya. Cowok itu lalu kembali ke posisinya di barisan TPK.


Aylin menyapukan pandangannya ke semua maba yang sudah berbaris. Sepertinya, hari ini jauh lebih banyak dari dua hari yang lalu. Aylin belum mengecek presensi dari pemandu. Namun, dia rasa maba yang sebelumnya membolos kembali hadir hari ini.


Setelah keadaan diam selama beberapa saat, Aylin akhirnya maju keluar barisan TPK dan menuju mimbar yang sudah disediakan perkab.


"Selamat pagi!" Aylin berseru menyapa dengan toa pelantang yang diberikan Frans tadi.


"Pagi, Kak!" para maba menjawab.


"Hari ini adalah hari terakhir Aqisol tahun ini," sekali lagi Aylin menyapukan pandangannya ke seluruh maba.


"Saya ucapkan selamat untuk kalian yang bisa bertahan sampai hari ini. Karena saya tahu, masih ada teman kalian yang memilih bersantai di kamar daripada ikut tersiksa bersama kalian di sini. Dan saya ucapkan selamat datang kembali kepada kalian yang memilih bergabung lagi ke lapangan penyiksaan ini," Aylin sengaja agak menyindir dengan memberikan kiasan yang berlebihan.


Beberapa anggota TPK terdengar bertepuk tangan yang terkesan datar.


Lalu Aylin mulai menjelaskan apa yang harus dilakukan maba hari ini. Sebuah tantatangan yang harus diselesaikan sebaik mungkin. Dan jika mereka gagal, mereka harus mengulanginya dari awal sampai berhasil. Para maba juga harus menggunakan cara apapun yang kiranya terbaik.


Kuncinya adalah jika selama tiga hari kemarin mereka memahaminya, mereka bisa menyelesaikan tantangan dengan baik.


"Tetap dalam kelompok, tapi boleh saling kerjasama. Masing-masing komandan yang mengomando kalian, jadi dengarkan mereka baik-baik. Satu kelompok gagal, ulangi dari awal. Buat semuanya!"


Cewek itu lalu memanggil kelima komandan ke depan untuk menerima beberapa tugas dalam permainan ini.


"Ada dua tantangan," Aylin memulai tanpa basa-basi ketika para komandan sudah berkumpul. Cewek itu memastikan nada bicaranya jelas dan lugas agar tidak ada pengulangan.


"Tantangan pertama, kalian semua harus membuat koreo dalam waktu sesingkat mungkin. Dan tantangan yang kedua, kalian semua harus melakukan serangkaian latihan dari push up, lari, sampai berbaris rapi dengan waktu singkat. Sekali lagi kalau ada yang gagal dan tidak kompak, kalian semua harus mulai dari awal. Terserah kalian mau mulai dari tantangan pertama atau kedua. Jadi, manfaatkan waktu sebaik mungkin. Waktu kalian hanya tiga jam. Mengerti?"


"Mengerti, Kak!"


"Go!"


Setelah para komandan kembali ke barisannya. Sekali lagi, Aylin mengingatkan untuk semua maba soal durasi waktu.


"Waktu kalian sampai pukul setengah sepuluh!" pandangannya mengeras.


"Tidak ada toleransi tambahan waktu. Kalau kalian terus gagal sampai batas waktu, kalian akan semakin jauh dengan lencana gir kalian. Gunakan apa yang kalian pahami selama latihan kemarin!"


Kemudian, kelima komandan kita ini segera melakukan tugasnya. Semoga berhasil!


.


.


.


Tidak semudah itu, tentu saja. Beberapa kali para maba gagal dan harus mencobanya dari awal. Mereka memutuskan menyelesaikan tantangan kedua terlebih dahulu.


Terserah mereka. Yang penting mereka harus bisa menyelesaikannya tepat waktu. Atau kalau tidak, mereka akan lebih lama lagi di tengah lapangan.


"BARISANNYA DILIHAT LAGI! ITU TEMANNYA KETINGGALAN DI BELAKANG!" teriak Aylin melalui toa pelantang ketika melihat barisan para maba yang jaraknya berjauhan antara depan dan belakang.


Sudah kesekian kalinya. Dan itu membuat Aylin gemas sendiri melihat proses mereka. Sejak tadi, kesalahan yang mereka lakukan mirip-mirip.


Kalau saja mereka sedikit mengubah strateginya, mereka bisa menemukan jawabannya.


"Greget banget ngelihat mereka ngulang terus," seseorang di belakang Aylin berceletuk. Namun Aylin tidak menggubrisnya. Cewek itu tahu, yang berkomentar adalah salah satu anggota TPK yang berdiri tak jauh darinya.


"Jadi inget kita dulu nggak sih?" timpal seseorang lagi.


"Ho'oh. Jadi kangen."


Semua panitia pernah berada di posisi para maba saat ini. Bahkan semua mahasiswa FT ataupun alumni pernah merasakan perjuangan saat masa-masa jadi maba.


Di sisi lain lapangan, terlihat para pemandu berteriak menyemangati anak gugus mereka. Saat ini, terlihat para komandan dan beberapa maba tengah mendiskusikan sesuatu.


Sampai pada akhirnya, semua maba memulai tantangan kedua dari awal lagi. Aylin melihat ada yang berubah dengan posisi barisan mereka. Cewek itu tersenyum samar. Ah, sepertinya mereka akhirnya menggunakan strategi yang tepat!


Kita lihat apakah mereka akan berhasil kali ini.


"Wew. Mereka ngubah posisi barisannya," seseorang berkomentar.


"Baguslah! Moga aja kali ini berhasil," timpal orang lain.


Aylin fokus mengamati proses yang dilakukan para maba. Mereka terlihat agak lebih lama dalam mengondisikan barisannya dari sebelum-sebelumnya. Sebaik dan sehati-hati apapun strateginya, mereka harus ingat dengan waktu yang terbatas.


Ketika semua maba mulai bersiap untuk push up, terlihat aura mereka mulai berbeda. Mereka terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya.


Aylin mengangkat kedua alisnya, cukup terkesan dengan usaha mereka.


Bagian selanjutnya dalah bagian yang tersulit. Mereka harus bisa mempertahankan barisan mereka dengan rapi ketika harus berlari.


Namun, pada akhirnya mereka berhasil melakukannya. Sepertinya para komandan kali ini benar-benar memperhatikan timing. Begitu mereka selesai di tantangan kedua tanpa mengulang lagi, para maba bersorak kegirangan. Para pemandu dan beberapa panitia lain yang melihatnya bahkan bertepuk tangan mengapresiasi.


TPK tetap diam dalam posisinya. Tidak ikut bertepuk tangan atau mengucapkan selamat. Mereka hanya berkomentar dengan suara rendah di antara satu sama lain atau tetap diam sama sekali.


Aylin tersenyum kecil melihatnya. Setidaknya, mereka tidak perlu membuang-buang waktu lagi untuk mengulang tantangan.


"Bagus!" Aylin berseru kemudian setelah membiarkan para maba bereuforia sejenak.


"Tapi, jangan senang dulu! Tantangan satunya masih menanti. Kita lihat, hasilnya mengecewakan atau tidak."


Lalu cewek itu kembali mengingatkan dengan nada menyindir kalau waktu tinggal kurang lebih satu jam lagi. Para maba diminta untuk segera berlanjut ke tantangan yang tersisa biar tidak buang-buang waktu.


Setelah mendengar peringatan Aylin, terlihat para komandan dan beberapa langsung berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu. Entah pola apa yang akan mereka bentuk nantinya.


Aylin tidak terlalu memperhatikan detilnya. Cuaca semakin terik. Ingin sekali Aylin sekedar berbalik untuk meminta minum sebentar. Sayangnya itu terdengar kurang etis.


Meski tidak terlalu mengawasi maba karena fokus dengan dirinya yang merasa kehausan dan sangat butuh air minum, tetapi cewek itu langsung menyadari ada seseorang berjalan mendekat ke arahnya.


Dan orang itu adalah si ketua angkatan, Teodore.


Aylin mengangkat sebelah alisnya bertanya.


"Permisi Kak. Saya Teodore dari Gugus Jayapura. Saya izin bertanya, apakah kami boleh meminjam scaffolding dan mimbar untuk memetakan tantangan koreo, Kak?"


Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut, Aylin sudah paham maksudnya. Itu artinya mereka sudah punya konsep buat koreo yang akan mereka bentuk. Ternyata mereka berpikir cepat juga.


Si ketua TPK masih terdiam. Belum memberikan jawaban. Cowok itu terlihat sangat gugup dan menatapnya takut-takut.


Apa dia terlihat menyeramkan?


Meski terlihat takut, Teodore tidak jua menurunkan pandangannya. Sorot matanya terlihat harap-harap cemas. Namun, ada keberanian di sana. Aylin tidak kenal secara langsung cowok di depannya ini. Sepertinya, menurut penilaiannya secara sekilas, dia benar-benar bisa diandalkan.


Setelah cukup menilai sosok ketua angkatan tahun ini, akhirnya Aylin mengangguk sekilas. Mengizinkan Teodore dan para komandan menggunakan kedua benda yang dimaksud.


Mata Teodore langsung berbinar dengan penuh kelegaan. Maba itu berulang kali mengucapkan terima kasih sambil undur diri. Lalu segera beralih ke panitia lain, beberapa anak PDD dan Perkab yang ada di sana. Karena mereka lah yang menyediakan scaffolding dan mimbar.


Aylin tadi memang sengaja lama dalam merespon. Dia juga ingin tahu apakah Teodore mendesaknya untuk segera menjawab atau tidak. Namun, cowok itu tetap menunggu tanpa bertanya lagi atau membuat alasan tambahan.


Hmm... sepertinya memang tepat memilihnya sebagai ketua angkatan.


Aylin turun dari mimbar tak lama setelah mengizinkan maba itu menggunakannya dan bergabung dengan TPK yang lain. Tidak masalah. Toh, akhirnya dia bisa sedikit lebih santai sejenak sambil melihat proses yang dilakukan para maba.


"Lega, Lin?" Riana berbisik di sebelahnya. Aylin hanya tersenyum samar dan mengangguk kecil.


.


.


.


Aylin melihat jam tangannya untuk memastikan waktu yang tersisa. Tingggal beberapa detik lagi. Dia lalu mengangkat toa pelantangnya, bersiap menghitung mundur.


"Lima!"


"Empat!"


"Tiga!"


"Dua!"


"Satu! Waktu habis!" Terlihat para komandan langsung buru-buru kembali menempatkan diri di barisan.


Cewek itu lalu kembali ke mimbar. Dia menyapukan pandangannya ke seluruh maba yang telah membentuk koreo.


"Ketua angkatan, tolong beritahu apa yang kalian bentuk dan kenapa memilihnya!"


Terlihat sosok Teodore keluar barisan dan berlari kecil mendekat. Dia berdiri tak jauh di hadapan Aylin.


"Saya Teo, izin berbicara," cowok itu memulai.


"Kami memilih bentuk roda gigi yang melambangkan FT itu sendiri. Roda gigi melambangkan kerjasama yang selalu dibutuhkan dalam menyelesaikan tugas, dan FT tentu saja tidak lepas dari kerja tim dan kerja berkesinambungan. Roda gigi juga merupakan unit terkecil yang menjadi bagian paling vital dalam sebuah mesin. Tanpa roda gigi, mesin tidak bisa berfungsi. Begitupun FT, tanpa adanya unit terkecil itu, yang artinya rasa kebersamaan, FT tidak akan bergerak sampai sekarang ini."


Semua panitia yang hadir bertepuk tangan begitu mendengar jawaban Teodore, termasuk anggota TPK yang hanya bertepuk tangan sopan dengan raut wajah yang tidak menunjukkan ekspresi berarti.


Mendengar hal itu, entah sadar atau tidak, Aylin tersenyum miring. Namun, tidak ikut bertepuk tangan.


Diam-diam cewek itu, entah kenapa, merasa terharu melihat para maba bisa menyelesaikan tantangan di Aqisol hari terakhir.


Saat merencanakan Aqisol tahun ini beberapa bulan lalu, Aylin agak kurang pede. Apakah pesannya akan tersampaikan atau tidak. Apakah para maba bisa melakukannya atau tidak. Namun, setelah melihat hari ini, dirinya merasa lebih yakin dan percaya.


Dirinya jadi lebih optimis kalau mereka bisa melakukan challenge pas penutupan Isimaja.


Yah... semoga saja.


"Bagus. Jawaban yang cukup impressive," Aylin berujar ketika euforia sudah mereda.


Lalu dia kembali memandang ke seluruh maba yang memperhatikannya.


Dia berseru lantang, "Selamat dan sampai bertemu di upacara penutupan! Kami harap, kalian tidak mengecewakan kami!"


Begitu mendengarnya, semua maba kembali bersorak gembira. Beberapa ada yang merayakan euforianya dengan melompat-lompat girang atau berpelukan. Mereka tersenyum lebar.


Aylin tersenyum samar sekali lagi sebelum turun dari mimbar. Lalu menyerahkan acara selanjutnya kepada Galang, si ketua pemandu, yang sudah siap.


"HALO SEMUANYA!"


"Mbak Lin," Adi memanggil ketika Aylin sudah bergabung dengan TPK yang lainnya.


"Makin optimis sukses kan?"


Aylin mengangguk yakin. "Optimis sukses!"


.


.


.


.


.


.


.


.


a.n. emang lebih pendek dari kemarin. di sini adalah sudut pandang aylin dari part kayvan bagian challenge


sebenarnya pengen bisa sering2 up, paling nggak tiga-empat hari sekali (1-2 hari sekali itu pas aku bisa fokus ke sini, gabut maybe, nggak ke-distract, dan idenya lancar jaya)


dan akhir-akhir ini emang ada hal lain yg harus diprioritaskan, and again, i do apologize to siapa aja yg baca kalau ada, emang nggak bisa cepat up (for now). and thanks udah mampir di cerita gaje ini 


see you