Equilibrium [slow update]

Equilibrium [slow update]
Behind the Scene



Behind the scenes (phrase): out of sight of the public at a theater or organization


.


.


.


[part pendek]


.


.


.


"Satu.. dua.. tiga..."


"CIIEE AYLIN!"


Budi, si ketua Tim Perkab dan juga merupakan sahabat Aylin, mengomando semua panitia yang hadir pada rapat dan evaluasi TM kedua malam ini begitu sang ketua TPK datang bersama anggotanya dari evaluasi tim mereka.


"Apasih!" seloroh Aylin dengan sewot. Mukanya memerah. Entah karena marah atau menahan malu.


"Ciee... yang tadi habis dilamar sama maba," kata Taufan, salah satu sahabat Aylin juga, menggoda salah satu cewek anggota geng persahabatan mereka dari tempatnya—di mana Tim Konsumsi duduk menggerombol.


"Awas saja kau, Topan!" seru Aylin. Dia lalu melempar botol air mineralnya yang masih setengah ke arah Taufan dan...


DUG!


Yak tepat sasaran! Botol itu mendarat dengan mulus di kepala Taufan.


"Duh! Sakit, Lin!" seru Taufan sambil mengusap-usap kepalanya. Lemparan Aylin terbilang sangat keras, apalagi dengan jarak mereka yang tidak terlalu jauh.


"Padahal Budi yang mulai duluan, kenapa aku sih," gerutunya. Sementara Aylin hanya menjulurkan lidahnya ke arah Taufan sebelum mendudukkan dirinya diikuti anggota TPK yang lain.


Lengkap sudah lingkaran (atau setengah kotak?) panitia Isimaja FT tahun ini. Di mana ketua Tim duduk di tengah bagian depan atau di depannya anggota masing-masing. Kecuali untuk pengurus inti yang duduk dalam satu barisan.


Panitia yang menyaksikannya hanya tertawa. Kehangatan begitu terasa di dalam aula atau di manapun mereka mengadakan rapat dan evaluasi kegiatan. Para panitia tahun kedua yang sebelumnya masih canggung terlihat sudah akrab dan membaur dengan panitia tahun ketiga. Bahkan tidak segan saling melempar candaan untuk melepas penat.


Tidak ada kecanggungan, bahkan bagi TPK itu sendiri. Mereka akan sesekali melepas topeng mereka tetapi kalau serius mereka akan benar-benar serius dan tidak segan-segan juga memberikan sanksi kepada semua panitia. Sesuai kesepakatan bersama ketika pertama kali panita terbentuk.


Ketua tim memang dipilih atau ditunjuk oleh ketua tim sebelumnya, tetapi bagi anggota, termasuk sekretaris dan bendahara, mereka harus melalui tahap seleksi pendaftaran dan wawancara sebelum bisa bergabung dalam kepanitiaan. Para anggota akan diwawancarai oleh ketua tim atau panitia senior yang sudah tidak bisa mengikuti kepanitiaan lagi sesuai tim yang mereka pilih. Banyak yang mendaftar, tetapi tidak sedikit pula yang tidak lolos seleksi dengan berbagai alasan. Ada juga yang mendaftar tim ini tetapi malah diterima di tim lain karena para pewawancara melihat kemampuan mereka dan opsi pilihan mereka saat diwawancarai.


Ketika kepanitiaan terbentuk, mereka akan memulai tugasnya masing-masing dibawah komando ketua. Persiapan mereka tidaklah sebentar butuh berbulan-bulan, dua sampai empat bulan untuk menyusun semuanya dengan baik. Waktu berbulan-bulan itu tidaklah sebentar, makanya setidaknya satu sama lain sudah akrab dan paham tugas masing-masing.


Untuk agenda evaluasi setiap akhir kegiatan dilaksanakan pukul delapan malam. Ketika semua maba sudah pulang dan para panitia sudah membersihkan diri, makan malam, serta shalat bagi yang menjalankan. Evaluasi besar biasanya maksimal sampai jam sepuluh malam. Namun, untuk para ketua masing-masing tim, Tim Acara, dan pengurus inti biasanya akan sampai tengah malam. Ada juga Tim Perkab dan Tim PDD yang lembur mengerjakan properti untuk hari eksekusi Isimaja.


Semua tim dalam kepanitian bekerja keras menyiapkan penyambutan mereka untuk para maba sebaik mungkin. Hal yang tidak dilihat oleh para maba itu sendiri.


Di dalam kepanitiaan Isimaja FT tahun ini, semua panitia tidak ada yang tidak kenal dengan geng lima sekawan yang terdiri dari Aylin, Naufal, Rima, Budi, dan Taufan. Bahkan tiga diantaranya adalah ketua. Tidak ada unsur tersembunyi kenapa mereka adalah ketua. Namun, memang ketiga orang itu pantas menjadi ketua karena kinerjanya. Budi yang terkenal slengekan dan suka ngilang saat ada agenda Hima Teknik Sipil, dia adalah ketua Tim Perkab yang bertanggungjawab dan tidak segan mengoreksi kesalahan anggotanya serta sigap menyiapkan perlengkapan yang akan dibutuhkan. Channel-nya juga luas karena dia adalah orang yang mudah bergaul.


Untuk Naufal, kalian tahu sendiri sebelumnya kalau dia dipilih langsung oleh ketua Isimaja pada saat dia maba dulu. Dulu dia salah satu dari lima danton maba pada saat pelatihan fisik. Dia juga salah satu korlap saat dirinya jadi pemandu pada tahun keduanya. Bahkan sekarang dia diamanahi juga sebagai ketua Hima Teknik Industri.


Satu lagi cewek di geng lima sekawan itu adalah Rima, anggota TPK selama dua tahun ini. Dia dulu seorang atlet karate dan sampai sekarang masih menjadi karateka meski tidak sesering dulu dalam mengikuti kejuaraan. Sekarang dia menjadi salah satu pelatih di UKM Karate UHW. Rima juga menjadi anggota Hima Teknik Sipil. Dia agak tomboy orangnya dengan potongan rambut sebahu


Sementara Taufan, partner in crime-nya Budi adalah mahasiswa jurusan Teknik Boga dan menjadi anggota Tim Konsumsi selama dua tahun ini. Selain mengikuti kepanitiaan Isimaja FT—dia ikut karena diajak gengnya buat ikutan, Taufan bangga dengan predikatnya sebagai mahasiswa kupu-kupu. Namun, sesekali dia mampir ke salah satu organisasi yang diikuti keempat sahabatnya buat nongkrong atau minta camilan yang biasanya tersedia di sekre.


Yah... Taufan memang doyan makan dan pintar masak. Jadi tidak heran dia masuk jurusan Boga.


"Baik, karena kita udah lengkap di sini, kita mulai evaluasinya," kata Naufal setelah memastikan setiap tim sudah hadir.


"Assalamu'alaikum, selamat malam teman-teman semua," Naufal memulai evaluasi malam itu.


Cukup banyak yang dibahas. Apalagi dengan kejadian tadi di mana Aylin nyaris saja melampiaskan kemarahannya karena pernyataan maba bernama Kayvan dari Gugus Jayapura. Dimas, mahasiswa tahun ketiga jurusan Pendidikan Teknik Informatika, sebagai ketua pemandu gugus tersebut sudah diingatkan lagi oleh TPK mengenai mabanya. Meski masih ada yang menggoda Aylin soal 'lamaran' tadi—hanya senior tahun ketiga saja yang berani—Aylin tetap berusaha untuk profesional dan tidak terpengaruh.


Malam semakin larut. Pembahasan dilanjut dengan pengecekan untuk TM ketiga besok pagi yang akan diisi religious input oleh SKI fakultas dan UKM yang bergerak dibidang agama lain di pagi hari, sebelum dilanjutkan dengan agenda lainnya sesuai rundown.


Pukul sepuluh malam, anggota panitia yang lain pulang ke asrama, kos, atau rumah masing-masing. Para ketua tim serta pengurus inti tetap di tempat. Hari ini anggota Tim Acara tidak ikut rapat lebih lanjut karena semua yang disusun sudah disampaikan tadi.


Kali ini, mereka akan membahas kandidat Duta FT yang terpilih.


"Oke, langsung aja ya guys," Naufal memulai.


"Setelah penilaian dan pertimbangan, udah diputuskan siapa maba yang bakal jadi Duta FT tahun ini. Ibu Retno juga udah diberitahu dan menyetujuinya. Kita berdoa, semoga tahun ini selempang Duta Universitas dimenangkan FT."


"Aku yakin tahun ini kita bakalan menang," timpal Eva, ketua Tim KSK, mengomentari.


"Bener tuh! Mengingat anaknya, aku yakin selempangnya bakalan di tangan FT tahun ini," tambah Dini selaku ketua Tim Humas dan Sponsorship.


Semua orang yang ada di sana mengamini.


"Frans, kau bimbing dia ya? Beritahu Vera buat membimbing yang cewek juga," kata Naufal pada Frans yang hari ini ikut ke dalam pembahasan para ketua tim dan pengurus inti. Frans yang juga merupakan anggota TPK merupakan Duta FT tahun lalu dan pemenang kedua di pemilihan Duta Universitas.


"Agung juga coba diajak, sama si Rias. Agung kayaknya stay di asrama mengingat dia jadi panitia Display UKM univ. Kalo Rias kayaknya pulkam deh. Coba nanti mereka tak hubungi dulu," tambahnya.


Frans mengangguk mengerti.


"Siap, Mas Nopal."


.


.


.


.


.


.


.