Belinda

Belinda
27. Ambush 2



Benjamin menatap tajam temannya yang menyeringai tepat di depan pintu kamar Alnero. Dengan jarinya Ben memberi tanda agar sang Komandan membuka pintu. Namun, pria itu mengangkat tangan dengan lima jari terbentang, sebagai tanda agar mereka menunggu sebentar lagi.


Selama lima detik Ben merasa kakinya bagai terbakar dan ingin sekali menendang pintu. Tapi ia menahan diri ketika melihat Komandan telah berniat membuka kunci dengan sebuah kartu yang sudah ia siapkan.


Ketika pintu terbuka, dengan senjata teracung komandan masuk dan menyeringai lebar melihat pria tua buruan mereka sedang duduk di sisi ranjang dengan tangan baru saja menarik tali jubah Daniella dan menyingkap bahan satin tersebut.


Kedua bola mata Alnero membulat sempurna dengan tatapan terkejut dan marah.


"Siapa kau!?" bentak Alnero.


Susulan berikutkan membuat Alnero tidak hanya terkejut. Pria tua itu terhempas ke sudut kamar karena sebuah kaki yang menendang dadanya. Semua orang tidak sempat berbuat apa-apa saat Benjamin menerjang.


Stanley dan Timmy yang datang paling belakang saling berpandangan.


"Kita sudah lama tidak melihat gerakan itu kan, Timmy," ucap Stanley.


"Benar. Sudah lama sekali. Dia membosankan sejak jadi pengusaha dengan jas dan dasi itu. Gerakan rutinnya hanya menunjuk, menggeleng dan mengangguk. Aku suka sekali melihat yang tadi. " Timmy menyeringai melihat Benjamin yang kembali akan menyerang Alnero, namun dihentikan oleh komandan.


"Berhenti. Bukan bagianmu. Urus wanitamu, Black. Serahkan dia padaku. Aku jamin, dia akan jera dan pensiun setelah ini."


Ben menggeram, lalu dengan kasar menarik tangannya dari cengkraman komandan. Mengabaikan pernyataan pria itu. Tapi cengkraman temannya itu malah makin kencang.


"Berjanjilah dulu! Sekarang kau bukan hanya Black. Kau Benjamin Antolini! Kau tidak mau nama belakangmu dikaitkan dengan gosip apapun bukan? Apalagi penganiayaan!" desis Komandan tegas.


Benjamin menarik napas panjang, ia mencoba menahan emosinya ketika melihat Alnero yang sekarang ketakutan dan kebingungan di sudut lantai kamar sambil memegangi dada. Sorot matanya nyalang menatap empat pria yang menerobos masuk ke kamarnya.


"Baiklah," bisik Benjamin. Ucapan itu membuat komandan melepas cekalannya. Ia membiarkan Benjamin mendekat dengan gerakan pelan bagai pemangsa ke arah Alnero. Kata baiklah dari Benjamin cukup sebagai jaminan bahwa temannya itu tidak akan memulai penyiksaan pada Alnero. Komandan tahu Ben tidak akan berbuat lebih jauh dari menekan mental dan menakuti pria tua itu.


Stanley dan Timmy hanya menonton dua pria tersebut. Mereka melihat komandan segera menarik selimut dan menutupkan hingga ke dada Daniella yang tertidur, lalu pria berpakaian serba hitam tersebut mulai berkeliling melihat-lihat isi kamar Alnero. Melihat hal itu, Timmy ikut ambil bagian dan mulai mengutak-atik peralatan komputer di atas meja Alnero.


"Jangan sentuh barang-barangku!" seru Alnero.


Benjamin berjongkok agar bisa setara dengan mata Alnero. Ia menunduk dan menatap dengan mata tajam dan seringai kejam di sudut bibir.


"Kenapa? Apa yang akan kau lakukan!?"


"Duncan!" teriak Alnero.


"Pesuruhmu sedang tidur nyenyak. Dia beruntung jika bangun nanti tidak mengalami sakit kepala," ucap Benjamin. Tahu Duncan adalah pria office boy berkulit cokelat yang menjadi anak buah Alnero.


"Kalian ... apa yang sebenarnya kalian inginkan!"


Benjamin mendekat hingga matanya dan mata Alnero sejajar, lalu berbisik,"kau mengganggu wanita yang salah, pria mesum! Kali ini kau akan mendapat ganjarannya! Selama ini kau lolos mempermainkan artis-artis baru yang melayani nafsu bejatmu. Tapi tidak dengan DDku! Kau akan mendapatkan hukuman." Benjamin melingkarkan tangannya ke leher Alnero, tidak terlalu ketat dan seharusnya Alnero tua masih bisa bernapas, namun pria itu mengeluarkan suara bagai tercekik.


Tepukan di bahunya membuat Ben menoleh. Ia melihat tangan komandan di bahunya, lalu melihat Snow sudah berada di pintu kamar yang terbuka.


"Kamar Miss Ella sudah di siapkan, seperti permintaan Anda, Bos. Pegawai Tuan Evander menyiapkan kamar baru. Saya sudah memeriksa. Semua clear ...." Snow menunjukkan jempol tangannya tanda bahwa kamar yang baru tersebut bersih dan aman.


"Bisa kubayangkan omelan di manajer," bisik Stanley.


"Ya. Dia mengomel karena harus berberes," bisik Snow.


Dengan berat hati Benjamin akhirnya melepaskan jeratan tangannya di leher Alnero. Ia menepuk pipi pria tua itu.


"Kau beruntung Komandan yang mengurusmu, bukan aku ... jika aku yang melakukannya, kau akan jadi makanan ikan hiu di laut Copedam ...."


Lalu Benjamin berdiri, ia merapikan selimut ke seluruh tubuh Ella sebelum mengangkatnya dalam gendongan.


"Tunjukkan kamarnya," ucap Ben pada Snow.


Snow mengangguk, berbalik dan melangkah lebih dulu. Benjamin mengikuti dengan diiringi tatapan dari empat pria lain yang masih ada di kamar.


Ketika sosok Benjamin yang menggendong Ella telah menghilang di lorong, Timmy akhirnya berkomentar.


"Wanita itu akhirnya aman," celetuk Timmy.


Stanley menganggukkan kepala. "Ya. Tikus pengganggunya sudah ditangkap. Dia akhirnya lolos."


"Apa yang lucu, Komandan?" tanya Stanley.


"Entah kenapa aku menganggap Nona itu tidak aman sama sekali."


"Kenapa?" Stan dan Timmy bertanya berbarengan.


"Karena pria yang membawanya tadi."


Timmy berdecih, "cih! Black tidak akan berbuat mesum atau tidak pantas pada Nona Ella! Kau seperti tidak mengenalnya saja!"


Tawa pelan komandan jadi kencang. Ia merogoh saku dan menyadari tidak ada lagi persediaan cerutu.


"Kau kurang beruntung, Pak tua. Aku jadi kurang menyenangkan kalau cerutuku tidak ada." Dengan tenang dan sangat pelan, ia memegang dan menarik lengan Alnero, seolah membantu pria tua itu berdiri.


"Bersihkan ini semua, Tim. Banyak bahan yang bisa kita pakai di sini. Dan kau Stanley, ayo ikut aku. Aku yakin Alnero butuh seseorang untuk membantunya menyeka keringat."


Stanley mengangguk, lalu mengikuti ketika komandan memapah Alnero dan membawanya keluar kamar.


"Menyeka keringat, atau menyeka darah?" tanya Timmy sambil duduk di kursi Alnero dan memulai pekerjaannya mengutak-atik komputer milik Alnero.


**********


"Dia akan merasa asing bangun di kamar ini. Ranjang berbeda, seprai berbeda, suasana berbeda," ucap Bernie sambil membuka selimut dan meratakan seprai. Menyiapkan tempat agar Benjamin bisa membaringkan Daniella.


"Dia akan lebih takut lagi ketika membuka mata dan masih berada di kamar lamanya. Miss Ella tahu ada yang mengawasinya," bantah Snow.


Benjamin membaringkan Ella, lalu menarik selimut sampai dada wanita itu.


"Dia takut sebelum tidur, dia akan semakin takut ketika bangun. Baik masih di kamar lama ataupun di kamar ini, Snow! Kamar ini asing! Ella belum pernah melihatnya sama sekali!"


"Dia sering bepergian, Bern. Pasti terbiasa dengan tempat asing."


"Iya. Tapi sekarang berbeda, ada orang jahat yang mengincarnya. Dia mungkin saja mimpi buruk! Aku akan memanggil kru kami yang wanita. Dia akan menemani Ella malam ini. Paman Daniel akan-"


Ucapan Bernie dipotong oleh Benjamin. "Kalian berdua boleh keluar sekarang."


Snow mengangguk. "Baik, Bos."


"Apa? Kau juga keluar kan Tuan Antolini? Tidak ada kamar dengan pintu penghubung di sebelah," ucap Bernie.


Benjamin tidak menjawab. Hanya melirik Snow yang langsung mengerti dan segera menarik lengan Bernie. "Ayo. Kau harus istirahat, Bern. Persiapan besok syuting di hutan. Banyak yang harus kau urus!"


"Tap-tapi! Snow! Jangan menyeretku!"


"Percayakan Miss Ella pada Bosku. Dia seratus persen aman!"


"Aman apanya! Wajah bosmu seperti mau melahapnya! Lepaskan aku Snow!"


Snow menahan senyum, sedikit kesulitan ketika Bernie menahan kedua tangannya di bingkai pintu. Namun ia kalah kekuatan dengan Snow.


"Jaga Ella, Tuan Antolini! Jangan macam-macam! Kalau tidak, aku akan mengadukanmu pada Paman Da-" pegangan Bernie terlepas, ia diseret keluar oleh Snow, lalu pintu tertutup rapat. Namun teriakan Bernie masih terdengar.


"Daniel! Ayah Ella!" teriak Bernie kuat-kuat.


NEXT >>>>>>


**********


From Author,


Mohon dukungannya dengan tekan like, love/ favorite, bintang lima, dan tinggalkan jejak dengan ketik komentar. Jangan lupa Vote poin atau coin biar semangat authornya update.


Sebelumnya otor ucapin terimakasih banyak readers Black. Semoga sehat selalu ya, luvv yuu ....


Salam. DIANAZ.