![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
dare (n): a challenge, especially to prove courage
.
.
.
[baru minor editing, part pendek]
.
.
.
Setelah ke mall beli kado lalu makan-makan di burjo langganan sebagai perayaan kecil-kecilan ulang tahun Aylin—Aylin yang traktir keempat sahabatnya. Sengaja ke burjo langganan karena ya kebiasaan mereka di sana.
Dan menurut Aylin, Budi kalau kebiasaan ditraktir di restoran nanti malah ngelunjak dia.
Bercanda.
Mereka mengajaknya memang di burjo langganan. Baru nanti sore bakal ke angkringan langganan mereka.
Idenya Naufal. Biar bisa ditraktir dobel katanya. Kalau di restoran atau warung makan kan lebih mahal dan tidak bisa nambah sepuasnya.
Sialan memang si Naufal.
Selain itu, si Aylin memang cukup perhitungan dengan uangnya. Makanya dia cukup jarang mentraktir makan teman-temannya. Hal yang membuatnya begitu karena keempatnya, terutama Budi, suka tidak pakai otak saat pesan makanan.
Untuk Bimala, sepupunya itu memberikan setelan blus dan rok. Katanya biar Aylin tidak melulu pakai kaos.
Asal kalian tahu, pakai kaos itu super nyaman dan tidak ribet. Itu kata Aylin.
"Hoih... si Budi sama Topan lama banget beli makannya," keluh Rima. Suasana di ruangan yang cukup berisik membuatnya sedikit teredam.
Hari ini, Rima, Aylin, Naufal tengah berada di gudang di dekat asrama C yang disulap menjadi sebuah basecamp. Gudang itu dulunya milik seorang alumni FT yang awalnya untuk menyimpan stok barang jualannya. Namun, setelah pindah dan gudang itu kosong, alumni itu memasrahkannya ke anak-anak FT yang mau mengurusnya.
Biar lebih berguna daripada kosong terbengkalai.
Bagi orang-orang yang kurang tahu, gudang yang disebut Third House itu sebagai markasnya anak-anak geng FT.
Padahal nyatanya tidak begitu juga.
Mereka lebih suka menyebutnya sebagai tempat main, nongkrong, rapat, menginap, mengerjakan tugas, atau numpang tidur daripada disebut markas. Tidak ada hal-hal mencurigakan atau hal negatif yang sering dilayangkan oleh orang-orang yang belum pernah ke Third House.
Tempat ini benar-benar seperti kos-kosan dan ruang sekretariat ormawa dijadikan satu. Benar-benar harmless.
Asal-usul diberi nama Third House tidak ada yang tahu. Karena nama itu sudah ada sejak lama, bertahun-tahun yang lalu. Alumni pemilik asli tempat ini pun lupa dulu siapa yang memberi nama.
Third House menjadi tempat berkumpulnya anak-anak FT, baik junior maupun senior. Para maba tahun ini sebenarnya sudah tahu soal tempat ini, tetapi belum banyak yang berani berkunjung.
Mungkin masih sungkan dengan para senior.
Dan hari ini, Aylin dan kawan-kawan memang ke Third House buat main untuk melepas penat dari tugas kuliah yang menumpuk. Naufal malah menyarankan untuk rapat ketua kelas Teknik Industri tahun ketiga di sini. Jadi cowok itu sekarang bersama para ketua masing-masing kelas kecil sedang rapat di sudut ruangan.
Iya, Naufal jadi ketua kelas kecil semester ini.
Mereka akan membahas soal konsep booth dan stand yang akan masing-masing kelas gunakan untuk November mendatang. Progress sudah 60% sejauh ini.
Sebentar lagi adalah dies natalis FT bulan November nanti. Seperti fakultas lain di UHW, FT juga ada festival yang nanti akan berlangsung selama seminggu. Karena bukan di hari libur, jadi nanti ada pergantian shift siapa yang akan berjaga mengurus stand atau booth.
Lalu segala pertunjukan seperti drama, musik, atau tarian, nanti akan diadakan ketika weekend yang menjadi puncaknya. Saat ini, kelas yang mengadakan pertunjukan sekali tampil seperti itu sudah menyebar info. Bahkan ada yang sudah menjual tiketnya.
Tahun ini, kelas Aylin memilih ide kafe dengan jajanan tradisional. Nanti tiap pelayanannya harus mengenakan baju tradisional seperti orang jaman dulu. Kelasnya Rima katanya pertunjukan drama. Entah drama apa karena Rima tidak memberitahu. Biar nanti lihat di poster dan tiketnya katanya. Kalau kelasnya Naufal booth permainan.
Aylin dan Rima hanya mengobrol santai sambil menunggu Budi dan Taufan datang dengan makanan pesanan mereka. Keduanya tadi memang pergi mau beli makan dan banyak anak-anak di Third House yang titip.
Namun, sampai sekarang mereka belum balik juga.
Hampir satu setengah jam kemudian, Budi dan Taufan akhirnya datang. Bahkan Naufal sudah selesai dengan rapatnya dan kini sudah duduk bergabung bersama Aylin dan Rima sebelum Budi dan Taufan sampai.
Apalagi Frans yang baru selesai rapat dengan segenap panitia lain sudah datang ke Third House membawa gitarnya. Raut wajahnya terlihat kelelahan. Meski kali ini Kayvan yang akhirnya mengurus acara bersama panitia yang lain, tetapi Frans juga masih bantu-bantu. Tidak lepas tangan begitu saja.
"PAKEETT!!" teriak Budi dengan lantang. Dia dan Taufan datang membawa satu dus besar berisi kotak makanan cepat saji alias ayam goreng.
"Akhirnya..." terdengar suara lega dari orang-orang yang menunggu pesanan mereka.
Budi dan Taufan lalu meletakkan kardusnya di tengah ruangan yang kosong dan membiarkan orang-orang yang pesan makanan tadi mengambil sendiri makanan mereka.
"Amboi... capek banget c*k," keluh Budi. "Perasaan berangkatnya tadi yang pesen makanan nggak banyak, eh pulangnya berasa ikut perkab lagi."
"Oh iya, lur! Nanti bayarnya ke si Tompel ya yang belum. Harganya sama semua kok, udah sama minumnya," seru Budi memberi tahu semuanya.
"Oke, Bud! Makasih ya!"
"Siap, Peng!"
"Oke!"
"Makasih!"
"Mesti si Budi nggak bawa duit 'kan?" Rima menebak setelah Budi dan Taufan duduk bergabung bersama mereka.
"Iyalah!" Taufan yang menyahut. "Untung ya aku bawa uang. Kalau nggak malu di sana, udah beli banyak tapi ngutang dulu."
"Dompetku ketinggalan woy!" bela Budi.
"Jadi si Budi ngutang ke dirimu, Pan?" tanya Aylin ke Taufan.
Cowok berkacamata itu mengangguk. "Hooh."
"Peng, jangan lupa dibayar ya."
"Iya-iya..."
Mereka semua makan ditemani permainan akustik dari Frans dan beberapa anak yang tidak makan. Suasananya benar-benar terasa hangat dengan kebersamaan.
Selesai makan, mereka lalu melakukan kegiatan masing-masing. Ada yang memutuskan untuk pulang, rebahan sambil bermain ponsel, membaca buku, atau hanya istirahat sambil menikmati musik yang dimainkan.
"TOD-an yok!" ajak Budi tiba-tiba. Dia memegang botol minuman kosong dari bekas minumnya tadi.
Rima, Taufan, dan Naufal setuju dengan usulan itu. Sementara Aylin, wajahnya sudah terlihat malas duluan.
Oh, dia paling tidak suka permainan ini.
"OI LUR!" teriak Budi. "Ada yang mau TOD-an nggak?"
"Ikut dong!"
"Boleh-boleh..."
Setelah ada tambahan empat anak dan duduk melingkar, Budi bersiap memulainya.
"Hoi! Aku nggak bilang ikut lho," seru Aylin.
"Heleh... Kau itu otomatis ikut Lin. Ora urusan pokokmen," sahut Budi cepat tanpa penolakan. [Nggak mau tahu pokoknya]
"Haish..." keluh Aylin.
"Udah Lin, ikut aja kali. Siapa tahu bisa ngerjain si Budi," Naufal yang disebelahnya mencoba menenangkan.
Dengan berat hati, Aylin ikut bermain truth or dare dengan yang lainnya.
Peraturannya kali ini, masing-masing orang hanya diberi tantangan atau pertanyaan satu kali setiap botol mengarah padanya. Dalam hati, Aylin berdoa sekuat-kuatnya agar ujung tutup botol yang diputar tidak mengarah ke arahnya. Ketika ujungnya mengarah ke Rima, Aylin bernafas lega.
Rima memilih dare alias tantangan. Dia diminta menari India. Dengan pedenya, dia melakukan itu meski kelihatan aneh karena gerakannya yang kaku. Hal itu menjadi tontonan semua orang. Selesai melakukan tariannya, Rima menutupnya dengan sedikit membungkuk ke arah yang menonton seolah-olah sedang berada di pertunjukan.
Ujung botol kedua mengarah ke anak Tata Busana tahun kedua bernama, Ayu. Dia kali ini memilih truth atau kejujuran. Sialnya, pertanyaan yang diberikan membuat Ayu terlihat keberatan dan memalukan.
Namun, mau tak mau dia harus menjawabnya.
Di tempatnya, Aylin semakin was-was. Tantangan dan pertanyaan yang diberikan membuat Aylin semakin kencang berdoa.
Ada yang diminta melakukan pengakuan cinta ke orang yang di sukainya tetapi harus didengar banyak orang. Ada yang ditanyai sudah pernah ciuman belum dengan pacarnya. Ada juga yang ditanyai berapa tahi lalat yang dipunyai.
Dan lain-lain.
Entah konyol, memalukan, dan lainnya.
Putaran botol ke tujuh mengarah ke Aylin. Aylin yang melihat itu melototkan matanya.
Sial!
"Alin?" Budi terlihat girang mengetahuinya. "YES! AKHIRNYA ALIN KENA JUGA! HAHAHAHA..."
Cowok itu sepertinya sengaja. Puas sekali dia.
"Hah? Siapa? Alin milih dare atau truth?" suara dari ujung ruangan menyahuti. Rupanya, orang itu Seno. Cowok itu lalu berjalan cepat ke arah Budi dan lainnya berada.
"Belum, dia belum milih," jawab Rima.
"Kok ada Seno di sini?" Aylin heran. Sejak kapan Seno ada di Third House?
"Udah dari tadi aku. Aku tidur tadi di sana. Bangun belum lama tadi," jawab Seno.
"Akhirnya bisa lihat Alin TOD-an, hahaha!" Seno tertawa puas. Sementara Aylin merengut masam.
Terkadang, di sela-sela istirahat saat rapat dan persiapan Isimaja, beberapa panitia bermain TOD dan Aylin memang nyaris tidak pernah ikut. Ketika ikutpun, si Aylin sering dilewati ujung botol yang diputar.
Makanya, Seno sangat bersemangat begitu bangun mendengar ada yang main TOD dan Aylin ikut main.
"Truth or Dare, Lin?" tanya Naufal.
"Em...." Aylin terdiam sebentar. Dia mau mempertimbangkan mana yang sekiranya tidak terlalu beresiko. Kalau truth bisa jadi dia malah ditanyai soal Kayvan atau pertanyaan memalukan lainnya. Kalau dare...
"Udah, si Alin dare," Budi memutuskan seenaknya.
"Hei! Mana bisa begitu!" seru Aylin tak terima.
"Kau kelamaan Lin, udah dare aja. Dari tadi kebanyakan truth mulu," sahut Budi.
"Iyala..." Aylin akhirnya pasrah. Semoga tantangan yang diberikan tidak aneh-aneh.
"No, yang ngisi hiburan buat festival besok udah fix?" Budi malah bertanya ke Seno.
Seno terlihat bingung, tetapi tetap menjawabnya. "Udah sebagian besar. Masih bisa nambah kalau ada."
"Sip," lalu Budi kembali menoleh ke Aylin.
"Tantangan buat Alin adalah..." perasaan Aylin jadi tidak enak. Apalagi dengan tatapan dan senyuman licik dan jahil dari Budi.
"Nampil nyanyi bareng Frans buat jadi salah satu pengisi hiburan pas festival besok!"
"Wah..."
"Cakep betul idemu Bud!"
"Wih... jadi penasaran besok!"
"Ih..! Aku penasaran lihat Mbak Alin nyanyi kayak apa!"
"Nggak sabar buat lihat..!"
"Tumben pinter Peng?"
"APA?! NGGAK MAUU!" yang ini jelas dari Aylin.
Tanpa memedulikan protesan Aylin, si Budi berpaling ke tempat di mana Frans duduk.
"Gimana Frans? Oke nggak?"
"Boleh Bang," Frans mengacungkan jempolnya. "Nanti bisa gantian pake gitarnya buat mengiringi kalau mau. Mbak Aylin bisa main gitar 'kan?"
Sialan si Frans! Malah menuang minyak ke dalam api. Terlihat Seno berseru heboh. Bocah sableng yang sebelas dua belas dengan Budi itu menatap Aylin dengan pandangan menuduh, yang tentu dibalas delikan oleh Aylin.
Bagaimana Frans tahu? Dia pernah melihat Aylin main gitar bersama Bimala yang bernyanyi waktu itu. Bimala yang lagi tidak ada kerjaan mengajak Aylin buat mengiringinya nyanyi. Ada Nana juga yang ikut bernyanyi bersama.
"Alin diem-diem ya ternyata..." Seno berujar dengan sinis.
"Apa?!" seloroh Aylin galak.
"Nggak kok Lin..." buru-buru Seno memalingkan wajahnya.
"Lah kau bisa main gitar?" Budi bertanya heran pada Aylin. "Baru tahu aku. Kirain gitar yang di rumahmu itu pajangan doang."
"Nggak bilang bukan berarti nggak bisa," gumam Aylin dengan wajah yang berubah masam. Dia masih kesal dengan ulah Budi yang kembali menyeretnya ke hal yang tidak disukainya. Dan gitar yang dimaksud Budi itu adalah gitar milik ayahnya Aylin. Gitar tua yang masih awet terjaga sampai sekarang. Dimiliki ayahnya sejak masih menjalani pendidikan militer dulu.
Bisakah pas penutupan Isimaja itu sudah cukup? Sepertinya tidak.
Inilah kenapa dia selalu malas main TOD. Apalagi ada Budi!
Bukannya berhasil mengerjai cowok super iseng itu, malah dirimu sendiri yang akan kena.
Setelah kehebohan kecil itu, mereka kembali melanjutkan permainan selama beberapa putaran sebelum menyudahinya. Aylin sudah masa bodoh kalau ujung botolnya akan menunjuknya lagi. Dia sudah kepalang bad mood.
Untungnya, sampai selesai, ujung botol tidak menunjuknya lagi. Hal yang diam-diam disyukuri Aylin.
.
.
.
"Gaes, geng kita namanya apaan sih?" tanya Taufan tiba-tiba. Mereka tengah berada di angkringan langganan mereka untuk beli makan lagi. Buat nanti malam daripada keluar asrama.
"Nggak ada nggak sih?" balas Rima.
"Orang-orang pada manggil kita lima sekawan, jadi kukira emang itu namanya," kata Taufan.
"Udah-udah... nama geng kita itu Bolodi..." Budi menggerakkan tangannya seolah-olah mempersembahkan nama yang mewah.
"Hah? Apaan tuh?" Rima mengerutkan kening bingung.
"Bolot kali," Naufal menimpali dengan enteng.
"Enak aja!" tukas Budi. "Bolodi itu Bolone Lord Budi. Keren 'kan?" [bawahannya Lord Budi]
Alhasil cowok itu mendapat tendangan dan pukulan dari Taufan, Rima, dan Naufal. Rima menendang kaki kanan Budi. Taufan memukul punggungnya dengan gulungan tebal kertas tugas yang dari tadi dibawahnya. Lalu Naufal menjitak kepalanya.
"Gendeng," Aylin menggelengkan kepala di tempatnya.
"Adoow! Kalian ini kejam sekali sama paduka!"
.
.
.
.
.
a.n.
maaf lama, karena aku lagi sibuk-sibuknya. sebenarnya scene tod-nya mau tak masukin nanti, tapi ya udah lah ya. kira-kira aylin beneran ngelakuinnya nggak ya?
buat part depan, aku blm bisa memastikan apa bisa up tepat waktu atau malah nggak up
see u