![Equilibrium [slow update]](https://pub-2e531bea8d9e487cb3404fa20db89ccb.r2.dev/equilibrium--slow-update-.webp)
Struggle (noun): a forceful or violent effort to get free of restraint or resist attack
.
.
.
[baru minor editing]
.
.
.
.
"SMA nggak ada UAS? Kenapa kau masih ikut turnamen?" tanya Aylin pada Nana yang tengah bermain game di ponselnya.
Mereka berdua tengah berada di kamar Aylin. Nana berhasil mendapatkan izin untuk menginap oleh ketua asrama. Besok adalah jadwal pertandingan sekolahnya melawan SMA Stella Duce 2. Nana memutuskan untuk mulai menginap hari ini sepulang sekolah dan berangkat ke sekolah dari sini.
"UAS-nya habis lebaran, Mbak Al," jawab Nana tanpa mengalihkan pandangannya. "Soalnya pas besok kelas tiga aku nggak bisa ikut turnamen lagi. Jadi manfaatkan kesempatan yang ada."
"Lah si Pandu bukannya ada turnamen awal September ya? Itu 'kan kalian udah kelas tiga."
"Pertandingan terakhir sebelum kelulusan katanya. Dia juga kapten tim, jadi katanya mau menuntaskan tugasnya dulu."
"Heleh..."
Aylin tak habis pikir dengan dua sahabat garis miring rival itu. Banyak yang salah sangka kalau keduanya itu pacaran, tetapi Nana dan Pandu selalu bilang mereka tidak pacaran. Aylin mana percaya.
Sexual tension mereka terlalu kentara. Entah mereka yang pandai berpura-pura atau mereka yang sama-sama tidak peka.
Nana atau nama lengkapnya Nasywa Kartika Ramadhanti merupakan putri sulung dari pasangan pilot dan mantan pramugari, paman dan bibinya Aylin dan Bimala. Cewek itu punya sepasang adik kembar laki-laki yang masih TK. Nana bertemu Pandu Grahana alias Pandu (cowok itu memang lahir sewaktu ada gerhana matahari katanya, makanya dinamai begitu) saat mereka kelas sepuluh. Keduanya sama-sama klop dan sering main bareng. Walau sering sekali mereka menyombongkan keunggulan masing-masing, tetapi mereka sudah seperti partner in crime.
Aylin pernah bertemu dengan Pandu dan mungkin selain Frans, Pandu adalah cowok tinggi bongsor yang pernah dia kenal. Bisa dikatakan kalau tinggi badan Pandu dan Frans hampir sama. Bisa jadi Pandu masih bisa tumbuh lebih tinggi lagi, entah menyamai Frans atau lebih tinggi darinya.
Dan Nana juga termasuk tinggi untuk ukuran cewek. Lebih tinggi dari Bimala yang tingginya 165 cm⸺lebih tinggi lima senti dari Aylin. Tinggi badan Nana ada sekitar 169-170 cm. Iya, Aylin memang yang paling pendek di antara sepupu-sepupunya dari pihak ibunya⸺pengecualian untuk si kembar yang masih anak-anak belum kelihatan.
Bisa bayangkan kalau Nana dan Pandu berjalan bersama. Mereka menjadi pasangan tower.
"Na, nanti mau buka di mana?" tanya Aylin kemudian. Jika biasanya Aylin hanya akan pergi ke burjoan atau warung makan di sekitar asrama atau numpang masak di dapur asrama, kecuali kalau diajak Rima pergi kemana, kali ini sedikit berbeda karena ada Nana.
"Ke sunmor yuk, Mbak," ajak Nana. Cewek itu meletakkan ponselnya. Sepertinya sudah selesai bermain game.
Aylin terlihat berpikir sebentar, sebelum mengangguk setuju.
"Boleh. Mau makan di sana atau dibawa pulang?"
"Sana aja, sekalian ngabuburit," jawab Nana, "Oh! Sekalian ajak Mbak Rima juga ya?"
Aylin hanya mengangguk-angguk setuju.
.
.
.
"Lin, kau serius membiarkan David ngambil alih selama seminggu?" tanya Rima masih tak percaya dengan keputusan Aylin dua hari yang lalu.
"Jujur ya lin," Burhan membuka suara, "Bukan bermaksud apa, tapi David itu payah."
Cowok di sebelahnya, Andre, mengangguk setuju.
"Baru aja dua hari, dia udah belagu," komentarnya.
Aylin cukup mengenal baik Burhan karena tahun kemarin, mereka berdua pernah ditugaskan untuk berjaga di depan gerbang ketika open gate. Sementara Andre, cewek itu mengenalnya karena sama-sama anggota Menwa.
"Mas Teguh udah tahu masalah ini, Mbak Lin?" kali ini Frans bertanya. Meskipun terlihat ramah dan easy going, Teguh itu kalau marah terlihat menyeramkan.
Aylin mengangguk. "Awalnya biar urusan ini nggak keluar sampai ke Mas Teguh, tapi dia keburu tahu setelah melihat postingan story milik David. Aku aja belum sempat melihat soalnya udah keburu dihapus beberapa menit setelahnya."
"Terus gimana?" tanya Rima penasaran.
Aylin menghela nafas lalu menjawab, "Mas Teguh menyuruhku buat segera menyelesaikan masalahnya sebelum dia sendiri yang akan turun tangan."
Rima dan yang lainnya menatap ngeri. Kalau sampai senior yang lain sampai turun tangan, masalah bisa bertambah rumit. Itu juga menandakan bahwa mereka tidak becus dan bisa mencoreng harga diri mereka di depan para senior. Apalagi Teguh memiliki pengaruh yang besar di antara mahasiswa FT. Bisa-bisa semua angkatan sampai ke alumni akan tahu.
"Jadi batas waktunya sampai kapan, Mbak Lin?" tanya Adi, teman seangkatan Frans yang memang terlihat lebih menonjol dalam keanggotaan. Bisa dibilang, dalam keanggotaan TPK, Adi lebih akrab dengan Frans daripada yang lainnya. Adi juga temannya Asep, salah satu sohib segengnya Frans.
"Aku bilang ke Mas Teguh akan menyelesaikannya setelah seminggu. Untuk sementara aku membiarkan David mengambil alih. Baru kita lihat nantinya."
"Tapi gimana kalau ternyata David bisa melakukannya? Dia jadi ketuanya dong?" tanya Rima terlihat tidak terima.
"Kalau aku malah yakin kalau si David akan gagal," ujar Burhan. Andre dan Frans mengangguk setuju.
"Jika dipikir-pikir, keputusan Mbak Alin emang ada benarnya," Adi berujar kemudian. "Jadi ketua nggak serta merta mengambil tindakan otoriter yang langsung menghukum anggota yang bermasalah. Mbak Alin membiarkan yang bermasalah menyampaikan keluh kesahnya dan memberikan ruang untuk bukti. Kalaupun akhirnya salah, itu bisa jadi sanksi secara nggak langsung ke Mas David sekaligus memberikan pelajaran yang telak untuknya."
"Benar. Tapi keputusan Mbak Alin juga seperti pisau bermata dua. Kalau Mas David ternyata mampu, otomatis Mbak Alin akan mundur dari jabatan," kata Frans.
Aylin tersenyum puas mendengar komentar keduanya. Dirinya mengangguk-anggukkan kepala. Sepertinya Aylin punya kandidat siapa ketua TPK selanjutnya.
"Kita lihat saja nanti," kata Aylin kemudian dengan santai.
"Kok kau santai banget sih?" tanya Rima heran dengan tingkah sahabatnya yang seolah tanpa beban.
"Udah, ayo kita ke aula buat rabes sekarang. Semua udah berkumpul. Barusan Tiara mengirimiku pesan buat segera datang," kata Aylin.
"Eh iya, Lin," celetuk Burhan tiba-tiba ketika mereka tengah berjalan menuju aula besar.
Aylin menoleh ke arah Burhan. Mengangkat sebelah alisnya bertanya.
"Si David udah tahu 'kan ya kalau ada briefing bentar antarketua sama PI sebelum rabes?"
"Oh iya ya," sahut Andre seolah baru menyadarinya.
Aylin terlihat berpikir. "Mungkin sudah tahu. Tahun lalu 'kan dia juga anggota TPK, jadi udah tahu lah prosedurnya gimana. Tahun kemarin juga kulihat dia dekat dengan Mas Zul, jadi tahu lah pastinya."
Aylin juga sudah bilang ke ketua yang lain beserta PI kalau sementara TPK akan diambil alih oleh David. Dan hanya mereka saja yang tahu, ditambah semua anggota TPK dan Mas Teguh. Dirinya juga tidak menambahkan David ke grup khusus ketua dan PI. Jangan sampai terjadi.
Rencananya, Aylin hanya akan sedikit memberi pelajaran ke David sekaligus membiarkannya merasakan sebagi ketua TPK. Seperti yang Adi katakan tadi. Untuk sementara ini, cewek itu mau menikmati statusnya sebagai anggota biasa seperti tahun lalu.
.
.
.
"Wow, sudah lama aku nggak nonton turnamen kayak gini," Naufal berkomentar ketika mereka berlima berjalan mencari tempat duduk di area tribun. Suasana di dalam GOR tampak riuh meskipun sedang puasa dengan teriakan supporter masing-masing sekolah untuk menyemangati tim mereka yang berlaga hari ini.
Aylin sengaja mengajak sahabat segengnya untuk menonton pertandingan tim basket sekolah Nana melawan tim salah satu SMA keputrian swasta yang terkenal jago. Mumpung hari Sabtu dan mereka semua ada waktu luang. Mereka sengaja datang lebih awal agar lebih leluasa. Saat inipun masih berlangsung pertandingan antartim SMA lain di menit-menit terakhir sebelum giliran SMA-nya Nana.
"Inget nggak pas SMA kita saling berhadapan dulu? Suporternya pada heboh-heboh saling saing," kata Aylin. Aylin dan Naufal memang bertetangga dan berteman sejak TK dan pernah satu sekolah saat SMP. Ketika SMA, Aylin satu sekolah dengan Bimala di SMA Negeri 1 Wates sementara Naufal di SMA Negeri 2 Wates. Kedua sekolah memang terkenal rival dan cukup sering saling bersaing dalam akademikmaupun non-akademik. Walau begitu, kedua SMA merupakan SMA favorit di daerahnyadan banyak menyetak murid-murid berprestasi.
"Kalo itu gila sih, hahaha... jadi nostalgia dulu pernah jadi korlap suporter," sahut Naufal mengenang.
Cowok itu merupakan mantan pengurus OSIS yang mengurusi segala kegiatan turnamen dan suporter di SMA-nya dulu. Sering kali berhadapan dengan Wakasek Kesiswaan untuk mengurus segala perizinan dan lain-lain. Pernah juga perizinanannya ditolak mentah-mentah oleh Wakasek Kesiswaan yang menjabat waktu itu, padahal para suporter sudah siap dan buspun sudah dicarter. SMA tempat sekolah Naufal dulu memang dikenal sangat ketat dan agak susah perizinannya. Bahkan senioritasnya masih sangat kental, apalagi ketika MOS, dibandingkan SMA Aylin dan Bimala dulu. Sebelum secara perlahan menjadi lebih santai dan cukup dipermudah.
Akhirnya, ketika pengumuman turnamen selanjutnya diumumkan, lalu para pemain tim basket dari masing-masing sekolah memasuki lapangan untuk pemanasan.
"Anak basket rata-rata pada tinggi ya?" Aylin mendengar Taufan berkomentar. Di bawah sana, terlihat masing-masing tim masih melakukan pemanasan dengan bergiliran men-dribble bola lalu memasukkannya ke dalam ring.
"Memang," Rima menyahuti.
"Lin, itu Nana 'kan?" Budi bertanya sambil menunjuk ke salah satu pemain bernomor '8' di bawah sana. Cowok itu hari ini sangat totalitas menjadi suporter dengan menggambar pipinya dengan cat. Sebuah angka delapan—yang mana nomor punggung Nana—dan bendera Indonesia di masing-masing pipinya.
Bahkan tadi dia juga berniat ingin membawa snare drum yang mau dia pinjam dari FT, tetapi langsung dihalangi yang lain.
Tubuh jangkung Nana dan rambut pendek khasnya membuatnya cukup mudah untuk mengenalinya dari kejauhan.
"Iya," jawab Aylin yang sudah terbiasa dengan tingkah Budi.
"Kok kelihatan semakin tinggi ya? Kapan sih terakhir kali kita ketemu?" lanjut Budi setelah menelan makanannya.
Geng Aylin, khususnya Taufan dan Budi, memang sudah pernah bertemu Nana beberapa kali. Jadi mereka sudah tidak asing satu sama lain.
"Wong tingginya aja sama kayak si Nopal kok," tukas Rima.
"Duh berarti dia lebih tinggi dariku," kata Taufan. Di antara ketiga cowok, Budi yang paling tinggi disusul Naufal baru Taufan.
Pertanding dimulai!
Masing-masing tim menunjukkan kebolehannya dalam bermain basket. Melihat adik sepupunya berjuang di bawah sana pada saat puasa-puasa seperti ini membuatnya bersemangat mendukung Nana. Dirinya cukup sering bermain basket bersama Nana dan Bimala saat luang dan berkumpul bersama. Walau tak pernah masuk tim ataupun ikut ekstrakurikulernya sewaktu sekolah, bisa dibilang Aylin cukup jago meski tak sebanding Nana yang memang atlet sekolah.
"Si David terus gimana? Dia yang hadir atau tetap kau saja?"
"Eh iya tuh!" timpal Taufan. Hanya geng Aylin yang tahu apa rencana Aylin untuk David.
"Bukannya kalau rapat koordinasi gitu itu khusus ketua sama satu perwakilannya doang ya? Dan fakultas lain 'kan nggak tahu masalah kita, nanti pas rapat tiba-tiba David nongol ngaku sebagai ketua 'kan bisa tambah kacau," lanjutnya.
"Mas Teguh tahu aja udah deg-degan, serem," kata Rima sambil bergidig. "Mudah-mudahan aja Mas Zul nggak sampai ikutan tahu."
"Gaes, jujur ya," Budi membuka suara. Tidak biasanya dia terlihat serius seperti ini.
"David itu payah," katanya tanpa tedeng aling-aling. "Aku melihatnya sebagai orang luar dan sesama panitia nih ya. Dia kelihatan kurang cekatan sama terlalu menyepelekan tugasnya. Eh, Pal, kau ingat nggak pas kita ada briefing sebelum rabes?"
Naufal mengangguk mengiyakan.
"Dia kelihatan kurang paham sama jobdesk-nya gimana. Iya sih, dia emang kelihatan lebih tegas sama punya lebih banyak koneksi. Tapi ketimbang Aylin, si David masih belum ada apa-apanya," kata Budi.
"Wuushh... kalau Budi yang payah ini udah ngomong serius begini, berarti emang beneran Lin," kata Taufan memuji sekaligus mengejek.
Budi yang mendengar ejekan Taufan hanya melemparinya dengan berondong jagung. Yang entah dia dapatkan dari mana.
"Ew..! Ini brondong jagung siapa woi! Nggak puasa ya?" tuduh Taufan ke Budi. Dia mengernyit jijik saat ada berondong jagung mengenai wajahnya dan rasanya lengket.
"PUASA woy!" tukas Budi ngegas.
"Itu nanti sesuai kebijakanmu aja gimana, Lin," kata Naufal kemudian. Menghiraukan dua makhluk yang ribut itu. "Kau masih punya wewenang di rapat koordinasi meski untuk sementara ini wewenangmu diberikan ke David. Lagipula, besok Senin wewenang ketua udah kembali padamu seutuhnya 'kan?"
"Itupun kalau semua anggota setuju," kata Aylin yang masih mengingat perkataannya waktu itu. "Soalnya semua tergantung penilaian semua anggota."
"Yakin Lin, David bakalan nelan balik omongan belagunya. Dan hampir seminggu ini udah kelihatan kok mana yang memang ketua dan mana yang bukan," kata Rima dengan optimis.
"Jadi kau tetap datang besok pas rapat koordinasi, Lin?" tanya Taufan.
Aylin terdiam sejenak.
"Hmm... lihat saja besok," katanya kemudian. Walau tugasnya sebagai ketua diserahkan sementara ke David, tetapi semua berkas dan yang berkaitan soal tugas ada di Aylin. Dia sudah memberitahukan secara umumnya ke David. Tidak semua karena tantangannya hanya seminggu. Beda lagi kalau Aylin benar-benar menyerahkan wewenang dan tanggungjawabnya secara keseluruhan.
Namanya masih terdaftar sebagai ketua TPK ngomong-ngomong.
Beberapa hari ini memikirkan permasalahan soal David, tugas-tugasnya di TPK, dan banyak lagi membuatnya pusing dan sedikit pesimis. Namun, para sahabatnya ini selalu mendukungnya meski terkadang mereka justru malah merusuh. Setidaknya Aylin tidak merasa sendirian.
.
.
.
Pertandingan sore ini dimenangkan oleh tim basket Nana dengan skor yang hanya berbeda tipis. SMA 3 lebih unggul tiga poin dari lawannya dan membawa mereka maju ke babak selanjutnya.
Aylin dan yang lainnya menunggu Nana di luar GOR─secara karena Nana menginap di kamar Aylin di asrama. Sekalian untuk memberi ucapan selamat atas kemenangannya hari ini.
Mereka melihat Nana berjalan menghampiri mereka dengan wajah berseri-seri. Rambut pendeknya terlihat lepek karena keringat. Ngomong-ngomong soal rambut pendek, Aylin pernah mengalami masa-masa di mana rambutnya sependek Nana. Yaitu ketika dia berada di tonti dan paskib. Begitu Aylin sudah bebas dari kegiatan itu, dia mencoba memanjangkan rambutnya seperti sekarang ini.
Beruntung di Menwa dia bisa melipat rambutnya dan menyembunyikannya dibalik topi. Walau pas awal-awal keanggotaan pernah diminta memotong rambutnya.
"Ini nih juara kita hari ini!" Budi bersuara dengan keras ketika melihat Nana.
"Selamat, Na! Sekolahmu lanjut ke babak berikutnya!" seru Taufan tak kalah heboh.
"Waa... gila sih! Tembakanmu tadi langsung masuk ring dan menang tiga poin," puji Rima.
"Mantep, Na! Semangat ya buat pertandingan berikutnya!" kali ini ucapan selamat dan semangat dari Naufal.
Sementara Aylin hanya mengangkat kedua jempolnya dan tersenyum lebar.
"Nanti kutraktir deh buat buka," katanya.
Kehebohan mereka sempat mengundang tatapan mata tertuju pada mereka. Membuat Nana menjadi malu sendiri.
"Oi, Na!" seseorang memanggil Nana. Orang itu berlari mendekat sambil membawa tasnya. Terlihat cowok itu mengenakan kaos hitam dengan tulisan nama suporter SMA 3 dan bawahan celana seragam abu-abu SMA.
"Ada apa, Ndu?" tanya Nana pada cowok yang ternyata Pandu, sohib sekaligus rivalnya.
"Eh, ada Mbak Alin," kata Pandu begitu menyadari keberadaan Aylin di sebelah Nana.
"Ada Mas Nopal sama Mbak Rima juga?" katanya lagi ketika melihat Naufal dan Rima.
"Masih ingat nama kami ternyata," kata Naufal sambil tersenyum.
"Pastinya dong!" ujar Pandu dengan bangga. Pandu pernah bertemu dan berkenalan dengan Rima dan Naufal ketika waktu liburan, cowok itu ikut Nana berkunjung ke rumah Aylin.
"Dan ini mas...?" Pandu menatap bingung ke arah Budi dan Taufan yang belum dikenalnya.
"Itu Topan yang pake kacamata dan yang satunya nggak penting," kata Rima mengenalkan.
"Hei!" Budi berseru tak terima. Sementara Pandu dan yang lainnya tertawa.
"Kenalin, Budi," kata Budi memperkenalkan diri setelah dengan sengaja menyikut Rima.
Selesai saling berkenalan, Pandu lalu menanyakan ke Nana apa dia langsung pulang atau mau ikut mampir ke sekolah bersama yang lainnya.
"Aku langsung pulang ke asramanya Mbak Alin aja, Ndu," kata Nana. "Kan aku nginep selama pertandingan di sana."
"Padahal aku bisa antar jemput juga lho, kenapa nggak minta?" tanya Pandu heran.
"Males. Besok-besok aja lah," kata Nana. "Lagipula, kukira kau sibuk OSIS."
"Nggak lah."
"Psst! Lin!" Rima berbisik memanggil Aylin yang berdiri tak jauh darinya.
"Apa?" tanya Aylin ikutan berbisik.
"Kukira mereka nggak pacaran?" tanya Rima bingung.
"Emang tidak," jawab Aylin.
"Lah...?"
.
.
.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu terdengar bertubi-tubi. Membuat penghuni kamar yang sedang sendirian dan bersantai menggerutu kesal. Posisinya sedang nyaman-nyamannya─bersandar di atas tempat tidur dengan laptop di depannya yang menayangkan drakor yang baru sempat dia tonton hari ini.
Dengan enggan, cewek berambut pendek itu mem-pause dramanya dan bangkit berdiri lalu berjalan untuk membukakan pintu.
"Iya sebentar!" katanya ketika mendengar pintunya masih saja diketuk dengan brutal.
Ini masih pagi dan awal yang bagus untuk memulai rebahan sambil nonton drakor di hari Minggu mengingat tidak ada kegiatan hari ini.
Dirinya membuka pintu kamarnya dan melihat sosok Nana yang terlihat panik dan cemas.
"Ada apa?" tanyanya bingung.
"Mbak Rima!" seru Nana panik. "Mbak Alin sakit! Badannya panas sejak habis subuh tadi, kukira cuman masuk angin biasa. Tapi kok sampai sekarang belum turun panasnya, malah makin parah."
"HAH?!!"
Mata Rima terbuka lebar. Hilang sudah rasa magernya hari ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
a.n.
the rivalry between two school is actually exist when i was in middle school, like in a teenlit. between my old school and the other one