![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Truth (noun): the quality or state of being true
.
.
.
.
[baru minor editing]
.
.
.
.
.
Sehabis shalat maghrib, Kai pergi keluar asrama menuju halaman rektorat untuk latihan. Dia berangkat lebih awal karena dia dan Freya berencana untuk latihan sebentar untuk unjuk bakat. Mereka akan berlatih selama jeda waktu maghrib dan isya lalu akan dilanjut sebentar sampai mau dimulainya latihan pensi.
Kai dan Freya akan berlatih di gazebo taman di dekat jalan masuk. Lebih tepatnya di taman baca. Mereka akan didampingi mentor mereka, Frans dan Vera.
Berbekal tas selempang kecil untuk menyimpan ponsel dan dompet, lalu tak lupa jaket karena malam ini cukup dingin di Jogja, Kai berangkat mengendarai motornya. Jika biasanya Kai selalu mengenakan celana panjang ketika berlatih, kali ini dia justru hanya mengenakan celana pendek selutut dan dipasangi dengan kaos polos berwarna abu-abu.
Kai selalu tampak rapi dengan apapun pakaian yang dia kenakan.
Kai memarkirkan motornya di trotoar dekat taman baca. Ada beberapa motor terparkir di sana yang kemungkinan motornya Vera atau mahasiswa lain yang punya kepentingan malam ini. Saat malam hari, tidak ada aturan khusus untuk tempat parkir asalkan diletakkan di pinggir dan tidak menghalangi jalan.
Di salah satu gazebo taman baca, sudah ada Vera dan Freya di sana. Frans belum datang. Lampu gazebo yang dinyalakan membuat keadaan tidak terlalu gelap dan nyaman untuk berlatih.
Tidak lama kemudian, Frans datang dengan gitarnya. Senior itu menyerahkan gitar cokelat miliknya ke Kayvan dan membiarkannya meminjam sampai acara pemilihan duta kampus selesai.
"Dek Kayvan udah hafal kuncinya?" tanya Vera.
Kai menggeleng singkat dan menjawab, "Belum terlalu sih Mbak. Jadi masih butuh contekan. Tapi udah tau kok kalau letak kuncinya."
"Fey yang nyanyi doang atau kalian berdua?" tanya Vera sekali lagi.
"Kita berdua Mbak Ver," jawab Freya yang sudah siap dengan ponsel pintarnya yang menampilkan lirik. Dia sudah cukup hafal sebenarnya, tetapi tidak ada salahnya sedikit mencontek. Sekalian menunjukkannya ke Kayvan karena jelas cowok itu pasti kesulitan memegang ponselnya sendiri dengan dua tangannya yang memainkan gitar.
"Jadi nanti duet dan Kai sambil main gitar."
"Yang penting penghayatan lagunya. Jadi asal kau udah tahu posisi kunci, kau bisa nyanyi sambil main musik dengan baik," kata Frans.
"Siap, Bang," Kai menimpali.
Mereka berlatih sekitar dua puluh menitan sebelum azan isya berkumandang. Kemudian, memutuskan untuk ibadah terlebih dahulu di mushola dekat gedung auditorium pergi berkumpul ke halaman rektorat untuk latihan pensi.
Semua perwakilan duta fakultas hanya berlatih kurang lebih satu setengah jam saja. Cukup sebentar dari sebelum-sebelumnya karena mereka tinggal mematangkan penampilan mereka. Lagipula, banyak dari mereka juga akan berlatih untuk unjuk bakat masing-masing fakultas.
Pukul sembilan lewat lima belas menit, latihan sudah selesai.
"Kita mau latihan lagi di mana Kai jadinya?" tanya Freya.
"Di sekitaran sini aja gimana?" Kai mengusulkan.
Freya melihat sekeliling. Sepertinya hampir semua perwakilan terlihat mulai sibuk dengan latihan mereka masing-masing di beberapa tempat.
"Terlalu ramai nggak sih? Dan kayaknya di sini juga ada anak teater sama univ mau latihan juga," kata Freya.
Kai kini memperhatikan sekeliling. Benar apa yang dikatakan Freya. Ada segerombolan mahasiswa—yang sepertinya memang anak-anak teater—yang belum lama datang sedang mulai pemanasan sebelum latihan.
"Gimana, Dek? Ada masalah?" tanya Vera yang datang menghampiri. Lalu Freya bilang kalau dirinya dan Kai mau mencari tempat latihan lain. Karena wilayah yang nyaman dan tidak terlalu gelap di sini sudah banyak digunakan.
"Hmm... di FT aja gimana?" Vera berujar, "Teras dekanat atau gazebo di dekatnya cocok kok buat latihan."
"Jangan di sana," seloroh Frans, "Area itu lagi disterilkan sama TPK. Kalau lewat masih boleh, tapi kalau buat latihan mending di wilayah gedung Arsitek di gerbang timur. Di sana nyaman dan nggak gelap juga. Sering dipakai buat nugas atau nongkrong juga. Tapi lewatnya tetap dari gerbang utama soalnya biasanya gerbang lain dikunci. Nanti parkir aja di tempat biasa dekat aula besar nggak masalah."
"Oh... ya sudah kalau gitu. Kita ke sana aja," kata Vera akhirnya.
Dengan begitu, mereka berempat menuju Fakultas Teknik untuk melanjutkan sesi latihan. Karena Freya datang bersama Vera, mereka berdua berboncengan menggunakan motor Vera menuju FT. Sementara Kai dan Frans berangkat menggunakan sepeda motor masing-masing.
Benar kata Frans. Sesampainya di FT, terlihat beberapa panitia tengah mendiskusikan sesuatu. Entah apa itu. Setelah memarkirkan motor, mereka berempat berjalan menuju sisi timur FT yang jaraknya cukup dekat dari gedung aula besar dan sangat dekat dengan kantin.
Di sana ada juga beberapa mahasiswa yang menyanding laptop dan ada juga yang sekedar ngobrol.
Kai dan Freya memilih teras gedung kuliah Arsitek, tempat gugus mereka dulu kerja kelompok membuat atribut. Mereka mulai berlatih dengan beberapa saran dan masukan dari mentor mereka.
Sayangnya, Frans tidak bisa berlama-lama menemani mereka. Senior itu ada urusan penting. Dia pamit dan memberikan ucapan semangat kepada Kai dan Freya, sebelum berlalu pergi.
Mereka berlatih sekitar satu setengah jam. Kai juga tidak perlu waktu lama untuk bernyanyi sambil memainkan gitar. Dia cepat belajar. Sebenarnya usulan untuk bernyanyi mulanya dari Freya dan Kai menyetujuinya begitu saja karena dia juga belum ada ide untuk menampilkan apa. Dan menyanyi adalah opsi yang aman. Lagipula suara Freya sangat bagus.
Masa Kai menampilkan kemampuannya dalam berdebat? Hanya karena dulu selalu juara dalam lomba debat bahasa Indonesia semasa sekolah. Dia dulu juga pernah ikut tim basket saat SMA, tetapi dia tidak sejago Ridwan yang jelas-jelas ketua tim.
Ngomong-ngomong masa sekolah, Kai adalah mantan ketua OSIS saat SMA dan anggota MPK saat SMP.
Kembali ke topik sebelumnya, setelah dirasa cukup berlatih untuk hari ini, Kai dan Freya memutuskan untuk menyudahinya. Hari sudah larut dan mereka besok juga harus bangun pagi-pagi sekali untuk Aqisol hari terakhir.
Freya dan Vera pulang terlebih dahulu karena Freya lupa membeli air mineral untuk besok. Karena mereka berdua satu asrama tetapi beda lantai dan mereka juga berangkat bersama, jadilah Vera mengantar Freya ke kopma atau swalayan yang masih buka untuk membeli air mineral.
Kai masih di tempatnya untuk memainkan kunci-kunci dalam lagu yang mereka gunakan sebentar. Seperti mencoba berlatih sekali lagi untuk semakin memantapkan kemampuan.
Hampir tengah malam, Kai memutuskan menyudahinya. Suasana kampus saat malam hari jelas terasa berbeda. Malam ini begitu sepi, kecuali beberapa senior yang kemungkinan panitia, masih ada di kampus. Rian bilang, kampusnya, yaitu FBS, justru malah semakin malam semakin ramai karena banyak yang berlatih di area kampus, terlebih jurusan tari dan musik serta anak-anak teater fakultas. Katanya juga, banyak yang hanya sekedar nongkrong atau mengerjakan tugas sampai larut di fakultas. Kebijakan FBS dengan fakultas lain jelaslah berbeda. Di mana fakultas lain pasti akan ada jam malam dan mengosongkan area kampus kecuali untuk kegiatan malam yang sudah berizin seperti persiapan Isimaja. Berbeda dengan FBS yang nyaris terbuka dua puluh empat jam.
Kai berjalan menuju tempat parkir sambil membawa gitar Frans. Kampus benar-benar terlihat sepi kalau saja tidak ada beberapa senior yang tengah membahas sesuatu di gazebo di barat laut gedung dekanat. Cukup jauh dari tempat Kai berada. Untung saja tipe motor Kai yang dia pakai di Jogja adalah matic sehingga mudah membawa gitarnya. Tidak ada tas gitarnya karena kata Frans tasnya rusak dan Frans belum sempat menggantinya.
Tiba-tiba Kai mendengar teriakan samar dari arah aula besar. Dia jadi teringat cerita horor Ojan tentang FT tentang hantu seorang senior—yang Kai yakin itu bualannya Ojan saja untuk menakut-nakuti—dan berhasil menakuti Neo. Kai sendiri juga bukan tipe orang yang mudah takut dengan cerita-cerita hantu.
"Saya bilang, apa kalian mengerti?!"
Kai kembali mendengar suara itu. Karena didesak rasa penasaran, Kai mememutuskan mendekati suara itu berasal. Asalnya dari aula besar. Dengan perlahan, Kai mengintip melalui celah pintu aula yang sedikit terbuka.
Di dalam aula, Kai melihat para TPK tengah berbaris rapi. Mereka semua mengenakan dresscode hitam mereka tanpa korsa blazer. Di depan mereka terlihat sosok laki-laki bertubuh tegap dengan rambut sedikit gondrong yang sepertinya tengah membicarakan sesuatu. Kai tidak bisa melihatnya dengan jelas karena cahaya aula dibuat remang-remang. Bahkan Kai bisa melihat mentornya—postur tubuhnya terlihat jelas karena paling tinggi dibanding yang lain meski ada juga yang hampir menyamainya—berdiri tegap bersama TPK yang lain.
Kai tidak tahu apa yang dibicarakan laki-laki yang di depan karena jaraknya yang lumayan jauh. Namun, eskpresi keras dan sorot tajam dari cowok itu menandakan kalau situasi sedang sangat serius di sana.
Tiba-tiba semua TPK berseru "siap" sebelum mereka memposisikan diri untuk push up. Dikomando oleh Aylin yang Kai lihat berada di sisi kanan barisan, mereka melakukan push up bersama-sama. Ada lima seri mereka melakukan push up dan cowok yang di depan terlihat memarahi mereka. Entahlah, yang jelas dia berkata-kata dengan nada keras.
Selesai push up, semua TPK kembali ke posisi semula. Beberapa dari mereka terlihat menahan sakit. Namun, Kai melihat sosok Aylin dari belakang terlihat tetap berdiri tegap.
Kai buru-buru menghentikan kegiatannya ketika melihat mau dibubarkan. Dirinya tidak sadar terlalu lama mengintip hal yang kemungkinan besar dirinya yang hanya maba tidak boleh tahu. Rasa penasarannya membuatnya nekat mencari tahu.
Kai lalu kembali ke tempat parkir dan berpura-pura tidak tahu ketika para anggota TPK keluar dari aula. Bahkan Frans tidak menyadari keberadaannya karena cowok itu langsung menuju gazebo di barat daya gedung dekanat untuk mengambil motornya.
Padahal sepertinya tadi, Frans juga memarkirkannya di tempat yang sama dengan Kai dan Vera, tetapi kenapa sekarang sudah pindah di sana?
Aylin adalah orang terakhir yang keluar dari aula besar. Cewek itu terlihat lelah.
Dan tidak sengaja, Aylin melihat Kai yang masih berada di parkiran.
"Kau?" Aylin berujar terkejut, sambil menunjuk ke arah Kayvan yang terlihat seperti pencuri yang ketahuan.
"Kenapa masih di area kampus?" tanyanya.
"E-eh...." Kayvan gelagapan, "Saya habis latihan unjuk bakat buat duta kampus, Kak."
Aylin memicingkan kedua matanya, menatap Kayvan curiga.
"Selarut ini?"
"Iya, Kak. Sama teman saya, tapi dia udah pulang duluan. Tadi habis latihan buat pensi juga," Kai menujukkan gitar yang dipinjamkan Frans.
Aylin hanya mengangguk singkat untuk menanggapi. Tidak bertanya lebih lanjut.
"Sebaiknya kau langsung pulang. Besok masih harus berangkat pagi-pagi," katanya kemudian.
Aylin hendak pergi dari sana, tetapi Kai memanggil untuk menahannya.
"Kak Aylin!"
Aylin berbalik dan menatap ke arah Kayvan. Sebelah alisnya terangkat, bertanya.
"Kenapa kakak terlihat benci pada saya?" akhirnya, cowok itu bisa bertanya langsung pertanyaan yang selama ini mengganjal kepada orangnya langsung.
Aylin terdiam selama beberapa saat, sebelum membuka mulut menjawab, "Saya tidak pernah benci padamu."
"Saya hanya tidak suka sikapmu yang selalu menentang dan mempertanyakan seniormu," lanjutnya.
"Tapi saya juga melakukannya untuk teman-teman saya," Kai membela diri.
Kini, Aylin menatap ke arah Kayvan penuh. Tatapan matanya menajam.
"Justru itu," katanya, "Apa yang kau lakukan itu justru merugikan teman-temanmu karena terlalu sering kau bela."
Kai menatap Aylin dengan pandangan tidak mengerti.
Aylin menghela napas sejenak. Dia memijat pangkal hidungnya sebentar.
"Gini, dengarkan baik-baik," ujarnya serius, "Satu, dua kali kau melakukannya itu tak masalah. Kebanyakan orang pasti juga bakal melakukan hal sama. Tapi..."
Aylin menekankan kata 'tapi' di kalimatnya.
"Kalau caramu seperti itu, dan kau lakukan terus-terusan, yang ada kau hanya memanjakan teman-temanmu. Mereka jadi mengandalkanmu dan meremehkan semua hal karena mereka pikir kau bakalan ada di sana untuk save the day. Dan ketika suatu hari kau lagi ada urusan lain, atau lagi nggak bisa bersama mereka, teman-temanmu bakal kebingungan apa yang harus dilakukan. Mereka jadi nggak bisa mengandalkan kemampuan mereka, jadi ragu pada diri sendiri," jelas Aylin.
"Jangan terlalu bersikap sok heroik. Di FT nggak butuh semacam itu. FT butuhnya semua orang memanfaatkan potensi masing-masing dan berjuang bersama. Nggak cuman ngandelin satu orang dengan sok jagoan," tambahnya, "Apa kau paham sekarang?"
Dengan perlahan, Kai mengangguk.
"Bagus—"
"Lin!" seseorang memanggil dari kejauhan. Kai dan Aylin menoleh ke sumber suara dan mendapati TPK berambut pendek, Rima, yang duduk di atas motornya berada tidak jauh dari tempat mereka.
"Balik yok!" Rima berseru dari tempatnya. Aylin mengisyaratkan Rima dengan tangannya untuk menunggu sebentar.
Aylin kembali menatap Kayvan. Lalu berkata, "Sebaiknya kau pulang sekarang. Udah mau setengah satu. Paginya masih latihan. Dan aku dengar kau juga tiap malam latihan buat duta kampus. Jangan sok kuat dan jangan sok jagoan. Dengarkan seniormu bicara, jangan jadi pembangkang."
Setelah berkata demikian, Aylin melenggang pergi menuju Rima yang sudah menunggunya.
Kayvan masih terdiam di tempatnya. Masih mencerna semua perkataan yang Aylin sampaikan barusan. Ah, dia juga belum sempat menanyakan apakah Aylin akan hadir di lapangan atau tidak. Seniornya itu sudah keburu pergi dengan temannya.
"Makasih Kak Aylin," bisiknya kemudian. Dia tersenyum simpul pada dirinya sendiri. Pembicaraannya dengan Kak Aylin meninggalkan bekas yang segar dalam dirinya. Segala macam opini dan keyakinannya yang sebelumnya tersapu seketika dengan yang baru.
Malam itu juga, Kayvan sadar akan banyak hal.
.
.
.
.
.