![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Flare-up (n): a sudden outburst of something, especially violence or a medical condition
.
.
[maaf kalau ada typo dan paragraf yang aneh | warning! mention of violence and harsh words]
.
.
.
Sudah berminggu-minggu sejak acara Panggung Confession diadakan. Kegiatan terbilang baru di FT yang ternyata banyak mendapat respon positif. Bahkan banyak anak-anak FT yang meminta diadakan kegiatan serupa lagi di kesempatan berikutnya.
Perkuliahan kembali seperti semula. Ditambah dengan selesainya open recruitment dari para hima dan ormawa. Susunan pengurus dan anggotanya sudah resmi terbentuk. Sudah memulai acara kaderisasi di masing-masing organisasi sebagai awal dari perjalanan satu periode ke depan.
Tak terkecuali untuk BEM sendiri.
BEM FT sudah merilis struktur organisasi dari kabinet yang dipimpin oleh Aji dan Naufal satu periode ke depan. Pekan lalu, BEM bahkan sudah mengadakan makrab kaderisasi di sebuah villa di daerah Kaliurang.
Di periode ini, cukup banyak wajah-wajah baru yang menyegarkan. Cukup banyak yang sebelumnya tidak ikut BEM, tahun ini memutuskan untuk bergabung.
Salah satunya adalah Frans.
Setelah tahun kemarin dia menikmati sebagai mahasiswa kupu-kupu, pada akhirnya dia memutuskan untuk ikut bergabung sebagai salah satu staf di Departemen Orsenbud (Olahraga dan Seni Budaya) BEM FT.
Sebenarnya dia sejak akhir tahun lalu sudah lumayan tertarik mau ikut organisasi kampus.
Tak sedikit anak-anak TPK yang tergabung dalam BEM FT selain Frans. Ada Aylin yang menjadi kepala Departemen PSDM, Megan yang merupakan staf ahli PSDM, Rima yang menjadi staf ahli di bagian Medinfo (Media Informasi) di Departemen Infokomjar (Informasi, Komunikasi, Media, dan Jaringan), Adi yang menjadi staf di bagian Sosmas (Sosial Masyarakat) di Departemen Kespub (Kesejahteraan Publik), dan Enggar yang jadi kepala Departemen Orsenbud.
Lalu maba seperti Kayvan, Neo, Maya, dan Risa juga tergabung di BEM FT tahun ini. Kayvan yang kebetulan menjadi staf di PSDM, Neo di Orsenbud, Maya di Kespub, dan Risa di Infokomjar.
Bagaimana rasanya satu departemen dengan pacar sendiri? Sama saja. Hanya saja terkadang suka diceng-cengi oleh staf yang lain. Kayvan sudah pernah bilang bukan kalau Aylin itu profesional? Cewek itu benar-benar membagi skala prioritasnya sesuai porsi dan penempatannya. Dan Kayvan tentu mencontoh dan menerapkannya.
Lagipula, basic yang dimiliki Kayvan serta hasil wawancara saat oprec, sangat memenuhi kriteria di PSDM. Apalagi Kai sendiri memilih sebagai staf di subdepartemen Sospol di PSDM. Beda dengan Aylin dulu yang lebih memilih subdepartemen Kaderisasi.
Jadi, tidak ada unsur orang dalam di sana.
Di sisi lain, Budi masih di Hima Teknik Sipil yang bertugas sebagai DPO untuk periode kepengurusan tahun ini. Sedangkan Taufan, dia tetap betah dengan predikatnya sebagai mahasiswa kupu-kupu.
Sementara itu, Teo resmi bergabung di DPM FT. Lalu Ojan pada akhirnya ikut salah satu UKM univ karena dia tertarik dengan display yang mereka tampilkan saat Isimaja hari kedua di GOR. Sedangkan Ridwan tidak tertarik untuk ikut apa-apa. Namun, dia kini bergabung menjadi salah satu pemain di tim basket kampus.
Lalu partner Kai di duta kampus sendiri, Freya, memilih untuk bergabung di BEM universitas di bagian PSDM.
Semua mulai sibuk dengan aktivitas masing-masing. Apalagi yang sebentar lagi akan ada Open House untuk tiap ormawa dan hima FT.
Terlihat normal dan damai dengan kegiatan mahasiswa pada umumnya.
Benarkah begitu?
.
.
.
Ridwan tengah berjalan ke arah kampus sendirian melewati jalan yang membatasi wilayang FT dan FGK. Karena gedung Teknik Otomotif berada di sisi selatan FT, cowok itu memang sering melewati jalan itu karena bisa dibilang lebih cepat.
Apalagi dia saat ini tidak pakai motor karena motornya harus masuk bengkel. Teo yang satu jurusan dengannya sudah lebih dulu ke kampus karena katanya harus mampir ke sekre BEM lebih dulu.
Karena sudah biasa melewati area ini, Ridwan berjalan dengan santai sambil mendengarkan musik melalui earphone-nya.
Hingga sesuatu membuatnya harus menghentikan langkahnya. Raut wajahnya masih terlihat datar, tetapi matanya menatap awas. Dia melepas earphone yang terpasang dan menyimpannya di saku.
Pandangannya masih menatap hati-hati ke depan.
Seseorang, lebih tepatnya beberapa orang, terlihat berhenti tak jauh di depannya. Terlihat sengaja mennghalangi jalannya.
"Mau apa kau?" Ridwan memutuskan bersuara.
Oh dia familiar dengan beberapa di antara mereka.
Mereka tak menjawab. membuat Ridwan mulai habis kesabaran karena dia bisa telat ke kelas. Dia sedang tidak mau berurusan dengan orang-orang di depannya.
Baru saja ingin mengambil jalan memutar melewati mereka, tiba-tiba orang-orang itu menyerangnya.
Ridwan yang terkejut dan belum siap, harus menahan sakit saat tendangan dan pukulan mereka mengenainya.
"SIALAN!" seru Ridwan tidak terima. Dia mulai membalas sekaligus berusaha melindungi dirinya sebisa mungkin.
Namun, cowok itu sudah kepalang dikeroyok oleh lima orang sekaligus.
Tendangan dan pukulan mengenainya dengan membabi-buta. Membuatnya semakin terpojok. Kondisi jalan yang sepi membuat kejadian itu tidak punya saksi yang melerai mereka.
Ridwan mulai pasrah dengan dirinya yang babak belur dihajar mereka tanpa dia tahu apa alasannya.
Meski Ridwan jago berkelahi, tetapi tidak menutup kemungkinan dia juga akan kalah karena dihajar membabi-buta secara keroyokan seperti ini.
Sebelum Ridwan benar-benar membiarkan dirinya kalah dan kehilangan kesadaran, seseorang berteriak dengan kasar.
"BAJ*****!"
Samar-samar dia melihat seseorang berlari dan mulai menghajar kelima orang itu. Ridwan tidak begitu jelas melihat siapa. Sekujur tubuhnya rasanya sudah remuk. Dengan sangat kepayahan dia berusaha berdiri sambil meringis kesakitan.
"Beraninya kalian keroyokan! Dasar pengecut!" orang itu berteriak sambil berusaha melindungi Ridwan yang sudah payah babak belur.
"Gara-gara kalian, kami dipermalukan!" samar-samar Ridwan mendengar salah satu dari mereka berujar.
"Ban***t!" desis orang yang menolongnya. Dari siluet tubuhnya, orang itu adalah cewek dengan rambut pendek. Kini orang itu lebih fokus melindungi dirinya dan Ridwan yang masih jadi sasaran kelima orang itu.
Aroma ini...
Ridwan familiar dengan aroma seseorang yang melindunginya ini.
"PRIIITTTT!!"
Suara nyaring peluit terdengar. Membuat kelima orang itu berhenti melakukan aksinya dan memutuskan untuk kabur.
"CUPU!" sempat-sempatnya orang di depannya ini meneriaki kelima orang yang kabur itu.
"Dek kalian nggak papa?"
"Kalau saya nggak begitu Pak. Tapi teman saya ini butuh bantuan segera."
Ridwan tak begitu jelas pembicaraan mereka.
"Kau datang..." ujarnya pelan dengan tersengal. Dia tersenyum tipis melihat cewek itu yang menatapnya dengan khawatir.
"Kau selalu datang..." sebelum pada akhirnya pandangannya menggelap.
"WAN, RIDWAN!" seru cewek itu dengan panik. Dia berusaha menopang tubuh cowok jangkung yang tak sadarkan diri itu dengan kepayahan.
"Pak! Tolong teman saya Pak!"
Satpam yang tadi menghentikan pengeroyokan itu dengan sigap membantu memapah Ridwan yang sudah tak sadarkan diri. Pria itu begitu miris melihat tubuh yang babak belur itu. Beruntung pria itu lewat sisi wilayah ini.
Kalau tidak, pria paruh baya itu tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya kepada dua mahasiswa ini.
Sebagai seorang ayah yang juga punya anak yang seumuran mereka, tentu tidak akan tega.
Dengan sedikit kepayahan, mereka berhasil memanggil ambulan dan membawa Ridwan yang babak belur tak sadarkan diri ke rumah sakit.
.
.
.
Rima selesai mengabari gengnya dan teman-teman Ridwan. Luka-lukanya sudah diobati. Tidak parah. Hanya memar dan ujung bibirnya yang sedikit sobek.
Dia tengah menunggu dokter selesai mengecek dan mengobati Ridwan di dalam ruangan sana. Perasaannya begitu campur aduk sekarang.
Kalau saja tadi dia tidak lewat sana, Rima tidak tahu apa yang akan terjadi pada Ridwan selanjutnya. Membayangkannya saja Rima tidak sanggup.
Cewek itu tadi habis dari salon untuk potong rambut. Rambutnya kini lebih pendek dari sebelumnya yang memang sudah pendek. Sengaja dia lakukan karena dia lebih nyaman dengan rambut pendek dan tidak gerah.
Dan kebetulan juga dia tadi terpikirkan untuk lewat jalan yang memisahkan FT dan FGK. Padahal bisa saja dia lewat pintu masuk FT bagian selatan yang lebih cepat.
Namun, entah kenapa dia ingin lewat sana. Sekaligus mengambil beberapa objek yang sekiranya menarik untuk difoto.
Dia baru akan ada jam kuliah siang nanti. Jadi dia hari ini lebih leluasa.
Dan karena itulah, dia memergoki seseorang yang sangat dikenalnya sedang dikeroyok habis-habisan. Seolah-olah mereka tengah menyalurkan dendam mereka.
Rima meneriaki mereka dan berusaha melerai. Cewek itu lebih syok saat tahu siapa yang dihajar habis-habisan.
Membuatnya kembali ingat kejadian beberapa tahun lalu.
Suara langkah kaki memecah lamunannya. Rima mengangkat kepalanya dan melihat Aylin, Naufal, Kayvan, dan Neo berlari ke arahnya.
Buru-buru Aylin segera memeluk sahabatnya itu dengan kekhawatiran yang luar biasa.
"Sshh..." Rima meringis menahan sakit saat Aylin tidak sengaja menyenggol lengan kirinya yang memar.
"Maaf, maaf, maaf..." ujar Aylin panik dan melepaskan pelukannya.
"Nggak papa-papa," sahut Rima menenangkan.
"Ma, kau nggak papa?" tanya Naufal dengan khawatir melihat beberapa luka dan memar di tubuh saudara tirinya itu. Namun, di sisi lain dia juga lega karena luka itu tidak sampai parah.
Jujur, dia kaget saat Rima tiba-tiba mengirim pesan di grup kalau dia di rumah sakit. Apalagi saat mendengar pesan suara yang dikirimkan Rima.
Mereka lalu bertemu Kai dan Neo yang juga sama paniknya saat mendengar kabar kalau sahabat mereka masuk rumah sakit.
Budi dan yang lainnya masih ada kelas. Naufal yang meminta mereka untuk tidak sembarang cabut dari kelas. Dia juga meminta mereka tetap di kampus untuk menyelidiki kejadian yang terjadi.
"Aku sih nggak papa Pal," jawab Rima. "Tapi Ridwan masih dicek sama dokter di dalam. Dia pingsan tadi."
"Sumpah Pal. Mereka brutal banget. Kayak dendam gitu ke Ridwan," terlihat jelas raut kekhawatiran di wajahnya.
"Mbak Rima lihat siapa-siapanya nggak?" Kai membuka suara. Sementara Neo hanya diam sambil berjalan mondar-mandir. Meski bukan kali pertama mereka mendengar sahabat mereka babak belur, tidak mengurangi rasa khawatir mereka.
"Aku nggak begitu familiar sama mereka," Rima terlihat berpikir.
"Bang Nopal, kira-kira ada cctv nggak ya di daerah itu?" tanya Kai pada Naufal.
"Aku kurang yakin. Tapi seharusnya ada karena itu masih wilayah kampus. Coba habis ini kucek lagi."
"Tapi kayaknya Alin yang lebih tahu. Seingatku anak-anak TPK biasanya lebih paham titik-titik yang ada cctv. Gimana Lin?"
Aylin yang sejak tadi diam di sebelah Rima terlihat mengingat-ingat.
"Kayaknya ada. Tapi perlu dicek lagi. Soalnya selama Isimaja, area perbatasan FT sama FGK jarang digunakan. Jadi TPK jarang ngecek wilayah itu."
"Oh ya Ma, katanya kau bareng satpam, di mana bapaknya sekarang?" tanya Aylin pada Rima.
"Aku minta dia balik lebih dulu sambil nitip pesan buat jangan dilaporkan dulu. Karena kupikir kita perlu banyak bukti yang lebih valid biar nggak gegabah," jawab Rima.
"Aku udah nyimpan kontak bapaknya buat dihubungi sewaktu-waktu," Rima menunjukkan sebuah kontak di ponselnya.
"Mbak Ma tahu beliau satpam mana?" tanya Kai.
"Bukan FT yang jelas karena aku bakal familiar sama wajahnya. Kurasa satpam FGK, karena selain FT, FGK yang sering lewat sana."
"Apa mungkin orang-orang yang nyerang Ridwan itu anak-anak FGK?" celetuk Neo tiba-tiba.
"Bisa jadi. Tapi kita nggak bisa sembarangan berasumsi," Rima menyahuti.
"Benar," Naufal membenarkan. "Tunggu sampai ada petunjuk dan bukti atau saat Ridwan udah sadar. Dia mungkin bisa ngasih gambaran ciri-ciri dari orang yang nyerang dia."
Tidak berapa lama kemudian, pintu terbuka dan seorang dokter berjalan keluar.
Rima buru-buru menghampiri dokter itu diikuti yang lain.
Rima langsung menodong dokter itu dengan berbagai pertanyaan mengenai keadaan Ridwan saat ini. Sampai Aylin harus menenangkannya.
"Biarkan dokter itu bicara dulu," katanya.
"Pasien atas nama Ridwan mengalami cedera dan patah tulang di tangan kanannya. Beberapa memar juga ditemukan di wajah dan tubuhnya. Dan untuk saat ini pasien sudah kami tangani dan tengah beristirahat. Kalau ingin menjenguk diperbolehkan asalkan jangan gaduh ya. Saya permisi dulu."
Rima yang pertama kali masuk ke ruangan begitu diizinkan. Cewek itu menatap sendu sosok Ridwan yang kini terbaring dengan gips di tangan kanannya. Terdapat luka memar di pelipis dan dagunya yang terlihat jelas.
"Wan..."
.
.
.
Keadaan FT terlihat kurang baik saat ini. Anak-anak FT yang mendengar salah satu kawan mereka babak belur sampai patah tulang menjadi bertanya-tanya. Bahkan tak sedikit yang tidak terima salah satu dari mereka sampai diperlakukan sepert itu.
Berita menyebar cepat di kalangan para mahasiswa. Namun, mereka dengan kompak sepakat untuk menutup mulut sebelum ada komando untuk membawanya ke jajaran atas. Tak sedikit juga yang memang memilih diam tidak ikut campur.
Seperti dugaan sebelumnya, area tempat terjadi pengeroyokan itu ada kamera cctv-nya. Sayangnya, seolah para pelaku tahu dan benar-benar merencanakannya, tak banyak yang tersorot dalam kamera pengawas. Hanya sosok Ridwan yang berjalan melewati jalan itu.
Banyak yang menduga-duga siapa pelakunya. Ada yang bilang ini ulah geng yang memang tak jarang membuat masalah dengan menargetkan siapa saja yang mereka temui. Ada yang bilang rival dari univ lain dan ada juga yang bilang kalau mereka adalah orang yang tak sengaja Ridwan cari masalah.
Bahkan ada juga yang menduga ini semua ulah dari anak-anak FGK.
Siapa lagi yang sering bermasalah dengan anak-anak FT selain FGK?
Namun, sejauh ini, FGK terlihat adem ayem. Padahal belum lama mereka kalah telak dari FT dan dipermalukan.
Kelihatannya sih begitu. Tenang.
Sampai pagi berikutnya, anak-anak FT dibuat keheranan sekaligus penasaran dengan Frans yang tiba-tiba berjalan keluar fakultas dengan cepat. Diikuti cowok-cowok FT lain yang mayoritasnya tahun kedua di belakangnya.
Bukan, bukan seperti pawai baris-berbaris.
Lebih tepatnya seperti orang mau pergi tawuran.
Apalagi sempat melihat ekspresi Frans yang sering dia tampilkan saat mode TPK. Namun, kali ini lebih didominasi dengan sorot kemarahan. Membuat anak-anak FT lain yang tak sengaja bersisihan atau bertemu di tengah jalan, memutuskan untuk buru-buru minggir.
"Ada apa nih?" tanya Ojan penasaran. Matanya tak lepas melihat banyaknya pasukan yang mengikuti Frans keluar.
Kai, Teo, dan Neo juga memperhatikan apa yang terjadi. Ridwan tidak berangkat hari ini. Namun, dia sudah diizinkan pulang dengan catatan untuk cek terjadwal untuk patah tulangnya.
"Kau tahu sesuatu Kai?" tanya Teo ke Kai.
Kai menggeleng. "Entahlah. Aku juga penasaran."
Tak berselang lama, Aylin dan gengnya berjalan mendekat. Mereka juga tampak heran dengan Frans yang diikuti pasukannya.
Sangat tidak biasanya.
"Kak Alin tahu sesuatu?" tanya Kai ke pacarnya.
Aylin menggeleng. "Aku nggak tahu. Tapi Frans jarang tiba-tiba keluar diikuti mayoritas cowok tahun kedua. Kecuali..."
Mata Aylin membulat. Seolah menyadari sesuatu. Pasalnya dia ingat betul pernah ada kejadian serupa seperti ini.
Dan sepertinya, tidak hanya Aylin saja yang menyadarinya. Naufal, Rima, Budi, dan Taufan juga mulai paham.
"Pal, mending hubungi Enggar sama yang lain juga deh. Kalau sampai Frans turun, pasti ada hal yang nggak beres," ujar Taufan dengan bijak.
"Mana bawa bolo banyak banget lagi," tambahnya.
Kai dan teman-temannya tambah bingung dengan pembicaraan senior mereka.
"Kak?" Kai menatap bingung ke arah Aylin.
"Nanti kau akan tahu. Tapi untuk sekarang, pastikan anak-anak tahun pertama nggak ikut campur atau keluar kampus dulu. Atau yang mau ke kampus, tolong biar ditahan dulu sampai ada aba-aba, oke? Kau dengar kan?"
"Tapi—" Kai ingin membantah tetapi langsung dipotong oleh Aylin.
"Kayvan, tolong. Ini perintah!" Aylin menggunakan mode ketua TPK-nya. Dia benar-benar serius dengan ucapannya.
"Dan kau Teo," dia menoleh ke arah Teo yang menegakkan badannya begitu namanya di panggil.
"Bantu Kai untuk mengondisikan teman-teman kalian," kata Aylin.
"Kalian juga," tambahnya ke Neo dan Ojan yang terlihat cemas dan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi.
Sementara Naufal terlihat sudah selesai menghubungi Enggar. Kini dia juga tengah menghubungi Aji.
"Kalian cek duluan. Enggar dan yang lain udah jalan ke lokasi," kata Naufal ke Taufan dan Budi.
"Alin, Rima, cek lokasi-lokasi vital. Peringatkan juga teman-teman kita yang lain yang belum tahu buat menyingkir dulu," perintah Naufal ke Aylin dan Rima.
"Aku sama Aji mau memastikan kalau hal ini nggak sampai atas. Nanti kususul kalian ke sana."
Setelah berkata demikian, kelima sekawan itu memecah. Taufan dan Budi pergi ke arah yang sama dengan Frans dan pasukannya tadi.
Lalu Aylin dan Rima bergegas ke arah yang berlawanan.
Sementara Naufal berlari menuju gedung PKM.
Kai dan kawan-kawannya terdiam selama beberapa saat melihat apa yang dilakukan para senior. Dilihat dari nada bicara mereka, sepertinya ini benar-benar sesuatu yang sangat serius.
"Oke gaes, seperti yang Mbak Alin katakan tadi. Ayo kita lakukan segera. Kalian bingung, sama aku juga. Tapi, karena ini darurat. Jadi harus segera bertindak," kata Teo pada akhirnya. Dia sengaja mengeraskan suaranya karena masih banyak anak-anak tahun pertama yang ada di sana, bertanya-tanya apa yang terjadi.
Kai mengangguk setuju. "Benar. Pastikan teman-teman kalian nggak ada yang ke FT atau keluar FT dulu. Kita belum tahu segawat apa yang terjadi. Tapi kalian lihat sendiri, para senior kita sudah memperingatkan."
Kemudian, Megan, David, dan beberapa senior datang memberitahu mereka tentang hal yang sama. Sepertinya para senior sudah paham dengan apa yang terjadi saat ini.
Terbukti dengan tingkah mereka yang kini jadi lebih awas.
Bahkan ada satu sampai dua orang senior yang menemani beberapa anak tahun pertama yang memang harus keluar area FT karena sama daruratnya. Mereka saja sampai mengambil jalan lain yang anak-anak FT tahun pertama baru tahu kalau ada jalan itu.
Sampai segitunya.
Sebenarnya apa yang terjadi?
.
.
.
.
.
a.n.
struktur pengurus BEM aku ambil referensinya dari bem fakultasku dulu.
dan yap! udah lama pengen nulis bagian ini. cuman perjalanan untuk ke sininya ternyata perlu puluhan chapter, ehe.
Kira-kira apa ya yang terjadi?